Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki
Liburan setelah kelulusan SMA adalah liburan yang terasa paling panjang.
Tidak lagi terbebani belajar, Qiu Ci di rumah hanya bermain gim atau diam-diam menjalin keintiman dengan si bodoh kecil.
Dibandingkan dengan awalnya yang canggung dan kikuk, kini Qiu Ci sudah terbiasa mengambil inisiatif untuk mendekati kekasihnya.
Karena dia menyadari, sepertinya dirinya sudah mulai menyukai cara semacam ini untuk mengekspresikan perasaan.
Setelah bercanda dan bermesra-mesraan, dia membisikkan suara serak di telinga Mu Yu “Kamu ingin mendaftar ke universitas mana?”
Mereka sudah mulai pengisian formulir pilihan kemarin. Dengan nilai mereka, mereka bisa mendaftar ke universitas unggulan mana pun.
“Universitas mana yang kamu suka, aku akan mendaftar di sana.”
Mu Yu menjawab tanpa ragu. Dia memang tidak memiliki universitas yang sangat diinginkan, dan tentu saja dia berharap bisa satu kampus dengan Qiu Ci.
Qiu Ci mengusulkan “Pertama, singkirkan pilihan di Kota Jiang. Universitas yang terlalu dekat dengan Kota Jiang juga tidak boleh. Selebihnya, terserahmu.”
Syarat itu langsung menyingkirkan banyak universitas ternama.
Namun alasannya jelas: semakin jauh dari rumah, semakin kecil risiko hubungan mereka diketahui. Setidaknya selama kuliah, dia tidak perlu lagi menjalani hubungan diam-diam.
Beberapa detik kemudian, dia menambahkan “Tapi kalau kamu memang ingin di Kota Jiang, itu juga boleh.”
Dia sendiri tidak mempermasalahkan bagus tidaknya universitas, tapi bukan berarti si bodoh kecil juga akan sama. Maka, dia memberikan pilihan penuh. Jika Mu Yu benar-benar ingin tetap di Kota Jiang, dia pun bersedia mengubah rencana.
Mu Yu berpikir sejenak, lalu bertanya “Bagaimana kalau Kota Bin?”
Di Kota Bin hanya ada satu universitas unggulan, dan kualitasnya masih sedikit di bawah Kota Jiang. Tapi di sana ada laut, udara panas sepanjang tahun, juga merupakan tempat wisata terakhir yang pernah mereka kunjungi.
Qiu Ci tidak menyukai musim dingin, lebih menyukai musim panas yang terik dan juga laut. Karena itu Mu Yu yakin dia pasti menyukai tempat tersebut.
“Kalau begitu, Kota Bin.” Qiu Ci mengangguk tanpa ragu.
Mendengar kedua anak itu sama-sama memilih Kota Bin, Chu Qing cukup terkejut. Dia semula mengira mereka akan tetap memilih Kota Jiang.
Bukankah Kota Bin terlalu jauh? Mengingat sifat putranya yang tidak terlalu tenang, Chu Qing semakin khawatir dia akan membuat masalah di luar kota.
Dulu masih ada Yu Shan yang mengawasi, sehingga Qiu Ci sedikit banyak lebih terkendali. Namun sekarang Yu Shan sudah pergi, akankah dia kembali berulah?
Chu Qing sempat berharap Mu Yu membujuk Qiu Ci agar memilih universitas di Kota Jiang atau setidaknya kota tetangga. Dengan nilai mereka, memilih Kota Bin terasa seperti menyia-nyiakan kesempatan.
Mu Yu pun serba salah. Dalam hati, dia ingin ke Kota Bin. Tapi rasa bersalah dan hormat pada Chu Qing membuatnya harus mencoba membujuk Qiu Ci.
Namun setelah tahu, Qiu Ci langsung menemui Chu Qing untuk bicara.
“Aku tidak mungkin seumur hidup berlindung di bawah sayap Ayah dan Ibu. Lagi pula, ada… eh, ada Mu Yu bersamaku. Kalau Ibu khawatir, suruh saja dia mengawasiku.”
Chu Qing mendengus, “Yu Shan saja belum tentu bisa mengendalikanmu, apa kamu akan mendengarkan Mu Yu? Jangan-jangan nanti kamu malah mengancamnya untuk menutup-nutupi kelakuanmu.”
Bagaimana mungkin dia tidak mengetahui kepribadian putranya sendiri?
Qiu Ci pura-pura merajuk, “Dulu aku bahkan malas sekolah, kalian juga tidak melarang. Sekarang aku bersusah payah belajar demi bisa kuliah di tempat yang kuinginkan, kalian justru menentang. Kalau begitu, lebih baik aku tidak kuliah. Lagipula, Ayah tidak sabar menunggu aku mengambil alih perusahaan.”
Baru saja ujian berakhir, si tiran kecil itu sudah hampir diseret masuk perusahaan untuk pelatihan, bahkan seolah-olah ayahnya berharap dia segera jadi bos muda agar ia bisa bebas menikmati hidup bersama istrinya.
Mana mungkin! Dia masih punya masa muda panjang yang harus dijalani, tidak sudi langsung mewarisi kekayaan keluarga.
Karena sikap Qiu Ci begitu tegas, Chu Qing akhirnya tak kuasa menolak. Putranya pun dibiarkan pergi ke Kota Bin untuk menempuh kuliah selama empat tahun.
Menjelang perpisahan, karena masing-masing akan memulai perjalanan hidup baru, Qiu Ci dan teman-temannya sepakat untuk berkumpul.
Entah siapa yang tiba-tiba berbisik “Aku ingin tahu bagaimana keadaan Yu Shan sekarang.”
Yu Shan telah menghilang lebih dari setengah tahun, an tidak seorang pun tahu kabarnya.
Mendengar nama itu, Mu Yu refleks menoleh ke arah Qiu Ci. Melihat Qiu Ci tenang tanpa ekspresi aneh, barulah dia bisa bernapas lega.
Di pertengahan acara, Qi Meng memanggil Qiu Ci keluar, berbicara cukup lama sebelum akhirnya kembali.
“Apa yang kalian bicarakan?” Mu Yu penasaran. Terlalu lama, sampai-sampai wajah lelaki yang menyukai Qi Meng menjadi hitam kelam menahan cemburu.
“Dia ingin aku bekerja sama dengannya untuk meraup keuntungan besar, atau menjadi artis di perusahaannya atau karyawan disana.” Qiu Ci menjawab apa adanya.
Itu adalah ujian terakhir bagi Qi Meng untuk benar-benar mengambil alih keluarga Qi. Jika dalam lima tahun tidak ada hasil, hak pewarisan akan dicabut. Siapa suruh dia terlambat masuk ke bidang itu, dibandingkan kakaknya yang nyaris sempurna, jelas kemampuannya masih jauh.
Bagi sebagian orang yang tidak rela, menyerahkan bisnis keluarga sebesar itu kepada seorang gadis kecil adalah sebuah lelucon, dan mereka berharap Qi Meng segera menghancurkannya.
“Kamu tertarik?” Mu Yu tidak pernah membayangkan Qiu Ci akan bersentuhan dengan dunia semacam itu.
“Industri hiburan begitu kotor. Kamu ingin aku masuk ke sana?” Qiu Ci menyipitkan mata, lalu berbisik di telinganya, “Entah jadi bos atau jadi artis, pasti akan ada banyak orang yang ingin mendekatiku. Kamu mau?”
Qi Meng mencari Qiu Ci karena tiga alasan.
Pertama, orang tua Qiu Ci selalu memenuhi kebutuhan materi putranya jadi dia pasti punya tabungan besar. Modal awal yang diberikan nenek Qi pada Qi Meng tidak banyak, jadi dia butuh mitra yang bisa menyuntikkan dana.
Kedua, wajah Qiu Ci tampan. Jika dipoles dengan baik, ditambah dengan sumber daya yang dimiliki Qi Meng, dia pasti bisa cepat populer.
Ketiga, Qiu Ci juga pasti ingin membuktikan dirinya, lepas dari label “Tuan Muda Kecil Qiu”.
Seandainya ini terjadi di masa lalu, Qiu Ci mungkin saja akan setuju. Baginya, tanpa tujuan besar, masuk ke dunia baru untuk bersenang-senang juga bukan hal buruk.
Sayangnya, kini dia sudah punya hal yang benar-benar ingin dia lakukan.
Mendengar jawaban jujur dari si bodoh kecil, “Aku tidak mau, jangan pergi,” bibirnya pun terangkat, menahan senyum puas.
Untuk apa repot-repot masuk dunia hiburan, bukankah lebih menyenangkan jatuh cinta dengan si bodoh kecil?
Waktu pun berjalan. Tinggal hitungan hari sebelum masuk kuliah, Qiu Ci sudah mulai berkemas. Dia berencana datang lebih awal untuk memilih tempat tinggal yang akan mereka tinggali selama empat tahun, rumah kecil mereka berdua, tempat cinta itu akan bersemi.
Membayangkan kehidupan bersama tanpa harus sembunyi-sembunyi, hatinya terasa hangat.
Sampai-sampai barang bawaan belum sepenuhnya dibereskan, dia sudah menekan si bodoh kecil ke pintu dan menciuminya.
Qiu Ci, yang berubah dari pasif menjadi aktif, mencium Mu Yu dengan penuh gairah, hampir menghabiskan semua udara di paru-parunya dan membuatnya merasa pusing.
Mu Yu mencengkeram erat pakaian di punggung Qiu Ci, membalas dengan semangat.
Dia benar-benar menyukai Qiu Ci yang seperti ini. Setiap kali dia diperlakukan dengan begitu dekat, selalu ada keyakinan yang tumbuh di dalam dirinya bahwa dia sedang benar-benar dicintai.
Ketika tangan Qiu Ci hampir menyusup ke dalam pakaian, nada dering telepon tiba-tiba memecah suasana.
Di luar lorong, Chu Qing menerima telepon dari sekretaris. Sambil berjalan, dia mendengarkan laporan singkat, hingga langkahnya membawa dia tepat di depan kamar Qiu Ci.
Pintu kamar terbuka, koper belum beres, tidak ada seorang pun di sana.
Mengingat sesuatu yang mendesak, Chu Qing tidak berpikir panjang, hanya berasumsi bahwa Qiu Ci diam-diam keluar untuk bermain.
Bunyi sepatu hak tinggi menjauh. Dua sosok yang bersembunyi di lemari akhirnya berani menghela napas lega.
Ruang sempit itu penuh pakaian, memaksa keduanya menempel rapat, hingga dada mereka bisa saling merasakan detak jantung satu sama lain.
Mereka sudah lama memakai sampo dan sabun yang sama, sehingga udara yang mereka hirup dipenuhi aroma jeruk nipis yang tipis namun akrab.
Dalam suasana seperti itu, kepala Mu Yu terasa melayang. Dia ingin bicara, tapi suara yang keluar itu terdengar bergetar.
“Ah-Ci,” panggilnya dengan gugup, jantung berdebar nyaris meloncat keluar. “Kamu masih ingat ucapanmu dulu?”
“Apa?”
Kegelapan dalam lemari menutupi sorot mata Qiu Ci yang semakin dalam.
“Kamu bilang, setelah lulus… kamu akan menginginkanku.” Ucapan itu membuat Mu Yu buru-buru menyesal. Dia takut terlihat terlalu mendesak, seolah kehilangan rasa malu. Hal seperti ini seharusnya datang dengan alami, bukan dia yang menyerahkan diri begitu saja.
Qiu Ci tidak segera menjawab. Diamnya membuat wajah Mu Yu panas bagaikan terbakar. Hingga akhirnya, wajah Qiu Ci pun sama merahnya, dan dari tenggorokannya keluar suara rendah, “Ya.”
Sejak awal berpacaran, mereka telah melewati hampir segalanya, kecuali langkah terakhir itu.
Mereka memilih waktu ketika orang tua tidak ada, menyiapkan segala yang dibutuhkan, menonton beberapa video panduan, lalu dengan canggung mencoba mempraktikkan.
Dalam bisikan manja yang menyebutnya “ Ci Ye”, akhirnya mereka benar-benar melewati batas terakhir, tubuh menyatu tanpa jarak.
Malam penuh kegaduhan itu baru berakhir menjelang dini hari. Kamar berantakan, napas terhenti, dan akhirnya mereka beristirahat.
Lima hari menjelang awal semester, sore itu mereka harus berangkat ke Kota Bin.
Saat sarapan, Chu Qing menatap berulang kali ke arah Mu Yu yang menutupi tubuh dengan pakaian tebal. Katanya, semalam masuk angin sehingga harus berpakaian lebih banyak.
“Tunggu sampai kamu pulih dulu baru pergi.” Satu atau dua hari tidak akan membuat perbedaan
“Bibi Chu, aku tidak apa-apa, tadi aku sudah minum obat dan disuntik.” Saat menjelaskan, wajah Mu Yu memerah, bukan hanya karena berbohong, tapi juga karena alasan sebenarnya.
Qiu Ci, sebagai pelaku, hanya mengusap hidung dan berkata, “Tiketnya sudah dipesan. Aku akan membawanya ke rumah sakit begitu kita sampai di Kota Bin.”
Bukannya dia sakit, hanya saja dia mencium si bodoh kecil itu terlalu keras dan meninggalkan banyak bekas di tubuhnya.
Chu Qing memegang mangkuk dan tidak berkata apa-apa lagi, hanya melirik mereka berdua dengan tenang.
Ada sesuatu yang terasa tidak beres. Sejak beberapa hari lalu, mereka berdua tampak berbeda. Terutama Qiu Ci, wajahnya seakan bersinar tiap hari.
Setelah kedua anak itu pergi, Chu Qing masih mengerutkan kening sambil berpikir. Melihatnya seperti ini, Qiu Wei bertanya dengan khawatir: “Ada apa?”
Chu Qing menggelengkan kepalanya: “Tidak apa-apa.”
Setelah mengantar keduanya ke bandara dan mengawasi punggung mereka saat mereka pergi, Chu Qing masih merasa aneh.
Dalam perjalanan pulang, dia kembali merenung. Kilasan ingatan lama bermunculan, tatapan mata antara mereka, perhatian yang berlebihan… semua terlihat terlalu mirip dengan pasangan kekasih.
Tingkah laku yang sebelumnya tidak dia perhatikan kini terputar kembali di benak Chu Qing satu demi satu. Begitu dia ragu, banyak hal yang dia anggap normal pun mulai menjadi aneh.
Wajah Chu Qing semakin suram. Jika benar seperti yang dia pikirkan…
Dia menarik napas dalam-dalam, memaksa diri tetap tenang. Bagaimanapun juga, anaknya boleh saja berulah, tapi tidak sampai sebegitu jauh. Setidaknya, dia harus memastikan lebih dulu.
Qiu Ci sendiri tidak menyadari kecurigaan itu. Setelah masuk kuliah, hampir setiap hari dia mengendarai motor listrik kecil bersama Mu Yu, berkeliling kota, bermain hingga puas.
Malam hari, tentu saja, mereka pulang ke rumah sewaan dan melanjutkan kebersamaan yang hanya milik mereka.
Sebulan di Kota Bin membuat kulit Qiu Ci semakin gelap, karena dia malas memakai tabir surya. Sebaliknya, Mu Yu setiap hari rajin mengoleskannya, demi melindungi kulit.
Qiu Ci sering mencibir, “Laki-laki dewasa, untuk apa repot-repot begini?” sambil tetap dengan sabar mengoleskan krim ke wajah si bodoh kecil.
Mu Yu duduk di bangku, menatapnya, dan bertanya, “Ah-ci, apakah kamu suka aku lebih gelap?”
Qiu Ci menurunkan pandangan, melihat kontras kulitnya sendiri dengan wajah Mu Yu. Dia membayangkan Mu Yu sedang berjemur dan tidak kuasa menahan tawa: “Kamu akan tahu kalau mencobanya.”
Tentu saja Mu Yu menolak melakukan percobaan berbahaya itu. Diam-diam dia malah menyemprotkan tabir surya ke tubuh Qiu Ci.
Qiu Ci menghindar, mereka berlarian kecil di kamar hingga botol semprotan jatuh, aroma menyebar ke udara.
Dalam keheningan yang tegang, Mu Yu menatapnya dari atas. Mata bening itu berkilau, bibirnya lembut memanggil, “ Ci Ye.” Seketika, rencana menghadiri kelas sore pun sirna.
Jari Qiu Ci mengusap punggungnya, bibirnya terangkat dengan senyum penuh arti. “Lapar?”
Ujung telinga Mu Yu memerah, dan dia mengangguk pelan.
Sementara itu, di kota Jiang, keluarga Qiu.
Chu Qing menatap foto-foto yang baru dikirim. Dia menutup mata sejenak, menarik napas berat.
Dalam foto itu, dua remaja sebaya bergandengan di jalan, saling menyuapi makanan, menatap satu sama lain dengan penuh kasih yang tidak bisa disembunyikan.
Apakah ini artinya dia sendiri yang telah membawa serigala masuk ke rumah?
