Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki


Bagi Qiu Ci, mengaku kepada teman-temannya adalah sebuah pengalaman yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, juga terasa begitu aneh dan unik.

Mungkin karena pengalaman itu, dia pun tanpa sadar menurunkan kewaspadaannya meski berada di rumah bersama orang tuanya.

Keesokan harinya adalah pagi hari di malam tahun baru.

Ketika dia dan si bodoh kecil saling memandang setelah bangun, entah bagaimana mereka melangkah ke tahap baru yang belum pernah mereka lalui sebelumnya.

Aroma yang hanya milik mereka berdua menguar, dan kehangatan dari sentuhan tubuh di bawah selimut membuat kedua remaja itu tenggelam dalam keintiman yang penuh kasih.

“Ci Ye.” Ucapan itu bernada panjang, lembut bagai bulu yang menyapu hati, membuat orang bergetar.

Punggung Qiu Ci menegang, lalu tiba-tiba mengendur. Dia harus mengatur napas beberapa kali sebelum dengan wajah memerah mengancam, “Jangan sembarangan memanggil.”

Pemahaman yang tersirat perlahan-lahan memenuhi udara.

Kepalanya ditekan Qiu Ci ke dadanya, sehingga Mu Yu seakan dapat mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang seperti genderang.

Cepat dan kuat, membuatnya benar-benar merasakan bahwa semua ini nyata.

Bukan mimpi, melainkan Ah-Ci yang sungguh nyata.

Mu Yu menyipitkan matanya, mengulurkan tangan untuk memeluknya erat, dan mengusap wajahnya dengan puas dalam pelukannya.

“Ah-Ci, apakah kamu merasa nyaman?”

Dia menahan rasa malu di hatinya untuk menanyakan bagaimana perasaan pemuda itu saat memasuki wilayah baru.

Qiu Ci hampir saja meledak, namun kata-katanya terhenti oleh ketukan pintu.

“Xiao Ci? Apakah kamu sudah bangun?”

Itu suara Chu Qing.

Tahun ini mereka tidak kembali ke rumah besar. Chu Qing ingin mengajak kedua anak itu bangun pagi untuk menemaninya membeli bahan makanan untuk jamuan malam Tahun Baru.

Setiap kali melewati malam Tahun Baru di rumah, dia selalu ingin menyiapkan jamuan dengan tangannya sendiri.

Tidak mendengar jawaban apa pun dari keduanya, Chu Qing sempat heran—mungkinkah karena terlalu asyik bermain kemarin, sehingga tidur terlalu lelap?

Mengetahui pintu terkunci, Chu Qing tidak akan mendorong pintu meskipun tidak terkunci. Keduanya masih sangat gugup hingga menahan napas.

Aroma yang masih menggantung di udara bagai tanda bahaya, membuat Qiu Ci terus membayangkan apa yang akan dia lakukan untuk meminimalisir akibat jika benar-benar ketahuan.

Faktanya, Qiu Ci lebih tahu daripada siapa pun bahwa Nyonya Chu dan Tuan Qiu bukanlah orang yang mudah ditangani. Mereka jauh dari kesan lembut seperti yang terlihat, dan kecerdikan serta kelihaian keduanya jauh lebih dalam daripada yang disangka. Kalau tidak, bagaimana mungkin mereka bisa mencapai posisi setinggi sekarang?

Mereka bisa bersikap toleran dan terbuka terhadap putra mereka, tapi kepada orang lain belum tentu, termasuk kepada Mu Yu, yang dibawa pulang Chu Qing sendiri.

Setelah memastikan ibunya sudah pergi, hal pertama yang dilakukan Qiu Ci adalah membuka jendela kaca besar di balkon.

Angin bertiup cukup kencang pagi ini, dan udara dingin menyerbu ke dalam ruangan, seketika mengusir perasaan bersalah yang selama ini menyelimuti mereka berdua.

Dengan hati yang masih berdebar, dia memandang bodoh kecil itu yang juga terlihat lega sekaligus takut. Untuk sesaat, dia tidak tahu apakah hubungan ini seharusnya dilanjutkan atau tidak.

Selama ini, Qiu Ci begitu terhanyut oleh getaran perasaan yang belum pernah dia rasakan, sampai-sampai dia mengabaikan banyak kenyataan.

Kini setelah tenang kembali, dia mulai bertanya-tanya: sampai kapan hubungan ini bisa bertahan?

Jika suatu hari hubungan ini benar-benar terbongkar di hadapan orang tuanya dan menuai penentangan keras, pilihan apa yang harus dia ambil?

Setelah mengganti seprai, Mu Yu baru menyadari bahwa Qiu Ci sejak tadi hanya berdiri memperhatikannya.

Tatapan itu berbeda dari sebelumnya, raut wajah anak laki-laki itu seperti seseorang yang hendak mengambil keputusan penting, membuat hati Mu Yu yang semula tenang kembali dipenuhi rasa cemas.

“Ah-Ci.”

Dia tak tahan dan memanggilnya pelan, lalu berjalan mendekat untuk memeluknya.

Barulah ketika pelukan itu semakin erat, Qiu Ci tersadar. Meski agak lamban, dia merasakan kecemasan yang dimiliki Mu Yu.

Itu adalah pelukan yang menyesakkan. Untuk pertama kalinya, Qiu Ci merasa si bodoh kecil itu cukup kuat. Dia mendengus, “Kamu ingin membuatku mati lemas? Setidaknya lakukan dengan cara yang lain.”

Pegangan Mu Yu sedikit mengendur, tapi wajahnya tetap terbenam di bahu Qiu Ci.

“Ah-Ci, milikilah aku.”

Suara itu terdengar teredam. Qiu Ci pada awalnya tidak paham, tapi setelah beberapa saat barulah mengerti maksudnya.

Rasa panas yang tadi sempat mereda langsung muncul kembali. Dengan wajah memerah dia bergumam geram, “Kenapa kepalamu hanya dipenuhi pikiran semacam itu?”

Baru saja melakukan sesuatu, kini malah ingin melangkah lebih jauh!

Tak lama kemudian, dia mengangkat tangan dan mengacak-acak rambut si bodoh kecil itu dengan kasar. “Jangan berpikir yang macam-macam.”

Meski tidak mengerti alasan ketidaknyamanan Mu Yu, sebagai seorang kekasih dia merasa harus melakukan sesuatu.

Dengan canggung dia mencoba menenangkan, lalu terbatuk pelan sebelum berkata, “Tunggu sampai lulus, baru aku akan melakukannya.”

Itulah batas toleransi terbesar Qiu Ci. Sebelumnya dia hanyalah remaja polos yang sama sekali tidak pernah membayangkan bisa berciuman, berpelukan, apalagi melakukan hal yang sulit diucapkan. Kini, semuanya dia alami bersama si bodoh kecil itu.

“Aku akan mencuci muka dulu, kamu ganti pakaianmu.”

Untuk menutupi wajahnya yang terasa panas, Qiu Ci segera mendorongnya menjauh, lalu bergegas masuk ke kamar mandi.

Setelah ragu-ragu cukup lama, keduanya memberanikan diri turun ke bawah.

Chu Qing baru saja hendak pergi keluar bersama Yu Shan ketika dia melihat mereka berdua turun dan menyuruh mereka pergi keluar bersama.

Jika biasanya hanya bertiga, tahun ini berbeda: ada Mu Yu, Yu Shan, serta lelaki tua yang tidak mau kembali ke rumah besar. Karena itu, belanja kali ini lebih banyak daripada biasanya.

Waktu sudah tidak pagi lagi, sehingga Chu Qing memutuskan untuk naik mobil.

Terpikir olehnya kejadian tahun lalu, dia merasa waktu berlalu sangat cepat. Saat itu, Mu Yu baru saja tinggal di rumah, dan Qiu Ci masih sangat menolak kehadirannya.

Namun setahun berlalu, hubungan keduanya justru berkembang jauh lebih baik daripada yang dia bayangkan.

Setelah membagi tugas masing-masing, Qiu Ci mendorong troli belanja sambil bersama Mu Yu membeli barang-barang yang diminta Chu Qing.

Saat melewati bagian makanan ringan, Qiu Ci teringat kejadian tahun lalu. Dia dengan mudah menemukan permen stroberi, meletakkannya ke dalam troli, lalu bertanya, “Apa lagi yang ingin kamu makan?”

Melihat kemasan permen yang tampak begitu indah, Mu Yu teringat masa lalu, sudut bibirnya terangkat, “Ini saja sudah cukup.”

Kali ini, Qiu Ci tidak lagi membeli banyak camilan untuk Yu Shan, juga tidak langsung berjalan ke arahnya setelah keluar dari supermarket, lalu mereka bercanda riang di jalan.

Setahun berlalu, kini orang yang berada di sisinya adalah Mu Yu.

Mu Yu menoleh ke arah anak laki-laki di sampingnya, kemudian melirik Chu Qing yang sedang serius menyetir, serta Yu Shan yang duduk di kursi depan sambil sibuk dengan ponselnya. Dia memperlambat napasnya, lalu mencoba menyentuh tangan Qiu Ci.

Qiu Ci yang sedang melamun, mengernyitkan alisnya dan terus menatap

Di antara mereka ada kantong belanja, yang menjadi penutup permainan kecil tangan mereka.

Mencubit jari, menggaruk telapak, lalu jemari perlahan saling mengait, merasakan kehangatan dari telapak tangan masing-masing.

Interaksi kecil yang menegangkan dan mengasyikkan itu membuat keduanya bernapas dengan hati-hati, dan mereka dengan enggan melepaskan satu sama lain sesaat sebelum turun dari mobil.

Tahun Baru kali ini, bagi setiap orang, adalah malam Tahun Baru yang istimewa.

Ketika lonceng pergantian tahun berbunyi dan langit malam dihiasi kembang api yang gemerlap, Qiu Ci menoleh cepat ke sekeliling, lalu diam-diam mencium si bodoh kecil di sisinya yang terbungkus syal dan memegang kembang api berbentuk tongkat peri yang menyala di tangannya.

“Selamat Tahun Baru, si bodoh kecil.”

Tahun lalu, Qiu Ci memberikan ucapan pertama kepada si cengeng Yu Shan, lalu tertidur di kaki si bodoh kecil itu, tanpa mengetahui bahwa dia hampir kehilangan ciuman pertama yang telah disimpannya selama bertahun-tahun.

Namun saat ini, yang ada di matanya hanyalah bodoh kecil dengan wajah merah padam, jinak, dan lembut.

Ketika kembang api di tangan Mu Yu padam, dia menoleh cepat ke arah para orang tua yang membelakangi mereka, lalu secepat itu pula mencium Qiu Ci.

Dengan senyum tersipu dia berbisik, “Ci Ye, selamat Tahun Baru.”

Kebetulan Yu Shan kembali dari kamar kecil, dan melihat keduanya diam-diam melakukan gerakan kecil itu. Dia tidak bisa menahan senyum, lalu berkata lirih, “Selamat Tahun Baru, Ci Ge… dan juga selamat tinggal.”

Pagi hari di hari pertama Tahun Baru, Yu Shan pergi tanpa pamit.

Qiu Ci memeriksa rekaman kamera di gerbang rumah, barulah dia tahu bahwa gadis itu menyeret koper dan pergi di tengah malam.

Keesokan harinya, dia dengan khawatir menelepon nomor yang sejak semalam selalu tidak aktif, akhirnya berhasil tersambung.

“Kembalilah ke sini sekarang juga, segera!” Qiu Ci sangat marah.

Sejak tahu Yu Shan pergi, dia panik mencari keberadaannya, takut gadis itu melakukan hal bodoh.

Setelah semua persoalan keluarga Yu dan Xiang Ran terselesaikan, ditambah perkataan yang tidak jelas tempo hari, siapa tahu gadis itu benar-benar nekat mengambil jalan pintas.

”Ah-Ci, masih ingat kata-kataku?” suara Yu Shan di seberang terdengar panjang dan pelan, “Selama ini hidupku selalu kacau, hanya untuk mencari pengakuan dan terus-menerus berlari tanpa arah. Sekarang, aku ingin hidup untuk diriku sendiri.”

Perkataan itu membuat Qiu Ci menggenggam ponsel erat-erat.

Dalam sekejap, dia ingin mengatakan banyak hal, tapi tidak tahu mana yang tepat, akhirnya dia memilih diam.

“Ah Ci, aku bersyukur dalam hidupku yang buruk ini, kamu hadir dan memberiku keberanian untuk melawan kehidupan yang tidak kuinginkan.”

“Jangan khawatir, aku tidak akan melakukan hal bodoh yang kamu takutkan. Ngomong-ngomong, aku harap kamu dan si bodoh kecilmu baik-baik saja. Jangan terlalu keras kepala dan gengsi, mungkin bodoh kecilmu tidak sekuat yang kau bayangkan.”

“Selamat tinggal, Ci Ge.”

Telepon pun terputus. Saat Qiu Ci kembali menelepon, ponsel sudah tidak aktif. Beberapa hari kemudian, nomor itu bahkan berubah menjadi tidak terdaftar.

Pada semester terakhir kelas tiga SMA, Yu Shan dengan tegas memilih pergi, ke sebuah kota yang tidak diketahui siapa pun.

Masing-masing orang memiliki perasaan sendiri terhadap kepergiannya. Mu Yu barangkali satu-satunya yang merasa lega.

Meski tahu itu tidak pantas, dia tetap merasa tenang.

Sebab Mu Yu sadar, selama Yu Shan masih ada, Qiu Ci akan selalu memilih sang putri kecil yang tumbuh bersamanya.

Entah siapa yang pergi, hidup tetap berjalan. Semua orang segera kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

Kini, ujian masuk perguruan tinggi tinggal tujuh hari lagi.

Karena hari libur, Qiu Ci tidur sampai siang. Saat bangun dan hendak ke balkon untuk menghirup udara, dia melihat si bodih kecilnya berjalan keluar sendirian. Di depan gerbang, ada sebuah mobil terparkir.

Ketika menyadari orang di bawah hendak menoleh, Qiu Ci entah mengapa berjongkok menyembunyikan diri. Belasan detik kemudian, dia baru berdiri lagi, namun Mu Yu sudah masuk ke mobil itu.

Mobil tersebut bukan milik keluarga mereka.

Qiu Ci segera berlari ke bawah, menyalakan mobil cadangan, lalu mengejarnya.

Karena laju mobil di depan tidak cepat, Qiu Ci bisa dengan mudah mengikuti dari belakang.

Mobil itu akhirnya berhenti di sebuah restoran terkenal di Jiangshi. Dari mobilnya, Qiu Ci melihat si bodoh kecil itu masuk bersama seorang pria muda berjas.

Pria itu tampak berusia sekitar dua puluh lima atau enam tahun, berpenampilan rapi dan berkarisma layaknya seorang profesional. Wajahnya…

Qiu Ci melirik ke kaca spion, membandingkan dengan wajahnya sendiri, lalu mendengus pelan, “Hanya segitu saja.”

Dia mengeluarkan ponsel, menekan nomor, dan menunggu panggilan tersambung.

“Halo?”

Suara di seberang terdengar sengaja diturunkan. Qiu Ci memegang setir erat-erat, pura-pura santai bertanya, “Pergi ke mana?”

“A-aku pergi ke toko buku untuk membeli beberapa bahan belajar.” Suara di sana terdengar terbata-bata.

Hmph, toko buku yang sekaligus menyediakan makan malam? Qiu Ci tanpa ekspresi bertanya datar, “Dengan siapa?”

“Aku sendiri.” Mu Yu melirik pria berwibawa di depannya, suaranya terdengar goyah.

Dia tidak ingin berbohong, hanya saja tidak tahu bagaimana harus menjelaskan.

“Kebetulan aku juga sedang keluar. Kamu di toko buku mana? Aku jemput.” Qiu Ci mulai mengetukkan jarinya di setir.

Mu Yu memilih menyebutkan toko buku yang letaknya lebih dekat, supaya setelah menyelesaikan urusan di depan mata, dia bisa segera berangkat ke sana.

Begitu telepon ditutup, ekspresi wajah Mu Yu langsung meredup, tatapannya dingin mengarah pada pria di depannya. Wajah pria itu memiliki kemiripan  lima puluh persen dengannya.

“Kalau Tuan Mu ada urusan, cepat katakan. Saya masih ada hal lain.”

Qiu Ci terus menatap ponsel, menunggu hampir sepuluh menit, sampai akhirnya melihat sosok yang ditunggunya.

Kali ini, di sampingnya tidak ada pria berpenampilan rapi itu, dia berjalan cepat sendirian menuju tempat bisa naik taksi.

Qiu Ci mengikutinya sampai ke toko buku, lalu tetap duduk di mobil selama sepuluh menit sebelum akhirnya turun, menelepon, dan mengatakan bahwa dia sudah sampai.

Untuk menghindari kecurigaan, Mu Yu memilih cukup banyak buku referensi. Saat melihat Qiu Ci, dia langsung hendak memeluknya.

Namun, di mata Qiu Ci, itu jelas tanda rasa bersalah. Dia hanya mendengus pelan, menolak pelukan tersebut.

Melihat suasana hati Qiu Ci buruk, Mu Yu pun gugup: “Ah-Ci, kamu kenapa?”

“Masuk ke mobil.” Setelah pintu tertutup, Qiu Ci melirik buku-buku referensi di tangannya. “Ujian sudah dekat, apa gunanya membeli ini?”

Mu Yu menjawab pelan: “Aku ingin memperkuat lagi.”

“Sudah makan?”

“Belum.”

Saat mobil perlahan berhenti, Mu Yu melihat restoran yang familiar, lalu mendengar suara di telinganya: “Masakan koki restoran ini lumayan, mau coba?”

Kebetulan? Mu Yu tidak merasa begitu. mengingat telepon tadi, dia segera mengerti.

“Kamu cemburu?”

Qiu Ci semula mengira dia akan panik, tapi tidak menduga ekspresinya malah cerah, bibirnya tersungging senyum manis.

“Siapa… siapa yang cemburu, aku hanya tidak suka kamu membohongiku.”

Kata-kata itu sudah cukup menunjukkan bahwa dia memang mengikutinya.

Mu Yu tidak marah karena Qiu Ci menguntitnya. Matanya berbinar saat menjelaskan: “Kamu salah paham. Orang yang kutemui tadi adalah ayah kandungku.”

Pembohong! Melihat dia menolak untuk mengatakan yang sebenarnya, Qiu Ci menahannya berulang kali, tetapi tidak dapat menahannya “Pria itu seperti dua puluh enam tahun. Mana mungkin punya anak sebesarmu?”

Huh! Apa dia kira aku bodoh?

Mu Yu justru tersenyum semakin lebar: “Dia hanya asistennya. Tadi dia datang menjemputku, itu kali kedua aku bertemu dengannya.”

Saat tangannya terluka, tepat ketika Qiu Ci sedang menjauh darinya, Chu Qing-lah yang membawanya menemui pria itu. Saat itu baru dia tahu bahwa ayah kandungnya masih hidup.

Juga baru mengerti bahwa hubungan Chu Qing dan ibunya tidak sedekat yang dia kira. Alasan Chu Qing membawanya kembali hanyalah karena permintaan dari pria itu.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang sebelumnya?” Melihat ketenangan wajah Mu Yu, Qiu Ci sadar dirinya salah paham. Dia mengangkat tangan, mengusap hidungnya.

Mu Yu tersenyum tipis: “Aku belum menemukan kesempatan.”

Sebenarnya, saat pertama mengetahui keberadaan orang itu, hatinya kacau dan dia ingin sekali mencurahkan isi hati. Satu-satunya orang yang terpikir hanyalah Qiu Ci. Namun waktu itu Qiu Ci justru menjauh, sehingga dia tidak bisa menghubunginya.

Dia pun menggenggam tangan Qiu Ci: “Nanti di rumah, aku akan perlahan menceritakan semuanya, ya?”

Qiu Ci berdeham kecil: “Kalau itu terlalu pribadi, kamu tidak perlu menceritakannya.” Setiap orang punya rahasia, dan dia bukan tipe yang harus tahu segalanya.

“Tapi aku ingin memberitahumu.”

“Sekarang kita pulang dulu.”

“Tidak makan?”

“Restoran ini tidak enak. Aku carikan yang lain.”

Mobil pun perlahan meninggalkan tempat itu. Sementara itu, seorang wanita yang baru turun dari mobil sempat menatap heran ke arah kendaraan yang menjauh.

“Nyonya Chu, ada apa?” tanya sekretarisnya.

“Tidak ada, ayo masuk.” Chu Qing masih punya urusan bisnis di restoran itu.

Mobil tadi… persis sama dengan hadiah yang pernah dia berikan untuk putranya. Bahkan plat nomornya terasa familiar, hanya saja dia tidak bisa memastikan.

Seharusnya modelnya sama, kalau tidak, mengapa orang itu datang ke sini tanpa alasan?


KONTRIBUTOR

San
Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply