Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki


Ucapan Yu Shan berhasil menahan kata-kata Qiu Ci.

Dia hanya mendengus pelan. “Aku hanya tidak suka sikap seperti itu. Kalau aku menyukai seseorang, aku tidak akan sebodoh itu menyerahkannya kepada orang lain.”

“Aku juga tidak akan,” Yu Shan mengangguk.

Dia lalu bertanya, “Kalau memang begitu, kenapa kamu tidak katakan saja secara langsung padanya? Atau beritahu dia kalau sebenarnya kamu tidak menyukaiku, agar dia tidak salah paham?”

Seandainya Qiu Ci berani berkata begitu di hadapan Mu Yu, bahkan orang paling lamban sekalipun pasti bisa menebak isi hatinya. Sayang, Qiu Ci adalah tipe orang yang keras kepala dan tidak pernah mau menunjukkan isi hatinya terang-terangan. Hampir bisa dipastikan dia tidak akan melakukan itu.

Sekali lagi Qiu Ci tercekat oleh kata-kata Yu Shan. Dia hanya dapat menatapnya. “Kamu tidak akan mengerti bahkan jika aku memberitahumu.”

Yu Shan tidak membantah. Dia malah mengangkat tangan, menepuk pelan kepala Qiu Ci.

“Bodoh, cepatlah dewasa, Ah-Ci.” Katanya sambil tersenyum. Saat Qiu Ci masih belum bereaksi, dia segera menarik kembali tangannya, lalu berlari kecil menjauh sambil tertawa.

“Kalau kamu benar-benar peduli padanya, akui saja dengan jujur. Terlalu gengsi itu tidak baik!” serunya sambil terus menjauh.

Begitu Qiu Ci sadar, gadis itu sudah kabur.

Jelas sekali, Qiu Ci sama sekali tidak ambil pusing dengan perkataan itu. Karena setibanya di penginapan, dia langsung mengetuk pintu kamar Sun Jialu.

Melihatnya, Sun Jialu berseru. “Peresetan, Ci Ge, wajahmu kenapa?!”

Saat Qiao Yi pergi tadi, Sun Jialu dan yang lain belum kembali. Ketika makan malam, Qiu Ci juga tidak turun ke bawah, jadi mereka benar-benar tidak tahu kalau keduanya baru saja berselisih.

“Jatuh,” jawab Qiu Ci datar sambil masuk ke kamar.

“Kamu jatuh bagaimana sampai bisa separah ini?” Sun Jialu menatap penuh rasa ingin tahu. “Oh iya, apa kamu tahu Qiao Yi sudah pergi? Waktu aku pulang, barang-barangnya sudah tidak ada. Teleponnya juga tidak diangkat. Apa terjadi sesuatu?”

“Aku tidak tahu.” Qiu Ci menarik sprei tempat Qiao Yi tidur dan memutuskan untuk tidur di sini saja malam ini.

Sun Jialu menggaruk kepalanya, bingung. “Ci Ge, apa yang kamu lakukan?”

“Tidur di sini.” Setelah berpikir sebentar, Qiu Ci juga menarik lepas seprai dari ranjang itu. Tapi, dia tetap merasa tidak nyaman. Tatapannya beralih ke ranjang Sun Jialu, meski di dalam hati dia pun enggan berbaring di tempat tidur yang sudah ditempati orang lain.

“Kenapa harus—”

Tok tok tok. Tiba-tiba ada ketukan di pintu. Sun Jialu terpaksa menghentikan pertanyaannya. Saat membuka pintu, dia terkejut melihat siapa yang berdiri di sana.

Mu Yu.

Anak laki-laki itu menatapnya sekilas sebelum bertanya, “Apa Qiu Ci ada di dalam?”

Sun Jialu mengangguk, bahkan dengan baik hati langsung memanggil Qiu Ci keluar.

“Ada apa?” tanya Qiu Ci tanpa ekspresi, masih memegang erat seprai di tangannya. Mu Yu melirik sekilas, dan dia segera tahu bahwa dugaannya benar. Tapi karena Sun Jialu masih di sana, dia hanya mengangguk singkat.

Qiu Ci merasa Sun Jialu mengganggu pemandangan. Dia pun segera menyodorkan seprai di tangannya ke pelukan Sun Jialu, lalu melangkah mengikuti Mu Yu. Sun Jialu hanya bisa berdiri terpaku, kebingungan dengan situasi itu.

Begitu pintu tertutup rapat, Qiu Ci bersuara datar. “Ada apa?”

“Apakah kamu marah?” Mu Yu ragu-ragu, “Marah padaku?”

Awalnya dia kira Qiu Ci masih marah pada Qiao Yi. Tapi semakin dipikir, dia merasa ada yang ganjil. Karena tak kunjung melihat Qiu Ci kembali, dia menduga Qiu Ci mungkin ada di kamar Sun Jialu. Lagipula kamar Qiao Yi kini kosong.

“Untuk apa aku marah padamu?” Qiu Ci langsung membantah, kemudian berjalan ke arah ranjang dan merebahkan diri. “Aku mau tidur.”

Tidur bagi Qiu Ci, jelas-jelas hanyalah cara melarikan diri dari kenyataan. Mu Yu menatapnya sejenak, lalu ikut berbaring di sampingnya.

Qiu Ci mengira anak laki-laki itu sudah tertidur, tiba-tiba terdengar suara di belakangnya. “Kamu tidak menggosok gigi terlebih dulu?”

Ruangan itu hening selama sepuluh detik. Qiu Ci mendadak bangkit, melangkah masuk ke kamar mandi.

Ketika dia kembali berbaring, dia merasakan seseorang menusuk punggungnya dengan jari. Dia mengabaikannya, dan orang itu menusuk lagi.

Qiu Ci berbalik, menatapnya tajam. “Jangan ganggu aku.”

Mu Yu tetap keras kepala. “Kamu memang marah padaku, ’kan?”

“Kenapa aku harus marah?” Qiu Ci menaikkan alis.

Sebuah dugaan mulai tumbuh dalam benak Mu Yu. Namun dia tidak berani memastikan. Dengan hati-hati dia bertanya, “Apakah karena aku berkeras ingin membantumu mendekati Yu Shan?”

Mungkinkah ini jawabannya?

Jika ya, apa arti yang tersembunyi di baliknya?

Jantung Mu Yu berdegup kencang. Dia menahan napas, menatap Qiu Ci, mencoba menemukan petunjuk untuk menarik kesimpulan akhir atas tebakannya.

Namun yang dia dapat hanya senyum tipis. “Tidak, aku tidak marah. Aku malah senang kau ingin membantuku. Kalau begitu, mari kita bicarakan dengan serius bagaimana caranya mendekati si Bao Shan itu.”

Bagus sekali, bukankah kamu begitu menyukaiku sampai bersedia melakukan apa saja untukku?

Dia ingin melihat sejauh mana orang ini mampu melangkah, atau apakah ia hanya bicara besar.

Senyum dan nada suaranya benar-benar serius, hingga detak jantung Mu Yu perlahan kembali normal. Kata-kata yang ingin dia ucapkan justru tertahan di tenggorokan, membuat dadanya sesak.

Apa yang harus kulakukan? Aku menyesal. Kukira semua ini akan mudah, tapi ternyata jauh lebih sulit dari bayanganku.

“Apa? Kamu hanya bisa membicarakannya?” Kata-kata Qiu Ci terdengar sangat jahat.

Sepertinya ada suara di kepalanya yang berkata, jangan terlalu berlebihan, tapi Qiu Ci masih tidak bisa mengendalikan diri dan mencibir: “Cintamu memang hanya seperti ini.”

Ruangan seketika senyap. Bahkan detik jam pun terdengar jelas.

Akhirnya, Mu Yu menjawab dengan suara parau, “Baiklah. Aku akan membantumu mengejarnya.”

Hari ini adalah hari keenam perjalanan mereka dan mereka akan kembali dalam dua hari.

Sementara yang lain menikmati hari-hari terakhir liburan musim panas, Yu Shan merasa sangat tertekan.

Dia mendapati dirinya seolah-olah menjadi alat Qiu Ci untuk melampiaskan amarahnya, dan Qiu Ci harus mengikutinya ke mana pun dia pergi.

Di tengah kerumunan, Yu Shan mengambil es krim yang diberikan kepadanya oleh Qiu Ci.

“Apa sebenarnya yang ingin kamu lakukan?” Gadis kecil itu merendahkan suaranya dan bertanya pada Qiu Ci yang sedang mengulurkan tangannya.

Qiu Ci tetap tenang, “Bukankah kita harus berpegangan tangan saat berkencan?”

Melihat sikapnya yang keras, Yu Shan merasa pusing “Siapa yang berkencan denganmu? Dan bukankah kamu tidak suka berpegangan tangan karena membuatmu berkeringat?”

Mereka belum pernah berpegangan tangan sejak SD. Paling-paling, mereka akan tanpa sadar menarik pergelangan tangan satu sama lain.

“Terserah kamu mau pegang tanganku atau tidak.” Qiu Ci merebut es krim dari tangan Yu Shan dan menyodorkannya ke mulutnya. “Buka mulutmu.”

Yu Shan tidak berdaya. Dia sudah melihat Sun Jialu dan yang lainnya saling mengedipkan mata dan menggodanya serta Qiu Ci tak jauh dari situ.

“Qiu Ci.” Ketika Yu Shan memanggil Qiu Ci dengan nama lengkapnya, itu berarti dia sedang marah. “Apa sebenarnya yang ingin kamu lakukan?”

“Mengejarmu, tidakkah kamu melihatnya?”

Qiu Ci melirik seseorang di kejauhan sambil tersenyum tipis, “Aku masih punya penasihat militer di belakangku. Kalau kamu tidak suka metode ini, aku bisa memintanya untuk menggantinya dengan metode yang kamu suka.”

Yu Shan akhirnya mengerti. Ternyata Qiu Ci sama sekali tidak mendengarkannya dan malah semakin parah.

Hal yang sama berlaku untuk Mu Yu. Pantas saja Ah-Ci mengatakan otaknya bermasalah. Siapa yang tega begitu saja menjauhi orang yang disukainya?

Yu Shan akan mengambil inisiatif untuk memperjuangkan apa pun yang disukainya dan tidak akan menyerah sampai tujuannya tercapai. Dia tidak begitu mengerti cara berpikir Mu Yu.

Dia melirik ke arah Mu Yu dengan marah dan mengulurkan tangan untuk merebut es krim dari tangan Qiu Ci.

“Ini akan mencair. Juga! Jangan ikuti aku.”

Yu Shan tidak mengendalikan volume dengan baik, yang mengejutkan teman-teman di kejauhan. Mereka mengira keduanya sedang berdebat dan berkonflik. Setelah saling memandang, tidak ada yang berani maju dan bertanya pada Qiu Ci.

Matahari begitu terik, amarah Ci Ge pasti meningkat. Siapa yang berani maju dan menjadi umpan meriam saat ini?

Qiu Ci membelakangi semua orang, dan karena tidak ada seorang pun yang melihatnya, dia hanya mengangkat alisnya dan mengikuti tanpa terlalu peduli.

Hmph, apakah dia mengira cukup dengan berkata tidak ingin ikut lalu benar-benar tidak ikut? Apakah menurutnya aku tampak semudah itu untuk dibujuk?

Adapun Mu Yu, tidak ada yang peduli dengan ekspresinya saat ini.

Akhirnya, tibalah waktunya untuk kembali. Begitu mereka turun dari pesawat, Yu Shan langsung menarik Lu Ning ke dalam mobil dan pergi. Semua orang bisa melihat bahwa dia sedang menghindari Qiu Ci.

Tak seorang pun berani bertanya kepada Qiu Ci alasannya. Setelah berpamitan, hanya Qiu Ci dan Mu Yu yang tersisa di bandara.

Ketika Chu Qing tiba, dia melihat kedua anak itu sedang menunduk menatap ponsel mereka, tanpa ada kontak mata.

Ketika dia melihat ibunya, Qiu Ci melemparkan barang bawaannya ke bagasi dan duduk di kursi penumpang.

Chu Qing segera menyadari ada yang tidak beres. Dia menoleh ke arah Mu Yu yang masih berdiri di luar mobil dan bertanya,

“Kalian bertengkar?”

Melihat Mu Yu menggeleng, Chu Qing kembali bertanya, “Atau, apakah dia sedang bertengkar dengan Shanshan?”

Mu Yu ragu sejenak, lalu mengangguk pelan. Setidaknya, itulah yang dia lihat.

Chu Qing hanya bisa terkekeh kecil, penuh rasa tak berdaya. “Anak-anak ini, benar-benar …”

Di perjalanan pulang, ketika mendengar bahwa putranya menghilang beberapa waktu lalu demi mengejar ketertinggalan dalam pelajaran, wajah Chu Qing sempat terkejut, namun dia lalu menggodanya, “Ternyata cinta memang punya kekuatan luar biasa.”

Dulu nilai putranya sebenarnya cukup baik, hanya saja belakangan dia lebih banyak menaruh perhatian pada hiburan, membuat prestasi akademiknya menurun drastis. Sebaliknya, Yu Shan justru berusaha mati-matian mengejar ketertinggalan, bahkan sudah melampaui jauh.

Untuk hal-hal yang Qiu Ci tidak sungguh-sungguh menaruh perhatian, tidak peduli seberapa keras orang lain memaksanya, tetap saja tidak ada gunanya. Karena itulah, Chu Qing dan Qiu Wei tidak pernah terlalu ketat dalam hal akademis.

Walaupun mengetahui bahwa ibunya salah paham, Qiu Ci memilih tidak menjelaskan. Dia hanya berkata tenang, “Aku masih harus pergi untuk beberapa waktu, jadi aku tidak akan pergi ke sekolah untuk saat ini.”

Biasanya, anak-anak yang dikirim ke tempat pelatihan semacam itu akan bertahan minimal setengah tahun. Lingkup aktivitas mereka pun terbatas.

Ingin kabur? Mustahil. Dinding luar tempat itu setara dengan penjara. Selama keluarga belum mengizinkan, mereka hanya bisa bertahan di dalam menerima “perbaikan”.

Belajar adalah satu-satunya jalan keluar.

Tapi, Qiu Ci berbeda. Dia datang dengan sukarela, dasar kemampuannya juga jauh di atas para “tuan muda” dan “nona besar” yang selalu berada di peringkat terbawah. Jadi dia diberi lebih banyak kebebasan.

Melihat putranya berusaha keras seperti itu, Chu Qing merasa sangat lega.

Asal dia mau berusaha keras, dia pasti bisa mengejar ketertinggalannya.

Setelah satu setengah bulan sejak awal semester, barulah Qiu Ci kembali ke sekolah. Saat mendengar kabar bahwa Qiao Yi pindah sekolah, dia sama sekali tidak bereaksi.

Tahun itu, semua orang sudah menginjak kelas tiga SMA.

Mungkin karena merasakan dekatnya ujian masuk perguruan tinggi, suasana belajar di kelas delapan jauh lebih serius daripada sebelumnya.

Kelas ini diajar oleh wali kelas. Dia memandang anak laki-laki yang duduk di dekat jendela di barisan paling belakang dengan puas, berpikir bahwa dia akhirnya tahu belajar dengan giat.

Dulu, saat masih di SMP, wali kelas itu pernah mengajar Qiu Ci selama setahun. Dia selalu menaruh harapan besar pada anak itu: meski agak manja, tapi dia cerdas. Siapa sangka, saat bertemu lagi di SMA, Qiu Ci sudah berubah: tak ada niat belajar, di kelas hanya tidur atau kabur, bahkan ujian pun tidak diikuti.

Sebagus apa pun dasarnya, tetap akan hancur kalau terus diabaikan. Untungnya, sekarang dia mulai kembali ke jalur yang benar.

Tapi, Qiu Ci yang duduk di bangku terakhir sama sekali tidak merasakan kebahagiaan gurunya. Ketika semua orang menunduk serius mengerjakan soal, dia justru asyik bermain ponsel, mengobrol dengan Yu Shan.

Gadis itu tidak masuk sekolah karena sakit. Barusan, dia tiba-tiba mengirim deretan tanda seru, disertai stiker ekspresi seseorang yang meloncat kegirangan.

[Ah-Ci, Ah-Ci, aku berhasil! Aku akan mulai pacaran!!!!!!!]

Bahkan hanya lewat layar, Qiu Ci bisa merasakan betapa bahagianya si gadis cengeng itu. Mungkin sekarang dia sedang berputar-putar kegirangan.

Qiu Ci mendengus pelan melalui hidung. Huh, hanya pacaran saja, apa yang perlu dibesar-besarkan?

Dia hanya membalas dengan tiga titik, lalu melempar ponselnya ke laci meja. Satu tangan menopang dagu, tangan lain memutar pena, matanya pura-pura menatap papan tulis. Sesekali ekor matanya melirik ke samping, lalu kembali berpura-pura serius belajar.

Untuk saat ini, hanya Qiu Ci, Qi Meng dan Lu Ning yang tahu tentang Yu Shan sedang berpacaran.

Karena itu, saat Mu Yu melihatnya berpegangan tangan mesra dengan pacarnya di sebuah toko buku, dia langsung terpaku di tempat.

Yu Shan tidak menyadari kehadirannya. Mu Yu refleks menoleh, dan kebetulan melihat Qiu Ci.

Entah kebetulan macam apa, Qiu Ci juga ada di toko buku itu. Dia sedang menunduk memeriksa pesan ponsel sambil berjalan ke arah pintu keluar, ke arah yang sama dengan Yu Shan dan pacarnya.

Tanpa pikir panjang, Mu Yu buru-buru melangkah, menarik tangan Qiu Ci.

Qiu Ci yang sedang sibuk membalas pesan mendongak. Begitu melihat yang menariknya adalah Mu Yu, dia langsung memasang wajah masam. “Apa-apaan?”

“Ayo kita pulang bersama,” kata Mu Yu cepat, tidak berani menoleh ke arah Yu Shan, takut Qiu Ci curiga.

Dia tahu betapa Qiu Ci menyukai Yu Shan. Kalau sampai melihat adegan itu, pasti akan sangat menyakitkan.

“Mimpi saja,” Qiu Ci menepis kasar, menggunakan buku di tangannya untuk memukul tangan Mu Yu.

“Ah-Ci, kumohon …” suara Mu Yu bergetar, penuh desakan dan permintaan.

Ekspresi Qiu Ci berubah curiga. Apa yang ada di toko buku ini sampai Mu Yu begitu panik?

Saat itu, ponsel Qiu Ci kembali bergetar. Dia menurunkan kepala, mengirim pesan suara singkat: “Ada urusan, aku tidak bisa datang.”

Begitu selesai, dia menoleh pada Mu Yu. “Ayo.”

Mu Yu segera menggenggam tangannya erat, menyeretnya keluar lewat pintu samping. Dua remaja laki-laki berjalan sambil berpegangan tangan, sontak menarik beberapa tatapan heran dari orang-orang di sekitar.

Mu Yu mengira masalah sudah teratasi. Namun, baru hendak keluar dari lantai satu, sebuah suara akrab menyapa dari arah berlawanan.

“Ah-Ci?”

Tangan yang menggenggamnya seketika menegang. Qiu Ci langsung mengerti sesuatu.

Yu Shan berdiri tidak jauh, menatap keduanya dengan senyum ambigu. Tatapannya seolah berkata: Jadi ini yang kamu maksud?

Membaca makna di mata gadis itu, Qiu Ci segera melepaskan genggaman tangannya tanpa sepatah kata pun, lalu melangkah pergi.

Mu Yu sempat menoleh dalam-dalam pada Yu Shan, sebelum buru-buru mengejar Qiu Ci.

“Jangan ikuti aku,” ucap Qiu Ci dingin setengah jalan, memberi peringatan.

Namun, beberapa langkah kemudian, dia sadar Mu Yu masih mengikuti, meski menjaga jarak.

Qiu Ci menghela napas keras. Sialan. Menyebalkan sekali.

Apalagi saat mengingat kata-kata Yu Shan sebelumnya, ditambah kejadian barusan. Dada Qiu Ci seperti tersumbat, napasnya naik-turun tak terkendali, pikirannya pun menjadi kacau.

Kemarahan ini membuatnya berbalik dan berjalan kembali. Ia berhenti di depan seseorang dan bertanya, “Mau minum?”

Mereka pun masuk ke sebuah bar. Di dalam ruang privat yang sunyi, Qiu Ci hanya menenggak minuman tanpa henti. Mu Yu ikut minum sedikit, lalu diam-diam menatapnya.

Perlahan, hidung Mu Yu terasa panas, matanya memerah. Dia tidak tahan lagi, menggenggam tangan Qiu Ci yang hendak membuka botol baru.

“Jangan minum lagi.”

Qiu Ci menoleh, terkejut melihat lingkar mata Mu Yu yang basah.

“Ah-Ci, berhenti menyukainya. Tolong sukai aku saja. Aku mudah dikejar.”

Qiu Ci samar-samar mendengar kata-kata itu.

Kenapa harus aku mengejarmu, kalau aku bahkan tidak menyukaimu?

Dia ingin mengucapkannya. Namun, begitu menatap mata berembun di depannya, pikirannya malah buyar.

Menangis?

Menangis? Kalau Yu Shan yang menangis, mungkin dia akan berusaha menghiburnya, tapi melihat si bodoh kecil ini, entah kenapa dia ingin… menindasnya?

Bagaimana aku harus menggertaknya?

Qiu Ci justru makin bingung. Saat itu, sebuah suara lirih memecah lamunannya.

Dia hendak mendekat, ingin menegur Mu Yu agar diam.

Namun detik berikutnya, dia justru menatap sepasang mata yang terkejut, dengan bulu mata bergetar. Jarak mereka begitu dekat, sampai dia bisa melihat bayangan dirinya sendiri di sana.

Memang sekarang sunyi, tetapi mengapa mulutnya begitu lembut?

Qiu Ci tertegun. Dia hendak berkata sesuatu, tapi kepalanya tiba-tiba ditekan, bibirnya pun dengan mudah terbuka, pasrah pada serangan yang kikuk namun mendesak. Tanpa sadar, dia justru mengikuti ritme itu.

Mu Yu menutup mata, dengan kaku namun penuh ketakutan untuk mencium. Dia khawatir Qiu Ci tiba-tiba sadar lalu menolak, maka jemarinya mencengkeram erat tengkuk pemuda itu.

Dia berpikir dalam hati, biarkan saja dia bersikap jahat sekali ini saja.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

San

Leave a Reply