Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki


Qiu Ci bermimpi aneh.

Dalam mimpi itu ada kejaran bibir dan gigi, ada desahan napas yang saling membelit, dan ada aroma jeruk nipis samar yang berulang kali melintas.

Untuk sementara waktu, Qiu Ci hampir yakin bahwa mimpi itu benar-benar terjadi, setidaknya jauh lebih nyata dibanding mimpi setengah tahun lalu yang buram dan tidak begitu murni.

Dia samar-samar tahu siapa orang yang diciumnya, bahkan mendengar bisikan lembut di telinganya: “Ci Ye.”

Dalam ingatannya, sebutan itu hanya pernah muncul sekali. Namun dibanding waktu itu, kali ini terdengar jauh lebih lembut, seolah bulu halus jatuh menyentuh hatinya, menimbulkan rasa geli dan gemetar.

Dalam mimpi absurd itu, dia samar mendengar sesuatu pecah di lantai, aroma alkohol makin tajam, lalu—

Dia merasa sangat mengantuk.

Tapi bukankah ini mimpi? Mengapa bisa mengantuk di dalam mimpi?

Dengan pertanyaan itu, kesadarannya perlahan menjauh. Saat terbangun, aroma alkohol sudah hampir lenyap, digantikan oleh wangi lembut yang sangat familiar.

Kepalanya masih berat. Kelopak matanya sempat bergerak lalu kembali terpejam. Dengan insting, dia meraba ke samping, mencari ponselnya di atas ranjang.

Namun yang disentuh bukanlah kasur kosong, bukan juga benda dingin seperti ponsel, melainkan sesuatu yang lembut.

Lembut?

Dia membuka matanya dengan susah payah, berkedip dua kali, lalu terbelalak. Bukan ilusi, jantungnya seketika berhenti, lalu berdegup liar.

Setelah beberapa kali dia menarik napas panjang, barulah berani mengangkat selimut untuk memastikan. Seketika penglihatannya gelap.

Reaksi pertama: mustahil, dia tidak ingat apa pun, juga tak merasa apa pun.

Reaksi kedua: habis sudah, kesuciannya lenyap begitu saja.

Reaksi ketiga: bukankah katanya adegan “keterusan setelah mabuk” hanya fiksi belaka?

Akhirnya, dia menyimpulkan: ini pasti mimpi di dalam mimpi.

Perasaan berkecamuk, lalu perlahan menjadi tenang dengan aneh. Dia menarik selimut, menutup mata, dan meyakinkan diri: tenang, ini cuma mimpi, nanti juga akan bangun.

Lima menit kemudian.

Saat masih berusaha menghipnotis diri, dia merasakan orang di sampingnya berguling, bahkan seakan mendekat.

Qiu Ci secara tidak sadar ingin berpura-pura tidur, tapi hatinya tidak bisa tenang sama sekali, jadi ketika Mu Yu bangun, dia dapat melihat bahwa dia berpura-pura tidur sekilas.

Anak laki-laki yang “tertidur” itu, telinganya memerah dalam kecepatan yang terlihat jelas, warnanya menjalar hingga ke leher.

Mu Yu menarik napas pelan, lalu membisikkan: “Ah-Ci?”

Tak ada respon. Dia mendekat. “ Ci Ye?”

Suara lembut yang jatuh di telinga membuat hati Qiu Ci bergetar, kepalanya berdengung.

Pertama kali mendengar nama ini, dia tertawa terbahak-bahak, namun kali ini…

Dia tak tahan membuka mata. Yang pertama dia lihat adalah sepasang mata hitam-putih yang jernih. Hampir semenit saling menatap, barulah dia dengan gugup membuka mulut:

“A-aku… kita… eh, apa kita… itu…?”

Kalimatnya tersendat, matanya berulang kali menghindar, sama sekali tak berani menatap balik.

Karena Qiu Ci samar-samar mengingat beberapa pecahan, setidaknya dia ingat ditekan di sofa oleh si bodoh kecil itu, dan dicium di leher.

Jadi semua itu bukan mimpi!

Sebelum Mu Yu sempat menjawab, wajah Qiu Ci sudah memerah: “Aku… aku mabuk semalam.”

Hal-hal yang terjadi saat mabuk tidak masuk hitungan.

Mu Yu mengerti, tapi hanya menundukkan bulu matanya. Ekspresi wajahnya sulit dibaca, hanya terdengar suaranya: “Jadi kamu tidak mau bertanggung jawab?”

“T-tanggung jawab?” Qiu Ci hampir menggigit lidahnya karena tidak menyangka dia bertanya sejelas itu.

“Tidakkah kamu harus bertanggung jawab?” Mu Yu bertanya balik, tatapannya begitu jernih hingga Qiu Ci merasa bersalah.

“Jadi kita… eh, benar-benar… melakukannya?” Dia berusaha mencari celah, sebab selain potongan gambaran saling ciuman, dia benar-benar tidak punya ingatan lain.

Mu Yu terdiam beberapa detik sebelum bertanya dengan tenang, “Jika kamu melakukannya, apakah kamu akan bertanggung jawab?”

Qiu Ci tidak tahu harus menjawab apa. Akhirnya dia asal mengangguk. Tapi tangan Mu Yu sudah meraih bahunya, lalu berbisik: “Bisakah kita melakukannya sekarang?”

Jawabannya tentu saja tidak!

Begitu sadar tak ada yang benar-benar terjadi, Qiu Ci langsung menjauh. Tapi dari sudut matanya, dia melihat jelas di leher dan bahu Mu Yu ada bekas samar.

Benarkah tidak terjadi apa-apa?

Menyadari tatapan curiganya, Mu Yu mengangkat selimutnya. Dibandingkan dengan Qiu Ci yang telanjang bulat, setidaknya dia mengenakan pakaian dalam.

“Pakaianmu basah kena minuman. Kamu sendiri yang melepasnya lalu tidur.” Mu Yu menjelaskan.

Meski begitu, penjelasan itu tidak membuat Qiu Ci tenang. Walau tidak “sampai sejauh itu”, tapi pelukan dan ciuman itu jelas nyata.

Atau jangan-jangan… semua hanya mimpi, dan bekas di tubuh bocah itu hanyalah gigitan nyamuk?

Qiu Ci membangun skenario yang masuk akal dalam benaknya, mencoba menjelaskan semua yang ada di depannya, dan tidak menyadari bahwa Mu Yu mendekatinya lagi.

Saat tersadar, jarak di antara mereka sudah terlalu dekat.

Mu Yu mendesak: “Bahkan setelah berciuman, kamu tidak mau bertanggung jawab?”

Sejak langkah itu diambil, sisi gelap yang tersembunyi dalam dirinya mulai tumbuh liar, tak bisa dibendung.

Jika sudah tidak bisa mundur, dia hanya ingin melangkah terus tanpa kembali.

Wajahnya merona malu, tapi tindakannya semakin berani, mendekat tanpa ragu.

Jarak berbahaya itu membuat kepala Qiu Ci kembali dipenuhi potongan ingatan semalam, di ruang karaoke, di hotel, setiap momen dipenuhi keintiman.

Meski hanya betciuman, cukup intens untuk membuatnya kehilangan kendali.

Melihat sebuah kecupan ringan hampir mendarat padanya, Qiu Ci segera menghindar, “Aku… perlu mempertimbangkan dulu.” Setidaknya dia harus menenangkan diri, menyusun pikirannya.

Mu Yu yang semula mengira bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk mencapai tujuannya, melihat Qiu Ci menghindar, hanya bisa menahan rasa kecewa: “Baik.”

Hingga hari ketiga, Qiu Ci masih belum memberinya jawaban apa pun.

Sampai hari ini, sepulang sekolah, ketika Qiu Ci baru saja hendak menutup pintu kamarnya, pintu itu ditahan dari luar.

“Ah-Ci, apa sudah kamu pikirkan?”

Mu Yu tanpa basa-basi, langsung masuk ke inti pembicaraan.

Qiu Ci ragu: “Belum…”

Dia tidak pernah serius mempertimbangkan untuk berpacaran, apalagi dengan laki-laki. Siapa sangka, bahkan sebelum mereka mulai berpacaran, mereka malah berpelukan dan berciuman.

Mengingat potongan-potongan memori itu, pandangan Qiu Ci menjadi kosong, dia memaksa dirinya untuk tidak mengingatnya.

Selama ini, Qiu Ci sebenarnya cukup jijik melihat kebiasaan pasangan yang suka berpelukan, berciuman, atau berbagi ludah. Tapi, potongan ingatannya justru menunjukkan bahwa dirinya bukan hanya tidak merasa jijik, bahkan seolah… menikmatinya?

Tanpa sadar, pandangannya melirik bibir Mu Yu.

Dia hanya ingat kejadian itu, tapi sama sekali tidak mengingat bagaimana rasanya, sehingga samar-samar merasa dirinya sedikit dirugikan.

Mu Yu terus mengamati reaksi Qiu Ci, dan melihat bahwa dia tidak menunjukkan rasa jengkel atau penolakan. Hatinya pun merasa lega, lalu melanjutkan mengejar tanpa henti: “Sekarang bagaimana? Sudah kamu putuskan?”

Untuk pertama kalinya, Qiu Ci merasa si bodoh kecil ini begitu sulit dihadapi. Dia tidak seperti ini ketika mengungkapkan perasaannya. Dulu, dia bahkan pemalu dan penakut, tapi sekarang dia hampir menempel padanya!

“Kamu terburu-buru sekali?” Nada suara Qiu Ci terdengar galak.

Mu Yu tersenyum malu: “Iya, aku memang terburu-buru.”

Semakin lama ditunda, semakin besar kemungkinan terjadi hal-hal tak diinginkan. Saat ini, dia tidak mau membiarkan satu pun kesempatan lepas dari tangannya.

Sikap Mu Yu yang begitu berbeda dari biasanya membuat Qiu Ci kewalahan.

“Berikan aku sepuluh menit.”

Lagipula, itu salahnya sendiri karena tidak menolak menciumnya. Apa pun keputusannya, dia memang harus memberi Mu Yu sebuah jawaban.

Mendengar itu, Mu Yu perlahan mengangkat sudut bibirnya, lalu duduk di sofa kecil di ujung tempat tidur, menatap jam tangan sambil menghitung mundur.

Qiu Ci yang melihatnya, merasa geli sekaligus kesal. Dia sudah bisa membayangkan, begitu sepuluh menit berlalu, bocah itu pasti langsung bertanya apakah dia sudah memutuskan.

Dia pun duduk di kursi agak jauh, diam-diam menatap wajah samping Mu Yu. Raut serius dan sungguh-sungguh itu, bagi orang yang tidak tahu, mungkin terlihat seperti sedang menunggu hasil sebuah peristiwa besar.

Aad apa dengan anak ini kenapa—

Qiu Ci mengusap hidungnya, dalam hati bergumam, kenapa malah semakin terlihat menggemaskan?

Lima menit berlalu, Qiu Ci masih tanpa jawaban.

Haruskah dia berpacaran dengan si bodoh kecil itu? Benarkah dia menyukai Mu Yu, seperti yang pernah dikatakan Yu Shan?

Tujuh menit berlalu.

Qiu Ci mulai khawatir. Apa yang harus dia lakukan jika Nyonya Chu dan Si penguasa Qiu tahu bahwa dia menjalin hubungan dengan seorang laki-laki?

Nyonya Chu yang agak terbuka mungkin masih bisa menerima, tapi ayahnya, yang terkenal kolot, bisa-bisa langsung mematahkan kakinya begitu tahu anaknya pacaran dengan sesama laki-laki.

Delapan menit berlalu.

Alis Qiu Ci semakin mengernyit. Sekalipun bisa menyembunyikan hal ini sementara dari keluarga, bagaimana kalau di luar ada yang melihat, lalu melapor? Pada akhirnya, orang rumah pasti tetap akan tahu.

Sembilan menit berlalu.

Kening Qiu Ci mulai berpeluh tipis.

Berpacaran, atau tidak? Dia benar-benar tak tahu harus memilih yang mana. Atau mungkin biarkan koin yang menentukan?

Waktu tersisa sepuluh detik. Wajah keduanya sama-sama menegang.

Mu Yu dalam hati menghitung mundur, berusaha menenangkan diri. Sementara Qiu Ci tak sadar menggoyangkan kakinya, dalam benaknya dua suara bertengkar hebat: satu mengingatkan risiko berpacaran dengan laki-laki, satu lagi membujuk agar dia jangan terlalu banyak berpikir, dan jalani saja cinta yang bebas.

Sepuluh menit habis!

Mu Yu hendak membuka mulut mengingatkan, namun suara Qiu Ci mendahului: “Jangan bicara!”

Dia pun menurut, diam, mata tak berkedip menatap anak laki-laki itu. Qiu Ci menyatukan jari-jemarinya, terus bergerak gelisah, wajahnya jauh lebih serius daripada biasanya.

Setelah sekitar setengah menit, Mu Yu melihat Qiu Ci bangkit, lalu perlahan melangkah mendekat.

Saat sofa terasa lebih berat karena seseorang duduk di sampingnya, dia mendengar suara pelan: “Tutup matamu.”

Melihat Mu Yu menurut, Qiu Ci berpikir sejenak dan menutup mata Mu Yu dengan telapak tangannya.

Begitu semuanya siap, Qiu Ci mendekat, hingga jarak mereka tinggal sejengkal, lalu kembali terhanyut dalam pergulatan batin.

Haruskah ia menciumnya? Jika dalam keadaan sadar pun ia tidak merasa tergangu, mungkin… layak mencoba berpacaran?

“Ah-Ci?”

Karena matanya tertutup, Mu Yu tidak tahu apa yang hendak dilakukan Qiu Ci, hatinya berdebar tak menentu.

“Jangan bicara.”

Begitu kata itu jatuh, Mu Yu merasakan sebuah sentuhan singkat di bibirnya. Hanya sebuah kecupan ringan, tapi cukup untuk mengguncang hatinya.

Setelah cepat-cepat menarik diri, Qiu Ci mendapati dirinya sama sekali tidak merasa tidak nyaman. Bahkan, dia ingin memastikan lagi beberapa kali.

Dengan itu, dia sudah punya jawaban. Menurunkan tangannya, dia mengalihkan wajah ke samping, lalu berkata pelan:

“Ayo kita pacaran.”

Setelah mengucapkan keputusan itu, bukannya merasa lega, justru seluruh tubuhnya tegang, ingin segera lari keluar untuk menenangkan diri dari perasaan asing yang pertama kali dia alami.

Pergelangan tangannya tiba-tiba dicengkeram seseorang, dan dia terpaksa duduk kembali di sofa tepat saat dia berdiri. Sepasang tangan mengambil kesempatan itu untuk mencengkeram wajahnya dan menciumnya tanpa memberinya kesempatan untuk menghindar.

Kali ini, keduanya sama-sama. Semua indra mendadak tajam, membuatnya tak mungkin lagi lari atau bersembunyi.

Qiu Ci mengangkat lalu menurunkan satu tangannya, dan akhirnya memilih untuk mengangkatnya, menyisir rambut anak laki-laki itu dengan kelima jarinya, mencoba untuk merespons.

Hingga suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar, membuat keduanya terkejut, langsung menahan napas.

“Tuan Muda Qiu, Tuan Muda Mu, saatnya makan.”

Mendengar itu, Qiu Ci segera menghela napas lega. Hampir saja dia lupa, nyonya Chu dan ayahnya sudah pergi beberapa hari, mereka akan pulang akhir bulan nanti.

“Apakah kamu ingin melanjutkannya?”

Bisik Mu Yu di telinganya, membuat Qiu Ci tersadar kembali akan betapa gila hal yang barusan terjadi.

Babak ambiguitas baru dimulai. Karena kita sudah pasti berpacaran, wajar saja kalau berciuman lebih lama, kan? Ugh! Kalau tidak, apa gunanya berpacaran?

Seseorang yang baru saja merasakan manisnya cinta jelas lupa, bahwa dulu di hadapan Yu Shan, dia pernah terang-terangan berkata “Kenapa pasangan harus bergandengan tangan, berciuman itu menjijikkan.”

Mu Yu menganggap keheningan Qiu Ci sebagai persetujuan. Dengan wajah memerah, dia kembali mendekat.

Ci Ye-nya bagaikan permen, manis, dan tak akan pernah cukup meski dicicipi berulang kali.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

San

Leave a Reply