Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki


Karena sudah berada di daerah pantai, tentu saja mereka harus bermain di tepi laut sampai puas.

Tiba-tiba, seseorang menyadari bahwa ada dua orang yang hilang dari rombongan.

“Ke mana perginya Ci Ge dan Qiao Yi?” kata seseorang heran. “Baru sekejap tadi mereka masih di sini, kenapa tiba-tiba menghilang?”

Yang lain menggeleng. Mereka memang melihat keduanya tadi, lalu bertanya, “ Shan Jie, apa kamu melihat mereka?

Yu Shan menggeleng. Dia baru saja pergi membeli minuman, dan saat kembali, keduanya sudah tidak ada.

Mengingat peristiwa semalam, hatinya diliputi rasa tak nyaman. Dia memandang sekeliling, lalu sadar ada satu orang lagi yang tidak terlihat.

“Dimana… Mu Yu?”

Mereka saling memandang, kemudian menggeleng. Mu Yu memang jarang ikut berbicara dengan mereka. Kehadirannya begitu samar, sampai-sampai mereka nyaris lupa bahwa dia ikut.

Sementara itu, di sebuah tempat yang sepi.

Di antara suara ombak yang menghantam karang, terdengar suara anak laki-laki yang berusaha menahan amarah.

“Jadi kamu begitu saja percaya padanya? Dia—”

Ucapannya terputus oleh sebuah pukulan keras. Qiao Yi terhuyung, punggungnya terbentur karang. Belum sempat dia menarik napas, kerah bajunya sudah dipegang oleh Qiu Ci.

Wajah keduanya sudah dihiasi luka. Yang satu tanpa ekspresi, yang satu lagi tersenyum sinis.

“Ah-Ci, kamu tidak ingin tahu alasannya?”

Ucapan itu sudah menjadi pengakuan atas semua yang dia lakukan pada Yu Shan.

Memang, sejak Qiu Ci datang menemuinya, itu berarti dia sudah tidak mempercayainya lagi. Sebanyak apa pun dia membela diri, semuanya akan sia-sia.

Genggaman Qiu Ci di kerahnya sempat mengendur, lalu kembali menguat.

“Tidak.”

Seakan tak berniat memberi kesempatan pada Qiao Yi untuk berbicara, tangannya kembali terayun, namun Qiao Yi sudah muak dengan pertarungan yang berulang ini. Amarah bercampur rasa tak terima membuatnya mengerahkan seluruh tenaga, menekan Qiu Ci hingga terbaring di pasir.

Dari atas, Qiao Yi menatapnya dan mengucapkan kebenaran yang selama ini dia simpan.

“Karena aku menyukaimu. Alasanku melakukan semua itu… adalah karena aku menyukaimu.”

Dulu, Qiao Yi pernah membayangkan reaksi Qiu Ci jika dia mengaku. Apakah dia akan terkejut, jijik, ataukah merasa canggung…

Namun, dia tak pernah membayangkan Qiu Ci akan bereaksi tanpa ekspresi sedikit pun. Bahkan, dengan tegas menendangnya, bangkit, menepuk-nepuk pasir di tubuhnya, dan pergi tanpa sepatah kata.

Tidk ada reaksi?

“Yu Shan yang memberitahumu?” Qiao Yi bertanya dengan rahang terkatup rapat, nyaris menggertakkan giginya. Dalam hati, dia ingin melumat perempuan bernama Yu Shan itu.

Kenapa dia ingin menyampaikan perasaannya pada Qiu Ci?

Qiu Ci berbalik, menatap pemuda yang wajahnya kini dipenuhi amarah.

Dengan cahaya matahari di belakangnya, ekspresinya sulit terbaca. Suaranya dingin.

“Rasa suka seperti itu… menjijikkan.”

Kata menjijikkan itu membuat mata Qiao Yi langsung memerah.“Hanya karena aku laki-laki?”

Qiu Ci mengerutkan kening. Pada saat seperti ini, dia masih tidak mengerti kesalahannya?

“Tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin.” Baru kali ini Qiu Ci benar-benar menyadari, sepertinya dia tidak pernah mengenal Qiao Yi dengan baik. Dia tahu anak laki-laki itu tidak sempurna, memiliki banyak kekurangan, tapi dia tak pernah membayangkan bisa seburuk ini.

Pertarungan telah usai,etapi Qiu Ci tidak tahu apakah amarahnya telah mereda sepenuhnya atau belum. Dia tiba-tiba merasa sangat lelah.

“Qiao Yi, cukup sampai di sini.”

Tanpa menoleh, Qiu Ci berjalan pergi.

Qiao Yi menatap punggungnya yang menjauh, matanya yang merah semakin memanas. Tenaganya seolah tersedot keluar, membuatnya terbaring di pasir, menatap langit kosong.

Cukup sampai di sini.

Benar. Segalanya sudah sejauh ini, apalagi yang bisa dilakukan?

Air mata jatuh ke pasir dan menghilang tanpa jejak. Langit seperti tirai raksasa, memutar kembali semua kenangan mereka bertumbuh bersama.

Seandainya dulu dia sedikit lebih jujur, lebih berani, dan tidak terlalu sok tahu… mungkinkah dia akan mendapatkan apa yang diinginkannya?

Tapi tidak ada yang namanya “seandainya” di dunia ini. Begitu dia mengambil langkah pertama, dia tidak bisa kembali.

Di sisi lain.

Dalam perjalanan kembali, Qiu Ci bertemu seseorang yang tidak dia sangka.

Mu Yu.

Dari ekspresinya, jelas dia sudah berada di sana cukup lama. Karena posisinya yang tersembunyi, dia tidak terlihat oleh Qiu Ci dan Qiao Yi sebelumnya.

“Kamu… kenapa ada di sini?” Qiu Ci memalingkan wajah, berusaha menutupi bekas perkelahian di wajahnya.

Tidak sia-sia Qiao Yi belajar tinju. Qiu Ci yakin wajahnya kini penuh memar, mungkin bahkan bengkak.

Tentu saja, saat dipukul, dia juga tidak menahan diri.

Mengingat hasil karyanya itu, Qiu Ci ingin menyeringai. Namun gerakan itu justru menarik luka di wajahnya, membuatnya menahan napas karna nyeri.

Campuran beberapa ekspresi itu anehnya lucu, tapi Mu Yu tidak tertawa.

Bibirnya bergerak, namun tidak tahu harus berkata apa.

“Kenapa kamu tidak ikut bermain bersama mereka?” Qiu Ci memecah keheningan, tanpa menuduh Mu Yu mengikutinya.

Saat dia sedang memikirkan alasan untuk menjelaskan luka-lukanya nanti, tiba-tiba tangan kirinya bersentuhan dengan sesuatu yang dingin. Dia menoleh, ternyata Mu Yu sedang menggenggam tangannya.

Yang digenggam bukan pergelangan, melainkan telapak tangannya.

Refleks, Qiu Ci menarik tangannya. “Kamu… apa yang kamu lakukan?”

Mu Yu menekan bibir, lalu dengan ketegasan yang jarang dia tunjukkan, menggenggam tangan Qiu Ci lagi. “Membawamu mengobati luka.”

Melihat tangan yang terpaksa dipegangnya, Qiu Ci merasakan telapak tangannya terbakar.

Bagaimana kalau tangannya berkeringat? Pasti akan lengket dan terasa tidak nyaman.

Saat Qiu Ci hendak menarik tangannya lagi dengan sedikit paksaan, Mu Yu seolah bisa menebak pikirannya, lalu menggenggam lebih erat.

Merasa jelas perbedaan kekuatan genggaman itu, Qiu Ci mengusap hidungnya dengan tangan lainnya.

Lupakan saja, kalau nanti berkeringat, tahan saja dulu. Lagipula tidak akan ada lagi.

Setelah kembali untuk mengobati lukanya, Qiu Ci duduk di kursi di balkon, memiringkan kepalanya sedikit, dan mengompres wajahnya dengan es.

“Apakah aku sangat bodoh?”

“Tidak bodoh, dia saja yang terlalu jahat.”

Setelah itu, suasana kembali hening. Di telinga hanya terdengar suara dedaunan bergesekan tertiup angin, serta gemuruh ombak yang samar-samar.

“Qiu Ci, kamu—”

Ah-Ci!”

Pintu tiba-tiba terbuka. Yu Shan, yang berlari hingga terengah-engah, memegangi kusen pintu.

Karena ponsel Qiu Ci mati, dia terpaksa mencarinya ke berbagai tempat. Meski fisiknya cukup kuat, berlari ke sana ke mari di bawah terik matahari membuatnya kelelahan.

Begitu melihatnya, Qiu Ci cepat-cepat berbalik. Saat Yu Shan menatap lebih jelas, dia hanya melihat punggung Qiu Ci dan wajah Mu Yu yang tanpa ekspresi.

Dia sempat ragu, apakah dia baru saja mengganggu sesuatu?

Untuk menghindari kecurigaan, Qiu Ci berkata, “Tidak tahu cara mengetuk pintu?”

Yu Shan tampak canggung, mengira dia memang telah mengganggu, “Maaf, silakan lanjutkan… lanjutkan.”

Setelah menutup pintu, dia baru melangkah dua langkah ketika menyadari sesuatu yang salah. Tunggu… sepertinya dia melupakan satu detail penting.

Benar saja! Di meja ada kotak oabt.

Dia segera kembali dan membuka pintu dengan cepat. Kali ini Qiu Ci tidak sempat menghindar, langsung tertangkap basah. Dalam hati dia tahu, ini tidak baik.

Sejak masuk ruang gawat darurat sebelumnya, dia sudah berjanji pada Yu Shan untuk sebisa mungkin tidak lagi berkelahi.

Yu Shan mendekat, menatap luka di wajah Qiu Ci. “Sakit?”

“Sakit!” Qiu Ci langsung memamerkan ekspresi menderita demi mendapatkan simpati. “Kamu tahu bukan jika Qiao Yi menyukai tinju.”

Yu Shan bertanya, “Apa kamu menang?”

“Tentu saja. Apa kamu tidak melihat siapa aku.” Qiu Ci berkata penuh kebanggaan, seolah ekor tak terlihat di belakangnya sedang terangkat tinggi.

Namun kebanggaan itu tidak berlangsung lama. Menyadari ekspresi Yu Shan yang berubah, dia menaruh kantong es dan berkata dengan nada tidak senang, “Aku setidaknya harus melakukan sesuatu.”

Tidak mungkin dia hanya berdebat mulut dengan Qiao Yi, apalagi membayar orang lain untuk membereskan masalah. Menggunakan tangannya sendiri jelas lebih cepat, praktis, dan memuaskan.

Yu Shan memahami hal itu. Sejak kecil, Ah-Ci memang bukan orang yang sabar—jika diperlakukan buruk, dia pasti akan membalasnya sendiri.

“Ada urusan lain? Kalau tidak, cepatlah keluar.”

Qiu Ci mengusirnya dengan wajah tegas. Dia tidak mau mendengarkan omelan Yu Shan.

Begitu ruangan kembali sunyi, Qiu Ci kembali mengompres wajahnya dengan kantong es. Dia terbatuk kecil lalu bertanya, “Apa yang tadi ingin kamu katakan?”

Mu Yu menatapnya, jarinya saling terkait di bawah meja. Tatapannya dialihkan ke kejauhan sebelum dia pelan bertanya, “Mengapa kamu menyukai Yu Shan?”

Itu adalah pertama kalinya Qiu Ci mendapat pertanyaan seperti ini. Dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Mengapa menyukai seseorang? Bukankah menyukai seseorang tak perlu alasan?

Namun gadis itu sendiri justru bersikeras mengatakan bahwa dia tidak menyukainya.

“Dia cantik,” Qiu Ci mengarang alasan, meski Yu Shan memang cantik.

Alasan yang sederhana sekaligus dangkal. Mu Yu tahu dia sedang asal menjawab, dan tidak tahan untuk berkata, “Aku juga tidak jelek.”

Setelah berkata demikian, dia merasa malu. Siapa yang memuji dirinya sendiri seperti itu? Dia pun berpura-pura santai, menatap langit di kejauhan.

Qiu Ci memilih tak menanggapi.

Karna dia mengerti maksud tersiratnya,

‘Aku juga tampan, jadi… maukah kamu menyukaiku?’

Tanpa sadar, anak laki-laki itu menekan bibirnya, lalu menatap telapak tangan kirinya sambil mendengus pelan.

Sejak si bodoh kecil itu menyatakan perasaannya, keberaniannya semakin besar, meski masih pemalu, tapi juga semakin berani. Benar-benar aneh.

Tak tahu sudah berapa lama waktu berlalu, sinar matahari yang hangat dan hembusan angin membuat suasana begitu santai, hingga membuat kelopak mata terasa berat.

“Qiu Ci.”

Mendengar namanya dipanggil, Qiu Ci setengah memejamkan mata dan menjawab dari tenggorokannya, “Hm?”

“Aku menyukaimu.”

Ucapan itu datang begitu tiba-tiba, membuat Qiu Ci seketika terjaga.

Perkataan seperti ini pernah diucapkan si bodoh kecil tiga kali. Pertama kali, dia bisa memanfaatkan kesempatan untuk kabur dari ruang rawat. Kedua kalinya lewat telepon, sehingga dia bisa langsung memutus sambungan.

Namun kali ini, keduanya berhadapan langsung, membuatnya tidak punya kesempatan untuk menghindar.

Si bodoh kecil di mata Qiu Ci memiliki rona merah di telinganya, yang menyebar hingga ke pipinya, dan wajah serta lehernya memerah karena malu. Dia jelas sangat malu, tapi dia masih menatapnya tajam, menekankan dengan suara gemetar.

“Aku sangat menyukaimu”

Sinar matahari membuat wajah Qiu Ci terasa panas. Dia mengusap belakang lehernya, “Aku tahu, kamu tidak perlu terus-terusan mengatakannya.”

Ini pertama kalinya dia mendengar seseorang mengungkapkan rasa suka padanya berkali-kali.

Terdengar ketukan pintu samar. Ingin segera pergi dari situ, Qiu Ci berdiri dan membukakan pintu. Begitu melihat siapa yang datang, detak jantungnya yang kacau langsung tenang kembali.

Qiao Yi melirik ke dalam. Saat mendapati ruangan itu hanya memiliki satu ranjang, matanya menyipit.

Dia tahu Qiu Ci dan Mu Yu tidur sekamar. Awalnya sempat terpikir untuk meminta tukar kamar, tapi karena memprediksi Yu Shan akan menghalangi, dia tidak melakukannya.

Namun dia tak tahu kalau di kamar ini hanya ada satu ranjang double. Bukankah itu berarti…

Qiao Yi sangat paham apa yang Mu Yu pikirkan. Menyadari hubungannya dengan Qiu Ci telah berakhir, sementara Mu Yu masih bisa bertahan di sisinya dengan berpura-pura, membuat Qiao Yi merasa kesal.

“Ada urusan apa?” Qiu Ci berkerut kening.

“Aku akan pergi,” jawab Qiao Yi sambil menatapnya.

Qiu Ci tak merespons dan hendak menutup pintu, namun Qiao Yi menahan pintu dan berkata dengan tatapan tajam, “Sebelum pergi, aku ingin memberitahumu sesuatu.”

“Apa?” Nada Qiu Ci datar.

Baginya, Qiao Yi sudah penuh kebohongan. Ucapannya tak pantas dipercaya.

“Dia ingin memberitahumu bahwa aku menyukaimu.”

Suara itu datang dari belakang. Mu Yu, yang sejak tadi memperhatikan, sudah bisa menebak rencana Qiao Yi begitu melihat raut wajahnya.

Sayangnya, hasilnya pasti akan mengecewakan, Mu Yu telah lebih dulu mengungkapkan perasaannya pada Qiu Ci.

Tindakannya yang menghancurkan diri sendiri mengejutkan Qiao Yi, tapi tidak terlalu. Dia mencibir dalam hati.

Apakah orang ini berpikir jika dia sendiri yang mengatakannya, hasilnya akan berubah? Mereka semua sama saja. Qiu Ci memandang rendah dirinya, apalagi menyukainya. Tak satu pun dari mereka yang bisa menandingi Yu Shan.

Mu Yu yang menangkap nada ejekan itu menatap Qiu Ci dengan tenang dan tegas, “Aku berbeda dengannya. Aku tidak akan menyakiti orang yang kamu sukai demi kepentingan pribadi. Kapan pun, aku akan berada di sisimu. Selama itu yang kamu mau, aku akan membantumu.”

Dia tidak mau disamakan dengan Qiao Yi, apalagi melihatnya mencoba mempengaruhi Qiu Ci dengan kata-katanya.

Kata-kata ini membuat ekspresi Qiu Ci menjadi aneh, dan dia bertanya, “Jika aku memintamu untuk membantuku mengejar Yu Shan, apakah kamu bersedia?”

Tatapan Mu Yu sempat goyah, namun dia akhirnya mengangguk.

Qiao Yi mendengarnya dan tersenyum miring. Namun sebelum dia sempat menyindir balik, Qiu Ci berkata, “Kalau kamu ingin pergi, cepat pergi,” lalu menutup pintu dengan keras.

Ini benar-benar berbeda dari skenario yang dibayangkannya.

Dia tampak bingung dan heran, dan butuh waktu lama sebelum dia tiba-tiba mengerti sesuatu.

Dalam ketidakpercayaan dan keheranan, dia merasa benar-benar kalah pada saat ini.

Malam itu, di tepi pantai.

“Apa menurutmu Mu Yu punya masalah dengan otaknya? Dia menyetujui permintaan seperti itu? Beginikah seharusnya sikapmu saat menyukai seseorang?”

Yu Shan menyandarkan pipi di tangannya, mendengarkan anak laki-laki itu mengeluh penuh amarah tentang kejadian siang tadi, sesekali hanya menggumam pendek.

Dalam hati dia merasa geli, kemarin Ah-Ci masih malu-malu menyebut ‘ada seorang anak laki-laki’, sekarang langsung terang-terangan mengatakan bahwa anak laki-laki itu adalah Mu Yu.

Qiu Ci yang sedang kesal tidak menyadari detail itu. Melihat Yu Shan tersenyum, dia berkata dengan nada tidak senang, “Kenapa kamu tersenyum?”

Tidakkah kamu lihat bahwa dia sangat marah?

Yu Shan tetap tersenyum dan balik bertanya, “Kalau kamu tidak menyukainya, kenapa harus begitu peduli?”


Penulis memiliki sesuatu untuk dikatakan:

Jika tidak ada hal tak terduga yang terjadi, mereka akan jatuh cinta dalam dua bab~


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

San

Leave a Reply