Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki


Melalui pengamatan, Yu Shan mendapat gambaran umum tentang apa yang sedang terjadi dan tidak bisa berhenti tertawa.

Ah-Ci, apakah kamu tidak tahu bahwa kamu sangat tidak pandai berbohong?”

Tawa merdu gadis itu membuat Qiu Ci merasa kesal sekaligus malu, dia pun membalas dengan nada kesal, “Dalam hal ini, kamu tidak berhak mengomentariku.”

Yu Shan menahan tawanya, lalu kembali ke topik, “Baiklah, akan kuanggap kamu tidak menyukai anak laki-laki itu. Tapi, setidaknya kamu peduli, dan tidak keberatan dia menyukaimu, bukan?”

Qiu Ci hanya mendengus dengan wajah datar, sikapnya seolah berkata: katakanlah sesukamu, semua hanyalah omong kosong, aku tidak akan mempercayai satu kata pun.

Bagaimana mungkin dia tidak tahu siapa yang dia sukai? Dia sama sekali tidak akan meragukan perasaannya hanya karena beberapa kalimat dari Yu Shan.

Mengetahui sifat Qiu Ci dengan baik, Yu Shan terkekeh dalam hati, “Banyak orang telah menyatakan perasaannya padamu, dan apa kamu begitu peduli saat itu?”

“Karena sebelumnya semuanya adalah perempuan. Kali ini laki-laki, jadi aku peduli.” Qiu Ci mengoreksi ucapannya, lalu memberi contoh, “Kalau kamu yang mendapat pengakuan cinta dari Lu Ning atau Qi Meng, bisa jadi reaksimu lebih besar dariku.”

Yu Shan tidak setuju dengan contoh itu. Setelah terdiam sejenak, dia bertanya, “Kalau yang menyatakan perasaan padamu adalah Qiao Yi, apakah reaksimu akan sama seperti sekarang?”

Qiu Ci menjawab tanpa berpikir, “Tidak mungkin. Kamu pun tahu, sejak SD saja, entah sudah berapa kali dia berganti pacar.”

Meskipun mereka tumbuh besar bersama, Qiu Ci tak pernah menyetujui cara si sombong Qiao dalam menjalin hubungan, yaitu suka berganti pacar sesuka hati. Hanya saja, sejak dia kembali ke Tiongkok kali ini, tidak ada gadis yang dekat dengannya.

Yu Shan menatapnya lekat-lekat. Karena gugup, napasnya menjadi perlahan, suaranya pun merendah, “Tapi kalau dia benar-benar menyukaimu, bagaimana?”

Kesempatan itu langka, Yu Shan mulai mengaitkan pembicaraan pada Qiao Yi. Menggenggam jarinya, ekspresinya serius, “Kalau dia sebenarnya sama sekali berbeda dari yang kamu lihat selama ini, bagaimana?”

Perubahan Yu Shan terlalu jelas, membuat Qiu Ci tanpa sadar menghapus ekspresi santainya. Keningnya berkerut, “Apa maksudmu?”

Yu Shan melepaskan genggaman tangannya, lalu meremas ujung rok. Setelah menarik napas panjang dua kali, dia berkata, “Kejadian terakhir itu… ada hubungannya dengan Qiao Yi.”

“Apakah ada bukti?” Qiu Ci tertegun sejenak dan tidak terburu-buru memilih siapa yang akan dipercaya.

Karna, dia merasa Qiao Yi tidak punya alasan untuk melakukan hal serendah itu. Mungkin saja Yu Shan hanya salah paham.

Sudah menduga Qiu Ci tidak akan percaya begitu saja, Yu Shan tersenyum pahit, “Tidak ada bukti. Kalau saja ada, aku tidak akan sampai dipermainkan olehnya berkali-kali. Selama ini aku tidak berani mengatakannya karena takut kamu tidak percaya padaku.”

Qiao Yi bahkan mampu memanfaatkan ibu tirinya, serta sepasang kakak beradik kembar itu untuk terus membuat masalah. Dan pelaku utama tidak perlu turun tangan langsung.

Yu Shan sering merasakan perasaan dirugikan dan disalahpahami, serta kesulitan menjelaskan dirinya sendiri, setelah ayahnya menikah lagi.

Dia takut ditinggalkan lagi, terutama oleh Qiu Ci, dan takut dirinya tidak sepenting Qiao Yi, jadi dia tidak berani mengatakan yang sebenarnya kepada Qiu Ci tanpa bukti.

Yu Shan memahami Qiu Ci, begitu pula sebaliknya. Dari sorot mata dan nada bicaranya, Qiu Ci sudah mempercayainya, dan hatinya pun ikut terasa berat.

Dia menutup matanya dan berkata, “Jika kamu yang mengatakannya, aku akan mempercayainya.”

Kalimat singkat itu justru membawa bobot yang sangat besar, membuat sudut mata gadis itu terasa panas.

Waktu di “lubang pohon” kali ini berlangsung lebih lama dari biasanya. Begitu lama, hingga ketika mereka kembali, semua rumah di sekitar sudah gelap kecuali lampu jalan yang masih menyala.

Ah-Ci.” Sesampainya di halaman, Yu Shan memanggil pemuda yang berjalan di depannya tanpa sepatah kata pun, “Maaf.”

Keegoisannya lah yang menyebabkan dia menunda masalah sampai sekarang, menyebabkan Qiu Ci menyia-nyiakan persahabatannya.

Yu Shan selalu merasa bahwa ini adalah hal terkeji yang pernah dilakukannya.

Begitu ucapannya jatuh, ia merasakan sentuhan di kepalanya, saat ditepuk dia mendengar “Kepalamu sekecil ini, jangan memasukan terlalu banyak urusan di dalamnya. Kembalilah, dan tidurlah.”

Baru setelah melihat Yu Shan memasuki rumah, Qiu Ci berbalik. Dia tidak menuju kamarnya, melainkan mempercepat langkah ke arah kamar Qiao Yi.

Saat mendengar perkataan Yu Shan tadi, berkali-kali dia hampir tidak mampu menahan diri. Bahkan saat ini, dia ingin masuk dan menarik Qiao Yi keluar, lalu memukulinya habis-habisan.

Tepat saat tangannya hendak mengetuk pintu, Qiu Ci menariknya kembali dan berbalik untuk pergi.

Semua orang sudah tidur, mari kita bicarakan besok.

Dengan kepala yang terasa penuh, Qiu Ci membuka pintu, dan mendapati lampu kamar masih menyala.

Tadi di lantai bawah, karena perhatiannya sedang tertuju pada hal lain, dia tidak memperhatikan keadaan kamar ini.

Saat ini, Mu Yu yang seharusnya sudah tidur ternyata tidak ada di ranjang. Dia duduk di kursi balkon, belum menyadari bahwa seseorang telah masuk.

Barulah saat suara ritsleting koper terdengar memecah keheningan, Mu Yu sadar Qiu Ci sudah pulang.

Anak laki-laki itu membelakanginya dan sedang mencari sesuatu di dalam koper.

Setelah keluar daei kamar mandi, dia baru menyadari Qiu Ci keluar. Dari balkon, dia mendengar orang-orang di bawah berkata bahwa Qiu Ci dan Yu Shan diam-diam pergi bersama.

Pergi berdua larut malam… apa yang akan mereka lakukan?

Dia masih berdiri di balkon, tenggelam dalam pikirannya, ketika lampu di ruangan lain padam. Dia tak tahu berapa lama waktu telah berlalu sebelum akhirnya dia melihat orang yang dia tunggu.

Dia berdiri di balkon, diam-diam memperhatikan kedua orang itu. Dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan di halaman, yang dia lihat hanyalah Qiu Ci mengusap kepala Yu Shan.

Cahaya lampu pada saat itu bagaikan kabut, menambah kesan samar namun hangat, seperti sedang menyaksikan film romantis yang manis, sebuah adegan yang tak seorang pun bisa menyusup ke dalamnya.

Mengingat kembali pemandangan itu, Mu Yu menunduk.

Tiba-tiba, meja bundar kayu di depannya berbunyi pelan. Qiu Ci sudah duduk di hadapannya, meletakkan setumpuk lembar ujian di atas meja, lengkap dengan sebuah pengatur waktu elektronik kecil di sampingnya.

Qiu Ci membuka tutup pena dan hendak menekan tombol pengatur waktu untuk memulai hitung mundur ketika dia menyadari ada seseorang yang duduk di hadapannya.

Dia mengira akan merasa kesal dalam waktu lama, tapi suasana hatinya berubah sedikit demi sedikit karena dia mulai peduli dengan perubahan perasaan Mu Yu terhadapnya.

Sebelum pikirannya sempat sepenuhnya memproses hal itu, tanpa berpikir panjang dia mengeluarkan sebuah pena dari kotak pensil, lalu mengambil selembar lembar ujian dan menyerahkannya kepada Mu Yu.

“Mau bersama-sama?”

Jika tidak tahu bagaimana berinteraksi, maka belajar saja bersama. Aku mencintai belajar, belajar membuatku bahagia, belajar membuat pikiranku tenang. Untuk apa membicarakan cinta? Belajar adalah hal yang menyenangkan!

Langkah tak terduga ini membuat Mu Yu tidak bisa beraksi sesaat, dia menerima lembar ujian dan pena itu dengan kebingungan.

“Aku akan menyalakan pengatur waktu,” kata Qiu Ci dengan serius.

Mu Yu mengangguk patuh, membuka tutup pena, lalu menuliskan namanya di lembar ujian.

Semuanya adalah soal matematika, dengan waktu pengerjaan dua jam.

Di balkon, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah gesekan ujung pena di atas kertas.

Setengah waktu berlalu, angin berembus dan membuat kertas coretan di atas meja terbang, tepat menutupi wajah Qiu Ci.

Qiu Ci awalnya ingin melihat ke kejauhan untuk menenangkan matanya, tapi dia tidak bereaksi bahkan untuk sejenak.

Kertas itu milik Mu Yu. Setelah menyadarinya, dia buru-buru mengambilnya.

Tanpa penghalang kertas itu, tatapan Mu Yu bertemu langsung dengan mata Qiu Ci yang terlihat begitu jelas. Mu Yu tidak segera kembali duduk, tetap condong ke depan untuk menatapnya.

“Jangan mengintip.”

Sebuah jari tiba-tiba menyentuh dahinya. Dengan wajah tanpa ekspresi, Qiu Ci menutupi lembar ujiannya dengan tangan lainnya.

Mu Yu pun duduk kembali, berbisik, “Soal kita berbeda, bagaimana bisa mengintip?”

Yang satu adalah seri ujian asli ketiga, yang satu lagi seri kelima.

Qiu Ci kembali menulis. Ujung penanya sedikit bergetar, dan tanpa mengangkat kepala, dia berkata, “Diam, jangan ganggu siswa lain.”

Keheningan menyelimuti sisi lain. Setelah menulis kata “solusi” di kertas ujian, Qiu Ci ragu untuk menuliskan proses penyelesaiannya. Dia memutar pena di antara ibu jari dan jari telunjuknya, lalu tak kuasa menahan diri untuk mengangkat kepala.

“Tulis dengan baik, jangan terus menatapku.”

Mu Yu dengan patuh mengambil penanya kali ini. Dia menundukkan kepalanya, lalu tiba-tiba mendongak dan berkata, “Ah-Ci terlihat sangat tampan saat sedang serius.”

Qiu Ci yang tidak siap mendengar itu langsung kehilangan konsentrasi. Sambil mencengkeram pena, dia memperingatkan dengan nada galak, “Jangan memujiku tampan, jangan menatapku terus, jangan memanfaatkan kesempatan untuk mendekatiku.”

Akan lebih efektif lagi kalau dia tidak mengatakannya dengan wajah merah.

Sadar ucapannya tidak memberikan efek, Qiu Ci kembali menunduk mengerjakan soal. Beberapa menit kemudian, suaranya terdengar samar, “Aku tidak mungkin menyukai laki-laki.”

Jadi, jangan menyukaiku lagi.

Mungkin kalimat ini berhasil, Mu Yu tidak melakukan hal lain, tapi Qiu Ci sudah kehilangan minat mengerjakan soal-soal itu. Dua jam berlalu, dan dia masih punya dua soal besar yang belum diselesaikan.

Karena Mu Yu terlalu tenang, Qiu Ci menjadi penasaran, tapi dia menahan diri agar tidak menoleh.

Jangan-jangan dia sedang menangis? Tidak mungkin, Si bodoh kecil itu tidak selemah itu… ’kan?

Qiu Ci mulai memeriksa jawaban dari soal pilihan ganda, namun ketika sampai pada bagian isian, pikirannya benar-benar terganggu dan dia tidak bisa berkonsentrasi pada analisis jawaban apa pun.

Setelah menyiapkan diri, dia tiba-tiba mengangkat kepala.

Di hadapannya, Mu Yu menyandarkan wajah di tangannya, kepalanya mengangguk-angguk seperti ayam mematuk padi.

Melihat wajah yang sedang mengantuk itu, Qiu Ci terdiam lama.

Sepertinya dia terlalu banyak berpikir. Katanya ia menyukainya, tapi nyatanya tidak peduli sama sekali.

Pikiran itu baru saja muncul ketika Qiu Ci dengan cepat menghentikannya. Mengapa dia malah bersikap seperti ini?!

Meletakkan pena, dia mengetuk meja, “Tidurlah.”

Mendengar suara itu, Mu Yu membuka kelopak mata yang berat, memandangnya dengan kebingungan. Qiu Ci kembali mengingatkan, “Kalau ingin tidur, tidurlah di ranjang.”

Kali ini Mu Yu mengerti. Dia perlahan bangkit, mengangkat selimut, naik ke tempat tidur, dan kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.

Dia berbaring telentang, kedua tangan di perut, tidur dengan posisi sangat rapi.

Qiu Ci menatapnya lama, bibirnya hampir terangkat, namun segera dia tekan kembali.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara menguap yang bercampur dengan hembusan angin malam. Qiu Ci merapikan lembar ujian di meja, memadamkan lampu, lalu langsung merebahkan diri di kasur.

Terlalu banyak hal yang dia pikirkan hari ini. Tubuhnya terasa lelah, begitu menyentuh bantal, dia langsung mengantuk berat.

Mengingat anak laki-laki yang menyukainya berbaring di sampingnya, dia sempat bimbang.

Tidak, aku harus bangun dan menggunakan bantal untuk menandai batasnya, tapi bagaimana kalau aku tidak mau bergerak? Lupakan saja, berbagi tempat tidur saja tidak akan berpengaruh. Aku akan mengaturnya besok malam.

Dalam kantuk, dia samar-samar mencium aroma segar seperti jeruk nipis, aroma yang terasa menenangkan.

Keesokan paginya, cahaya menembus tirai tipis, memenuhi kamar dengan terang.

Orang di atas ranjang itu menggerakkan kelopak matanya, lalu tanpa sadar menundukkan wajahnya pada bantal.

Bantal itu wangi, hanya saja agak menusuk kulit wajah dan tidak empuk.

Saat kesadarannya perlahan pulih, Qiu Ci membuka mata dengan bingung. Yang pertama dia lihat bukanlah bantal empuk, melainkan bagian belakang kepala seseorang. Alasan wajahnya terasa tertusuk adalah karena helaian rambut yang menyentuh kulitnya.

Anak lelaki itu masih tertidur lelap dengan kepala bersandar pada lengannya, tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Sementara itu, Qiu Ci menyadari posisinya sendiri, dan otaknya seketika membekut.

Di sisi lain, Mu Yu membalikkan badan, kali ini tepat menghadap Qiu Ci, masih terlelap dengan nyenyak.

Memastikan bahwa anak laki-laki itu tidak terbangun, Qiu Ci perlahan membuka mata yang tadi refleks tertutup, lalu memperhatikan wajah yang begitu dekat dengannya itu.

Dari sudut ini, si bodoh kecil itu terlihat sangat patuh.

Seluruh tubuhnya memancarkan aura penurut yang berkata, “Kemarilah dan tindas aku, aku mudah ditindas.”

Perasaan tidur di ranjang yang sama kali ini benar-benar berbeda dengan perasaan tidur di ranjang yang sama dalam keadaan mabuk sebelumnya.

Aroma tubuh orang ini anehnya begitu enak, saat tidur mulutnya sedikit terbuka menghembuskan napas, terlalu manis.

——”Pernahkah kamu tersipu atau jantungmu berdebar kencang? Pernahkan kamu ingin mencium orang lain? Atau bahkan sekadar memeluk orang lain!”

Pertanyaan Yu Shan sekilas melintas di kepalanya, membuat Qiu Ci langsung memundurkan kepala, menarik jarak aman dari Mu Yu.

Karena tidak memperhatikan gerakannya, Mu Yu mulai menunjukkan tanda-tanda bangun. Qiu Ci tak sempat berpikir, buru-buru memejamkan mata, berpura-pura tidur.

Beberapa saat kemudian, dia merasa lengannya menjadi ringan, tapi tidak juga terdengar suara orang turun dari tempat tidur.

Saat Qiu Ci penasaran dan ingin mengintip, sebuah suara akhirnya terdengar di ruangan itu.

“Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar ingin menciumnya.”

Qiu Ci: !!!

Belum sempat memutuskan apakah dia harus membuka mata, dia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Dari sentuhan itu dia tahu, itu hanya jari.

Jari itu pelan-pelan menyentuh bibirnya sebentar.

Qiu Ci langsung bertekat, saat ini dia sama sekali tidak boleh membuka mata!

Berpura-pura tidur sudah jadi keahliannya sejak kecil. Walaupun didalam hatinya merasa tegang setengah mati, wajahnya tetap terlihat seperti sedang tertidur lelap.

Merasa aksi diam-diamnya berhasil, Mu Yu menunduk menatap jari yang baru saja menyentuh bibir Qiu Ci, lalu tersenyum tipis, sebelum hati-hati menyentuhkannya ke bibirnya sendiri.

Hanya ciuman tak langsung yang dicuri itu saja sudah cukup membuat pipinya panas, jantungnya berdetak tak beraturan.

Setelah “kejahatan” itu berhasil dilakukan, dia menatap Qiu Ci yang masih memejamkan mata, menutupi wajahnya yang panas dengan punggung tangan, dan kembali bimbang: “Aku benar-benar ingin menciummya.”

Teringat perkataan anak laki-laki itu, “Aku tidak mungkin menyukai anak laki-laki”, dia berusaha keras untuk menepis gagasan yang berbahaya dan tercela ini.

Baru setelah memastikan Mu Yu sudah pergi ke kamar mandi, Qiu Ci membuka mata. Dia menekan bibirnya sebentar, lalu menggosoknya dengan punggung tangan. Di wajahnya sama sekali tidak ada rasa jijik atau penolakan.

Dia mendengus dalam hati. Berciuman itu hal yang sangat tidak higienis, apa yang perlu dipikirkan? Dan dia benar-benar mengatakannya dua kali dengan nada tertekan…

Kamu hanya tahu cara menginginkannya, betapa vulgarnya!


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

San

Leave a Reply