Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki


Hari sudah larut malam dan pesta telah usai.

Qiao Yi yang terbaring di sofa perlahan membuka matanya ketika Qiu Ci datang memanggilnya.

Dia telah minum cukup banyak, bahkan tampak tidak sanggup berjalan dengan stabil, hingga sepanjang jalan harus ditopang oleh Qiu Ci.

Sebagian besar berat badannya bersandar pada tubuh Qiu Ci. Dengan suara lesu, dia bergumam, “Ah-Ci, aku terlalu mabuk untuk menyetir, jadi aku akan tidur denganmu malam ini.”

Yu shan dan Mu Yu yang berjalan di depan mereka, secara bersamaan menghentikan langkah.

Qiu Ci tidak berpikir macam-macam, baru saja hendak menyetujui.

Tapi, Yu Shan tiba-tiba berbalik, tersenyum pada Qiao Yi. “Tidak apa-apa, kita searah. Aku akan minta sopir mengantarmu pulang terlebih dahulu.”

Wajah Qiao Yi bersandar pada bahu Qiu Ci, jadi Qiu Ci tidak melihat tatapan mata Qiao Yi saat menoleh ke arah Yu Shan—gelap dan penuh makna yang tersembunyi.

Melihat ini, Yu Shan mengangkat bibirnya dan berkata, “Aku akan meminta Paman Wang untuk masuk dan membantumu ke mobil.”

Qiao Yi menundukkan kepala tanpa sepatah kata pun, tampak seperti sudah benar-benar kehilangan kesadaran. Qiu Ci pun terpaksa memeluknya erat agar temannya tidak kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Sudahlah, biarkan dia tidur bersamaku malam ini.”

Mendengar kalimat itu, bibir Mu Yu menegang menjadi garis lurus.

“Sudah larut juga, aku tidak perlu pulang. Begini saja, kalian para anak laki-laki tidur di satu kamar, dan aku tidur di kamar Mu Yu.”

Yu Shan yakin Qiu Ci tidak akan menolak, meskipun niatnya bukan sekadar itu.

Qiu Ci mengangguk, tapi berkata, “Kamu tidur di kamarku saja. Kami akan tidur di kamar Mu Yu.”

Kalimat itu terdengar biasa saja, tapi membuat Yu Shan tidak bisa tidak memikirkan lebih jauh.

Apakah Ah-Ci tidak ingin dia tidur di ranjang Mu Yu?

“Ada kamar tamu,” ucap Mu Yu tiba-tiba, mengingatkan, setelah Qiu Ci memutuskan hal tersebut.

Yu Shan menoleh lagi ke arah seseorang yang masih bersandar dalam pelukan Qiu Ci. Dia menaikkan alis dan berkata, “Aku sampai lupa kalau ada kamar tamu. Ah-Ci, mari kita bantu Qiao Yi ke kamar tamu.”

Gadis itu tersenyum manis, sambil diam-diam menghitung dalam hati.

3, 2, 1—

Dengan suara pelan, Qiao Yi mengangkat kepalanya dalam keadaan mabuk, pertama-tama melihat lingkungan sekitarnya, dan tampaknya mulai sadar kembali.

“Sekarang jam berapa?”

“Sudah lewat tengah malam,” kata Yu Shan mengingatkan.

Qiao Yi menjawab dengan samar dan menepuk bahu Qiu Ci, “Aku tiba-tiba teringat ada yang harus kulakukan di rumah besok, jadi aku tidak akan menginap.”

Dia melirik gadis di hadapannya, sorot matanya menggelap. “Aku menumpang saja dengan mobil sang putri kecil.”

“Biar aku bantu?” Yu Shan berpura-pura membantunya.

Qiao Yi menghindar. “Tidak perlu, aku bisa jalan sendiri.”

Qiu Ci yang khawatir tetap membantu mengantar Qiao Yi masuk mobil sebelum kembali ke rumah.

Begitu mobil menjauh dari kediaman keluarga Qiu, pemuda yang tadinya tampak tertidur itu membuka matanya perlahan. Tatapannya sunyi dan gelap, tanpa sedikit pun jejak mabuk. Dia berkata dengan suara dingin, “Berhenti.”

Setelah Yu Shan memberi instruksi, sopir pun perlahan menghentikan mobil di pinggir jalan.

Begitu turun, Qiao Yi tidak langsung pergi, melainkan menatap Yu Shan yang masih duduk di dalam dengan pandangan tajam. Suaranya dingin dan mengancam, “Yu Shan, turun dari mobil sekarang.”

Begitu kalimat itu terucap, dia mengangkat kakinya dan menendang mobil mewah itu dengan keras, menumpahkan seluruh amarahnya hari ini dalam satu gerakan.

Sopir mengerutkan alis, menoleh ke belakang, bertanya pada Yu Shan, “Nona, apakah perlu saya…?”

Yu Shan menggeleng. “Tidak perlu.”

Dengan tenang, dia pun turun dari mobil. Qiao Yi langsung menarik pergelangan tangannya dan menyeretnya ke bawah lampu jalan, mendorong bahunya dengan satu tangan hingga punggungnya membentur tiang lampu. Lalu sebuah tangan mencengkeram rahangnya dengan kuat.

Jari-jarinya menekan terlalu keras, menyebabkan Yu Shan mengerutkan kening.

Qiao Yi tidak menunjukkan belas kasih sedikit pun. Dengan suara rendah yang menahan geram, dia berbisik tajam, “Aku benar-benar ingin membunuhmu.”

Yu Shan mencibir. “Kalau kamu punya nyali, lakukan saja.”

Qiao Yi menggigit gigi belakangnya dengan keras, berharap ia dapat segera membunuh orang di depannya.

Tapi waktu dan tempatnya tidak tepat. Hal itu hanya akan meninggalkan bukti yang bisa menjatuhkannya di hadapan Qiu Ci. Dia tidak sebodoh itu.

Yu Shan tahu dia tidak memiliki keberanian itu. Dengan jijik, dia menepis tangan anak laki-laki itu. “Kalau tidak punya nyali, hentikan sandiwaramu. Kalau kamu benar-benar menyukai Ah-Ci, katakan terus terang. Menyalahgunakan kepercayaannya dan memanfaatkannya, bukankah itu menjijikkan?”

“Apa hakmu bicara begitu padaku?” Mata Qiao Yi memerah, tampak sangat menyeramkan. “Kalau aku tahu kamu akan sebegitu menyebalkannya, dulu aku tidak akan menyelamatkanmu. Seharusnya kubiarkan kamu tenggelam.”

Yu Shan tertawa dingin. “Menyelamatkanku? Membiarkanku tenggelam? Sebenarnya kamu lah yang menyuruh orang lain mendorongku ke dalam air, bukan? Kalau bukan karena Ah-Ci mencariku, kamu pasti tidak akan turun untuk menolongku.”

Qiao Yi melepaskan cengkeramannya dan mendekat ke telinga gadis itu, tertawa sinis. “Kalau begitu, lalu apa yang bisa kamu lakukan terhadapku?”

Sikap yang tanpa rasa takut dan rasa bersalah itu membuat siapa pun ingin menghajarnya.

Selama Yu Shan belum memiliki bukti, Qiao Yi akan selalu tampak tak bersalah.

Itulah hal yang paling mengerikan dari dirinya, Qiao Yi sangat tahu bagaimana melakukan kejahatan tanpa meninggalkan jejak. Dia pandai membungkus dirinya sebagai sosok paling tidak bersalah.

Sejak kecil dia sudah seperti itu. Dulu saat Yu Shan masih naif, dia pernah tertipu oleh wajah manis Qiao Yi. Namun berkali-kali dijebak dan tidak bisa membela diri, akhirnya membuatnya sadar bahwa Qiao Yi adalah dalang di balik semuanya.

Yang paling membuat Yu Shan membenci Qiao Yi, bukan hanya karena segala siasat jahatnya, melainkan karena dialah yang perlahan-lahan menyeret Qiu Ci ke jalan yang salah.

Pertama kali Qiu Ci minum alkohol, merokok, berkelahi, membolos sekolah, semuanya karena Qiao Yi.

Yu Shan nyaris kehilangan Qiu Ci waktu itu.

Pelaku utama di balik semua ini adalah Qiao Yi! Dia sendiri yang menyebabkan semua masalah ini, tapi dia juga melibatkan Qiu Ci.

Tak lama setelah kejadian itu, keluarga Qiao Yi mengirimnya ke luar negeri. Sebelum pergi, dia masih sempat bersandiwara di depan Qiu Ci seolah-olah dirinya tidak bersalah.

Yu Shan telah menghibur dirinya sendiri bahwa setidaknya Qiao Yi, yang diasingkan tidak akan muncul di negara ini untuk waktu yang lama. Namun, dia tidak menyangka bahwa orang ini tidak hanya akan kembali secepat itu, tapi juga akan kembali tanpa malu-malu untuk mendekati Qiu Ci lagi.

Begitu mengingat kembali momen ketika Qiu Ci dibawa masuk ke ruang gawat darurat, mata Yushan memerah. Dia tidak dapat menahan emosi dan bertanya dengan suara gemetar, “Bagaimana mungkin bisa punya keberanian untuk muncul di depan Ah-Ci lagi?”

Jika saja dia bisa menemukan satu saja bukti kuat dari semua kejadian itu, Yu Shan pasti akan memberitahu Qiu Ci, agar dia dapat melihat siapa sebenarnya Qiao Yi.

Sayangnya, dia tidak menemukan satu pun.

“Orang sepertimu tidak pantas mendapatkan rasa suka dari Ah-Ci.”

Mungkin karena hari ini terlalu banyak menahan emosi, amarah dalam diri Qiao Yi menggelegak, hampir membuatnya kehilangan akal sehat.

“Aku tidak pantas? Lalu kamu pantas? Bukankah kamu cuma seekor kutu buku yang terlindungi oleh rasa simpati Qiu Ci? Dibandingkan denganmu, setidaknya aku benar-benar menyukainya—”

Sudah menduga apa yang hendak diucapkan, Yu Shan langsung memotong, “Berhentilah bersikap menjijikkan. Kamu dapat dari mana keberanian untuk berbicara soal menyukainya? Kalau yang kamu sebut cinta adalah mengorbankan orang yang kamu suka demi keuntunganmu sendiri, maka Ah-Ci benar-benar sial tujuh turunan karena dicintai olehmu.”

“Itu hanya kecelakaan.” Qiao Yi memejamkan mata, mengepalkan tangan, berusaha meredam gejolak emosinya.

“Itu kecelakaan atau bukan, hanya kamu yang tahu.” Yu Shan tidak ingin membuang-buang kata lagi dengannya. Dia berbalik dan pergi.

Mobil melaju kencang dalam gelapnya malam. Qiao Yi, yang berdiri di bawah cahaya lampu jalan, mengayunkan tinjunya ke arah tiang lampu dengan urat-urat mencuat.

“Dasar jalang!”

Gelombang ketegangan menyelimuti malam itu, dan Qiu Ci sama sekali tidak mengetahui apa-apa.

Keesokan harinya, saat dia turun ke bawah, aroma masakan memenuhi seluruh ruangan.

Pemuda itu terlihat membawa piring-piring panas dan meletakkannya di atas meja. Ketika melihat Qiu Ci datang, dia melihat barang-barang di atas meja dengan gugup.

Ini seharusnya tidak lebih buruk dari apa yang dilakukan orang itu…bukan?

”Di mana Bibi Sun?” tanya Qiu Ci, heran kenapa Mu Yu yang memasak.

Mu Yu menjelaskan, “Aku tiba-tiba ingin memasak.”

Qiu Ci mengangguk. Ibunya, Nyonya Chu, juga suka memasak kapan pun dia punya waktu.

Setelah duduk, Qiu Ci kembali memandangi hidangan di atas meja. Anehnya, semua adalah makanan yang biasa dia sukai.

Dia mencicipi sedikit. Rasanya… lumayan.

“Bagaimana rasanya?” Mu Yu tak dapat menahan diri untuk bertanya.

”Lumayan.”

Mu Yu mengerjap dan menatap orang di depannya. Qiu Ci melihatnya duduk di sana tanpa melakukan apa pun dan bertanya dengan bingung, “Kenapa kamu tidak makan?”

Dia diam-diam menunduk, mengambil sumpit dan mangkuk, namun dalam hati merasa kecewa.

Hanya lumayan? Hanya itu? Tidak bisa memberi sedikit pujian, ya?

Qiu Ci sama sekali tidak tahu bahwa Mu Yu tengah dilanda perasaan asam dan sesak. Setelah mengisi perut, dia tiba-tiba teringat pesan dari ibunya sebelum turun ke bawah tadi.

”Ayo ke bioskop sore ini.”

Undangan yang tiba-tiba itu membuat jantung Mu Yu berdebar kencang. Dia menahan emosinya dan bertanya ragu-ragu, “Hanya kita berdua?”

”Tidak, ayah dan ibu juga ikut.”

Film yang akan mereka tonton berjudul “Summer in the Alley“, yang bercerita tentang hubungan keluarga dan masalah remaja. Setelah ditayangkan, film ini cukup ramai dibicarakan.

Qiu Wei sempat mendengar para karyawan kantor membicarakan film itu. Karena temanya tentang keluarga, dia pun merasa cocok untuk ditonton bersama keluarga. Saat sampai di bioskop, ternyata banyak pasangan ayah-anak dan ibu-anak yang juga datang, membuatnya semakin yakin bahwa keputusannya tepat.

Qiu Ci sendiri lebih menyukai film dengan efek ledakan dan aksi spektakuler. Film bertema emosional seperti ini tidak menarik baginya. Dia duduk dengan malas sambil melamun.

Namun kualitas film tersebut ternyata sangat baik. Gaya pengambilan gambar dan nuansa adegannya begitu nyata, sampai perlahan-lahan menarik perhatian Qiu Ci kembali ke layar lebar.

Semakin lama menonton, dia semakin merasa ada yang aneh, hingga tanpa sadar mengerutkan kening.

Qiu Wei, yang duduk di sebelah kiri Qiu Ci, juga menyadari ada yang aneh pada alur cerita, dan raut wajahnya berangsur-angsur menjadi serius. Setelah Chu Qing berkonsentrasi berpikir, ia tiba-tiba menyadari sesuatu.

Hingga akhirnya, di layar besar, dua remaja lelaki yang sedang berada di masa puber, di tengah suara jangkrik dan kicauan burung musim panas, perlahan-lahan saling mendekat di bawah bayangan pohon yang rimbun. Dahi mereka bersentuhan dengan canggung, pandangan mereka tersipu malu. Kemudian mereka saling menyentuh bibir, cepat dan ringan seperti sayap capung.

Angin musim panas tertiup menerpa rambut kedua anak laki-laki itu, dan bayangan itu jatuh di wajah mereka yang malu. Mereka diam-diam saling memandang, lalu tiba-tiba tertawa setelah saling memandang, berpegangan tangan, dan mengaitkan jari-jari mereka.

Di bawah adegan itu, sang ayah dan anak saling melirik satu sama lain… lalu dengan cepat berpaling.

Qiu Ci memasukkan sebutir popcorn ke mulutnya, mengunyah tanpa ekspresi.

Memang benar, film ini bertema keluarga dan masa remaja, hanya saja, arah perkembangan kisah cintanya benar-benar di luar dugaan.

Keluarga Qiu, bertiga duduk dalam satu baris, namun perasaan mereka saat itu sangat berbeda.

Sementara Mu Yu yang duduk di sebelah kanan Qiu Ci, sudah merasa ada kejanggalan sejak dua karakter remaja itu muncul. Kini setelah menyaksikan adegan itu, napasnya tertahan. Dia ingin menoleh, tapi takut melihat ekspresi orang di sampingnya. Seketika, dia pun kehilangan keinginan untuk menonton.

Setelah film selesai dan penonton bubar, Tuan Qiu masih tampak linglung, sama sekali tidak ingat apa yang terjadi di bagian akhir film.

Seandainya saja dia lebih dulu mencari tahu isi film ini, dia tidak akan sampai mengalami momen menggemparkan seluruh keluarga seperti tadi.

Jika putranya meminta menonton film ini, dia pasti akan curiga dengan motif di baliknya.

Setelah pulang, mereka kembali ke kamar masing-masing.

Qiu Ci berbaring di sofa di ujung ranjang, kedua tangan disilangkan di belakang kepala. Dalam benaknya, adegan-adegan film tadi terus berputar, dan entah bagaimana, dia kembali teringat pada mimpi sebelumnya.

Dalam mimpi itu, dia menutupi mata seseorang, lalu menciumnya.

Kemudian, pikirannya terbang ke kejadian kemarin. Saat dia dan si bodoh kecil berhadapan, dia melihat bayangannya sendiri di pupil hitam berkilau milik anak laki-laki itu. Dia samar-samar berpikir…

Qiu Ci menarik keluar tangannya lalu menutupi wajah. Dalam hati dia mengumpat, kenapa bisa-bisanya aku membayangkan hal seperti itu? Itu tidak ada hubungannya sama sekali!

Dengan cepat dia mengambil ponsel, membuka galeri, dan menatap fotonya bersama Yu Shan, wajah gadis itu begitu cantik dan memikat. Namun satu menit kemudian, ponselnya dilempar begitu saja ke atas tempat tidur.

Sialan. Tetap saja pikirannya tidak tenang.

Hal semacam ini… benar-benar berada di luar jangkauan pemahamannya.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

San

Leave a Reply