Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki


Cinta rahasia?

Kedengarannya memang sangat sesuai dengan kepribadian si bodoh kecil itu.

Qiu Ci bekerja sama dengan sangat baik dan menunggu dengan tenang hingga Mu Yu melanjutkan.

“Baru-baru ini sahabat masa kecilnya kembali, hubungan mereka sangat dekat. Aku merasa seperti orang luar… dan itu membuatku sedikit tidak senang.”

Mu Yu takut kata-katanya terlalu jelas, jadi dia bicara sambil mencermati perubahan ekspresi di wajah Qiu Ci.

Qiu Ci mendengarkan dengan saksama, lalu mengemukakan pendapatnya, “Sahabat masa kecil, ya? Memang agak sulit, tapi bukan berarti tidak ada harapan.”

“Apa ada harapan?” Hati Mu Yu sedikit bergetar.

“Menyatakan perasaan, tentu saja. Kamu harus memberitahunya bahwa kamu menyukainya. Kalau kamu diam saja, dia tidak akan pernah tahu. Kalau begitu, kamu hanya bisa menyendiri di kamar sambil meratapi perasaan sendiri. Tapi jika kamu mengaku, masih ada kemungkinan lima puluh persen.”

Qiu Ci berbicara seolah itu hal yang wajar. Jika menyukai seseorang, katakan saja dengan berani. Menyimpan dalam hati untuk apa? Orang lain tidak berkewajiban menebak isi hatimu.

Tatapan Mu Yu sempat berbinar sesaat, tapi akal sehat segera membuatnya tenang kembali. Dia menggeleng pelan, “Tidak ada kesempatan. Dia menyukai orang lain. Semua orang juga tahu siapa yang dia suka.”

Pernyataan tambahan itu datang terlambat. Qiu Ci termenung sejenak, lalu bertanya lagi, “Kalau begitu, orang yang dia sukai itu… apakah juga menyukainya?”

“Aku tidak tahu.” Mungkin karena terlalu terlibat secara emosional, Mu Yu tak mampu menebak perasaan Yu Shan terhadap Qiu Ci.

Qiu Ci tidak ingin dia merusak perasaan orang lain, jadi dia menepuk bahunya dan berkata, “Cinta rahasia kebanyakan orang berakhir sia-sia. Hidup itu panjang, dan kita akan selalu bertemu seseorang yang kita sukai. Melepaskan bukanlah hal yang buruk.”

Pertama kalinya membahas masalah cinta, Qiu Ci merasa dirinya sangat bijak. Kata-kata tadi layak untuk dikenang berkali-kali.

“Lalu kamu sendiri?” Mu Yu tak bisa menahan diri, “Jika Yu Shan memang tidak mungkin bersamamu, apa kamu akan menyerah?”

Pertanyaan itu membuat suasana mendadak menjadi tegang.

Mu Yu memaksa diri menatap anak laki-laki di hadapannya, seolah berusaha mencari secercah harapan dari wajah itu.

“Jika Yu Shan benar-benar mencintai orang lain… bahkan jika dia sudah menjalin hubungan… apakah kamu bersedia melepaskannya?”

Mu Yu sadar dirinya terdengar memaksa, dan itu membuatnya tampak begitu menyedihkan.

Dia tahu Qiu Ci mungkin akan membencinya karena pertanyaan itu, namun tetap saja dia tak mampu menahan diri untuk mengucapkannya.

Benar saja, kata-kata ini membuat ekspresi Qiu Ci memudar dan dia menatapnya tanpa ekspresi.

Hati Mu Yu juga menjadi dingin, dan dia tersenyum pahit dalam hatinya, berpikir bahwa dia benar-benar akan membenciku.

Saat keputusasaan menyelimuti, tiba-tiba dahinya didorong kuat oleh tangan seseorang, membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang.

Kemudian, suara malas Qiu Ci terdengar dari samping,”Siapa tahu? Mungkin saja. Terus-terusan memaksa hanya akan membuatmu tampak menyedihkan dan menyebalkan. Melepaskan dengan lapang dada itu baru namanya keren.”

Mu Yu yang terbaring di atas ranjang mengangkat tangan menyentuh dahinya, menatap kosong ke arah Qiu Ci yang kini berbaring di sisinya.

Qiu Ci meletakkan kepalanya di atas tangannya, melirik ke arah anak laki-laki kecil yang tampak konyol itu, lalu sedikit mengangkat sudut mulutnya: “Jadi, siapa orang yang kamu sukai? Mungkin aku bisa membantu.”

Setelah lama tidak mendengar jawaban, Qiu Ci menyadari bahwa si bodoh kecil itu telah memutuskan untuk tidak berbicara.

Suasana hati Tuan Kecil Qiu langsung menjadi buruk.

Lagipula, dia kan “adik laki-laki” yang diakuinya, jadi kenapa dia tidak jujur sama sekali pada kakaknya? Tidak lucu sama sekali.

Mereka berdua terbaring di atas ranjang yang sama, saling berhadapan. Tatapan Mu Yu mengarah ke bibir Qiu Ci, pikirannya melayang.

Asal dia sedikit saja memajukan tubuhnya, dia pasti bisa mencium orang yang terus dia rindukan siang dan malam.

Bagi Qiu Ci, Mu Yu yang diam memandang seperti itu seolah sedang menghindari pertanyaannya.

Dia pun mendekat sedikit.

Tepat saat itu, Mu Yu kembali sadar, dan yang pertama dilihatnya adalah wajah Qiu Ci yang kini sangat dekat. Pembuluh darahnya seakan melebar seketika, wajahnya panas luar biasa.

Bulu matanya bergetar, ingin memejamkan mata namun tak berani.

Qiu Ci yang kini sangat dekat hingga bisa melihat bahwa bulu mata si bodoh kecil itu sangat panjang. Apa dia benar-benar tidak diam-diam merawat diri? Kulitnya bahkan terlihat lebih baik dari si Bao Shan.

Dia tidak dapat menahan diri untuk tidak bergerak mendekat, dan jarak di antara mereka menjadi sangat berbahaya.

Terutama ketika pandangan mereka bertemu, dan di mata masing-masing, terlihat bayangan diri sendiri. Suasana menjadi menawan.

Duk!”

Suara ketukan pintu yang mendadak menghancurkan suasana manis yang mulai terbentuk.

Qiu Ci segera sadar, lalu bangkit untuk membuka pintu.

Anak laki-laki di luar pintu melihatnya keluar, meletakkan yoghurt di tangannya, dan menjelaskan: “Aku tidak sengaja mengetuk terlalu keras, apakah aku membuatmu takut?”

Sebenarnya, dia menendang dengan kakinya. Jika Qiu Ci tidak keluar, dia pasti akan terus menendang.

Qiu Ci tampak tidak fokus. “Tidak.”

Melihat ada yang tidak beres, mata Qiao Yi menampakkan sedikit kilatan dingin.

“Mu Yu sudah membaik?”

Saat suara itu terdengar, Mu Yu telah berjalan ke belakang Qiu Ci, menjawab dengan dingin,

“Sudah.”

“Cepat juga sembuhnya. Saat aku melihat A-Ci membawa termometer,  kupikir kamu demam parah.”

Qiao Yi tersenyum, menekankan kata “demam” dengan nada aneh. Mu Yu menatapnya dingin, sarat dengan permusuhan.

Ketegangan di antara mereka berdua sama sekali tak disadari oleh Qiu Ci, yang masih larut dalam pikirannya sendiri.

Detak jantungnya jauh lebih cepat dari biasanya. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi, dan ia hampir mencium si bodoh kecil itu.

Untungnya, tidak terjadi apa-apa. Si bodoh kecil itu tidak akan terlalu banyak berpikir, kan?

Qiao Yi menyeruput yogurt di tangannya.

“A-Ci, kamu naik saja dulu. Aku ingin ke kamar mandi sebentar.”

Setelah memastikan Qiu Ci takkan kembali, Qiao Yi memandang Mu Yu dalam-dalam, lalu terkekeh pelan dengan makna yang tak jelas.

“Kamu menyukai A-Ci.”

Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.

Dengan kepergian Qiu Ci, ekspresi Mu Yu berubah semakin dingin.

Qiao Yi menggigit sedotan botol yogurt-nya, melangkah dua langkah mendekat, lalu berkata dengan suara yang hanya dapat didengar oleh mereka berdua:

“Aku sarankan kamu menyerah saja. Hal yang bahkan tidak bisa kulakukan, sebaiknya kamu jangan berharap.”

“Meski suatu hari nanti A-Ci berhenti memperhatikan Yu Shan, bahkan jika dia mulai menyukai laki-laki, orang itu tidak akan pernah menjadi dirimu.”

Mendengar suara langkah kaki yang samar, Qiao Yi melangkah mundur dengan ekspresi santai.

Dengan nada nyaris terdengar senang, dia memperingatkan, “Orang itu hanya akan menjadi aku.”

Mu Yu menjawab dengan dingin, “Ini masih siang, jangan terburu-buru bermimpi.”

Ucapan itu bagai menyiramkan air dingin. Ekspresi Qiao Yi berubah muram seketika, sorot mata hitamnya sedingin jurang tak berdasar.

“Kamu pikir siapa kamu? Hanya seorang menyedihkan yang menumpang hidup. Benar-benar percaya hanya dengan beberapa bulan kebersamaan, bisa menandingi belasan tahun hubunganku dengannya?”

Mu Yu tetap tenang saat membalas, “Kalau selama belasan tahun saja kamu tidak bisa membuatnya jatuh cinta, aku sungguh heran dari mana datangnya rasa percaya dirimu untuk berkata besar.”

Tatapan Qiao Yi makin gelap, dia mencibir, “Aku ingin sekali menunjukkan wajahmu ini pada A-Ci.”

Biasanya dia menyebalkan, dan sekarang malah lebih menyebalkan lagi. Sama menyebalkannya dengan gadis sialan Yu Shan itu.

“Qiao Yi, kamu sedang apa? Kami menunggumu.”

Suara itu datang dari ujung koridor. Kesuraman di wajah Qiao Yi menghilang dan dia menjawab sambil tersenyum: “Aku mengundang Mu Yu untuk bergabung dengan kita.”

Orang itu tidak curiga, hanya mengangguk dan berkata,”Cepatlah.”

Cara mereka merayakannya tidak lebih dari sekadar makan, minum, bernyanyi, dan seseorang menyarankan bermain game.

Setiap orang diminta menulis satu pertanyaan yang paling ingin diajukan pada peserta lain, secara anonim di atas kertas. Lalu botol diputar. Siapa yang ditunjuk ujung botol harus menjawab salah satu pertanyaan secara acak, atau menolak dan minum sebagai gantinya.

Semua tampak antusias.

Qiu Ci cukup beruntung, beberapa putaran pertama botol tak pernah menunjuk padanya.

Sebaliknya, Mu Yu sempat ditunjuk sekali. Mungkin karena dia tampak pendiam, pertanyaannya pun sangat biasa.

“Ci Ge! Akhirnya giliranmu.” Seseorang menggebrak meja dengan penuh semangat.

Qiu Ci meraih selembar kertas secara acak. Seseorang buru-buru membacanya dengan suara nyaring, “Apa ciuman pertamamu masih ada?”

Qiao Yi, yang duduk di sisi lain Qiu Ci, tersenyum sedikit lebih lebar dan mulai menggoda, “Kamu dan putri kecil belum berciuman, ’kan?”

Qiu Ci menoleh dan memelototinya, ”Enyahlah.”

Dia meremas kertas itu dan melemparkannya ke meja. “Masih ada.”

”Ci Ge, kamu parah juga ya.”

“Mungkin Ci Ge pemalu. Shan Jie, kenapa kamu tidak berinisiatif?”

”Jangan-jangan kalian juga belum pernah gandengan tangan? Sayang sekali.”

Yu Shan menyela dingin, “Diam, makan saja makananmu.”

Putaran berikutnya, botol menunjuk ke Yu Shan. Secara kebetulan, pertanyaannya pun mirip.

“Aduh, kesempatan bagus untuk bergosip itu terbuang sia-sia.” Jelas, dialah yang menulis pertanyaan ini.

Yu Shan tak menjawab, dan karena terlalu hening, Qiu Ci mulai memperhatikannya.

Dia seolah mengerti sesuatu, menarik napas dalam, tapi tidak berkata apa-apa.

Putaran berikutnya, botol kembali menunjuk ke Qiu Ci.

Dia membuka lipatan kertas, matanya menyapu seluruh ruangan, mencoba menebak siapa yang menulis pertanyaan aneh ini:

”Jika hanya boleh memilih satu laki-laki dari ruangan ini untuk menjadi kekasihmu, siapa yang akan kamu pilih?”

Yang lain ikut membaca isi pertanyaannya dan mulai bertanya-tanya.

“Siapa yang menulis ini? Apakah kalian, gadis-gadis, yang menulis ini?”

“Lu Ning, kamu yang menulis ini, ’kan? Aku melihat kamu diam-diam baca komik bl beberapa hari yang lalu.”

”Aku… aku tidak baca! Wei Ran, coba ulangi itu kalau berani!”

Beberapa tidak penasaran siapa penulisnya, hanya ingin tahu jawabannya. ”Ci Ge, siapa yang kamu pilih?”

”Pasti Qiao Yi! Diayang paling lama berteman dengannya, ’kan? Shan Jie saja kalah lamanya.”

”Ci Ge, pilih aku. Aku cocok jadi pasanganmu!”

Anak-anak lelaki itu bercanda meminta Qiu Ci untuk memilih mereka guna menunjukkan status mereka sebagai teman.

Sementara itu, senyum di wajah Qiao Yi sudah lenyap. Dia menatap dingin ke arah Mu Yu yang tak menarik perhatian siapa pun.

Yu Shan menyesap jusnya perlahan, sambil memperhatikan diam-diam interaksi antara Qiao Yi dan Mu Yu.

Mu Yu menatap balik Qiao Yi dengan wajah datar, seakan berkata: Aku ingin tahu, apakah A-Ci benar-benar akan memilihmu.

Pertanyaan itu ditulis oleh Mu Yu. Dia sedang berjudi—berjudi bahwa Qiu Ci takkan memilih Qiao Yi.

Dan saat membaca isi kertas, Qiao Yi tahu betul siapa penulisnya. Dia tahu tujuan dari pertanyaan itu.

Tatapannya semakin dingin, lalu dia menoleh ke arah anak laki-laki di sampingnya, menyeringai: “A-Ci, siapa yang kamu pilih? Kalau kamu memilihku, kamu sama sekali tak rugi.”

Qiu Ci terdiam. Kenapa si Qiao yang Norak ikut bersenang-senang?

Di antara semua lelaki yang bersaing untuk dipilih, justru Mu Yu yang paling tenang dan diam, dan karena itulah dia menjadi paling mencolok.

Qiu Ci meletakkan kertasnya, meneguk sedikit minuman. Ketika semua mengira dia memilih minum sebagai pengganti jawaban, dia berkata: ”Aku memilih Mu Yu.”

Saat membuat pilihan, Qiu Ci diam-diam menyusun alasan dalam hati.

Kalau dia memilih salah satu dari orang-orang yang duduk di sekelilingnya, pasti ada yang tersinggung. Memilih Mu Yu adalah langkah paling aman.

Para lelaki yang gagal “dipilih” pun menghela napas kecewa, kalah dari Mu Yu yang bahkan baru muncul beberapa bulan lalu.

Setelah momen itu berlalu, barulah Mu Yu berani melirik pemuda yang kembali asyik dalam permainan, hatinya terasa sedikit manis.

Pilihan itu… mungkinkah dia tidak berarti apa-apa di hati Qiu Ci?

Qiao Yi menghabiskan anggur di meja dalam sekali teguk. Jawaban Qiu Ci jelas merupakan tamparan di wajah. Dia melihat Mu Yu sedang menatapnya, bibirnya sedikit melengkung membentuk gestur provokatif. Dia mengepalkan tinjunya, menahan keinginan untuk melempar cangkir ke arahnya.

Hanya Yu Shan yang menyadari detail ini dan mengerutkan kening.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

San

Leave a Reply