Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki
Mu Yu sama sekali tidak menyangka bahwa Qiu Ci akan menyeret nama Qi Meng.
Qiu Ci mengira keterkejutan Mu Yu adalah karena rahasianya terbongkar, dan semakin yakin bahwa dugaannya benar, menurutnya, Mu Yu pasti sudah menyukai gadis itu sejak mereka pergi ke lapangan tembak.
Tapi, dia langsung menggelengkan kepalanya dan memberi saran, “Kalau begitu, sebaiknya kamu segera menyerah saja. Belum bicara soal Xu Qingning yang selalu menempel padanya, Qi Meng sendiri berasal dari keluarga Qi, kalian tidak akan mungkin berakhir bersama.”
Jika nanti Qi Meng benar-benar menjadi kepala keluarga, dia pasti akan memilih calon suaminya dengan hati-hati.
Bisa jadi bahkan Xu Qingning pun tidak akan berhasil, karena Xu Qingning dilahirkan dalam keluarga yang salah. Dia bukan hanya bagian dari keluarga Xu, tapi juga adik kandung dari Xu Qinghe yang dikenal kejam dan tak kenal ampun.
Qiu Ci tahu cukup banyak soal hal-hal di balik layar, lalu mulai menganalisis kemungkinan Mu Yu bersama dengan “iblis pengacau” itu.
Melihat betapa seriusnya Qiu Ci, Mu Yu mengeluh pelan, “Aku tidak menyukai Qi Meng.”
Suara dia terdengar suram. Harusnya dia bersyukur Qiu Ci tidak bisa menebak isi hatinya, tapi melihat dirinya disalahpahami justru membuat dadanya terasa sesak.
Mu Yu agak menyesal sudah memberitahunya bahwa dia sedang menyukai seseorang.
Takut Qiu Ci tidak percaya, Mu Yu menegaskan kembali, “Aku tidak menyukai Qi Meng.” Aku menyukaimu.
Setelah dua tebakan salah, Qiu Ci justru semakin bersemangat, “Kalau begitu, jangan-jangan…”
Belum sempat kalimat itu selesai, suara dari seberang memotong, “Kamu tidak mengenalnya.”
Qiu Ci pun kehabisan kata dan langsung memilih diam.
Ternyata memang tidak cocok berbincang dengan bocah ini, lebih baik bermain game online saja.
Menyadari sikap Qiu Ci menjadi dingin, Mu Yu pun diam dan berusaha tidak mengganggunya, bahkan mencoba mengecilkan kehadirannya sebisa mungkin.
Keesokan harinya.
Saat Qiu Ci terbangun, Mu Yu sudah tidak ada di kamar.
Begitu membuka pesan, barulah dia tahu bahwa dua jam lalu Mu Yu sudah pergi ke pemakaman.
Jadi, wajar saja, dia dan Mu Yu tidak memiliki hubungan darah, bahkan tidak mengenal ibu Mu Yu. Rasanya memang tidak pantas untuk hadir dalam suasana seperti itu.
Selama hidupnya, Qiu Ci belum pernah benar-benar merasakan duka mendalam akibat kehilangan orang terdekat. Sejak neneknya meninggal karena sakit hingga dimakamkan, dia bahkan tidak pernah muncul.
Satu-satunya kejadian yang sempat menyentuh perasaannya, mungkin adalah saat Yu Shan dan ibunya mengalami kecelakaan lalu lintas.
Pada akhirnya, ibu Yu Shan meninggal, dan Yu Shan yang sempat kritis berhasil diselamatkan. Seminggu kemudian, barulah Qiu Ci tahu bahwa teman sebangkunya yang cengeng dan ceroboh itu hampir saja menjadi malaikat kecil di langit.
Yu Shan yang selamat dari maut, matanya hampir setiap hari merah dan tampak menyedihkan.
Orang-orang dewasa menyalahkan kematian ibu Yu Shan kepada gadis kecil berusia lima tahun saat itu. Seandainya Yu Shan tidak merengek ingin pergi ke taman bermain, kecelakaan itu tidak akan terjadi.
Orang yang paling keras meluapkan amarahnya justru adalah ayah Yu Shan.
Mungkin dia mencintai istri pertamanya, tapi apakah dia mencintai Yu Shan? Itu masih harus dipertanyakan.
Setidaknya, Qiu Ci merasa ayah si Bao Shan itu adalah manusia yang busuk.
Setahun setelah kematian istrinya, “sosok penuh cinta” itu menikah lagi, dan bersama istri barunya memiliki anak kembar yang sangat dia manja, sementara anak dari mendiang istrinya diabaikan. Jika dia bukan sampah, lalu apa?
Qiu Ci berjalan di sepanjang jalan, menggigit roti isi yang baru saja dibelinya, sambil bertanya-tanya, apakah Bao Shan-nya pergi mengunjungi pemakaman hari ini dan matanya kembali merah?
Di Pemakaman.
Seorang anak laki-laki tinggi dan kurus berdiri memandangi batu nisan di depannya tanpa mengucap sepatah kata pun, karena memang tidak ada yang ingin dia ucapkan.
Dia selalu ingat pandangan penuh penyesalan dan kebencian dari orang yang kini terbaring di bawah sana, yang pernah berkata padanya.“Aku menyesal. Seharusnya aku tidak melahirkanmu. Kamu menghancurkan seluruh hidupku. Kalau saja kamu tidak ada, aku tidak akan hidup seperti ini!”
Sejak kecil hingga dewasa, Mu Yu tidak pernah merasa dirinya dicintai.
Dia tidak pernah melihat wajah ayah kandungnya, sementara ibunya memperlakukannya dengan sikap yang sangat rumit. Ayah tirinya juga tidak bisa dibilang baik, yang ada hanya pukulan dan makian.
Saat bersekolah, dia harus menyisihkan waktu untuk bekerja demi biaya hidup dan biaya sekolah, sembari tetap belajar keras demi mendapatkan beasiswa.
Sejak kecil dia sudah sadar, orang sepertinya seharusnya hidup di tanah berlumpur, tidak layak dicintai, dan juga tidak pantas mencintai siapa pun.
Setelah cukup lama, Mu Yu menghela napas panjang, menatap dalam ukiran nama di batu nisan itu, lalu berbalik dan pergi.
Hatinya sedang tidak baik. Dia tidak ingin kembali terlalu cepat ke hotel dan membuat Qiu Ci menyadari sesuatu, maka dia terus berkeliling di luar tanpa arah.
“Wah, lihat siapa ini—bukankah ini Mu Yu?”
Sebuah suara dengan nada menyindir menyela, diikuti oleh kemunculan beberapa orang yang langsung menghalangi jalan Mu Yu.
Orang-orang itu mewarnai rambut mereka dengan warna-warna mencolok, dan wajah mereka yang tidak terlalu rupawan membuat penampilan mereka terlihat sangat mengganggu mata.
Setelah terlalu sering melihat wajah Qiu Ci yang tampan dan liar, Mu Yu merasa matanya benar-benar tersiksa, sehingga dia mengalihkan pandangan dan mencoba mengambil jalan memutar.
Tapi, orang-orang itu mengepungnya, memandang dengan niat buruk, jelas tidak berniat membiarkannya pergi dengan mudah.
“Aku dengar ayah tirimu menjualmu ke orang kaya, ya? Apa? Sekarang kau meremehkan kami, para berandalan kecil?”
Anak laki-laki yang tampaknya menjadi pemimpin maju ke depan dan melihat pakaian Mu Yu. Dibandingkan dengan baju lama yang sudah luntur karena terlalu sering dicuci, pakaian yang dipakai Mu Yu sekarang jelas jauh lebih bagus, dan pasti cukup mahal.
“Kami sedang kekurangan uang, sebagai saudara sesama di jalanan, membantu sedikit tidak berlebihan, ’kan?”
Anak laki-laki itu mencoba menepuk bahu Mu Yu, tapi tangannya ditepis.
Wajah anak laki-laki itu langsung menunjukkan ekspresi jijik, seakan orang itu adalah sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan sikap penurut seperti saat berada di hadapan Qiu Ci.
Merasa dirinya dihina, pemuda itu meludah sambil memaki, “Kita semua sama saja, jangan sok bersih! Ayo, apa lagi yang kalian tunggu? Hajar dia!”
Jalan tempat itu memang terkenal acak-acakan, penuh dengan segala jenis orang. Perkelahian preman adalah hal biasa, dan orang-orang yang tidak ingin mencari masalah pasti sudah memilih menghindar sejak tadi.
Dari pagi hingga siang, Qiu Ci masih belum melihat Mu Yu kembali.
Apakah ziarah bisa selama itu? Qiu Ci mencoba meneleponnya dua kali, tapi tidak diangkat.
Apakah dia bertemu kenalannya? Berspekulasi bahwa Mu Yu mungkin bertemu seseorang yang dikenalnya dan meninggalkannya sendirian di sini, Qiu Ci merasa sedikit tidak senang.
Seandainya tahu akan sebosan ini, dia tidak akan datang.
Dia sendiri pun tidak tahu apa yang membuatnya begitu penasaran waktu itu, sampai-sampai kehilangan akal dan menyetujui permintaan Nyonya Chu.
Entah kenapa dia begitu penasaran saat itu. Dan tiba-tiba menyetujui permintaan ibunya.
Karena orang itu tidak datang juga, Qiu Ci tidak berniat menunggunya. Dia mengambil ponselnya dan keluar dari hotel, mencari tahu apakah ada tempat makan atau hiburan menarik di sekitar.
Qiu Ci berjalan tanpa arah, tidak tahu ke mana ia pergi, saat dia mendengar suara orang berkelahi di depan sana, dia hendak berbelok untuk menghindar, tapi sebuah suara dari arah keributan menarik perhatiannya.
“Mu Yu, kalau kamu memang berani, jangan sembunyi!”
Begitu mendengar nama yang sudah akrab di telinganya, langkah Qiu Ci berbalik, menuju ke arah suara itu. Saat sampai di lokasi perkelahian, matanya membelalak.
Tunggu… Yang sedang menendang perut orang itu, bukankah itu si kutu buku yang lemah?
Mungkin karena terlalu lama memperhatikannya, salah satu preman berteriak ke arahnya, “Apa yang kamu liat? Kalau tidak mau dipukul, pergi sana!”
Qiu Ci tidak punya pilihan lain selain menanggapi provokasi semacam itu yang pantas mendapat pukulan.
Mu Yu yang sudah mulai kehabisan tenaga tengah mencari benda yang bisa dipakai sebagai senjata. Dari sudut matanya, ia melihat sekilas seseorang bergabung dalam keributan, sepertinya datang untuk membantunya?
Begitu melihat dengan jelas siapa orang itu, hatinya terasa dingin.
Saat dia teralihkan, anak laki-laki di depannya mengambil kesempatan itu untuk mengangkat tongkat dan mengayunkannya. Qiu Ci melihatnya dan segera mengambil botol anggur di pinggir jalan dan melemparkannya, lalu menarik Mu Yu ke sisinya.
“Berkelahi saja kamu masih melamun, takut orang lain tidak bisa membunuhmu, ya?”
Terdengar samar teriakan seseorang bahwa polisi datang. Tanpa pikir panjang, Mu Yu langsung menggenggam tangan Qiu Ci dan berlari ke arah gang.
Dua anak laki-laki itu berlari menyusuri gang yang gelap dan lembap, entah sudah sejauh apa hingga akhirnya Mu Yu menghentikan langkahnya.
Wajahnya memerah, dan napasnya terengah-engah. Qiu Ci terlihat lebih tenang, dan melihat Mu Yu yang hampir tumbang karena kelelahan, dia menyenggol bahunya dengan siku sambil menggoda, “Kupikir kamu hanya bisa belajar, ternyata kamu bisa berkelahi juga.”
Ketika napas Mu Yu mulai mereda, dia menatap pemuda di sampingnya dalam-dalam. Tidakkah dia merasa ada yang salah dengan ini?
Qiu Ci, tanpa memedulikan apakah tempat itu kotor atau tidak, langsung duduk di tanah. Dia menoleh ke arah Mu Yu yang wajahnya terlihat rumit, lalu berkata dengan nada dalam, “Ternyata kamu sama sekali bukan anak baik-baik.”
Ucapan itu membuat hati Mu Yu membeku, wajahnya sedikit pucat. Apakah dia akan semakin membenci dirinya?
Qiu Ci menyandarkan punggung ke tembok, sikunya bertumpu di lutut, tangan menopang dagu, lalu tersenyum menyebalkan:
“Mu Yu, aku sudah memegang kelemahanmu.”
Nada bicaranya terdengar seolah ingin menggunakan ini untuk mengancam Mu Yu.
Mu Yu mengatupkan bibir, lalu mengingatkan dengan suara pelan, “Bibi Chu tahu soal ini.”
Qiu Ci tampak sedikit terkejut, tapi tidak tidak terlau terkejut.
Bagaimanapun, ibunya adalah seorang pemimpin perusahaan. Sebelum membawa seseorang pulang, tentu dia akan menyelidiki latar belakangnya terlebih dahulu, tidak ada yang mau membawa serigala masuk rumah.
“Aku tidak suka berkelahi,” ujar Mu Yu dengan serius, berusaha memperbaiki citranya. “Tapi kalau tidak melawan, aku akan dipukuli.”
Sejak kecil dia sering dipukuli ayah tirinya, dan dijadikan sasaran oleh teman sebayanya. Lama-lama, dia belajar untuk melawan.
Awalnya perlawanan itu tidak banyak membuahkan hasil, tapi setelah terbiasa, setidaknya bisa mengurangi penderitaannya.
Dia takut sakit, tidak ingin dipukuli, juga tidak ingin menyakiti orang lain.
Menyadari emosi Mu Yu, Qiu Ci tanpa sadar menatap tangannya.
Menyadari tatapannya, Mu Yu mengangkat tangannya dan menjelaskan, “Saat aku masih SMP, seseorang memegang tanganku dan membakarnya dengan puntung rokok.”
Nada bicaranya datar, seolah-olah dia hanya membicarakan masalah sepele yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Mungkin karena dia tumbuh di lingkungan yang terlalu makmur, dan orang-orang yang berinteraksi dengannya semuanya berasal dari anak-anak dengan kondisi keuangan yang serupa. Meskipun dia tahu bahwa ada orang-orang di dunia ini yang hidupnya sulit, Qiu Ci tidak pernah bisa berempati dengan mereka.
Tapi kali ini, melihat sosok di depannya menunduk dengan seluruh tubuh dipenuhi rasa benci terhadap diri sendiri, Qiu Ci tiba-tiba merasa aneh, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa tidak nyaman.
Dia bersandar ke dinding dan berkata, “Aku juga tidak suka berkelahi, tepatnya, si Bao Shan tidak menyukainya.”
Entah mengingat apa, mata remaja itu tampak lembut saat ia berkata, ” Karena jika dia menangis, wajahnya sangat jelek. Anak perempuan itu harus tersenyum, barulah terlihat cantik.”
Kalimat itu tidak memiliki konteks, namun Mu Yu tahu di baliknya pasti ada kisah tersendiri.
Dan itu membuatnya semakin kesal.
“Hei.”
Bahunya diketuk. Ketika dia menoleh, pemuda yang ada di hadapannya, walau sedikit berantakan, masih tetap tampak tampan.
“Hmm?” Mu Yu menahan napas, lalu memalingkan wajah.
“Tiba-tiba aku merasa kamu cukup hebat. Menjadi adikku juga tidak masalah.” Qiu Ci merangkul pundaknya, “Mulai sekarang aku akan menjadi gegemu. Ada kakak yang akan melindungimu, jadi kalau kamu tidak mau berkelahi, tidak perlu berkelahi.”
Gerakan merangkul itu membuat jarak mereka menjadi sangat dekat. Mu Yu berusaha menahan gejolak dalam dirinya, matanya terpaku ke tanah yang basah karena hujan, tidak berani menoleh sedikit pun.
Dia takut jika tidak sengaja menoleh, wajah mereka akan bersentuhan.
Beberapa hal terasa begitu indah saat dibayangkan, tapi dia tidak berani benar-benar melakukannya.
Qiu Ci sama sekali tidak menyadari perubahan suasana hati Mu Yu, lalu melanjutkan,
“Coba panggil aku ‘gege’ dulu.”
Mu Yu menahan diri cukup lama, lalu mengucap lirih, kering dan hambar, “Ci Ge.”
Nadanya seolah sedang dipaksa. Qiu Ci langsung menunjukkan ketidakpuasan, “Sama sekali tidak tulus.”
Mu Yu tertunduk diam.
Qiu Ci menarik kembali tangannya, “Sudahlah, panggil saja sesukamu. Tapi karena kita ini saudara angkat yang berbeda ayah dan berbeda ibu, aku juga harus memberimu nama panggilan agar lebih akrab.”
Suara itu berhenti beberapa detik, lalu terdengar lagi: “Kamu bodoh sekali, mulai sekarang aku akan memanggilmu si bodoh kecil.”
Soalnya “Mu yang bodoh1Daizi Mu”, atau “Yu yang bodoh2Daizi Yu”, dua-duanya terlalu aneh. Jika “bodoh kecil3Mu Tou” mungkin cocok, tapi anjing peliharaan Sun Jialu namanya juga si bodoh kecil, jadi itu harus dicoret dari pilihan.
Qiu Ci menyebut nama itu dengan sangat alami, tanpa merasa canggung sedikit pun, juga tidak berpikir bahwa memanggil laki-laki dengan sebutan seperti itu akan terdengar… aneh. Dia memang tidak sadar, jadi tidak akan berpikir sejauh itu.
Baginya, memanggil adik sendiri dengan panggilan akrab bukanlah masalah.
Tapi bagi Mu Yu yang menyimpan rasa diam-diam, jantungnya sudah berdebar tak karuan.
Si bodoh kecil, bukankah itu terlalu mirip panggilan mesra pasangan?
Berusaha menenangkan diri, Mu Yu akhirnya tak tahan untuk menoleh, dan yang dia lihat adalah orang yang dia sukai… sedang tersenyum padanya.
Senyuman itu seolah mampu menyapu bersih semua kegelapan di gang sempit ini, juga menghapus semua kabut kelabu yang lama mengendap di hatinya.
Ini adalah pertama kalinya Qiu Ci tersenyum kepadanya seperti itu—bukan senyuman mengejek, sinis, atau mencibir,melainkan senyuman yang lebih cemerlang dari pada musim panas, lebih hangat dari pada matahari musim dingin.
Senyuman itu begitu bersih, begitu murni, namun juga penuh semangat, menyapu jantungnya dengan ganas, meninggalkan jejak-jejak percikan api.
Percikan kecil itu cukup untuk membakar seluruh daratan. Dia sudah berada di tengah kobaran api. Tidak bisa kabur dan juga tidak ingin pergi.
Perasaannya bergelora, dan bibirnya pun tak sanggup lagi menahan gerak.
“Kalau begitu, mulai sekarang aku akan memanggilmu—”
“ Ci Ye4 Tuan Ci..”
