“Di dunia tiga ribu mimpi, di dalam ilusi yang merupakan mimpi, hanya hatimu yang mengandung kebenaran.”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Di dalam Kota Chang’an, saat fajar menyingsing, setelah Departemen Eksorsisme disegel untuk penyelidikan, semua orang tidak memiliki pilihan selain bergerak di dalam toko anggur Amber Lanling. Dan berita bahwa Li Jinglong sudah meninggalkan kota belum menyebar, jadi pada hari ini, Li Heng mengirim seseorang untuk memanggil mereka ke Departemen Kehakiman, sehingga mereka bisa diinterogasi satu per satu. Berita yang dia terima sama dari masing-masing mereka, kelompok itu tidak tahu ke mana penjahat Li melarikan diri, dan Hongjun juga menghilang.

Li Heng juga samar-samar menebak dari apa yang telah terjadi. Kemungkinan besar Li Jinglong pergi untuk menyelidiki kebenaran dan membersihkan namanya. Tidak lama kemudian, karena petunjuk halus Yang Guozhong, masalah ini secara bertahap ditekan.

“Tapi bagaimana kita harus menyelidiki sekarang?” Tanya Ashina Qiong. “Sebelum Zhangshi pergi, dia tidak memberi kita instruksi terperinci.”

Mo Rigen berpikir dalam-dalam sejenak, sebelum berkata, “An Lushan tinggal di kamp pasukannya, di sudut barat laut kota. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menyelinap ke kampnya dan menemukan artefak yang melindunginya.”

Setelah Li Jinglong pergi, kelompok itu mendiskusikan rencana mereka untuk satu malam lagi. A-Tai secara singkat menguraikan apa yang sudah dikatakan Li Guinian padanya, dia hanya menghilangkan bagian tentang Api Suci dan hubungan mereka. Mo Rigen merenung untuk waktu yang lama, sebelum dia membuka peta, berkata, “Karena kita menduga Api Suci ada bersama An Lushan, kita harus mengambil risiko dan menyelinap ke kamp musuh terlebih dulu. Tapi artefak pelindung yang dimiliki An Lushan tidak akan bisa semudah itu ditemukan, jadi kita akan membutuhkan lebih banyak waktu. Aku memiliki rencana, dengarkan rencanaku ini…”

Ini adalah pertama kalinya Li Jinglong meninggalkan Departemen Eksorsisme dan membiarkan anggotanya yang lain menangani kasus ini, dan kali ini, lawan mereka adalah An Lushan. Biasanya, meskipun para exorcist ini tidak kekurangan kemampuan, mereka sudah lama terbiasa mengikuti rencana Li Jinglong, dan terlalu malas untuk menggunakan otak mereka. Bagaimanapun, perencanaan Zhangshi akan memperhitungkan setiap kemungkinan, dan strateginya tidak akan pernah gagal. Yang harus mereka lakukan adalah mengikutinya.

Karena atasan langsung mereka sudah pergi, hal itu memaksa mereka untuk tidak memiliki pilihan selain memikirkan cara mereka sendiri. Pada saat itu, dipacu oleh alam mimpi Lu Xu dan Hongjun, Mo Rigen memeras otaknya sepanjang malam, menghasilkan rencana bertahap yang rumit. Dia berpikir bahwa semua orang akan bertepuk tangan dan menyatakan itu bagus, tapi sebaliknya, setelah dia selesai berbicara, ruangan itu tenggelam dalam keheningan yang canggung.

Semua orang: “…”

“Itu terlalu berbahaya,” kata A-Tai. “Kau gila! Bagaimana jika kau tidak berhasil kembali, hah?”

Qiu Yongsi menambahkan, “Lagipula, tidak ada dari kita yang mengerti dengan jelas tentang kemampuan apa yang dimiliki para iblis, karena ini adalah pertama kalinya kita berhadapan secara langsung.”

Mo Rigen menjawab, “Apa kalian masih ingat saat Lu Xu dikendalikan? Aku memiliki dasar untuk alasanku…”

Setelah mengatakan ini, dia menambahkan, “Lu Xu!”

Lu Xu bersandar di pagar lantai dua, melihat ke luar. Dia menjawab, tidak peduli, “Jangan tanya padaku, aku tidak tahu.”

Ashina Qiong bertanya, “Bisakah kita memainkan rencana seperti ini? Kita akan mati, kan.”

Ikan mas yao berkata, “Aku pikir kakak ketiga memiliki keinginan untuk mati.”

Lu Xu melirik ke arah Mo Rigen, dan Mo Rigen berkata pada semua orang, “Jika kita mengatur waktu dengan benar, tidak akan ada masalah.”

“Aku akan pergi,” Lu Xu menjawab dari posisinya di depan pagar. “Aku memiliki pengalaman.”

Mo Rigen segera menembak jatuh ide itu. “Tidak, tidak! Lu Xu, kau adalah benang itu, dan kau harus memegang ujung benang di tanganmu.”

“Kau percaya padaku sebegitunya?” Tanya Lu Xu.

Mo Rigen tidak menjawab, justru bertanya pada semua orang, “Apa ada yang keberatan?”

“Tentu saja!” semua orang menjawab sekaligus. “Pikirkan metode lain!”

“Kalau begitu kalian pikirkan satu.” Mo Rigen kehabisan akal.

Lu Xu menyipitkan matanya, memandang Mo Rigen. “Apa kau yakin?”

“Tentu saja,” ekspresi Mo Rigen bingung saat dia menatap kelompok itu.

“Biarkan aku dan Qiong yang pergi,” kata A-Tai. “Kami adalah saudara yang tumbuh bersama, jadi tidak peduli bagaimana kau melihatnya, ikatan kami lebih dalam darimu.”

Tapi Mo Rigen menjawab, “Tidak setiap orang memiliki kemampuan untuk mengendalikan mimpi.”

Ashina Qiong berkata, “Biarkan aku pergi, dan biarkan Xiao Lu memasuki mimpi Tegla. Ketika saatnya tiba, dia bisa membangunkanku.”

“Tidak perlu diskusi lebih lanjut,” jawab Mo Rigen, mengetahui bahwa tidak ada yang memberikan ide yang lebih baik. “Serigala Abu-abu dan Rusa Putih memiliki kemampuan ini sejak awal, dan aku percaya pada Lu Xu.”

Semua orang terdiam beberapa saat lebih lama, sebelum Lu Xu akhirnya berkata, “Oke, aku akan pergi denganmu, tapi apakah itu berhasil atau tidak, itu tidak pasti. Hanya saja, tandukku dipotong oleh kalian, jadi kekuatannya tidak sekuat sebelumnya. Jika kita gagal, jangan salahkan aku.”

Mo Rigen memperhatikan Lu Xu, dan tatapan mereka bertemu. Qiu Yongsi menambahkan, “Jika gagal, maka kita hanya bisa menunggu Zhangshi serta Hongjun kembali dan membangunkanmu secara paksa.”

Mo Rigen ragu-ragu sejenak, sebelum menggelengkan kepalanya. “Aku percaya bahwa kita akan berhasil. Yongsi, kau harus mengawasi Yang Guozhong dengan hati-hati. Dugaanku adalah dia tidak akan bisa menunggu sampai ulang tahun selir kekaisaran, karena segera setelah kita mengambil Api Suci yang melindungi tubuh An Lushan, dia akan segera bertindak untuk mencuri kembali hun yao-nya. Dan tentu saja, An Lushan akan datang mencari kita, kesampingkan semua urusan dan fokus pada hal ini.”

Qiu Yongsi menjawab, “Kau bisa mengandalkanku untuk itu, karena mengalahkan naga sejatinya memiliki tekniknya sendiri. Selama kau menyegel api suci yang melindunginya, meskipun itu rumit, itu tidak sepenuhnya mustahil.”

Ikan mas yao sedikit merinding. “Hasratmu agak terlalu berat ba.”

Pada awalnya, ini tidak lebih dari Mo Rigen yang menyelidiki keberadaan artefak pelindung An Lushan, tapi sebaliknya, Mo Rigen berencana untuk menangkap Yang Guozhong di jaringnya juga. Satu-satunya masalah adalah bahwa rencana ini terlalu berisiko, tapi tidak peduli bagaimana mereka mendiskusikannya, mereka tidak bisa memikirkan metode yang lebih baik. Mengambil tindakan lebih baik daripada hanya duduk diam, jadi mereka masing-masing pergi untuk melakukan tugas mereka sendiri.

A-Tai dan Ashina Qiong bertugas mengawasi setiap pergerakan An Lushan. Begitu Mo Rigen menemukan keberadaan artefak pelindung pada dirinya, mereka akan segera bertindak untuk mencurinya. Begitu api suci dicuri, Yang Guozhong akan segera merasakannya, dan dia akan datang untuk mencari An Lushan.

Dan An Lushan akan merebut api suci kembali pada kesempatan pertama yang dia dapatkan, jadi ketika saat itu tiba, Qiu Yongsi akan turut ikut campur dengan api suci. Dia akan menggunakan kesempatan ini untuk menggantinya dengan yang palsu, dan mereka akan membiarkan An Lushan mengambilnya kembali. Itu akan menarik An Lushan ke dalam pertempuran dengan Yang Guozhong, dan saat kedua belah pihak terluka parah, mereka kemudian akan mengaktifkan segel pada api suci…

… pada akhirnya, dengan mereka semua bergabung, mereka tidak hanya akan bisa menyingkirkan An Lushan, mereka juga akan bisa mengalahkan Yang Guozhong.

Mo Rigen sangat senang dengan idenya, dan dia merasa bahwa tidak peduli bagaimana dia memikirkannya, rencana ini dibuat dengan sangat baik. Saat dia masuk ke dalam untuk berbaring, dia bertanya pada Lu Xu, “Apa menurutmu ini terlalu berisiko?”

Tatapan Lu Xu rumit saat dia melihat Mo Rigen, berkata, “Sebenarnya, kau cukup pintar.”

“Selalu ada orang yang lebih kuat di antara yang kuat.” Mo Rigen menjawab dengan mudah. ​​”Zhangshi terlalu pintar, sehingga yang lain tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan keahlian mereka… apa yang perlu kupikirkan?”

“Pikirkan tentang apa yang sudah terjadi di masa lalumu yang paling tak terlupakan, dan yang paling mustahil untuk membuangnya,” kata Lu Xu. “Kenangan di mana, bahkan jika kau akan menuju kematianmu hari ini, kau tidak akan bisa melupakannya. Penyesalan berhasil, dan mimpi indah juga akan berhasil; tidak masalah apakah itu tentang cinta atau benci. Kau harus memastikan bahwa di mana pun kau berada, atau jam berapa pun sekarang, kau akan bisa mengingatnya.”

Mo Rigen mengatakan en dan mengangguk, sebelum menutup matanya. Lu Xu mengulurkan tangan dan menempelkannya ke dahi Mo Rigen.

“Di dunia tiga ribu mimpi, di dalam ilusi yang merupakan mimpi, hanya hatimu yang mengandung kebenaran,” Lu Xu melafalkan.

Sebuah cahaya putih bersinar dari telapak tangan Lu Xu, tenggelam ke dahi Mo Rigen. Pada saat itu, angin liar bertiup, dan di padang rumput yang membentang ke segala arah tanpa akhir, ribuan rerumputan tertiup ke udara, terbang ke langit yang biru seperti baru dibersihkan.

Seorang pemuda setengah dewasa berlari terhuyung-huyung melintasi padang rumput, sementara pasukan yang mengenakan zirah bentrok. Kuda perang berpacu melewati Desa Shiwei, dan api mulai berkobar. Seketika, dunia berubah menjadi lautan api.

“Muma—!”

Desa sudah menjadi puing-puing yang terbakar, dan pemuda itu meratap keras, mencari ke mana-mana. Dan di puing-puing, yang masih sedikit hangat, mayat wanita yang hangus tergeletak dengan tenang…

Lu Xu segera menarik tangannya. Untuk sesaat, dia tidak bisa mengendalikan napasnya sendiri.

Mo Rigen membuka matanya, melihat ke arah Lu Xu. Dia mengedipkan mata secara misterius, berkata, “Hanya kau yang melihatnya, jadi jangan beri tahu siapa pun.”

Lu Xu: “…”

Mo Rigen menarik tangan Lu Xu ke arahnya lagi, menekannya ke dahinya sendiri. Cahaya putih sekali lagi mulai bersinar. Anak muda itu tengah mengendarai serigala, dengan sekawanan serigala membuntuti di belakang saat mereka berlari melintasi padang rumput. Sungai perak di atas seperti air terjun, dan bintang-bintang berkelap-kelip dengan cahaya. Di malam yang panjang, dia mengangkat kepalanya untuk melihat ke langit, sementara Rusa Putih datang berlari dengan lembut ke arahnya dari langit di atas —

Beberapa saat kemudian, Mo Rigen bangun.

Lu Xu menarik tangannya ke belakang, memperhatikan Mo Rigen dengan lekat.

“Itu sudah selesai.” Mo Rigen menghela napas panjang. Kepalanya sedikit sakit, dan dia duduk, berpikir dalam-dalam sejenak.

“Siapa itu?” Tanya Lu Xu tiba-tiba.

“Ibuku,” jawab Mo Rigen sambil tersenyum. “Kau juga melihatnya, kan? Dia adalah wanita yang sangat cantik.”

Tidak peduli apa yang terjadi, Lu Xu tidak bisa menghubungkan mayat hangus itu dengan ibu di dalam ingatan Mo Rigen.

“Kenapa terjadi hal-hal seperti itu?” Tanya Lu Xu dengan gelisah.

Mo Rigen menjawab, “Saat ibuku melahirkanku, ayahku tidak berada di sisiku. Aku dibesarkan di Suku Arkhun, dan mereka mengatakan bahwa pada malam aku dilahirkan, hampir semua serigala di padang rumput yang luas datang. Mereka mengepung seluruh desa…”

Alis Lu Xu berkerut dalam, sementara Mo Rigen duduk di tempat tidur dan membuka jubah luar dan dalamnya, memperlihatkan tubuhnya yang berwarna perunggu. Dia berganti pakaian menjadi jubah linen kasar yang diletakkan di atas meja, menghadap ke cermin saat dia mengikat ikat pinggangnya, berkata pada Lu Xu yang bayangannya terpantul di cermin, “Ibuku berkata bahwa pada hari aku dilahirkan, aku dilahirkan dengan tubuh bulu serigala. Baru kemudian aku merontokkannya. Aku pikir itu karena kekuatan yao belum selesai saat proses reinkarnasi. Para tetua semuanya berpikir bahwa aku adalah seorang yaoguai. Baru setelah seluruh Suku Arkhun jatuh ke dalam api perang, aku meninggalkan wilayah Danau Hulun ke barat laut, membawa token ibuku saat aku pergi ke Shiwei untuk menemukan ayahku… Ada seorang dukun tua di suku yang bersikeras bahwa aku adalah reinkarnasi dari Serigala Abu-abu, dan dia menyuruhku pergi ke ngarai Gunung Heng…”

Lu Xu berkata, “Tapi Hongjun bilang kau memiliki empat adik laki-laki.”

“Kami tidak dilahirkan dari ibu yang sama,” Mo Rigen tersenyum, menggunakan tangannya untuk memberi isyarat. “Yang termuda hanya sebesar ini.”

Biasanya, Mo Rigen selalu periang di sekitar Lu Xu, jadi Lu Xu tidak menyangka bahwa dia akan melihat masa lalu seperti itu dalam mimpinya.

“Kalau tidak, kenapa aku mengatakan untuk membiarkanku pergi?” kata Mo Rigen. “Mara seharusnya sangat tertarik dengan masa laluku.”

“Nanti, apakah kau akan membalas dendam pada orang yang membunuh ibumu?” Tanya Lu Xu.

“Ayo pergi,” kata Mo Rigen alih-alih menjawab. “Ganti ke pakaian itu, dan kita akan berangkat bersama.”


Gelombang datang dengan kuat di Sungai Kuning, dan setelah meninggalkan Sungai Nei, perahu mulai bergoyang pelan. Hongjun butuh waktu seharian untuk membiasakan diri. Li Jinglong, di sisi lain, memeluk Hongjun dan tidur dari sore hari itu sampai fajar hari berikutnya. Saat Hongjun terbangun, dia menggeliat, hanya untuk menemukan bahwa Li Jinglong sudah lama terbangun. Pria itu memperhatikannya sembari memeluknya, namun tampaknya dia sedikit muram.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Hongjun.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Li Jinglong sebagai tanggapan, “Apa itu sakit?”

Masuk terlalu dalam untuk ketiga kalinya sudah menyebabkan Hongjun merasa tidak nyaman, tapi selain itu, semuanya baik-baik. Hongjun tidak pernah menyangka bahwa melakukan hal seperti ini akan membawa kegembiraan seperti itu. Tidak heran orang selalu mengatakan bahwa nafsu itu seperti pedang bermata dua, membuat mereka tenggelam lebih dalam bahkan jika mereka mencoba untuk keluar.

Itu adalah pengalaman yang mengguncang hati dan tubuhnya. Hongjun merasakan dorongan kecil untuk melakukannya lagi, tapi dia takut dia tidak akan bisa mengatasinya untuk sementara waktu. Namun, setelah rasa hausnya berkurang, saat dia dan Li Jinglong saling berpelukan, benar-benar telanjang, bertukar ciuman dan belaian, itu menyebabkan dia merasakan emosi yang disebut “cinta”.

“Apa kau baik-baik saja?” Hongjun mengulangi. “Kenapa warna wajahmu tidak terlihat baik?”

Hongjun baru saja menyaksikan Li Jinglong melakukannya tiga kali kemarin, tapi dia tiba-tiba berpikir bahwa wajah Li Jinglong tampak sedikit pucat. Li Jinglong, bagaimanapun, bertanya, “Apa kau bercanda? Apakah gege terlihat lemah? Haruskah kita melakukannya lagi?”

Hongjun buru-buru memohon agar mereka menundanya sampai besok, dan dia memegang tangan Li Jinglong, tersenyum saat dia berkata, “Sebenarnya, aku paling suka yang terakhir kali. Hanya saja setelah itu, itu sedikit tidak nyaman. Di mana tepatnya kau mempelajarinya?”

Li Jinglong meraih tangan Hongjun dan menekannya ke dadanya sendiri, membiarkannya mengusapnya. “Aku pernah melihatnya dalam gambar erotis sebelumnya.”

Hongjun: “…”

Li Jinglong mencium Hongjun lagi, sebelum bangkit dan berkata, “Biarkan aku pergi mencarikan sesuatu untuk kau makan…”

“Aku tidak mau makan,” kata Hongjun. “Tetap bersamaku dan tidur sebentar lagi.”

Li Jinglong menjawab, “Jadilah baik, setelah kau kenyang, aku akan memelukmu semaumu. Ada tiga hari lagi sampai kita mencapai Luoyang…”

Tapi tidak peduli apa yang dikatakan Li Jinglong, Hongjun terus memeluknya dan menolak untuk melepaskannya. Dia kemudian menjilat bibirnya dan bergerak menjilat putingnya. Saat Hongjun menggodanya seperti itu, seluruh tubuh Li Jinglong menegang.

“Lihat, kau tidak mengeras lagi…” kata Hongjun sambil meraih milik Li Jinglong. “Lain kali, kita bisa melakukannya beberapa kali berturut-turut…”

“Sebenarnya, itu karena…” Warna wajah Li Jinglong sedikit aneh.

Hongjun: “???”

Li Jinglong bertahan lebih lama, sebelum berkata, “Aku tidak bisa, aku harus bangun.”

Setelah mengatakan itu, dia mengabaikan pihak lain dan mendorong Hongjun ke samping, bangkit dengan tergesa-gesa. Dia dengan cepat hanya mengenakan celananya sebelum membuka pintu dan pergi, menaiki tangga dengan kaki telanjang. Ekspresi Hongjun menampakkan kebingungan saat dia duduk di tempat tidur, melihat keluar.

“Urgh…” Li Jinglong muntah.

Hongjun langsung tercengang. Tidak mungkin, apa melakukan itu sangat berbahaya bagi tubuh?

Di geladak, Li Jinglong menopang dirinya menggunakan sisi kapal, memuntahkannya di aliran sungai. Hongjun, yang tubuh bagian atasnya telanjang, buru-buru berlari mengejarnya, berkata, “Ini semua salahku. Apa kau baik-baik saja?”

Li Jinglong: “…”

Hongjun buru-buru mengusap punggungnya untuknya, bertanya-tanya, apa dia masuk angin kemarin? Li Jinglong, bagaimanapun, berkata dengan tenang, “Beri aku air.”

“Lain kali, mungkin lebih baik jika kita tidak…”

“Tidak, tidak, tidak, dengarkan aku, bukan karena itu… urgh…”

“…”

“Tuan pejabat mabuk laut! Kembalilah, berbaring dan istirahatlah ba! Kau akan baik-baik saja jika kau makan makanan yang sedikit lebih ringan dan sedikit lunak, jangan makan terlalu banyak!” seorang pekerja di kapal berteriak pada mereka berdua.

Wajah Li Jinglong pucat pasi, dan tidak peduli bagaimana dia merencanakan dan menghitungnya, dia tidak pernah berpikir bahwa dia akan benar-benar mabuk laut. Hongjun, di sisi lain, merasa bahwa ini sangat lucu; ini adalah pertama kalinya dia naik perahu, dan dia tidak pernah membayangkan mereka akan menemukan batu sandungan seperti itu. Namun, dia sudah melihat ini dijelaskan sebelumnya di beberapa buku medis, jadi dia berlari ke sana ke mari, mencari bubur biasa untuk dimakan oleh Li Jinglong. Seluruh tubuh Li Jinglong tampak layu, benar-benar berbeda dari sikapnya yang mendominasi di tempat tidur. Dia hanya bisa duduk di sana dan memakan buburnya.

Hongjun pertama-tama menusukkan jarum ke tempat di belakang telinganya1 Akupuntur., sebelum kemudian menggabungkan beberapa ramuan yang biasa digunakan orang-orang di kapal. Dia merebus obat dan menyuruhnya meminumnya, sebelum membaringkannya. Li Jinglong merasakan kelelahan yang mendalam, dan dia juga merasa seolah-olah kehilangan semua jati dirinya.

“Aku awalnya berencana untuk benar-benar intim denganmu dalam dua atau tiga hari mendatang…” Li Jinglong setengah lapar, tapi perutnya bergejolak, dan dia tidak memiliki energi. “Tapi ternyata, aku benar-benar mabuk laut.”

Hongjun tertawa. “Tidak apa-apa, aku juga suka yang seperti ini. Saat aku bersamamu, tidak peduli apa yang kita lakukan, aku menyukainya.”

Meskipun sudah bulan keempat di alam manusia, angin malam di atas Sungai Kuning masih cukup kuat. Dalam selimut mereka, Li Jinglong memeluk Hongjun dari belakang, dan saat mereka berdua mengangkat kepala mereka, mereka bisa melihat bintang-bintang bersinar di luar jendela mereka.


KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Keiyuki17

tunamayoo

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments