“Seolah-olah sepuluh tahun cahaya dan bayangan itu semua berlalu dalam sekejap mata.”

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Peringatan Konten: Smut eksplisit di seluruh bab ini!!


Hongjun memeluk punggung lebar itu saat dia dicium penuh nafsu hingga napasnya terengah-engah oleh Li Jinglong, dan saat seluruh tubuh Li Jinglong turun di atasnya, mendarat di tubuh Hongjun dengan kaki panjangnya yang masih tertutup oleh celana. Keduanya telah terperangkap dalam pergolakan gairah, dan Li Jinglong dengan tidak sabar melepas jubahnya, membebaskan dirinya dalam sekejap dari jubah luarnya sendiri sebelum bergerak untuk melepas jubah Hongjun.

Hongjun menjadi gugup saat itu, dan dia berkata, “Tidak…”

“Aku sudah pernah melihatnya sebelumnya,” Li Jinglong menundukkan kepalanya untuk melihat tulang selangka Hongjun, sebelum mengalihkan pandangannya ke atas, menatap matanya. “Kenapa kau begitu malu? Bukankah kau meneteskan air liur setiap kali melihat gege?”

Setelah mengatakan ini, Li Jinglong memeluk Hongjun dengan satu tangan, membuatnya berdiri di atas karpet. Dia memberi isyarat agar Hongjun berdiri dengan benar, lalu kemudian mundur dua langkah dan membuka ikatan jubah dalamnya untuk memperlihatkan dadanya, sebelum melepaskan ikat pinggangnya, menjatuhkan celananya ke tanah. Dalam sekejap, dia berdiri telanjang bulat di depan Hongjun.

Li Jinglong memiliki tubuh yang kuat dan otot yang lentur. Lingkar pinggangnya sempit, dan otot perutnya terlihat jelas, serta garis perutnya yang berotot sangatlah indah. Di antara kedua kakinya menggantung benda besar yang masih sangat mengejutkan bagi Hongjun seperti hari-hari sebelumnya, dan karena itu sudah terpendam untuk sementara waktu, sudah ada cairan yang keluar dari ujungnya. Untuk sesaat, tatapan Hongjun terpaku pada **1 Bukan salah ketik. Ini dalam ada dalam raws, tapi kita semua tahu apa itu. yang kuat dan elok ini. Li Jinglong terus berdiri di sana dengan telanjang bulat, menghadap padanya tanpa sedikit pun rasa canggung. Di bawah tatapan Hongjun, benda itu mulai berdiri tegak.

“Lepaskan,” kata Li Jinglong. “Lepaskan semuanya.”

Jantung Hongjun berdegup kencang saat dia berdiri di depan Li Jinglong, membuka ikatan jubah dalamnya untuk memperlihatkan dadanya, sebelum melepaskan ikat pinggangnya. Mereka berdua berdiri hanya dalam jarak beberapa langkah di antara mereka berdua, keduanya tanpa sehelai pakaian pun, tatapan mereka berkeliaran satu sama lain.

Tubuh muda Hongjun ramping namun kuat, kulitnya putih, dan meskipun organ genitalnya tidak setebal dan sepanjang Li Jinglong, itu masih dipenuhi dengan energi maskulin yang kuat. Di bawah tatapan pertimbangan Li Jinglong, benda itu sudah berdiri, yang menunjuk langsung ke arahnya.

Li Jinglong bertubuh seperti pendekar gagah yang tampak seperti cheetah, penisnya tebal dan besar, setelah saling menatap sebentar, Li Jinglong berkata, “Kemarilah.”

Hongjun mengambil beberapa langkah ke depan sebelum Li Jinglong meraih tangannya dan menariknya ke pelukannya. Dia kemudian memiringkan tubuhnya, melirik ke cermin panjang di ruangan itu.

Dua pria telanjang yang ada di cermin saling menekan begitu erat sehingga tidak ada ruang tersisa di antara mereka. Kepala Hongjun berbalik saat dia melihat pantulan mereka berdua, jadi dia membenamkan wajahnya di bahu Li Jinglong, memiringkan kepalanya sedikit untuk melihat bayangan mereka di cermin.

“Apa kau masih malu sekarang?” Li Jinglong bertanya dengan tenang.

Hongjun sedikit malu, tapi sekarang dia sudah menatap dari ujung kepalanya sampai ke bawah kakinya, dalam sekejap dia merasa bahwa dia tidak menyembunyikan apa pun lagi. Li Jinglong kemudian mengulurkan tangan untuk membelainya, pertama menyentuh dadanya, lalu bergerak ke bawah ke perutnya, sebelum menggenggam penis Hongjun di tangannya. Seluruh wajah Hongjun sudah memerah karena usapannya.

“Kenapa kau tidak menyentuhku?” Tanya Li Jinglong.

Hongjun bernapas dengan cepat, dan dengan satu tangan dia meraih benda milik Li Jinglong. Li Jinglong bertanya, “Apa kau menyukainya?”

Hongjun menganggukkan kepalanya pelan, sebelum Li Jinglong mengangkatnya, membaringkannya di tempat tidur, menghadapnya. Pada saat itu, emosi Hongjun tidak terkendali, dan dia menekan dirinya ke tubuh itu. Terakhir kali, Li Jinglong hanya menggunakan tangannya, tapi dia masih berhasil mengetahui titik sensitif Hongjun. Hongjun sudah mengingatnya dengan jelas dan sudah memikirkannya berulang kali, berkali-kali.

“Kau harus menyentuhku…” kata Hongjun dengan suara kecil. Dia ingin Li Jinglong melingkarkan tangannya lagi dan mengusapnya.

“Aku tidak akan,” kata Li Jinglong dengan serius. “Apa yang harus disentuh? Kau ingin gege menyentuhmu setiap hari, kau si kecil nakal.”

Wajah Hongjun langsung memerah, tapi kemudian Li Jinglong beralih ke taktik yang membuat wajahnya sangat memerah hingga hidungnya hampir mimisan — Li Jinglong menyejajarkan miliknya yang tebal dan keras dengan penis Hongjun, dan kedua batang itu saling bergesekan. Perasaan itu lebih nyaman dibandingkan saat hanya ada tangan di sekitar penisnya, dan itu terasa lebih nyata, yang menarik erangan darinya.

“Apa gege besar?”

“Besar…” Perut bagian bawah Hongjun ditutupi dengan cairan dari gesekan mereka, dan dia tidak tahu apakah itu berasal dari dirinya sendiri atau Li Jinglong.

Li Jinglong menekannya dan menciumnya tanpa henti, menjalin lidah mereka, dan dengan ciuman ini, Hongjun hanya bisa memeluk Li Jinglong dengan erat tanpa terkendali. Mereka berdua berciuman sampai mereka hampir kehabisan napas, seolah-olah mereka ingin menyatukan pihak lain ke dalam tubuh mereka sendiri. Hongjun merasa begitu dekat, dan dia menekan satu tangan ke dada Li Jinglong untuk memberi dirinya sedikit ruang.

Dia dengan tenang menatap wajah tampan Li Jinglong, dan dia tidak bisa tidak mengingat mimpi masa kecil mereka. Dia mengulurkan tangan untuk dengan lembut membelai sisi wajah itu, dan seolah-olah, sejak pemandangan alam mimpi ditanamkan hingga sekarang, sepuluh tahun cahaya dan bayangan itu sudah berlalu dalam sekejap mata.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Li Jinglong.

“Memikirkanmu,” Hongjun tersenyum, sebelum melingkarkan lengannya di leher Li Jinglong dan bergerak untuk menciumnya lagi.

Setelah berciuman sebentar, Li Jinglong bertanya dengan suara rendah, “Bisakah aku memasukkannya?”

Hongjun: “???”

Memasukkannya? Memasukkannya ke mana?

Hongjun bertanya, “Apa?”

“Memasukkannya ke belakang,” kata Li Jinglong, suaranya rendah. “Memasukkannya ke dalam.”

Hongjun ingat bahwa sebelumnya, Li Jinglong sudah menjelaskannya padanya dalam istilah yang dia mengerti, dan dia merasa malu, tapi dalam rasa malu itu ada sepotong kesenangan yang tak terlukiskan.

Dia menelan ludah sebelum mengangguk, dan Li Jinglong bertanya lagi, “Kau mengizinkanku memasukkannya?”

“Ya… ya,” jawab Hongjun, penuh dengan kecemasan, ketidakpastian, dan sedikit antisipasi, seolah-olah dia bisa merasakan kedalaman cinta yang Li Jinglong rasakan untuknya.

“Bagaimana kau akan memasukkannya?” Hongjun mengulurkan tangannya untuk sekali lagi mengusap penis Li Jinglong, berpikir bahwa benda besar dan panjang ini sama sekali tidak akan mungkin muat di lubangnya.

Li Jinglong dengan membabi buta meraba-raba pakaian yang berserakan di lantai, sebelum mendapatkan wadah kecil berisi sesuatu yang baru saja dia beli di pasar di dermaga, Hongjun bertanya, “Apa ini?”

“Salep,” Li Jinglong menggunakan jarinya untuk mengeluarkan isinya, lalu mengoleskannya ke telapak tangan Hongjun, memberi isyarat bahwa dia harus memegang penisnya di tangannya dan membalurkannya, Li Jinglong berkata, “Lapisi seluruhnya.”

Wajah Hongjun merah sampai ke telinga saat pertama kali mengoleskannya ke penis Li Jinglong, lalu menggunakan jarinya untuk memperkirakan ukurannya; panjangnya hampir satu chi2 Satu chi ada antara 25 dan 30 cm, Rip Hongjun…, ini benar-benar terlalu besar! Li Jinglong mulai merasa sedikit malu, bahkan saat dia mengoleskan sisa salep di antara kedua pantat Hongjun.

“Mohon bantuannya,”3 Biasanya digunakan saat kalian baru di pekerjaan/tempat kerja. kata Li Jinglong menggoda.

Hongjun tidak menyangka bahwa dia akan secara tiba-tiba mengucapkan kalimat seperti itu, dia tertawa keras sebagai tanggapan. Li Jinglong memeluknya dan menekan dahi mereka bersama, dengan penuh kasih sayang sambil berkata, “Bertahanlah.”

Hongjun berkata, “Baiklah, masuklah..”

Darah Li Jinglong mendidih, dan benda itu juga sangat kaku saat ditekan di antara kaki Hongjun. Dengan sedikit dorongan, penisnya mulai membukanya, dan Hongjun segera merasakan sakit yang hebat.

“Ah!” teriak Hongjun. “Itu … sakit!”

“Bertahanlah sedikit lebih lama.”

“Tidak mungkin, itu terlalu menyakitkan…”

Li Jinglong mendorong sedikit lebih jauh, dan Hongjun, yang tidak menyangka akan sesakit ini, mulai berteriak keras dengan rasa sakit yang luar biasa. Hongjun merasa hampir terbelah, dan Li Jinglong hanya bisa perlahan menariknya lagi.

Hongjun: “…”

Li Jinglong kemudian mulai tertawa kecil, berkata, “Tidak apa-apa, lain kali saja ba.”

Hongjun menuntut, “Kenapa itu begitu menyakitkan!”

Li Jinglong merasa sedikit tidak berdaya, dan dia mencium sisi wajah Hongjun, seolah-olah dia sudah meramalkan hasil dari tindakannya ini.

Hongjun bertanya, “Apa ini sangat menyakitkan bagi orang lain?”

“Aku belum pernah melakukannya dengan orang lain,” Li Jinglong terbagi antara tawa dan tangis. “Bagaimana aku bisa tahu tentang orang lain?”

Hongjun masih merasakan rasa sakit yang tersisa, dan dia bertanya, “Apa kau salah memasukkannya?”

“Apakah ada tempat lain di mana itu bisa masuk?” Li Jinglong menjawab.

Hongjun berpikir: ya, itu benar, dan berkata, “Sekali lagi… ayo kita coba sekali lagi.”

Dia sedikit tidak puas, dan saat ini Li Jinglong memeluknya lagi, menekannya dengan ragu, tapi Hongjun merasa itu lebih menyakitkan, ini hampir seperti siksaan aaaahhh, dan dia bergegas memohon belas kasihan dari Li Jinglong. Saat dia memohon belas kasihan, Li Jinglong benar-benar agak ingin memporak-porandakannya, tapi dia juga tidak tahan untuk benar-benar menggertak Hongjun, jadi dia hanya bisa mundur lagi.

“Maaf.”

Li Jinglong dan Hongjun berkata tanpa daya pada saat bersamaan.

Hongjun mulai tersenyum, dan berkata, “Apa yang membuatmu menyesal?”

“Itu terlalu besar,” kata Li Jinglong. “Tidak ada jalan.”

Hongjun berkata, “Tidak, aku sangat menyukainya.”

Upaya pertama gagal, dan saat Li Jinglong duduk, batang itu sedikit melunak. Hongjun kemudian berlutut dan duduk di pangkuannya, mencium bibirnya, dan dengan satu tangan dia mengulurkan tangannya untuk merasakan selangkangannya, sebelum bergumam ke telinganya, “Aku sangat menyukainya. Saat pertama kali melihatnya di Kolam Huaqing, aku menyukainya bahkan pada saat itu.”

Penis Li Jinglong tebal, besar, dan kuat, dan itu benar-benar memberi pemuda seperti Hongjun rasa kekaguman.

“Kau menyukai yang besar,” Li Jinglong mencium leher Hongjun dan berkata.

Hongjun mencium telinga Li Jinglong. Bagian paling sensitif dari tubuh Li Jinglong adalah daun telinganya, dan dengan ciuman dari Hongjun ini, dia mengeras sekali lagi, dan dia memeluk Hongjun saat mereka berdua tergeletak ke bawah, terus-menerus menggesekkan miliknya padanya. Lengan Hongjun melingkari punggungnya, dan saat dia membiarkan Li Jinglong menekannya, dia terengah-engah, “Mungkin jika kau sedikit lebih lembut itu bisa masuk…”

“Tidak bisa lebih lembut…” Napas Li Jinglong semakin kasar, dan meskipun dia tidak bisa memasukinya, dia memeluk pemuda yang begitu cantik, dan otot-otot telanjang mereka bergesekan satu sama lain, yang merupakan perasaan yang membuat pembuluh darahnya terbakar, terutama di tempat-tempat di mana Hongjun membelainya: punggung, pinggang, dan pinggulnya. Perasaan ini membuat Li Jinglong semakin bersemangat, dan mereka berdua saling bertubrukkan untuk sementara waktu, sebelum Li Jinglong tidak bisa mengendalikannya lagi, dia menembakkannya langsung ke perut Hongjun.

Dengan “ah”, Hongjun menyentuh tubuhnya sendiri, dan jari-jarinya merasakan cairan lengket yang licin di sepanjang kulit dari perutnya hingga dadanya. Li Jinglong masih sedikit terengah-engah saat dia berkata, “Aku tidak bisa menahannya lagi, aku keluar.”

Benda milik Hongjun masih keras dan tegak, dan dia mengendus semen Li Jinglong saat wajahnya memerah. Li Jinglong menggunakan tangannya untuk menyeka cairan yang sudah dia tembakkan ke tubuh Hongjun, dan dia meletakkan tangannya di bibirnya sendiri.

“Tidak!” Hongjun buru-buru menghentikan Li Jinglong, tapi dia tidak menyangka Li Jinglong akan memberinya ciuman pada saat itu, memasukkan semua cairan kental putihnya ke dalam mulut Hongjun.

Hongjun: “…”

“Telan,” Li Jinglong tersenyum. “Jika aku tidak bisa masuk ke dalam dirimu, maka aku akan membuatmu memakan semuanya.”

Hongjun menelan semuanya dan menatap Li Jinglong dengan wajah merah cerah. Li Jinglong tersenyum, “Anak baik”. Setelah mengatakan ini, dia kembali menciumnya. Hongjun belum keluar, dan setelah dipeluk dan dicium beberapa saat, dia merasakan gelombang gairah yang tidak ada jalan keluarnya, dan dia berkata, “Aku juga ingin…”

Li Jinglong dengan sengaja menggodanya, “Apa yang kau inginkan?”

“Keluar,” Hongjun sudah tidak peduli lagi, dan dia berkata, “Biarkan aku menggosoknya sedikit…” sebelum bergerak untuk mengusap naga besar yang tergantung di selangkangan Li Jinglong sekali lagi.

“Biarkan aku masuk sekali lagi?” Penis Li Jinglong sekali lagi agak menegang, tapi setelah mengeluarkannya sekali, itu tidak lagi sekeras dan setegak sebelumnya.

Hongjun masih berdebat, saat Li Jinglong menambahkan, “Aku tidak akan menyakitimu.”

Hongjun kemudian mengatakan en. Setelah mereka berdua mencobanya sekarang, pantatnya tidak terlalu sakit lagi, dan kali ini, Li Jinglong sangat berhati-hati, pertama menekan di sana tanpa bergerak, sebelum menjilat puting Hongjun dan berbicara dengannya.

“Bagian mana yang paling kau sukai untuk gege sentuh dan mainkan?” Tanya Li Jinglong dengan tenang.

Hongjun menjadi bersemangat karena pertanyaan ini, tapi dia masih sedikit malu, dan dengan berani menanggung rasa sakit dari punggungnya dia berkata dengan suara kecil, “Di sana…”

“Apa kau tahu di bagian mana yang paling aku sukai saat bermain denganmu?” Li Jinglong berkata, dengan suara yang sama kecilnya.

Hongjun tidak bisa berhenti terengah-engah. Dia merasa bahwa meskipun Li Jinglong keluar sekali, benda itu masih sangat besar, dan saat pertama kali mencoba memasukinya, dia sedikit tidak bisa bernapas dengan benar, dan itu sangat menyakitkan.

“Itu juga di sini,” Li Jinglong berkata pelan. “Dan juga bagian di bawah sana, di mana aku baru saja masuk…”

Hongjun menelan ludahnya sebelum berkata, “Sangat— sangat menyakitkan…”

Dia merasa bahwa Li Jinglong telah memaksa membuka tubuhnya, dan rasa sakit itu membuatnya mengerutkan alisnya dalam, menahannya dengan pahit.

“Hanya sedikit yang masuk,” Li Jinglong menghentikan gerakannya, menarik sedikit ke belakang, sebelum mendorong ke depan sedikit lebih dalam.

Hongjun buru-buru berkata, “Jangan bergerak! Sakit sekali!”

Li Jinglong kemudian menghentikan gerakannya, menciumnya tanpa henti sebelum mendorong lebih dalam. Kali ini, Hongjun bisa menanggungnya sedikit lebih baik, tapi dia merasa bahwa masuk dalam keadaan kering semacam ini mirip dengan siksaan; apa yang menyenangkan tentang itu!

Tapi kemudian, tiba-tiba, seluruh perahu tersentak, menekan Li Jinglong dan Hongjun bersama-sama. Pada saat itu juga Hongjun merasa Li Jinglong mendorongnya dengan keras, membuatnya berteriak keras.

Mereka sudah berlayar!

Satu dorongan itu membuat air mata keluar dari mata Hongjun. Li Jinglong juga tidak pernah mengharapkan pergantian situasi ini; perahu yang berlayar sebenarnya sudah membantunya, dan saat ia terselubung di dalam tubuh Hongjun, dia berkata, “Perahunya berlayar, aku tidak melakukannya dengan sengaja.”

“Aku…” kata Hongjun. “Kau sudah masuk sepenuhnya?”

“Tidak,” Li Jinglong menarik napas. “Hanya setengah, apakah masih sakit?”

Dorongan keras itu sudah menyebabkan rasa sakit yang parah pada Hongjun, tapi itu tidak berlangsung lama. Setelah beristirahat sebentar, dia benar-benar merasa bahwa itu tidak terlalu menyakitkan lagi, dan dia menghela napas, “Ini … ini sedikit lebih baik.”

Li Jinglong kemudian mulai perlahan-lahan mendorong masuk dan keluar, dan Hongjun segera merasakan bahwa di dalam rasa sakit itu muncul perasaan aneh… Batang Li Jinglong saat ini sedang bergesekan dengan bagian dalam tubuhnya, dan saat dia masuk sangat dalam, batang itu sepertinya menekan saraf di dalam tubuhnya, memberinya sensasi ingin buang air kecil namun tidak bisa mengeluarkannya.

“Ah ah ah…” Saat dorongan Li Jinglong semakin dalam, Hongjun merasa sangat tidak nyaman sehingga dia mulai mengerang.

“Apakah itu nyaman?” Li Jinglong memperhatikan wajah merah cerah Hongjun dan air mata yang terkumpul di sudut matanya, dan kulit kepalanya menggelitik saat darah mengalir di nadinya.

“Sangat… sangat tidak nyaman ah…” Hongjun memejamkan matanya. Perasaan itu menguasainya sedikit demi sedikit, seperti ombak yang menyapu seluruh tubuhnya.

“Tidak nyaman?” Saat Li Jinglong masuk, dia menggunakan tangannya untuk mengusap penis Hongjun, dan Hongjun langsung merasakannya. Li Jinglong sudah mendorongnya ke dalam tubuhnya beberapa kali, dan penisnya sendiri sudah benar-benar menegang!

Hongjun mengulurkan tangannya untuk mengusap miliknya sendiri, dan Li Jinglong mengusapnya dengan jari-jarinya sambil terus mendorong di antara kedua kaki Hongjun. Benda Hongjun begitu keras dan tegak sehingga mulai mengeluarkan precum, dan seiring dengan meningkatnya intensitas dorongan Li Jinglong, benda itu mengeluarkan cairan tanpa henti.

Hongjun: “..”

“Ini terasa enak kan.”

“Ah! Ah! Ah…” Hongjun sudah tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaan itu, yang berbeda dari yang dia rasakan saat mereka berdua telanjang dan saling meraba. Li Jinglong menusukkan batang besarnya tanpa henti ke tubuh Hongjun, dan tindakan mendorong itu tampaknya memicu kegugupan tertentu di dalam hatinya. Saat tubuhnya menjadi sasaran rangsangan yang tak henti-hentinya, perasaan itu menjadi sangat jelas.

“Hei,” Li Jinglong menggunakan satu tangannya untuk memeluk pinggang Hongjun, dan menatap matanya, berkata, “Kenapa kau menjadi begitu nakal?”

“Aku… Aku tidak,” Hongjun menghela napas.

Li Jinglong memeluknya dan berkata, “Panggil aku gege.”

Gegege,” erang Hongjun.

Li Jinglong kemudian bertanya, “Apakah masih sakit?” Saat dia dengan lembut mendorong masuk dan keluar.

Hongjun: “…”

“Apa kau menyukainya?” Li Jinglong bertanya pelan. “Apa kau menyukai saat gege menusukmu seperti ini?” Mengatakan ini, dia kemudian dengan lembut mencium bibirnya.

Hongjun hanya merasa bahwa dorongan di bawah tumpang tindih dengan cinta Li Jinglong untuknya, menyatu menjadi perasaan gairah yang kuat, dan dia tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri sebagai tanggapan saat dia mengerang, “Aku menyukainya… ah! Perasaan apa? Apa ini… aku tidak tahan lagi!”

Li Jinglong bergumam, “Perhatikan baik-baik perasaan itu, itulah bagaimana aku mencintaimu.”

Setelah mengatakan ini, Li Jinglong sekali lagi mencium bibir Hongjun, meningkatkan kecepatan dorongannya di bawah, dan Hongjun tidak bisa berhenti gemetar, sampai pada titik di mana dia bahkan tidak bisa mengerang lagi. Air mata secara reflek menetes dari sudut matanya, dan dengan beberapa dorongan lagi, kesenangan menguasai seluruh tubuhnya, dengan nyaman membungkus dirinya di sepanjang tulang punggungnya.

Li Jinglong tampaknya juga merasakannya, dan dia berhenti sejenak untuk membiarkan Hongjun beristirahat. Menatap mata itu, dia bergumam pelan, “Rasanya sangat enak saat bagian depan dan belakang dirangsang pada saat yang bersamaan, kan?”

Hongjun terengah-engah, “Kau … kau benar-benar … brengsek, kau menggertakku.”

Hongjun merasa bahwa setelah Li Jinglong menanggalkan pakaiannya, dia menjadi lebih buas daripada binatang yang sebenarnya.

“Kau tidak menyukainya?” Li Jinglong bertanya dengan tenang saat dia mempertimbangkannya, cinta kasih bersinar di matanya, dan dia berkata, “Jika kau tidak menyukainya, maka aku tidak akan menggertakmu lagi.”

“Aku menyukainya,” kata Hongjun. “Kau harus… menggertakku sedikit lagi.”

“Katakan lebih banyak,” kata Li Jinglong pelan. “Bagaimana aku harus menggertakmu?”

“Masuk… Masukkan…” Wajah Hongjun memerah saat dia mengucapkan kata itu.

“Kalau begitu aku harus melakukan apa?” Li Jinglong mencium telinga Hongjun, dan seluruh tubuh Hongjun meleleh saat dia mengerang, “Masukkan itu ke dalam diriku beberapa kali lagi…”

Mendengar ini, Li Jinglong mendekat ke tubuhnya lagi sebelum menusukkan miliknya ke dalam sekali lagi, Hongjun tidak bisa menahan diri dan mengeluarkan suara “ah”. Teriakkan gemetar itu dipenuhi dengan kesenangan dan kejutan yang menyenangkan, dan Li Jinglong langsung dipenuhi dengan nafsu binatangnya, memiringkan kepalanya ke samping, bibir mereka bertemu sekali lagi saat dia meningkatkan kecepatannya dalam bercinta dengan Hongjun. Hongjun dicium sampai dia hanya bisa mengeluarkan wu wu terus-menerus, dan tangannya mencengkeram lengan kuat Li Jinglong, kedua kakinya melingkari pinggang ramping Li Jinglong. Li Jinglong tidak berhenti sedetik pun, bahkan setelah hampir seratus tumbukkan, dan menjelang akhir, Hongjun berjuang bebas dari ciuman Li Jinglong, mengerang keras, seluruh tubuhnya gemetar, saat dia merasa dirinya benar-benar kehilangan kendali.

“Aku tidak bisa menahannya lagi, ah! Ah! AH!”

Namun yang keluar bukanlah kencing, melainkan semen. Gairah yang lengkap dan tanpa hambatan itu disertai dengan Hongjun yang kejang beberapa kali, dan penisnya yang sangat kaku berkedut saat cairan putih menyembur ke dada dan perutnya. Saat dia keluar, bagian belakangnya juga mengerat bersamaan dengan kedutan itu, menyebabkan Li Jinglong juga mengeluarkan erangan rendah.

Hongjun merasa Li Jinglong juga keluar, dan serbuan kesenangan itu memberinya kepuasan dalam cinta.

Tidak lama kemudian, Li Jinglong menarik napas dalam-dalam, mendorong lengannya untuk melihat Hongjun, sebelum menciumnya lagi.

Hongjun sangat lelah, seluruh tubuhnya lemas, warna kemerahan di leher dan dadanya belum hilang saat dia menatap Li Jinglong dengan mata linglung.

“Aku mencintaimu.” Kata Li Jinglong.

“Aku juga mencintaimu,” Hongjun menatap langsung ke dalam mata Li Jinglong, dan diam-diam menjawab.

“Aku mencintaimu,” ulang Li Jinglong.

“Aku tahu,” Hongjun mulai tersenyum.

“Aku mencintaimu!” Li Jinglong berteriak ke arah Hongjun. “Aku mencintaimu, apa kau mendengarku?”

Ekspresi Li Jinglong sedikit marah, tapi juga menyimpan sedikit kebahagiaan, seolah-olah dia sudah kembali ke masa kecilnya.

Hongjun juga dengan lantang menjawab, “Aku tahu!”

“Cepat tarik keluar…” Hongjun mendorong dada Li Jinglong.

“Tidak.” Li Jinglong berkata, wajahnya kosong dari ekspresi apa pun.

Hongjun: “…”

Li Jinglong melingkari pinggang Hongjun, memasukkannya sedikit lebih dalam, dan Hongjun bergegas memohon belas kasihan. “Tidak, tidak, rasanya tidak nikmat lagi!”

“Aku tidak akan bergerak,” jawab Li Jinglong. “Aku hanya akan memelukmu seperti ini untuk saat ini.”

Li Jinglong jelas tidak ingin mundur kali ini, tidak setelah kegagalan yang pertama dan kedua kalinya serta kesulitan untuk ketiga kalinya ini, untuk mencegah kemajuannya ditolak oleh Hongjun sekali lagi di lain waktu. Setelah Hongjun keluar, dia sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi; dia hanya ingin istirahat, tapi Li Jinglong tidak mau melepaskannya.

“Kau mencintaiku atau tidak!” Li Jinglong mengancam.

Hongjun hanya bisa membiarkannya berada di dalam seperti ini; untungnya, setelah dua kali Li Jinglong keluar, dia sedikit melunak, dan selama dia tidak bergerak, itu tidak terlalu menyakitkan. Li Jinglong kemudian berbaring miring, membiarkan Hongjun menekan satu kaki di pinggangnya saat dia memeluknya dengan erat. Dia kemudian bergerak sedikit lebih jauh, berada lebih dalam sejauh yang dia bisa.

Hongjun terengah-engah sebentar sebelum dia memulihkan energinya. Li Jinglong menciumnya lagi, berkata, “Ayo kita mengobrol.”

“Mengobrol tentang apa,” Hongjun saat ini sedang memikirkan cara untuk mengeluarkan orang licik ini dari tubuhnya sendiri.

“Tentang kau yang merindukanku dan hal-hal seperti itu,” Li Jinglong menjawab. “Apa kau lebih menyukai gege sekarang?”

Hongjun membelai wajahnya dan berkata, “En, aku lebih menyukaimu sekarang.”

Baru saja mereka berdua terperangkap dalam panasnya momen itu, tapi sekarang setelah dia memikirkannya, dia sudah melupakan sesuatu … apa yang mereka lakukan adalah tindakan yang sangat berlebihan.

“Lalu bagaimana kalau kau menikah denganku,” kata Li Jinglong serius.

Napas Hongjun bertambah cepat, dan Li Jinglong menambahkan, “Jika kau tidak mengatakan apa pun, itu berarti kau setuju.”

Pada saat yang sama, Hongjun merasa bahwa penis Li Jinglong di dalam dirinya sudah mengeras lagi!

“Tarik terlebih dulu,” pinta Hongjun. “Kau mengeras lagi.”

Li Jinglong menekannya ke samping, sedikit menyandarkan berat badannya padanya, dan dia berkata, “Berjanjilah padaku bahwa kau akan menjadi istriku.”

Hongjun membuka matanya lebar-lebar. Li Jinglong benar-benar mulai mendorongnya dengan sombong untuk kedua kalinya! Perasaan saat Hongjun keluar pertama kali kembali sekali lagi!

“Baiklah… baiklah,” kata Hongjun.

Li Jinglong memeluknya erat-erat, mendekat ke arahnya, dan berkata, “Kau harus memanggilku apa?”

Hongjun menjawab, “Panggil apa… ah!”

Li Jinglong memikirkannya, sebelum berkata, “Lebih baik kau terus memanggilku gege, sekarang panggil aku seperti itu.”

Gegege,” Perasaan itu menyapu Hongjun lagi, tapi tubuhnya sudah terasa sangat lelah, dan dia berkata, “Tidak… tidak lagi!”

Li Jinglong mengangkatnya ke posisi duduk, dan dia sendiri berbaring, membiarkan Hongjun duduk di pinggangnya, dan berkata, “Lakukan sendiri. Jika kau terlalu lelah, jangan repot-repot.”

Hongjun menegakkan punggungnya dan duduk, meraih sesuatu di belakangnya dengan tangannya untuk merasakan, dan saat dia menemukan bahwa benda Li Jinglong yang tersangkut begitu dalam di dalam dirinya baru setengah masuk, kulit kepalanya kesemutan. Dia ingin mendorong Li Jinglong keluar, tapi saat itu meninggalkan tubuhnya, Hongjun merasakan kekosongan. Dia tidak tahan, jadi dia duduk lagi, membiarkan benda besar itu memenuhi tubuhnya lagi.

Li Jinglong tersenyum dan berkata, “Kau masih menginginkan lebih?”

Hongjun berkonflik di luar keyakinannya sendiri, dan Li Jinglong menambahkan, “Jika kau menginginkannya, lakukanlah, lakukan sendiri.”

Dengan wajah merah, Hongjun berjongkok di pinggang Li Jinglong, dan dengan dahi berkerut dalam, dia merasa bahwa Li Jinglong menekan tempat di dalam tubuhnya yang membuatnya mati rasa. Li Jinglong baru saja mendorong kakinya lebih jauh, melingkarkan tangannya di pinggang Hongjun, membiarkannya bersandar ke depan dan meluncur ke belakang dengan lebih mudah. Hongjun mulai berteriak keras oleh gerakan itu, yang sangat nyata, membuat benda Li Jinglong menekan prostatnya setiap saat, menggosoknya dengan kuat, dan setelah beberapa kali, seluruh tubuh Hongjun mulai bergetar, dan dia mulai mohon belas kasihan sambil mengerang.

Li Jinglong memberi isyarat agar Hongjun berbalik, dengan punggung menghadapnya saat mereka masih terhubung, dan kedua tangannya terulur dari belakang untuk menarik kaki Hongjun. Mereka berdua menghadap ke cermin sekarang, dan Li Jinglong memberi isyarat agar dia melihatnya. Saat Hongjun melihat, dia melihat dirinya dengan kaki terbentang lebar, dengan penis di antara kedua kakinya sekali lagi tegak, dan batang Li Jinglong masih berada di dalam dirinya di bawah sana. Dia merasakan gelombang rasa malu yang luar biasa menyapu dirinya, dan dia memiringkan kepalanya ke samping. “Jangan… jangan seperti ini.”

“Bisakah gege masuk lebih dalam?” Li Jinglong mencium bibirnya sebentar dan bertanya pelan.

Saat Hongjun tidak menanggapi, Li Jinglong mengangkat pinggulnya, mendorong seluruh penisnya ke dalam tubuh Hongjun.

Hongjun: “…”

Mata Hongjun melebar saat dia merasakan bahwa benda Li Jinglong sudah melewati rektumnya, perlahan menekan saraf di ujungnya, dan saat ujungnya menekan suatu ujung yang jauh, benda itu seperti mendorong sesuatu hingga terbuka…

“Tidak… tidak lagi!” Hongjun memohon dengan keras. “Itu terlalu dalam… tidak… tunggu!”

Li Jinglong menahan napas. Hongjun tidak berani bergerak jika tidak diperlukan, merasa bahwa di dalam tubuhnya, Li Jinglong sudah mendorong langsung ke tempat misterius lain yang lebih dalam. Dia terus mendorong di sepanjang jalan, dan menyarungkan kurang dari setengah dirinya dengan kuat di bagian bawah ususnya.

Hongjun: “…”

Benda Li Jinglong sudah dua pertiga dari jalan masuk, dan Hongjun pada awalnya merasa perutnya sakit karena tekanan yang konstan, tapi dalam sekejap, gelombang gairah aneh lainnya menyapu dirinya, seolah-olah sesuatu di tubuhnya sudah didorong hingga terbuka oleh Li Jinglong.

“Apakah itu menyakitkan?” Tanya Li Jinglong. Saat dia melihat Hongjun menegang, dia juga sedikit khawatir.

Hongjun juga bingung dengan apa yang dia rasakan, dan dia hanya bisa berkata, “Kau sudah keterlaluan!”

Li Jinglong mulai mendorong perlahan, dan dalam sekejap Hongjun mulai berteriak keras. Didorong ke dalam oleh Li Jinglong memberinya perasaan puas yang aneh, dan perasaan awal di mana prostatnya yang ditumbuk menghilang, sekarang digantikan oleh perasaan menekan dan membuka di sepanjang kumpulan saraf yang lebih dalam di sana. Gairah itu segera menyapu ke kulit kepalanya saat dia lupa waktu dan mulai merasakan denyut itu.

Li Jinglong melihat reaksi Hongjun, seolah-olah dia sudah menyerahkan seluruh tubuhnya ke Li Jinglong. Dia tidak berani terlalu kasar, mendengarkan perintahnya, mendorong dengan lembut, dan Hongjun seolah kehilangan logikanya menoleh untuk melihat Li Jinglong. Bibirnya sedikit terbuka dan matanya tidak fokus; kepalanya berputar, dan matanya berkaca-kaca, dan Li Jinglong mau tidak mau menciumnya dengan kuat.

Setelah entah berapa lama, Hongjun mengerang, “… Aku akan keluar.”

Li Jinglong menelan ludah, dan dia berkata pelan, “Bersama-sama. Aku akan memberikannya padamu, aku akan memberikan semuanya padamu.”

Tepat setelah itu, Li Jinglong meningkatkan kecepatannya, dan Hongjun keluar terlebih dulu, cairan putih menyembur keluar, dan Li Jinglong menggosokkan jarinya ke semen Hongjun sebelum mengangkatnya ke mulut kecil kekasihnya. Kesadaran Hongjun sudah kabur, jadi dia secara otomatis mengisap dan menjilat jari di mulutnya. Li Jinglong merasakan hisapan Hongjun di jarinya, dan gairahnya memuncak saat dia masuk ke bagian terdalam Hongjun.

“Hu hu…”

Kali ini Li Jinglong perlahan menarik diri.
Hongjun merasa kali ini Li Jinglong telah masuk terlalu dalam sehingga perutnya sedikit sakit, dan dia berkata, “Kau masuk terlalu jauh.”

“Lain kali aku tidak akan bermain-main seperti ini,” Li Jinglong juga merasa bahwa dia sudah bertindak terlalu jauh, dia memeluk Hongjun, menciumnya, dan berkata, “Aku mencintaimu.”

“Aku sangat mencintaimu,” erang Hongjun. Yang terakhir kali dia secara sepenuhnya, tanpa pamrih, menyerahkan seluruh dirinya pada Li Jinglong, dan bahkan setelah mereka selesai, dia masih merasakan gelombang demi gelombang getaran susulan yang melanda dirinya.

“Lihatlah keluar jendela?” Kata Li Jinglong. “Kita sudah meninggalkan Chang’an.”

“Tidak,” Hongjun membenamkan dirinya ke dada Li Jinglong, berkata, “Sangat lelah…”

“Apakah kau ingin memasukannya ke gege?” Dengan satu tangan, Li Jinglong memeluk Hongjun, dan dia diam-diam berkata, “Untukmu, aku akan melakukan apa saja, dan tidak masalah siapa yang memasukkannya pada siapa.”

Dengan suara pu, Hongjun mulai tertawa. Dia membenamkan kepalanya di dada Li Jinglong, memiringkan wajahnya untuk meliriknya dari samping, matanya masih dipenuhi dengan semacam kebahagiaan yang memabukkan. Li Jinglong mencium wajahnya lagi, sebelum menarik selimut.

“Tidak sekarang,” kata Hongjun.


KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Keiyuki17

tunamayoo

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments