Penerjemah: Rusma
Proofreader: Keiyuki


Mata hitam pekat Li Sui kini dipenuhi dengan kesedihan. Ini adalah pertama kalinya Lu Shang dengan jelas merasa bahwa orang yang duduk di seberangnya adalah seorang pria – Li Sui bukanlah anak kecil yang bisa dengan mudah ditipu lagi.

“Bahkan tidak sedikit pun?” Li Sui bertanya, berusaha sekuat tenaga untuk menahan air matanya. Li Sui memohon dengan matanya, dia berkata dengan suara bergetar, “Dari awal sampai akhir, apakah kamu memperlakukanku dengan baik hanya karena laporan kecocokan itu?”

Lu Shang menjawab Li Sui dengan diam. Pertanyaan Li Sui seperti pecahan kaca yang pecah, menusuk langsung ke dalam jantungnya, itu menyesakkan. Lu Shang tidak bisa menjawab, dia juga tidak tahu harus menjawab apa.

“Aku mengerti.” Li Sui menganggukkan kepalanya sambil menertawakan dirinya sendiri.

Lu Shang sepertinya sangat lelah, dia hanya menatap Li Sui, dia membuka mulutnya sedikit tapi akhirnya tidak mengatakan apa-apa.

“Selama setahun terakhir, aku telah mencari, mencari cara untuk menyembuhkanmu. Aku mempertimbangkan banyak pilihan, bertanya kepada banyak orang, membaca banyak buku. Satu-satunya hal yang tidak pernah terpikirkan olehku adalah bahwa obat untukmu ada di dalam diriku selama ini.” Li Sui tersenyum, “Lu Shang, aku sebenarnya sangat senang. Setidaknya… setidaknya kamu bisa diselamatkan.”

Sejak Li Sui melihat Lu Shang memasuki gerbang depan, dia sudah menyerah, dia akan menyerah pada takdir. Ada bagian dari diri Li Sui yang bahkan dia sendiri tidak ingin mengakuinya – bahkan jika dia tahu Lu Shang akan mencungkil jantungnya, dia akan dengan sukarela membiarkannya.

“Berhenti bicara.” Lu Shang memotongnya, suaranya menekan, “Aku tidak akan melakukan transplantasi jantung, jadi berhentilah bicara.”

“Kenapa?” Li Sui menatap Lu Shang dengan mata tajam dan menginterogasi.

Tatapannya menusuk, Lu Shang tidak ingin menatapnya, dia mengalihkan pandangannya. Lu Shang memanas, telinganya berdenging, dan dadanya sakit, dia benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk berbicara.

“Kenapa?” Li Sui mengulangi pertanyaannya, tatapan matanya masih tajam dan tanpa henti, seolah-olah dia harus melihat menembus Lu Shang atau kalau tidak, dia akan mati.

Lu Shang sangat kesakitan sampai punggungnya dipenuhi keringat, dia tidak tahan lagi. Dia berusaha sekuat tenaga untuk berdiri, menuju ke atas.

Ketika Lu Shang berjalan melewati Li Sui, Li Sui memegang lengannya, Li Sui bertanya, “Apakah kamu akan melarikan diri?”

Mereka berdua saling menatap mata satu sama lain, lalu Lu Shang berkata dengan suara kecil, “Tidak ada yang bisa kukatakan padamu. Kamu baru berusia 20 tahun, apa yang kamu tahu.”

Li Sui memandang Lu Shang, dan ekspresinya sedikit berubah, “Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa aku tidak tahu apa-apa?”

Li Sui perlahan mendekat ke arah Lu Shang, matanya sedikit terkulai saat dia berkata, “Ketika sesuatu terjadi padaku di kamp pelatihan, mengapa kamu berusaha keras untuk menemukanku? Kamu bahkan menggunakan koneksimu untuk melibatkan militer. Di permukaan, kamu tampak acuh tak acuh terhadap masalahku di tempat kerja di Tong Yan, tapi kemudian kamu membantuku menyingkirkan semua rintangan, mengapa? Ketika aku menciummu saat aku mabuk, mengapa kamu tidak menolak? Mengapa kamu bereaksi terhadapku?”

Mata Li Sui menjadi gelap, dia perlahan-lahan menarik Lu Shang ke dalam pelukannya. Dia berkata tepat di samping telinga Lu Shang, “Lu Shang, tahukah kamu betapa sedihnya aku saat melihatmu terbaring di meja operasi? Apakah kamu tahu betapa aku ingin menendang semua orang yang mengganggumu saat aku melihat betapa kamu menderita? Apakah kamu tahu berapa banyak tekad yang harus aku gunakan hanya untuk menghentikan diriku sendiri agar tidak menyerangmu setiap malam? Aku tidak hanya mencintaimu, aku juga ingin…”

Li Sui tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi versi yang belum selesai saja sudah cukup mengejutkan Lu Shang. Lu Shang tidak pernah tahu bahwa anak ini sudah mencapai tahap ini dalam hal hubungan mereka.

“Tolong jangan usir aku.” Li Sui mendaratkan ciuman ringan di tengkuk Lu Shang, suaranya penuh dengan kesedihan, “Aku mencintaimu. Tolong jangan merampas hakku untuk tetap berada di sisimu.”

Lu Shang tanpa sadar menarik lehernya sedikit. Li Sui memeluk Lu Shang dengan sangat erat, seolah-olah Li Sui takut Lu Shang akan pergi. Li Sui memeluknya begitu erat sehingga Lu Shang merasa lengannya mati rasa, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melawannya sebentar, “Bisakah kamu melepaskannya dengan tanganmu terlebih dahulu …”

“Aku tidak akan melepaskannya.” Li Sui dengan paksa menarik kepala Lu Shang ke belakang, menghujani ciuman dari dagu Lu Shang ke bawah. Tangan Li Sui merogoh ke dalam mantel Lu Shang, membuka kancing kemejanya satu per satu, “Aku tahu kamu menyuruh Paman Yuen dan Bibi Lu pergi agar kamu bisa berbicara denganku sendirian.”

Lu Shang hanya merasakan mati rasa di otaknya, demamnya membuatnya lamban dan kepalanya berputar, pada saat ini dia tidak bisa memahami apa yang dikatakan Li Sui.

“Apa yang kamu lakukan?” Lu Shang mengerutkan kening, “Kamu … umm.”

Li Sui menggigit bibir Lu Shang, yang membuat semua kata yang akan diucapkan Lu Shang kembali ke tenggorokannya. Itu jelas bukan ciuman yang lembut, kedua bibir mereka memiliki sedikit darah ketika Li Sui menjauh. Li Sui dengan sengaja menghembuskan udara panas ke telinga Lu Shang, “Lu Shang, aku tidak bisa menahannya lagi. Aku ingin membawamu untuk diriku sendiri.”

“Kamu…” Lu Shang gemetar tak terkendali, napasnya juga menjadi tidak stabil, anggota tubuhnya lemah. Lu Shang hanya merasakan tubuhnya terbakar, dia hanya melihat dunia berputar saat dia membuka matanya.

Li Sui terpesona, dia menghisap leher Lu Shang dengan keras, tanda merah segera terbentuk di kulit pucat pihak lain. Perasaan sakit akibat gigitan itu terlihat jelas, Lu Shang sedikit mengerang. Cupang itu seperti sebuah tanda; melihat mahakaryanya sendiri, Li Sui menjadi lebih bersemangat, dia mengangkat Lu Shang secara horizontal, membawanya ke sofa.

Mantel dan ikat pinggang Lu Shang jatuh ke lantai, Li Sui membuka kemeja Lu Shang dan memenjarakan tangannya, menekan perjuangan kecil yang dilakukan Lu Shang dengan sangat mudah. Li Sui menciumnya lagi dari leher, mencium tulang selangkanya, dadanya, pusarnya… Seolah-olah semua belenggu hilang, Li Sui merajalela di atas kulit lembut yang telah dia impikan selama setahun penuh, meninggalkan banyak tanda yang tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali dirinya.

Lampu di langit-langit begitu menyilaukan, bibir Lu Shang bergetar membuka dan menutup dengan lembut. Penglihatan Lu Shang menjadi ganda, perasaan tercekik karena kekurangan udara seperti tinta tebal, menyebar di otaknya dengan cepat, dan kesadarannya menjadi kabur.

Li Sui menjilat dan menggigit, menghembuskan napas panas yang membakar ke kulit putih Lu Shang. Tangannya dengan rakus meluncur ke bawah di sepanjang daging yang lain, membelai setiap titik dengan lembut sampai mencapai punggung Lu Shang. Li Sui ragu-ragu sejenak, ekspresinya menjadi gelap, lalu dia dengan paksa mendorong jari telunjuknya ke dalam.

Rasa sakit yang tiba-tiba itu seperti anak panah yang terbang langsung ke arah otak Lu Shang. Napas Lu Shang terhenti karena rasa sakit itu, sedikit kesadaran terakhir meninggalkannya dan terbang ke udara.

“Lu Shang…” Li Sui mendapatkan apa yang dia inginkan, dia bergumam pelan di samping telinga Lu Shang, dalam suaranya terdengar ketidaksabaran, “Bagian dalammu sangat panas.”

Orang yang diserang tidak membalas. Li Sui terdiam, akhirnya menyadari bahwa sedikit pergulatan dari orang di bawahnya telah hilang. Segera Li Sui bergerak ke wajah Lu Shang, “Lu Shang?”

Lu Shang terbaring di sofa dengan tenang, wajahnya yang pucat dan tidak berdarah miring ke samping dengan lemas, napasnya tidak stabil, dan tubuhnya sedikit gemetar. Otak Li Sui mulai berdering karena khawatir, mungkinkah sesakit itu? Saat Li Sui memikirkan hal itu, dia segera menarik jarinya keluar, mengangkat kepala Lu Shang tanpa tahu harus berbuat apa.

“Maafkan aku. Aku… apakah aku menyakitimu?”

Kulit Lu Shang terasa panas, Li Sui tidak menyadarinya sebelumnya, karena dia terlalu fokus. Sekarang Li Sui meletakkan punggung tangannya di atas kulit Lu Shang, Li Sui menyadari bahwa tidak hanya kulitnya yang terbakar, bahunya juga menggigil seolah dadanya terasa sakit.

Li Sui melihat orang di bawahnya, pakaiannya berantakan. Ekspresi Li Sui berubah drastis saat tiba-tiba dia tersadar, warna di wajahnya hilang, saat dia berkata dengan suara gemetar, “Lu Shang… kamu demam?”

Kekuatan yang menekan tubuhnya menghilang. Lu Shang mengerutkan kening saat dia memasang ekspresi kesakitan. Dia tanpa sadar meringkuk, dan dengan betapa tenangnya Lu Shang biasanya, tindakan ini membuatnya terlihat seolah-olah dia ketakutan.

“Jangan takut, tidak apa-apa.” Li Sui gugup, dia segera memeluk Lu Shang dengan erat, “Aku … maaf, maafkan aku…”

Namun, orang yang berada dalam pelukan Li Sui masih mengatupkan bibirnya, Lu Shang juga tidak membuka matanya, tidak seperti orang yang sehat.

Li Sui hampir menangis, karena dia tidak mendapat jawaban bahkan setelah memanggil Lu Shang berulang kali. Li Sui dengan kikuk memakaikan kembali pakaian Lu Shang, lalu mengangkatnya dari sofa, membawanya ke garasi mobil, “Ayo pergi ke rumah sakit. Maafkan aku. Aku tidak benar-benar ingin menyakitimu, aku hanya ingin memaksamu untuk mengatakan yang sebenarnya. Maafkan aku… Aku tidak tahu kalau kamu sakit…”

Li Sui membawa Lu Shang langsung ke rumah sakit, Leung ZiRui kebetulan sedang bertugas karena kasus perampokan sebelumnya. Leung ZiRui melihat Li Sui membawa Lu Shang masuk, sudut mata Li Sui memerah, dan dia juga menggumamkan sesuatu sepanjang waktu. Leung ZiRui membeku karena khawatir, dia pikir sesuatu yang besar telah terjadi.

Leung ZiRui membawa Lu Shang ke ruang gawat darurat, dia baru merasa tenang setelah melakukan pemeriksaan awal. Leung ZiRui merasa aneh, kondisi kesehatan Lu Shang buruk dalam beberapa hari terakhir, jadi demam satu atau dua hari bukanlah masalah besar, dia bertanya-tanya mengapa anak itu bereaksi berlebihan.

Keraguan itu hanya berlangsung sebentar, karena dia mengerti segalanya ketika perawat datang untuk menghubungkan Lu Shang ke peralatan medis. Leung ZiRui membuka baju Lu Shang dan menemukan cupang yang menakutkan di leher dan dadanya, Leung ZiRui sangat terkejut sampai-sampai dia hampir jatuh ke lantai.

Dia tidak mengatakan apa-apa dan langsung bergegas keluar untuk memberikan pukulan kepada Li Sui. Leung ZiRui sangat marah sehingga kata-kata itu bersarang di tenggorokannya, setelah lama terdiam, dia berkata, “Tidakkah kamu tahu dia menderita penyakit jantung?”

Li Sui tidak menghindari pukulan itu, dia menerimanya langsung. Setelah Li Sui menenangkan diri, dia meminta maaf dengan kepala tertunduk, matanya dipenuhi kebencian pada diri sendiri.

Melihat ekspresi Li Sui, Leung ZiRui merasa sakit kepalanya semakin parah, dia menunjuk ke arahnya, “Kerja bagus, anak nakal, kamu … kamu berani menggunakan kekerasan padanya.”

Tangan Li Sui mengepal, ujung jarinya memutih karena kekuatannya. Li Sui tidak memberikan jawaban, dia menggigit bibirnya sendiri, kepalanya menunduk. Kesedihan di wajahnya membuat Leung ZiRui marah tapi pada saat yang sama juga mengejutkannya.

Dengan bagaimana keadaan meningkat, Li Sui kehabisan pilihan. Kalau saja dia kurang cerdas dan mempercayai omong kosong Lu Shang, dengan patuh pergi ke luar negeri untuk belajar seperti yang diminta Lu Shang. Entah itu, atau dia seharusnya tidak pernah jatuh cinta padanya. Tentu saja, Li Sui akan sangat terpukul, sekarang keadaannya sudah seperti ini, dia tidak bisa mendapatkan cinta yang diinginkannya, dia juga tidak bisa dicintai oleh orang lain. Tentu saja dia merasa sangat sengsara.

Setelah disuntik, kondisi Lu Shang menjadi stabil. Demam Lu Shang akhirnya turun ketika pagi hari tiba, tapi Leung ZiRui dengan cepat menemukan masalah kecil pada jantung Lu Shang. Jadi, setelah berdiskusi dengan Paman Yuen, Leung ZiRui memutuskan untuk melakukan operasi kecil.

Para perawat dan asisten ahli bedah sibuk mempersiapkan instrumen operasi. Setelah memeriksa obat bius, Leung ZiRui melirik Li Sui yang sedang duduk di sudut ruangan, “Apakah kamu akan tinggal di sini?”

Li Sui menatap Lu Shang yang tidak sadarkan diri di atas meja operasi, “Bolehkah aku?”

“Kamu bisa.” Leung ZiRui mengenakan sepasang sarung tangan, lalu terdiam sejenak, “Tapi aku sarankan kamu menahan diri untuk tidak melihat.”

Melihat Li Sui menatapnya, Leung ZiRui menjelaskan, “Gambaran operasi yang sedang berlangsung sangat intens, orang yang belum melalui pelatihan profesional tidak akan bisa mengatasinya. Aku tidak ingin melihatmu muntah di sini.”

Li Sui sedikit gemetar, lalu dia bertanya, “Apakah aku memengaruhimu?”

“Kamu tidak mempengaruhiku.” Leung ZiRui terus mengerjakan benda-benda di tangannya, “Kamu mempengaruhi asistenku.”

Tatapan Li Sui berpindah ke dokter bedah wanita yang berdiri di samping Leung ZiRui, dengan masker bedah menutupi wajahnya, dia menoleh ke samping dengan malu-malu. Li Sui berdiri dan berjalan ke sisi Lu Shang, dia memegang tangan Lu Shang sebentar, “Aku akan menunggumu di luar.”

Tangan itu tidak memiliki kehangatan, dan tidak bereaksi terhadap Li Sui. Li Sui memegang tangan Lu Shang lebih erat, dan hanya merasakan sakit di hatinya.

Itu hanya operasi kecil, jadi tidak butuh waktu lama, Lu Shang didorong keluar ruangan sebelum tengah hari. Dibandingkan dengan terakhir kali, Li Sui lebih terbiasa dengan protokol rumah sakit. Li Sui mengenakan gaun steril dan menunggu dengan sabar di unit perawatan tempat Lu Shang dirawat. Ketika dia melihat mata Lu Shang bergerak dengan lembut, dia memanggil dokter untuk melepas selang.

Lu Shang terlalu lemah, dia masih tidak sadarkan diri ketika dipindahkan ke kamar rumah sakit biasa. Li Sui menggunakan sedotan untuk memberi minum Lu Shang.

Mata Lu Shang terbuka sedikit saat Li Sui melakukan itu. Dengan cepat, kelopak matanya turun lagi – tapi Lu Shang masih setengah sadar sepanjang waktu.

Pada malam hari, Leung ZiRui pergi ke kamar Lu Shang untuk memeriksanya, dia melihat Li Sui masih duduk di samping tempat tidur dengan tatapan kosong, itu membuat hatinya melunak, “Kamu harus memakan sesuatu. Dia pasti akan segera bangun.”

Tatapan Li Sui tertuju pada wajah Lu Shang, mendengar apa yang dikatakan Leung ZiRui, Li Sui dengan lembut meletakkan tangan Lu Shang kembali ke bawah selimut, tindakan itu dipenuhi dengan kasih sayang dan keengganan untuk pergi.

Lu Shang terbangun setelah sekitar dua jam, hanya Leung ZiRui yang ada di sampingnya.

“Berhenti mencari, dia tidak ada di sini.” Leung ZiRui melihat Lu Shang sedang melihat-lihat di sekeliling ruangan, jadi dia menghentikannya.

Lu Shang mengangkat tangannya untuk menarik masker oksigen dari wajahnya. Butuh beberapa waktu untuk membiasakan diri, lalu dia menoleh untuk melihat Leung ZiRui. Pihak lain memiliki raut wajah yang aneh, dan ada kemarahan dalam suaranya, “Bukankah aku sudah memperingatkanmu sebelumnya tentang bahaya memelihara harimau?”

“Kamu menyukainya, ‘kan?” Nada suaranya cukup yakin.

Lu Shang memalingkan kepalanya.

“Jangan mencoba berbohong. Aku tahu betul betapa seriusnya penyakitmu, aku tahu bahwa kamu tidak begitu lemah sehingga kamu bahkan tidak bisa menangani anak nakal itu. Kamu mungkin bisa menipu anak itu, tapi kamu tidak bisa menipuku. Jika kamu tidak memiliki perasaan terhadapnya, kamu pasti tidak akan membiarkan dia melakukan itu padamu.”

Yang mengejutkan, Lu Shang tidak menyangkal.

“Apakah kamu tahu bahwa kamu pada dasarnya sedang bermain-main dengan hidupmu di sini?” Leung ZiRui memasang ekspresi sedih.

Lu Shang menurunkan kelopak matanya. Dia siap untuk menghadapi kemarahan Leung ZiRui. Tanpa diduga, Leung ZiRui hanya menghela napas panjang, dia terdengar senang, “Lu Shang, aku tidak pernah menyangka akan ada hari di mana kamu akan jatuh cinta.”

“Sebelumnya, aku sering mengatakan bahwa kamu tidak memiliki kepribadian dan hidupmu terlalu membosankan. Namun, ketika aku mencoba menempatkan diriku pada posisimu, aku membayangkan bahwa aku tidak bisa melakukan yang lebih baik darimu. Pemeriksaan yang tak ada hentinya, operasi yang tak ada habisnya. Setiap malam saat kamu memejamkan mata, kamu bahkan tidak yakin apakah kamu bisa bangun keesokan harinya. Memikirkan kehidupan yang kelabu dan tidak berwarna seperti itu membuatku merasa muram.”

Lu Shang menatapnya, ada keterkejutan di matanya.

“Ini cukup bagus, sungguh. Kamu harus mencoba berbagai macam emosi dan pengalaman, membuat hidup dan semua penderitaan menjadi sepadan.”

Lu Shang tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, “Kamu tidak keberatan?”

“Mengapa aku keberatan? Aku adalah temanmu, tapi aku juga seorang dokter, menyelamatkan orang adalah pekerjaanku.” Leung ZiRui melanjutkan setelah jeda sejenak, “Aku sendiri sebenarnya juga cukup tercabik-cabik, aku selalu berusaha mencari cara untuk menyelamatkanmu tanpa harus menyakitinya. Aku akui aku sudah berbohong padamu tentang sesuatu. Aku memintamu untuk menunggu, tapi itu bukan agar kamu bisa menunggu jenis penekan penolakan yang baru, melainkan agar aku bisa menemukan cara lain. Aku tidak ingin kamu kehilangan harapan dalam hidup, tapi aku juga tidak ingin mengambil nyawanya.” 1Dalam bab 2, Leung ZiRui berbicara tentang jenis siklosporin baru yang sedang dia kembangkan. Benda itu adalah sejenis penekan kekebalan tubuh, biasanya diberikan setelah transplantasi organ untuk mengurangi kemungkinan penolakan terhadap sel asing.

Mereka berdua jarang punya waktu untuk berbicara dan menjernihkan masalah, Lu Shang terdiam sejenak, tatapannya berpindah ke jendela di sisinya, “… pada awalnya aku benar-benar hanya menginginkan jantungnya, tapi aku tidak ingin merasa terlalu bersalah tentang hal itu, jadi dengan egois aku ingin dia sendiri yang bersedia melakukannya. Ketika itu benar-benar terjadi sekarang, entah bagaimana aku benar-benar enggan melepaskannya.”

Leung ZiRui berkata dengan putus asa, “Bicara tentang menyedihkan, kamu tidak mendapatkan jantungnya, malah jantungmu sendiri yang menyerah; Lu Lao Ban, itu sepertinya bukan tawaran yang bagus.”

Lu Shang menggerakkan kakinya yang kaku sedikit, lalu bertanya, “Di mana dia sekarang?”

Leung ZiRui menggaruk bagian belakang kepalanya, dan dia berkata dengan malu, “Baiklah, tentang itu. Aku sedikit terlalu marah tadi, jadi aku memberinya pukulan keras. Aku kira dia masih tertekan karena hal itu. Ya, salahku. Bantu aku meminta maaf dan menyelesaikan masalah dengannya, oke?”


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply