Penerjemah: Keiyuki
Proofreader: Rusma


Setelah mengatakan itu, An Zhe mengabaikannya dan langsung maju. Tak terdengar langkah kaki di belakangnya sampai dia menggunakan kartu identitasnya untuk membuka pintu. Kemudian Josie bergegas ke sisinya dan meraih bahunya. “Apakah kamu benar-benar An Ze? Tapi kamu—”

An Zhe mengambil setumpuk laporan uji genetik di atas meja dan menyerahkannya kepada kepada Josie.

Josie bergumam, “Ini…”

An Zhe menundukkan kepalanya dan menemukan kertas terluar bertuliskan kalimat tentang melawan para hakim. Dia perlahan menarik kertas itu dan Josie melihat laporan tes genetik tersebut.

“Kamu…” Dia meliriknya sekilas sebelum menatap An Zhe. “Kamu benar-benar lolos dari Abyss?”

“Aku selamat,” jawab An Zhe. “Aku lupa hal-hal lain.”

Tangan Josie gemetar saat memegang laporan genetik tersebut. Sudut mulutnya terangkat saat dia mendongak dan tersenyum. “Aku… aku sangat senang. Aku tidak menyangka kamu akan kembali.”

Dia meletakkan laporan genetik tersebut di atas meja. Lalu mencondongkan tubuhnya ke arah An Zhe, otot-otot alisnya berkedut karena tampak sedikit bersemangat. “Kamu… seberapa banyak yang sudah kamu lupakan?”

An Zhe mundur selangkah.

“Aku sudah melupakan segalanya.” Dia berseru, “Tolong jangan ganggu hidupku.”

“Apa kamu tidak ingat siapa aku?” Suara Josie sedikit merendah. “Kita tumbuh bersama.”

“Terima kasih. Bisakah kamu keluar sekarang?”

“Aku—” Josie jelas tidak menyangka orang itu akan memperlakukannya dengan sikap seperti ini. “Kamu tidak seperti ini sebelumnya.”

Lalu setelah beberapa saat, sikapnya melunak lagi. “Aku tidak akan mengganggumu. Istirahatlah yang cukup dan aku akan datang menemuimu besok. Aku sangat bahagia. An Ze, kita adalah orang terdekat di dunia.”

An Zhe tetap diam dan tidak berbicara sampai Josie berbalik. Kemudian dia menutup pintu dengan lembut. Dia merasa tidak realistis jika Josie membiarkannya pergi begitu saja dan meninggalkan ruangan, tapi mungkin Josie melarikan diri karena merasa bersalah.

Ruangan itu kembali sunyi. An Zhe perlahan bersandar di tempat tidur, memeluk bantal saat dia merasakan ketidaknyamanan seperti asap tipis. Ketidaknyamanan ini bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk An Ze. Perjanjian antarmanusia mungkin begitu rapuh. Josie bukanlah orang yang paling dekat dengan An Ze. Setelah An Zhe mengambil sporanya, dia akan kembali ke Abyss, menemukan gua yang tenang dan berakar di samping tulang-tulang putih An Ze, menghabiskan sisa hidupnya sebagai jamur.

…Sporanya.

Di luar jendela, hari sudah malam dan aurora bergulir di langit yang gelap seperti biasa. An Zhe duduk di meja dan menyalakan lampu.

Pertama, dia harus mencari pekerjaan agar tidak mati kelaparan. Di saat yang sama, dia juga harus mencari informasi tentang sporanya. Satu-satunya petunjuk adalah selongsong berwarna kuningan itu.

Memikirkan hal ini, An Zhe dengan cemas menyentuh sakunya. Dia selalu takut benda ini akan hilang—oke, masih ada. Sebagai jamur, dia bisa menyembunyikannya di tubuhnya, tapi hal ini mustahil dilakukan sebagai manusia. Benda itu terlalu kecil dan bisa terlepas dari sakunya kapan saja. Akhirnya, An Zhe membuka laci di kamarnya dan menemukan tali kulit hitam, menggantungkan selongsong peluru di sana.

Ada sebuah mesin hitam kecil di dalam laci itu. Dia mencoba mengamati detail penampakannya dan akhirnya menemukan beberapa informasi dari ingatannya. Ini adalah alat komunikasi. Nomor ID setiap orang adalah nomor komunikasi. Manusia dapat menggunakan komunikator untuk berbicara jarak jauh. Namun, ini hanya dapat digunakan di dalam pangkalan karena tidak ada sinyal di luar.

Dia mengisi daya komunikator tersebut. Dia tidak menggunakannya, tapi melihatnya ‘menyala’ saja tampaknya membuat manusia merasa sangat senang. Setelah selesai, dia akhirnya duduk dan mulai melihat ke meja.

Buku catatan di atas meja itu adalah sesuatu yang pernah ditulis An Ze dan tulisan tangannya sangat indah. Di sisi dekat dinding, terdapat lebih dari dua lusin buku. Ini mungkin karena An Ze sebelumnya suka membaca. An Zhe menelusuri nama-nama di punggung buku sebelum meraih dan mengambil sebuah buku abu-abu sederhana berjudul ‘Manual Dasar’.

Dia membalik halaman dan hanya melihat satu kalimat: Kepentingan manusia lebih diutamakan daripada yang lainnya.

An Zhe tanpa sadar mengerutkan bibir dan membuka halaman berikutnya. Halaman kedua adalah daftar isi. Seluruh buku panduan dibagi menjadi empat bagian: Hukum dasar, aturan hidup di pangkalan, pengantar area fungsional, dan peta.

An Zhe melewatkan bagian hukum dasar. Dia tahu bahwa dia adalah jamur yang taat hukum. Jamur yang taat hukum tidak akan melanggar aturan spesies apa pun. Bagian aturan hidup menjelaskan secara rinci jadwal area tempat tinggal. Setiap hari pukul 6 pagi, listrik akan menyala dan air serta makanan akan tersedia selama satu jam. Untuk waktu malam, listrik akan mulai menyala pukul 6 sore. Waktu penyalaan listrik sedikit lebih lama dan baru akan padam pukul 9 malam. Setiap area perumahan dilengkapi dengan menara alarm yang tinggi. Ada tiga jenis alarm, yaitu ‘berkumpul’, ‘evakuasi’, dan ‘tempat penampungan darurat’. Alarm berkumpul berupa bunyi bip pendek berfrekuensi tinggi, sementara alarm evakuasi berupa sinyal suara gelombang bertahap. Alarm tempat perlindungan darurat berbunyi tajam dan panjang. Penghuni pangkalan harus mematuhi aturan hidup ini dan instruksi dari menara alarm. Sisa hidup mereka itu terserah mereka.

An Zhe agak bingung ketika melihat ini. Dia merasa bahwa dengan aturan seperti itu, setiap orang bisa berbaring di kamar mereka dan makan serta minum secara teratur. Kemudian dia segera menyadari tujuan pangkalan itu.

Meskipun setiap orang bisa hidup bebas, tinggal di pangkalan membutuhkan biaya. Untuk mendapatkan mata uang yang beredar di sekitar pangkalan, orang-orang harus pergi mencari pekerjaan atau menjadi tentara bayaran, mengumpulkan bahan-bahan berharga dari luar dan menyerahkannya ke pangkalan dengan imbalan kompensasi.

Namun… jika setiap orang pergi ke area yang paling tidak berbahaya dan hanya mengambil sesuatu, itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum mereka.

An Zhe terus membolak-balik buku itu. Bagian selanjutnya adalah pengantar area fungsional pangkalan.

Area pertama yang muncul di buku ini adalah tentang ‘stasiun pasokan’. Stasiun pasokan dibagi menjadi 1, 2, dan 3. Stasiun 1 dan 2 dimiliki oleh militer dan dibangun di pintu masuk dan keluar pangkalan. Stasiun ini bertanggung jawab atas mata uang, kesiapan tempur, serta verifikasi dan pertukaran material. Setiap kali tim tentara bayaran kembali dari medan perang, staf di stasiun pasokan akan menghitung material yang mereka kumpulkan menjadi mata uang, sementara senjata dan kendaraan lapis baja disita. Material tersebut tidak diizinkan masuk ke kota dan tidak akan digunakan kembali sampai tim tentara bayaran mengajukan permohonan kembali untuk keluar. Tim tentara bayaran juga dapat menukar mata uang dengan senjata, peluru, baju besi, bahan bakar, atau bahkan membeli kendaraan lapis baja dengan berbagai model.

Tidak seperti dua stasiun pasokan pertama, lokasi stasiun pasokan ke-3 berada di dalam kota. Stasiun ini bertanggung jawab atas pertukaran barang-barang sipil. Dengan menggunakan mata uang pangkalan, warga sipil dapat menukarnya dengan perlengkapan hidup, makanan dan bahan-bahan, alkohol, barang elektronik, dan banyak barang lainnya. Mereka juga dapat melakukan transaksi di perumahan.

Di seberang stasiun pasokan ke-3 terdapat ‘pasar bebas’. Terkadang, barang-barang yang diperoleh tentara bayaran dari sisa-sisa manusia tidak dibutuhkan oleh militer. Pada saat itu, mereka dapat membawa barang-barang yang telah dipastikan aman ke kota dan memperdagangkannya secara bebas.

Pada titik ini, An Zhe melihat sebaris catatan kecil di bawahnya.

Catatan: Pasar bebas bukanlah fasilitas pangkalan resmi.

Catatan: Hubungan kerja dan kontraktual yang terjalin melalui pasar bebas tidak dilindungi oleh hukum pangkalan. Konsekuensi ditanggung sendiri.

An Zhe hanya melihat kata ‘pekerjaan’ dan tidak ada yang lain. Dengan kata lain, pasar bebas adalah tempat yang menawarkan pekerjaan.

Dia melanjutkan dan terdapat perkenalan singkat dari setiap area pemukiman. Area yang padat penduduk adalah Distrik 6 dan 7. Area yang lain hanya memiliki sedikit manusia dan bangunan-bangunannya kosong, sementara Distrik 8 adalah tempat perlindungan terpusat dengan fasilitas keamanan yang lengkap.

Setelah itu, ada pengarahan dari Pengadilan. An Zhe teringat hakim kolonel bermata hijau dingin itu dan membaca perlahan, membaca kata demi kata.

Peran pengadilan bukan hanya untuk mengidentifikasi orang-orang heterogen di gerbang kota. Mereka juga akan melakukan patroli harian di daerah padat penduduk kota, melakukan penyaringan sekunder dan menghilangkan bahaya tersembunyi. Rute patroli utama adalah di sekitar stasiun pasokan, tapi bangunan tempat tinggal juga akan diperiksa dari waktu ke waktu, terutama jika ada laporan perilaku abnormal.

Entah kenapa, An Zhe teringat kalimat, ‘Sebaiknya begitu.’

Jika memungkinkan, An Zhe berharap Lu Feng akan tetap berada di gerbang selamanya dan hakim tidak perlu merendahkan harga dirinya untuk datang ke gedung-gedung tempat tinggal.

Setelah melihat-lihat, area-area lain tidak terlalu berkaitan dengannya. Misalnya, kantor urusan kota, kantor pertahanan kota, kota utama, dll. Seperti disebutkan sebelumnya, pangkalan tersebut terdiri dari kota luar, atau Akropolis, dan kota utama. Kota utama merupakan pangkalan penting untuk penelitian ilmiah. Fasilitas energi dan militer terletak di sini dan merupakan pusat politik pangkalan. Semua orang dilarang masuk kecuali mereka memiliki izin khusus atau izin tinggal.

Akhirnya, setelah melihat-lihat peta pangkalan, An Zhe menutup buku itu. Dia sekali lagi menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang berbeda dari jamur.

Buku kedua yang dibukanya adalah ‘Manual Penilaian Stasiun Pasokan’. Begitu melihat sampulnya, ingatan yang terkait dengannya muncul di benaknya, jauh lebih jelas daripada ingatan lainnya. An Zhe berpikir mungkin ini berarti sangat penting bagi An Ze untuk pergi ke stasiun pasokan.

Kalau begitu, kenapa ia berjanji pada Josie untuk pergi ke alam liar bersamanya? Dia berpikir lama sebelum akhirnya menyimpulkan, ‘An Ze memang manusia biasa.’

An Ze melewatkan ujian. Ujian rekrutmen stasiun pasokan tahun ini diadakan 15 hari yang lalu ketika An Ze sudah berubah menjadi tulang belulang. Namun, itu tidak masalah. Setahun kemudian, ketika stasiun pasokan merekrut orang lagi, An Zhe akan mencobanya jika dia masih hidup di pangkalan manusia. Dengan cara ini, dia bisa memberi tahu An Ze bagaimana rasanya setelah kembali ke gua.

Membaca dalam waktu lama sangat menguras energinya. Setelah mencoba membaca dua halaman buku panduan penilaian, An Zhe mengantuk dan akhirnya tidur. Keesokan paginya, agar tidak bertemu Josie, dia meninggalkan kamarnya pukul empat pagi. Dia turun dan naik kereta ke stasiun pasokan, akan pergi ke pasar bebas di seberangnya untuk mencari pekerjaan.

Pukul 7 pagi ketika turun dari kereta dan masih ada kabut putih tipis di udara. Pasar bebas itu berupa bangunan bundar besar dengan empat pintu masuk dan keluar. Dia masuk dari pintu terdekat.

Bau alkohol keras menusuk hidungnya. Empat meja panjang tertata di pintu masuk. Orang-orang berpakaian seperti tentara bayaran memukul meja dengan tinju dan berbicara keras, dengan alkohol di depan mereka. Terkadang, seseorang meminta tambahan alkohol. Kemudian, pelayan akan mengisi alkohol dan mengeluarkan mesin kecil, menempelkan kartu identitas ke mesin tersebut sebelum menyerahkan tagihan kepada pelanggan.

Seorang tentara bayaran berkulit gelap sedang minum sendirian. Dia melihat An Zhe dan mengangkat alisnya sambil menyeringai, menggoyangkan gelas di tangannya. “Nak, apa yang kamu cari? Apa kamu datang untuk belajar minum?”

Seorang wanita berambut pendek di sebelahnya langsung menyikut dadanya, suaranya serak namun penuh kegembiraan. “Pasal 32, anak di bawah umur tidak boleh minum.”

Pria itu menjawab, “Minum ya minum. Apakah dia akan dibawa pergi oleh hakim?”

Wanita itu tertawa terbahak-bahak. “Anak di bawah umur tidak tahu betapa berkuasanya hakim.”

“Dia akan segera tahu.

An Zhe berdiri di samping mereka, mencoba mengatakan bahwa dia bukan anak di bawah umur. Namun, di sela-sela ketika dia memikirkan kata-kata ini, mereka berdua saling menempel, bibir bertemu bibir dan saling berpelukan. Dia menyadari bahwa tidak ada yang benar-benar peduli.

Karena itu, dia mengalihkan pandangan dari sini dan melihat ke tempat lain.

Aroma sup kentang tercium dari pintu kanan. Rasanya jauh lebih kuat daripada sup kentang yang disajikan di lobi lantai satu gedung apartemen. Dicampur dengan aroma daging yang menyenangkan manusia. Seorang tentara bayaran menyantap semangkuk sup plastik putih untuk sarapannya.

Baunya membuat An Zhe agak lapar karena dia belum sarapan.

Lebih jauh ke bawah, pemandangan serupa terlihat. Aula dipenuhi suasana ramai dan selain meja-meja panjang yang menjual makanan dan minuman, terdapat banyak kios yang menjual pakaian, ransel, dan sarung tangan. Semakin jauh, semakin sedikit kios yang menjual barang-barang tetap. Sebaliknya, terdapat banyak benda aneh dan lain-lain di kios-kios yang tidak dikenali An Zhe.

“Ini adalah ponsel pintar yang baru ditemukan dari Waste City 511 yang dapat dihidupkan dengan listrik.” Saat An Zhe berjalan, seorang pemuda berpakaian hitam dan membawa ransel muncul di hadapannya seperti monyet. Pria itu sangat kurus dengan mata sipit. Sesaat setelah dia menghentikan An Zhe, dia segera mengeluarkan sebuah kubus hitam dari punggungnya dan menggoyangkannya di depan An Zhe. “Lihat ini? Aku akan memberimu diskon 10% dan memberimu kabel pengisi daya. Kamu bisa bermain game dengannya.”

An Zhe menjawab, “Terima kasih, tapi tidak perlu.”

Pria muda itu segera mengeluarkan sesuatu berwarna putih dari tasnya. “Kalau begitu aku akan mengganti modelnya. Warna ini sangat cocok untukmu. Ini baru dan mesin buah terakhir sebelum kiamat. Harganya dulu 10.000, sekarang hanya 100.”

“Terima kasih, aku tidak membutuhkannya.”

Pria itu terus mengeluarkan benda lain. “Tidak membutuhkannya? Kalau kamu punya ponsel, apa kamu butuh power bank? Power bank bisa digunakan untuk mengisi daya ponselmu jika listrik padam di pangkalan. Kapasitasnya sudah habis dan hanya bisa diisi ulang dua kali. Aku akan memberimu diskon. Harganya hanya 30R.”

An Zhe berkata jujur, “Aku tidak punya uang.”

Ekspresi pemuda berpakaian hitam itu langsung menegang dan ia mengembalikan barang-barang itu ke dalam ranselnya. Ia mengangkat kakinya, bersiap pergi, sambil berbisik, “Untuk apa datang ke pasar gelap kalau tidak punya uang?”

“Tunggu sebentar,” An Zhe menghentikannya.

Dia berbalik, tapi sikapnya sangat negatif. “Ada apa?”

“Aku… aku sedang mencari pekerjaan.” An Zhe bertanya, “Apakah kamu tahu harus ke mana?”

Pemuda itu mengerutkan kening. Ia berbalik dan mengamati An Zhe dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Ternyata kamu seorang pencari kerja.”

“Ya,” jawab An Zhe jujur.

“Kalau begitu kualifikasimu bagus,” kata pemuda itu. “Setelah kamu punya uang, ingatlah untuk membeli ponsel dariku. Oh, aku akan tetap tinggal di pasar gelap bulan ini.”

An Zhe, “……”

Dia bertanya, “Jadi ke mana aku harus pergi?”

“Lihat, di sana.” Pemuda itu menunjuk ke salah satu sudut. “Turunlah ke lantai tiga bawah tanah dan cari bosnya.”

An Zhe berterima kasih dan tersenyum padanya. “Terima kasih.”

“Kamu terlihat bagus. Carilah orang yang bisa diandalkan. Jika kamu kaya, ingatlah untuk membeli ponsel dariku!”

“…Baiklah.”

Tiga lantai di bawah tanah.

Lembap—itulah kesan pertama An Zhe tentang tempat ini. Jamur seharusnya menyukai udara yang kaya air seperti ini, tapi bau menyengat yang menyertai kelembapan membuatnya mengerutkan kening.

Dia melihat sekeliling. Dalam cahaya redup, ruangan ini tampak seperti sarang lebah. Koridornya berkelok-kelok dan dindingnya terbuat dari kompartemen sempit yang tak terhitung jumlahnya hanya dengan lembaran plastik. Tidak ada aliran udara dan uap air mengembun di lembaran plastik, tetesan air yang padat dan kecil. Seluruh ruangan mengeluarkan dengungan halus. Mendengarkan dengan saksama, itu adalah efek dari bisikan banyak orang yang menyatu dan bergema, dengan tawa melengking sesekali.

An Zhe ragu-ragu sebelum melangkah maju beberapa langkah.

Dia melihat kompartemen kecil di kedua sisi. Sisi kiri kosong sementara sisi kanan berisi seorang wanita berambut panjang dengan kepala tertunduk. Begitu mendengar langkah kakinya, ia mendongak sebelum menunduk lagi.

An Zhe melanjutkan dan mendengar suara seorang wanita.

“Bagaimana iklim di Lembah 2?”

“Tidak apa-apa.” Kali ini, suaranya rendah dan lembut, agak serak. Suku kata terakhirnya tersendat cukup lama dan sepertinya hidungnya tersumbat. “Cuacanya nyaman, tapi terlalu banyak gempa bumi. Kami mengalami tiga gempa bumi dalam sebulan. Yang terburuk adalah ketika semua orang berada di luar. Aku sendirian di dalam mobil dan hampir berpikir mereka tidak akan bisa kembali.”

Wanita itu tertawa. “Mereka tidak bisa kembali, tapi kamu bisa membawa mobil itu pergi.”

“Terakhir kali aku berbicara dengan tim, kapten mengatakan dia akan mengajariku mengemudi. Hasilnya, ternyata dia hanya menipuku. Dia bilang akan mengajakku lain kali dan menipuku lagi. Aku tinggal bersama mereka selama sebulan dan hanya mendapat 300. Apakah ini masih mahal?”

“Dengarkan saja kata-kata tentara itu, tapi jangan terlalu mempercayainya.” Wanita itu bertanya, “Kamu belum terbiasa ditipu, ya?”

Langkah kaki An Zhe terhenti.

Dia teringat wajah Housen dan tatapan serakahnya, dan tiba-tiba tahu jenis pekerjaan apa yang dilakukan di lantai tiga bawah tanah. Selain itu, ada catatan di buku manual: hubungan kerja dan kontrak yang dibangun melalui pasar bebas tidak dilindungi oleh hukum dasar. Konsekuensi ditanggung sendiri.

Dia tidak ingin tahu konsekuensinya.

An Zhe diam-diam berencana untuk pergi. Dia baru saja berbalik ketika menabrak tubuh yang lemah.

“Yo.” Suara perempuan bernada tinggi terdengar. “Sayang, apakah ini pertama kalinya bagimu?”

Kata ‘sayang’ terasa samar baginya dan An Zhe secara refleks mundur selangkah. Di depannya berdiri seorang wanita jangkung berkulit sewarna madu dan bermata biru. Rambut cokelat panjangnya ikal di ujungnya dan matanya sipit dan terangkat saat ia tersenyum padanya.

“Apakah kamu seorang pembeli? Atau kamu di sini untuk menjual dirimu?” Wanita itu meniup telinganya dan tersenyum.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

Leave a Reply