English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Editor: _yunda


Buku 2, Chapter 18 Part 1

Di dalam Gua Qinling.

Begitu Duan Ling tersandung dan mulai tergelincir, dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres dan dia langsung bereaksi — ketika Bian Lingbai menginjak tangannya, dia dengan cepat melepaskan busur dari punggungnya dan berteriak untuk mengalihkan perhatian Bian Lingbai, kemudian saat jatuh dari tebing, dia menggunakan tali busur untuk menangkap singkapan batu yang menjorok keluar dari tebing di dekatnya pada saat yang bersamaan.

Jari-jarinya mencengkeram busur dengan erat, Duan Ling menggantung terbalik dari tebing dan menendang beberapa batu di sebelahnya. Sebuah batu terlepas dan berguling ke bawah menuju dasar jurang, menghasilkan suara yang teredam.

Langkah Bian Lingbai semakin jauh. Duan Ling diselimuti dengan keringat dingin, ditekan ke dasar tebing. Hampir saja. 

Beberapa saat yang lalu, Bian Lingbai masih memintanya untuk memancing Helian Bo, jadi dia jelas tidak berpikir untuk membunuh Duan Ling sebelum mereka meninggalkan Tongguan. Dia baru memutuskan untuk menendangnya ketika mereka sampai di sini, jadi itu pasti ide yang muncul setelah dia menemukan harta karun itu.

Duan Ling bermaksud memberitahunya tentang harta karun itu sebelumnya, sehingga Bian Lingbai akan kembali ke sini lagi. Dengan begitu, yang harus dia lakukan hanyalah menunggu Wu Du kembali dan memintanya untuk meracuni tempat itu atau membiarkan kelabang emas itu menggigitnya, dan mereka akan dapat membunuhnya tanpa ada yang tahu, karena orang mati tidak dapat bersaksi.

Ketika saat itu tiba, Duan Ling akan mengantar Bian Lingbai yang diracuni kembali ke Tongguan untuk meminta perawatan medis, dan membantu Bian Lingbai mengendalikan Tongguan sementara itu. Tapi tidak ada perhitungan dari Duan Ling yang meramalkan perubahan Bian Lingbai — detik pertama dia masih ramah, dan detik selanjutnya dia membunuh saat menemukan harta karun itu. Adapun bagaimana dia seharusnya memikat Helian Bo sekarang, apa yang akan dia lakukan begitu Wu Du kembali dan seterusnya, tidak satu pun dari hal-hal itu berada dalam lingkup pertimbangan Bian Lingbai; satu-satunya hal yang dia pikirkan adalah membunuh, dan baru memikirkan apa yang harus dilakukan setelahnya. Duan Ling terbiasa berurusan dengan orang-orang cerdas, dan perkembangan baru ini sama sekali tidak sesuai dengan akal sehat. Dia benar-benar meremehkan tingkat kebodohan Bian Lingbai.

Duan Ling tergantung dalam kegelapan di sebelah tebing untuk sementara waktu, mencoba untuk bergerak di sepanjang permukaan tebing, dan saat meraba-raba dinding di sekelilingnya, dia tiba-tiba menemukan tenon kayu1 mencuat dari sana.

Tenon itu tidak panjang, hanya cukup lebar untuk satu orang berdiri, dan telah tertancap ke permukaan tebing. Duan Ling meraih tenon itu dan perlahan merangkak di atasnya. Dia bertanya-tanya apakah Bian Lingbai sudah pergi jauh, dan tidak berani memanjat dengan tergesa-gesa.

Secara masuk akal, Bian Lingbai mungkin akan mengirim seseorang ke sini untuk berjaga-jaga. Penjaga Tongguan sedang menunggu di seberang sungai, dan jika Bian Lingbai pergi ke sana untuk memberi mereka instruksi, mereka akan membutuhkan beberapa waktu setelah dia memberitahu mereka. Jika dirinya meninggalkan gua sekarang, mungkin dia bisa berhasil melarikan diri.

Duan Ling memanjat dengan tenang, mencoba yang terbaik untuk menahan langkah kakinya, tapi begitu dia keluar dari gua dia bisa mendengar suara Bian Lingbai.

“… Berjaga-jaga di sini, jangan biarkan siapa pun masuk…”

Duan Ling tidak memiliki pilihan selain mundur dengan cepat, berlari kembali ke bagian gua yang lebih dalam. Langkah kaki yang tidak teratur dari luar bergema ke arahnya, dan dia hampir tergelincir dari jalan batu yang lembap ke dalam jurang lagi. Dia tidak bisa menahan keringat dinginnya; untungnya langkah kaki mereka berhenti begitu mereka mencapai mulut gua.

Duan Ling berjalan ke tepi jurang lagi, kembali ke tempat mereka meninggalkan jejak sebelumnya. Dia melihat ke bawah hanya untuk tidak menemukan apa pun selain kekosongan di bawah tebing kecuali sebuah tenon kayu yang sebelumnya menyelamatkan hidupnya.

Dengan jalan buntu di depannya dan penjaga menghalangi jalan mundurnya, Duan Ling tidak memiliki pilihan selain menguatkan dirinya dan mengaitkan tali busur ke batu terjal di tepi tebing, mencoba melangkah ke tenon itu. Dia memberikan dorongan kuat dengan kakinya dan menemukan bahwa tenonnya sangat stabil.

Dia melangkah ke atasnya. Perlahan-lahan matanya terbiasa dengan cahaya redup, dan ketika dia melihat ke bawah lagi, dia menemukan ada tenon lain yang selangkah lagi sejajar dengannya tersembunyi dalam kegelapan, hampir tersamarkan di atas batu.

Duan Ling berhenti sejenak untuk berpikir. Dengan tenon yang terpaku ke tempat yang sangat tersembunyi, jika dia tidak jatuh dari tebing sebelumnya, dia tidak mungkin melihatnya. Dia melangkah ke tenon kedua dan segera menemukan lebih banyak lagi — semua tenon membentuk jalan papan setapak, tapi bukannya memanjang ke bawah ke apa yang mereka pikir adalah bagian bawah jurang sebelumnya, itu justru mengarah ke sisi kiri tebing!

Mengikuti jalan papan gantung yang dibentuk oleh tenon-tenon ini, Duan Ling berjalan selangkah demi selangkah sampai dia mencapai pelataran sekitar seratus langkah dari tebing di mana dia jatuh sebelumnya. Saat dia melakukannya, dia bisa mendengar suara aliran sungai — area ini bahkan lebih besar dari yang dia bayangkan. Segera dia menemukan terowongan lain di belakang pelataran. Duan Ling menuju ke dalam, kakinya menendang sesuatu yang membentur batu, dan dia segera turun untuk menahannya di tempatnya. Sambil meraba-raba tanah, dia menemukan beberapa batang kayu bakar yang setengah terbakar, dan masih ada sedikit minyak mentah di atasnya.

Duan Ling menyalakan obor dan melihat sekelilingnya. Dia memperhatikan tanda-tanda dari tempat tinggal manusia di pelataran, seolah-olah seseorang telah tinggal di sini, dan itu baru-baru ini.

Siapa itu?

Dia tiba-tiba teringat pembunuh misterius yang menyerang Fei Hongde. Mungkinkah itu dirinya? Apakah dirinya juga yang datang untuk mencuri barang-barang di kediaman Bian? Apa tujuannya?

Di bawah tempat di mana dia berada, ada terowongan gelap lainnya. Duan Ling mengikuti terowongan itu dan menemukan pintu batu yang kokoh. Kunci besi di pintu telah dipotong menjadi dua oleh beberapa senjata tajam. Rantai yang putus terbengkalai di dekatnya.

Dia mendorong pintu sampai terbuka untuk mengungkapkan ruangan tersembunyi, dan kotak besi yang ditumpuk rapi tergeletak di sana di ruangan itu, terbentang di depannya. Salah satu kotak besi itu telah dibuka kuncinya. Duan Ling menyentuhkan obornya ke salah satu anglo di dalam ruangan dan nyala api menyala terang. Cahaya emas yang datang setelahnya hampir membutakannya.

Emas — seluruh ruangan tersembunyi penuh dengan emas! Setiap kotak diisi dengan batangan emas yang tersusun rapi. Duan Ling mengambil satu dan meliriknya, benar-benar tidak percaya. Dia mulai menghitung, dengan dua puluh tael untuk setiap batang, satu kotak akan menampung seribu tael. Ruangan ini memiliki lima puluh enam kotak emas di dalamnya; itu berarti lima puluh enam ribu tael!

Bahkan perbendaharaan kekaisaran mungkin tidak memiliki emas sebanyak ini! Duan Ling mendapati dirinya menahan napas.

Tetapi bahkan ini bukan barang paling berharga di ruangan itu. Setelah Duan Ling melihat-lihat, dia menemukan area tersembunyi di dinding batu, dan ada tanda-tanda bahwa sesuatu dulunya pernah ada di sana. Di antara debu ada bentuk persegi panjang yang kosong. Mungkin sebuah kotak dulunya ditempatkan di sana, tapi seseorang telah mengambilnya.

Apa yang bisa lebih berharga daripada lima puluh ribu tael emas? Dilihat dari tempat yang kosong itu, tampaknya itu adalah peti mati kecil seukuran telapak tangan seseorang. Pertama, seseorang berada di sini sebelumnya, kedua, orang ini sama sekali tidak menyukai emas, dan yang dia lakukan hanyalah mengambil barang terpenting di ruangan tersembunyi ini. Mungkinkah pembunuh itu? Memikirkannya, Duan Ling dapat memahami alasannya. Jika itu dia, dia juga tidak akan berjalan-jalan dengan seikat emas batangan.

Duan Ling berbalik dan meninggalkan ruangan, menutup pintu batu di belakangnya, untuk mencari jalan keluar lain. Secara tidak sengaja, dia melihat seutas tali menggantung di pelataran, memanjang ke dasar jurang. Dia berucap sejenak sebelum memutuskan untuk memeriksa apa yang ada di bawah sana, dan turun dengan tali.

Bagaimana batangan emas bisa dipindahkan ke sini melalui papan kayu? Duan Ling menjadi cukup bingung karenanya. Dia berharap tali itu sampai ke dasar gua, tapi dia mencapai ujung tali pada saat dia baru setengah jalan di sana. Sebuah gua muncul di hadapannya cukup lebar untuk dilewati satu orang. Duan Ling mengangkat obor di depannya dan terus maju, merasakan angin dingin datang dari gua yang ada di depan. Tiba-tiba, ruang di depannya melebar.

Tidak mungkin membedakan siang dan malam di dalam gua, dan tampaknya ini sudah malam. Cahaya bintang berkilauan di atas bumi; dia telah muncul di tempat yang lebih tinggi dengan jurang di bawahnya. Kumpulan semak belukar yang rapat menutupi jalan ke depan, tapi pembunuh sebelumnya telah menggunakan pedangnya untuk membabat onak dan semak berduri untuk membuat jalan setapak yang membawa seseorang ke puncak gunung. Dia bahkan menebang pohon untuk membuat penanda.

Begitu keluar dari gua, jalannya tidak sulit lagi untuk dilalui. Duan Ling memanjat ke atas dan menemukan sebuah pohon besar, hangus terbakar oleh kilat. Dia memadamkan obor untuk mencegah dirinya menarik perhatian. Melihat ke bawah, dia tahu bahwa dia sudah melakukan perjalanan ke ujung Qingling, dan tidak jauh darinya, di mana puncak membentuk rantai yang bersambung, berdirilah Tongguan.

Sejak keberangkatan Wu Du, ini adalah hari ketiga.


Larut malam di Xichuan, bintang-bintang berkelap-kelip di atas, sementara kota terletak di sana dalam kegelapan seperti kota hantu di hari-hari sebelum relokasi ibu kota. Dengan invasi Liao ke selatan, sebuah kota kuno yang luas yang didirikan seribu tahun yang lalu menyambut ledakan ekonomi terbesar yang pernah dilihatnya sepanjang sejarahnya, tapi setahun setelah kenaikan kaisar barunya, kota itu akan sepenuhnya berhibernasi, menunggu kesempatan berikutnya untuk berkembang sekali lagi.

Ketika Wu Du bangun, dia membasuh wajahnya di sebelah sumur dan membasuh seluruh tubuhnya, lalu dia berganti pakaian baru sebelum duduk di halaman. Dalam keheningan malam yang tenang, dia mendengar dengkuran datang dari luar halaman, jadi dia membuka gerbang — untuk menemukan Zheng Yan pingsan dan mabuk di luar. Wu Du menyeretnya masuk dan mengguyurkan seember air ke atas kepalanya.

Zheng Yan bergidik, segera tersadar. Ketika dia menyadari bahwa itu adalah Wu Du, dia mulai tertawa dengan setulus hati.

Para pelayan di kediaman telah membawa makan malam dan meninggalkannya di beranda bersama dengan sebuah catatan yang meminta Wu Du untuk pergi menemui Mu Kuangda setelah dia bangun. Maka Wu Du duduk untuk makan, bahkan tidak repot-repot melirik Zheng Yan.

Zheng Yan menguap, dan datang untuk duduk di depan beranda dengan pakaian dan rambut yang acak-acakan, menatap langit malam berbintang.

“Kupikir kau akan tidur sampai fajar.”

“Aku bermimpi tentang seorang kenalan lama, dan terbangun.” Wu Du memakan semua yang ada di atas meja, dan mengambil cangkir teh untuk mencuci mulutnya.

Zheng Yan melambaikan kendi anggurnya ke Wu Du, ingin menuangkan secangkir untuknya, tapi Wu Du memindahkan cangkirnya. “Aku memiliki pekerjaan penting yang harus dilakukan. Aku tidak bisa minum.”

Hidup itu sangat halus seperti mimpi yang terjaga; betapa banyak kegembiraan yang bisa kita harapkan?” Zheng Yan berkata dengan acuh tak acuh, “Minumlah sedikit. Waktu akan terus mengalir, orang-orang selalu datang dan pergi, dan itu semua terjadi dalam sekejap mata.”

Kata-kata itu menyentuh Wu Du; dia menghabiskan tehnya dan meletakkan cangkir kosongnya di depan Zheng Yan. Zheng Yan mengisinya dengan anggur, dan mengangkat kendi anggurnya, dia mengetuk ujungnya dengan ringan dengan cangkir anggur, terdengar dentingan pelan di malam hari.

Hidup itu sangat halus seperti mimpi yang terjaga; betapa banyak kegembiraan yang bisa kita harapkan,” gumam Wu Du pelan pada dirinya sendiri, menggelengkan kepalanya. Senyum pahit muncul di wajahnya.

Zheng Yan ingin menuangkannya lagi, tapi Wu Du tidak mengizinkannya. Dia membalikkan cangkirnya di atas meja. “Aku akan minum lagi denganmu saat kita bertemu di Jiangzhou.”

“Siapa yang kau mimpikan?” Zheng Yan bertanya tanpa melihat Wu Du, minum sendiri.

“Zhenshanhe. Dalam semalam, segalanya berubah. Aku masih ingat apa yang dia katakan padaku hari itu — di tanganmu Lieguangjian telah berubah menjadi pisau jagal yang hanya cocok untuk menyembelih ternak. Kapan kau bisa menghidupkan kembali Aula Harimau Putih?

“Hari itu seperti dia memukul kepalaku dengan pentungan dan aku langsung bangun.” Wu Du berhenti sejenak untuk berpikir dengan tenang. “Tapi aku tidak pernah berharap dia pergi dalam satu malam, begitu saja. Situasi politik berubah semudah turbulensi, dengan semua orang terperangkap dalam pusaran, dengan cemas bertanya-tanya apa yang akan terjadi besok.”

Zheng Yan berkata perlahan, “Ulang tahun kematian mendiang kaisar akan datang.”

“Hari ketujuh bulan ketujuh.” Wu Du menghela napas. “Aku ingin tahu apakah Yang Mulia memilih Tujuh dari Tujuh untuk memindahkan ibu kota karena hari ulang tahun ini; untuk memindahkan seluruh negeri ke timur tepat setelah upacara peringatan, setelah Yang Mulia menjelaskan apa yang terjadi dengan jelas, sehingga dia dapat menemukan jalan pulangnya.”

“Jalan pulangnya.” Zheng Yan tersenyum. Dia melihat ke sekeliling halaman dan berkata, “Sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali aku melihatmu, tapi aku tidak pernah berpikir untuk melihatmu bermain-main dengan bunga dan semacamnya. Kenapa rasanya ada lebih dari satu orang yang tinggal di rumah ini?”

“Seorang anak kecil. Aku menemukannya.”

“Di mana dia?” Zheng Yan mengetuk kusen pintu dengan kendi anggurnya. “Panggil ke sini dan biarkan aku melihat.”

Wu Du berkata dengan dingin, “Zheng Yan, jangan berani-beraninya kau kurang ajar padanya. Jika kau melakukannya, aku akan meracuni anggurmu.”

Zheng Yan bangkit untuk masuk ke dalam untuk melihat, tapi Wu Du terdengar sangat kesal saat dia berkata padanya, “Kau sudah gila! Dia tidak di sini!”

Zheng Yan hanya bisa menyerah pada idenya itu. Wu Du bangkit dari tempat duduknya. “Jika kau ingin tinggal di sini, kau bisa terus tinggal di sini. Aku memiliki pekerjaan yang harus dilakukan, sampai jumpa lagi.”

“Kemana kau pergi ke mana kau pergi? Aku sangat bosan di istana, aku lebih suka pergi ke suatu tempat…”

“Enyahlah!”

Wu Du meninggalkan sepatah kata untuknya sebelum menghilang di luar halaman.


Lentera di ruang belajar masih menyala. Begitu Wu Du tiba di ambang pintu, Mu Kuangda mulai berbicara. “Tidak perlu bagimu untuk masuk. Aku akan pergi ke istana. Datanglah ke istana bersamaku.”

Alis Wu Du sedikit menyatu, tidak yakin dengan niat Mu Kuangda. Chang Liujun mengantar Mu Kuangda keluar dari ruangan, dan mereka naik ke kereta di halaman belakang. Chang Liujun naik ke kursi kusir, sementara Mu Kuangda memanggil Wu Du ke dalam kereta.

“Tidak perlu terburu-buru. Satu hal dalam satu waktu. Pertama, ini adalah surat untuk Wang Shan.” Mu Kuangda menyerahkan surat itu pada Wu Du. “Segala sesuatu yang perlu dilakukan di Tongguan, tidak peduli besar atau kecil, dia dapat melakukannya sesuai keinginannya.”

Satu beban besar dari dada Wu Du terlepas. Dia mengangguk.

Mu Kuangda membuat sebuah gulungan sutra kuning yang disegel dan diikat. “Dan kedua, ini adalah perintah kekaisaran yang menunjuk Master Fei Hongde untuk sementara mengambil peran sebagai Utusan Kekaisaran. Ini bisa diumumkan secara terbuka, atau dia dapat memilih untuk merahasiakannya dan membiarkannya tanpa pemberitahuan. Lakukan sesuai dengan situasi yang ada.”

“Begitu kau pergi malam ini, istana kekaisaran akan mengirim Zheng Li ke Tongguan agar dia dapat mengambil alih jabatan Gubernur Provinsi Tongguan. Tapi perjalanan akan memakan waktu setidaknya tujuh hari dari sini, dan itu jika dia berpergian secepat yang dia bisa. Zheng Li sudah cukup lanjut usia, dan ini adalah perjalanan yang sulit, jadi dia tidak bisa lebih cepat. Sebelum dia tiba, kau harus bekerja dengan Wang Shan dan bekerja bersamanya untuk menyatukan Tongguan.”

“Saya mengerti.” Wu Du menyisihkan barang-barang yang diberikan Mu Kuangda padanya, dan berbalik untuk turun dari kereta.

Tapi Mu Kuangda meletakkan tangan di lengannya untuk menghentikannya. “Ada satu hal lagi. Tapi itu setelah kita memasuki istana.”

Pada waktu ke lima di malam hari, istana bersinar seterang siang hari; di Direktorat Istal2 Kekaisaran, penjaga kuda memimpin kuda dengan tali kekang. Semuanya terlihat gelap gulita kecuali keempat kuku kudanya yang seputih salju seolah-olah selalu berdiri di atas salju, dengan mata seperti pernis hitam yang baru digunakan dan surai seperti api yang mengamuk. Ketika Wu Du melihat kuda yang mulia ini, dia langsung terpaku.

“Tidak ada yang menunggangi kuda ini sejak mendiang kaisar meninggal. Wuluohou Mu membawanya kembali, tapi sejak saat itu ia berhenti mengikuti perintahnya. Putra mahkota mencoba mengendarainya beberapa kali tapi Benxiao tidak mengizinkannya.” Mu Kuangda berkata begitu pelan pada Wu Du.

“Kuda ini tidak akan mendengarkan perintah siapa pun?” Wu Du bertanya padanya dengan tenang.

“Kuda ini mendengarkan Yang Mulia, tapi kesehatan Yang Mulia dalam kondisi yang buruk dan jarang pergi untuk berkuda.”

Wu Du meletakkan tangannya di pipi Wanlibenxiao, dan bergerak mendekat. Wanlibenxiao menoleh, mengarahkan pandangannya pada Wu Du, matanya mencerminkan fitur Wu Du.

Cai Yan terjaga sepanjang malam; dia jelas sangat lelah karena urusan pemindahan ibu kota juga, tapi ketika dia tiba di Istal Kekaisaran dia berseri-seri, memaksa dirinya untuk tampil segar sehingga dia bisa menunjukkan senyum hangat pada Wu Du.

“Kuda ini menjadi sangat pemarah sejak ayah meninggal. Kau adalah orang yang bersama ayah di hari-hari terakhir itu, dan sekarang sepertinya dia mengenalimu.”

“Ini adalah kuda keturunan dari Wusun.” Wu Du menjawab, “Ini sangat membanggakan. Beri kuda ini waktu untuk menyesuaikan diri.”

“Aku benar-benar telah memeras otakku mencoba menemukan cara untuk menjinakkannya, tapi di seluruh Chen yang Agung kuda ini hanya mendengarkan pamanku. Siapa pun yang mencoba menungangginya hanya akan ditolak. Wuluohou Mu memang kembali, tapi begitu mengetahui bahwa ayah telah meninggal, kuda ini juga tidak lagi mendengarkan Wuluohou Mu. Kanselir Agung memberi tahuku bahwa kau telah terlalu berjuang dengan pekerjaanmu akhir-akhir ini, jadi aku pikir mengapa tidak memberikannya padamu, jadi setidaknya…”

Wu Du cukup terkejut, dan segera memberitahunya, “Itu tidak akan pernah terjadi! Kuda kesayangan mendiang kaisar hanya melayani keluarga Li…”

Cai Yan melambaikan tangannya untuk menghentikan Wu Du melanjutkan perkataannya, dan menjelaskan sambil tersenyum, “Seekor kuda harus berlari. Paman tidak pernah berburu, jadi sebaliknya, jika membuatnya tinggal di sini, di tempat kecil seperti ini, itu benar-benar perlakuan yang merendahkan untuknya. Coba saja. Kita tidak yakin apakah kuda ini akan mendengarkanmu. Jika itu tidak berhasil, aku memiliki rencana lain, dan kita akan mengkhawatirkannya nanti.”

Wu Du tampaknya ragu-ragu.

Mu Kuangda menasihati, “Karena Yang Mulia Pangeran ingin memberimu kuda yang bagus, coba saja tunggangi kuda ini dan lihat apa yang terjadi.”

Wu Du tahu bahwa apresiasi putra mahkota untuknya adalah dedikasi dan kerja kerasnya untuk Chen Selatan, jadi dia seharusnya tidak ragu untuk menerimanya, dia meletakkan kakinya di sanggurdi. Semua orang mengambil langkah mundur secara kolektif, dengan penjaga kuda berdiri di depan Cai Yan agar Benxiao tidak mengamuk lagi dan menyakiti putra mahkota.

Dengan satu ayunan cepat kakinya, Wu Du naik ke punggung Benxiao.

Yang mengejutkan semua orang, Wanlibenxiao tidak gelisah sama sekali. Dia membiarkan Wu Du naik di punggungnya sesuai keinginannya, dan berdiri di sana dengan tenang.

Wu Du menatapnya dengan terkejut tanpa kata.

Keheningan mutlak menimpa semua orang di sekitar.

“Aneh sekali,” kata Cai Yan sambil tersenyum.

Pada awalnya, Cai Yan berpikir bahwa bahkan jika pada akhirnya Wu Du berhasil menjinakkan Benxiao, itu akan membutuhkan banyak usaha, tapi yang mengejutkan, kuda legendaris ini tidak menunjukkan perlawanan sama sekali. Kuda ini hanya berdiri di sana dengan tenang.

Dengan semua orang yang membuat kuda ini terdengar sangat buruk sebelumnya, Wu Du cukup waspada, tapi sekarang dia tidak melihat Benxiao melakukan perlawanan.

Hup!” perintah Wu Du.

Benxiao mengambil canter3 kecil ke depan, dan berlari kencang untuk berputar di sekitar tempat latihan di luar istal.

“Wah—!” Wu Du mengendalikannya.

Benxiao berhenti, dan menoleh untuk melihat semua orang.

Wu Du melingkarkan kendalinya dua kali di punggung tangannya, dan menatap Mu Kuangda dengan ragu. Membaca pikirannya, Mu Kuangda menoleh ke Cai Yan. “Kalau begitu, atas nama Wu Du, izinkan saya berterima kasih kepada Yang Mulia Pangeran karena telah memberikan hadiah yang baik ini.”

Cai Yan balas tersenyum, tapi hatinya agak gelisah. Tidak ada orang lain yang bisa mengendarainya; tiga bulan yang lalu dia mencoba menaiki kuda itu dengan paksa dan akhirnya jatuh dengan sangat menyedihkan di wajahnya; Benxiao hampir menginjaknya sampai mati. Dia menginginkan lebih dari apa pun untuk membunuhnya, tapi sayangnya Li Yanqiu sangat menyukai kuda ini sehingga dia tidak bisa melakukannya.

Memberikannya pada Wu Du sekarang akan membuat kuda itu hilang dari pandangannya, dan pada akhirnya akan menghilangkan satu kekhawatiran besar darinya. Dia juga akan dapat membeli kesetiaannya, memukul dua burung dengan satu batu.

“Sekarang saya akan pergi.” Dari tempat bertenggernya di atas kuda, Wu Du mengepalkan tangan dan mengangkatnya untuk memberi hormat kepada Cai Yan, dan sebelum meninggalkan Istal Kekaisaran, dia melirik Mu Kuangda.

“Hati-hati dalam perjalananmu,” kata Mu Kuangda pada Wu Du.

Wu Du mengangguk, mengarahkan Benxiao menjauh dari istana.

Hup!” Wu Du berteriak.

Sudah setahun sejak Wanlibenxiao meninggalkan istana, dan begitu berada di luar gerbang, ia melewati Jalan Burung Vermilion seolah-olah mengendarai angin dan melangkah melalui awan, dan menyerbu keluar dari Xichuan seperti badai. Jika kuda biasa membutuhkan waktu satu jam untuk berpergian, Benxiao hanya membutuhkan setengah dari waktu itu.

Hup!” Wu Du berteriak lagi, tertular oleh suasana gembira dari Wanlibenxiao.

Benxiao melesat ke jalan raya seperti angin kencang, menghilang di cakrawala dalam beberapa saat. Wu Du membungkuk sedikit lagi, sudut jubahnya berkibar tertiup angin sementara Wanlibenxiao meninggalkan gunung, sungai, dan jurang sepenuhnya berada di belakang mereka.

Sebuah goresan cahaya fajar muncul di cakrawala. Dalam gulungan awan emas, seekor kuda jantan melangkah ke jalur pegunungan yang berkelok-kelok, mendaki ketinggian dan menyeberangi sungai, melompati bebatuan dan jurang secermat mungkin saat melintasi tanah yang datar, langsung menuju ke barat laut.


Pagi di Tongguan, dan kabut telah memenuhi celah di antara puncak gunung.

Duan Ling tidur di gunung tadi malam, dan saat bangun, dia mencuci mukanya, memetik beberapa buah liar, dan mencuri beberapa telur burung dari sarangnya untuk mengisi perutnya. Begitu dia mengetahui ke mana dia harus pergi, dia meninggalkan Pegunungan Qinling. Orang lain mungkin akan tersesat setelah satu mil atau lebih, dan entah dimakan beruang atau mati kelaparan, tapi bertahan hidup di hutan belantara bukanlah masalah besar bagi Duan Ling. Dia bahkan berhasil melarikan diri dari tempat seperti Pegunungan Xianbei — Iklim di Qinling hangat dan tanaman hijaunya lebat dan subur. Ini sebenarnya adalah surga.

Dia bertanya-tanya bagaimana Bian Lingbai akan menjelaskan ketidakhadirannya begitu dia kembali. Apa dia akan mengatakan Duan Ling jatuh dari tebing? Helian Bo pasti akan datang mencarinya. Tidak ada cara untuk menjelaskan hilangnya seseorang secara tiba-tiba, dan kemungkinan besar dia juga tidak akan memberi tahu Fei Hongde.

Dia mungkin akan memberi tahu semua orang bahwa dia mengirim keponakannya untuk menjalankan tugas. Secara alami, tidak ada yang berani bertanya padanya jenis tugas apa itu.

Jika Duan Ling adalah Bian Lingbai, ini akan menjadi satu-satunya cara yang akan dia gunakan untuk menghadapi akibat dari tindakannya. Namun, Bian Lingbai sama sekali tidak masuk akal sedikit pun, jadi dia tidak bisa mempercayai sepenuhnya spekulasinya sendiri, jika tidak dia hanya akan dirugikan lagi.

Prioritas pertamanya adalah memberi tahu Wu Du untuk waspada terhadap Bian Lingbai yang mengambil tindakan putus asa dalam keputusasaannya. Helan Jie masih di luar sana mengejar seorang pembunuh, jadi selama dia tidak membiarkan dirinya ditemukan oleh seseorang dari kediaman Bian, dia mungkin akan cukup aman.

Duan Ling memutuskan untuk mengambil kesempatan sekali ini saja, memasuki Tongguan, dan memeriksa sekeliling.

Dia berbaur dengan rakyat jelata yang memasuki dan meninggalkan Tongguan dan masuk ke dalam kota, menghindari prajurit yang berpatroli di jalan agar dia tidak ditanyai saat dia berjalan melewati jalanannya. Tongguan dibangun di atas gunung, dengan jalan setapak dari lempengan batu di mana-mana, naik dan turun seperti labirin yang rumit. Duan Ling berlari ke segala arah melalui gang-gang tanpa tujuan yang terlihat, dan merogoh sakunya, dia mengutuk dirinya sendiri karena tidak membawa beberapa batangan emas bersamanya. Untungnya dia menemukan beberapa potongan perak pada dirinya, dan dia membeli sarapan, melahap semuanya. Saat dia akan mempertimbangkan apakah dia harus pergi memeriksa di luar kediaman hakim kota, dia tiba-tiba melihat dua orang memasuki sebuah kios jahit.

Dia hanya melihat sekilas bagian belakang satu sosok, tapi dia tahu itu adalah Yao Jing.

Duan Ling segera berlari ke gang di belakang kios jahit dan menyelinap masuk melalui pintu belakang. Dia bisa mendengar pemilik wanita berbicara dengan Yao Jing di depan kios.

“Selimut ini dikirim ke sini dari Arabia.4 Letakkan di atas bahumu ketika musim dingin, dan itu akan sangat hangat.”

Yao Jing sedang memilih syal. Pemilik menambahkan, “Ada cermin besar di belakang, jika kamu mau, kamu bisa mencobanya, nona.”

“Aku akan pergi melihatnya,” kata Yao Jing pada pelayannya dan masuk sendiri.

Begitu dia sampai di ruang bagian dalam, sebuah tangan meraihnya, menutupi mulutnya, menahan teriakannya.

“Ini aku,” bisik Duan Ling.

Mata Yao Jing dipenuhi dengan keterkejutan, dan Duan Ling meletakkan jari di depan mulutnya untuk mengisyaratkannya agar diam sebelum membawanya ke sisi ruangan.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Kandang kuda.
  2. Canter adalah gaya berjalan tiga ketukan terkontrol, sedangkan berpacu adalah variasi empat ketukan yang lebih cepat dari gaya berjalan yang sama.
  3. Kata untuk orang Arab di Cina abad pertengahan adalah “Dasi”, jika kalian tertarik dengan latar belakang sejarah, https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sino-Arab_relations#Medieval_Era.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments