English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Editor: _yunda


Buku 2, Chapter 18 Part 2

“Apa kamu berhasil bertemu dengan He… He Mo?” Duan Ling bertanya pada Yao Jing.

“Bukankah kamu meninggalkan kota untuk suatu tugas?”

Setelah dipikir-pikir, hal-hal tampaknya telah berjalan persis seperti yang dia pikirkan. “Apakah pamanku memberitahumu itu?”

Yao Jing menatapnya dari atas ke bawah dengan aneh, mengangguk. Duan Ling bertanya, “Dia bilang aku pergi ke mana?”

Yao Jing mengerutkan keningnya. Duan Ling tiba-tiba menyadari dari pantulan cermin betapa tidak rapi pakaian dan rambutnya, dan tahu bahwa kecurigaan Yao Jing telah bangkit, tapi Yao Jing akan menikah dengan Helian Bo atau Shang Leguan, jadi satu-satunya yang tidak akan memihak Bian Lingbai adalah dia.

Duan Ling berpikir, mungkin juga, dan hanya berkata, “Tolong sampaikan pesan kepada He Mo untukku – aku akan menunggunya di bawah Lereng Matahari Terbenam di luar Tongguan saat senja.”

“Bangsawan muda Tangut itu pergi pagi-pagi sekali. Dia membawa cukup banyak orang bersamanya. Jenderal Bian khawatir dia akan membatalkan pertunangan, jadi dirinya pergi keluar untuk menanyakan apa yang dia lakukan. Itulah yang Paman Deng katakan padaku.”

Sekarang Duan Ling merasa ini cukup mencurigakan. Mengapa dia melakukan itu? “Lalu apa yang terjadi?”

“Dan kemudian dia memberi tahu Paman Bian bahwa dia hanya merasa gelisah karena tinggal di kota terlalu lama, dan ingin pergi berburu. Dia tidak mengatakan kapan dia akan kembali.”

Brengsek! Apakah Helian Bo memilih untuk meninggalkan kota sendirian? Karena Bian Lingbai mencoba meyakinkannya, sebaliknya itu mungkin bukanlah jebakan yang muncul lebih cepat dari rencana.

“Lalu… bisakah kamu menemui Master Fei Hongde untukku?” Duan Ling bertanya.

Itu mungkin bisa dilakukan, dan Yao Jing mengangguk, jadi Duan Ling memintanya untuk menyampaikan pesan untuknya. Segera, sebuah kereta tiba di gang di belakang toko dan Fei Hongde membuka tirai, melirik ke luar. Duan Ling buru-buru naik kereta.

“Aku baru tahu pasti ada sesuatu yang lebih dari cerita itu ketika bajingan itu kembali sendirian.” Pada saat Duan Ling selesai memberi tahu Fei Hongde apa yang telah terjadi, Fei Hongde sudah berkeringat dingin. Dia bergumam. “Dengan keadilan ilahi milik surga, kau tidak jatuh sampai mati dari tebing.”

Baru sekarang Duan Ling mengetahui bahwa begitu Fei Hongde menyadari bahwa “Zhao Rong” telah pergi ketika Bian Lingbai kembali, dia tahu ada sesuatu yang mencurigakan tentang semuanya. Bian Lingbai menjelaskan tanpa diminta bahwa dia telah mengirim keponakan angkatnya ke Jiangzhou dengan pesan untuk meyakinkan istana kekaisaran, tapi Fei Hongde tahu bahwa tidak mungkin bagi Duan Ling pergi tanpa peringatan apa pun dan menyembunyikan semuanya darinya.

Dengan tebakan pertama Fei Hongde, Duan Ling telah terbunuh di luar kota, tapi dia tidak tahu apakah itu karena identitas Duan Ling telah terungkap, atau karena hal lain. Dia segera pergi menemui Helian Bo dan memberitahunya bahwa Duan Ling dalam bahaya.

Helian Bo pasti tampak sangat khawatir, sedemikian rupa sehingga Fei Hongde dapat mengetahui dari aura yang memancar darinya bahwa hubungannya dengan Duan Ling jauh dari kata sederhana.

Tapi Fei Hongde dengan cukup bijaksana tidak mendesaknya untuk mengatakan detailnya. Helian Bo membawa beberapa bawahannya dan meninggalkan kota untuk mencari Duan Ling.

“Aku memastikan mengarahkannya ke tempat yang tepat. Dan aku mengatakan padanya bahwa dia harus waspada terhadap penjaga yang ditempatkan Bian Lingbai di sana.”

“Kita tidak bisa menunggu Wu Du lebih lama lagi.” Duan Ling berkata, “Kita harus mengatur segalanya sesegera mungkin.”

Fei Hongde terdiam dan berpikir lama. “Akan sulit bagi kita untuk menyelesaikan sesuatu hanya dengan kita sendiri. Tuan muda, tolong dengarkan saranku…”

“Tidak,” jawab Duan Ling tanpa mempertimbangkannya sama sekali.

Alis Fei Hongde menyatu dengan apa yang tampaknya merupakan ketidaksetujuan, namun hal berikutnya yang dikatakan Duan Ling sangat mengejutkannya sehingga menghilangkan pemikiran apa pun yang mungkin harus meyakinkannya untuk menunggu.

“Aku tidak ingin menunggu seseorang datang untuk membantuku lagi.” Duan Ling berkata dengan sungguh-sungguh, “Bahkan jika aku menjaga kota yang terisolasi dan tanpa harapan, aku tidak bisa hanya duduk di balik temboknya tanpa melakukan apa-apa selain menunggu. Seseorang yang ingin diselamatkan harus berusaha terlebih dulu pada dirinya sendiri, aku tidak ingin… tidak lagi…”

Duan Ling telah memikirkan tujuh hari terakhir dari setahun yang lalu berkali-kali. Jika itu terjadi sekarang, dia tidak akan pernah lagi berada di kota untuk menunggu ayahnya datang. Sebaliknya, dia akan mengambil busur dan pedangnya dari awal dan mengikuti para prajurit keluar kota untuk membunuh musuh sebanyak yang dia bisa; setelah itu, dia akan pergi mencari ayahnya.

Dia telah tumbuh seiring berjalannya waktu, tapi beberapa orang, dan beberapa hal, tidak akan lagi menunggunya.

“Aku percaya pada Wu Du.” Saat pikiran Duan Ling mencapai titik ini, dia berkata kepada Fei Hongde, “Aku mempercayai kemampuannya, dan juga mempercayai kesetiaannya. Aku ingin memulai sesuatu sebelum dia tiba di sini bukan karena aku tidak percaya padanya. Itu karena aku juga harus bekerja keras untuk diriku sendiri.”

Fei Hongde memberinya senyum tipis. “Jika itu masalahnya, apakah kamu memiliki gagasan yang bisa diandalkan? Jika kamu bisa memercayaiku, tidak ada salahnya membicarakannya, dan kita bisa mendiskusikannya dan melihat apakah itu akan berhasil.”

“Aku ingin meracuninya, dan menciptakan ilusi bahwa dia digigit oleh serangga berbisa.”

“Kamu bisa melakukannya?”

Duan Ling mengangguk dengan percaya diri. Fei Hongde terdiam beberapa saat, lalu dia berkata, “Kalau begitu, mungkin itu bisa dilakukan.”

Setelah mereka berdua saling berbicara untuk sementara waktu, mereka memutuskan untuk berpisah. Duan Ling akan mencari Helian Bo, sementara Fei Hongde akan kembali ke kediaman untuk membuai Bian Lingbai ke dalam rasa aman yang palsu. Jika mereka tidak memulainya sekarang, hal-hal lain kemungkinan akan menjadi salah.

“Itu adalah rencana yang sangat bagus.” Fei Hongde berkata, “Aku akan kembali ke kediaman sekarang dan membuat pengaturan.”

Duan Ling, di sisi lain, meminjam seekor kuda dari Fei Hongde untuk meninggalkan kota sebelum malam tiba.

Sementara itu, Wu Du telah berkendara sejauh empat ratus mil dalam satu hari, meninggalkan jalan Xichuan di belakang untuk memasuki jalan raya yang mengarah ke Tongguan.

Wanlibenxiao telah berlari dengan kecepatan tinggi cukup lama, tapi secara mengejutkan ia tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan; sebaliknya, sepertinya ia semakin bersemangat untuk terus berlari. Mungkin karena sudah terlalu lama terkurung di istana, dan begitu jauh dari istal, ia seperti elang yang kembali ke langit, berlari kencang dalam kebebasan yang menggembirakan.

Jika semuanya berjalan lancar, mereka dapat mencapai Tongguan dalam waktu satu setengah hari lagi. Mengira mereka akan punya cukup waktu, Wu Du membiarkan Benxiao minum sebentar di samping sungai, dan membelai surainya.

“Kau sangat cerdas.”

Kuda itu menundukkan kepalanya dan minum; air mencerminkan pantulan seorang pria dan seekor kuda.

“Tapi kenapa kau sangat tidak menyukai putra mahkota?”

Kuda itu tidak memiliki cara untuk menjawab, dan ia berbalik untuk merumput.

“Kau tahu aku pergi untuk menyelamatkan seseorang, bukan?”

Entah bagaimana, Wanlibenxiao berhasil memahami itu; mungkin itu karena pada hari-hari terakhir itu ia menyerang Shangjing dengan Li Jianhong, yang tidak lain adalah untuk menyelamatkan tuan mudanya. Tapi dari apa yang diketahui Wu Du, mungkin Wanlibenxiao tidak melihat tuan mudanya sama sekali; mungkin setelah jatuhnya Shangjing, atau bahkan setelah menempuh setengah perjalanan kembali ke Xichuan, kuda cerdas yang dapat membaca orang dengan sangat baik ini masih berpegang teguh pada misi terakhir yang diberikan Li Jianhong.

“Kau sudah membawa kembali putra mahkota.” Wu Du berkata di sebelah telinga Benxiao, “Kali ini kita pergi menemui seseorang yang tidak ada hubungannya denganmu, tapi bagaimanapun juga, terima kasih.”

Ada sejumlah rasa bersalah di hati Wu Du; dia tiba-tiba mengerti mengapa Benxiao tidak mau menerima putra mahkota. Mungkin karena ada sisa-sisa ingatan yang ada hubungannya dengan Li Jianhong di hati kuda itu, dan ia hanya percaya bahwa yang mereka coba untuk selamatkan belum diselamatkan. Karena itu ia mematuhi Lang Junxia untuk beberapa waktu, tapi tetap merasa kesal dan gelisah saat tinggal di istana, berpikir bahwa ia tidak membawa kembali tuan mudanya.

Bahwa ia bersedia menjadi tunggangannya sekarang dan keluar bersamanya pasti karena itu juga. Setelah semua dikatakan dan dilakukan, dia memanfaatkan kuda yang setia dan mulia ini.

“Ayo pergi!” Wu Du kembali. “Shan’er juga akan berterima kasih padamu selama sisa hidupnya.”

Maka Benxiao memulai perjalanan mereka sekali lagi, bergegas menuju Tongguan secepat mungkin melalui siang dan malam.


Duan Ling memacu kudanya melewati jalan setapak di pegunungan. Hari ini sangat panas di Qinling, udaranya menyesakkan dengan atmosfer yang tidak sabar dan gelisah. Dia menambatkan kuda di samping pohon, dan menyusuri jalan setapak dengan tenang menuju aliran lembah tempat Fei Hongde diserang. Ada hutan lebat di seberang jalan, dan gua harta karun berada tepat di dalam hutan.

Di luar hutan, hampir dua puluh prajurit berjaga; seseorang menyalakan api di seberang sungai, membuat kompor untuk memanaskan air.

Di mana Helian Bo berada? Duan Ling melihat ke sekeliling, menempatkan dirinya pada posisi Helian Bo, mencoba membayangkan apa yang akan dia lakukan. Helian Bo sudah tahu bahwa dia mengalami kecelakaan di gua harta karun, mengetahuinya jelas tentang dirinya, dia pasti berada di dekatnya untuk mengintai daerah itu secara rahasia, menunggu kesempatannya untuk memasuki gua sehingga dia bisa mencarinya di dalam. Malam hari adalah waktu terbaik untuk melakukan serangan mendadak; begitu penjaga yang bertugas ketika malam menurunkan penjagaan mereka, saat itulah Helian Bo akan menyerang.

Daripada menunggu dia membunuh semua penjaga dan menyerbu ke dalam gua, Duan Ling berpikir mungkin lebih baik jika dia memberi Helian Bo sinyal sebelum dia melakukannya.

Itulah sebabnya Duan Ling membakar daun-daun kering di samping sungai.

Pada musim gugur, area di samping sungai sangat buruk dengan daun-daun yang berguguran. Api tumbuh lebih tinggi dan semakin lebih tinggi di sebelah pohon kering, memakan batang pohon itu seluruhnya, dan api mulai menyebar di sepanjang puncak pohon sampai pohon-pohon di sekitarnya ikut terbakar. Sebelum dia menyadarinya, api yang melonjak tinggi dan berkobar-kobar telah menerangi area itu.

“Api!” Penjaga gua segera berteriak, dan mengambil kantong kulitnya, mengisinya dengan air di sungai untuk disiram ke api. Di sisi lain, Duan Ling diam-diam mundur ke bukit, melawan angin. Angin bertiup ke hutan lebat, asap hitam menggulung masuk. Tak lama kemudian, banyak orang telah keluar dari hutan.

Sebuah panah tiba-tiba terbang dari tempat yang lebih tinggi, mengenai prajurit yang mencoba memadamkan api.

“Kita diserang!”

Duan Ling mencari tahu dari mana panah itu berasal. Dia melepaskan busur dari punggungnya, dan membidik ke arah asal panah itu, dia menembak sekali.

Panahnya terbang dari tanah datar ke dalam hutan, mendarat di batang pohon dengan bunyi yang memuaskan.

Ketika Helian Bo mendengar suara yang menyuruhnya untuk lihat ke arah sini, dia melihat siluet berkuda menuju ke sungai kecil dalam kegelapan, menembakkan dua anak panah berturut-turut ke paha seorang prajurit yang memadamkan kebakaran. Kemudian sosok itu membalikkan kudanya dan naik ke atas bukit.

Jantung Duan Ling berdebar dengan kencang, tapi dia hanya bisa bertaruh kali ini, dan kenyataan telah membuktikan bahwa dia bertaruh pada kuda yang tepat – satu-satunya yang menunggu di sini untuk menyergap para prajurit adalah Helian Bo, karena dialah satu-satunya yang tahu persisnya lokasi.

Angin meniup api dan itu hanya membuatnya semakin besar. Seseorang berteriak dan menyerbu menuruni bukit, tapi Duan Ling mengaum sekeras yang dia bisa dalam Bahasa Tangut dan berkata, “Ini aku-!”

Kedua belah pihak tampak terkejut; para prajurit tidak menyadari bahwa ada orang yang tergeletak dalam penyergapan dari kedua sisi, dan tembakan panah yang lebat menghujani kuda Duan Ling.

Salah satu anak panah mengenai kuda yang sedang mendaki bukit, dan ia kehilangan kekuatannya, kaki depannya tertekuk dan berlutut di rerumputan. Sepertinya Duan Ling akan berguling menuruni bukit, kuda dan semuanya, Helian Bo mencengkeram kendalinya erat-erat dengan satu tangan dan melompat dari kudanya; tubuhnya berayun membentuk lengkungan, kakinya tergelincir di tanah, dan dia meraih pergelangan tangan Duan Ling, menyeretnya pergi.

“Ayo pergi!” Duan Ling berkata, “Jangan tinggal untuk bertarung!”

Helian Bo bersiul, meletakkan kakinya di sanggurdi, dan menarik Duan Ling ke atas kuda bersamanya. Tangut tiba-tiba menyebar ke hutan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan prajurit yang kebingungan.

Tangut memiliki kuda perang yang bagus; mereka dengan mudah melintasi hutan. Begitu mereka menyatu dengan hutan, tidak ada lagi cara untuk menemukannya. Lebih takut daripada terluka, Duan Ling diselimuti dengan keringat dingin, dan Helian Bo berbalik untuk berkata padanya, “Kau! Hampir! Membuatku takut sampai mati!”

Duan Ling tertawa terbahak-bahak; Helian Bo menatapnya dengan marah dan mengacungkan tinju padanya, tunggu saja. Duan Ling menepuk pundaknya dan berkata, “Cari cara untuk berkumpul kembali.”

Helian Bo membawa Duan Ling menjauh dari puncak gunung tempat harta karun itu dikubur.

“Oi oi, Helian — kau tidak benar-benar marah, kan?”

Ada tepian dangkal di sepanjang aliran gunung, dan di samping tepian itu ada tanda-tanda api unggun. Begitu Helian Bo turun dari kuda, dia meraih Duan Ling dan menariknya turun, dan berkat semua latihan bela diri Duan Ling, dia tidak jatuh tersungkur. Begitu dia mendarat, Helian Bo bergegas maju lagi, dan Duan Ling menghindar ke satu sisi. Dia juga mengikuti ke satu sisi, Duan Ling mundur, lalu memusatkan seluruh kekuatannya, dan dia bertemu langsung dengan Helian Bo.

Mereka baru saja lolos, dan dalam sekejap mata mereka sudah bertengkar; ketika Tangut kembali ke titik kumpul mereka satu demi satu mereka berhenti untuk menatap, terperangah, pada tontonan ini, kemudian dengan pikiran bahwa mereka akan melihat keributan, mereka mulai bersorak, turun dari kuda mereka untuk membuat lingkaran di sekitar mereka berdua untuk menonton pangeran mereka dan pemuda Han ini menyelesaikan perbedaan pribadi mereka dengan cara bergulat.

Dengan kepala menempel di dada Helian Bo, Duan Ling mendorongnya mundur setengah langkah; Helian Bo mundur dan menendang kaki Duan Ling, tapi Duan Ling bereaksi lebih cepat daripada dirinya; tak lama kemudian dia menggantung dirinya pada Helian Bo, lalu dengan manuver berputar di sekitar pinggang Helian Bo dia akhirnya menunggangi punggung Helian Bo. Dengan memutar pinggulnya, dia membuat Helian Bo kehilangan keseimbangan.

Dalam hal gulat, Helian Bo adalah mentor Duan Ling, tapi sayangnya Duan Ling juga belajar trik mengarahkan momentum dari Li Jianhong sehingga pada akhir masa tinggal mereka di Shangjing Duan Ling sudah hampir bisa menyamakan kedudukan dengan Helian Bo dalam sebuah pertandingan.

Namun dengan jarak satu tahun di antara mereka dan Duan Ling yang mengabaikan latihan seni bela diri saat tinggal di selatan, Helian Bo pada akhirnya memotongnya, dan dia melemparkan Duan Ling ke tanah, menahannya.

Duan Ling mengeluarkan teriakan keras dan menabrak kerikil di tepian. Terkejut, Helian Bo dengan cepat menariknya kembali untuk memeriksa apakah dahinya terluka – dia menemukan bagian yang bengkak.

Duan Ling melambaikan tangannya untuk memberi tahu Helian Bo bahwa dia baik-baik saja; Tangut yang menyaksikan sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa pemuda Han ini bisa bertahan dalam pertarungan dengan Helian Bo, dan mereka berteriak-teriak di sekelilingnya, datang untuk menepuk bahunya untuk memberitahunya bahwa itu sama sekali tidak memalukan karena kalah dari pangeran mereka.

Semua yang Helian Bo ingin lakukan hanyalah mengeluarkan sedikit tenaga, tapi itu justru membuat dahi Duan Ling bengkak. Dia tampaknya agak menyesal.

Duan Ling berkata pada Helian Bo, terdengar pasrah dan tertekan, “Punya makanan? Aku belum makan malam. Aku kelaparan.”


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

yunda_7

memenia guard_

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments