English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Rusma
Editor: _yunda


Buku 2, Chapter 17 Part 4

Wu Du berdiri di halaman dan perlahan menarik pedangnya.

“Chang Liujun.” Wu Du berkata dengan dingin, “Aku memiliki urusan mendesak. Jangan paksa tanganku.”

Mu Qing mengira Wu Du hanya bercanda, dan dia menjauh dari mereka untuk terus menendang bola bulu.

Chang Liujun mengatur ekspresinya menjadi tenang, menghunus pedangnya, dan keduanya saling berhadapan.

Wu Du tahu bahwa Mu Kuangda pasti ada di sini, di halaman ini, tapi fakta bahwa Mu Kuangda takut mati; tidak mungkin dia pergi ke Jiangzhou sendirian dan membiarkan Chang Liujun pergi dari sisinya.

“Apa yang sedang terjadi?” Suara Mu Kuangda datang dari lantai atas. “Kenapa kau kembali sendiri, Wu Du?”

Chang Liujun menyarungkan pedangnya begitu dia mendengar kanselir, tapi Wu Du tetap menggenggam pedangnya di tangannya, matanya terkunci pada setiap gerakan Chang Liujun.

Mu Kuangda melangkah di antara dua pembunuh dan meletakkan tangannya di pergelangan tangan Wu Du yang memegang pedang, dan kemudian Wu Du menyarungkan Lieguangjian.  Matanya tetap tertuju pada Chang Liujun saat dia berkata, “Saya memiliki sesuatu yang penting untuk dilaporkan, Kanselir Mu.”

“Kemarilah, bicara di sini,” jawab Mu Kuangda, memimpin Wu Du ke atas.

Di lantai dua, ruangannya remang-remang. Berbau keringat, Wu Du melepas sepatunya dan masuk ke dalam.

“Wu Du?” Cai Yan terdengar terkejut.

Wu Du tidak pernah mengharapkan putra mahkota saat ini untuk datang ke kediaman Kanselir Mu atas kemauannya sendiri. Juga, di sebelah Cai Yan ada seorang pelayan, tapi itu bukan Lang Junxia.

“Yang Mulia hanya mencarimu,” kata Mu Kuangda. “Tidak kusangka kau akan kembali lebih cepat dari jadwal.”

Wu Du memastikan untuk membungkuk pada Cai Yan terlebih dahulu, dan kemudian dia dengan penasaran mengalihkan perhatiannya ke pelayan di sebelahnya dengan keterkejutan di matanya.

Pelayannya mengenakan jubah prajurit sutra bersulam merah tua, dan dia membungkuk ke meja dengan tidak sopan saat dia minum. Ada cincin giok di ibu jarinya dan tiga cincin berharga di tangan kirinya, sementara tangan kanannya yang memegang cangkir giok berkilau ditutupi sarung tangan sutra kasa. Dia terlihat berkaca-kaca karena minum, dan setelah cegukan karena mabuk, dia mendorong cangkirnya ke arah Wu Du yang berarti dia harus datang untuk minum.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Wu Du berkata dengan cemberut.

“Yang Mulia Pangeran memanggilku,” pemuda itu tersenyum seperti bajingan dan menjawab tanpa keriuhan, “karena itu aku datang. Ada masalah?”

“Zheng Yan, kalian berdua saling kenal?” Giliran Cai Yan yang terkejut.

“Mm-hmm.” Pria bernama Zheng Yan melirik Cai Yan tanpa sadar, lalu mengalihkan perhatiannya yang tersenyum pada Wu Du lagi.

“Simpan kenangan untuk nanti.” Mu Kuangda berkata, “Wu Du, apa yang ingin kau katakan padaku?”

Mengingat bahwa Cai Yan dan Zheng Yan ada di sini, Wu Du tidak mengatakan apa-apa. Agaknya alasan Chang Liujun tidak mengumumkannya lebih awal adalah karena kehadiran putra mahkota di kediaman. Tentu saja dia tidak bisa memberikan detail apa pun kepada Mu Kuangda, jadi dia meraih di bawah kerahnya untuk mencari surat tipis yang dibungkus kain minyak dan menyerahkannya kepadanya.

Mu Kuangda berkata dengan riang, “Bagus sekali.” Lalu dia menoleh ke Cai Yan. “Berita dari Chang Pin telah tiba. Tolong beri saya waktu untuk memilah informasi sebelum saya membuat salinan untuk Yang Mulia Pangeran.”

“Tidak apa-apa.” Cai Yan berkata kepada Mu Kuangda, “Aku baru saja berpikir untuk meminta Wu Du mengurus sesuatu yang kecil untukku.”

“Tentu.” Jadi Mu Kuangda menyelinap keluar dari ruangan sesuai tuntutan situasi, menutup pintu di belakangnya untuk membaca surat Duan Ling.

Setelah hening sejenak, Cai Yan berkata kepada Wu Du, “Zheng Yan adalah salah satu dari kita.”

Wu Du meletakkan jari di depan mulutnya untuk memberi tahunya bahwa dia tidak boleh banyak bicara sekarang.

Cai Yan berpikir sejenak sebelum dia mengangguk, dan langsung ke inti masalahnya. “Wuluohou Mu telah hilang selama satu setengah bulan. Dia bahkan tidak meninggalkan surat untukku.”

Pfft, Zheng Yan tertawa terbahak-bahak.

Seekor burung yang baik hanya bertengger di pohon yang bagus.” Zheng Yan berkata kepada Cai Yan, “Yang Mulia Pangeran, Anda sebaiknya berhenti menahannya begitu keras.”

Mata Cai Yan menunjukkan sedikit kemarahan; dia jelas sangat marah dengan kekasaran Zheng Yan, tetapi dia tidak memiliki nyali untuk melakukan apa pun terhadapnya.

Wu Du segera menyadari apa yang terjadi: Lang Juxia kabur tanpa sepatah kata pun, dan Zheng Yan mengambil alih tugas menjaga putra mahkota.  Kemungkinan besar, Li Yanqiu adalah orang yang menunjuknya atas namanya.

Tapi Cai Yan tampaknya merasa sulit untuk memerintahkan penjaga pribadi khusus ini. Hanya dengan melihat cara Zheng Yan berani menyela Cai Yan ketika dia berbicara, Wu Du dapat mengatakan bahwa Cai Yan telah menoleransinya cukup lama.

“Wuluohou Mu pertama kali mengkhianati mendiang kaisar, dan sekarang dia mengkhianati Yang Mulia Pangeran.” Wu Du berkata, “Sudah waktunya bagi kita untuk menangkapnya dan membawanya ke pengadilan.”

Cai Yan menghela napas, melambaikan satu tangan. “Yah, bukannya aku mengutuk dia atau semacamnya; lagi pula, bahkan Zheng Yan tidak tahu ke mana Wuluohou Mu mungkin telah pergi … Wu Du, jika kau … jika kau memiliki petunjuk di mana dia berada….”

“Katakan saja seperti itu.” Zheng Yan berkata dengan tidak sabar, “Untuk apa Anda repot-repot dan berbelit-belit seperti itu.”

“Pergi dari hadapanku!” Marah, Cai Yan tiba-tiba berteriak padanya.

Wu Du merasa agak canggung dengan semua ini, tapi Zheng Yan memiliki kulit yang begitu tebal sehingga wajahnya mungkin juga berlipat ganda; dia mengambil cangkirnya dan berjalan terhuyung-huyung menuju pintu, menarik pintu hingga terbuka dan membantingnya ke belakang.

Ekspresi Cai Yan sangat gelap hingga hampir menakutkan.

“Apa yang bisa saya bantu, Yang Mulia Pangeran?”

Cai Yan ragu-ragu sejenak, dan akhirnya berkata, “Tujuanku datang ke sini hari ini, selain untuk berbicara dengan Kanselir Mu mengenai pemindahan ibu kota, juga karena aku ingin kau menemukan Wuluohou Mu entah bagaimana melalui koneksimu.”

Wu Du berpikir dengan tenang sejenak. Dia mengangguk. “Meskipun Aula Harimau Putih dulu memimpin empat pembunuh, pada generasiku hampir tidak ada dari kami yang tersisa. Karena Wuluohou Mu berasal dari Suku Xianbei, dan di atas semua itu dia membantai seluruh sektenya, dia tidak mungkin mematuhi perintahku. Tetapi jika Yang Mulia Pangeran memberi saya perintah, apakah saya dapat membawa kembali yang hidup bukanlah sesuatu yang berani saya jamin, tapi setidaknya saya bisa membawa kembali mayatnya.”

Cai Yan tidak mengucapkan sepatah kata pun. Alisnya mengencang menjadi simpul seolah-olah dia mencoba membuat keputusan yang sangat sulit.

“Cobalah yang terbaik untuk membawanya kembali hidup-hidup,” kata Cai Yan pada akhirnya.

Wu Du mengangguk. Ada ketukan lagi di pintu, dan Mu Kuangda masuk. Dia berkata kepada Wu Du, “Aku mengerti, terima kasih telah bepergian siang dan malam untuk membawakan ini untukku. Pergilah istirahat untuk saat ini dan makan malam, pastikan untuk mengisi energimu kembali. Aku akan membutuhkanmu untuk menjalankan tugas lain untukku sebelum fajar tiba.”

Wu Du tahu bahwa Mu Kuangda ingin mengirim pesan ke Tongguan, jadi dia kemungkinan besar menyetujui saran Duan Ling. Dia membungkuk pada Cai Yan lagi sebelum meninggalkan ruangan, sementara Mu Kuangda pergi untuk duduk di depan Cai Yan, membuka lebar-lebar catatan peringatan di atas meja.

Matahari sedang terbenam. Berjalan melalui serambi yang berliku, Wu Du melihat Zheng Yan dengan mabuk memegang gagang cangkirnya saat dia berbicara dengan Mu Qing, sementara Chang Liujun duduk di depan serambi mengamatinya dengan tangan disilangkan. Begitu Zheng Yan melihat Wu Du, dia memanggilnya. “Ayo, ayo, minumlah beberapa kendi anggur bersamaku hari ini — mari kita minum sampai kita terkapar!”

Zheng Yan mulai berjalan ke arahnya, tapi Wu Du telah menghunus pedangnya untuk mengarahkannya ke tenggorokan Zheng Yan.

“Aku perlu tidur,” kata Wu Du dengan dingin.

Zheng Yan hanya bisa mengangguk padanya. “Ambil beberapa cangkir bersamaku ketika kau bangun.”

“Kita lihat saja nanti.” Wu Du menyarungkan pedangnya dan berbalik untuk melirik Chang Liujun, dan Chang Liujun memberinya cibiran sarkastik. Wu Du tidak memperhatikannya lagi dan bergegas kembali ke halaman rumah di tepi kediaman kanselir yang dulu dia tinggali bersama Duan Ling.

Tidak ada yang disentuh, tapi bunga yang dulu dirawat Duan Ling telah layu. Wu Du naik ke tempat tidur dengan pakaiannya masih terpasang di badannya, dan langsung tertidur.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

yunda_7

memenia guard_

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments