English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Proofreader: Rusma


Buku 5, Bab 46 Bagian 1


Mereka bubar di penghujung malam, dan Wu Du menemani Duan Ling seperti sebelumnya, kembali ke kediaman Mu melalui serangkaian jalan kecil.

Duan Ling dan Wu Du berjalan beriringan. Dia menggodanya, “Kau telah menjadi pemimpin Aula Harimau Putih kali ini.”

“Mereka tidak yakin dengan kepemimpinanku,” jawab Wu Du. Dia melirik rumah-rumah di pinggir jalan dan melingkarkan tangan di pinggang Duan Ling. “Ayo naik ke sana.”

Mereka melompat ke atas tembok, lalu ke atap sehingga mereka bisa berbaring di ubin untuk menikmati sinar bulan. Bulan yang cerah menyinari dunia fana, mewarnai bumi dengan warna perak. Wu Du dan Duan Ling berbaring berdampingan.

“Itu membutuhkan waktu,” kata Duan Ling. “Setelah ini selesai, tidak masalah apakah mereka yakin atau tidak. Menurut dugaanku, mereka mungkin tidak ingin tetap tinggal di Jiangzhou.”

Setelah seluruh urusan ini selesai, mungkin Chang Liujun ingin membawa Mu Qing ke suatu tempat yang jauh, dan Zheng Yan juga akan kembali ke Huaiyin. Adapun Lang Junxia…

Duan Ling merasa bahwa, pada akhirnya, mungkin tidak ada seorang pun yang tersisa di sisinya kecuali Wu Du. Terkadang takdir yang menyatukan mereka terasa seperti bulan purnama di atas mereka; cahayanya menerangi seluruh dunia, tumpah ke setiap sudut, ada di mana-mana, sementara orang lain seperti awan yang melayang, memudar, terkadang berkumpul, dan terkadang menyebar, terbawa angin ke bagian yang tidak diketahui.


Keesokan harinya, kediaman Mu dihiasi dengan lentera dan panji berwarna-warni. Duan Ling tinggal di kamarnya, tidak melangkah melewati ambang pintu, terlebih lagi, dia menghindari menghabiskan terlalu banyak waktu dengan Fei Hongde agar tidak menimbulkan kecurigaan Mu Kuangda. Pelayan secara pribadi datang untuk memberi tahunya bahwa dia diundang di perjamuan malam. Dia akan menemani putra mahkota malam ini, duduk di sebelah kanan Mu Kuangda.

Menu untuk perjamuan Pertengahan Musim Gugur disajikan kepadanya, dan Duan Ling tidak keberatan setelah memindainya, jadi dia menandatangani atas namanya. Siapa yang akan memiliki waktu untuk makan malam ini? pikirnya. Bahkan tidak akan ada cukup waktu untuk semua intrik kecil.

“Tidurlah,” kata Wu Du kepadanya di malam hari, “tidurlah lebih lama malam ini. Besok malam, kita harus menghadiri makan malam.”

Duan Ling mengerti bahwa sebenarnya Wu Du bermaksud bahwa mereka harus mengambil kesempatan besok malam untuk menggeledah tempat itu dalam pencarian mereka untuk mencari bukti, jadi dia tertidur dengannya pada jam yang agak awal dan tidak bangun sampai sore keesokan harinya. Meskipun Jiangzhou terus berduka untuk Li Yanqiu, sebagai aturan, pengadilan kekaisaran masih akan memberikan hari libur kepada para pejabat.

Mu Qing menyeret Duan Ling keluar untuk bermain Cuju, dan mereka menghabiskan sepanjang sore untuk bermain. Ketika Duan Ling berdiri di sana dengan punggung berkeringat, dia tiba-tiba teringat sesuatu. Dia bertanya pada Mu Qing, “Aku pikir kita memiliki gulungan puisi lain yang ditulis pada Festival Pertengahan Musim Gugur tahun lalu. Apakah kau tahu di mana itu?”

“Mereka semua diikat menjadi bundel dan disimpan di belakang perpustakaan. Kau ingin mencarinya?”

“Aku mengingat surat dari masa lalu, sebenarnya,” kata Duan Ling. “Wu Du adalah orang yang membawanya kembali dari Tongguan, dan dia menyerahkannya sendiri kepada Kanselir Mu… “

“Surat rahasia? Jika itu adalah surat rahasia, maka itu mungkin diberikan kepada Master Chang Pin untuk diamankan.”

“Apakah sudah dibawa ke Jiangzhou?”

“Kami mungkin membawanya bersama kami. Aku melihat mereka membawa kotak besar ini ketika kami pindah. Mengapa kau mencari surat rahasia?”

“Tidak ada alasan,” kata Duan Ling, setelah menipu Mu Qing untuk memberinya informasi yang dia butuhkan. “Aku baru ingat masih ada beberapa barang berharga di selatan Tongguan, dan aku harus mengirim beberapa orang untuk membawanya kembali.”

“Perpustakaannya berantakan,” kata Mu Qing. “Hanya ada banyak tumpukan tugu peringatan dan gulungan tua, jadi kau mungkin tidak akan bisa menemukannya. Setelah kita selesai dengan hari ini, aku bisa mencarinya bersamamu”

Duan Ling melambaikan tangan. “Jangan beri tahu ayahmu. Tentang sedikit emas itu… aku ingin mengeluarkannya supaya aku bisa menggunakannya.”

Mu Qing mengangguk. Ketika para pelayan datang untuk memberi tahu kedua tuan muda bahwa mereka harus bersiap untuk duduk di perjamuan, Duan Ling menuju taman.

Di taman, meja ditata dalam garis lurus; kursi utama dibiarkan kosong untuk kaisar, dengan satu meja di sebelahnya untuk Cai Yan, dan di belakang Cai Yan, ada meja yang disiapkan untuk Lang Junxia.

Meja pertama di sisi kiri memiliki sebuah plakat dengan tulisan “Xie” sederhana. Dari sana secara berurutan, itu adalah “Su”, “Han”, “Cheng”, serta nama keluarga pejabat lainnya, sedangkan di sebelah kanan adalah tempat Mu Kuangda sekaligus tempat untuk Huang Jian, Duan Ling, Mu Qing, dan yang lainnya.

Cai Yan dan yang lainnya belum datang. Pakaian Duan Ling basah oleh keringat, dan dia duduk untuk membiarkan angin mengeringkannya sebentar. Para pelayan membawakan mereka teh, jadi Duan Ling dan Mu Qing berbicara dengan tenang. Segera, Wu Du datang dan duduk berlutut di belakang Duan Ling.

“Temui Kanselir Mu,” kata Duan Ling dengan berbisik.

Dengan gelarnya saja, dia adalah seorang gubernur sementara Wu Du adalah seorang komandan, yang berarti mereka adalah pejabat dengan pangkat yang sama. Dan menilai dari bagaimana Mu Kuangda membuat rencana tempat duduk, dia sudah berencana untuk membiarkan Duan Ling tampil di depan umum.

Sebagai gubernur Ye, bagi Duan Ling untuk tidak menghubungi Kementerian Adat setelah kembali ke Jiangzhou tetapi untuk muncul begitu saja di kediaman Mu benar-benar tidak pantas; Namun, karena ini yang ada dalam pikiran Mu Kuangda, maka Duan Ling yakin Mu Kuangda memiliki cara untuk membebaskannya, oleh karena itu Duan Ling tidak khawatir sama sekali.

Tetapi kebetulan yang duduk di hadapannya adalah Han Bin. Duan Ling belum pernah bertemu dengannya sebelumnya, jadi dia harus memastikan untuk melihatnya dengan baik.

Pelayan datang dan membisikkan sesuatu kepada Wu Du – Mu Kuangda memiliki perintah untuknya, jadi Wu Du bangun untuk menemuinya.


Di taman, angin musim gugur bertiup saat matahari terbenam menyepuh bumi dengan emas. Yang mengejutkan Duan Ling, yang pertama tiba adalah Zheng Yan. Ketika Zheng Yan masuk, para pelayan membungkuk dan menawarkan untuk membimbingnya ke tempat duduknya, namun Zheng Yan hanya melambai agar mereka tahu bahwa mereka tidak perlu mengikutinya.

“Betapa tidak terduga melihatmu yang pertama di sini, Tuan Zheng.” Duan Ling berkata.

“Betapa tidak terduga melihatmu yang pertama di sini, Tuan Wang.” Zheng Yan juga berkata, keduanya tersenyum saat mata mereka bertemu.

Meskipun perjamuan Pertengahan Musim Gugur diadakan di kediaman Mu, sebenarnya istanalah yang menganugerahkan perjamuan, hanya saja pemakaman Li Yanqiu belum diadakan sehingga lokasinya dipindahkan ke kediaman kanselir. Zheng Yan ada di sini terlebih dahulu untuk memeriksa bahan-bahan di dapur serta keamanan area tersebut. Karena tidak ada orang di sekitar, Zheng Yan menghampiri Duan Ling dan duduk di sebelahnya.

“Apakah Markuis Yao tidak datang?” Duan Ling berkata pelan.

“Dia akan datang,” kata Zheng Yan, melirik Duan Ling, “dia akan duduk di sebelah putra mahkota.”

“Di mana paman? Apakah tidak ada orang bersamanya?”

“Semua orang akan berada di sini malam ini. Tidak ada yang akan terjadi. Dia memiliki Zifeng dan si bodoh besar bersamanya, keterampilan bertarung mereka lumayan. Kau tidak perlu khawatir.”

Duan Ling merasa agak gelisah. Dia bertanya, “Apa lagi yang dia katakan?”

“Dia ingin kau datang untuk menemaninya melihat bulan purnama begitu kau selesai di sini,” Zheng Yan berkata begitu saja sebelum meletakkan tangannya di atas lutut dan bangkit kembali untuk melakukan patroli lagi. Saat dia melewati pintu masuk taman, dia tiba-tiba melihat ke luar.

“Di sini seawal ini?” kata Zheng Yan.

Sebelum kata-katanya memudar, Lang Junxia memasuki taman dari luar, jubah seniman bela diri cyan-nya membuatnya tampak lebih percaya diri dan anggun.

Dia berhenti tepat di luar taman dan tampak ragu-ragu, tetapi Duan Ling berkata kepadanya, “Masuklah.”

Baru saat itulah Lang Junxia masuk. Tidak ada orang lain di sekitar, dan Lang Junxia memeriksa pengaturan tempat duduk sebelum datang ke sisi Duan Ling. Ketika para pelayan datang untuk menyalakan lentera, Lang Junxia meraih lentera di atas kepala Duan Ling, menyesuaikan arahnya sehingga cahayanya tidak langsung menyinari wajahnya.

“Apakah Yang Mulia Pangeran telah meninggalkan istana?” tanya Zheng Yan.

“Dia dan Markuis Yao pergi bersama,” jawab Lang Junxia, ​​”mereka akan tiba di sini dalam waktu setengah jam.”

Langkah kaki mendekat saat Chang Liujun dan Wu Du masuk ke taman melalui serambi yang berkelok. Keempatnya berdiri di tempat yang sama, dan tidak satupun dari mereka berbicara. Suasana menjadi sedikit canggung.

Chang Liujun melirik Zheng Yan sebelum melirik Lang Junxia. Akhirnya, Duan Ling-lah yang memecah kesunyian, “Sekarang setelah Chang Liujun kembali, aku harap semua orang di sini akan membiarkan masa lalu berlalu. Apa pun dendam yang mungkin kalian miliki satu sama lain sebelumnya, tolong biarkan mereka pergi sekarang atas namaku. Tidak ada kata terlambat untuk memukulnya setelah ini selesai.”

Zheng Yan adalah yang pertama dari mereka yang tertawa. “Aku tidak pernah menyimpan dendam.”

“Apa yang dikatakan Kanselir Mu?” Duan Ling bertanya pada Wu Du.

“Huang Jian sibuk dan terlambat, jadi Kanselir Mu ingin kau menyapa semua orang dan membimbing mereka ke tempat duduk mereka.”

Duan Ling mengangguk, ketakutan, dan bangkit dari tempat duduknya. Keempat pembunuh berjalan di belakangnya, berhenti di pintu masuk taman.

“Jenderal Xie ada di sini -“

Bulan purnama menerangi bumi.

Hari ini, Xie You kembali mengenakan seragam perwiranya. Duan Ling benar-benar tidak menyangka dia akan menjadi tamu pertama yang datang, dan Xie You juga tampak terkejut melihatnya. Mata mereka bertemu.

“Silakan lewat sini, Jenderal Xie,” kata Duan Ling sambil tersenyum.

Xie You berkata, “Sepertinya aku datang terlalu awal.”

“Tidak terlalu awal,” kata Duan Ling. “Silahkan duduk.”

“Silakan dan sapa yang lain di luar sana,” kata Xie You. “Kau tidak perlu khawatir tentang orang tua sepertiku.”

“Jenderal Han ada di sini -“

Duan Ling menarik napas dalam-dalam, berdiri tegap, dan melihat seorang pria paruh baya masuk bersama tiga bawahannya. Pria itu mengenakan seragam standar Komando Utara berwarna merah tua, dengan aksen hitam dan desain melingkar yang disulam dengan benang emas di kerahnya, mirip dengan jubah perwira Komando Utara berwarna nila dan hitam yang dikenakan Wu Du. Ini memberi Duan Ling rasa keakraban segera setelah dia melihatnya.

“Ayo, ambilkan anggur untuk dirimu sendiri,” kata Han Bin kepada bawahannya.

“Jenderal Han,” Duan Ling berkata sambil tersenyum.

Hari sudah larut, dan di bawah langit yang gelap, Han Bin mengamati ciri-ciri Duan Ling dengan cermat. “Tentunya kau bukan Mu Qing.”

“Aku Wang Shan,” kata Duan Ling.

“Oh, itu kau-” Tawa Han Bin cerah dan jelas. “Pemuda pemberani!”

Han Bin menepuk bahu Duan Ling, keduanya mengingat apa yang terjadi sebelumnya, dan sesuatu tiba-tiba muncul di benak Duan Ling. Ketika bangsa Mongol menyerang Ye tahun lalu dan Duan Ling menulis surat kepada Han Bin, Han Bin telah menyergap pasukan Mongol, menghentikan mereka. Pasti karena Han Bin dan Mu Kuangda telah menjalin hubungan yang saling menguntungkan pada saat itu sehingga dia setuju untuk membantu begitu saja ketika dia melihat surat itu!

“Jenderal Xie!” Han Bin memperhatikan Xie You dan berjalan ke arahnya.

Xie You mengangguk sebagai salam, mengulurkan tangan untuk memberi isyarat ke sini, dan keduanya mulai mengobrol. Xie You mengirim Duan Ling untuk memberi tahunya bahwa dia akan menjaga Han Bin, dan dia boleh pergi.

Tetapi begitu Duan Ling menjauh, sesuatu sepertinya terjadi pada Han Bin.

“Mengapa aku merasa seperti pernah melihat Wang Shan di suatu tempat sebelumnya?” Kata Han Bin sambil tersenyum.

Duan Ling kembali ke taman, tetapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat ke belakang.

“Han Bin pernah melihat ibumu sebelumnya,” kata Lang Junxia pelan dari tempatnya berdiri, di belakang Duan Ling.

Sisanya tidak mengatakan apa-apa.

“Apakah dia mengenaliku?” Duan Ling bertanya.

“Mungkin tidak,” jawab Lang Junxia. “Itu bukan reaksi yang seharusnya dia lakukan jika dia mengetahuinya.”

“Orang-orang dari sekretariat ada di sini,” kata Wu Du.

“Sekretaris Agung Su ada di sini-“

Begitu Su Fa melihat Duan Ling, katanya dengan takjub. “Wang Shan? Apa yang kau lakukan di Jiangzhou?”

“Aku kembali dengan sedikit terburu-buru.” Duan Ling berkata sambil tersenyum, “Baru sampai di sini hari ini, jadi aku belum memiliki waktu untuk melapor ke Kementerian Adat. Aku akan pastikan untuk melakukannya di pagi hari.”

“Hmph,” Su Fu mendengus. Dia tidak mengatakan apa-apa tetapi dia jelas benar-benar melanggar hukum.

“Yang Mulia putra mahkota ada di sini – Markuis Yao ada di sini -“

Suara nyanyian yang mengumumkan nama mereka hampir tidak berhenti saat percakapan antara Cai Yan dan Yao Fu mengalir ke taman. Suara mereka terus mendekat, dan Cai Yan tersenyum saat berbicara.

“Bulan tahun ini juga lebih penuh daripada tahun lalu,” Cai Yan berkata, “seperti yang mereka katakan, kefanaan membuat kesedihan dalam perpisahan dan kegembiraan dalam pertemuan kembali.

Yao Fu dan Cai Yan berhenti. Yao Fu memberi isyarat agar Cai Yan melihat ke depan.

Tatapan Cai Yan berubah dan matanya bertemu dengan mata Duan Ling. Mereka berdua terdiam pada saat itu.

“Kefanaan membuat kesedihan dalam perpisahan dan kegembiraan dalam pertemuan kembali, sama seperti bulan yang bertambah dan menyusut,” kata Duan Ling, senyum tipis di bibirnya. “Seperti yang mereka katakan, seseorang tidak akan pernah memiliki segalanya.”

Cai Yan menatapnya dalam diam.

Angin sepoi-sepoi yang sejuk menyapu, dan aroma musim gugur yang keras tertiup angin. Keduanya tampaknya telah kembali ke musim gugur waktu itu di Shangjing.

“Kau telah kembali,” kata Cai Yan.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

Leave a Reply