English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Editor: _yunda


Buku 3, Chapter 26 Part 1

Zheng Yan dan Wu Du mengantar Duan Ling ke pintu ruang belajar kekaisaran, di mana Zheng Yan membungkuk. “Yang Mulia, Wang Shan ada di sini.”

“Masuklah,” kata suara Li Yanqiu.

Di kepalanya, Duan Ling telah mempersiapkan dirinya berkali-kali untuk pertemuan ini, namun pada saat dia melangkah ke ruang belajar, pikirannya seketika kosong.

Pada waktu itu, ketika dia bertemu dengan Li Yanqiu di lorong tertutup, dia sama sekali tidak dapat mengatakan apa pun. Bahkan hari ini, dia masih tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.

Li Yanqiu sedang duduk di belakang mejanya dengan kertas ujian Duan Ling tersebar di atasnya. Dia mendongak dari tatapannya pada esai dan memandang Duan Ling. Kali ini, Duan Ling mendapatkan gambaran yang jelas tentang fitur Li Yanqiu.

Dia sangat mirip dengan ayah Duan Ling; alis, mata, dan hidungnya jelas milik orang yang terus dilihatnya dalam mimpi demi mimpi. Dia telah kehilangannya begitu lama, dan begitu dia melihat Li Yanqiu dia merasa seolah-olah berada dalam mimpi lagi.

Suatu ketika, dia takut karena hidup ini begitu panjang, dan seiring berjalannya waktu, pada suatu hari dia akan melupakan seperti apa rupa ayahnya; bahwa dia akhirnya akan kehilangan satu lentera dalam hidupnya — cahaya hidupnya, yang tak tergantikan. Namun melihat Li Yanqiu lagi memenuhi dirinya dengan rasa keterikatan — seolah-olah selama Li Yanqiu ada di sini, dia bisa merasakan kehadiran ayahnya melalui dirinya.

Ini adalah ikatan yang mengikat mereka bersama dalam darah mereka, sesuatu yang tidak akan pernah hilang.

“Wang Shan?”

Duan Ling sadar, dan berlutut, dia melakukan kowtow.

“Salam, Yang Mulia. Hamba adalah Wang Shan orang biasa.”

“Kau tidak akan menjadi orang biasa lagi setelah hari ini. Mereka belum selesai menilai semua kertas ujian, tetapi aku tidak pernah berharap bahwa yang pertama aku baca adalah milikmu. Silahkan duduk. Ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan kepadamu.”

Duan Ling segera membungkuk lagi dan mundur ke satu sisi ruangan, duduk di belakang meja rendah. Ketika dia mengangkat matanya untuk melihat Li Yanqiu, Li Yanqiu kebetulan juga melihat ke arahnya.

Ini adalah hari yang sangat panjang bagi Duan Ling; dia kembali ke kota saat fajar dan tiba di istana pada malam hari, menulis ujiannya sepanjang malam; dan sebelum dia menyadarinya, ini sudah lewat tengah malam.

Li Yanqiu bahkan lebih lelah dari dirinya, menghabiskan pertemuan pagi yang menguncinya dalam pertempuran akal dengan para pejabatnya, untungnya pertemuan berjalan dengan baik setelah pembubaran. Dia bersandar di sisi mejanya, dan dengan tenang memperhatikan pihak lain di ruangan itu, tak satu pun dari mereka mengatakan sepatah kata pun.

Di luar, hujan masih turun, hujan yang hampir seperti air terjun menghantam jendela, iramanya bercampur dengan suara siulan angin.

“Suara apa itu?” Li Yanqiu bertanya perlahan, bingung.

Berbaring di tempat tidur di tengah malam aku mendengarkan badai; di atas kuku besi aku melintas di Sungai Kuning yang membeku dalam mimpiku.”1Dari puisi berjudul Hujan Badai di Bulan Kesebelas Tanggal 4, oleh Lu You, dimaksudkan untuk menyampaikan kesediaan seorang terpelajar untuk memperjuangkan negaranya. https://en.m.wikipedia.org/wiki/Lu_You#Poems

Li Yanqiu tidak bisa menahan senyumnya, dan perlahan, dia menghela napas. Duan Ling tahu bahwa Li Yanqiu mungkin sudah mengetahui asal usulnya, keluarga, usia, dan status pernikahannya dari Wu Du … Jadi untuk saat ini dia tidak bisa memikirkan hal lain untuk ditanyakan.

“Kau yang menulis esai ini?”

“Tentu Yang Mulia.” Tentu saja aku yang menulis esai itu sendiri. Memangnya siapa yang bisa menggantikanku ujian?

“Esaimu membuatku memikirkan seseorang.”

“Apakah mereka adalah teman Yang Mulia?”

“Dia adalah orang yang tidak banyak bicara, dan tidak pernah menulis esai apa pun. Tetapi dia juga mengatakan beberapa hal ini — misalnya, ‘ketika berjalan di jalan yang lebar, seseorang hanya harus berhati-hati bahwa itu mungkin saja jalan yang salah.'”

Duan Ling tahu bahwa meskipun mereka telah memindahkan ibu kota ke Jiangzhou, situasi politik tetap genting dan setiap langkah yang salah dapat menyebabkan fondasi yang dibangun Chen yang Agung selama bertahun-tahun runtuh di bawah mereka. Jadi Li Yanqiu berada di bawah banyak tekanan; tanggung jawab menjalankan seluruh kekaisaran menjadi beban di pundaknya. Dari perspektif itu, Mu Kuangda adalah keberadaan yang benar-benar meyakinkan bagi keluarga Li.

Untuk berurusan dengan orang-orang di dalam kekaisaran, mereka memiliki kanselir yang hebat, tetapi mereka tidak memiliki jenderal yang berani untuk berurusan dengan orang-orang di luar. Kutukan terbesar kekaisaran mereka adalah musuh asing mereka. Duan Ling percaya Mu Kuangda masih memiliki kemampuan untuk menstabilkan situasi — yang harus mereka lakukan hanyalah memberinya waktu paling lama tiga tahun, dan kekuatan Jiangzhou akan dikumpulkan dengan kuat dalam cengkeraman pemerintah pusat. Adapun apakah yang memegang kekuatan ini pada akhirnya adalah keluarga Mu atau Li … Yah, itu adalah sesuatu yang tidak dapat dikatakan dengan pasti.

“Kita hidup di zaman keemasan. Yang Mulia telah menerapkan kebijakan layanan wajib yang ringan dan pajak yang rendah, sehingga rakyat dapat berharap untuk hidup dalam damai dan memiliki pekerjaan yang harus dilakukan. Meskipun kita diterjang banjir untuk saat ini, itu pasti tidak akan bertahan lama. Yang Mulia tidak perlu khawatir.”

“Kau benar. Kutukan terbesar kita tetap ada di utara.”

Li Yanqiu mengesampingkan kertas ujian Duan Ling. “Cahaya mutiara pada akhirnya akan bersinar menembus lapisan debu. Aku sudah membaca esai ujianmu, tetapi demi keadilan, itu akan diserahkan kepada pejabat penilaian untuk menilai bagaimanapun juga, karena itulah satu-satunya cara bagi semua orang untuk mengenali nilaimu. Aku sudah selesai mengajukan pertanyaan padamu, jadi kau boleh pergi. Kirim Wu Du masuk ketika kau melihatnya.”

Maka Duan Ling mendorong pintu hingga terbuka lagi dan berjalan ke luar. Meskipun mereka hampir tidak berbicara, untuk beberapa alasan aneh, dia menemukan hatinya merasa sangat tenang. Pertemuan formal di antara mereka tampaknya telah menenangkannya. Kedua saudara ini, paman dan ayahnya, tampaknya memiliki kemampuan aneh untuk melihat segala sesuatu dengan mata acuh tak acuh, entah apakah dunia sedang terbalik atau tidak. Saat kau berada di samping mereka, bahkan jika langit runtuh, tidak ada yang perlu ditakuti.

Wu Du menatap mata Duan Ling sebelum pergi ke ruang belajar. Duan Ling berdiri di luar untuk menunggunya, dan dia menatap Zheng Yan, tetapi Zheng Yan tampak termenung, menatap tirai hujan yang menetes dari atap. Sementara itu, seluruh hati Duan Ling bergantung pada Wu Du di dalam ruang belajar, dan dia dapat mendengar suara Li Yanqiu; tidak keras, seolah-olah dia memberikan instruksi pada Wu Du, dengan tidak lebih dari sesekali kalimat tentu saja dari Wu Du.

Kali ini, percakapan tidak berlangsung lama sebelum Li Yanqiu berkata, “Kau boleh pergi.”

Wu Du baru keluar setelah itu, memberi Zheng Yan anggukan cepat sebelum dia membawa Duan Ling pergi bersamanya.

“Apa yang dia tanyakan padamu?” Duan Ling bertanya.

Berdiri di beranda, Wu Du membuka jas hujan anyaman dan meletakkannya di atas kepala Duan Ling. “Dia bertanya apakah aku menemukan petunjuk tentang keberadaan Zhenshanhe…”

Tiba-tiba, Wu Du berhenti berbicara, dan menggelengkan kepalanya saat dia menyadari sesuatu.

“Ayo pergi,” katanya.

Wu Du meraih tangan Duan Ling, dan begitu mereka berdua keluar dari taman istana, mereka mengambil beberapa langkah cepat ke dalam istana, menghindari jalan sempit di antara dua bangunan. Dia kadang-kadang membuat Duan Ling berjalan di sampingnya dan di lain waktu di belakangnya, sesekali menoleh ke belakang untuk melihat ke atas tembok.

Kali ini, Duan Ling juga memperhatikan — sesosok melintas melewati bagian atas lorong.

Ketika mereka keluar dari istana, banjir telah mencapai lutut Benxiao. Wu Du menyuruh Duan Ling menaiki kudanya terlebih dahulu, lalu dia membalikkannya, menggunakan punggungnya untuk menghalangi pandangan dari atas tembok istana sampai ke gerbang belakang.

“Hup!” Dengan goyangan kendali, Benxiao melintasi air seperti perahu menuju pantai seberang, menembus kegelapan.

Kediaman kanselir masih terang benderang seperti biasanya. Begitu banyak hal telah terjadi, dan ini baru hari pertama mereka kembali; mereka berdua kembali ke rumah dalam keadaan basah kuyup, dengan air banjir sudah menggenangi kamar mereka. Mereka tidak di rumah sepanjang hari, dan Duan Ling mengantuk sebelumnya, tetapi sekarang setelah dia melihat keadaan rumah mereka, dia langsung terbangun.

Benxiao tidak memiliki ruang untuk berbaring di istal, jadi ia tidak bisa tidur. Yang bisa dilakukannya hanyalah istirahat sambil berdiri.

Wu Du berjalan untuk mengatur barang bawaan di atas meja. Duan Ling bertanya, “Siapa yang membuntuti kita tadi?”

“Penjaga Bayangan,” jawab Wu Du. “Mereka terlalu kurang ajar. Jika tidak hujan dan aku tidak bersamamu, aku pasti akan memberi mereka pelajaran.”

Duan Ling tahu Cai Yan sudah mencoba mencari cara untuk menghadapinya. Mungkin mereka hanya membuntutinya hari ini, hanya untuk melihat kemampuannya. Lain kali mereka mungkin akan mencoba metode yang lebih berani.

“Apa yang Mulia katakan padamu?” Wu Du bertanya.

“Tidak berarti. Dia hanya menanyakan beberapa pertanyaan yang tidak jelas, itu bukan sesuatu yang konkret.”

Duan Ling memberi tahu Wu Du apa yang terjadi dalam pertemuannya dengan Li Yanqiu sebelum bertanya padanya, “Lalu apa yang kalian berdua bicarakan di ruang belajar?”

“Dia berkata … Dia tiba-tiba berubah pikiran.”

“Apa?!” Duan Ling berkata, terperangah.

“Dia mengatakan padaku untuk terus melakukan apa pun yang ingin aku lakukan. Karena aku tidak ingin bergabung dengan Istana Timur, maka aku harus tetap berada di sisimu seperti dulu, dan dia akan mengurus sisanya. Dan dalam beberapa hari setelah banjir reda, dia berkata bahwa dia memiliki hal lain yang ingin dia berikan padaku. Kukira ini tentang Zhenshanhe lagi.”

“Apakah kau memiliki petunjuk tentang keberadaannya?”

Wu Du menggelengkan kepalanya. “Itulah sebabnya aku bertanya padamu apa yang kau bicarakan dengannya di ruang belajar kekaisaran.”

“Tapi aku tidak mengatakan apa pun.” Duan Ling mengerutkan kening.

“Kalau begitu, itu aneh.” Wu Du mengangkat tempat tidur dan berkata pada Duan Ling, “Letakkan batu bata di bawah kaki tempat tidur. Kita akan menopangnya sehingga kita dapat tidur.”

Duan Ling menopang tempat tidur yang sudah terhuyung-huyung di ambang kehancuran. Ini pertama kalinya dia melihat banjir jadi dia juga tidak yakin harus berbuat apa. Dia hanya bisa duduk di tempat tidur bersama Wu Du, tidak berani bergerak sedikit pun agar tempat tidurnya tidak ambruk ke air.

“Aku mengantuk,” kata Duan Ling.

“Tidurlah kalau begitu. Berhati-hatilah di malam hari. Jangan pergi ke mana pun sekarang.”

Duan Ling tidak yakin apakah harus tertawa atau menangis; dia tidak memiliki pilihan selain berbaring dengan hati-hati.

“Apa yang akan kita lakukan besok?” Gumam Duan Ling, membungkus dirinya di dekat Wu Du, kepalanya bersandar di bahunya.

Hidupnya penuh dengan ketidakpastian dan bahaya. Mu Kuangda, Li Yanqiu, Cai Yan … begitu banyak hal dan begitu banyak orang telah membentuk jaring rumit di sekelilingnya, dia tidak dapat melepaskan dirinya sendiri — setiap gerakan yang dia lakukan akan memperingatkan yang lain. Dia perlu menjelaskan dirinya pada Mu Kuangda, waspada terhadap rencana Cai Yan, dan membuktikan identitasnya pada Li Yanqiu. Begitu banyak masalah sulit yang berdiri di hadapannya seperti dinding demi dinding yang tidak dapat digoyahkan.

“Jangan pikirkan apapun. Tidurlah.”


Keesokan paginya, ketika matahari menyinari ruangan, hujan sudah berhenti, tetapi banyak wilayah di Jianzhou masih terendam. Bukan hanya Jiangzhou — debit Sungai Yangtze di luar kota juga meningkat tajam.

“Bangkit dan bersinarlah!” Wu Du berteriak ke arah kamar.

Duan Ling membuka matanya hanya untuk menemukan papan kayu di depan tempat tidur, ditopang oleh batu bata, mengarah dari tempat tidur ke dinding roh2Dinding internal atau eksternal yang menyaring gerbang atau pintu masuk lainnya. di dekat gerbang halaman, berbelok di tikungan sebelum meninggalkan rumah seperti dermaga kecil.

Duan Ling menyeringai; matahari sudah setengah jalan menuju tengah hari, dan dia tidak tahu kapan Wu Du melakukan begitu banyak hal dengan diam-diam tanpa sepengetahuannya. Dia mengenakan jubah luar, mengencangkan ikat pinggangnya, dan dengan hati-hati berjalan di sepanjang papan. Di luar gerbang halaman ada perahu kecil dengan kompor panas kecil, yang airnya mendidih.

Duan Ling duduk di perahu dan Wu Du menyisir rambutnya, mengikatnya untuknya. “Aku akan membawamu ke suatu tempat yang menyenangkan. Ayo pergi—”

“Tunggu tunggu tunggu!” Semua kekhawatiran Duan Ling dari malam sebelumnya sudah menghilang, ditinggalkan di suatu tempat jauh di belakang, dan dengan kejutan wahyu tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya.


Ini adalah banjir seratus tahun, dan itu terjadi pada tahun baru pertama tepat setelah relokasi ibu kota, yang mana membuatnya menjadi pertanda buruk. Semua orang di kota bergosip tentang ini dan merasa cemas. Istana dibangun di tempat yang lebih tinggi, sehingga tidak terkena dampak.

Ketika Cai Yan bangun saat fajar, hal pertama yang dia lakukan adalah memanggil Feng Duo, dan setelah mendengar laporannya, Cai Yan terlihat sangat marah.

“Berapa lama dia tinggal di ruang belajar kekaisaran?”

“Tidak sampai seperempat jam. Orang-orang kami ingin terus mengikuti mereka, tetapi Wu Du sudah menyadarinya sehingga mereka hanya bisa mundur.”

“Mana kertas ujiannya?” Suara Cai Yan bergetar.

“Itu masih di dalam ruang belajar kekaisaran. Yang Mulia sudah membacanya, Yang Mulia Pangeran. Itu tidak akan ada gunanya tidak peduli apa yang kita coba lakukan sekarang. Tadi malam, Yang Mulia memerintahkan Akademi Kekaisaran untuk menilai esai-esai itu sepanjang malam, dan mulai memilih nama-nama yang masuk daftar kehormatan sebelum fajar. Alasan yang dia berikan adalah karena ini tidak dapat ditunda lagi dengan banjir yang sedang terjadi. Hasilnya akan diumumkan sore ini, dan Ujian Istana akan diadakan lusa.”

“Secepat itu?!” Cai Yan berkata dengan tidak percaya.

“Dan jika kita menunggu sampai ujian istana terlaksana, itu akan menjadi pembunuhan … pembunuhan seorang pejabat pengadilan kekaisaran. Yang Mulia Pangeran?”

Tampak kusut dan terlihat tidak seperti biasanya, Cai Yan berdiri di aula istana, terengah-engah berulang kali.

“Kirim Wuluohou Mu.” Cai Yan akhirnya berkata, “Kau boleh pergi.”


“Mu Qing—!”

Duduk di haluan, Duan Ling berteriak ke dalam rumah kanselir agung melalui gang belakang, sementara di belakangnya Wu Du berdiri di buritan, mengemudikan perahu hitam kecil mungil mereka.

Mu Qing menjulurkan kepalanya keluar dari jendela lantai dua, dan menyadari bahwa itu adalah Duan Ling yang sepertinya sedang keluar untuk bersenang-senang, dia bersorak dan bergegas menuruni tangga.

“Bawalah beberapa uang!” Duan Ling berteriak. “Bawalah yang banyak!”

“Berapa banyak?!” kata Mu Qing.

“Seratus, mungkin! Aku memiliki surat dengan tulisan tangan ayahmu, jadi ayo tanda tangani dulu!”

Chang Liujun melemparkan sekantong perak yang mengenai perahu dengan suara tung, dan bersama dengan sedikit tabungan dari Duan Ling dan Wu Du, mereka memiliki dua ratus dua puluh tael perak dan empat puluh tael emas di antara mereka.

Mereka bertiga duduk di perahu, dan dengan sekali dorongan galah Wu Du, perahu berbelok dari sudut gang ke jalan utama, melaju menuju selatan kota. Di tengah bencana ini, rakyat di Jiangnan telah menemukan cara untuk menghibur diri mereka sendiri, membangun gubuk sementara di lantai dua untuk membuka bisnis mereka seperti biasanya di permukaan tanah. Banyak orang bepergian ke kota dengan perahu, dan anak-anak duduk di baskom kayu untuk mendayung di air.

Dalam semalam, Jiangzhou telah menjadi kota air. Duan Ling tidak dapat menahan senyum saat melihatnya, dan bagi Mu Qing, pemandangan ini bahkan tampak baru baginya, dia sangat bersemangat sehingga dia hampir tidak bisa menahan diri. Sebelum mereka mulai, Wu Du membawa perahu mereka ke markas Zirah Hitam, di mana Xie You berdiri di haluan perahu, berangkat untuk berpatroli di kota dengan berlayar.

“Jenderal Xie.” Duan Ling menyerahkan surat dari kediaman kanselir. “Tolong tanda tangan di sini untuk memberi kami izin bertindak sesuai keleluasaan3Kebebasan (bergerak, bertindak, dan sebagainya). kami.”

Hal pertama yang dia lakukan setelah bangun pagi ini adalah menemui Mu Kuangda tentang surat tertulis resmi dari kanselir untuk membagikan gandum dari lumbung kota sebagai bantuan bencana sementara. Dia juga membawa sejumlah uang dari rumah mereka, sehingga jika mereka tidak memiliki cukup gandum untuk dibagikan, mereka dapat membeli lebih banyak lagi. Tetapi untuk melakukan semua itu, dia masih memerlukan izin Xie You.

Mu Qing bersama dengan mereka, jadi dia seperti token berjalan. Xie You mengamati Duan Ling sejenak — diikuti oleh dua pembunuh hebat, ditemani oleh putra kanselir — dan dia menandatangani formulir untuknya. Prajurit Jiangzhou akan memberinya sepuluh perahu untuk digunakan sesuai keleluasaannya.

Dan Duan Ling akhirnya memimpin sepuluh sampan hitam Zirah Hitam; dia memerintahkan kajang4 Atap perahu. di kapal dilepas untuk saat ini, dan armada megah mereka berlayar menuju lumbung. Begitu mereka menerima makanan, mereka berlayar zig-zag melalui jalan-jalan dengan Wu Du sebagai pemimpin mereka, berpisah untuk bergerak melalui jalan-jalan dan gang-gang untuk membagikan gandum.

Ini adalah rumahnya; negaranya.

Duan Ling membawa rakyat di wilayah yang terkena bencana ke perahu dan membawa mereka ke tempat yang lebih tinggi. Ketika dia selesai membagikan semua makanan yang mereka miliki, dia melihat ke arah tepi sungai di kejauhan, itu sudah berubah menjadi hamparan air yang luas, dan dia tidak bisa menahan napas saat dia melihat sekeliling lagi.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

yunda_7

memenia guard_

Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments