English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Rusma
Editor: _yunda


Buku 3, Chapter 25 Part 5

Setelah Duan Ling kenyang, dia meletakkan sumpit tepat di atas kotak makanannya dan menutup tutup di atasnya.

“Memasak itu seperti menulis esai.” Zheng Yan berkata begitu saja dari luar pintu, “Seseorang harus memperhatikan keharmonisan antara bahan-bahannya. Setiap hidangan tidak boleh hanya pedas, atau asin. Kadang-kadang seseorang juga harus menanyakan dari mana asal makanan itu, mengamati penampilan mereka, menebak preferensi mereka. Makanan terbaik seringkali adalah yang paling cocok.”

“Terima kasih atas sarannya,” jawab Duan Ling sambil tersenyum. “Siapa pun yang akan menikahimu suatu hari nanti tidak akan pernah ingin pergi ke mana pun.”

Zheng Yan menyeringai dan menggodanya, “Pada dasarnya kita menginginkan makanan dan seks, seperti yang di katakan orang-orang; jika kau tinggal bersamaku, aku jamin kau akan makan setiap hari ketika kau bangun, dan juga akan ada sesuatu untuk dimakan ketika kau berbaring. Ketika kau duduk, aku akan memberimu makan, dan ketika kau datang ke tempat tidur, aku bahkan akan memelukmu dalam dekapanku sambil memberimu makan — dan semua itu akan menjadi makanan terlezat yang tidak bisa diharapkan untuk dicicipi di dunia fana.”

Duan Ling tahu jika dia melanjutkan percakapan ini, Zheng Yan tidak akan pernah berhenti, dan Duan Ling akan menjadi satu-satunya yang terus diolok-olok, jadi dia hanya bisa mengubah topik pembicaraan dengan kaku. “Membuat makanan juga seperti mengelola negara; mengatur sebuah negara besar ibarat menggoreng ikan kecil.”

Zheng Yan masuk untuk mengambil kembali kotak makanan, dan sebagai imbalannya dia memberi Duan Ling satu set alat tulis, meletakkannya di depannya. “Ayo, mulai menulis. Esai ujianmu basah kuyup, dan Yang Mulia memerintahkan memulai ujian ibukota yang baru hari ini.”

Duan Ling sebenarnya telah memikirkan masalah itu sebelumnya, dan sekarang dia memberi Zheng Yan anggukan dan menyebarkan gulungan itu. Ada satu baris teks tertulis di atasnya — Bermandikan hujan, disisir angin, dia membawa stabilitas untuk negeri. 

Duan Ling menatapnya, merasa tidak bisa berkata-kata.

Ini adalah kalimat dari Berbagai Ucapan Zhuangzi1, dari sebuah bab berjudul “Alam”, dan bukan dari Empat Buku dan Lima Klasik. Dia tidak tahu apakah orang lain membacanya, tapi dia pernah membaca ini sebelumnya. Apakah semua orang mendapatkan pertanyaan yang sama? Mengapa mereka memberi peserta pertanyaan semacam ini? Bagaimana peserta ujian lain akan menjawabnya?

Zheng Yan juga tidak mengatakan apa-apa padanya, dia hanya bersedekap dengan pedang di tangannya, lalu tertidur di dipan, jelas keberadaannya di sini sebagai pengawas.

Ini sudah di luar lingkup ujian untuk sekolah standar. Duan Ling tidak bisa tidak ingat akan ayahnya; beliau sangat menyukai Sekolah Taois. Dalam memasak, mengatur sebuah negara besar ibarat menggoreng ikan kecil; dalam latihan, penjagal menyembelih sapi dengan cara bekerja sama; dalam perilaku, memahami orang lain adalah kebijaksanaan; mengetahui diri sendiri adalah pencerahan; dalam hidup, mereka yang puaslah yang kaya.2

Itu sebabnya Duan Ling juga menyukai sekolah Tao dan membaca Zhuangzi, di dalamnya Pada Dapeng yang mengepakkan sayapnya pada angin kencang untuk mendaki sembilan puluh ribu mil,3 kekacauan sebelum dunia dibuat, kura-kura yang hidup bebas di lumpur menyeret ekor panjang mereka untuk membuat jejak di belakang mereka,4 pohon yang tidak tumbuh cukup lurus untuk digunakan tukang kayu….5

Bagian tentang Yu yang Agung yang mengendalikan banjir juga ada di dalamnya — “Ketika Yu yang Agung menggunakan retribusi untuk menghentikan banjir, dia mengeruk Sungai Yangtze dan Sungai Kuning lalu menggabungkan saluran air provinsi, sehingga membawa tiga ratus sungai besar, tiga ribu anak sungai, dan sungai yang tak terhitung jumlahnya di bawah kendali. Yu yang Agung membawa keranjang dan bekerja menggunakan sekop dengan tangannya sendiri, dan akhirnya mengarahkan air yang terkumpul di atas daratan ke sungai-sungai besar. Dengan demikian karena kelelahan, tidak ada lagi lemak yang tersisa di pahanya, juga tidak ada rambut yang tersisa di kakinya. Bermandikan hujan, disisir angin, dia membawa stabilitas untuk negeri.”

Teks ini berasal dari idiom “mandi hujan disisir angin”.

“Apakah Yang Mulia mengajukan pertanyaan ini?”

“Jawab saja. Aku orang yang tidak berpendidikan — aku bahkan tidak bisa membaca, jadi bagaimana aku bisa tahu?”

“Kau harus tahu cara membaca.” Duan Ling bahkan tidak yakin harus berkata apa.

Zheng Yan menyeringai. “Jika kau diberi gelar Utama, aku juga akan memintamu untuk menjadi masterku.”

Duan Ling berpikir sejenak, tidak yakin apa yang dimaksud Li Yanqiu dengan menjadikan ini sebagai pertanyaan ujian. Apakah dia benar-benar memikirkan banjir yang melanda negeri ini sekarang atau ada maksud lain? Dia tidak berani gegabah membuat dugaan tentang apa yang mungkin dipikirkan Li Yanqiu ketika dia mengajukan pertanyaan ini, dan menuliskan kata-kata “membersihkan jalan lebih baik daripada menghalangi dengan paksa” — upaya untuk menjawabnya dengan cerita di balik metode mitigasi banjir menurut Yu yang Agung.

Kali ini dia mendapati dirinya tidak mengalami kebuntuan dalam menulis, dan begitu kuasnya menyentuh lembar halaman, kata-katanya mengalir begitu saja. Saat dia memikirkan sekitar seribu kata, pelayan masuk untuk menyalakan lentera, tetapi Zheng Yan tidak bergerak sama sekali sejak dia mulai, duduk di sana seperti patung.

Hatinya tetap tenang dan jernih, Duan Ling menuliskan segala yang berkaitan dengan pengelolaan air, kemudian beralih ke pengelolaan negara serta bangsa. Sentimen populer itu seperti air, dan air itu dapat membawa perahu sekaligus membalikkannya; ia mampu membawa perahu berlayar di atasnya, tetapi ombaknya juga bisa menggulung menyentuh cakrawala. Hanya dengan membimbing jalannya seseorang dapat memerintah dan membawa perdamaian bagi bangsa.

Setelah Duan Ling selesai menulis, dia merasa jantungnya mendarat di tanah yang kokoh, tetapi sekarang dia mulai bertanya-tanya di mana Wu Du berada. Apakah dia meminta Zheng Yan untuk menemaninya?

“Di mana Wu Du?”

“Dia menunggu di sini,” jawab Zheng Yan. Memperhatikan bahwa Duan Ling telah menyelesaikan esainya, dia datang untuk mengambilnya, menyegelnya dalam tabung kertas sebelum dia berbalik untuk pergi.

Segera setelah Zheng Yan pergi, Duan Ling kembali tegang karena mungkin ada pembunuh yang datang untuk menghabisinya. Untungnya, tidak lama kemudian Wu Du melangkah ke aula seolah-olah mereka berdua sedang berganti jaga.

“Apa yang sedang terjadi?” Duan Ling bertanya.

Wu Du merasa cemas. Dia meletakkan jari di depan mulutnya, membuat gerakan hush sebelum duduk di sebelah Duan Ling. “Kita belum bisa pulang. Yang Mulia akan membaca esai ujianmu.”

Wu Du menjaga suaranya tetap rendah dan menceritakan apa yang terjadi sebelumnya sepelan mungkin.

Alis Duan Ling menyatu dengan erat. “Aku sudah berjanji pada Kanselir Mu, jadi kita benar-benar tidak bisa menolak lagi. Apa yang akan kita lakukan?”

“Aku akan mencari tahu sesuatu.”

“Atau mengapa kita tidak … memberitahunya hari ini.” Duan Ling telah berada di bawah tekanan terlalu lama — lebih baik merobek perban daripada memperpanjang penderitaan, pikirnya — jadi sebaiknya dia memberi tahu Li Yanqiu segalanya. Tetapi dia benar-benar tidak yakin bagaimana keadaannya nanti. Mungkin akan ada pertarungan melawan Cai Yan dan Lang Junxia, ​​tetapi Duan Ling sendiri tidak memiliki apa pun yang dapat dia andalkan kecuali dua kertas ujian yang mereka curi dari orang-orang Mongolia.

“Apakah kau membawa kertas ujian itu?”

Wu Du menunjukkan pedangnya kepada Duan Ling, melepaskan tali yang diikatkan ke sarungnya untuk memperlihatkan tepi kertas yang menguning. Duan Ling menarik napas dalam-dalam, mengangguk, lalu menyegelnya kembali.

“Apa yang ingin kau lakukan?” Wu Du bertanya.

Jantung Duan Ling berdebar kencang. Dia melingkarkan lengannya pada tubuh Wu Du dan membenamkan wajahnya di dadanya.

Wu Du membalas pelukan Duan Ling. “Jangan khawatir, tidak ada yang bisa melakukan apa pun padamu. Jika ada yang tidak beres, aku akan membawamu bersamaku dan kabur.”

Duan Ling menarik napas dalam-dalam, menggelengkan kepalanya, dia mulai menenangkan diri.

“Mari kita ikuti alurnya saja,” kata Duan Ling.

Ini akan menjadi tantangan terbesar yang harus dia hadapi sepanjang hidupnya sejauh ini.

“Jika aku tidak bergabung dengan istana, memangnya apa yang bisa dilakukan Kanselir Mu kepadaku? Jika dia memojokkanku ke dinding, tidak ada dari mereka yang akan keluar dari sini dalam keadaan utuh.”

Duan Ling terdiam sesaat, khawatir tak terkira.

“Kecuali kanselir dan Yang Mulia berubah pikiran,” jawab Duan Ling, “Kanselir Mu pasti akan memaksa kita untuk melakukannya.”

Perlahan-lahan dia mulai membentuk ide tentang apa yang harus dilakukan. Dia tidak yakin apakah sekarang adalah waktu terbaik, tetapi setidaknya mereka masih memiliki jalan lain yang bisa mereka ambil.

“Seseorang menggeledah rumah kita,” kata Duan Ling. “Wuluohou Mu tahu tentang kertas ujian, jadi mereka pasti menemukan cara untuk balik melawan. Segalanya tidak akan semudah itu. Kita tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Yang Mulia hari ini — jika tidak, ada kemungkinan besar kita akan jatuh ke dalam jebakan.”

Wu Du merenungkan ini sejenak sebelum mengangguk. “Apakah Zheng Yan mengatakan sesuatu padamu?”

Duan Ling menggelengkan kepalanya.

“Baru saja terpikir olehku hari ini,” kata Wu Du, “bahwa ketika kita kembali beberapa hari yang lalu dan aku sedang membereskan barang-barang, Zheng Yan juga melihatnya. Apakah kau memperhatikan sesuatu?”

Duan Ling mengingat kembali malam itu dan perlahan menggelengkan kepalanya. Malam itu, Zheng Yan memang hadir, tetapi apakah dia tahu apa yang dimasukkan Wu Du ke dalam sarung pedangnya? Dia tidak mungkin memperhatikan sejeli itu, kan? Seketika punggung Duan Ling diselimuti oleh keringat dingin — Zheng Yan melihat Lang Junxia membuka kompartemen rahasia sarung pedang, dan dia mengira mungkin ada sesuatu yang disimpan di dalamnya. Tidak … kompartemen rahasia jelas untuk menyembunyikan barang.

Bahkan pada saat itu dia berkata, sekarang kita sedang bermain apa? 

Bersamaan dengan fakta bahwa jika Zheng Yan telah memperhatikan Wu Du, dia mungkin telah melihat apa yang dimasukkan Wu Du ke dalam sarung pedangnya, dan jika Zheng Yan cukup pintar untuk menyatukan ekspresi yang dibuat Lang Junxia sebelumnya, dan reaksi Wu Du pada saat itu, dia pasti akan bisa menebak bahwa Wu Du telah mengambil sesuatu dari sarung pedang itu, dan menyembunyikannya!

“Di pihak siapa Zheng Yan berada?” Duan Ling bertanya.

“Dia kebanyakan menjauhi banyak hal. Bahkan saat itu dia hanya melakukan beberapa pekerjaan untuk Markuis Huaiyin karena dia berteman dengan Yao Fu. Aku mendengar bahwa beberapa tahun yang lalu mendiang kaisar pergi ke Huaiyin dan berteman cepat dengannya sejak mereka bertemu, dan begitulah Zheng Yan berakhir di sini di istana. Ada apa?”

Wu Du menatap Duan Ling. Duan Ling sedang mempertimbangkan sudut pandang Zheng Yan, dimanakah dia berdiri. Jika ayahnya masih hidup, Zheng Yan mungkin akan menjadi salah satu dari sedikit orang di dunia yang cocok dengan ayahnya itu. Wu Du, bagaimanapun, tampaknya sedikit cemburu. “Dia tidak meraba-rabamu atau semacamnya, kan?”

“Tentu saja tidak.” Duan Ling balas menatapnya dengan canggung — suasana serius yang menggantung di antara mereka tiba-tiba ambyar.

“Biarkan aku memeriksanya” Wu Du menjangkau Duan Ling.

Duan Ling berbisik, “Kita berada di istana!”

Dengan semua sentuhan dan remasan, Duan Ling langsung merasa tidak nyaman, tetapi kemudian Wu Du membungkuk untuk menciumnya, dan hanya dengan beberapa kecupan, napas Duan Ling mulai bertambah cepat.

“Aku ingin pulang,” kata Duan Ling.

“Atau kita bisa pergi saja,” kata Wu Du.

Pergi ke suatu tempat tanpa orang dan tanpa begitu banyak hal yang mereka khawatirkan… Hati Duan Ling tiba-tiba diselimuti dengan kelembutan; tidak peduli apa, dia masih memiliki alternatif, dan alternatif ini adalah pria di sampingnya. Tidak peduli siapa dia, tidak peduli apa dia, apakah dia Duan Ling atau Wang Shan ataukah Li Ruo … pria ini tidak akan pernah meninggalkan sisinya.

Dia mengangkat pandangannya ke arah Wu Du, bersandar pada pria di depannya, Duan Ling memberinya ciuman di bibir.

Seluruh wajah Wu Du berubah merah, dan menutupi hidungnya dengan satu tangan dia berbalik, entah bagaimana terlalu malu untuk melihat Duan Ling.

Duan Ling hanya tertawa. “Apa yang membuatmu memerah?”

Wu Du bahkan tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun lagi, dan dia melambai agar Duan Ling berhenti melakukannya. Tepat pada saat itu, langkah kaki mendekat. Itu Zheng Yan.

“Aiyo. Bagaimana kalau mengajakku bersenang-senang juga? Itu akan memberiku kesempatan untuk mengajari kalian dua hal.”

“Enyah!” Wu Du berkata dengan marah.

Tetapi Duan Ling balas tersenyum padanya. “Kemarilah dan mari kita bicara.”

Duan Ling terus tersenyum, tetapi dia memikirkan bagaimana dia dapat mengetahui lebih banyak tentang Zheng Yan.

Ada binar di mata Zheng Yan saat dia menatap dalam Duan Ling. “Yang Mulia ingin bertemu denganmu.”

Jantung Duan Ling langsung jungkir balik. Wu Du melirik Duan Ling, dan Duan Ling mengangguk padanya.

Maka Wu Du berkata, “Aku akan membawamu ke sana.”


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Ada beberapa sekolah pemikiran/filsafat, dan ujian sipil didasarkan pada ajaran Laozi (Konfusius) atau murid-muridnya. Pertanyaannya di sini adalah dari segi sekolah Taois, dan itu bukan bagian dari pengajaran standar. Li Jianhong, bagaimanapun, selalu menyukai sekolah Tao.

    _yunda: aku juga suka pembahasan prinsip hidup Zhuangzi. Filsafatnya tentang filsafat kebebasan tetapi bukan bebas lepas tak terkendali tetapi bebas dengan ikatan hati nurani. Dan dia selalu menggunakan bahasa dan esensi alam yang sangat indah dan menawan.

  2. Semua ini diambil dari Kitab Dao.
  3. Peng (Peng besar, atau Dapeng) adalah makhluk mitologis yang berubah dari Kun. Dalam hal perspektif segala sesuatu tergantung apa, siapa, dan kondisinya. Standar buatan manusia tidaklah mutlak. Jika mengira yang relatif itu mutlak maka manusia makin jauh dari kebenaran. Jadilah diri sendiri!
  4. Hidup dengan bebas tanpa terkekang oleh kekuasaan dan pandangan orang lain.
  5. Kegunaan dan kebahagiaan orang berbeda-beda. Bukankah menjadi diri sendiri lebih menyenangkan.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments