English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Rusma
Editor: _yunda


Buku 3, Chapter 23 Part 3

Duan Ling tidak menyadari bahwa emosi khusus ini muncul seiring berjalannya waktu; yang dia tahu hanyalah keinginan di dalam hatinya mengalir ke sana kemari tepat di bawah permukaan, dan itu tidak bisa dihilangkan. Sebenarnya, ketika dia pertama kali mengajukan permintaannya, yang sebenarnya dirinya inginkan hanyalah agar Wu Du membelikannya setusuk tanghulu setelah ujian.

Tapi lambat laun hatinya mulai dipenuhi dengan angan-angan, sampai hari di mana dia bangun pada hari ujian dan kelopak bunga melayang melewati jendela untuk mendarat di pipinya.

“Bangun dan bersinarlah,” kata Wu Du.

Dengan mata mengantuk, Duan Ling duduk. Wu Du membuka pintu ke halaman yang dipenuhi bunga persik yang menari ke sana kemari.

Duan Ling menatap ke luar, terdiam.

Pohon persik lembut dan subur, betapa cemerlang bunganya. Di seluruh penjuru kota, pohon persik bermekaran dalam semalam; musim semi telah tiba di Jiangzhou. Pemandangan mereka bahkan lebih nyata dan menakjubkan daripada musim semi di Shangjing, dan Duan Ling berseru dengan gembira, mengamati seluruh halaman mereka — dalam satu malam, setiap pohon persik di halaman rumah mereka telah dipenuhi bunga-bunga.

Mereka meninggalkan rumah setelah sarapan. Melalui jalan-jalan dan gang-gang, bunga-bunga bermekaran dalam nuansa yang mempesona; jalan utama Jiangzhou ditutupi dengan kelopak bunga yang menari karena angin musim semi, dengan matahari yang terik menyinari mereka.

“Ini cukup cantik.” Wu Du duduk di punggung kuda, dengan Duan Ling duduk di depannya. Terakhir kali dia datang ke Jiangzhou itu sudah akhir musim semi dan sebagian besar kemegahan ini telah layu, jadi sekarang dia tidak bisa menahan diri untuk mengendalikan kudanya sehingga dia dapat menghabiskan waktu melihat keindahan musim semi kali ini dengan baik.

“Ini begitu indah.” Duan Ling langsung terpana dengan pemandangan yang luar biasa ini. Kotanya sangat ramai, dan setelah mereka melewati dua jalan lagi, mereka mulai melihat pos pemeriksaan reguler di sepanjang jalan. Ujian berlangsung di belakang Aula Keberhasilan; berjalan satu blok lagi dan mereka akan mencapai ruang pertemuan Kantor Sekretariat.

Duan Ling ingin menikmati pemandangan lebih lama lagi, namun Wu Du memberitahunya, “Ayo pergi. Semua hal baik akan tetap di sini, semuanya akan menunggumu ketika kau kembali.”

Duan Ling memiringkan kepalanya untuk melihat Wu Du, dan Wu Du mengulurkan tangannya, memberinya belaian lembut di kepala. Mereka menyerahkan plakat nama ke Zirah Hitam yang berjaga untuk diperiksa, mereka hanya diizinkan lewat setelah pemeriksaan.

Setiap siswa dari literati Jiangzhou ada di sini hari ini dalam arus gerbong yang tak ada habisnya, memadati jalan mereka melalui gang di luar Aula Keberhasilan.

“Kendaraan kita mungkin tidak semenarik mereka,” Wu Du tertawa, “tapi kuda yang kita tunggangi adalah tunggangan mendiang kaisar.”

Duan Ling mulai tertawa. Wu Du ingin membawa Duan Ling ke dalam, tapi Zirah Hitam yang berjaga menghalangi jalannya. “Pelayan tidak boleh masuk bersama peserta ujian.”

“Aku akan pergi melakukan pekerjaanku. Di malam hari, aku akan berada di luar sini menunggumu. Tidak perlu tegang begitu. Kau bisa melakukan ini.”

“Aku …” Duan Ling ingin memeluk Wu Du, tapi dia sudah berusia enam belas tahun.

Dia bukan lagi anak muda yang dulu dititipkan dan kemudian ditemani sepanjang jalan ke sekolah.

“Kalau begitu aku akan masuk,” kata Duan Ling.

Wu Du berdiri di luar Aula Keberhasilan, mengeluarkan serulingnya, dan mulai memainkannya, ditemani dengan angin musim semi.

Keriuhan gang berangsur-angsur menjadi sunyi, dan semua orang berhenti untuk menonton Wu Du yang memainkan seruling. Pada hari musim semi yang cerah ini, Reuni Kebahagiaan tampaknya mempercepat setiap bunga persik yang bersinar di gang menjadi mekar secara penuh.

“Itu Wu Du!” Seseorang berbisik.

Di dalam kerumunan, banyak yang berbicara bisik-bisik satu sama lain; reputasi empat pembunuh besar mencapai tempat yang jauh dan luas, dan selama bertahun-tahun mereka telah mengumpulkan kekaguman dari sejumlah besar pemuda dari Xichuan. Wu Du sendiri bahkan lebih dari sebuah legenda — ada yang mengatakan bahwa dia adalah ahli racun, ada yang mengatakan bahwa dia adalah pengkhianat yang membunuh mendiang kaisar, tapi tidak ada yang menyangka dia akan membawa seseorang ke ruang ujian pada hari ujian, dan memainkan Reuni Kebahagiaan di bawah tatapan begitu banyak pasang mata.

Duan Ling berdiri di sana dengan tenang mendengarkan lagunya hingga selesai. Di dalam tatapannya hanya ada satu orang ini yang berdiri di angin musim semi.

Semakin banyak orang yang memperhatikan Wu Du, mereka melihat sosoknya ke atas dan ke bawah dengan rasa ingin tahu. Begitu lagu berakhir, Wu Du berbalik untuk pergi. Kali ini, Duan Ling tidak mengejarnya; dia tahu Wu Du pasti akan kembali.

“Apakah yang barusan itu Tuan Wu Du?”

Duan Ling tidak menyangka akan bertemu Huang Jian di sini, mereka langsung membungkuk dan saling menyapa. Mereka berdua adalah murid kanselir, tapi mereka hanya bertemu sebentar dan tidak pernah mendapat kesempatan nyata untuk berbicara satu sama lain. Sekarang setelah mereka bertemu lagi, ini adalah kesempatan bagus bagi mereka untuk saling mengenal.

Huang Jian tidak terlalu pandai berbicara, dan terakhir kali Duan Ling melihatnya, dia tidak mengatakan lebih dari “tentu” dan “senang bertemu denganmu”, namun dia tampak cukup dewasa, penampilannya agak rata-rata, dan kulitnya agak gelap. Duan Ling menebak bahwa dia sangat berpengetahuan luas, tapi penampilannya yang relatif tidak menarik membuatnya tidak seperti tipe orang yang cenderung dekat dengan Mu Qing. Namun karena Mu Kuangda menyadari nilainya, maka dia pasti sangat berbakat.

“Ayo pergi.” Duan Ling berbicara dengan Huang Jian saat mereka pergi mencari tempat mereka. “Itu Wu Du.”

“Apakah dia seorang pembunuh?” Huang Jian juga sangat tertarik pada hal-hal seperti pahlawan dan orang yang main hakim sendiri1— para pemuda cenderung menyukai mereka yang memperjuangkan keadilan.

“Ya,” Duan Ling tertawa, “tapi dia orang yang baik hati dan tidak pernah membunuh tanpa pandang bulu.”

“Aku mendengar Yang Mulia memanggilnya dan memintanya untuk bergabung dengan istana sebagai Penjaga Junior dari Pewaris Yang Sesungguhnya. Dia benar-benar menolaknya! Benar-benar pria yang paling luar biasa.”

Hati Duan Ling jungkir balik, segera mengingat apa yang terjadi dengan Wu Du sebelumnya. Apakah itu yang terjadi?! Tidak heran! 

Terganggu oleh kata-kata itu, Duan Ling tenggelam ke dalam pikirannya saat dia mengucapkan selamat tinggal kepada Huang Jian, dan dia masih memikirkannya saat dia memasuki ruang ujian. Apakah Wu Du menolak posisi Penjaga Junior demi dirinya? Pastinya.

Terkadang sesekali dia berpikir jika dia bertemu Li Yanqiu, dia akan dapat menemukan cara untuk mengembalikan posisinya sebagai putra mahkota. Namun reaksi pamannya sama saja dengan memaksanya menemui jalan buntu — dia tidak bisa lagi melangkah maju, jadi yang bisa dia lakukan hanyalah mundur.

Duan Ling sibuk dengan pikirannya yang rumit sampai penguji datang untuk membagikan kertas ujian mereka. Untuk mencegah kecurangan, peserta ujian dikunci di kamarnya masing-masing, dan penguji membuatkan mereka masing-masing cap telapak tangan.

Sementara itu, musik seruling berbunyi lagi, tapi itu bukan permainan Wu Du — itu adalah Lang Junxia!

“Siapa yang memainkan seruling itu?” Penguji menghentikan apa yang dia lakukan dan berkata dengan bingung.

Semua orang di deretan kamar yang sama dengan Duan Ling dapat mendengar musiknya.

“Reuni Kebahagiaan,” kata penguji.

“Anda pernah mendengarnya sebelumnya, Tuan?” Yang mengejutkan Duan Ling, hatinya benar-benar tenang.

“Rasanya baru kemarin, tetapi Kemarahan Shangzi sudah bertahun-tahun yang lalu. Aku tidak mengharapkan akan mendengar lagu ini dua kali hari ini.”

Waktu yang lama berlalu sebelum lagu itu berakhir. Penguji meninggalkan ruangan, menempelkan segel di pintu, dan saat Duan Ling melihat ke bawah untuk menghadap perkamen kosong di depannya, musik seruling masih bergema di telinganya. Apa yang dikatakan penguji itu telah menghilangkan kabut kecemasan yang sebelumnya menutupi hatinya — Kemarahan Shangzi, rasa malu atas tanah mereka yang ditaklukkan, Chen yang Agung pindah ke selatan, ibu kota dalam reruntuhan, wilayah utara mereka jatuh ke Liao dan Yuan; ini adalah beban yang akan selalu mereka tanggung, sampai hari mereka mengusir penjajah asing ini dari wilayah mereka di belakang Tembok Besar.

Baginya, mungkin posisi putra mahkota adalah tentang siapa sebenarnya dia, tapi bagi banyak orang, mungkin putra Li Jianhong, keturunan Li, mewakili harapan terakhir mereka.

Dua penampilan dari Reuni Kebahagiaan, selain memberi Duan Ling pengingat, mungkin juga memberi pengingat kepada setiap peserta ujian di aula.

Duan Ling membuka gulungan pertanyaan ujian. Subjeknya adalah: masa lalu adalah masa lalu, tetapi masa depan belum ditentukan.2

Hubungan antara Chen, Liao, Yuan, dan Xiliang membentuk jaring raksasa, dan gulungan gambar dunia tampaknya terbuka di depan matanya.

Masa lalu, masa kini, dan masa depan; ikatan rumit yang tak terhitung jumlahnya dari Chen Selatan, semua suka dan duka yang datang dengan setiap perpisahan dan reuni yang kusut di masa perang akhirnya mendorongnya ke saat ini. Jika dia kembali ke istana kekaisaran, apa yang harus dia lakukan?

Yang Mulia, sekarang giliran Anda.

Dia masih bisa mendengar suara ayahnya di telinganya, sepertinya. Duan Ling mengambil kuasnya, mencelupkannya ke dalam tinta, dan semua kebingungannya yang sebelumnya menghilang menjadi ketiadaan. Kuda-kuda berlapis baja berpacu melintasi sungai-sungai es, membawa serta semangat perang yang menggema, semuanya dituangkan ke dalam sapuan kuas. Itulah yang dipelajarinya selama tahun-tahun terakhir sekolahnya, sekaligus beban berat yang harus dia hadapi dalam hidupnya.

Dia masih memiliki satu kesempatan lagi, dan itu adalah untuk membuat jalan menuju Li Yanqiu ketika dia menjadi salah satu lulusan ujian teratas, terdaftar di daftar penghargaan emas.


Dengan perintah tertulis Li Yanqiu di tangan, Wu Du tiba di Markas Besar Militer Jiangzhou. Sebagian besar petugas telah pergi untuk mengawasi dan berjaga-jaga pada ujian hari ini, hanya menyisakan Xie You untuk memegang benteng.

“Aku membutuhkan empat puluh orang,” Wu Du mengeluarkan perintah tertulis, “untuk penyelidikan kasus kolusi antara pejabat Jiangzhou dan orang-orang Mongolia.”

Seolah-olah dia sudah tahu Wu Du akan datang, Xie You berkata, “Butuh waktu lebih lama dari yang kukira. Mari berharap itu tidak menghalangi urusan yang sebenarnya.”

Bawahan Xie You datang untuk menyajikan teh, tapi Wu Du tidak tinggal untuk itu, dia bangkit pergi, membawa empat puluh perwira Jiangzhou ke organisasi kota lainnya — “Markas Besar Penjaga Bayangan”. Itu telah didirikan sejak dinasti sebelumnya, dan tujuan mereka adalah untuk melindungi anggota keluarga Kekaisaran serta diplomat asing. Sepuluh tahun yang lalu, setelah Feng Duo dikirim ke penjara karena berkolusi dengan pejabat pengadilan, Penjaga Bayangan tidak lagi memiliki seorang komandan, dan kendalinya jatuh ke tangan Zhao Kui. Penjaga Bayangan pernah membenci status Wu Du dan tidak mau mematuhinya.

Sejak saat itu, posisi mereka telah berubah total, dan dengan perintah tulisan tangan kaisar, Wu Du menyerahkan tugas pada Penjaga Bayangan untuk beroperasi secara rahasia sementara dia sendiri menuju ke kediaman pejabat pengadilan, mengunjungi mereka satu demi satu.

“Tuan Su.” Wu Du mencegat kereta di luar Kementerian Pendapatan, dan memberi isyarat agar Su Fa keluar. “Ada sesuatu yang perlu saya bicarakan dengan Anda. Silahkan lewat sini.”

Menteri Pendapatan Su Fa menjawab, “Wu Du?”

Wu Du menyampaikan ajakan lainnya, dan melihat bahwa mereka dikelilingi oleh penjaga militer Jiangzhou, Su Fa hanya bisa naik ke kereta Wu Du.

“Pada tanggal tujuh belas bulan sebelumnya,” kata Wu Du kepada Su Fa setelah dia duduk di kereta, “kami menemukan bahwa utusan Mongolia Khatanbaatar mengunjungi kediaman Anda. Bisakah Anda memberi tahu saya apa yang terjadi?”

Su Fa segera merinding, berkata dengan marah, “Wu Du! Siapa yang memberitahumu hal seperti itu? Siapa yang mengirimmu ke sini?! Ini fitnah!”

Wu Du mengambil peti kecil yang ada di sampingnya dan membukanya di depan wajah Su Fa. Di dalamnya ada tiga mutiara malam.3

“Ini adalah hadiah dari Khatanbaatar. Kami menemukannya di kediaman Anda. Ada juga delapan uang kertas yang masing-masing bernilai dua ratus tael perak, serta sepotong batu karang. Jika memang tidak ada masalah dengan Anda, saya ingin Anda mengakuinya.”

“Kenapa kau … Wu Du!” Su Fa tidak pernah menyangka bahwa dia diikuti dan diamati selama ini, dan dia sebenarnya menjadi pucat selama sesaat.

“Tidak ada hal seperti itu yang pernah terjadi!” Su Fa menyangkal.

“Daftar hadiah ada di sini.” Wu Du menunjukkan daftarnya kepada Su Fa. Bagian luarnya dicap dengan daun emas dan [i]untuk Tuan Su Fa [i] bersama dengan beberapa formalitas sopan tertulis di sana, di bagian atas. Kali ini, Su Fa tidak bisa lagi mengingkari pertanggungjawabannya, dan dia mulai gemetar.

“Tuan dapat mengembalikan barang-barang itu,” kata Wu Du dengan sopan, “Saya akan menyimpan daftar hadiah untuk Anda. Silakan turun dari kereta. Saya di sini hanya untuk menanyakan apakah barang-barang ini benar-benar milik Anda.”

Cemas dan tidak yakin, Su Fa berdiri di sana dengan gemetar untuk beberapa saat bahkan setelah dia turun dari kereta. Wu Du meneriakkan perintah lain, “Pergi ke Ordo Sekretariat.”


Waktu berlalu, dan dalam sekejap mata sore tiba, Duan Ling mulai memeriksa esai jawabannya: dimulai dengan pendirian Chen Selatan, hingga konfigurasi kekaisaran seperti yang dipahami oleh ayahnya, konfrontasi antara empat negara, serta relokasi ibu kota yang digambarkan Mu Kuangda kepadanya dengan pendirian klan literati di Jiangzhou; sifat Liao, Chen, dan Yuan saat ini berdiri seperti tiga kaki tripod yang saling memeriksa dan menyeimbangkan.

Akhirnya dia menyebutkan namanya, dan dengan bunyi bel, penguji merobek segel dan masuk untuk mengambil kertas ujiannya.

“Kaligrafi yang bagus,” kata penguji kepadanya.

Duan Ling bangkit dan membungkuk padanya. Di halaman, para siswa mulai ribut saat mereka mendiskusikan soal ujian. Mu Qing menemukan Duan Ling di antara kerumunan dan bergegas ke arahnya.

Sejauh mata Duan Ling bisa melihat adalah siswa yang tidak dia kenali, dan dari aksen mereka dia menduga bahwa mereka telah mengurutkan diri menjadi beberapa faksi — satu dari Xichuan, dan satu lagi terdiri dari penduduk setempat Jiangzhou.

“Aku tidak menunggumu pagi ini,” kata Duan Ling.

Tapi Mu Qing sudah terbiasa dengan Duan Ling yang datang dan pergi sendiri, dan dia mengabaikan permintaan maafnya. “Bagaimana kabarmu?”

Duan Ling memberinya senyuman. “Aku baik-baik saja.”

Dari apa yang dia dengar dari Mu Kuangda, dia memiliki perhitungan dasar tentang tingkat anak-anak dari klan literati ini, dan waktu belajarnya di kediaman Mu telah memberinya terlalu banyak, sehingga dia bisa memperkirakan masa depan Chen Selatan dari gambaran besar yang dia miliki tentang dataran tengah.

“Sepertinya aku telah menulis catatan peringatan alih-alih kertas ujian.” Duan Ling memikirkan itu sekarang, dan segera berseru, “Oh tidak.”

“Jangan khawatir tentang itu,” kata Mu Qing, “kau sudah menyelesaikan ujian.”

Bagian luar ruang ujian penuh sesak dengan orang-orang yang menjemput keluarga mereka. Duan Ling berkata kepada Mu Qing, “Aku akan menunggu Wu Du. Kamu harus pulang.”

Mu Qing berkata dengan keras kepala, “Kalau begitu aku akan menunggu denganmu.”

Di malam musim semi, Duan Ling dan Mu Qing menunggu bersama untuk waktu yang lama, namun Wu Du belum kunjung datang.


KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Rusma

Meowzai

Footnotes

  1. Vigilante, orang yg menegakkan hukum/keadilan dengan caranya sendiri.
  2. Dari Analek Konfusius, Weizi, sedikit ditulis ulang. Yang asli seharusnya dinyanyikan dari kereta yang lewat, dan Kongzi ingin berbicara dengan orang di kereta itu tapi tidak pernah mendapat kesempatan untuk melakukannya. 
  3. Sebenarnya bukan “mutiara”, tapi bola kuno bercahaya dalam gelap, diukir dari batu bercahaya alami, biasanya disebut fluorit. http://www.odditycentral.com/news/china-showcases-the-worlds-largest-luminous-pearl.html. html
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments