• Post category:Embers
  • Reading time:31 mins read

Penerjemah : Keiyuki17
Editor : _yunda


Sejak Chen Ying meminjamkan bukunya ke Sheng Renxing, dia meletakkan buku milik siswa gemuk itu di tengah meja, dan mengeluarkan buku teks sastra Cina untuk menyamakan jumlahnya. Dengan percobaannya membodohi guru telah selesai, dia kemudian menundukkan kepalanya untuk bermain dengan ponselnya.

Setelah beberapa saat, Chen Ying mendengar suara ‘gedebuk’ yang sangat familiar datang dari belakangnya; suara sebuah ponsel yang mengetuk meja.

Sheng Renxing meletakkan tangannya di wajahnya, tampak berpikir dengan keras. Lengkap dengan kepala tertunduk dan setengah wajah yang tertutup, dia memiliki citra kontemplatif1 namun muram.

“Ada apa?”

Sheng Renxing melepaskan tangannya dan menggelengkan kepalanya dengan tenang ke arah Chen Ying, tanpa jejak ekspresi abnormal yang dapat ditemukan.

Chen Ying memandangnya dengan curiga. Berbalik sepenuhnya, dia melihat Sheng Renxing dengan benar, dan menemukan bahwa kedua telinganya merah, sepenuhnya mengkhianati sikap tenangnya.

Sheng Renxing: “?”

Chen Ying mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arahnya, menekan suaranya karena takut seseorang akan mendengar: “Apa kamu diam-diam menonton film porno?”

Sheng Renxing: “…?”

Kesimpulan ini bukanlah sesuatu yang dia harapkan.

Sheng Renxing menatapnya dalam diam; ekspresinya mengatakan bahwa Chen Ying tampak sedikit bodoh.

Setelah kelas, Chen Ying berbalik dan mengedipkan mata padanya: “Dari sumber apa?”

Sepertinya Chen Ying telah mengkonfirmasi dugaan kejahatan Sheng Renxing di dalam kepalanya.

“…” Sheng Renxing hanya menatapnya tanpa ekspresi, ingin mengintip ke dalam konstruksi otaknya.

Seluruh situasi ini tampak begitu bodoh sehingga Sheng Renxing bahkan tidak bisa mengatakan sepatah kata pun untuk membantah.

Siswa gemuk yang diam-diam mendengarkan percakapan mereka tidak bisa menahan diri untuk menyela: “Tapi lebih baik untuk tidak menontonnya di sini.”

Chen Ying setuju: “Benar, benar, benar.” Saat dia mengoceh, dia tidak bisa menahan diri untuk tertawa dan bergosip dengannya, “Zheng Xian seharusnya menjadi teman satu mejamu, yang kami panggil sebagai kapten tim pistol.2 Apa kamu tahu kenapa dia tidak datang ke kelas hari ini?”

“Dia menonton film porno di kelas minggu lalu dan meminta kami untuk menutupinya. Tanpa diduga, dia tidak percaya bahwa—” katanya dengan sedikit kegembiraan. Di tengah tawa, Chen Ying kesulitan menahannya saat menjelaskan adegan itu padanya.

“Guru wali kelas berdiri di sana, di belakangnya.” Chen Ying menunjuk ke jendela di sebelah Sheng Renxing.

“…” Sheng Renxing menunjukkan ekspresi yang tak terlukiskan.

Lokasi “di sana” yang mereka bicarakan juga memiliki arti penting baginya.

“Terlebih lagi,” siswa gemuk itu menggigit bibirnya dengan penuh semangat. “Dia mengibarkan bendera3 pada waktu itu.” Siswa gemuk itu membuat sembilan gerakan tangan yang berbeda, dan kemudian dia tiba-tiba menjentikkan jari telunjuknya.

Chen Ying menyombongkan diri: “Hahahahahahahaha, keparat bodoh itu dihukum dan harus merenungkan tindakannya selama seminggu!”

“…” Sheng Renxing terdiam karena budaya sekolah mereka.

Dia menoleh dan melihat ke kursi di sebelahnya. Laci itu penuh dengan buku dan kertas ujian. Dua figur Kura-kura Ninja berdiri di dekat tepi laci.

Satu di kanan, dan satu di kiri, seperti sepasang dewa penjaga pintu.

Sheng Renxing menarik napas pelan, merentangkan kakinya dan menendang kursi di sebelahnya ke luar.

Mau tak mau dia memikirkan tatapan ragu yang diberikan oleh wali kelas ketika dia mengatakan bahwa dia akan duduk di sini.

“Ayahnya bertanya kenapa dia dihukum. Dan si idiot itu mengatakan bahwa itu karena perkelahian.” Chen Ying menunjuk ponselnya. “Pada akhirnya, ayahnya memujinya karena kejantanannya!”

“Hahahahahahaha kapten memberitahuku kemarin bahwa setelah dia ditakuti oleh guru, itu-nya tidak akan berdiri lagi di pagi hari, dan dia khawatir miliknya itu tidak akan pernah pulih!”

“Hahahahahahaha.”

Mereka berdua duduk di depan Sheng Renxing, dan tertawa seperti dua ceret bocor.

Anak laki-laki lain di dalam kelas tertarik dengan tawa mereka dan datang untuk bertanya apa yang telah terjadi.

Chen Ying mengatakan bahwa mereka berbicara tentang kapten.

Anak laki-laki itu segera mengerti, dan mulai tertawa terbahak-bahak setelah saling bertukar kontak mata dengan cepat.

Sheng Renxing: “…”

Chen Ying juga menunjukkan kepadanya pesan yang dikirim oleh seseorang dengan avatar anime di QQ: Sebuah gambar dengan kata “kesedihan” dengan latar belakang hitam, dan kata yang bersinar warna-warni dalam berbagai warna.

Orang dapat dengan mudah melihat bahwa teman sekelasnya berada dalam situasi yang sangat menyedihkan dan menimbulkan kecemasan.

Sheng Renxing menatap secara diam-diam, membiarkan cahaya mulia dari teman-teman sekelasnya terpancar di depan matanya.

Chen Ying mengambil kesempatan untuk mengklik halaman teman: “Tambahkan aku sebagai teman?”

Sebelum Sheng Renxing memiliki kesempatan untuk menolak, dia melanjutkan dengan berkata, “Aku akan memasukkanmu ke dalam grup kelas kami.”

Sheng Renxing mengeluarkan ponselnya dan mengulangi serangkaian angka.

Dia membuka aplikasi QQ-nya, dan menerima serangkaian dengungan terus menerus yang menunjukkan semua permintaan pertemanan baru.

Anak laki-laki lain yang duduk di depannya, semua menatap ponsel mereka. Sheng Renxing tidak bisa bertanya user yang mana mereka, jadi dia menekan tombol “terima” untuk mereka semua. Dia kemudian membuat grup “Xuancheng” baru dan melemparkan mereka semua ke dalamnya.

Salah satu anggota terkemuka yang nama panggilannya dalam Bahasa Inggris mengiriminya emoji.

[Bangga].

Gambar profilnya adalah ekspresi berlebihan dari seorang pria kuning kecil dengan kacamata hitam sembari memamerkan giginya.

Kemudian, “cyyyacxx” menyeretnya ke grup yang disebut obrolan “kelas sebelas, kelas tiga”.

Dia ragu-ragu untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya dia menekan “konfirmasi”.

Begitu dia masuk, serangkaian sambutan muncul di obrolan.

Rentetan seperti “Guru Yu”, “Guru Zhang”, “Guru Li” ……

Dia ingat bahwa dalam peraturan SMA No.13, ada sebuah peraturan tentang larangan penggunaan ponsel. Apakah semua orang secara terang-terangan mengabaikan peraturan itu?

Obrolan di dalam grup masih berlangsung. Sheng Renxing mendongak untuk bertanya pada Chen Ying, ketika dia melihat—

Guru Yu: [@X, selamat datang siswa baru, jangan lupa untuk mengubah nama panggilanmu di dalam obrolan grup. 💪].

Sheng Renxing: “…”

Dia mengetik beberapa kata secara perlahan: [Terima kasih, ✊].

Kelompok itu terlalu berisik. Setelah mengubah nama panggilannya di grup, dia dengan halus mengaktifkan mode “Jangan Ganggu”.

Ketika dia kembali untuk memeriksa obrolan, dia telah menerima sebuah ping.

Guru Yu: [@Sheng Renxing, datanglah ke kantorku.]

Sangat modern, sangat efisien.

Sheng Renxing sekarang tahu bahwa peraturan sekolah yang telah dia baca selama lima menit sebelumnya hanya membuang-buang waktunya.

Dia mengantongi ponselnya dan berjalan keluar kelas.

Setelah mengambil beberapa langkah, dia masih bisa mendengar gadis-gadis di kelas bertanya tentang dirinya pada Chen Ying: “Jadi, kamu kenal siswa baru itu? Teman sekelas baru…”

Setelah berbelok di tikungan untuk turun, suara mereka memudar.

Ruang kelas mereka berada di lantai dua, dan kantor guru berada di sudut di antara lantai satu dan lantai dua.

Mengetuk pintu, Guru Yu melambai padanya ketika Sheng Renxing membuka pintu, “Masuk.”

Setelah dengan cepat mengatur meja, guru menunjukkan kepadanya sebuah bagan.

Itu adalah hasil tes dari kelas mereka terakhir kali.

Guru Yu merenung: “Karena kamu pindah ke sini di tengah semester, kamu tidak memiliki hasil ini.” Dia mengeluarkan beberapa grafik hasil tes matematika yang lebih kecil.

Dia mengetuk nilai matematika itu, “Tidak masalah untuk tes kecil itu, tapi ini.” Dia menunjuk ke kertas pertama, “Ini adalah nilai ujian bulanan bulan lalu.”

“Sekolah kami memiliki peringkat semester kumulatif, yang dihitung berdasarkan nilai ujian tiga bulanan terakhir. Dengan demikian, kelas akan diperingkat ulang setiap semester. Selain itu, sekolah kami sangat memperhatikan hasil ujian bulanan, karena ini terkait dengan syarat masuk universitas.”

Guru Yu mendorong kertas itu ke Sheng Renxing: “Apakah kamu sudah mengikuti ujian bulanan pertama di sekolahmu sebelumnya? Jika kamu telah menyelesaikannya, berikan padaku kertas ujiannya, dan aku akan mengisi skor untukmu.”

Sheng Rexing menggelengkan kepalanya.

Ketika sekolahnya yang lama melakukan pengambilan ujian bulanan pertama, Sheng Renxing sedang membuat keributan, jadi dia tidak punya energi atau waktu mempertimbangkan untuk mengambilnya.

Guru Yu menganggukkan kepalanya dengan pengertian: “Ada cara lain: Aku juga dapat membantumu menyelesaikan ujian, tetapi skor keseluruhanmu akan dikurangi 20%, bagaimana menurutmu?”

Sheng Renxing tidak berbicara untuk sementara waktu saat dia melihat formulir itu.

Nyatanya, ada pilihan lain, yaitu tidak mengikuti ujian.

Sheng Renxing mengangguk: “Kapan aku harus melakukannya?”

Guru Yu menyatukan kedua tangannya4 di atas meja: “Mulai sore ini? Itu karena kebetulan bukumu belum sampai.”

Dia mencoba menghiburnya: “Tidak apa-apa. Ini hanya ujian untuk menguji kedalaman pengetahuanmu lebih dari evaluasi yang sebenarnya. Soal-soalnya tidak sulit. Poin utamanya adalah memberimu nilai. Jangan stres.”

Sheng Renxing tertegun sejenak, dan mengangguk dengan samar: “Aku mengerti.”

“Aku akan mencarikanmu ruang kelas sore ini, ketika kamu datang ke sekolah…” Guru Yu memberitahunya tentang ujian ketika jam berdentang.

Setelah sekitar beberapa menit, guru yang mengajar di kelas perlahan bangkit dan membuka pintu kantor seolah-olah bergegas menuju medan perang.

Seorang guru perempuan yang duduk di seberang Guru Yu juga meneriaki seorang guru laki-laki gemuk di seberang: “Guru Wang, apakah kamu ingin pergi bersama?

Ada sebuah buku di meja Guru Wang. Dari sudut pandang Sheng Renxing, bagaimanapun, itu tidak terlihat seperti rencana pembelajaran sama sekali.

Dia melambaikan tangannya: “Kamu pergilah terlebih dulu, aku akan menunggu sebentar.”

Guru perempuan itu mengangkat alisnya dan pergi dengan rencana pembelajarannya.

Ketika dia melewati Sheng Renxing, dia menatapnya dan tersenyum.

Sheng Renxing memperhatikan bahwa guru itu telah merias wajahnya, dan mengenakan pakaian profesional yang terdiri dari blus putih, rok hitam, dan stoking hitam. Ketika dia berjalan ke arahnya, itu membawa aroma harum yang jelas.

Guru Yu mengerutkan keningnya dengan tidak mencolok, membuat garis senyumnya tampak lebih dalam.

Pada saat Guru Yu selesai menjelaskan detailnya kepadanya, periode kelas hampir setengah jalan, tetapi ketika Sheng Renxing keluar dari kantor, Guru Wang masih belum bergerak sedikit pun.

Toh, tidak ada teman sekelas yang datang untuk memanggilnya.

Sekolah berakhir pada siang hari, dan matahari yang jarang terlihat bersinar cerah.

Chen Ying bertanya kepadanya, “Saudara Sheng, apa kamu akan makan bersama kami hari ini?” Di sebelahnya ada beberapa anak laki-laki yang sering dia ajak bermain bersama.

Sheng Renxing: “Aku memiliki beberapa hal untuk diurus pada siang ini, mungkin lain kali.”

Berjalan ke jalanan, siswa dari keempat arah bergegas melewatinya.

Dia telah setuju untuk bertemu dengan Xing Ye di gerbang. Pada saat ini, gerbang itu penuh dengan orang, tidak hanya siswa, tetapi juga skuter, mobil, dan sepeda yang diparkir secara ilegal. Pada pandangan pertama, tidak mungkin untuk membedakan siapa yang menjemput siswa dan siapa yang hanya menghalangi orang.

Orang-orang dari semua lapisan masyarakat berkumpul di sini untuk memekik dan mengoceh seperti di pasar sayur.

Dengan jumlah lalu lintas pejalan kaki ini, sulit untuk menemukan tempat di mana seseorang dapat berhenti dan berdiri, apalagi menemukan Xing Ye.

Kerumunan berdesak-desakan sebentar di dalam ruang kecil itu kemudian bubar, dan berbagai kendaraan berderap keluar dari sekolah.

Kebanyakan dari mereka adalah sepeda, tetapi ada beberapa skuter.

Mata Sheng Renxing hampir buta karena melihat semua itu, tetapi Xing Ye masih belum ditemukan. Dia mengambil ponselnya dan membuat panggilan.

Telepon berdering dua kali sebelum diangkat: “Di mana kamu?”

Di seberangnya, berdiri beberapa orang dengan rambut dicat, dan yang mengenakan legging dan sandal; tidak terlihat seperti siswa yang wajar. Mereka menatapnya dari jarak beberapa langkah.

Mata mereka menunjukkan pandangan yang tidak bermoral.

Ketika Sheng Renxing memperhatikan tatapan mereka, dia memasukkan tangannya ke dalam sakunya dan menatap balik dengan dagu yang terangkat tinggi, terlihat lebih tidak bermoral daripada sekelompok orang itu.

Dia tidak tahu gambaran apa yang dia proyeksikan, tetapi orang-orang di sisi lain tampak sangat terprovokasi. Satu orang menunjuk ke arahnya dan hendak menyeberang jalan untuk mendekatinya.

Orang itu membuka mulutnya seolah-olah memuntahkan kata-kata kutukan, tetapi lalu lintasnya terlalu bising dan Sheng Renxing sama sekali tidak bisa mendengarnya.

Sheng Renxing menarik sudut mulutnya ke bawah, dan mengangkat jari tengahnya dengan jijik.

Pihak di sisi lain sangat marah, dan beberapa orang merespons dengan jari tengah mereka, tetapi mereka tidak dapat melewati jalan karena lalu lintas yang padat ini.

Sheng Renxing merasa bahwa situasi ini tampak konyol dan lucu, jadi dia memiringkan sudut ponselnya dan mengambil gambar untuk kemudian di posting di Moments-nya.

Mengabaikan bagaimana tindakan ini menyebabkan pihak lain hampir melompat ke langit dengan marah, Sheng Renxing mengangkat ponselnya ke telinganya lagi dan bertanya: “Katakan padaku di mana kamu berada?”

Tapi tidak ada jawaban.

Sheng Renxing memiringkan kepalanya dengan penuh tanda tanya untuk melihat apakah telepon telah ditutup.

Tetapi ketika dia melirik ke sisi lain, dia melihat Xing Ye meletakkan ponselnya dan berjalan menyebrang.

“?”

Apakah penglihatannya kabur atau apakah Xing Ye memang tersenyum?

Sheng Renxing berjalan mendekat: “Apa kamu selalu berdiri di sana?”

Xing Ye mengangguk, dan mengucapkan beberapa kata pujian: “Postur yang bagus.”

“…?”

Sekarang dia yakin bahwa seluruh pertandingan jari tengah dengan para idiot itu dilihat oleh Xing Ye.

“Ngomong-ngomong, apa kamu baru saja memotretku?”

Saat mereka sedang berjalan dan berbicara, Xing Ye tiba-tiba menariknya ke samping.

Sebuah RSZ5  melaju dengan kecepatan dua puluh mil, meledakkan setengah jalan dengan raungannya yang keras. Ada empat anak laki-laki yang terjepit di sana, wajah mereka bersinar dengan kebanggaan yang samar meskipun mereka menerima kerutan dari pejalan kaki di dekatnya.

Sheng Renxing mengerutkan alisnya dan mengalihkan pandangannya dengan jijik.

Mengikuti rute skuter itu, dia melirik ke seberang jalan sebelumnya, dengan curiga menemukan bahwa sekelompok orang yang memakai legging telah pergi.

Dia tidak tahu ke mana mereka pergi.

Apakah mereka pergi setelah melihat Xing Ye?

Sheng Renxing mengikuti Xing Ye di seberang jalan dan berjalan bersama ke sebuah gang.

Gang itu sangat ramai dengan banyak tempat makan.

Xing Ye membawanya ke tempat yang dekat dengan ujung jalan, bernama “Dumpling Ah Tang.”

Masih ada ruang untuk duduk di dalam. Setelah mengamankan meja, Xing Ye mengambil menu dan mendorongnya ke arah Sheng Renxing.

Sheng Renxing melihat ke sekelilingnya, dan tidak terlalu puas. Selain itu, dia merasa sedikit panas dan tidak benar-benar memiliki nafsu makan.

Jadi dia secara acak memesan hidangan pangsit khas di tempat ini dan bertanya kepada Xing Ye, “Apa mereka menggunakan daun bawang?”

Xing Ye: “Ya, tapi kamu dapat meminta mereka menyediakan makanan tanpa daun bawang.”

Sheng Renxing mendorong menu kembali.

Xing Ye mengambil penanya dan menuliskan perintahnya, mengubah “1”, menjadi “2”. Dia kemudian bangkit dengan menu untuk pergi membayar.

Sheng Renxing menghentikannya: “Aku akan mentraktirmu.”

Dia mengambil menu itu dari Xing Ye dan pergi untuk memesan.

Kemudian Sheng Renxing kembali untuk bertanya: “Apa kamu yakin akan kenyang dengan makanan yang sedikit itu?”

Dia melihat porsinya, dan semangkuk pangsit yang dipesan Xing Ye jelas tidak cukup untuk remaja yang sedang tumbuh dan energik.

Dia sendiri tidak ingin makan ketika dia kepanasan, tetapi Xing Ye sepertinya bukan tipe yang memiliki nafsu makan yang sedikit.

“Ya.” Xing Ye mengangguk, dan menurunkan ritsleting seragam sekolahnya. “Aku baru saja bangun, jadi aku tidak punya nafsu makan.”

“Kamu melewatkan kelas di pagi hari untuk tetap berada di tempat tidur?” Sheng Renxing melototkan matanya dan menatapnya.

Sheng Renxing sedikit terdiam setelah mendapatkan jawaban mengiyakan.

Dia berpikir bahwa Xing Ye bolos sekolah untuk pergi nongkrong di warnet atau melakukan kegiatan hiburan lainnya. Siapa yang tahu bahwa alasan sebenarnya begitu sederhana dan kasual?

Sheng Renxing telah melewatkan kelas sebelumnya, dan teman-temannya di sekolah sebelumnya bukanlah siswa yang baik yang menghadiri kelas setiap hari.

Tapi ini adalah pertama kalinya dia melihat seseorang bolos sekolah untuk tidur.

Mungkin pikiran Sheng Renxing tertulis di seluruh wajahnya, saat Xing Ye melakukan uraian panjang yang langka: “Meja sekolah terlalu keras, jadi tanganmu akan mati rasa karena tidur di atasnya.”

“….” Karena itu bukan tempat bagimu untuk tidur.

“Apa kamu tidak akan ditangkap oleh guru karena membolos?” Sheng Renxing mengambil beberapa serbet dan mulai mengelap meja.

Xing Ye menggosok wajahnya, terlihat sedikit mengantuk, dan menggelengkan kepalanya.

Apa yang tidak dia katakan adalah bahwa mungkin dia telah melewatkan semua kelas hari ini, dan tidak ada yang memperhatikan.

Sheng Renxing menatapnya: “Apa kamu akan kembali tidur setelah makan?”

Xing Ye memikirkannya dengan serius: “Jika pada saat itu aku masih mengantuk.”

“…”

Menggunakannya sebagai pengganti anggur, Sheng Renxing menuangkan air panas ke dalam cangkir sekali pakai dan membuat tos.6

Xing Ye tersenyum.

Pertemuan mereka selama dua kali terakhir agak istimewa. Karena itu, kesannya tentang Xing Ye adalah pria yang keren, seperti mesin es yang selalu menyala.

Tetapi pada saat ini, mungkin karena suasana yang berbeda, Xing Ye terlihat sangat santai. Dia tidak lagi merasa berada di ribuan mil jauhnya.

Lebih mudah bergaul dengannya.

Sheng Renxing meminum segelas air lagi.

Karena hujan beberapa hari yang lalu, dia mengenakan pakaian yang lebih tebal hari ini.

Karena itu adalah hoodie one-piece, dia bahkan tidak bisa melepasnya.

Setelah makan, Sheng Renxing harus kembali ke hotelnya untuk berganti pakaian.

Tidak hanya tebal, tetapi pakaian putih ini telah menahan pertarungannya dengan siswa pirang dan perkelahiannya dengan Xing Ye.

Memikirkan dirinya yang memakai pakaian ini selama sisa sore itu membuatnya merasa tidak nyaman.

Memikirkan hal ini, dia melihat seragam sekolah Xing Ye yang terlihat kotor, yang penyebabnya adalah dirinya.

Merasa sedikit bersalah, dia bertanya: “Apa lukamu sudah lebih baik?”

Sheng Renxing bertanya tentang cedera yang dideritanya terakhir kali di atas ring.

Xing Ye terkejut dan mengangguk.

Bagian merah di sudut alisnya sudah hilang, dan lukanya berkeropeng, petunjuk yang jelas bahwa dia pulih dengan baik.

Namun, yang ditanyakan Sheng Renxing secara alami bukanlah luka di wajahnya.

Saat itu, dumpling mereka datang.

Tangan Sheng Renxing meninggalkan meja dan menunjuk ke tulang rusuk kirinya: “Bagaimana dengan bagian yang di sana?”

Hari itu, dia menemukan bahwa Xing Ye terus menekan tempat itu dari waktu ke waktu, seolah-olah untuk menekan rasa sakitnya.

Terlebih lagi, saat mereka bertarung hari ini, Xing Ye fokus melindungi bagian tubuhnya yang itu.

Xing Ye juga mengangguk, mengambil sepasang sumpit dan menyerahkannya kepada Sheng Renxing.

Sheng Renxing mengambilnya: “Apa kamu pergi ke rumah sakit?”

“Ya.” Melihat bahwa Sheng Renxing masih menatapnya, Xing Ye menutupi sisi kiri tulang rusuknya, “Hanya ada sedikit patah tulang di sini.”

Nada yang dia gunakan santai dan ringan, seolah menggambarkan tentang keadaan cuaca.

Sheng Renxing segera melebarkan matanya: “Lalu kenapa kamu masih berkelahi denganku hari ini?!”

Xing Ye menggelengkan kepalanya: “Itu tidak masuk hitungan.”

Memang benar bahwa itu tidak dihitung, karena Xing Ye tidak hanya tidak melawan, tetapi Sheng Renxing sendiri dengan sengaja mengirim pukulan ke tempat-tempat yang dia blokir. Keduanya benar-benar berdebat seperti teman pelatihan tinju.

Namun, dalam pertarungan itu, dia dapat melihat bahwa Sheng Renxing memiliki sedikit dasar pertarungan bebas,7 dan dia mungkin mempelajarinya secara sistematis di beberapa titik.

Tidak heran dia berani menghadapi begitu banyak pertarungan dengan siswa pirang itu.

Sheng Renxing menatapnya dan menggelengkan kepalanya, hanya untuk merasakan api yang tidak disebutkan namanya itu menyala. Dia tertawa sinis: “Sepertinya kamu bangga menjadi karung pasir?”

Dia berusaha mengingat apakah dia telah memukul tulang rusuk Xing Ye pada saat itu atau tidak, tetapi menyadari bahwa pada saat itu dia sangat emosional, dia sama sekali tidak memperhatikannya.

Dan bahkan jika dia tidak memukulnya, dampak dari gerakan mereka juga akan mengguncang Xing Ye.

Sheng Renxing menatapnya dan ingin marah, tetapi Xing Ye sendiri tampaknya acuh tak acuh, sementara dialah yang membuat keributan besar.

Jadi dia dengan kasar menusuk dumpling di mangkuk, menusuk kulitnya dan menyebabkan isinya melayang ke permukaan.

Dia bertanya dengan marah: “Kenapa kamu berkelahi denganku hari ini?” Namun, saat dia berbicara, nada suaranya tidak bisa menahan diri untuk tidak melunak.

Xing Ye tertegun, dan kemudian tanpa sadar mengerutkan alisnya.

Karena pada saat itu, Sheng Renxing meliriknya.

Sepertinya jika Xing Ye tidak membiarkannya melampiaskan amarahnya, dia akan menangis.

Jadi dia secara tidak sadar mengusulkan pertarungan, dan pada saat itu, dia lupa bahwa dia sedang terluka.

Ketika dia bolos sekolah demi beristirahat di tempat tidur, itu karena rasa sakitnya.

Tapi melihat remahan sisa-sisa dumpling yang disebabkan oleh Sheng Renxing, Xing Ye menelan kata-kata itu.

Dia merasa bahwa jika dia berbicara, mungkin tidak ada dumpling lagi yang tersisa di mangkuk pihak lain.

Melihat Sheng Renxing menatapnya, seolah-olah dia tidak akan menghentikan pertanyaannya tanpa jawaban yang tepat, dia berkata dalam pelan, “Kamu yang membuat langkah pertama.”

Sheng Renxing tersedak, mengingat bahwa dia benar-benar melakukan pukulan pertama, dan pihak lainnya bahkan tidak melawan.

Sheng Renxing segera menghentikan pertanyaannya. Dia membisikkan “hm” dengan pelan dan mengubah topik pembicaraan:

“Apa kamu memiliki akun QQ?”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

HooliganFei

I need caffeine.

Keiyuki17

tunamayoo

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Kontemplatif berasal dari Bahasa Latin berarti merenung dan memandang. Kontemplatif merupakan cara hidup yang mengutamakan kehidupan penuh ketenangan.
  2. Handgun team
  3. Membawa sesuatu untuk diperhatikan. Ungkapan mengibarkan bendera berasal dari “kibarkan bendera merah” yang berarti untuk memperingatkan seseorang tentang potensi bahaya atau masalah di depan, asalnya adalah bahwa bendera merah sering secara harfiah digunakan untuk memperingatkan orang tentang kemungkinan bahaya.
  4. Tangannya Guru Yu sendiri. Guru Yu itu perempuan kalau kalian lupa.
  5. RSZ adalah skuter kecil besutan Yamaha. Karena penampilannya yang keren dan ukurannya yang ringkas (yang membuatku bertanya-tanya bagaimana empat orang mendapatkannya tapi ssst), itu disukai oleh siswa dan anak muda.
  6. Bersulang.
  7. Free fighting.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments