Penerjemah: _jefferyliu
Proofreader: keiyuki17


Tiga shichen kemudian, di dalam Istana Ahfang.

Perdebatan yang memekakkan telinga dan mampu mengguncang surga muncul dari para pasukan dan jenderal yang berhasil mundur dari Chang’an. Perubahan keadaan ini menyerang ibukota dengan begitu tiba-tiba. Kaisar telah jatuh ke tangan Wang Ziye, dan sekarang, dia menyandera baik Fu Jian maupun Putri Qinghe – ini adalah masalah yang akan membuat semua orang terkejut.

Di aula utama Istana Ahfang, Fu Rong, Murong Chui, Yao Chang, dan anak laki laki Fu Jian, Fu Pin tengah berada dalam perselisihan yang intens, ketika para prajurit dan kuda yang berhasil dikeluarkan dari Chang’an kini sudah menempatkan diri mereka di luar. Putra mahkota yang ditunjuk oleh Fu Jian, putra tertua dari sepupu tertuanya1, tidak berada di Chang’an saat ini, dan kejadian yang begitu tiba-tiba ini telah membuat semua jenderal menjadi seperti sekelompok naga tanpa kepala; mereka tidak tahu harus mendengarkan siapa saat ini.

“Dimana Tuoba Yan?!” Murong Chui marah. “Komandan Prajurit Terlarang tidak disangka tiba-tiba menjadi tuli dengan kejadian ini dan bahkan ketika Yang Mulia sendiri tertangkap! Dia harus dipenggal untuk menebus dosa-dosanya ini!”

Fu Pi berkata, “Yang Mulia sendiri yang memintanya untuk memimpin pasukan dan meredakan kekacauan, bagaimana dia bisa tahu kalau dia ternyata seorang penyihir? Sudah kubilang Han bukan sesuatu yang baik!”

Sekelompok pejabat Han berdiri di dalam aula, dan apa yang terjadi di sana benar-benar sebuah kekacauan. Wang Ziye selalu menjadi orang kepercayaan Fu Jian, jadi siapa yang kiranya membayangkan jika pemberontakan ini dipimpin olehnya? Setelah kematian Wang Meng, pengadilan Qin selalu menghormati Wang Ziye. Beruntung tidak ada yang terjadi pada Fu Jian, tapi tetap saja, seluruh pengadilan ini kini terlempar dalam situasi penuh kekacauan.

Ketika mereka masih berdebat, suara langkah kaki terdengar dari luar aula. “Chanyu yang Agung telah tiba—“ kata seorang kasim dengan suara keras.

Aula itu kemudian diselimuti dengan keheningan. Seluruh tubuh Xiang Shu dipenuhi dengan darah, dan ketika dia masuk, dia melemparkan helmnya ke tanah dengan suara “dang”. Masih dengan mengenakan baju besi lengkap, dia berjalan melewati orang-orang di depan aula, menaiki tiap anak tangga langkah demi langkah dan duduk di takhta kekaisaran Istana Ahfang.

Semua orang: “…..”

Xiang Shu: “Bicaralah ba. Laporkan situasinya.”

Dalam sekejap, orang-orang di pengadilan Qin menyadari masalah yang cukup kritis. Fu Jian telah ditangkap, tapi secara kebetulan, Shulü Kong berada di Chang’an. Berbicara secara nominal, pria ini adalah Chanyu yang Agung para Hu, orang-orang Han tidak memiliki kewajiban untuk mendengarkannya. Tapi, berdasarkan alasannya, sepanjang seorang leluhur telah mengikuti dalam perjanjian darah dari Perjanjian Chi Le Kuno, mereka harus mematuhi perintahnya. Saat ini, Xiang Shu bisa secara sepenuhnya menggantikan Fu Jian dalam tanggung jawab menjadi kaisar selama waktu itu.

“Apa?” Xiang Shu berkata dengan suara dalam. “Apa kalian keberatan?”

Semua orang saling melirik dengan tatapan “Aku menatapmu, kamu menatapku”. Fu Rong sangat jelas tentang hubungan Xiang Shu dan Fu Jian; ketika datang untuk mendambakan tahta dan gelar Fu Jian, Xiang Shu tidak mungkin pergi sejauh bahkan memikirkannya. Karena itu, dia melangkah maju dan berkata, “Melapor pada Chanyu yang Agung, seluruh pasukan telah ditarik sepenuhnya, sementara orang‑orang biasa di dalam kota juga telah dibantu untuk menetap di tepi barat sungai Zao.”

“Dimana putra mahkota?” tanya Xiang Shu.

“Kami sudah mengirim seseorang untuk pergi secepat mungkin ke Donghai untuk memberi tahu dirinya,” kata Yao Chang sambil melangkah maju dan membungkuk.

Xiang Shu kemudian bertanya lagi, “Dimana Murong Chong?”

Murong Chui hanya merenung dalam diam, tidak mengatakan apapun. Xiang Shu mengerutkan kening dan bertanya, “Murong Chui, kau tidak tahu bagaimana caranya bicara?”

Mendengar ini, Murong Chui tidak memiliki alternatif selain melangkah maju dan menjawab, “Murong Chong sedang dalam perjalanan. Saya perkirakan dia akan tiba besok malam.”

Xiang Shu dapat melihat bahwa ada sesuatu yang salah dari keraguan sesaat ini meskipun dia tidak menekan lebih jauh. Peristiwa tak terduga ini baru terjadi selama semalam, dan Murong Chong yang bergegas dari Pingyang akan memakan waktu paling cepat sekitar tiga hari, jadi kemungkinan besar, seseorang pasti sudah memberi tahu dirinya sebelumnya selama penundaan satu hari ini. Pada saat itu, kekacauan iblis kekeringan belum terjadi. Karena itu, keluarga Murong pasti sudah diberitahu sebelumnya—— tidak sulit menebak apa yang ingin mereka lakukan.

“Murong Chui, pimpin pasukan dan jaga keempat gerbang Chang’an,” kata Xiang Shu. “Pastikan untuk tidak membiarkan satu mayat hidup pun lolos.”

“Baik.” Kata Murong Chui.

Xiang Shu melanjutkan, “Yao Chang dan Fu Rong, atur kembali pasukan. Tunggu perintah Guwang dan sampai saat Wang Ziye telah dieksekusi, teroboslah Gerbang Selatan, Barat, dan Utara. Serang Ibukota Kekaisaran dari tiga arah itu untuk meninggalkan mereka satu jalan keluar. Saat para iblis kekeringan berhasil dipojokkan ke dataran Sungai Zao, bersiaplah untuk pertempuran yang menentukan.”

“Baik.” jawab semua orang yang tersisa.

Xiang Shu: “Kalian semua, siapkan minyak batu bara dan mekanisme lempar di dalam Istana Ahfang untuk membentuk perimeter pertahanan. Tunggu bala bantuan Murong Chong‑ Apa kau sudah selesai?”

Chen Xing masuk, tangannya memegang sepotong kain berlumuran darah ketika dia terengah-engah, kelelahan.

“Istirahatlah,” Ucap Xiang Shu.

Chen Xing melambaikan tangannya dan menjawab, “Saat aku sudah selesai bicara, aku akan pergi. Para daren sekalian…”

Chen Xing berdiri menghadap ke kerumunan sebelum kembali menatap Xiang Shu, sedikit keraguan terpancar di wajahnya.

“Apa kau benar-benar ingin memberitahu mereka?” dia mengonfirmasi.

Xiang Shu mengerutkan kening, tampak tidak sabar. “Karena aku sudah mempersilakanmu bicara, bicaralah.”

Chen Xing hanya bisa menceritakan seluruh kejadiannya. Aula itu benar‑benar sunyi. Setelah dia selesai berbicara, Chen Xing tiba‑tiba teringat akan suatu hal yang cukup penting.

“Putri Qinghe, dia …” Setelah mendengar cerita Chen Xing, Yao Chang menjadi cemas dan memandang Murong Chui, yang wajahnya sudah menjadi gelap saat dia berkata, “Ini fitnah! Mana buktinya?!”

“Guwang adalah saksinya,” Xiang Shu berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau kau tidak percaya, tunggu sampai Qinghe diselamatkan, dan kau bisa bertanya padanya secara langsung. Hanya saja, Jiantou pasti juga sudah sangat sadar tentang masalah ini.”

“Ini …” Seketika, Fu Rong menyadari bahwa permasalahan besar ini tidak akan baik sama sekali. Bukankah ini hanya memaksa Murong Chui keluar? Ini bukan masalah kecil; jika dia memperjelas pengaturan Wang Ziye, itu sama saja dengan memberi tahu semua orang bahwa Putri Qinghe juga telah berpartisipasi dalam konspirasi untuk memulihkan negara, dan keluarga Murong tidak akan bisa lepas dari kesalahan ini. Meskipun sebagian besar orang di dalam istana sudah percaya bahwa keluarga Murong memiliki niat untuk merencanakan pemberontakan, begitu fakta ini terungkap, pilihan apa lagi yang akan dimiliki Murong Chui?

Setelah mendengarkan, Xiang Shu melambaikan tangannya ke arah Chen Xing, memberi isyarat agar dia mendekat.

Chen Xing berjalan ke anak tangga paling bawah.

Xiang Shu berkata, “Mendekatlah.”

Chen Xing: “???”

Chen Xing dengan demikian naik satu langkah.

“Mendekatlah ke sisi Guwang!” Xiang Shu dengan tidak sabar berkata, “Aku tidak akan memakanmu, apa yang kau takutkan?”

Semua orang: “……”

Semua pejabat di dalam aula melihat wajah Murong Chui. Untuk sesaat, mereka tidak tahu apa yang akan dia putuskan. Apakah dia akan mencabut pedangnya di tempat dan melemparkannya ke tanah sebelum berteriak “Laozi memberontak!” lalu buru‑buru keluar untuk memulai hal‑hal kecil? Atau akankah dia berlutut dan memohon kesalahannya kepada Chanyu yang Agung ini yang saat ini menjalankan haknya sebagai kaisar dinasti? Namun Xiang Shu sama sekali tidak menyadari situasinya, dan malah bertukar pandang dengan orang Han ini di dalam aula.

Sebenarnya apa yang terjadi?

“Oh … Oh.” Chen Xing kemudian datang ke sisi Xiang Shu.

Dengan tidak sabar, Xiang Shu meraih tangan Chen Xing dan menunjukkan cincin di jarinya pada para pejabat di bawah mereka.

“Apa kalian mengenali cincin segel ini?” Xiang Shu berkata, masih kesal.

Semua orang menundukkan kepala satu per satu.

“Dengan otoritas Guwang sebagai Chanyu yang Agung untuk membebaskan orang dari hukuman,” kata Xiang Shu, “Guwang memberikan pengampunan khusus kepada Putri Qinghe dari klan Murong.”

Semua pejabat istana yang hadir secara bersamaan menghela napas lega, dan pada saat yang singkat itu, tidak ada cukup waktu untuk bertanya‑tanya mengapa seorang pria Han mengenakan cincin milik Chanyu yang Agung. Untungnya, dengan begini, mereka semua baru saja terhindar dari perselisihan internal.

“Selanjutnya, Guwang memberikan pengampunan khusus kepada Feng Qianyi dari keluarga Feng,” Xiang Shu menambahkan. “Kejahatan dua orang ini yang bersekongkol untuk memberontak akan dihapuskan untuk selamanya. Setelah ini, keduanya tidak boleh diselidiki dan diinterogasi lagi, dan tidak ada yang diizinkan untuk memulai rumor atau memprovokasi perselisihan dengan mereka; jika ada yang tidak mematuhinya, itu akan menjadi pelanggaran terhadap Perjanjian Chi Le, dan semua Hu akan bersama‑sama mengutuk mereka.”

Chen Xing berpikir dalam hatinya, Pemberontakan ini bukan ditujukan untukmu. Saat Fu Jian keluar nanti, kupikir dia akan mati karena amarah yang berlebihan karena tindakanmu ini. Pokoknya, lupakan saja, dia pantas mendapatkan nasib buruknya.

Dengan ini, selain pembuat rencana Wang Ziye, keluarga Feng dan Putri Qinghe semuanya aman. Semua orang tahu bahwa ada juga jalan tengah dari masalah ini; setelah kasus ini diselidiki, itu hanya akan memaksa klan Murong keluar.

Chen Xing hanya bisa mengintip Xiang Shu yang tubuhnya berlumuran darah yang telah menghitam dan baju besi kotor dengan sedikit kekaguman di matanya saat dia berpikir dalam hatinya, Sepertinya tidak salah juga kalau orang ini menjadi kaisar ma.

Xiang Shu kemudian berkata, “Itu saja, bubar. Setelah ini kau mau kemana?”

“Aku akan menemui Tuoba Yan,” jawab Chen Xing. “Dia terluka.”

“Aku akan pergi bersamamu.” Xiang Shu bangkit dari takhta kaisar dan berjalan di depan kerumunan, meninggalkan aula bersamanya.

Sore hari itu. Tuoba Yan terbaring di dalam ruangan sementara Xie An, Xiao Shan, dan Feng Qianjun mengawasi dari dekat. Xiao Shan masih menggendong anjing Chen Xing di tangannya.

Berbaring di sofa lain adalah Feng Qianyi yang masih tidak sadarkan diri.

Perut Tuoba Yan, yang telah dibelah oleh raja iblis kekeringan sebelumnya, mengeluarkan darah dari bawah tulang rusuk sampai ke daerah pusar. Xiao Shan membantu menekan lukanya sementara Chen Xing menjahitnya. Setelah selesai, tangan Chen Xing berlumuran darah, dan dia merasa begitu pusing.

Xiang Shu mengawasi dari samping. Untungnya, cederanya tidak terlalu serius, tapi ada qi hitam pekat yang keluar dari luka itu. Namun, tangan Chen Xing masih memancarkan cahaya dari Cahaya Hati saat dia menghentikan pendarahannya dan menjahit lukanya. Di bawah sinar dari Cahaya Hati, kebencian menghilang dengan sendirinya, dan tepi luka yang berwarna hitam pekat juga berangsur‑angsur kembali ke warna merah tua yang normal.

“Baiklah.” Chen Xing kemudian meminta Tuoba Yan meminum pil untuk meningkatkan sirkulasi darah dan menumbuhkan kembali daging, sambil berkata, “Kamu istirahatlah. Jangan bergerak jika itu memang tidak perlu.”

Tuoba Yan, yang wajahnya pucat pasi dan masih sangat lemah, jatuh tertidur lelap di sofa.

Chen Xing menyeka keringatnya. Dia tidak tahu jumlah pasien yang dia periksa hari ini. Sejak tiba di Istana Ahfang, dia telah bergegas tanpa henti berkeliling di seluruh kamp untuk memeriksa semua perwira, prajurit, serta orang‑orang biasa yang terluka karena mereka digigit oleh iblis kekeringan.

Untungnya, setelah gelombang iblis kekeringan berakhir kali ini, mereka segera berkumpul di depan istana kekaisaran dan tidak menyerang orang orang lagi. Segera setelah orang‑orang Chang’an melihat monster‑monster itu, mereka langsung kabur. Selain itu, para prajurit juga berhasil ditarik mundur.

Hanya ada Tuoba Yan yang memimpin Prajurit Terlarang. Seolah takut akan nyawanya, dia telah menyerang istana kekaisaran untuk mendapatkan Fu Jian kembali, mengakibatkan dia terluka parah. Orang lain, seperti pasukan pribadi dari klan Murong, hampir semuanya telah ditarik secepat mungkin dan mundur lebih cepat dari siapapun —— bahkan Fu Rong telah bergegas menyelamatkan nyawanya sendiri.

“Masih sangat keras kepala.” Chen Xing merasa tidak berdaya. “Terkadang, Tuoba Yan seperti orang bodoh.”

“Berapa banyak orang yang sudah kamu rawat?” Xie An bertanya. “Xiao Shidi, kamu juga istirahatlah  ba.”

Chen Xing memang sangat lelah. Kebangkitan Semua Sihir memang telah menyediakan sejumlah besar qi spiritual untuk Cahaya Hati, bagaimanapun, dibandingkan dengan sebelumnya, penggunaannya juga menghabiskan lebih banyak dari kondisi mentalnya. Menyeka keringatnya dan duduk di tepi sofa, dia berkata, “Ya, aku akan istirahat sebentar. Aku sangat lelah, benar‑benar sangat lelah.”

Mengatakan demikian, dia menepuk anak anjing itu dan bersandar pada Xiang Shu, dan benar‑benar tertidur sambil duduk begitu saja.

Xiang Shu: “……”

Semua orang: “……”

Jadi, semua orang hanya duduk di ruangan sambil saling memandang.

“Itu …” Setelah dia selesai merawat kakak laki‑lakinya, Feng Qianjun berkata, “Izinkan aku memperkenalkan kalian ba. Orang ini adalah … Xiongdi Kecil Xiao Shan, teman lama kita yang juga ada di sini untuk mengusir setan.”

Xiao Shan: “?”

Feng Qianjun terus mengedipkan mata pada Xiao Shan. Bingung, Xiao Shan menatap Xie An dengan tatapan bertanya‑tanya sebelum kembali menatap Feng Qianjun yang sekarang dengan tegas menyipitkan matanya. Xiao Shan tidak benar‑benar mengerti tapi masih mengangguk.

Xie An, bagaimanapun, sudah tahu jika Xiang Shu tidak mengingat kejadian yang lalu. Dia mengangguk dan berkata, “Aku dipanggil Xie Anshi.”

Ekspresi Xiang Shu dengan jelas menunjukkan bahwa dia merasakan déjà vu dengan dua orang ini. Hanya saja, dia tidak bisa mengingat di mana dia telah melihat semua itu sebelumnya, dan dengan demikian, dia hanya bisa berkata, “Karena kalian semua adalah teman lama Chen Xing, mundurlah ba. Pergi dan menetaplah di mana pun kalian mau, kalian bisa menganggap jika ini perintahku. Biarkan Chen Xing beristirahat dulu.” Tapi setelah dipikir‑pikir, dia merasa itu juga tidak benar, karena ada juga Tuoba Yan dan Feng Qianyi di ruangan itu. Jadi, dia menggendong Chen Xing dan secara pribadi mencari tempat yang tenang untuk dia beristirahat.

Setelah Xiang Shu pergi, Feng Qianjun, Xie An, dan Xiao Shan mulai bertukar informasi. Feng Qianjun berkata, “Sampai saat ini, aku masih takut kalau ini hanya mimpi, tapi seharusnya tidak …Aku mendengar bahwa sebelum orang meninggal, masalah yang tidak dapat diselesaikan selama hidup mereka semua akan diputar ulang seperti bayangan lentera yang bergerak[2]Pada dasarnya adalah lentera berputar dengan lukisan di semua sisi. Feng‑dage mengira dia hanya mengulangi kejadian dalam ingatannya[/efn_note]. Kalian tahu, apakah itu kau atau Xiao Shan, Fu Jian, Dage-ku, atau Tuoba Yan, aku sudah pernah melihat kalian semua sebelumnya.

“Pemandangan ini.” Feng Qianjun penuh dengan keraguan saat meminta Xie An untuk melihat‑lihat istana kekaisaran. “Apa menurutmu itu terlihat seperti lentera zhouma?”

Xie An berkata, “Qianjun, kamu hanya lelah dan pusing, istirahatlah dan kamu akan baik‑baik saja. Aku juga skeptis tentang hal itu, tapi apakah kamu belum menyadarinya? Ada satu hal yang membuktikan jika kita saat ini tidak sedang bermimpi, tapi memang telah kembali ke tiga tahun yang lalu.”

Xiao Shan: “?”

Xie An tersenyum licik. “Burung phoenix itu, apakah kamu sudah melihat wujud manusianya? Sebagai raja yao, itu pasti berbentuk manusia, kan? Bahkan jika dia tidak memiliki bentuk manusia, kamu sudah melihat burung phoenix itu, bukan? Apa kamu tahu seperti apa rupa burung phoenix? Burung phoenix yang kita lihat, apakah itu sama dengan yang kamu bayangkan?”

Perkataan Xie An membuat Feng Qianjun tiba‑tiba sadar. Memang, jika ini hanyalah bagian dari imajinasinya yang dia miliki sebelum kematian, itu hanya bisa menjadi pengulangan peristiwa masa lalu dalam hidupnya. Semua flashback harus memiliki orang dalam ingatannya, dan penampilan mereka mungkin kabur seiring bertambahnya usia. Kecuali, mereka memang belum pernah melihat seperti apa burung phoenix itu sebelumnya!

“Aku sudah melihat bentuk manusianya!” Feng Qianjun akhirnya bisa yakin bahwa ini bukanlah ilusi.

Mengangguk, Xie An kemudian berkata, “Kali ini, Wang Ziye memperoleh Pedang Acala sebelum kita, yang sebenarnya merupakan hal‑hal yang rumit. Kita harus menemukan cara untuk mengambilnya kembali dan mengembalikannya ke tangan Dewa Bela Diri sehingga kita bisa menghancurkan bagian terakhir dalam Pertempuran di Sungai Fei.”

Feng Qianjun telah mendengar Chen Xing berbicara tentang altar di medan pertempuran. Dia berkata sambil berpikir, “Hanya Xiang‑xiongdi yang tahu pintu masuk ke Istana Huanmo. Bagaimana mungkin dia, dari semua orang, melupakan semua ini?”

Xie An berkata, “Itu tidak akan menjadi halangan. Aku membuat pengaturan sebelum aku datang ke sini, aku sudah memerintahkan orang untuk pergi ke Sungai Fei untuk menggali tanah dalam radius beberapa li di medan pertempuran. Selama kita memiliki kesabaran untuk menggali selama dua atau tiga tahun, kita akan benar‑benar mampu menggalinya.”

Tidak menyangka bahwa ada juga metode bodoh semacam ini, Feng Qianjun menganggukkan kepalanya.

Xiao Shan menambahkan, “Tunggu sampai kita kembali untuk menyelamatkan Lu Ying. Lu Ying berkata mungkin ada cara yang bisa membantu Chen Xing.”

Pemandangan di dalam taman itu seperti lukisan. Di musim panas, warna biru kehijauan memenuhi halaman, dan lonceng angin di koridor berdentang lembut saat diombang‑ambingkan oleh angin. Taman ini dan Chang’an, yang memiliki kebencian membumbung di sekelilingnya, sepertinya dipisahkan oleh dinding, berhasil mengubahnya menjadi utopia di bumi2

Chen Xing tertidur sampai langit berubah menjadi gelap, dan bumi menjadi redup. Dia bangkit dari satu sisi sofa dan menguap.

“Aku pikir kau tidak akan bangun.” Xiang Shu saat ini sedang duduk di ruang luar. Dengan hanya mengenakan pakaian dalam, dia memainkan qin sambil menghadap halaman, yang berkilauan di bawah sinar matahari dan membuat pemandangan indah seperti lukisan.

Chen Xing tiba‑tiba menjadi cemas. “Sudah berapa lama aku tidur? Di mana ini?”

Chen Xing sendiri bahkan sedikit takut. Dia berpikir tentang waktu sebelumnya yang berlangsung selama tiga bulan. Mungkinkah hal itu sekali lagi bergerak ke arah yang tidak terkendali? Chang’an sudah jatuh, dan mereka sudah sampai di Jiangnan?!

“Semalam,” jawab Xiang Shu. “Kita masih di Istana Ahfang. Feng Qianyi dan anjingnya sudah dibawa keluar lebih dulu, untuk menghindari Jiantou mencoba melunasi hutangnya begitu dia kembali.”

Begitu terbangun, Chen Xing hampir takut pingsan akan lagi. Untunglah, untunglah, sepertinya aku hanya kelelahan.

“Kau menyelamatkan lebih dari seribu orang?” Xiang Shu berkata dengan tidak percaya.

Pada hari itu, ketika mereka mundur ke Istana Ahfang, Chen Xing telah melihat bahwa orang‑orang biasa dan pasukan Prajurit Terlarang itu telah dicakar atau digigit, jadi dia tetap tinggal untuk menghilangkan kebencian mereka. Tanpa disadari, dia sebenarnya telah merawat beberapa ribu orang saat itu. Yang paling membuatnya senang adalah kenyataan bahwa Cahaya Hati, setelah Kebangkitan Semua Sihir, mampu membersihkan luka dari mereka yang terluka dengan dukungan kekuatan qi spiritual langit dan bumi. Artinya, tidak perlu takut bahwa mayat seseorang akan berubah menjadi iblis kekeringan lagi.

Ekspresi Chen Xing bingung karena dia juga tidak yakin. “Sekarang apa? Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

“Chanyu yang Agung,” beberapa penjaga istana datang dan berkata, “baju besi Anda.”

Mendengar itu, Xiang Shu mengesampingkan qin dan bangkit, berkata, “Shixiong-mu secara sukarela maju untuk menghalangi Wang Ziye. Feng Qianjun juga ingin menyelamatkan Putri Qinghe.”

Chen Xing berkata, “Masalah ini jelas jauh lebih serius daripada yang mereka pikirkan. Kita harus membahasnya terlebih dahulu secara menyeluruh.”

Sekarang, Wang Ziye telah menduduki istana kekaisaran dan menyandera Fu Jian dan Putri Qinghe. Sementara Xiang Shu memiliki 100.000 pasukan di tangannya yang mengelilingi Chang’an, dia sebenarnya sudah kehabisan akal. Dia harus menyelamatkan para sandera terlebih dulu dan membiarkan Fu Jian sendiri menangani sisanya sesuka dia.

Xiang Shu memandang Chen Xing dan tiba‑tiba kehilangan kata‑kata.

“Apa?” Chen Xing bertanya.

Jarak di antara alis Xiang Shu menyimpan beberapa keraguan, seolah‑olah dia sedang memikirkan sesuatu. Namun, dia hanya menggelengkan kepalanya setelah itu sambil berkata, “Tidak ada.”

Chen Xing: “???”

Chen Xing curiga bahwa Xiang Shu mungkin telah mengingat sesuatu. Faktanya, dari saat dia melihatnya lagi, Xiang Shu sesekali menunjukkan ekspresi seperti ini yang terlihat seperti dia tengah terbenam dalam ingatannya sendiri.

Setelah selesai mengganti pakaiannya, Chen Xing bergegas ke pelataran Istana Ahfang. Bersama‑sama dengan yang lain, dia menatap ke arah Chang’an dan melihat Istana Weiyang, yang berdiri beberapa li jauhnya, diselimuti oleh kubah hitam yang ditutupi oleh awan hitam pekat.

“Ini akan sangat sulit.” Chen Xing mengerutkan kening. “Penghalang itu adalah dinding pertahanan yang diatur menggunakan Pedang Acala.”

Tembok pertahanan ini juga disebut “batas” oleh dinasti sebelumnya, dan untuk memanfaatkannya, ia mengandalkan kekuatan artefak sihir itu sendiri. Wang Ziye menggunakan tembok pertahanan ini untuk: pertama, menahan kebencian yang melimpah di dalam, dan kedua, memblokir makhluk hidup di luar, membuat mereka tidak bisa masuk.

Burung phoenix terbang dan bertengger di atap. “Apa kamu memerlukan bantuan?”

Xiang Shu: “Siapa yang bicara?”

“Tidak untuk sekarang.” Chen Xing juga memiliki ide untuk keinginan terakhirnya, hanya saja, dia tidak bisa menggunakannya dengan mudah seperti itu. Karena itu, dia menjelaskan pada Xiang Shu, “Itu … errr, raja yao.”

“Apa kamu bisa bertransformasi menjadi bentuk manusia sehingga aku bisa melihatnya?” Xie An bertanya dengan sopan.

“Suruh Chen Xing memintanya,” kata burung phoenix. “Aku akan setuju dengan apa pun yang dia katakan.”

Xiang Shu: “……”

Xiang Shu mengamati burung phoenix, ekspresi berbahaya terpancar di wajahnya. Chen Xing buru‑buru menjelaskan, “Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Lupakan, aku akan menjelaskannya padamu saat kita luang nanti.”

Tuoba Yan tetap memegang lukanya dengan satu tangan dan mendekat dengan susah payah. Feng Qianjun dengan cepat mengulurkan tangan untuk mendukungnya.

“Aku sudah mencoba,” kata Tuoba Yan. “Sangat berbahaya di dalam dinding berwarna hitam itu, dan ada juga monster yang menjaganya.”

Wu…” Chen Xing mengerutkan kening saat dia merenungkannya, pikirannya bergerak secepat kilat, memikirkan tentang bagaimana menghancurkan tembok pertahanan itu. Hari ini, apa pun yang terjadi, mereka harus memurnikan Wang Ziye; mereka telah mentolerirnya terlalu lama.

Setelah perenungan sesaat itu, Xie An berkata, “Menurut teori, selama kita menyerang dengan keras tembok pertahanan ini sampai semua kebencian di dalam habis, maka secara alami tembok itu akan hancur.”

“Tidak semudah itu,” kata Chen Xing, “Zhang Liu pernah menggunakan Pedang Acala untuk mengatur batas di dalam Cermin Yin Yang. Selama ratusan tahun, bahkan Shi Hai tidak bisa menghancurkannya.”

“Apa itu Pedang Acala?” Xiang Shu sekali lagi menemukan bahwa nama itu sepertinya tidak asing.

“Seharusnya pedang itu milikmu,” kata Chen Xing. “Tapi sekarang sudah jatuh ke tangan Wang Ziye.”

Xie An berkata, “Bagaimana kalian berdua bisa masuk terakhir kali?”

Selama konfrontasi mereka dengan Feng Qianyi untuk pertama kalinya, tidak ada tembok pertahanan di Istana Weiyang. Pada saat itu, Chen Xing telah keluar dan masuk istana dengan bantuan Cermin Yin Yang. Tapi kali ini, cermin penghubung itu juga telah dihancurkan. Masalah ini benar‑benar membuatnya sakit kepala.

“Apakah ada cara,” Chen Xing merenung, “untuk membuat jalan dan melewati tembok pertahanan ini dan masuk ke dalam untuk membawa Fu Jian dan Putri Qinghe kembali ne? Bagaimana Wang Ziye bisa mencuri Pedang Acala dan mengambilnya? Pasti ada jalan … Ada! Dimana Sima Wei? Cepat! Bawa Sima Wei ke sini!”

Sore itu, sekelompok orang, seperti sebelumnya, telah berkumpul di Gunung Song sebelum mereka terus bergerak mendekati Istana Weiyang.

Xie An menghela napas. “Xiao Shidi benar‑benar pintar.”

“Sssh.” Chen Xing sangat gugup ketika dia melihat ke lokasi yang terus mereka tuju, siluet hitam Istana Weiyang di ujung jalan utama Chang’an.

“Aku masih tidak yakin apakah ini akan berhasil,” bisik Chen Xing.

Xiang Shu berkata, “Setelah berhasil dihancurkan, Chen Xing dan aku akan bertanggung jawab atas Kjera, sementara kalian semua menangani pasukan iblis kekeringan.”

Chen Xing mengangguk sebelum mengangkat kepalanya untuk melihat Xiang Shu dan menepuk punggung tangannya sebagai balasannya. Keduanya lalu berpegangan tangan.

Saat tangan Chen Xing bersinar, dia menyalurkan cahaya di sepanjang meridian tangan kanannya dan menuangkannya ke seluruh tubuh Xiang Shu sampai meridian jantungnya memancarkan cahaya yang cemerlang.

“Dapatkan tombak Wang Ziye dulu,” Chen Xing berulang kali memperingatkan. “Yang paling penting adalah mendapatkan kembali senjata ilahimu.”

Xiang Shu mengangguk.

Sima Wei membawa Senluo Wanxiang milik Feng Qianjun di punggungnya saat dia berjalan di jalan yang penuh dengan para iblis kekeringan di kedua sisi, menuju tembok pertahanan. Setelah dia berhasil lewat tanpa mendapat perlawanan apapun, dia langsung menuju ke dalam Istana Weiyang.

Tombak iblis, seluruh tubuhnya hitam pekat dengan kebencian melonjak di sekitarnya, dipasang di tengah balkon Istana Weiyang. Cahaya pada tanda darah merah tombak itu berkelap‑kelip saat menyebar berputar‑putar, mirip dengan gelombang laut, untuk akhirnya membentuk array  pertahanan yang tidak bisa dihancurkan.

Wang Ziye berdiri di depan pelataran dengan Fu Jian, yang saat ini sedang mengamati pemandangan dengan begitu banyak orang mati yang masih hidup di dalam istana kekaisaran dari lokasinya di atas.

Wang Ziye: “Orang mati tidak pernah, tidak pernah, menemui kematian mereka di dunia manusia. Lihat ba, Yang Mulia, para perwira dan prajurit ini, sebelum kematian, adalah orang yang kau perintah, dan setelah kematian, mereka juga akan bertempur untukmu.”

Lima raja iblis kekeringan berkumpul di sekitar sisi pelataran. Wang Ziye mendekati mereka, melepas helm salah satu orang sebelum mengingatkan Fu Jian untuk melihat.

“Apa pendapat Yang Mulia? Selama hidup mereka dan setelah kematian mereka, apakah ada perbedaan besar?”

Fu Jian dengan dingin berkata, “Kata‑kata manis namun tidak tulus, Wang Ziye. Kau dengan sungguh‑sungguh mencoba menggoda Zhen untuk meminum racunmu sehingga Zhen akan menjadi mayat hidup yang dapat dikendalikan olehmu!”

Wang Ziye tersenyum. “Yang Mulia, kau sebaiknya melihatku terlebih dahulu, lalu lihatlah mereka. Aku sudah memiliki kehidupan selama beberapa ribu tahun saat aku berkeliaran dengan bebas di antara langit dan bumi. Apakah menurutmu aku dikendalikan oleh seseorang?”

Fu Jian langsung tertegun. Wang Ziye melanjutkan, “Jika orang yang hidup dipaksa untuk meminum darah iblis, itu tidak salah; itu akan mengubahnya menjadi mayat berjalan yang tidak lagi memiliki kesadarannya sendiri. Hanya jika kau sangat bersedia untuk mendedikasikan hidupmu untukku. Tuanku akan membantumu mendapatkan kehidupan kekal tanpa kematian, dan bebas serta tidak terkekang seperti aku sekarang.

“Lagipula, karena hidupmu ada di tanganku sekarang,” Wang Ziye tersenyum dingin dan dia menambahkan, “mengapa aku repot‑repot mengatakan omong kosong seperti ini padamu?”

Putri Qinghe ada di samping saat dia melihat Wang Ziye dengan bingung.
Wang Ziye: “Selama kau menganggukkan kepalamu, Tuanku akan memberimu pasukan yang begitu besar sehingga tidak akan pernah habis, sementara juga memberimu tubuh yang tidak akan mati.”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

 

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Kami belum terlalu jelas soal ini, teks aslinya tertulis 苻坚所立太子为堂兄的长子. Menurut sejarah, Putra Mahkota Fu Jian adalah anak laki-lakinya, Fu Hong, jadi… kami tidak mengerti kenapa disini tertulis seperti ini.
  2. 世外桃源, secara harfiah, Tanah Bunga Persik, tanah kemakmuran yang terkenal dalam dongeng.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments