Penerjemah: Keiyuki17
Editor: Jeffery Liu


“Ini belum tentu orang yang sama,” kata Chen Xing, mondar-mandir di dalam ruangan. “Mungkin hanya seseorang dengan nama yang sama? Xiang Shu…”

Xiang Shu sangat gelisah. Dia tanpa sadar meremas gulungan di tangannya saat dahinya berkeringat. Jika ibunya adalah seseorang dari 300 tahun yang lalu, lalu siapa dia?! Kedua orang itu saling menatap satu sama lain. Chen Xing melihat ekspresi gelisah di mata Xiang Shu; dia sudah mengemukakan kemungkinan bahwa ada dua orang dengan nama yang sama sebagai cara untuk menenangkan Xiang Shu, tapi mereka berdua tahu bahwa orang itu bisa jadi adalah ibu Xiang Shu.

Jejak di Cermin Yin Yang, asal-usul gulungan bambu tentang Pedang Acala, takdir dari Mutiara Dinghai, semua teka-teki yang tampaknya tidak terkait ini akhirnya dalam satu saat ini berhasil dihubungkan bersama, melalui sosok seorang pengusir setan wanita Han yang terkenal.

Dan wanita ini, sangat mungkin bahwa dia adalah ibu Xiang Shu!

“Disini?” Terdengar suara Feng Qianjun bertanya.

Xiang Shu dan Chen Xing terkejut karena hal ini dan berteriak dengan keras secara bersamaan.

Feng Qianjun juga mulai berteriak liar di luar, dan saat mereka bertiga berteriak dengan liar, Xiao Shan memperhatikan mereka dengan tenang.

Sekitar tengah malam1, Feng Qianjun dan Xiao Shan sudah pergi mencari teman mereka yang hilang. Pertama Chen Xing pergi dengan pemuda itu, lalu Xiang Shu juga pergi, tapi mereka berdua tidak pernah kembali. Feng Qianjun tinggal bersama Xiao Shan di kamar, keduanya terlibat dalam perlombaan menatap. Tidak peduli apa yang Feng Qianjun tanyakan, Xiao Shan mengabaikannya. Suasana di dalam kediaman besar ini juga cukup menyeramkan. Itu mengingatkan Feng Qianjun pada cerita hantu yang didengarnya dari seorang lelaki tua ketika dia masih muda: saat badai mengamuk di luar kamar sewaan, rekan kepercayaannya menghilang satu demi satu. Kemiripannya itu membuatnya sangat menakutkan.

“Jangan menakuti orang!” Kata Chen Xing.

“Kalian berdua yang menakut-nakuti orang, oke!” Jawab Feng Qianjun dengan marah. “Pergi selama itu, tengah malam sudah lama berlalu dan kalian berdua masih belum kembali!”

Xiao Shan memasuki kamar dan menatap sekelilingnya dengan rasa ingin tahu. Chen Xing menarik napas dengan cepat. Ekspresi Xiang Shu tidak terlihat lebih jelek dari sebelumnya. Feng Qianjun bertanya, “Apa yang kalian temukan? Boleh aku melihatnya?”

Chen Xing menjelaskan kejadian itu pada Feng Qianjun. Ketika dia berbicara tentang identitas Xiang Yuyan, dia awalnya ingin menghubungkannya dengan Xiang Shu, tapi dia tidak melakukannya dan memilih untuk menelannya – tapi Xiang Shu justru mengungkapkannya. “Dia adalah ibuku.”

Feng Qianjun juga memahami kemustahilan dari pernyataan itu dan dengan gemetar berkata, “Ibumu hidup sampai usianya lebih dari 300 tahun? Wow, ini… ini sangat luar biasa. Pengusir setan, en, bisakah pengusir setan hidup selama ini?”

Legenda mengatakan tentang kultivator yang benar-benar hidup sampai usia dua atau tiga ratus tahun, atau mereka yang memiliki rentang hidup yang setara dengan langit dan bumi2, tapi legenda hanyalah legenda. Tidak ada yang pernah melihat seseorang yang seperti itu, dan menggunakan hal ini sebagai penjelasan bahkan hampir tidak masuk akal.

Xiang Shu mengingat kembali memorinya tentang ibunya dan berkata, “Dia tidak tampak seperti orang yang berusia 300 tahun.”

Orang yang hidup selama itu pasti memiliki perbedaan di antara temperamen batinnya dan penampilan luarnya. Misalnya, seorang yang berusia 80 tahun, meskipun mereka memiliki ciri-ciri seperti seorang berusia 20 tahun, melalui kata-kata dan tindakan mereka, akan menunjukkan bahwa mereka jauh lebih tua daripada penampilan mereka.

“Dan apa sebenarnya Lonceng Luohun itu?” Tanya Feng Qianjun dengan curiga.

“Sebuah artefak.” Chen Xing mengingat detailnya dan berkata, “Dia bisa mengumpulkan dua hun3 yao, manusia, dan binatang.”

Feng Qianjun: “Kalau begitu, bukankah mereka akan mati setelah itu?”

Chen Xing melambaikan tangannya sambil menjelaskan, “Manusia dan makhluk hidup lainnya memiliki tiga hun4: hun spiritual, bumi, dan manusia. Jika hun spiritual hilang, orang tersebut akan mati; hun bumi terutama mengendalikan emosi dan hubungan eksternal, sedangkan yang ketiga, hun manusia mengendalikan ingatan kalian. Selain hun spiritual, jika dua hun lainnya hilang, seseorang tidak akan langsung mati5. Jika kita memiliki lebih banyak waktu maka aku akan menjelaskannya padamu dengan jelas… Xiao Shan! Jangan menyentuh barang-barang secara acak!”

Xiao Shan tidak cukup tinggi, atau mungkin dia hanya bosan dan ingin melihat barang-barang di bagian paling atas rak buku, atau mungkin dia hanya ingin membuat sedikit keributan untuk mengumumkan bahwa dia masih ada di sini. Dia mengulurkan cakarnya, menarik seluruh rak buku. Seluruh ruangan dipenuhi debu saat Chen Xing buru-buru memberi isyarat pada Xiao Shan untuk datang ke tempatnya. Xiao Shan tampak tidak senang, mendorong Chen Xing ke samping, terus-menerus menunjuk ke telinganya sendiri, dan kemudian menunjuk lagi ke pintu belakang yang muncul setelah rak buku terjatuh.

Chen Xing: “?”

Xiao Shan mengangkat kakinya dan menendang pintu sampai terbuka, memberi isyarat padanya untuk mengikutinya.

Chen Xing: “Apa yang salah?”

Di belakang pintu ada gang kecil menuju ke taman bunga belakang kediaman Xiang. Jalan kecil ini tidak terawat selama hampir seratus tahun, jadi jalan itu ditumbuhi rumput liar. Saat itu hampir pukul setengah dua pagi6, dan semuanya hening di sekitar mereka. Bulan mengintip keluar dari awan hitam, memancarkan cahayanya di atas semak-semak liar dan tumbuhan liar yang tumbuh subur.

“Apa kau mendengar sesuatu?” Tanya Chen Xing.

Xiao Shan tidak bersuara, tapi Chen Xing tahu bahwa pendengarannya jauh lebih unggul dari Xiang Shu dan Feng Qianjun. Xiao Shan kemudian menggunakan cakarnya untuk menarik rumput liar yang menghalangi jalan. Feng Qianjun berkata, “Aku akan pergi terlebih dulu.”

Chen Xing melirik Xiang Shu dengan rasa ingin tahu, menanyakan apakah dia akan tinggal di sini atau ikut dengan mereka.

Xiang Shu menutup gulungan itu dan bangkit. Feng Qianjun memutar pedangnya; bilah pedang itu masih menyimpan jejak kebencian. Chen Xing meliriknya sebentar: jelas, meskipun mereka beberapa kali bertemu, kebencian pada pedang itu masih belum hilang sepenuhnya.

Semak-semak mati yang menghalangi jalan, setelah dibersihkan dan didorong ke dua sisi, sekarang menampakkan jalan rahasia yang pernah mereka sembunyikan, dan di dalam angin sepoi-sepoi terdengar suara seorang wanita tua yang menghilang masuk dan keluar, “Tetap di sini… Tetap di sini… Jangan pergi…”

“Wanita… Apa dia hantu wanita?”

Mendengarkan suara itu, Chen Xing merinding dan menatap Feng Qianjun. Tapi sebaliknya, Xiang Shu meletakkan tangannya di bahunya, melewati Feng Qianjun dan Xiao Shan, dan berjalan ke dalam taman.

“Jangan pergi..  tetaplah di sini…” kata suara wanita tua itu dengan sedih. “Jangan pergi…”

Embusan angin bertiup, dan awan gelap sekali lagi menutupi cahaya bulan. Mendengarkan suara itu, Chen Xing dan Feng Qianjun merasakan rambut di tengkuk mereka berdiri. Chen Xing meraih tangan Xiang Shu, keberaniannya yang berpura-pura terhadap hantu segera menghilang seperti kabut di bawah matahari7, berkata, “Bagaimana kalau kita kembali… kembali terlebih dulu? Kita akan kembali saat hari sudah siang?”

“Apa yang kau takutkan?” Xiang Shu mengerutkan keningnya ketika dia bertanya. Pada saat yang sama, dia dengan erat menggenggam tangan Chen Xing, mengaitkan jari-jari mereka, sebelum berkata, “Kau tidak takut pada iblis kekeringan, tapi kau takut pada hantu?

Chen Xing bergumam, “Sebagian besar karena saat ini sudah larut malam dan kita tidak bisa melihat apa pun. Itu terlalu menakutkan ah ah ah—-“

“Cahaya Hati!” Xiang Shu meremas tangannya, dan tekanan dari tangannya yang besar dan hangat membuat Chen Xing perlahan menjadi tenang.

Chen Xing gemetaran bahkan ketika dia menggunakan Cahaya Hati di satu tangan, yang menerangi sekelilingnya dengan cahaya putih terang. Cahaya menyinari bebatuan8, memutihkannya dari warnanya, dan dari ayunan yang tergantung dari pohon di sebelahnya. Ayunan itu perlahan terayun tertiup angin, berderit dengan lembut, yang menambahkan kesan menakutkan pada pemandangan yang sudah membuat bulu kuduk berdiri.

Saat Cahaya Hati menyinarinya, volume suara itu meningkat, seolah-olah sudah dipengaruhi oleh cahaya.

“Jangan pergi! Tetaplah disini!” Suara wanita tua itu berkata dengan keras.

Feng Qianjun dan Chen Xing segera merasakan jiwa mereka meninggalkan tubuh mereka9. Chen Xing buru-buru bersembunyi di balik tubuh Xiang Shu saat Xiang Shu menghentikan langkahnya. Hanya Xiao Shan yang berjalan dengan hati-hati menuju bebatuan.

“Jangan pergi…” suara itu mengerang lagi.

Xiao Shan memiringkan kepalanya, mengarahkan cakarnya ke bebatuan; sebuah suara datang dari tanah di bawah ayunan.

Xiang Shu berkata pada Chen Xing, “Jangan takut, aku akan pergi  memeriksanya.”

Mereka berempat berhenti di depan bebatuan, dan ketika Xiao Shan menggunakan cakar naganya untuk menggali lumpur beberapa kali, dari bawah bumi, suara itu berbicara tanpa henti, “Tetaplah disini… Kamu harus tetap di sini…”

Feng Qianjun juga merasa sedikit tidak nyaman dan berkata, “Aku berkata, bagaimana dengan menunggu sampai siang hari untuk melanjutkan penggalian? Adik kecil! Cepatlah berhenti!”

Chen Xing berkata, “Ini sudah larut malam, apa yang akan kita lakukan jika kita menggali orang mati!”

Di otak Chen Xing, sudah muncul kemungkinan bahwa di bawah tanah, ada seorang wanita tua yang sudah dikubur hidup-hidup, jadi api kebenciannya belum hilang. Dia tidak berani melihat lagi, tapi Xiang Shu menggulung lengan bajunya dan mulai menggali, dan dengan bantuan Xiao Shan, mereka sudah menggali kurang dari satu chi dalamnya, saat terdengar suara “dong“, mereka menabrak sesuatu yang seperti logam.

Kali ini Feng Qianjun dan Chen Xing merasakan jiwa mereka meninggalkan tubuh mereka pada saat yang bersamaan, dan Feng Qianjun segera berteriak: “Aku akan pergi terlebih dulu-!”

“Ini bukan peti mati!” Kata Xiang Shu dengan tidak sabar.

Setelah itu, Xiao Shan mengeluarkan kotak tembaga persegi seukuran telapak tangan dari tanah.

Chen Xing: “????”

Feng Qianjun, setelah melihat jika itu bukanlah tubuh, akhirnya menghela napas lega. Chen Xing juga akhirnya tidak takut lagi. Kemudian mereka mendengar, sekali lagi, suara nenek tua itu datang dari dalam kotak: “Tetaplah disini..  tetaplah disini…”

“Apa ini?” Chen Xing sudah jauh lebih baik dan, mengambil kotak itu, melihat ada gembok tembaga di atasnya. Xiao Shan menaruhnya di atas batu di dekat bebatuan, dan dengan sapuan cakarnya menghancurkan gembok itu.

Chen Xing memberi isyarat pada semua orang untuk mundur sedikit sebelum bergerak maju untuk membuka kotak itu.

“Tiba-tiba, kau menjadi tidak takut?” Xiang Shu memperhatikan Chen Xing dengan tidak percaya.

Chen Xing: “Itu bukan hantu… jadi tidak apa-apa.”

Feng Qianjun memeluk tangannya sendiri10, berkata, “Bagaimana jika ada hantu tinggal di dalamnya?”

Chen Xing: “Lalu… Setelah aku melihat sesuatu yang nyata, aku tidak lagi takut. Aku akan membukanya untuk melihatnya, tapi kalian semua harus berhati-hati.”

Feng Qianjun berkata, “Biar aku saja.”

Feng Qianjun menggunakan ujung sabernya untuk dengan lembut mengangkat tepi kotak, jika ada jebakan tersembunyi. Setelah membuka kotak, tutupnya terbuka, dan dengan suara “pa“, kotak itu terbuka saat bagian dalam kotak mengeluarkan cahaya redup.

Di dalamnya ada satu bunga layu, dan di kelopaknya seekor kupu-kupu bercahaya bertengger dengan hati-hati. Ia dengan lembut mengepakkan sayapnya, dan cahaya biru redup itu dipancarkan dari sayapnya.

Dari kupu-kupu itu, terdengar suara lemah: “Tetaplah disini…”

Chen Xing: “???”

Semua orang mengerutkan alis mereka ketika melihat pemandangan ini. Xiang Shu kemudian bertanya, “Apa ini?”

Chen Xing: “Aku tidak tahu. Mari kita ambil untuk mempelajarinya? Xiao Shan, jangan secara sembarangan mengacaukannya!”

Xiao Shan sudah melepaskan cakarnya dan bergerak maju untuk menangkap kupu-kupu itu. Xiang Shu segera meraih pergelangan tangannya, namun kupu-kupu bercahaya itu terus mengepakkan sayapnya dengan lembut, terbang keluar dari kotak, menyebarkan debu bercahaya di sekitar mereka sambil terbang perlahan ke atas dalam bentuk spiral.

“Kupu-kupu itu ingin terbang!” Kata Feng Qianjun.

Sebagai jawaban, Xiang Shu mengulurkan tangannya dan mengapit sayap kupu-kupu itu dengan dua jarinya, tidak membiarkannya lepas, tapi pada saat ditangkap, kupu-kupu itu larut menjadi bubuk bercahaya dan menghilang. Seluruh taman yang gelap menyala pada saat itu, setiap semak yang mati dan gulma di area tersebut mendapatkan kembali energi kehidupannya. Halaman itu dipenuhi dengan suara air yang mengalir saat kenangan yang tak terhitung jumlahnya datang ke arah mereka, dan mereka tiba-tiba dibawa kembali ke tanah Xiang 300 tahun yang lalu.

Xiang Yuyan, yang mengenakan satu set pakaian bela diri, duduk di ayunan, bergoyang dengan angin sepoi-sepoi.

Seorang pria berjalan ke taman, dan Xiang Yuyan mengangkat kepalanya dan meliriknya. Mereka berdua mengalihkan pandangan mereka.

“Wanita tua itu sudah hidup terlalu lama, jadi temperamennya terlalu keras kepala,” kata Xiang Yuyan dengan lembut. “Liu-ge, jangan ambil hati atas apa yang dia katakan.”

Orang yang dipanggil “Liu-ge” itu adalah Zhang Liu. Pada saat ini, dia berbalik sedikit dan mengambil beberapa langkah ke taman. Wajahnya cerah, dengan beberapa helai rambut yang menggelitik rahangnya. Kelima fitur wajahnya terbentuk dengan baik, dan dia bahkan bisa digambarkan dengan kata-kata “cantik dan tampan”. Jika dia tidak berdiri dalam pose yang begitu kuat, mengenakan satu set jubah seorang juru tulis, orang bisa salah sangka dan mengira dia adalah seorang wanita.

Zhang Liu berkata, “Tentu saja aku tidak akan peduli, tapi kamu… Awalnya aku percaya keluarga Xiang lebih masuk akal daripada yang aku bayangkan, tapi sekarang, sepertinya aku justru membuatmu dalam kesulitan. Tidak apa-apa, aku akan memikirkan beberapa pilihan lain.”

“Liu-ge!” Xiang Yuyan bangkit dari ayunan, tapi sekali lagi dia kehilangan kata-kata. Ketika Zhang Liu berbalik, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata: “Kamu benar-benar ingin… ingin… melakukannya dengan cara ini?”

Zhang Liu tersenyum dengan lembut tapi tidak menjawab.

Xiang Yuyan berbicara, seolah-olah berbicara pada dirinya sendiri, “Terlalu gila, ini terlalu gila. Apa kamu benar-benar mengetahui konsekuensi dari apa yang akan terjadi jika kamu melakukan hal seperti itu?”

“Antara bumi dan langit, semua sihir akan hilang. Mulai sekarang, tidak akan ada lagi yao, tidak ada lagi mo, dan tidak akan ada pengusir setan,” kata Zhang Liu dengan tenang. “Dunia akan kembali menjadi dunia yang penuh dengan para manusia.”

Xiang Yuyan tenggelam dalam keheningan yang dalam, dan Zhang Liu melanjutkan, “Jika para kultivator dengan kekuatan yang kuat dibiarkan terus seperti ini, siapa yang bisa mengendalikan mereka? Mara hanya bereinkarnasi sekali setiap seribu tahun, dan untuk satu kesengsaraan ilahi ini dalam seribu tahun, apakah layak membiarkan para pengusir setan untuk melanjutkannya, mau tidak mau menempatkan mereka di jalan kejahatan? Menurut pandanganku, Tanah Suci tidak perlu menunggu Mara untuk bereinkarnasi; dalam ribuan tahun yang panjang ini, pertama-tama, hal itu akan dihancurkan di tangan para pengusir setan.”

Xiang Yuyan mengerutkan keningnya dan berkata, “Liu-ge, kamu selalu seperti ini. Mengapa kamu selalu suka berpikir yang terburuk dari orang lain?”

Zhang Liu menjawab, “Departemen Pengusiran Setan Chang’an menghadapi bahaya perpecahan internal, namun kamu masih saja berpikir bahwa hal semacam ini tidak akan terjadi? Pengusir setan masih membedakan-bedakan diri mereka menjadi Hu atau Han, tapi tugas mereka untuk menangkap iblis tidak membedakan antara Hu atau Han. Manusia memiliki hukum, dan pemerintah menengahi upaya mereka; jika Departemen Pengusiran Setan terpecah, siapa yang akan menengahi di antara mereka?”

Xiang Yuyan dengan sungguh-sungguh berkata, “Mengabaikan masalah lain dan hanya fokus pada masalah mengambil semua mana di dunia ini, dengan melakukan itu kamu akan menjadi musuh dari setiap pengusir setan yang ada di bawah matahari.”

“Lalu apa?” Zhang Liu berkata. “Pada saat itu, aku sudah pergi. Yuyan, kamu harus tahu persis seberapa pentingnya masalah ini.”

Xiang Yuyan kecewa dan kesal, berkata, “Liu-ge, kamu benar-benar berpikir bahwa hanya dengan Mutiara Dinghai dan Pedang Acala, Dewa Iblis bisa ditaklukkan?”

“Banyak jalan di dunia ini yang dilapisi dengan semak berduri,” jawab Zhang Liu. “Jika satu-satunya cara untuk maju adalah mengerahkan semua upayamu meskipun mengetahui bahwa itu sangat sulit, apakah kamu akan mundur?”

Mereka berdua tiba-tiba menghentikan percakapan mereka, melihat ke arah pintu masuk taman, di mana seorang wanita tua yang penuh amarah sedang berdiri.

Damu11,” kata Xiang Yuyan secara perlahan.

Zhang Liu sedikit menyapanya, sebelum berbalik dan pergi.

Sapaan “damu” ini sama dengan sapaan “zumu12 di wilayah Kuaiji. Zumu tua dari keluarga Xiang saat ini berjalan menuju Xiang Yuyan, dengan dingin berkata, “Buat Zhang Liu pergi besok. Dia tidak diizinkan untuk tinggal dengan keluarga Xiangku!”

Xiang Yuyan ingin berdebat, tapi dia dengan lembut menarik napas.

Xiang Yuyan merenung sejenak, sebelum tiba-tiba berkata, “Damu, mengalahkan yao dan membunuh mo13 adalah panggilan hidupku. Mengikuti Liu-ge untuk membunuh Dewa Iblis, anak ini hanya mengikuti panggilan kami…”

“Kamu pikir ini sama dengan melakukan perjalanan jauh ke Chang’an atau Luoyang?” kata wanita tua itu dengan dingin. “Kamu akan pergi ke 3000 tahun yang lalu!”

Kata-kata ini menembus pikiran Chen Xing seperti guntur, tapi nenek dan cucu itu terus berbicara, meninggalkannya, tidak ada waktu untuk merenungkan maksud yang lebih dalam dari kata-kata itu saat dia secara tidak sadar menyerap sejumlah besar informasi ini.

Nenek tua itu memegang tongkat di tangannya, amarahnya tiada henti, dan berkata, “Rencana Zhang Liu jelas tidak akan berhasil! Ketika Mara muncul di bumi ini, Cahaya Hati pasti akan muncul, dan Cahaya Hati dan Pedang Acala terikat oleh takdir. Bahkan sekarang, kalian berdua tidak memiliki Cahaya Hati, tapi kalian masih ingin melakukan perjalanan ke 3000 tahun yang lalu untuk membunuh iblis. Bagaimana cara kerjanya?”

Xiang Yuyan membantah, “Tapi Liu-ge juga mengatakan, itu selama kita kembali ke medan perang di mana banyak kekuatan bersaing untuk memperebutkan takhta14, ketika Chiyou sudah dilemahkan oleh keturunan kaisar15, kita masih bisa berhasil dengan kekuatan Mutiara Dinghai. Dengan melakukan itu, kutukan panjang seribu tahun yang sudah bersembunyi di wilayah luas Tanah Suci ini juga akan dilenyapkan…”

“Tetaplah di sini,” kata wanita tua itu. “Kamu harus tinggal di sini bersamaku, Yuyan, jangan pergi!”

Xiang Yuyan membuang muka dari tatapan wanita tua itu; tatapannya sangat bertentangan.

Damu,” Xiang Yuyan dengan lembut berkata, “Aku ingat dalam hidupmu ini, penyesalan terbesarmu adalah berpisah dari Dafu16… kamu juga pernah mengatakan sebelumnya bahwa akan ada suatu hari, ketika…”

“Jangan mengatakannya lagi!” kata wanita tua itu, dengan sangat kuat. “Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan Zhang Liu!”

Wanita tua itu dipenuhi dengan gairah dan terengah-engah setelah mengatakan kalimat itu. Xiang Yuyan menyibukkan diri dengan merawat ibu pemimpin keluarga, mendukungnya saat mereka pergi.

Bagian dalam taman tiba-tiba mengalami siklus selama empat musim; pertama, dipenuhi dengan bunga musim semi yang bunganya terbang seperti salju, sebelum langit berubah menjadi dipenuhi dengan butiran salju yang berjatuhan. Di antara banyak sosok bayangan, Xiang Yuyan muncul, membawa kotak pedang17. Dia mengenakan satu set jubah biasa, dan saat dia berjalan ke taman di tengah musim dingin yang keras ini, kecantikannya tampak lebih lembut tanpa tandingan, dan alis serta lima fitur wajah itu tampaknya memiliki beberapa kesamaan dengan profil Xiang Shu.

Di ujung lengan jubah bela dirinya yang tidak rapi adalah sepotong kain krep hitam18.

“Kamu sudah siap?” Suara Zhang Liu berkata.

Zhang Liu mengenakan pakaian orang Hu, yang menunjukkan fisiknya yang tegap, dan mengikuti pernyataan ini, dia berjalan ke taman.

“Liu-ge, Pedang Acala yang kamu minta.” Xiang Yuyan meletakkan kotak itu secara horizontal di atas meja batu dan membukanya. Di dalamnya ada pedang berat yang persis sama seperti yang diperoleh Xiang Shu dari Departemen Pengusiran Setan. Dia kemudian berbicara lagi, “Kamu tidak ingin melihat-lihat? Ini adalah senjata suci yang digunakan dafu-ku saat dia masih hidup.”

“Kita sementara akan menyimpannya di dalam Cermin Yin Yang,” kata Zhang Liu, mengeluarkan cermin dan memasukkan pedang ke dalamnya.

“Berapa banyak yang kamu bawa dari Chang’an?” Xiang Yuyan tampak sedih tapi tidak terluka; dia tampaknya sudah meninggalkan rasa sakit dari ibu pemimpin keluarganya yang sudah pergi, dan ekspresinya sudah menetapkan satu tekad.

“Aku membawa semua artefak tingkat tianzi19,” Zhang Liu berkata, “Masih ada beberapa keterampilan yang belum aku tunjukkan pada khalayak umum, karena kenyamanan posisiku.”

Xiang Yuyan tanpa daya mulai tersenyum, dan di bawah pengaruh senyuman itu, untuk sementara, taman dipenuhi dengan kehangatan musim semi.

Zhang Liu mengangkat tangannya lagi, dan dari tengah telapak tangannya bersinar mutiara ajaib yang terus-menerus memancarkan cahaya terang!

Chen Xing hanya merasakan bahwa dalam satu detik itu, semua darah di tubuhnya membeku!

Mutiara itu memancarkan cahaya yang kuat, tapi bentuk dan detail aslinya tidak bisa dilihat dengan jelas.

“Ini adalah Mutiara Dinghai?” Xiang Yuyan juga melihatnya untuk pertama kalinya dan, saat dia mengulurkan tangannya untuk menyentuhnya, cahaya dari Mutiara Dinghai semakin kuat.

“Benar,” kata Zhang Liu. “Di sinilah ‘inti’ dari wilayah Tanah Suci tempat kita berada. Cincin emas inilah yang akan kusebut dengan ‘Cincin Pasang’. Waktu seperti samudera, dan tahun-tahun bergerak seperti air pasang; mulai sekarang, kita harus menemukan tempat spiritual di mana kita bisa menyerap mana, dan setelah meletakkan sebuah array, kita bisa menggunakan Qi spiritual dari langit dan bumi untuk membalikkan rotasi cincin cahaya di dalam mutiara ini; dengan itu, waktu akan mengalir mundur, dan peristiwa bisa ditulis ulang lagi.”

Xiang Yuyan menatap tertegun pada Mutiara Dinghai, saat Zhang Liu menyingkirkan artefak itu dan memberi isyarat bahwa mereka bisa pergi sekarang.

“Aku masih memiliki satu keinginan lagi yang belum terpenuhi,” kata Xiang Yuyan pelan. “Beri aku sedikit lebih banyak waktu.”

Zhang Liu membuat isyarat tangan “silahkan”, dan Xiang Yuyan mengeluarkan lonceng kecil tembaga biru kehijauan. Memegangnya di tangannya, dia kemudian memberi Zhang Liu sebuah kotak, dan ketika Zhang Liu membuka kotak itu untuk melihatnya, ada satu bunga di dalamnya.

Zhang Liu mengerutkan alisnya, “Yuyan, kamu…”

“Aku akan membiarkan kupu-kupu ini tinggal di sini, di tanah leluhurku.” Xiang Yuyan mengangkat kepalanya, menyaksikan kepingan salju melayang turun dari langit. “Biarkan kenanganku, seperti salju yang turun, tetap di sini selamanya, dan tidak pernah pergi.”

Segera, Lonceng Luohun di tangan Xiang Yuyan bergetar, memancarkan suara “dang” lembut.

Xiang Shu membuka kedua matanya lebar-lebar.

Tubuh Xiang Yuyan mulai bersinar dengan cahaya redup, dan dari dalam pancaran itu terbang kupu-kupu yang bersinar. Ia mengepakkan sayapnya, terbang menuju bagian dalam Lonceng Luohun, tapi Xiang Yuyan menangkup Lonceng Luohun, dengan lembut menggesernya ke samping dan membiarkan kupu-kupu itu lewat. Kupu-kupu itu kemudian secara alami mendarat di bunga yang ada di dalam kotak.

Zhang Liu menutup kotak itu, dan di dalam mata Xiang Yuyan ada sedikit bekas kehilangan.

“Tanah Suci 3000 tahun yang lalu tetaplah Tanah Suci,” Zhang Liu berkata, “Penduduk Tanah Suci masihlah orang-orang seperti kamu dan aku.”

“Aku tahu,” Xiang Yuyan dengan lembut berkata, “Tapi bagaimanapun juga, kita tidak akan pernah bisa kembali. Aku hanya ingin kenangan keluarga Xiang dikuburkan di tempat ini, sehingga bagian dari tiga hun dan tujuh po-ku tinggal di sini, dalam waktu 3000 tahun kemudian, untuk berhibernasi untuk waktu yang lama.”

Dia kemudian mengubur kotak itu di dalam bumi, sebelum akhirnya bangkit dan pergi bersama Zhang Liu.

Cahaya putih tiba-tiba berkedip, meninggalkan keempat orang itu berdiri di taman. Chen Xing tanpa sadar mengangkat kepalanya, melihat ke arah Xiang Shu.

Ketika ayam berkokok, langit sudah mulai cerah, dan bayangan yang sudah menunjukkan taring mereka di bebatuan dan taman kosong itu perlahan memudar. Dengan cara yang sama, kain hitam yang awalnya menutup mata Chen Xing akhirnya dilepaskan, jatuh ke tanah. Pada saat ini dia dan Xiang Shu masih berpegangan tangan, dan Xiang Shu tanpa sadar menggenggam erat jari-jari Chen Xing, dengan lembut mengembuskan napas, seolah-olah dia baru saja mengalami mimpi singkat tentang kehidupan sementara dari 300 tahun yang lalu.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Footnotes

  1. Frasa aslinya mengacu pada periode waktu antara tengah malam dan sekitar 2.30 pagi, atau dikenal sebagai “san geng” (geng ketiga).
  2. Pada dasarnya abadi.
  3. Ini berhubungan lagi dengan teori 三魂七魄 (tiga hun tujuh po); lebih lanjut tentang hal ini ada di bagian selanjutnya.
  4. Taoisme menyatakan bahwa setiap manusia memiliki tiga jiwa hun, atau jiwa Yang (jiwa halus), dan tujuh jiwa po, atau jiwa Yin (jiwa jasmani). Jiwa Yang meninggalkan tubuh setelah kematian; jiwa Yin tinggal dengan tubuh dan menghilang setelah tujuh hari (beberapa sumber menyatakan bahwa satu po menghilang setiap hari, beberapa mengatakan semuanya pergi pada hari ke-7).
  5. Juga dikatakan bahwa ketiganya pergi ke tempat yang berbeda setelah kematian; hun spiritual bergabung dengan surga atau menghilang; hun bumi kembali ke akhirat untuk melewati proses kelahiran kembali; hun manusia tetap tinggal di pemakaman di sekitar kuburan leluhurnya, itulah sebabnya Qingming sangat penting untuk menenangkan leluhur kalian.
  6. Si gen (gen keempat) secara teknis dimulai pada 2.24 pagi, karena ada 10 gen dalam 24 jam sehari.
  7. Secara harfiah membuang keberanian pura-puranya melewati Sembilan Surga.
  8. Saat Cahaya Hati menyinarinya, volume suara itu meningkat, seolah-olah sudah dipengaruhi oleh cahaya

  9.  Hanya Xiao Shan yang berjalan dengan hati-hati menuju bebatuan

  10. Dia menyilangkan lengannya, tapi tidak melipat tangannya ke bawah.
  11. Cara untuk menunjuk pada nenek seseorang.
  12. Cara lain yang sedikit lebih umum untuk menyebut nenek dari pihak ayah.
  13. Secara teknis, yao adalah hewan dan tumbuhan yang sudah berkultivasi menjadi manusia, mereka biasanya sangat lemah; mo mengacu pada manusia yang sudah menjadi jahat, atau yao yang berhasil berkultivasi lebih lanjut.
  14. Istilah di sini digunakan hanya untuk menggambarkan situasi seperti itu; jika 3000 tahun yang lalu itu menempatkan kita tepat di wilayah Tiga Penguasa dan Lima Kaisar.
  15. 轩辕氏 adalah sebutan untuk kerabat dan keturunan kaisar yang berkuasa.
  16. Kakek dari pihak ayah.
  17. Pada dasarnya sebuah sarung pedang, tapi kotak ini justru bisa menyimpan banyak pedang.
  18. Menandakan adanya kematian dalam keluarga.
  19. Secara harfiah “Tingkat Karakter Surga”, mungkin tingkat atas.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments