Penerjemah: San
Proofreader: Rusma
Chen Lan dipulangkan dari rumah sakit sebulan kemudian. Tubuhnya mengalami banyak cedera dan kondisi mentalnya sedang tidak baik. Li PanEn merasa khawatir dengan keadaannya jadi dia meminta dokter untuk memeriksanya secara rutin, dan mereka menangani beberapa masalah kecil Chen Lan dalam perjalanan.
Awalnya Chen Lan tidak mau, tetapi ketika mendengar ayah Li PanEn yang membayarnya, dia langsung setuju tanpa ragu. Li PanEn bingung harus tertawa atau menangis. Setiap hari, dia berlari ke dua arah, rumah sakit lalu sekolah. Meskipun Li PanEn sedikit lelah, dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi gembira di wajahnya. Pada ulang tahun Chen Lan yang ke 37, ibu Li PanEn mengunjungi Chen Lan. Ia memberinya sebuah cincin, mengatakan bahwa cincin itu adalah warisan dari leluhurnya.
Chen Lan belum pernah merasakan kasih sayang orang tua seumur hidupnya. Ketika menerima cincin itu, reaksi pertamanya adalah menolak, tetapi Li PanEn mengambilnya. Chen Lan bereaksi setelahnya. Tubuhnya bergetar dia tidak sanggup menahan diri. Ini pusaka keluarga, apakah ini berarti dia sudah dikenali sebagai menantu laki-lakinya? Atau, menantu perempuan?
Li PanEn hanya tersenyum. Akhir-akhir ini, wajahnya hanyak tersenyum.
Cincin itu didesain untuk seorang wanita, jadi dia tidak bisa memakainya. Li PanEn menemukan tali untuk menggantungkannya di leher Chen Lan dan mencium bibirnya dengan puas, “Hmn, sekarang kamu adalah bagian dari keluarga Li.”
Mereka tidak bisa melangsungkan pernikahan resmi bersama, dan Chen Lan pun tidak bisa melahirkan anak untuknya, tetapi cinta di hati mereka akan menjadi ikatan abadi di antara mereka.
Sebelum berangkat ke Kota B, Li ChengHuai memberikan sebuah mobil kepada Li PanEn. Mobil itu adalah mobil yang dikendarai Li ChengHuai saat Chen Lan mengalami penembakan. Noda darah di mobil telah dibersihkan, kaca jendela mobil telah diperbaiki, dan bantalannya telah diganti. Mobil ini tidak murah. Li PanEn tidak menginginkannya. Karena sudah lama tinggal bersama Chen Lan dia terbiasa menghabiskan uang hasil jerih payah mereka sendiri. Akibatnya, Li ChengHuai tampak kesal karena mereka tidak menerima hadiahnya, “Apa, kalian tidak suka?”
Li PanEn sempat bingung. Melihat ekspresi aneh di wajah Li ChengHuai, dia tiba-tiba menyadarinya dan berkata, “Apa kamu khawatir karena mendengar Ibu memberi Chen Lan sesuatu, dan kamu tidak?”
“Jangan bicara sembarangan Nak. Aku hanya tidak suka mengendarainya, itu saja,” Li ChengHuai dengan tidak sabar menyerahkan kunci mobil kepadanya dan berjalan pergi.
Li PanEn masuk ke dalam mobil dan menemukan STNK serta surat asuransi terselip di antara penahan angin. Saat dia membuka STNK, seperti dugaannya pemilik kendaraan itu adalah Chen ZiXi.
Dia tidak dapat menahan diri untuk tidak mengangkat sudut mulutnya.
Dalam perjalanan menuju jalan tol, Chen Lan meminta Li PanEn untuk menghentikan mobilnya di depan sebuah klinik kecil tempat dia membeli beberapa botol minyak dan sebungkus rokok. Chen Lan berkata bahwa dia akan mengunjungi seorang dermawan, tetapi Li PanEn tidak mengikutinya. Dia menunggunya di dalam mobil.
Cuacanya sangat bagus akhir-akhir ini. Li PanEn tidak yakin apakah Harley yang dibelinya saat ulang tahun Chen Lan masih ada. Sepertinya ini saat yang tepat untuk jalan-jalan.
Dari kejauhan, Chen Lan keluar sambil mengumpat. Li PanEn segera keluar dari mobil, “Ada apa?”
“Orang tua itu tidak punya selera,” kata Chen Lan dengan marah. “Dia tidak mau sebungkus rokok seharga 700 yuan, tapi suka yang seharga 70 yuan.”
Li PanEn merasa lucu, “Bukankah kamu bilang dia dermawanmu, tapi kamu malah memarahinya?” Berbicara tentang ini, dia tiba-tiba teringat serangkaian petunjuk yang terlintas di benaknya. Dia tersadar dan bertanya, “Waktu aku selesai ujian masuk perguruan tinggi, kamu disergap, apakah dia yang menyelamatkanmu?”
“Menyelamatkanku? Dia malah melakukan operasi tanpa izin dokter dan menjahit perutku dengan sangat buruk!” kata Chen Lan marah.
Tetapi, kamu membawa sesuatu untuk berterima kasih padanya, ‘kan? Pikir Li PanEn namun dia tidak mengatakannya, dia hanya tersenyum.
Setelah kembali ke Kota B, hal pertama yang dilakukan Chen Lan adalah menghubungi profesor di Universitas B dan mengirim Li PanEn kembali ke kampus. Li PanEn siap untuk kuliah lagi selama setahun. Tanpa diduga, profesor tersebut memberi tahu Chen Lan bahwa Li PanEn telah memenangkan hadiah untuk proyek yang pernah dia kerjakan sebelumnya, dan telah mengumpulkan cukup SKS. Dengan demikian, dia dapat lulus hanya dengan langsung mempersiapkan tesis kelulusannya. Ia juga mengatakan bahwa ada tempat baginya untuk tetap kuliah dan mengajar. Profesor tersebut bertanya apakah dia bersedia ikut.
Chen Lan terkejut, tetapi ini menyangkut masa depannya, jadi mereka harus berdiskusi dulu. Karena itu, Chen Lan menjawab bahwa dia ingin Xiao Pian’er melakukannya, tetapi semuanya tergantung pada apakah Xiao Plan’er mau.
Setelah menutup telepon, Li PanEn menatapnya lama. Chen Lan maju untuk menggodanya sambil tersenyum, tetapi malah terdesak ke tempat tidur.
“Kudengar kamu dulu mahasiswa Universitas B?” Li PanEn menggigit hahu Chen Lan sambil menjilatinya hingga ke perut bagian bawahnya. Sesampainya di tempat lukanya, dia mendaratkan ciuman lembut di sana.
“Jangan cium di sana, ha ha, geli…” Chen Lan terengah-engah dan menyentuh rambut Li PanEn. “Itu sudah lama sekali. Kenapa kamu bertanya sekarang?”
“Maukah kamu kembali ke sekolah bersamaku?” Li PanEn mendongak.
Chen Lan terdiam.
Li PanEn melihat keinginan di matanya dan membujuk, “Kita bisa pergi ke kantin kampus untuk makan dan tidur di asrama bersama. Aku akan jadi guru. Kalau kamu tidak mengerti apa-apa, kamu bisa bertanya padaku. Hmm, tidak apa-apa kalau kamu memintaku mengajarkanmu di tengah malam juga.”
Chen Lan bangkit dan mendorong Li PanEn hingga jatuh. Dia menurunkan tubuhnya dan mengamati ereksi Li PanEn dengan saksama, “… tapi aku sudah berusia tiga puluh tujuh tahun. Bukankah aneh kalau aku pergi ke kelas bersama anak-anak kecil?”
Di dalam dirinya terasa sesak dan panas, sehingga Li PanEn tidak dapat menahan diri untuk menggerakkan pinggulnya beberapa kali, dan keduanya tersentak pada saat yang sama.
“Jika ada yang mengatakan kamu aneh, aku akan mengecewakannya…”
Chen Lan menyipitkan matanya dan berkata sambil tersenyum, “Si jahat kecil…”
Li PanEn tak mau kalah, dia mendorong Chen Lan kembali ke ranjang dan mencium bibirnya dengan gembira, “Penggoda abadi.”
Penulis ingin mengatakan sesuatu:
Bab-bab utama sudah selesai, dan ada tambahan setelahnya, tetapi beberapa di antaranya telah dipotong karena alasan tertentu. Silakan kunjungi akun Weibo-ku untuk mengunduh versi lengkapnya @沒事我毛厚, terima kasih atas semua dukungannya! ^_^
Penerjemah Inggris: Tidak dapat menemukannya di Weibo-nya lagi, tetapi bersukacitalah, karena beberapa orang menyimpannya dan mempostingnya di Baidu <3
