Penerjemah: San
Proofreader: Rusma


Chen Lan kembali ke rumah; Meng Chuan mendapat berita itu sebulan kemudian.

Ketika Chen Lan masuk ke Queen’s Bar, beberapa orang tampak seperti baru saja melihat hantu.

“Kamu… Kamu…”

“Kenapa? Kamu tidak senang melihatku?” Chen Lan tertawa seperti biasa.

Li PanEn pernah datang ke Queen’s Bar sebelum kembali ke Kota A; dia menanggung biaya pengobatan Chen Lan dan truk yang ditabraknya. Yang terpenting, dia memberi tahu mereka bahwa dia dan Chen Lan telah berpisah, dan dia juga mengatakan bahwa dia tidak akan sering datang ke Kota B. Li PanEn meminta mereka untuk mengurus Chen Lan menggantikannya.

Saat itu Meng Chuan sangat marah hingga memukulnya dengan bangku kayu, dan dengan suara yang biasanya lembut, ia membentak, “kamu tidak tahu cara mengurus keluargamu sendiri? Kenapa aku harus membantumu?”

Li PanEn pun tidak menghindar. Dia menerima pukulan itu secara langsung.

Li PanEn tidak muncul lagi setelah hari itu. Rumah sakit tempat Chen Lan dirawat terlalu mewah. Rumah sakit itu khusus untuk pejabat pemerintah, jadi mereka tidak bisa masuk. Mereka juga tidak tahu kapan Chen Lan dipulangkan.

“Selamat datang, selamat datang!” Fang Meng bertepuk tangan dan segera menarik bartender yang sedang meracik anggur ke samping. “Ayo, minggir dan biarkan para profesional yang melakukannya.”

Chen Lan telah kembali bekerja di bar. Tentu saja, Meng Chuan sangat senang melihat Chen Lan masih bersemangat, karena awalnya dia mengira Chen Lan akan menangis atau depresi setelah pulang.

Namun, setelah beberapa hari lega, Meng Chuan menyadari ada yang tidak beres. Meskipun Chen Lan masih serius meracik anggur dan masih aktif berinteraksi dengan pelanggan, suasana hatinya sedang aneh. Misalnya, dia akan berhenti di tengah-tengah mengerjakan sesuatu. membeku sejenak, sudut mulutnya melengkung entah kenapa, lalu menundukkan kepala untuk melanjutkan meracik anggur.

“Menurutmu dia… Ada apa dengannya?” Suatu hari setelah menutup toko, Meng Chuan akhirnya tidak bisa menahannya.

“Ya, dia terlalu normal.”

“Melihat bagaimana karakternya, bukankah seharusnya dia bergantian menangis kepada kita, untuk memeras kita dengan gila-gilaan?”

“Ya, dia tidak menangis atau membuat masalah. Apa dia benar-benar putus dengan Xiao Pian’er? Apa dia cuma mengolok-olok kita?”

“Itu tidak benar. Ponselnya tidak berdering sekali pun selama hampir sebulan. Kalau dibulatkan, seharusnya Xiao Pian’er menelepon setidaknya dua kali sehari.”

Ketika Meng Chuan mendengar nama Li PanEn, dia merasa kesal, “Lupakan saja, jangan pedulikan dia.”

Chen Lan begitu biasa saja sampai Meng Chuan pun tidak bisa menemukan kekurangannya, yang membuatnya merasa tidak nyaman. Setiap kali melihat Chen Lan meracik anggur, bayangan dirinya mengangkat gelas dan tertawa terbahak-bahak langsung terbayang di benaknya.

Meng Chuan menggaruk kepalanya, “Jika ini terus berlanjut, bahkan jika Chen Lan belum gila, dia mungkin akhirnya…”

Setengah tahun kemudian, tepat sebelum Natal, berita besar menyebar di Queen’s Bar, Li PanEn akan menikah.

“Oh,” itulah reaksi Chen Lan ketika mendengarnya,

Fang Meng tidak ingin mati. Dia bertanya kepada Chen Lan dengan hati-hati, “Hmm. Apakah kamu akan menghadiri pernikahannya?”

Chen Lan mendongak dan tertawa lagi, “Pergi, kenapa tidak? Bagaimana mungkin aku tidak menghadiri pernikahan Xiao Pian’er?”

“Kamu yakin mau pergi? Kamu tidak merasa tertekan? Dia sudah menikah dengan orang lain.” Meng Chuan berniat menanyakan hal ini bahkan jika dia harus mati. Sekarang Meng Chuan bahkan penasaran di mana batas Chen Lan. Dia punya firasat bahwa dia harus menembus batas ini, dan hanya itu yang bisa membuat Chen Lan melepas topeng palsunya dan akhirnya move on.

Chen Lan terkekeh dan berkata kepada Meng Chuan. “Ada gaji tiga bulan yang belum kamu bayarkan padaku. Berikan padaku saat aku pulang kerja. Aku harus memberi Xiao Pian’er angpao besar.”

Pernikahan Li PanEn dijadwalkan bertepatan dengan Festival Lentera. Pernikahan itu sangat dekat dengan hari ulang tahun Chen Lan. Setelah ulang tahunnya, usianya yang ke-36 akan berakhir. Konon, banyak bencana akan terjadi di tahun kelahiran seseorang.1Penerjemah Inggris bilang dia mengarang nama ini karena tidak ada terjemahan resmi untuk ini (本命年): Seperti yang mungkin sudah kalian ketahui, ada 12 shio Tionghoa, setiap tahun diwakili oleh satu shio, dan ke-12 shio tersebut. Berputar secara bergantian. Katakanlah shio-mu adalah kelinci. Karena kamu lahir di tahun yang diwakili oleh kelinci, maka setelah 12 tahun, tahun tersebut akan kembali menjadi tahun yang diwakili oleh kelinci. Tahun tersebut dianggap sebagai tahun kelahiran seseorang (本命年). Karena tahun ini adalah tahun ke-36 Chen Lan dalam hidupnya, maka tahun ini adalah tahun kelahirannya (36 adalah kelipatan 12)., banyak bencana akan terjadi. Chen Lan berpikir bahwa orang-orang kuno tidak menipunya. Sepanjang tahun, dia melakukan segalanya, mulai dari hal-hal yang seharusnya dia lakukan hingga hal-hal yang seharusnya tidak dia lakukan, dan dia bahkan akan menyaksikan pernikahan Xiao Pian’er di akhir tahun ini, sungguh cara yang sempurna untuk mengakhiri tahun yang tragis ini,

Hari pertama, dia tiba di Kota A. Meng Chuan tidak yakin dengan keadaan Chen Lan, jadi dia meminta Fang Meng untuk menemani Chen Lan ke pesta pernikahan dan mempercayakannya dengan tugas berat, jika Chen Lan ingin menghancurkan altar, dia tidak boleh menghentikannya. Ingatlah untuk membantu.

Chen Lan tampak sangat tenang. Sepertinya pria yang akan menikah itu tidak lebih dari seorang junior Chen Lan. Dia bangun pagi-pagi dan mandi, mengeringkan rambutnya, mencukur jenggotnya, lalu berganti pakaian baru.

Berdiri di depan cermin, Chen Lan menyentuh wajahnya. Untunglah dia tampak muda. Dia tampak akan cocok bahkan sebagai pendamping pengantin pria.

Begitu masuk, Fang Meng tidak berani bicara dan mengikuti Chen Lan dengan suara gemetar. Yang menerima bingkisan di resepsi adalah orang tua mempelai pria. Melihat angpao Chen Lan, mereka tidak kuasa menahan diri untuk menatap, “Kamu yakin?”

Chen Lan tersenyum sopan, “Ini untuk Li PanEn.”

Wanita itu mengambilnya, lalu menyerahkannya kepada wanita muda di sebelahnya untuk menghitung uangnya. Ia melihat nama itu lagi, lalu jantungnya berdebar kencang. Ia harus mengakui bahwa wajah Chen Lan sangat luar biasa dalam menghadapi para tetua. Raut wajah mereka semua tampak terkejut. Kemungkinan besar mereka mengira Chen Lan lebih muda dari putra mereka.

Ibu Li PanEn kebetulan mengambil alih pekerjaan di bagian resepsionis untuk sementara. Tanpa diduga, ia beruntung bertemu langsung dengan Chen Lan yang terkenal kejam. Ia mendengar bahwa putranyalah yang pertama kali mengejar Chen Lan, dan kemudian menjadi seperti ini. Sekarang, ketika putranya akan menikah, dia masih memberi mereka angpao yang begitu murah hati, yang membuatnya semakin malu.

“Silakan bergabung dengan para tamu,” katanya sambil berdiri.

Chen Lan tersenyum dan mengangguk padanya, dia penuh sopan santun.

Tempat pernikahan didekorasi dengan megah. Aula dipenuhi para tamu kehormatan. Setiap detail, termasuk dekorasi kecil di sudut-sudut aula, mengisyaratkan latar belakang dan identitas keluarga. Fang Meng merasa tidak nyaman dengan suasana megah itu, dan bahkan Chen Lan pun tidak terbiasa.

Pernikahan sudah dekat, tetapi mereka masih belum melihat pengantin pria dan wanita. Fang Meng tidak kuasa menahan diri untuk bertanya-tanya, teringat perkataan Meng Chuan sebelum Feng Meng meninggalkan bar; sejujurnya dia sedikit bersemangat dengan tugas yang dipercayakan kepadanya. Dia berharap ada masalah, tetapi Chen Lan tampaknya tidak berpikir demikian. Dia mengambil inisiatif dan berjalan ke meja utama, di mana dia mendengar seorang wanita berpakaian elegan berdiri sambil memegang ponselnya.

“Apa katamu? Dia menerima pesan lalu pergi?! Bagaimana dengan pernikahannya?”

Jantung Chen Lan berdebar kencang, dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, “Apakah itu Li PanEn?”

Orang-orang belum pernah melihat Chen Lan sebelumnya, jadi tidak ada yang menjawabnya. Ekspresi wanita itu tidak baik; ia menelepon lagi, tetapi ujung sana jelas langsung menutup telepon. Ia begitu marah hingga melempar ponselnya ke meja, dan berteriak, “Dari siapa pesan ini? Lihat! Ada apa dengan putramu?”

Itu adalah foto layar ponsel, sepertinya diambil dan dikirim langsung oleh sang pengantin wanita. Ibu Li PanEn tampak kebingungan. Ia memegang ponsel itu, menatap layar beberapa saat, lalu mulai menebak-nebak. Mungkin ada seseorang yang tiba-tiba memintanya untuk bertemu. Namun, dengan karakter putranya, sulit rasanya percaya bahwa dia akan pergi demi urusan pribadi di saat seperti ini. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya mau datang ke sebuah janji temu hanyalah satu, dan orang itu kini sedang berdiri tepat di hadapannya.

Ia sedikit khawatir itu tipuan Chen Lan, tapi ia juga berpikir itu mustahil. Chen Lan tidak terlihat seperti orang yang berkepribadian buruk. Lagipula, putus dan menikah adalah pilihan mereka sendiri. Sungguh tidak dapat dipercaya Chen Lan akan melakukan trik seperti ini di masa sekarang.

Ia tidak pandai memikirkan hal-hal psikologis, dan ia tidak bisa memikirkan kemungkinan lain. Karena itu, ia hanya menyerahkan ponselnya kepada Chen Lan, “Tuan Chen, bagaimana kalau kamu melihatnya?”

Chen Lan tidak kuasa menahannya. Dia meliriknya. Hanya ada satu pesan teks di layar-dan pesan itu dari nomornya.

Hanya ada teks pendek: Aku punya sesuatu untuk diceritakan kepadamu: mari kita bertemu di tempat kita pertama kali bertemu.

Kemudian, Chen Lan menyadari sesuatu yang aneh. Ternyata itu bukan nomornya. Hanya berbeda satu digit dari nomor teleponnya. Seseorang berpura-pura menjadi dirinya! Alarm keras berbunyi di kepalanya. Dia tidak menunggu ibu Li PanEn menjawab dan bergegas keluar lebih dulu.

Li PanEn pasti terlalu terburu-buru untuk melihatnya dengan saksama. Ketika dia melihat pesan yang sepertinya dari Chen Lan, dia akan langsung menuju ke sana. Atau bahkan jika dia menyadari nomornya salah, Li PanEn mungkin akan penasaran. Chen Lan harus mengatakan bahwa orang yang mengirim pesan itu sangat pintar. Dalam perjalanan ke sana, Chen Lan dengan cemas menganalisis siapa dalang di balik semua ini; apakah sang pelaku sedang mengincarnya, atau Li PanEn?

Tempat pertama mereka bertemu adalah sebuah bar di kota A. Hanya sedikit orang yang tahu tentang tempat itu. Satu-satunya orang yang terpikirkan oleh Chen Lan adalah Lu bersaudara yang pernah menyergapnya sebelumnya. Namun, setelah hukuman Chen Lan diubah, mereka berdua telah pergi ke luar negeri. Siapa lagi selain mereka yang akan mengincar Li PanEn?

Jika penyerang itu mengincarnya, maka mudah untuk mengatasinya. Namun, jika mereka mengincar Xiao Pian’er… Chen Lan bahkan tidak berani memikirkan kemungkinannya. Dia bahkan lebih khawatir sekarang, “Sopir, tolong cepat.”

Di jalan menuju bar, sebuah mobil melaju kencang. Pengemudi mobil terus-menerus membunyikan klakson. Tujuannya untuk memaksa mereka berhenti. Chen Lan menurunkan kaca jendela, dan semua kata-kata umpatan hampir keluar dari bibirnya, tetapi ketika dia melihat orang di dalam mobil, dia menelan kembali kata-kata itu.

“Apa yang kamu inginkan?!” Li ChengHuai mengumpat sebelum Chen Lan melakukannya.

Chen Lan bergumam dalam hatinya, apa kamu benar-benar bodoh? Meskipun dia menahan diri untuk tidak mengatakannya dengan lantang, dia juga tidak mundur, “Seseorang ingin membunuh anakmu!”

“Siapa?!”

“Aku tidak tahu, tapi aku yakin itu dari geng Lu!”

Li ChengHuai mengumpat dalam bahasa asing dan menginjak rem. Dia mengendarai mobil sport lintas alam yang berat dan langsung menghentikan taksi di tengah jalan.

“Masuk,” Li ChengHuai memberi isyarat dengan dagunya.

Chen Lan meliriknya dengan waspada, lalu teringat situasi Li PanEn, dan berkata, “Baiklah, aku mohon padamu.” Dia membuka pintu mobil dan melompat masuk.

“Dimana itu?”

“Berkendara lurus, belok kanan di interval kedua.”

Mereka berkendara jauh-jauh ke sana; wajah Chen Lan pucat pasi karena ketakutan. Emosi Li ChengHuai bahkan lebih buruk. Ia mengemudikan mobilnya seolah-olah ia sengaja mencoba kecelakaan untuk penipuan asuransi. Pantas saja Xiao Pian’er ingin kabur dari rumah. Chen Lan juga pasti akan lari jika dia berada di posisinya.

Akibatnya, mereka tiba terlalu awal dan Li PanEn masih terjebak di jalan.

Chen Lan sedang terburu-buru. Bar itu sudah sangat tua. Kelihatannya sudah hampir runtuh, dan Chen Lan tidak menyangka setelah bertahun-tahun, kondisinya masih sama buruknya. Dinding luarnya terlalu tua untuk dilihat karena kurangnya perawatan. Di kompleks bangunan yang berubah dengan cepat ini, bar itu tampak unik, hampir seperti instalasi seni alternatif.

Saat itu tengah hari, jadi tidak ada bisnis di bar. Hanya ada seorang pria paruh baya bertugas yang tidur di belakang meja bar. Chen Lan tidak mengenali pria itu dari siluetnya, pria itu pasti karyawan baru.

Chen Lan berbalik dan tidak menemukan sesuatu yang berbeda.

“Di mana dia?” Li ChengHuai menyalakan sebatang rokok dan bersandar di pintu mobil sambil menatap Chen Lan.

Chen Lan mengabaikannya. Dia mengangkat tangannya dan mengetuk pintu kaca bar. Paman yang bertugas di dalam berbalik, berdiri, dan membukakan pintu untuknya. “Siapa, siapa kamu?”

Chen Lan baru saja hendak berbicara ketika dia melirik ke belakang, dan berteriak, “Hati-hati!” Tiba-tiba, Chen Lan berbalik dan meraih lengan pria yang sedang bertugas, dengan cepat menariknya ke tanah bersamanya, mereka berdua berguling menjauh dari bar.

Sebuah peluru melesat melewati kepala mereka. Li ChengHuai sedang asyik bermain-main dengan abu rokok ketika peluru mematikan itu menembus jendela mobil di sampingnya. Refleksnya lumayan, ia mengangkat tangannya untuk menangkis pecahan kaca yang beterbangan ke arahnya. Beberapa pecahan kaca menggores lengannya.

“Brengsek!” Li ChengHuai meraung.

Pistol itu jelas memiliki peredam suara. Wajah Chen Lan pucat pasi. Dia memanjat ke balik dinding luar bar dan bersembunyi. Bagaimana mungkin dia tidak pernah berpikir bahwa orang-orang di dalam membawa pistol? Kapan mereka menyelinap masuk? Petugas yang bertugas terbaring tidak bergerak di tanah; Chen Lan khawatir, jadi dia menusuknya dengan kakinya dan mendapati bahwa ia hanya pingsan karena syok.

Dia tidak bisa gegabah masuk ke sana. Lampu di toko mati. Dia tidak yakin berapa banyak orang di dalam toko atau berapa banyak senjata dan peluru yang mereka miliki. Chen Lan merasa panik. Dia hanya berpikir seseorang akan mencari masalah dengan Xiao Pian’er, tetapi dia tidak pernah berpikir bahwa pihak lain menginginkannya mati.

Chen Lan teringat Xiao Pian’er. Seharusnya dia tidak diizinkan datang ke sini sejak awal. Dia segera mengambil ponselnya. Namun, sudah terlambat.

Setelan putih Li PanEn terlalu menyilaukan. Begitu keluar dari mobil, bukan hanya Chen Lan yang tersentak, bahkan Li ChengHuai pun tahu ini gawat.

Oh tidak! Saat itu, kepala Chen Lan berdengung, dan dia segera berlari ke arahnya.

Bahkan Li ChengHuai tidak mengerti bagaimana Chen Lan bisa berlari sejauh itu dalam waktu singkat; seolah-olah dia berteleportasi ke sana dalam sekejap mata.

Kejadiannya begitu cepat sehingga Chen Lan sudah bergegas dan mendorong Li PanEn hingga jatuh. Suara tembakan terdengar bersamaan dengan seruan di sekitar. Waktu seakan berhenti selama dua detik. Ketika semua orang tersadar, Chen Lan tampak kehilangan tenaga, dia berlutut di tanah, darah mengucur deras dari dadanya.

Jiwa mereka seakan direnggut oleh orang lain. Suhu tubuh Li PanEn tiba-tiba turun drastis. Tubuhnya bergerak tanpa disadari. Dia menggenggam tangannya, meraih Chen Lan dan hendak melarikan diri, tetapi Li ChengHuai menghentikannya.

Li PanEn belum pernah meraung seperti ini seumur hidupnya. Wajahnya penuh amarah. “Jangan hentikan aku!” Li ChengHuai begitu marah sampai-sampai telinganya mengepulkan asap; fakta menyedihkan bahwa dia, ayahnya, tidak bisa mengalahkannya dalam pertarungan jarak dekat! “Sialan, bisakah kamu bersikap baik pada orang tuamu? Pakai mobilku!”

Li ChengHuai adalah seorang polisi, tetapi kemudian dia terjun ke dunia politik. Di siang bolong, seseorang menembak secara terbuka. Laras pistol itu juga diarahkan ke putranya. Bagaimana mungkin ia memaafkan hal itu? Emosinya dan penyakit akibat kerja muncul bersamaan. Ia tak peduli dengan luka di lengannya. Ia menyingsingkan lengan bajunya dan berlari ke bar dengan sikap profesional.

Perkelahian pun dimulai.

Darah di dada Chen Lan menetes sepanjang jalan.

Pikiran Li PanEn kosong. Sistem sarafnya tiba-tiba terasa lumpuh. Otaknya terus-menerus memutar adegan ketika Chen Lan mendorongnya keluar dari jangkauan tembakan. Namun, air matanya jauh lebih jujur daripada otaknya. Dia bergegas ke mobil sambil menggendong Chen Lan. Air matanya tak henti-hentinya mengalir.

Setelah menderita begitu banyak luka dalam setahun ini, Chen Lan tak lagi takut akan rasa sakit. Kini setelah peluru menembus tubuhnya, dia menyaksikan darah menetes keluar dari tubuhnya. Sebaliknya, dia merasakan kebahagiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Sangat nyaman…”

Dia ingin sekali tidur dan memejamkan mata, tetapi melihat air mata Li Pan’er, dia merasa enggan melakukannya. Sudah lama dia tidak melihat Xiao Pian’er dari dekat. Dia mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah Xiao Pian’er, tetapi ketika tangannya sudah setengah menyentuh wajah Xiao Pian’er, dia tak berdaya untuk menyentuhnya lebih jauh.

Li PanEn merasakan niatnya; dia memegang tangannya erat-erat, dan menyalakan mesin mobil dengan tangan lainnya.

“Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Ayo kita segera ke rumah sakit.” Li PanEn tidak tahu apakah ini untuk menghibur Chen Lan atau dirinya sendiri.

Chen Lan sepertinya tidak mendengarnya. Dia mengangkat kepalanya sedikit dan tersenyum, “Aku mengotori bajumu…”

Chen Lan memiliki tipe tubuh Yang2Tubuh tipe Yang (陽性體質): Ada Yin dan Yang, pada dasarnya Yin seperti bayangan, jadi dingin, tetapi Yang seperti matahari, jadi hangat. yang khas. Sedingin apa pun musim dingin, tangannya akan selalu hangat. Namun kini, tangan itu seperti es. Sekeras apa pun Li PanEn menggenggamnya, dia tidak mampu mengembalikan kehangatan ke kulitnya. Seolah-olah Chen Lan tidak hanya memiliki lubang di tubuhnya, tetapi juga di jiwanya. Li PanEn merasakan kesadarannya terus-menerus bocor dari lubang itu dengan kecepatan yang mengerikan.

“Ya, kamu tahu aku tidak bisa mencuci. Maukah kamu membantuku?”

“Xiao Pian’er…” Tatapan Chen Lan kosong dan matanya tidak fokus. “Bisakah kamu, tidak menikah… Paman merasa… sedih melihatmu menikah dengan orang lain, sungguh sedih…”

“Hmn, aku sudah selesai, aku tidak akan menikah. Aku akan mendengarkan apa pun yang Paman katakan.”

Li PanEn menyeka air mata di wajahnya. Dia menginjak pedal gas sekuat tenaga. Pakaian Chen Lan hampir seluruhnya berlumuran darah. Warna merah mengalir ke karpet mobil dan mewarnai sebagian besar mobil. Mobil itu penuh dengan bau darah.

“Chen Lan, kamu bisa mendengarku? Kumohon bicaralah padaku…” dia menggenggam tangan Chen Lan erat-erat, hampir takut melihat darah di tangannya.

“Aku agak lelah dan mengantuk. Aku ingin tidur sebentar saja…” Chen Lan kesulitan bernapas. Matanya terpejam.

Li PanEn panik dan memegang tangannya lebih erat, “Jangan tidur, kamu tidak bisa tidur, kita hampir sampai.”

Dia sangat menyesal hingga seluruh organnya terasa sakit. Mengapa dia melepaskannya? Mengapa dia menyetujui syarat ayahnya? Mengapa dia kembali? Jika terpaksa, dia bisa saja kabur bersama Chen Lan lagi. Dada Li PanEn terasa sesak sampai dia merasa ingin muntah. Dia akhirnya mengerti bahwa Chen Lan adalah udaranya. Tanpa udaranya, dia tidak akan bisa bertahan hidup.

Li PanEn tidak kuasa menahan tangis, tetapi mengulang-ulang secara otomatis, “Chen Lan jangan tidur. Bangun, kamu bilang akan punya bayi denganku. Bangun, Chen Lan…”

Meskipun lelaki itu tidak mendengar apa pun, matanya masih terpejam.

“Chen ZiXi!” teriak Li PanEn.

Chen Lan merasa salah satu sayapnya telah tumbuh, tetapi dia terkejut dipanggil; kepalanya miring dan menyemburkan seteguk darah.

“Uhuk, darahnya hampir mencekik pamanmu sampai mati.” Chen Lan berbaring di kursi mobil, batuk hebat.

Reaksi pertama Chen Lan setelah terbangun adalah, Aku menjalani hidupku seperti itu, tapi entah kenapa aku malah masuk surga dan bukan neraka?

Li PanEn sangat ketakutan dengan tindakannya yang tiba-tiba sehingga dia menyeka air matanya dan segera pergi ke rumah sakit.

Saat keadaan darurat, banyak orang yang melihat mereka. Pakaian pengantin pria begitu berkilau sehingga dia hanya melepasnya dan membuangnya ke tempat sampah, hanya mengenakan kemeja, dan menunggu di luar pintu hangsal.

Tak lama kemudian, Li ChengHuai pun datang; wajahnya terluka.

“Bagaimana keadaannya?”

Li PanEn menangis sepanjang perjalanan ke rumah sakit, jadi tenggorokannya terasa sakit; dia berkata dengan suara serak, “Dia kehilangan terlalu banyak darah. Mereka sedang berusaha menyelamatkannya sekarang.”

Li ChengHuai tampak agak lelah. Ia duduk di samping Li PanEn, “Kamu punya rokok?”

“Aku tidak merokok,” Li PanEn meliriknya. Dia belum pernah mengamati ayahnya diam-diam dari jarak sedekat ini. Untuk sementara, dia merasa agak aneh. Li ChengHuai juga sudah tua. Sudut matanya berkerut dan punggungnya tidak setegak dulu. Semasa muda, ia adalah polisi yang hebat. Ia pernah sendirian memburu geng narkoba tetapi sekarang ia terluka saat melawan seorang penyerang bersenjata sendirian.

Ketika Li PanEn masih kecil, dia juga menikmati kelembutan ayahnya. Namun, setelah dewasa, kepribadian mereka terlalu mirip, dan kontradiksi serta perbedaan pendapat semakin menonjol. Setelah itu, dia bahkan tidak sempat duduk dan berbicara sepatah kata pun.

Li PanEn berpikir bahwa Li ChengHuai bukanlah ayah yang baik.

Li ChengHuai merasa bahwa sebagai putranya, Li PanEn telah mempermalukan nama keluarga, karena dia tidak mengikuti jalan yang telah direncanakannya. Mereka saling memandang dengan jijik, sehingga Li PanEn pun pergi selama enam tahun, karena kedua belah pihak tidak mau mengalah.

Li PanEn tidak menyangka bahwa saat mereka akhirnya duduk dan berbincang baik-baik adalah di tempat seperti ini.

“Ketika dia sembuh, aku akan membawanya pergi,” kata Li PanEn langsung ke intinya.

Li ChengHuai terkekeh dan Li PanEn tidak tahu apa maksudnya.

“Aku tidak akan menikah. Kalau kamu mau mengusirku dari rumah atau memutuskan hubungan denganku, silakan saja. Anggap saja kamu tidak pernah punya anak laki-laki,”

“Apakah dia lebih penting bagimu daripada ayahmu?” Li ChengHuai menunjukkan sedikit kelelahan.

“Tidak sama.” Kata Li PanEn. “Ayah selalu penting bagiku.”

Li ChengHuai tersenyum dan berkata, “Sudah lama aku tidak mendengarmu memanggilku seperti itu. Beberapa tahun lalu kamu selalu memanggilku seperti itu. Sekarang sepertinya kata itu membuat telingaku perih.”

Hening sejenak.

“Kalian berdua benar-benar aneh. Kamu rela menikah dengan orang lain demi dia. Dia bahkan rela mati untukmu,” kata Li ChengHuai sambil menggelengkan kepala. “Kalau aku terus menuntut lebih, aku akan terlihat seperti orang jahat yang memaksa sepasang kekasih untuk berpisah.”

Li PanEn tertegun. Li ChengHuai menyampirkan mantelnya di bahunya sendiri dan berdiri. Sambil berjalan pergi, ia berkata, “Urus saja masalahmu sendiri. Aku mau keluar untuk merokok.”

Li PanEn berkata, “Sampaikan permintaan maafku kepada Tuan Mei.”

Li ChengHuai melambaikan tangannya, tetapi tidak menoleh, “Jangan khawatir, ayahmu masih mampu menangani masalah kecil ini.”

Li PanEn memperhatikan siluetnya menghilang di pintu, dia baru berhenti melihat setelah waktu yang lama.

Chen Lan terbangun dan mendapati dirinya berada di rumah sakit lagi. Dia ingin melompat dan berswafoto. Kamu melihatnya? Ketiga kalinya, ketiga kalinya! Orang-orang hanya pergi ke Heilan’s Home dua kali setahun3HeiLan’s Home(海瀾之家) adalah merek pakaian pria. Mereka memiliki iklan terkenal yang berbunyi, “Heilan’s Home, Anda hanya perlu ke sana dua kali setahun(海瀾之家一年才進兩次呢),”Mereka ingin mengatakan bahwa pakaian mereka tahan lama dan menjualnya kepada pria, yang menurut mereka tidak suka berbelanja. Namun, dia telah dirawat di rumah sakit tiga kali tahun ini.

Kalau ini novel, mungkin dia akan menjadi tokoh utama. Juga karakter yang memiliki aura protagonis yang berkilauan.

Li PanEn meletakkan korannya dan tersenyum padanya, “Untuk apa senyum itu?”

Sinar mataharinya cerah, udaranya nyaman, orang-orangnya ramah, dan kebahagiaan kelahiran kembali datang terlambat. Chen Lan begitu bahagia hingga hampir menangis dan membenamkan wajahnya di selimut.

“Oh, Xiao Pian’er, kamu belum menikah. Kalau sudah menikah, jangan datang menjenguk pamanmu. Betapa sedihnya istrimu kalau tahu kamu datang menjengukku.”

Li PanEn tersenyum, “Istriku sangat sedih.”

Chen Lan membeku dan berkata dengan suara teredam, “Apa yang kamu katakan?”

Li PanEn membantu menariknya keluar dari selimut dan berkata sambil tersenyum, “Istriku begitu sedih hingga dia kini membenamkan kepalanya di dalam selimut dan menolak untuk mengangkat kepalanya.”

Chen Lan tidak menjawab.

“Jangan bergerak, pasien gangguan jiwa macam apa kamu? Bergerak-gerak seperti orang yang ingin mati saja,” Li PanEn mengembalikannya ke tempatnya dan berkata lembut, “Istirahatlah. Setelan kamu sembuh, aku akan mengajakmu jalan-jalan. Ayo kita bulan madu, oke?”

“Kamu… Apa kamu benar-benar tidak jadi menikah? Karena aku?”

“Aku tidak berencana menikahinya. Aku tidak bisa melakukan ini. Aku sudah bicara dengan orang tuaku, dan perjodohan ini sudah berakhir.”

“Lalu ayahmu…”

Li PanEn tersenyum dengan sedikit kelembutan di bibirnya, “Dia bilang dia ingin mengajakmu minum.”

Faktanya, setelah pertengkaran terakhir, pihak perempuan juga menerima beberapa rumor. Setelah mengetahui bahwa Li PanEn adalah seorang homoseksual dan memiliki pacar yang dapat menangkis peluru, siapa yang berani menikahinya? Begitu Li ChengHuai mengatakan bahwa dia harus membatalkan pernikahan, pihak perempuan setuju tanpa ragu. Sejujurnya, mereka takut pihak laki-laki akan menolak.

Adapun Li ChengHuai, sepertinya ia sudah menyadarinya. Ia memutuskan untuk pensiun setelah bekerja tahun ini dan pergi ke luar negeri untuk berbisnis. Mungkin ia sendiri terluka dalam peristiwa itu, dan ia bisa memahami betapa berbahayanya situasinya saat itu dan Chen Lan bahkan tidak ragu untuk menanggung risiko demi putranya.

Perasaan macam apa yang dirasakan Chen Lan ketika dia melakukan hal seperti itu kepada putranya, sesuatu yang bahkan ia sebagai seorang ayah pun tidak mampu lakukan? Apa haknya menegur Chen Lan karena bersama putranya?

“Lalu, apakah penembaknya tertangkap?”

Li PanEn mengangguk karena malu, “Itu adalah Zeng JianMin.”

“Dia?”

“Ini salahku. Setelah kamu dibawa keluar oleh Lu Yunsheng, aku bergegas menemuinya. Saat menanyainya tentangmu, aku membuat lengannya terkilir.”

Chen Lan terkejut.

“Setelah itu, Fang Meng menelepon 12054Setara dengan panggilan 911. Dia pemalu dan pergi setelah panggilan itu. Zeng JianMin kurang beruntung. Sebelum ambulans datang, beberapa orang lain melihatnya. Sepertinya mereka sudah lama memburunya untuk balas dendam; mereka memotong urat-uratnya. Dia pikir akulah penyebabnya. Dia ingin balas dendam, jadi dia membeli senjata dan datang untuk membunuhku.”

“Lalu dia…”

“Ditangkap untuk saat ini; dia melakukan percobaan pembunuhan, hukum akan menghukumnya.”

Sebelum Chen Lan sempat bicara, Li PanEn sudah lebih dulu mengangkat tangannya dan menampar dirinya sendiri, “Ini salahku. Aku tidak akan pernah impulsif lagi.”

Segala sesuatu di dunia seperti ini. Ada sebab dan akibat. Dorongan itu hampir secara tidak langsung membunuh Chen Lan; pelajaran ini terlalu mendalam.

Memang benar bahwa apa pun yang kamu lakukan akan berdampak mutlak pada masa depanmu. Melampiaskan kebencian kepada orang lain hanya akan menimbulkan efek kupu-kupu yang berkepanjangan, yang tidak akan menguntungkanmu, dan lebih buruk lagi, mungkin merugikan orang-orang di sekitarmu.

Chen Lan mengkhawatirkan keselamatan Xiao Pian’er. Dia segera menghentikan tangannya dan berkata, “Senang rasanya kamu tahu itu salah. Nanti, kalau kamu bersikap impulsif, kamu bisa bersikap impulsif pada pamanmu. Kamu masih boleh bersikap impulsif.”

“…”

Bisakah kita menunda kemesraan ini sampai kamu keluar dari rumah sakit?

Chen Lan menghela napas dan berkata, “Ini sepadan. Aku mendengar begitu banyak kata-kata penuh kasih dan tulus darimu hari ini. Benar-benar sepadan untuk ditembak. Biasanya kamu tidak mengatakan itu.”

“Jika kamu menyukainya, aku akan mengatakannya setiap hari.”

“Sudahlah,” kata Chen Lan sambil tersenyum miring. “Biarkan pamanmu saja yang menggodamu.”

Pemilik bar yang masih lajang itu sedang mengunjungi Chen Lan, dan dia berdiri di luar pintu, dia menutupi wajahnya karena kesakitan, “Membutakan”.


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

San

Leave a Reply