Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki
Ketiganya berdiri di lobi di lantai pertama gedung administrasi.
Di luar pintu utama, banyak siswa mengintip dengan rasa ingin tahu, berusaha melihat siapa dua anak malang yang tertangkap oleh wakil kepala sekolah.
Qiu Ci dan Mu Yu berdiri membelakangi kerumunan itu; dari kejauhan hanya tampak postur tubuh mereka yang tegap, tanpa ada yang mengenali siapa mereka sebenarnya.
Wakil kepala sekolah mengangkat pandangan, tanpa sepatah kata pun darinya, semua remaja itu berhamburan seperti burung dan binatang, takut kalau-kalau mereka akan terperangkap dalam tontonan itu.
Tidak bisa menyaksikan langsung, para siswa pun segera menyebarkan kabar lewat grup daring. Cerita dibumbui di sana-sini, lengkap dengan foto-foto yang diambil diam-diam, disertai pertanyaan, siapa tahu ada yang mengenali mereka berasal dari kelas mana.
Setengah jam kemudian, tetap tidak ada yang berhasil menemukan identitas dua “pemberani” itu.
Rasa penasaran pun semakin besar. Apakah mereka bukan siswa kelas tiga, melainkan siswa asrama yang kembali ke sekolah lebih awal? Belum jelas apakah mereka akan dihukum pada akhirnya.
Karena masih jam istirahat, Qiu Ci tidak bisa langsung mengajak Mu Yu keluar. Mereka berdua hanya berjalan-jalan di sekitar ruang pameran.
Di sana terdapat banyak piagam penghargaan dan piala. Dindingnya dipenuhi foto-foto siswa dan guru, semua yang pernah mengharumkan nama Jiangbei.
Bagi Mu Yu, ini adalah kali pertamanya datang ke tempat itu. Tatapannya terhenti pada sebuah foto yang terasa begitu familiar.
Melihat Mu Yu berhenti, Qiu Ci ikut berdiri di hadapan foto yang sama, lalu berkata datar, “Itu kakak Qi Meng. Orang yang dulu mengantar kita ke lapangan tembak dengan mobilnya. Dia juga belajar di Jiangbei sebelum tahun terakhir SMA-nya dan cukup terkenal.”
Mendengar itu, Mu Yu baru teringat. Hari itu adalah pertama kalinya dia menyaksikan dua laki-laki berciuman di depan matanya.
Menyadari Qiu Ci menatap foto itu agak lama, Mu Yu pun diam-diam ikut menatap lebih lama.
Jujur saja, lelaki dalam foto itu berwajah menawan, sekilas pandang saja sudah cukup menarik perhatian. Dari foto itu, dia tampak sebagai sosok lembut, berwibawa, dan berpendidikan, tapi juga memancarkan aura yang kompleks.
Apakah perhatian Qiu Ci sedalam itu karena ada hubungan antara mereka berdua?
Saat Mu Yu masih tenggelam dalam pikirannya, dia mendengar suara di sampingnya.
“Dulu, dia adalah musuh imajinerku.”
Mu Yu menoleh, rasa ingin tahunya semakin kuat. “Musuh imajiner seperti apa?”
Qiu Ci terdiam sejenak sebelum menjawab, “Lebih tepatnya, lawan tanding dalam pikiranku sendiri. Dia luar biasa, kuat dalam segala hal sampai terasa tidak masuk akal. Bersanding dengannya sering membuat orang merasa kalah sebelum berjuang. Pernah satu masa aku bahkan berpikir, mungkin bukan dia yang terlalu hebat, tapi aku yang terlalu lemah.”
Mu Yu menggeleng dengan sungguh-sungguh. “Ah Ci jelas sangat hebat. Apa pun yang ingin kamu lakukan, kamu selalu bisa melakukannya dengan baik. Tidak perlu membandingkan diri dengan siapa pun.”
Dia tidak tahu seperti apa sebenarnya kakak Qi Meng itu, tapi di matanya, Qiu Ci sudah yang paling istimewa.
Pujian polos namun tulus itu membuat Qiu Ci tanpa sadar merona.
Dia sungguh tidak tahan melihat Mu Yu bersikap begitu serius.
Dengan wajah yang tenang dan mata yang jernih, pria itu pernah dengan nada yang sama mengucapkan “Aku menyukaimu.”
Dan setiap kali seperti itu, sorot matanya seakan berkilau, membuat hati Qiu Ci berdebar tidak karuan.
Menatap wajah serius itu, Qiu Ci merasakan detak jantungnya mulai kacau. Bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyum tipis.
“Dia sepertinya empat tahun lebih tua dariku,” lanjut Qiu Ci pelan. “Sejak muda sudah menunjukkan kecerdasan dan kemampuan luar biasa. Kakek Qi bahkan menganggapnya satu-satunya pewaris keluarga, membesarkannya dengan penuh harapan. Kakekku juga kadang memujinya, sering berkata seandainya dia punya cucu seperti itu, dia tidak akan khawatir urusan keluarga di masa depan.”
“Aku dulu sangat ambisius,” lanjutnya, “merasa bahwa menjadi sehebat itu tidaklah mustahil. Jadi aku berusaha dua kali lebih keras untuk meningkatkan diriku. Hasilnya memang tidak buruk, aku bahkan menjadi contoh bagi teman-teman sebayaku. Tapi dibanding dia, tetap saja aku tampak kecil.”
Mu Yu mengerutkan kening, penasaran. “Kalau begitu, jika dia adalah satu-satunya pewaris, kenapa akhirnya justru Qi Meng yang mengambil alih? Bukankah pewaris yang telah dibentuk sejak awal tidak akan diganti begitu saja?”
Qiu Ci menggeleng pelan. Dia sendiri tidak tahu seluruh kebenarannya, hanya mendengar bahwa Qi Meng-lah yang meminta menggantikan kakaknya.
“Aku hanya tahu,” katanya perlahan, “sejak kelas dua SMA, kepribadiannya berubah total. Dia mulai memberontak, melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan citra keluarga. Saat itu aku baru kelas dua SMP, dan… aku pun mulai ikut berbelok.”
Sampai di sini, wajah Qiu Ci tampak sedikit malu.
Dia meniru orang itu bukan hanya dalam hal baik, tapi juga keburukannya, meskipun itu bukan niatnya, melainkan kebetulan yang ironis. Namun jika dipikir kembali, tetap saja terasa memalukan.
Ia melirik Mu Yu diam-diam, memastikan pria itu masih mendengarkan dengan penuh perhatian, lalu melanjutkan pelan,
“Karena waktu itu aku mulai mengerti, bahwa dia tidak punya pilihan. Lingkungan tempatnya hidup menuntutnya untuk selalu berada di puncak.”
“Tapi aku berbeda,” kata Qiu Ci perlahan. “Aku punya banyak pilihan dalam hidup. Jadi kenapa aku harus bersikeras mengalahkan seseorang yang bahkan tidak pernah berbicara padaku? Melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu kusukai?”
“Karena itu, aku melepaskan ‘pertandingan’ yang aku buat sendiri dan ingin menemukan kemungkinanKU sendiri.”
“Sayangnya… tanpa sadar aku malah melangkah ke jalur yang salah.”
Kata-kata itu, selama ini tidak pernah diucapkannya pada siapa pun, bahkan kepada Yu Shan, sahabat terdekatnya sekalipun.
Dalam pandangan orang lain, Qiu Ci dan kakak Qi Meng nyaris tidak pernah memiliki hubungan apa pun. Tidak ada seorang pun yang akan menyangka bahwa dia pernah diam-diam menganggap orang itu sebagai lawan tandingnya.
Setelah mengatakan semua itu, Qiu Ci terkekeh dan mengisyaratkan, “Jadi, masa lalu itu adalah lembar hitamku, dan sampai sekarang hanya aku sendiri yang mengetahuinya.”
Mu Yu terpaku sejenak sebelum bertanya pelan,
“Kalau begitu, sekarang ini… menjadi rahasia di antara kita?”
Qiu Ci mengangguk pelan. “Ya. Rahasia yang hanya milikmu seorang.”
Pandangan Mu Yu kehilangan fokus sesaat.
Dia baru menyadari, sebagian dari rasa cemburunya terhadap Yu Shan bukan hanya karena kedekatannya dengan Qiu Ci, melainkan karena Yu Shan menjadi saksi dari sebagian besar masa lalu Qiu Ci, mengetahui cerita pertumbuhannya, kebiasaannya, sisi-sisi dirinya yang tidak pernah ditunjukkan kepada orang lain.
Setiap kali melihat Qiu Ci tertawa bersama teman-temannya, Mu Yu selalu merasa dirinya adalah orang luar. Dia tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari lingkaran itu dan tidak pernah benar-benar memahami masa lalunya.
Terkadang, Mu Yu merasa dirinya terlalu serakah, dia tidak hanya ingin berbagi masa depan bersama Qiu Ci, tapi juga ingin memahami seluruh hidupnya, dari awal hingga akhir. Dia ingin mengenal, dan sekaligus memiliki dirinya sepenuhnya.
Dulu, dia menganggap itu sebagai keinginan yang berlebihan. Namun kini, tampaknya hal itu bukan lagi sesuatu yang mustahil.
Karena perlahan, Qiu Ci miliknya mulai membuka diri, berjalan mendekat padanya.
Qiu Ci semula mengira, insiden di sekolah itu hanyalah kesalahpahaman kecil yang akan segera dilupakan.
Namun pada pagi hari keempat, dia menerima pesan dari Qi Meng di WeChat, sebuah tautan ke unggahan Weibo.
[Hahahahaha! Aku hampir mati tertawa! Ini kamu, ’kan? Zhao si kepala batu menangkap kalian pacaran di sekolah, ini lucu sekali!]
[Tuan Aktor Besar, kamu sudah menikah secara sah, tapi masih sempat bermain petak umpet di sekolah? Foto kalian tersebar, dan sekarang orang-orang menghubungkan ‘Zuo Xun’-mu dengan foto itu. Kamu tahu, ini sudah naik ke hot search!]
[Tidak bisa, ini terlalu lucu. Aku harus menunjukkan ini pada Yu Shan dan yang lain. Si pemberani kecil yang dulu tidak takut apa pun, kini kembali ke sekolah hanya untuk… tertangkap sedang berpacaran!]
Dari pesan-pesan itu saja, Qiu Ci seolah bisa membayangkan Qi Meng menepuk meja sambil tertawa terbahak-bahak.
Unggahan yang dimaksud ternyata berasal dari akun bot “Kisah Lucu Siswa SMA Jiangshi”.
Kemarin, seseorang mengirimkan foto kejadian itu disertai penjelasan singkat tentang apa yang terjadi.
Awalnya, hanya ada beberapa komentar dari siswa setempat yang tertawa geli. Namun entah bagaimana, beberapa akun besar ikut membagikannya. Dalam hitungan jam, unggahan itu meroket ke trending, menarik perhatian seluruh internet.
[Rasanya kasihan, tapi kenapa aku malah ingin tertawa hahahahaha]
[Saat kabur pun masih sempat bergandengan tangan, manis sekali!]
[Wajahnya memang tidak terlihat jelas, tapi aku bersumpah mereka berdua pasti tampan!]
[Aku pnasaran bagaimana kelanjutannya, apakah mereka akan dihukum? Kudengar peraturan sekolah Jiangbei semakin ketat.]
[Ayolah, ini sudah zaman apa. Hanya karena dua laki-laki? Lagipula pernikahan sesama jenis sudah lama dilegalkan.]
[Hei, apakah kalian sadar? Dari sisi wajahnya, yang di sebelah kanan ini mirip sekali dengan Zuo Xun! Aku sudah buatkan perbandingannya. (gambar)(gambar)]
[Astaga, mirip sekali! Tidak percaya, siswa “Zuo Xun” muda tertangkap pacaran di sekolah!(emot doge 1“Emot doge” merujuk pada meme internet yang menampilkan anjing ras Shiba Inu dengan gaya bahasa dan tulisan yang unik, sering kali sarkastik atau humoris. Emoji ini juga ada dalam budaya internet Tiongkok, sering digunakan untuk menunjukkan nada bercanda atau sarkasme ringan.)]
Dua foto yang dibandingkan, salah satunya adalah dari film terakhir Zuo Xun, di mana dia berperan sebagai siswa. Kemiripannya luar biasa, hampir mencapai sembilan puluh persen.
Penemuan mengejutkan itu dengan cepat menjadi topik baru:
#ZuoXunPacaranDiSekolah
Para penggemar yang penasaran membuka tagar itu, lalu terdiam terpana di tengah deretan foto perbandingan yang terlalu mirip untuk disangkal.
Bagaimanapun juga, semua tanda menunjuk ke arah yang sama, itu benar-benar orang yang sama.
Meski begitu, banyak pula yang mencoba menyangkal. Dunia ini penuh dengan orang-orang yang memiliki wajah mirip, bukan?
Beberapa penggemar menganggapnya lucu dan tertawa, sementara yang lain mengungkapkan ketidakpuasan mereka.
[Jangan membandingkan kedua orang ini. Bagaimana kalau para haters menggunakannya untuk mengarang cerita? Ada seorang idola wanita yang fotonya sering digunakan oleh para pesaingnya untuk menyesatkan publik karena foto-fotonya yang mirip orang lain.]
[Aku membuat prediksi: dalam beberapa hari, orang di foto ini akan dikontrak oleh suatu agensi, dan mereka bahkan mungkin menggunakan “Xiao Zuo Xun” sebagai gimmick untuk meningkatkan profil mereka. Membayangkannya saja sudah membuatku muak.]
[Cari sensasi menggunakan popularitas Zuo Xun. Dasar bocah-bocah, lebih baik belajar saja!]
[Meskipun mereka mirip, tapi tidak mungkin orang yang sama. Zuo Xun tidak mungkin menyukai laki-laki, apalagi anak SMA. Orang yang dia sukai pasti lebih cantik dari Ratu Meng 2Imut atau lucu.]
[Siapa pun bisa punya rumor, tapi hanya dia yang tidak mungkin. Mungkin cinta sejatinya hanya naskah film. Ngomong-ngomong, sudah setahun dia tidak mengambil proyek baru, ya?]
[Kenapa kalian tidak berpikir sebaliknya—kalau dia memang orang yang sama, dan sebenarnya sedang syuting? (Jangan marah, tapi serius, aku merasa itu satu orang).]
[Kabarnya kesehatan mentalnya sedang buruk setelah film terakhirnya dan sudah berkonsultasi dengan psikolog. Katanya dia tidak akan berakting lagi.]
[Lucu sekali! Jangan sebarkan rumor. Dia ada di salah satu film terbaru Sutradara Fan! Tapi perannya, rahasia.]
Dari perdebatan ringan soal kemiripan, topik melebar hingga membahas “ke mana Zuo Xun menghilang selama ini” dan “apa yang sebenarnya sedang dia lakukan”.
Di tengah hiruk-pikuk dunia maya itu, yang dirumorkan, Qiu Ci sendiri, hanya duduk diam di sofa, menatap layar ponselnya. Jari-jarinya perlahan menggulir, membaca komentar satu per satu tanpa ekspresi.
Sementara di balkon, Mu Yu masih berbicara di telepon. Butuh waktu lama sebelum dia masuk kembali.
Melihat Qiu Ci menatap ponselnya dengan saksama, dan mengenalinya sebagai Weibo, dia menelan kata-katanya dan bertanya dengan rasa ingin tahu, “Apa yang sedang kamu lihat?”
Qiu Ci menyerahkan ponselnya dan menjelaskan dengan tenang, “Seorang siswa mengambil foto dan mengunggahnya ke internet. Foto itu menjadi viral. Kemudian, banyak orang mulai menebak apakah itu aku.”
Mu Yu meliriknya sekilas, membuka mulutnya, tapi tidak tahu harus berkata apa. Tanpa sadar dia menatap cincin di tangannya.
Dia tidak ingin keberadaannya menjadi beban, apalagi sampai mengganggu karier Qiu Ci.
Sementara itu, Qiu Ci memutar perlahan cincin di jari manisnya, lalu menatap Mu Yu sambil bertanya lembut, “Apakah kamu ingin hubungan kita diumumkan secara terbuka?”
Seharusnya, untuk memberi Mu Yu rasa aman, dia bisa langsung memutuskan untuk melakukannya, tetapi suara di hatinya mengingatkannya bahwa sebelum mengambil keputusan, dia setidaknya harus mempertimbangkan pemikiran pihak lain yang terlibat.
Mendengar pertanyaan itu, Mu Yu refleks menjawab, “Terserah padamu—”
Namun belum sempat kalimat itu selesai, Qiu Ci sudah menatapnya, seolah bisa menebak apa yang hendak dia katakan. Dia segera memotong,
“Tidak perlu mengkhawatirkanku.”
Dia mengambil ponselnya, masuk ke akun utama, lalu menyerahkannya kepada Mu Yu.
“Kamu boleh memikirkan dirimu sendiri kali ini,” ucapnya tenang. “Sedikit egois tidak apa-apa.”
Mu Yu tertegun. Dia tidak menyangka Qiu Ci akan memberinya kebebasan seperti itu.
Dia menatap kosong ke arah akun “Aktor Zuo Xun”, ragu-ragu untuk mengangkat ponsel itu.
Ruangan itu hening sejenak. Mu Yu merasa tangannya ditarik. Dia terkejut dan menoleh.
Dia melihat kerumitan di mata Qiu Ci dan mendengar desahan lembut.
“Mu Yu, kamu boleh mengikuti kata hatimu dan melakukan apapun yang kamu mau padaku.”
Catatan Penulis:
Karena aku sudah hampir selesai, alur pikiranku benar-benar buntu, dan aku tidak bisa menemukan ritmenya. Aku mungkin perlu istirahat beberapa hari untuk menyelesaikannya, dan aku akan merilis beberapa bab terakhir setelah selesai.
