Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki, Rusma
Dalam perjalanan meninggalkan tempat itu, Qiu Ci menerima panggilan telepon dari ayahnya.
Entah dipicu oleh apa, Ayah Qiu tiba-tiba membahas pernikahan di telepon. Mungkin karena melihat anak orang lain sudah menikah dan punya anak, jadi dia merasa tertekan.
“Aku masih muda.” Qiu Ci mengusap pelipisnya.
Sudah bertahun-tahun sejak dia dan Mu Yu putus, bukan berarti dia tidak pernah terpikir untuk memulai hubungan baru.
Namun, baik wanita mau pun pria, tidak ada yang membuatnya tertarik. Dia tidak ingin membohongi dirinya sendiri, juga menyia-nyiakan waktu orang lain. Lebih baik dia fokus mengejar kariernya.
Cinta? Itu hanya batu sandungan di jalan menuju kesuksesan. Dan itu tidak penting.
Ayah Qiu memaki, “Masa muda apanya! Lihat sekelilingmu, orang-orang sudah menikah, punya anak, paling tidak sudah gonta-ganti pacar beberapa kali. Lihat dirimu? Bahkan bayangan orang yang bisa dibilang dekat pun tidak punya.”
“Aku rasa lebih baik kamu berhenti berakting, pulang dan bantu aku memgelola perusahaan. Dalam beberapa tahun lagi, perusahaan itu akan sepenuhnya kuserahkan padamu.”
Tidak mau menikah? Baiklah, Ayah Qiu masih bisa menerimanya, terlebih Qiu Ci baru dua puluh enam tahun, menunggu beberapa tahun lagi bukan masalah.
Tapi anaknya malah menolak warisan keluarga dan memilih menjadi aktor di perusahaan milik putri keluarga Qi—hal ini membuat Ayah Qiu sangat tidak senang, bahkan ikut membenci keluarga Qi karenanya.
Pokoknya, Qiu Ci harus memilih antara menikah atau mewarisi perusahaan keluarga.
“Tidak mungkin,” Qiu Ci belum ingin kembali ke kota Jiang. Dia belum bosan berakting.
“Ayah tidak peduli kamu setuju atau tidak!” Ayah Qiu juga punya temperamen yang meledak-ledak.
Qiu Ci tertawa, “Ayah, semuanya bisa dibicarakan. Selama ini kita sudah menjalani hidup nyaman, dan tubuh Ayah masih sehat, izinkan aku, putramu, menikmati hidup lebih lama, oke?”
Ayah Qiu terdiam cukup lama, lalu perlahan berkata, “Kalau begitu, kamu harus menikah. Temukan seseorang yang bisa kamu habiskan sisa hidup bersamanya, maka aku tidak akan mempermasalahkan masa lalu. Ingin menggila selama beberapa tahun pun tidak masalah, tapi kalau tidak bisa menemukannya, kamu harus pulang.”
Di ujung telepon, Ayah Qiu terdengar bertekad untuk menang.
Dia tahu betul sifat putra satu-satunya itu. Mereka berdua punya temperamen yang sama—terutama soal hubungan, bisa sangat serius bahkan nyaris keras kepala.
Karena itu, dia yakin Qiu Ci tidak akan sembarangan memilih orang untuk dinikahi demi formalitas.
Yu Shan sudah tidak mungkin lagi. Maka Qiu Ci hanya bisa kembali ke Kota Jiang.
“Ah Ci!”
Qiu Ci sedang memikirkan cara untuk mengelak, saat mendengar suara familiar memanggilnya.
Dia menoleh, dan melihat Mu Yu berdiri tak jauh, terengah-engah dan menatapnya lurus.
Tatapan itu seolah berkata, Ah Ci, jangan pergi. Aku mohon.
“Ayah, tunggu sebentar.”
Qiu Ci masih memegang ponsel saat dia melangkah mendekat. Dia menyadari, setiap dia melangkah, mata Mu Yu semakin bersinar.
Dia sempat ragu, namun di detik ketika dirinya benar-benar mendekat, dia tiba-tiba berkata, “Aku mau menikah. Sekarang aku tidak memiliki calon pasangan. Kamu tertarik?”
Kebetulan, ada yang datang sendiri. Sayang sekali jika tidak dimanfaatkan.
Ayah, kamu salah menilai anakmu. Aku bahkan bisa asal tunjuk siapa saja untuk dijadikan pasangan. Hanya saja, yang dia tunjuk ini adalah orang yang menyerahkan diri.
Mu Yu tertegun sesaat, napasnya makin tidak teratur, lalu cepat-cepat menjawab, “Aku bersedia!”
Ujung bibir Qiu Ci sedikit berkedut. Reaksi bodoh ini membuatnya curiga apakah dia tadi salah mengungkapkan maksud, sampai-sampai Mu Yu mengira dia sedang melamarnya.
Qiu Ci menahan keinginan untuk mengeluh. Dia menyingkirkan tangan dari mulut ponsel dan berkata ke seberang sana, “Sepertinya aku sudah menemukan pasangan untuk menikah. Aku akan langsung mengurus surat nikahnya.”
Dia langsung mematikan panggilan, tidak memberi kesempatan Ayah Qiu untuk mengkonfirmasi.
Lalu, dia menatap pria di depannya yang bahkan kancing bajunya belum dikancingkan dengan benar. Dia melambai, menyuruhnya mendekat.
Jarinya secara sengaja menyentuh bekas gigitan di tulang selangka pria itu. Qiu Ci dengan jelas merasakan napas pria itu menjadi berat, tapi dia tetap tenang dan mengancingkan bajunya.
Sambil mengancingkannya, dia berkata datar, “Kupikir kita perlu bicara.”
Mu Yu jelas tidak mengerti maksudnya.
Untuk menghindari kesalahpahaman, lebih baik menjelaskan. Jika gagal, dia akan mencari orang lain sebagai pasangan kerja sama.
Angin laut berhembus kencang.
Mu Yu meninggalkan jejak kaki di atas pasir, dan Ah Ci-nya berjalan di sisinya, menemani langkahnya.
Kini, setelah pikirannya lebih jernih, dia sadar pasti ada alasan di balik ucapan Qiu Ci tadi.
Mana mungkin Qiu Ci tiba-tiba mengatakan hal seperti itu padanya, apalagi sejak awal, pria itu tidak pernah memberikan ditempat di hatinya.
Qiu Ci masih menimbang-nimbang kata-katanya. Tadi dia jelas kehilangan akal. Sekarang kalau dipikir-pikir, dia merasa dirinya pasti sudah gila.
Ini bukan drama murahan. Kenapa harus bermain-main dengan perjanjian cinta segala?
Kalaupun ingin cari pasangan untuk bekerja sama, kenapa harus Mu Yu?
Selain itu, Ayah Qiu juga belum tahu bahwa sejak masa sekolah anaknya malah “menjalin hubungan” dengan sesama jenis. Sekarang, jika dia tahu anaknya malah memilih pasangan pria untuk dinikahi, pasti dia akan dicabik hidup-hidup.
Qiu Ci sadar dia telah membuat segalanya menjadi rumit. Seharusnya tadi dia cukup mengelak saja, dan terus menikmati hidup sebagai lajang yang bahagia.
“Ah Ci, kata-katamu tadi… apakah masih berlaku?”
Saat Qiu Ci hendak membatalkan semuanya, Mu Yu menoleh menatapnya. Cahaya di mata pria itu membuat Qiu Ci menelan kembali kata-katanya.
Sial! Jangan terus melihatku seperti itu, aku tidak berutang apa pun padamu.
Dulu jelas-jelas kamu yang meninggalkanku, kenapa sekarang malah seperti aku yang bersalah padamu?
“Apa kamu pernah melihatku menarik kembali ucapanku?” Qiu Ci mendengus dingin.
Mu Yu terdiam. Setidaknya untuk dirinya, Qiu Ci memang pernah mengingkari janjinya karena Yu Shan.
Qiu Ci berhenti melangkah, lalu berdeham pelan: “Dengar baik-baik, ini bukan karena aku menginginkanmu. Hanya kebetulan saja kamu ada di tempat yang tepat pada waktu yang pas. Jadi aku sekadar bertanya.”
Pria itu diam menunggu sampai dia selesai bicara.
“Ayahku menyuruhku menikah. Kalau tidak, aku harus kembali ke Kota Jiang. Sekarang aku belum ingin pulang, jadi aku butuh pasangan untuk pura-pura bersandiwara.”
Qiu Ci memberanikan diri dan mengutarakan alasannya.
Tanpa sadar dia menatap ekspresi wajah Mu Yu, dan melihat tatapan pria itu meredup sejenak, lalu berubah menjadi tegas.
“Aku akan menemanimu bermain sandiwara. Ah-Ci, kamu memilihku, setidaknya aku orang yang kamu kenal luar-dalam, jadi rendah resikonya.”
Qiu Ci sempat terkejut, lalu tertawa karena keseriusan pria itu.
Sial! Bocah ini kenapa masih tetap menggemaskan seperti dulu? Masih sama bodohnya, saking menggemaskannya dia ingin menggodanya.
Saat melihat lelaki tampan di depannya tiba-tiba tersenyum, jantung Mu Yu berhenti sejenak, lalu berdebar kencang.
Seakan ada suara yang berbisik di telinganya: Lihat, Ah Ci yang kamu sukai, hanya dengan satu senyum bisa membuat hatimu bergetar.
Dia sudah menderita penyakit bernama “Qiu Ci”, dan penyakit ini tidak bisa disembuhkan.
Namun keseriusan Mu Yu tidak langsung membuat Qiu Ci menerima kesepakatan. Dia tersenyum dengan niat menggoda, “Memilihmu? Bagaimana jika kamu malah menempel padaku, bukankah aku hanya akan mendapat satu masalah baru?”
Mu Yu menahan senyum, “Aku tidak akan merepotkanmu.”
“Aku peringatkan sejak awal. Sekarang aku hanya aktor biasa, tidak punya uang, dan tidak punya kekuasaan. Kalau kamu menikah denganku, mungkin makan dan minum saja akan pas-pasan. Kalau kita bercerai nanti, kamu juga tidak akan mendapat satu sen pun dari keluarga Qiu. Apa kamu yakin tetap ingin membantuku?”
Mu Yu menjawab dengan serius, “Aku punya banyak uang Ah-Ci, aku akan mendukungmu.”
Si bodoh yang dulu hanya memiliki nilai akademis saja, sekarang mengatakan ke Tuan Muda Qiu bahwa dia kaya dan akan mendukungnya. Qiu Ci nyaris tertawa.
“Jadi, Bos Mu, kamu ingin memeliharaku? Kalau begitu, apa yang harus kubayar sebagai balasannya, tubuhku?”
Qiu Ci mengulurkan tangan, nyaris menyentuh bagian belakang kepala pria itu, menarik jarak mereka semakin dekat, napas mereka bertemu. Sedikit lagi, dia bisa mencium pria itu.
Jika aku memginginkan hatimu sebagai balasannya, apa kamu mau memberikannya?
Mu Yu menyimpan kalimat itu dalam hati, lalu menjawab, “Iya, aku memeliharamu, dan kamu bertanggung jawab akan kebutuhan biologisku.”
“Dan aku juga tidak rugi.” Bisa menaklukkan bos kaya berwajah tampan, tidak semua orang punya keberuntungan seperti ini.
“Jadi, kita sepakat?”
Mu Yu takut Qiu Ci hanya iseng dan tidak serius mempertimbangkan hal ini, jadi dia sangat ingin segera mendapatkan kepastian.
Mu Yu paham betul siapa Qiu Ci. Ah Ci selalu seperti ini, bahkan saat mereka pacaran dulu, dia selalu merasa tidak aman.
Karena sikap Qiu Ci yang seenaknya, Mu Yu pernah beberapa kali merasa, “Mungkin Ah Ci benar-benar menyukaiku.” Tapi itu hanya perasaan semu saja.
“Jangan terburu-buru, aku akan memikirkannya dulu.”
Qiu Ci menurunkan tangannya dan berdiri tegak. Dia tidak memberi jawaban pasti.
“Kamu punya pilihan lain?” tanya Mu Yu waspada.
“Tidak juga,” jawab Qiu Ci jujur. Selama beberapa tahun ini, pikirannya hanya tertuju pada karier. Dia benar-benar tidak tertarik untuk jatuh cinta, apalagi menjalin hubungan ambigu.
Saat menunggu jawaban, Mu Yu menatap Qiu Ci lekat-lekat. Karena tidak melihat ada tanda-tanda lain, hatinya sedikit lega.
Qiu Ci tidak menyadari rasa lega itu. Dia hanya berkata, “Kamu tinggal di luar negeri, aku di dalam negeri. Kalau kita terpisah jarak yang begitu jauh, ayahku pasti curiga dan akan mempersulitku, dari sisi ini saja, kamu sudah kurang cocok.”
Setidaknya, meski pernikahannya hanya pura-pura, tidak bisa juga sampai tidak pernah bertatap muka.
“Aku bisa kembali ke negara ini dan memulai karier di sini.”
Dia memang sudah mulai mengembangkan bisnis di dalam negeri sejak tahun lalu, hanya saja Ah Ci tidak tahu.
Qiu Ci terdiam sejenak. Sebenarnya, bukan jarak yang membuatnya ragu.
Karena dia masih diam, Mu Yu semakin cemas dan menatapnya dengan gugup.
Setelah beberapa saat, Qiu Ci berhenti melangkah, menatapnya dalam-dalam, dan berkata, “Kamu itu laki-laki, tidak bisa.”
Hati Mu Yu langsung sedingin es. Tangannya yang tadinya mengepal perlahan melemas. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, “Kalau perempuan, apakah bisa?”
Qiu Ci tersenyum, “Benar juga. Kelihatannya memang tidak cocok. Setidaknya—” dia melirik wajah Mu Yu yang sedikit pucat, lalu tidak melanjutkan kalimatnya.
Setidaknya sejak tubuh mereka saling bersentuhan, semua ini menjadi tidak cocok lagi.
Mu Yu tidak tahu maksud sebenarnya dari kalimat Qiu Ci, dan hatinya perlahan membeku.
Qiu Ci adalah anak tunggal. Jika Bibi Chu dan Paman Qiu tahu bahwa dulu dia yang “menggoda” Ah Ci, maka akibatnya…
Mu Yu merasa hatinya seperti ditusuk hawa dingin.
Apa yang dulu tidak bisa dia miliki, sekarang pun tidak bisa, dan di masa depan juga tidak akan bisa. Dia seharusnya sudah menyadari hal ini dari dulu.
“Jadi kamu saja.”
Tiba-tiba Qiu Ci berkata demikian, lalu terus berjalan ke depan, dan tidak lama kemudian jaraknya dengan Mu Yu pun menjauh.
Mu Yu baru tersadar beberapa saat kemudian, dan buru-buru menyusul, “Barusan, apa yang kamu katakan?” dia sangat ingin memastikan.
Qiu Ci menoleh sekilas, “Tidak dengar? Kalau begitu—”
Belum sempat dia mengucapkan kata “lupakan”, Mu Yu buru-buru menyela, “Aku dengar! Kamu tidak boleh menarik kata-katamu!”
Saking cepatnya bicara, dia sampai menggigit lidah sendiri. Qiu Ci melihatnya, tertawa geli, “Iya, iya. Kenapa kamu panik ”
Mu Yu menunduk malu, lalu bertanya dengan suara pelan, “Kalau begitu, bagaimana dengan Paman Qiu dan Bibi Chu…”
“Itu bukan sesuatu yang perlu kamu khawatirkan.” Dibandingkan dengan ketakutan Mu Yu, Qiu Ci tampak jauh lebih tenang. “Lagipula, ayahku juga tidak mengatakan bahwa aku tidak boleh menikah dengan laki-laki.”
Dia mencondongkan tubuh ke arah telinga Mu Yu, dan berbisik, “Kalau kita mau menikah, mulai sekarang panggil aku ‘Suami’, agar terbiasa.”
Sekeliling mereka hening beberapa saat. Hanya suara ombak dan angin laut yang terdengar.
Mu Yu menoleh melihat pria di sampingnya yang tersenyum penuh godaan, dan ujung telinganya perlahan memerah.
“Suami.”
Qiu Ci terdiam, lalu menjawab dengan suara sengau, “Mm.”
Sial! Ini terlalu manis.
Catatan Penerjemah:
San: akan kutunggu sampe Ah Ci yg mohon-mohon.
