Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki, Rusma


Dulu, Mu Yu-lah yang meminta putus, bahkan hanya melalui pesan singkat.

Isi pesannya singkat dan jelas—

Ah Ci, aku lelah. Aku menyerah. Semoga kamu bahagia.

Kini, setelah merasa kenyang dan puas, dia memeluk orang yang pernah memutuskan dirinya dengan penuh harap, lalu mengusulkan, “Ah Ci, bagaimana jika kita kembali bersama?”

Dulu, Tuan Xiao Qiu yang sombong dan tak kenal takut, kini telah menjadi aktor besar yang tenang dan elegan di mata publik. Dia mengangkat dagu orang itu, wajahnya penuh ejekan, “Di dunia ini mana ada hal sebaik itu? Dulu bilang putus, sekarang ingin kembali bersama begitu saja?”

Sepanjang hidupku, ini pertama kalinya aku dicampakkan. Dan aku sangat dendam. Ingin kembali bersama? Bermimpilah!

Menghadapi ejekan itu, Mu Yu justru semakin mendekat, mencium sudut bibirnya dan berkata manis, “Putus nyambung itu hal biasa dalam sebuah hubungan.”

Kalau saja saat itu dia tidak benar-benar patah hati, dia juga tidak akan rela pergi begitu saja.

Dia mengira kepergiannya adalah bentuk anugrah terbesar untuk Qiu Ci. Namun pada akhirnya, bahkan Yu Shan pun tidak memilih Qiu Ci yang begitu baik. Dia menyesal.

Qiu Ci mencibir, “Tapi hal itu tidak berlaku bagiku. Kalau berani melakukan, kamu harus siap bertanggung akibat. Mulutmu bukan untuk mengucapkan kata-kata yang merusak suasana, kalau tidak, kita hentikan saja.”

Sudah sama-sama puas, terserah kamu mau bagaimana.

Mu Yu menundukkan kepala, melingkarkan lengannya ke leher pria itu dan menariknya mendekat, memohon manja, “Tuan Ci, cintailah aku.”

Kalimat itu bukan dalam arti sebenarnya. Cinta dalam arti sesungguhnya, sudah tidak bisa lagi dia dapatkan.

Tatapan Qiu Ci menjadi suram. Sial! Masih saja seperti dulu, selalu patuh bila bersamanya.

Tak lama kemudian, suara air mengalir dari kamar mandi terdengar, cukup lama sebelum akhirnya berhenti.

Ah Ci, ayo kita kembali bersama.”

Berbaring kembali di atas tempat tidur, Mu Yu terus mengemis untuk kembali bersama tanpa rasa takut.

Menghadapi Qiu Ci harus tebal muka. Dulu pun dia berhasil mendekatinya karena ketebalan mukanya. Kalau tidak begitu, mana mungkin dia memiliki kesempatan seperti sekarang?

Mu Yu bukanlah anak manis yang hanya ingin belajar. Demi mendapatkan Qiu Ci, dia rela melakukan hal-hal yang dulu tidak akan pernah dia lakukan, bahkan bila itu menyangkut prinsip.

Namun menghadapi Qiu Ci yang berkali-kali mengabaikannya demi Yu Shan, Mu Yu akhirnya merasa hancur dan memilih melepaskan—demi dirinya sendiri, demi Qiu Ci.

Kini jika diingat kembali, dia benar-benar menyesal.

“Diam dan tidurlah.”

Qiu Ci menekan kepalanya, nada suaranya dingin, seakan-akan bukan dia orang yang barusan membisikkan kata-kata mesra penuh hasrat.

Ia memang selalu seperti itu. Sebelum dan sesudah bercinta, seperti dua orang yang berbeda.

Dulu, setiap kali bersama, Mu Yu selalu merasa bahwa Tuan Ci-nya benar-benar mencintainya. Namun setelah selesai, dia justru merasa hatinya tertusuk dingin.

Itulah sebabnya, Mu Yu lebih memilih menggoda pria itu, bahkan jika harus ditekan dan diperlakukan kasar, setidaknya dia bisa membohongi dirinya sendiri bahwa pria itu sangat mencintainya.

Mu Yu mencoba melingkarkan lengannya ke lengan Qiu Ci dan memeluk pinggangnya. Melihat Ah Ci tidak bereaksi, dia tidak bisa menahan senyum kecil.

Dia tidak bisa tidur.

Rasanya seperti sedang bermimpi indah, begitu indah sampai tidak terasa nyata. Dia takut begitu memejamkan mata, semuanya akan lenyap saat dia membuka mata kembali.

Mu Yu mengangkat kepalanya diam-diam dan mendapati Qiu Ci telah tertidur lelap.

Ah Ci, kali ini… jangan tinggalkan aku lagi, oke?”

Langit mulai memucat.

Saat Mu Yu terbangun, tempat tidur di sebelahnya sudah dingin.

Dia terdiam, menatap sisi tempat tidur yang kosong dan terasa perih—apakah Ah Ci sudah pergi?

Hanya memenuhi hasrat tanpa perasaan—benarkah artinya seperti itu? Bahkan tidak berpamitan, langsung pergi? Semakin hari, ia semakin kejam. Bahkan berpura-pura peduli pun tak sudi.

Bel pintu berbunyi.

“Tuan, ini sarapan yang Anda pesan.”

Memegang sarapan panas di tangannya, Mu Yu masih terdiam. Kecuali tamu meminta, biasanya mereka harus ke restoran sendiri.

Sudut bibirnya perlahan terangkat. Dia meletakkan sarapan, buru-buru mengganti pakaian kusut semalam.

Dia harus menemukannya!

“Wah, orang sibuk, sudah mau pergi?”

Yu Shan menyilangkan tangan, tersenyum sambil memandangi pria yang memakai kacamata hitam.

“Mm, harus syuting, sibuk.” Qiu Ci menjaga ekspresinya, mata di balik kacamata hitam tidak melihat Yu Shan.

“Kalau begitu, kamu harus berhati-hati,” kata Yu Shan sambil menunjuk ke arah lehernya.

Bekasnya terlalu mencolok, orang dewasa tentu mengerti.

Terlebih lagi, Qiu Ci sama sekali tidak berniat menyembunyikannya. Kalau sampai tertangkap kamera, bisa jadi masalah besar.

“Aku tahu,” jawabnya. Dia juga melihatnya di cermin.

“Sudah kembali bersama?”

“Belum. Hanya saling memenuhi kebutuhan masing-masing.”

“Masih saja pendendam seperti dulu,” Yu Shan tertawa ringan.

Dia masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah Qiu Ci saat itu—menggenggam surat perpisahan di tangannya, urat di punggung tangan menegang, hampir saja ia terbang ke negara tempat orang itu berada hanya untuk menghajarnya habis-habisan.

Namun setelah tertawa dingin, Qiu Ci justru membuang semua barang milik Mu Yu dan membakarnya.

Dia memastikan dalam hidupnya tak ada lagi jejak keberadaan Mu Yu, bahkan nama Mu Yu pun tidak pernah lagi dia sebutkan.

Sejak saat itu, siapa pun yang tahu hubungan mereka, tidak ada yang berani menyebut nama Mu Yu di hadapan Qiu Ci.

“Dendam? Dari mana datangnya dendam?” Di balik kacamata hitamnya, Qiu Ci menatapnya.

Yu Shan mengerti maksudnya. Dengan pelan dia berkata, “Aku mengenalmu, Ah Ci. Akui saja… kamu mencintainya sampai sejatuh-jatuhnya.”

“Omong kosong. Siapa yang tidak tahu sejak kecil aku menyukaimu?” Qiu Ci mencibir.

Dia dan Yu Shan tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, kedua keluarga mereka pun dekat. Sepanjang masa sekolahnya, Yu Shan selalu ada di sisinya.

Semua orang menganggap itu adalah hal yang lumrah—

Bahwa Qiu Ci dan Yu Shan akan menua bersama, bergandengan tangan hingga akhir hayat.

Yu Shan tersenyum dan menggeleng pelan. “Ah Ci, aku hanya bagian dari ketidakpenerimaanmu dalam hidup. Sejak kecil, apa pun yang kamu inginkan selalu kamu dapatkan, kamu terbiasa mendapat segalanya tanpa usaha.

Semua orang berkata bahwa aku, Yu Shan, adalah milikmu. Karena terlalu sering mendengar itu, kamu jadi memedulikannya, lalu mengira bahwa kamu tidak bisa hidup tanpaku.”

Dia melanjutkan, “Ah Ci, hingga saat ini, kamu masih belum tahu siapa orang yang benar-benar kamu sukai?”

Yu Shan takkan pernah lupa lelaki di hadapannya ini, saat masih muda dan keras kepala, betapa angkuhnya ia karena seseorang—Mu Yu.

Saat itu dia berpikir, Qiu Ci yang benar-benar menyukai seseorang terlihat sangat menggemaskan. Dia dan Mu Yu seharusnya ditakdirkan bahagia bersama. Tapi lelaki bodoh ini justru tidak pernah bisa melihat siapa yang sebenarnya dia simpan dalam hatinya.

Mu Yu pun sama, selalu menganggapnya sebagai saingan, mengira dirinyalah yang sedang tarik-ulur dan menjadikan Qiu Ci cadangan.

Terkurung di antara dua orang ini, Yu Shan benar-benar merasa pening.

“Diam juga tidak akan membuatmu disangka bisu.” Qiu Ci malas berdebat.

Apa tidak mengada-ada? Dia tidak sebodoh itu sampai tidak tahu apa yang dia inginkan.

Qiu Ci memang pernah menyukai Yu Shan, tapi setelah terlalu sakit hati, ia berhenti. Dan pada Mu Yu, ia tidak pernah jatuh hati.

Ya, sama sekali tidak pernah.

Ia hanya menyukai bagaimana cara menghancurkan topeng dingin pria bodoh itu, dan melihatnya lepas kendali di bawahnya.

Siapa suruh orang itu menyebalkan sekali—penurut tapi liar.

Lagipula mereka sudah dewasa, wajar saja jika punya sedikit rasa suka secara fisik, bukan? Mu Yu begitu bodoh, begitu polos. Mana mungkin ia menyukainya?

Mu Yu menahan rasa ngilu di tubuhnya, mencarinya ke mana-mana, tapi belum jauh berjalan, dia sudah bertemu Yu Shan yang hendak kembali.

Dia berhenti, menatap wanita cantik itu, menggenggam jari-jarinya, dan setelah beberapa saat akhirnya bertanya dengan suara serak, “Dia sudah pergi?”

Yu Shan mengangguk. Tatapannya menyapu bagian terbuka di baju Mu Yu yang tidak terkancing rapi—jejak-jejak itu samar terlihat.

Pemilik jejak itu seolah sedang mengumumkan dengan dominan: Ini milikku, jika ingin macam-macam, pikir seribu kali.

Dia memalingkan wajah dan tersenyum lebar. Dua orang ini benar-benar membuatnya tak tahu harus tertawa atau menangis.

Ah Ci, kamu pergi begitu saja, benarkah kamu tidak menyesal?

Entah Qiu Ci menyesal atau tidak, yang jelas Mu Yu tidak rela.

Dia bahkan belum mulai membangun perangkapnya, bagaimana bisa pergi begitu saja?

Dia masih ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk terus menempel padanya, sama seperti dulu saat memanfaatkan Qiu Ci yang sedang mabuk untuk mendekatinya—hingga tak memberinya ruang untuk menyesal.

Kini, setelah tahu dari Yu Shan bahwa Qiu Ci sudah pergi, Mu Yu berdiri terpaku di tempat, tampak benar-benar seperti orang yang baru saja dibuang. Sangat menyedihkan.

Yu Shan berkata dengan nada baik, “Belum terlalu jauh. Mungkin kamu masih bisa menyusulnya.”

Tapi Mu Yu tidak langsung bergerak. Dia memandang Yu Shan yang kini telah berubah dari gadis lincah menjadi wanita elegan, dengan ekspresi dingin.

“Dari awal hingga akhir, apakah kamu pernah menyukai Ah Ci?”

Yu Shan tidak ragu sedikit pun. “Tidak pernah.”

Dia menjawab dengan jujur dan tenang. Siapa pun yang mengenalnya tahu, ia tidak akan berbohong untuk hal sepele seperti ini.

Jika Yu Shan menyukai sesuatu, ia pasti akan berjuang mengejarnya sampai dapat. Jika ia benar-benar mencintai Qiu Ci, maka takkan ada tempat bagi orang lain.

“Tapi dia mencintaimu, mencintaimu sampai hancur.”

Mu Yu tersenyum pahit. Ia tiba-tiba merasa bahwa Qiu Ci di hadapan Yu Shan, hanyalah cerminan dirinya sendiri di masa lalu.

Mengejar seseorang dengan seluruh hatinya, tapi orang itu bahkan tidak mau melirik sedikit pun.

Yu Shan menghela napas. “Mu Yu, kadang apa yang dilihat mata tidak selalu benar—terutama jika itu mengenai Ah Ci. Kamu tidak akan pernah bisa melihat jelas isi hatinya hanya dengan mata. Bahkan dia pun tidak tahu pasti isi hatinya sendiri.”

Yu Shan ingin sekali berkata bahwa mereka berdua sebenarnya saling menyukai. Tapi ia tahu, percuma mengatakannya.

Kecuali Mu Yu bisa mengumpulkan keberanian seperti dulu, dan mengejar Qiu Ci lagi tanpa ragu, tanpa berhati-hati, dan Qiu Ci mau menurunkan egonya dan jujur pada perasaannya.

Kalau tidak, siapa pun tidak bisa membantu mereka.

Mu Yu termenung, memikirkan kata-kata Yu Shan.

Yu Shan kembali berkata, “Sebenarnya aku sangat merindukan masa-masa saat kamu diam-diam mendekati Ah Ci ketika dia lengah, dan menantangku. Kamu sangat menggemaskan saat itu. Ah Ci pasti sangat menyukainya.”

Kenangan lama itu membuat wajah Mu Yu memerah malu.

Dia hanya berani melakukan hal-hal kecil saat Qiu Ci tidak memperhatikan.

Padahal dia adalah kekasihnya, tapi bahkan tidak bisa dengan percaya diri menggandeng tangannya di depan umum, menyuruh orang lain menjauh dan berhenti menggoda.

Karena dia takut. Dia tidak percaya diri. Dia tidak berani.

Dia tahu, kalau bukan karena malam itu, Qiu Ci bahkan tidak akan sudi menoleh padanya.

Yu Shan memberinya jalan. “Mu Yu, kadang sedikit saja rasa nekat bisa memberimu kejutan yang tidak terduga.”

Mu Yu menanggalkan semua gengsi dan harga diri, lalu berlari sekuat tenaga.

Dia melihatnya! Di detik pertama, dia melihat pria itu sedang berjalan sambil menggenggam ponsel.

Matanya berbinar, tapi tubuhnya sudah tidak sanggup berlari. Dia hanya bisa berteriak sekencang mungkin, “Ah CI!”

Lelaki itu menoleh dengan ponselnya di tangan, memandangnya dari kejauhan, seolah berkata kepada orang di ujung telepon: “Tunggu sebentar.”

Dia menatap lelaki itu yang berjalan mendekatinya, jantungnya tak terkendali berdebar di dalam dada.

Qiu Ci masih memegang ponsel, menatapnya sejajar mata, lalu bertanya, “Mu Yu, apa kamu masih lajang?”

Apa maksudnya?

Napas Mu Yu menegang, ia tergagap, “La… lajang.”

Bagaimana mungkin ia tidak lajang? Pria pertamanya adalah Qiu Ci—entah Qiu Ci menginginkannya atau tidak—pria terakhirnya juga hanya akan Qiu Ci.

Hati Mu Yu sangat kecil, begitu kecil sampai hanya cukup untuk menyimpan Ah Ci-nya, Tuan Ci-nya. Orang ini bukan hanya bersemayam di hatinya, tapi juga menyatu dalam darah dan daging, terukir di dalam jiwanya.

“Aku ingin menikah, masih kekurangan pasangan. Kamu tertarik?”


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

San
Rusma

Meowzai

Leave a Reply