Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki, Rusma


Ketika sedang tidak tahu malu, Jiang Wang sangat piawai1Piawai adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki keahlian, keterampilan, atau kemampuan yang tinggi dalam melakukan sesuatu. di dunia bisnis, pandai berbicara dan bergaul, tapi di depan kekasihnya, ia sering terlihat nakal namun juga manis.

Untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua puluh tahun hidupnya, ia menulis surat cinta—dalam bahasa Inggris pula—hingga membuatnya menghindari Ji Linqiu sepanjang sore itu. Ada perasaan canggung yang sangat aneh, seperti pria tangguh yang tiba-tiba menjadi pemalu.

Bahkan saat pulang kerja, ia sengaja menghindari Ji Linqiu, menyerahkan mobilnya untuk digunakan olehnya, sementara ia sendiri diam-diam berjalan kaki pulang ke rumah.

Ji Linqiu tiba setengah jam kemudian bersama Peng Xingwang. Saat mengganti sepatu, ia langsung melihat Jiang Wang yang membelakanginya, menonton saluran tentang militer dan pertanian yang sedang membahas bagaimana beternak merak untuk meraih kekayaan.

Peng Xingwang cepat-cepat mengganti sepatu dan melompat mendekat, ikut menonton tayangan itu dengan rasa ingin tahu, seperti menonton acara satwa liar.

“Xingwang, kamu kembalilah ke kamar untuk mengerjakan PR terlebih dulu,” kata Ji Linqiu sambil tersenyum. “Aku punya urusan kerja yang ingin dibicarakan dengan Kakak Wang.”

Anak itu segera berlari ke kamarnya, meninggalkan ruang tamu hanya untuk mereka berdua.

Ji Linqiu mengeluarkan secarik kertas dari dompetnya, membukanya, lalu menyerahkannya kepada Jiang Wang.

“Hmm?”

Jiang Wang berpura-pura sibuk memandangi remote TV.

“Tidak mau bicara?” Ji Linqiu duduk di sebelahnya, tersenyum lembut dengan bulu mata yang melengkung, terlihat begitu halus. “Aku tidak mengerti. Tolong bacakan untukku, ya?”

Setelah terdiam beberapa detik, Jiang Wang menoleh dan menciumnya.

Ciuman itu singkat, namun dengan rasa yang mendalam, mereka pun melakukannya sekali lagi. Keduanya sempat melirik ke arah tangga untuk memastikan Peng Xingwang tidak kembali.

“Simpan baik-baik,” ujar Jiang Wang dengan serius. “Sebelum memberikannya padamu, aku khawatir ada kata yang salah dieja, jadi aku memeriksanya berkali-kali dengan kamus.”

Ji Linqiu hanya tersenyum memandangnya.

Awalnya Jiang Wang sangat percaya diri, tapi melihat ekspresi itu, ia kembali merasa ragu. Ia pun bertanya dengan hati-hati.

“…Apakah tata bahasanya salah?”

“Atau kalimatnya ambigu?”

Ji Linqiu menggeleng sambil tetap tersenyum padanya.

“Hanya saja… kamu terlihat sangat menggemaskan.”

Setelah menghabiskan beberapa waktu berdua dengan penuh kehangatan, Ji Linqiu tiba-tiba teringat sesuatu.

“Ngomong-ngomong, aku ingin meminjam sebuah toko darimu.”

Bos Jiang, yang telah membeli lebih dari sepuluh properti di Yuhan dan bersiap membuka cabang di wilayah lain, menjawab tanpa ragu, “Katakan saja yang mana.”

“Bukan membuka toko untukku,” jawab Ji Linqiu sambil tersenyum. “Ibuku telah menjadi ibu rumah tangga sepanjang hidupnya, mencurahkan semua perhatian untukku dan ayah. Aku ingin dia punya sesuatu untuk dilakukan.”

Jiang Wang langsung mengerti. Ia mengambil sertifikat kepemilikan sebuah toko yang letaknya paling dekat dengan rumah mereka. “Yang ini berada di sudut jalan. Ruangannya tidak terlalu besar. Awalnya aku ingin membuka toko teh susu, tapi jika mejadi sebuah toko jahit kecil juga cocok.”

Hari itu juga, Ji Linqiu membawa kabar itu kepada ibunya, Chen Danhong, dan mengajaknya melihat lokasi toko tersebut. Mereka juga melihat satu toko tua lainnya yang masih ramai meski berdebu, sekitar tiga kilometer dari sana.

Chen Danhong menggosok-gosok tangannya dengan canggung. “Aku ini hanya seorang perempuan desa, orang kota mungkin tidak akan memakai baju hasil buatanku.”

“Lagipula, anak muda sekarang lebih suka membeli pakaian di toko. Bukan seperti zaman dulu, saat orang membeli kain untuk dijahit. Iya, ‘kan?” Ia tertawa getir, lalu berkata pelan, “Ibu tahu niat baikmu, tapi ini… sepertinya tidak cocok.”

Ji Linqiu berkedip sambil menunjuk mantel yang ia kenakan. “Ibu tahu, ‘kan mantel ini? Yang ibu berikan untukku saat Tahun Baru. Teman-teman di kantor menebak harganya berapa?”

Chen Danhong tertegun. “Beberapa ratus?”

“Xiao Liu bilang, minimal empat ribu. Bahkan mungkin dibawa dari Inggris,” jawab Ji Linqiu sambil tersenyum. “Ibu tidak perlu khawatir. Saat muda, ibu pernah diminta menjahit baju pengantin untuk pengantin baru di desa. Toko ini sudah kosong selama setengah tahun. Kakak Wang bersedia menyewakannya hanya tujuh puluh persen dari harga pasar. Jadi, sekitar enam ratus yuan per bulan. Tidak mahal, ‘kan?”

Mendengar harga sewa itu, bahkan Ji Guoshen yang awalnya ragu ikut terkejut. Ia menoleh ke jalan yang ramai dan kembali memandang Ji Linqiu.

“Lokasi sebagus ini, dekat dengan pintu masuk kereta bawah tanah, dan dia hanya meminta sewa sebanyak itu?”

Chen Danhong mulai melunak, meski masih sedikit ragu. “Kamu tidak keberatan kalau aku membuka toko ini?”

“Aku sangat mendukung!” Jawab Ji Guoshen setengah bercanda, bahkan mengangkat satu kakinya. “Aku sudah bergabung dengan perusahaan sekarang. Nanti, aku akan makan siang dan malam di kantin perusahaan, dan bisa mengemas beberapa makanan untukmu juga.”

“Di rumah juga tidak banyak yang perlu dirapikan. Berkebun setelah pulang kerja itu hanya hobi, benar, ‘kan?”

Akhirnya, keputusan itu pun dibuat.

Ji Linqiu merasa lega setelah mengatur segalanya untuk orang tuanya. Hari itu, seperti biasa, ia membantu Jiang Wang menjemput Peng Xingwang pulang sekolah.

Ketika Peng Xingwang keluar dari gerbang sekolah, beberapa teman sekelasnya melambaikan tangan sambil tersenyum cerah dan berkata, “Sampai jumpa!” Ekspresinya terlihat bingung.

“Kakakmu baru sampai di bandara. Dia akan kembali lusa,” kata Ji Linqiu sambil menggandeng tangan anak itu, berjalan perlahan di pinggir jalan yang disinari cahaya senja. “Apa yang terjadi hari ini?”

Peng Xingwang terdiam beberapa saat sebelum menoleh dan menatap Ji Linqiu.

“Kakak Linqiu,” ujarnya, menahan napas sesaat sebelum melanjutkan, “Mereka… memanggilku siswa terbaik!”

Sebelum bertemu Jiang Wang, di sekolah lamanya, Peng Xingwang adalah anak yang paling tidak populer, bahkan di kelas seni atau olahraga. Ia sering terpinggirkan dan jarang punya teman bermain.

Namun sejak Jiang Wang muncul, dengan segala gaya hidup mewahnya, termasuk mobil limusin, dan setelah peristiwa meloloskan diri tanpa cedera dalam insiden orang gila yang mengamuk, statusnya langsung naik drastis bak Cinderella.

Awalnya, orang-orang hanya berpikir ia akhirnya berubah menjadi lebih rapi dan menarik. Namun, ketika desas-desus tentang latar belakangnya sebagai bangsawan Inggris serta fakta bahwa keluarganya memiliki toko buku paling terkenal di kota, orang-orang mulai berusaha mendekatinya.

Meskipun begitu, Peng Xingwang tetap rendah hati, menjaga sikap agar tidak menjadi sombong. Di kota lamanya, ia hampir tidak pernah merasa bangga.

Ia sudah mendengar banyak pujian, tapi tak pernah sekalipun diberi gelar “siswa terbaik.” Mendengar itu, ia merasa seperti sedang bermimpi.

“Aku… benar-benar menjadi seorang siswa terbaik?” gumamnya dengan ekspresi penuh keajaiban.

Ji Linqiu memahaminya dengan jelas. Sambil tersenyum, ia menggandeng tangan anak itu dan melanjutkan perjalanan pulang.

Pendidikan formal memang dirancang untuk kelompok besar, tidak terlalu lambat bagi yang paling tertinggal, tapi juga tidak terlalu cepat untuk yang paling pintar. Semuanya berjalan seimbang.

Namun, Peng Xingwang berbeda. Ia mendapat pelajaran tambahan intensif setiap hari, dan memiliki seorang kakak yang giat menghafal kosa kata Inggris. Mustahil baginya untuk malas.

Dulu, saat baru pindah, ia bahkan tidak bisa memahami pertanyaan yang diajukan guru bahasa Inggris. Namun kini, buku bacaan sebelum tidur sudah berupa cerita anak dalam bahasa Inggris.

Ji Linqiu telah menyaksikan setiap kemajuan kecilnya, dan itu membuat hatinya dipenuhi kehangatan dan kebahagiaan.

“Kakak Linqiu, tadi di pelajaran matematika, guru sengaja menyisakan waktu dua puluh menit untuk memberikan soal yang sangat sulit,” kata Peng Xingwang, sedikit malu. “Tapi, guru di tempat les sudah mengajarkannya, jadi aku langsung menghitung di kertas coretan, lalu menuliskan prosesnya di papan tulis.”

“Lalu, Guru Shao bilang kami bisa pulang sepuluh menit lebih awal… seluruh kelas bersorak.”

Dia berhenti, lalu menggenggam tangan Ji Linqiu sambil berkata pelan, “Teman-teman sekelas… ternyata bisa bersorak untukku.”

“Aku sebelumnya tidak pernah menyangka, aku bisa disukai seperti ini.”

Ji Linqiu berjongkok dan mengacak-acak rambut anak itu.

“Itu bagus, ‘kan?” Dia tersenyum. “Saat pertama kali bertemu denganmu, aku merasa matamu bersinar terang. Kamu terlihat seperti anak pintar yang bisa mempelajari segalanya.”

Wajah Peng Xingwang memerah, ragu sejenak sebelum kembali berjalan bersamanya.

“Kakak Linqiu, menurutmu… kalau aku ingin belajar biola, apakah Kakak Wang akan setuju?”

“Kenapa biola?”

“Uh, ini…”

Anak itu tidak bisa menemukan alasan. Saat Ji Linqiu terus memandangnya, dia menghentakkan kakinya dan berkata, “Aku akan memberitahumu, tapi kamu jangan mengatakannya pada Kakak Wang.”

Ji Linqiu mengangkat satu tangan, “Aku bersumpah, kalau aku memberitahunya, aku akan menjadi anjing kecil.”

Peng Xingwang merasa janji itu cukup serius, lalu menurunkan suaranya, menjelaskan alasannya.

Di sekolahnya sekarang, pelajaran musik benar-benar diajarkan dengan serius. Tidak hanya tidak ada guru matematika yang masuk menggantikan pelajaran, tapi ada juga guru khusus yang mengajarkan menyanyi.

Di kelasnya, ada seorang gadis dengan rambut panjang bernama Zhou Yinxin. Dia tidak hanya pandai bernyanyi, tapi juga sangat mahir bermain piano.

Gadis itu sangat populer di kelas, juga disukai oleh guru. Dia sering diminta untuk memainkan piano sebagai pengiring kelas.

Peng Xingwang juga ingin memiliki kemampuan bermain alat musik.

Ji Linqiu merasa ini lucu. “Kamu ingin tampil duet dengannya di acara malam Tahun Baru?”

“Tidak harus,” anak itu menggeleng kuat. “Kalau aku bisa biola, aku juga bisa tampil menonjol.”

“Coba pikirkan, jika nanti murid di kelas lain membicarakan kelas kami, mereka akan berkata ada seorang yang bisa memainkan piano dan satu lagi yang bisa memainkan biola. Bukankah itu keren?”

Saat Ji Linqiu masih tersenyum padanya, anak itu buru-buru menutup mulutnya. “Aku tidak suka dia, Kakak, jangan salah paham!”

“Aku tidak mengatakan apa pun.”

“Tidak ada apa-apa! Benar-benar tidak ada!”

“Baik, besok aku akan menemanimu memilih biola.”

Akhirnya, mereka pun mencari seorang guru biola, yang memberikan kelas setiap hari Selasa dan Jumat, dan selalu ada tugas untuk berlatih setiap hari.

Ketika Jiang Wang kembali dari perjalanan bisnisnya beberapa hari kemudian, dia melihat versi mini dirinya memegang biola dan berdiri dengan penuh semangat. Dia hampir terkesan. “Anak ini, kelihatannya sangat berbakat…”

Peng Xingwang mengayunkan busur biola, menghasilkan suara seperti kucing yang terinjak ekornya.

“…bakat pantang menyerah,” Jiang Wang menyimpulkan. “Aku punya harapan untukmu.”

Hari pertama latihan, hari kedua latihan, hari ketiga masih latihan.

Dia berlatih sampai suaranya yang seperti kucing melengking berubah menjadi raungan yang hampir kehabisan napas.

Akhirnya, tetangga di bawah datang mengetuk pintu, memohon mereka lebih ramah pada binatang, bahkan menawarkan untuk mengadopsi jika perlu.

Ji Linqiu buru-buru meminta maaf, “Maaf mengganggu Anda semua… Tapi kami tidak memelihara kucing, anak ini sedang berlatih biola.”

Tetangga tua itu menunjukkan ekspresi rumit. “Benarkah?”

“Nak, apakah gurunya tidak pandai?” tanya istrinya, bingung harus berkata apa lagi.

Jiang Wang tidak merasakan suasana seni sama sekali. Setiap kali waktu latihan tiba, dia langsung menghilang ke ruang kerja.

Peng Xingwang sampai merasa sedikit tersinggung.

“Guru bilang, awal-awal belajar memang seperti ini! Aku hampir bisa memainkan ‘Twinkle Twinkle Little Star’ dengan sempurna!”

Ji Linqiu menahan tawanya, tetap memasang wajah serius. “Kakak Wang mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya.”

“Dia tidak menyayangiku lagi!” Peng Xingwang sedih. “Dia sudah berubah!!”

“Jiang Wang!” Ji Linqiu berteriak ke arah ruang kerja, “Xingwang bilang kamu sudah berubah!”

Dua menit kemudian, Jiang Wang berjalan santai keluar.

Dia melihat biola, melihat anak itu, lalu kembali melihat biola.

“Kalau biola tidak cocok, bagaimana kalau kita coba alat musik tiup?”

“Itu terlalu berisik!” balas Peng Xingwang, tidak terima.


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

Keiyuki17

tunamayoo

San

Leave a Reply