Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki, Rusma


Setelah beberapa bulan berlalu, akhirnya mereka punya waktu luang untuk berkencan bersama. Tempat yang dipilih kali ini cukup istimewa.

Sebelum mengajaknya, Bos Jiang mengemudikan mobilnya berkeliling ke hampir semua tempat romantis di kota.

Karena auranya begitu kuat—tatapannya dingin, langkahnya gesit—ia bahkan berhasil mengusir beberapa pasangan remaja yang diam-diam sedang berkencan.

Taman kota—terlalu sederhana dan biasa.

Dua pria besar berjalan-jalan, menikmati angin, memberi makan burung merpati, lalu mencari tempat untuk berciuman diam-diam? Rasanya kurang bergairah.

Hubungan mereka baru saja dimulai, belum saatnya berperilaku seperti pasangan suami istri tua.

Kebun binatang atau kebun raya—penuh dengan anak-anak.

Bahkan sebelum sampai di loket tiket, teriakan anak-anak yang memanggil ibunya sudah terdengar memekakkan telinga dari luar.

Berisik dan penuh keributan. Bahkan untuk melihat unta pun mereka harus bersaing dengan kerumunan anak-anak kecil.

Setelah memikirkan matang-matang, Jiang Wang memutuskan untuk berbagi tempat favoritnya yang ia anggap sebagai harta karun.

Ia tidak yakin apakah Ji Linqiu akan menyukai tempat berkencan yang cukup kasar ini, tapi ia merasa tetap perlu mencobanya.

Setelah Ji Linqiu masuk ke dalam mobil, ia baru sadar satu hal.

Sekarang mereka memiliki hubungan atasan dan bawahan. Sebagai bos, Jiang Wang bisa dengan mudah mengetahui jadwal luangnya, bahkan tanpa perlu bertanya sehari sebelumnya.

…Cukup seperti pepatah, “dekat dengan sumur, lebih mudah mendapatkan airnya.”

Kalau ini terjadi setahun yang lalu, Ji Linqiu yang masih mengajar anak-anak mengeja ABCD, tidak akan mungkin bisa meluangkan waktu untuk bermain di hari kerja.

Tempat yang mereka tuju cukup jauh, membutuhkan lebih dari empat puluh menit perjalanan. Di sepanjang jalan, Jiang Wang dengan santai memperkenalkan tempat itu.

“Aku menjalani prosedur untuk mendapatkan lisensi beberapa waktu lalu, dan aku mengenal banyak teman polisi selama prosesnya.”

“Mereka bilang di daerah utara kota, dekat Gunung Lüshan, ada klub pribadi. Biaya keanggotaannya tidak mahal, prosedurnya legal, dan koleksi senjatanya lumayan lengkap. Klub itu sering bekerja sama dengan proyek pemerintah.”

Sambil membersihkan debu di kaleng cola dengan tisu, Ji Linqiu terlebih dulu memberikan minum kepada Jiang Wang, lalu ia sendiri meminumnya dengan tenang. Ia tampak sangat manis.

“Kamu hebat sekali.”

“Ah, ini biasa saja,” Jiang Wang tersenyum bangga. “Aku sudah lama tidak menyentuh senjata sungguhan, akurasi tembakanku juga sudah tidak seperti dulu.”

“Aku rasa, di mana pun kamu berada, kamu selalu bisa dengan mudah berteman. Itu luar biasa.” Ji Linqiu kembali memberikan cola untuk diminum Jiang Wang, sambil tersenyum. “Awalnya kamu terlihat agak galak, tapi anehnya kamu bisa cocok dengan siapa saja. Bahkan nenek-nenek bisa tertawa mendengarmu bicara.”

“Seperti seorang guru, kamu juga harus punya kemampuan seperti itu, ‘kan?” jawab Jiang Wang santai.

“Itu berbeda,” Ji Linqiu menggeleng sambil tersenyum. “Aku bisa melihat, kamu melakukannya dengan tulus.”

Dan itulah yang paling ia sukai dari Jiang Wang.

Klub Xufeng terletak di tengah hutan pohon plum merah. Di depan gerbangnya, berdiri pohon Bungur besar yang usianya sudah cukup tua. Musim sudah memasuki akhir musim gugur, bunganya telah berguguran, menyisakan buah kering yang tergantung di ranting.

Awalnya Ji Linqiu berpikir tempat ini akan sangat mewah, tapi setelah masuk, ia mendapati interiornya lebih mirip gabungan antara hotel bintang empat dan wisata pedesaan, jauh dari kesan arena tembak modern seperti di film Hong Kong.

Area tembak terbagi menjadi dalam ruangan dan luar ruangan. Di luar ruangan, terdapat sederetan bangunan sederhana dengan jendela tempat menargetkan sasaran jauh di rerumputan. Meski sederhana, fasilitasnya sangat fungsional.

Saat melangkah lebih jauh, ia melihat rantai besi tergantung di udara.

“Apa itu…?”

Jiang Wang mendekat untuk memeriksa. “Oh, ini untuk membantu pemula. Rantai itu digunakan untuk menstabilkan senapan agar tidak kehilangan kendali.”

Ia lalu mengajaknya ke meja pendaftaran, tempat dinding panjang dipenuhi berbagai jenis senapan dari Rusia, Jerman, hingga Tiongkok.

Pemandangan itu seperti gudang senjata Soviet yang dipersiapkan untuk berburu hari ini dan bertempur keesokan harinya.

Staf klub menyambut mereka dengan ramah, bahkan menyuguhkan dua cangkir teh krisan dingin.

“Lama tidak bertemu, Bos Jiang! Kami baru menambahkan layanan berburu hewan langsung di gunung, ada kelinci liar, ayam kampung, bahkan anjing pemburu yang bisa disewa!”

“Hari ini aku membawa temanku,” Jiang Wang mengisyaratkan agar staf memperhatikan Ji Linqiu. “Dia pemula. Pilihkan senapan dengan hentakan lebih ringan supaya bahunya tidak sakit.”

“Haruskah aku melakukannya?” Ji Linqiu tersenyum malu. “Aku tidak bisa. Aku belum pernah mencoba hal seperti ini. Hari ini aku akan melihat-lihat saja bagaimana Saudara Wang bermain.”

Jiang Wang berpikir sejenak, lalu berkata kepada staf, “Tidak apa-apa, nanti aku akan mengajarinya langsung.”

Staf itu mengerti dan memberi salam hormat sebelum pergi. “Semoga kalian berdua bersenang-senang!”

Jiang Wang memilih dua senapan dan membawanya ke jendela tembak. Ia dengan cekatan membongkar dan merakit senapan itu, sambil menjelaskan detailnya.

“Latihan militer dan penggunaan senjata untuk rekreasi memang berbeda jauh. Dulu aku harus mengikuti pelatihan selama beberapa minggu baru bisa memahami semuanya.”

“Ini tempat untuk memasukkan magazin, di sini bisa dipasang peredam.” Saat berbicara, ia menyadari Ji Linqiu tidak memperhatikan senapan, tapi menatapnya.

Ia seketika merasa sedikit gugup.

“Tempat yang aku pilih ini… membosankan, ya?” Jiang Wang khawatir pasangannya tidak menyukai tempat itu. “Kalau mau, kita bisa ke taman saja.”

Ji Linqiu tiba-tiba mendekat dan mencium pipinya, lalu tersenyum. “Tidak apa-apa, lanjutkan saja.”

Jiang Wang yang terkejut hanya bisa berkedip, lalu dengan canggung bertanya, “Sungguh kamu tidak merasa bosan?”

Ji Linqiu menggeleng cepat, lalu berbisik di telinganya, “Kamu terlihat begitu keren.”

Pujian itu membuat Jiang Wang kembali percaya diri. Ia memegang senapan 7.62, membuka kunci pengaman, mengisi peluru, dan mengarahkan dengan pandangan tajam yang penuh fokus.

Suara peluru menembus udara dengan nyaring. Layar elektronik menunjukkan angka: 9.9.

Ia tetap tenang, lalu melepaskan tiga tembakan beruntun dengan akurasi tinggi.

Aura Jiang Wang seketika berubah menjadi tajam, penuh daya tarik yang berbahaya.

Ji Linqiu menelan ludah, diam-diam menyesal tidak mendaftar wajib militer.

Dengan hati-hati, ia menyentuh senapan di meja. Jiang Wang kebetulan menoleh, “Ayo, aku akan mengajarimu.”

Ji Linqiu tidak menolak lagi. Ia fokus mendengarkan setiap instruksi, sementara bahu dan tangannya sepenuhnya dipandu oleh Jiang Wang.

Membuka kunci pengaman, mengisi peluru, memasang, membidik, dan menarik pelatuk.

Begitu peluru keluar dari laras, daya tolaknya langsung meledak, memaksa bahunya terdorong ke belakang. Namun, seketika itu juga tubuhnya tertahan oleh dada kokoh Jiang Wang, yang dengan sikap tegas menahan balik kekuatan tersebut. Dua kekuatan saling bertabrakan dengan intens.

Pada detik itu, Jiang Wang menggenggam erat pergelangan tangannya, menekan hingga bahu dan sikunya terasa sedikit nyeri—sebuah kontrol sepihak. Namun, tindakan itu juga memberikan dukungan yang cukup bagi Ji Linqiu untuk melepaskan tembakan pertamanya dengan cantik dan tepat, langsung mengenai lingkaran sembilan.

“Bagus.” Tatapan pria itu tertuju pada titik di kejauhan, suaranya tenang dan mantap. “Coba sekali lagi.”

Dia menahan bahunya, menggenggam erat pergelangannya.

“Tiga, dua, satu.”

“Bang!”

Ji Linqiu terpaku sesaat, lalu berseru riang ketika melihat skornya, “Sembilan koma lima!”

“Hebat sekali,” Jiang Wang tersenyum. “Coba lagi.”

Ji Linqiu, yang memiliki bakat alami, mempelajari segalanya dengan cepat. Namun, karena terbiasa memegang kapur yang ringan, dia sedikit kesulitan menyesuaikan diri dengan berat dan hentakan senjata. Oleh karena itu, Jiang Wang terus berada di sampingnya, membantu menahan daya tolak senjata agar dia tidak merasa kesakitan.

Suara tembakan yang meledak dan aroma mesiu yang menyelimuti menciptakan suasana yang membara.

Jiang Wang menyadari betapa cepatnya Ji Linqiu belajar dan memujinya, “Kalau saja dulu kamu masuk militer, mungkin sekarang kamu sudah menjadi perwira staf.”

Ji Linqiu tertawa, senyumnya tetap lembut dan tenang seperti biasanya. “Mana mungkin.”

Arena tembak itu memiliki banyak variasi permainan. Salah satunya adalah menembak piringan terbang dengan senapan semi-otomatis. Ada juga senapan kaliber besar, peluru berharga sepuluh yuan per butir, bahkan bisa mencoba senjata era Perang Dunia II berkaliber 5,6 mm.

Setelah beberapa waktu mengajari Ji Linqiu, Jiang Wang mundur untuk membiarkannya bermain sendiri, hanya memberikan peringatan untuk selalu menjaga agar moncong senjata tidak mengarah ke orang lain demi menghindari kecelakaan.

Ji Linqiu kemudian berdiri dengan tenang, memegang senapan, dan mulai fokus. Dia dengan hati-hati memasukkan peluru, mengokang senjata, dan mengatur napas hingga hampir tak terdengar.

“Bang!”

Satu tembakan diikuti dengan cepat oleh tembakan kedua dan ketiga. Pandangannya stabil, dan tangannya tetap kokoh meski bahu dan lengannya masih sedikit goyah.

Seperti seorang cendekiawan yang menjinakkan kuda liar, tindakannya terlihat halus tapi penuh ketegasan, menciptakan kesan yang luar biasa.

Jiang Wang memperhatikan dari samping dan memutuskan bahwa dia harus lebih sering membawa kekasihnya ke sini.

Ji Linqiu berhenti setelah menghabiskan seluruh peluru di magazin, lalu mengusap bahunya sambil tersenyum malu-malu. “Aku masih kurang mahir. Jadi aku harus lebih sering berlatih.”

Setiap kali Ji Linqiu menampilkan senyum polos seperti itu, Jiang Wang merasa sulit menahan diri.

Namun, karena ada banyak staf yang berlalu-lalang di sekitar mereka, mencuri ciuman tidaklah memungkinkan.

Saat berbicara lagi, Jiang Wang merasa tenggorokannya kering. Dia berdeham pelan dan berkata, “Bagaimana kalau sekarang… kamu melihatku bermain?”

“Baik.”

Jiang Wang, dengan sengaja ingin pamer, menunjukkan kemampuannya menembak piringan terbang di depan Ji Linqiu.

Setiap tembakannya tepat sasaran, cepat dan tajam.

Piringan-piringan yang beterbangan seperti burung di udara hancur berkeping-keping, menghasilkan suara yang renyah.

Anehnya, meski sebelumnya dia sudah lama tidak menyentuh senjata karena kesibukan pekerjaan, hari ini, dengan Ji Linqiu berdiri di dekatnya, dia tidak membuat satu kesalahan pun.

Memamerkan keterampilan dengan bangga dan penuh percaya diri.

Beberapa penggemar militer tua yang sebelumnya sedang minum teh di paviliun langsung berdatangan mendekat, memuji tanpa henti.

“Hebat sekali! Bagaimana bisa tembakannya seakurat itu?”

“Dari sikap berdirinya saja sudah terlihat, orang ini jelas pernah berlatih!”

Mereka bermain hingga matahari terbenam, lalu kembali ke kota dengan perasaan puas.

Begitu duduk di dalam mobil, Ji Linqiu, dengan wajah memerah, tiba-tiba mendekat untuk mencium Jiang Wang.

Dia biasanya pendiam, jarang sekali mengambil inisiatif seperti ini. Terlebih lagi, ciuman itu dilakukan di tempat parkir, di mana ada kemungkinan orang lain melintas.

Mereka berdua sama-sama lelah setelah bermain, sehingga suara napas mereka yang sedikit berat terdengar lebih jelas di dalam ruang mobil yang sempit, menciptakan suasana yang intim.

“Tadi aku terus melihatmu,” bisik Ji Linqiu di sela-sela ciuman, seperti sedang bersikap manja. Dia mencium Jiang Wang sekali, menatapnya, lalu mencium lagi berkali-kali. “Melihatmu membuat jantungku berdegup kencang.”

Jiang Wang tertawa kecil. “Apakah kamu terpikat padaku?”

Ji Linqiu menjawab pelan, dengan nada yang sangat jinak. “Iya.”

Setelah itu, dia menyandarkan tubuhnya ke dada Jiang Wang, mengusap lembut dadanya dengan ujung hidung, dan bergumam, “Aku jadi tidak bisa berhenti membayangkan, saat kamu dulu menjadi seorang tentara…”

Dia mengusap leher Jiang Wang dengan satu tangan, matanya yang basah tampak memerah karena emosi. “Pasti kamu terlihat sangat mempesona saat memakai seragam militer.”

Jiang Wang menunduk untuk menggigit ringan ujung telinganya.

“Harusnya aku membawamu ke sini sejak lama.”

Tadi, saat melihat Ji Linqiu memegang senapan dengan serius, hatinya berdebar begitu kencang hingga ingin mengucapkan cinta untuk kedua kalinya.

Bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa begitu lembut namun penuh semangat, membuatnya jatuh cinta pada setiap gerak-geriknya?

Berpacaran benar-benar terasa luar biasa.


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

Keiyuki17

tunamayoo

San

Leave a Reply