English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Proofreader: Rusma


2. Bayangan Bilah Hitam yang Melayang Seperti Dulu


Di atas Benxiao, Duan Ling bersandar di dada Lang Junxia, dan gunung-gunung di kedua sisi mereka terlihat melintas dengan cepat. Hal ini mengingatkannya pada malam ketika Lang Junxia membawanya pergi dari Runan; gunung-gunung berdiri seperti bentuk-bentuk dalam permainan bayangan, sementara pohon-pohon pinus yang bergoyang dan sungai-sungai yang sangat lebar telah berubah menjadi bayangan yang saling terkait satu demi satu yang berputar dengan lentera ajaib1Bentuk paling awal yang diketahui dari kamera obscura., sosok-sosok buram mereka di atas kertas jendela yang dilingkari cahaya merah dan kuning.

Melalui cahaya lentera yang terang, bayangan yang kabur dan tidak jelas telah menerpa matanya yang masih muda dan polos, seakan-akan dia telah mengintip ke dunia lain.2Dia merujuk pada adegan di Viburnum di mana dia melihat Lang Junxia telanjang. Buku 1, Ch 1 Bagian 2

“Lang Junxia,” Duan Ling mendongak untuk berbicara.

Lang Junxia menghela napas pelan sebagai jawaban.

“Apa yang terjadi sebelumnya… tolong jangan ceritakan,” kata Duan Ling sambil tersenyum.

Lang Junxia tidak menjawabnya. Sebaliknya, dia bertanya, “Apa kau kedinginan?”

Suhu tubuh Lang Junxia tidak seperti Wu Du, yang selalu panas menyengat; kadang-kadang, bahkan melalui pakaian mereka, Duan Ling bisa merasakan vitalitas yang penuh semangat dan kuat dalam diri Wu Du.

“Aku tidak kedinginan,” kata Duan Ling. “Apa yang terjadi terakhir kali membuatnya mendapatkan dua puluh pukulan dengan pentungan…”

Terakhir kali Duan Ling dan Wu Du tertangkap basah sedang bermesraan, Wu Du didakwa oleh Sensor Kekaisaran dan akhirnya dipukuli setengah mati. Meskipun Duan Ling tahu bahwa Lang Junxia tidak akan memberitahunya, dia selalu memiliki perasaan bahwa ada sesuatu yang tidak baik di antara mereka – Lang Junxia tampaknya secara naluriah memusuhi Wu Du.

“Apa yang kau sukai darinya?” Lang Junxia bertanya tiba-tiba.

“Oh?” Duan Ling tidak tahu darimana hal itu berasal.

Sudut mulut Lang Junxia sedikit terangkat dengan senyuman yang mungkin ada atau tidak ada.

Duan Ling dan Wu Du telah bertukar sumpah cinta mereka sejak lama, jadi ditanyai hal ini secara tiba-tiba, dia sebenarnya tidak yakin bagaimana menjawabnya. Sudut mulutnya bergerak-gerak.

“Aku menyukainya karena.. dia pandai seni bela diri?”

“Chang Liujun juga pandai seni bela diri.”

Duan Ling tersenyum kemudian. “Dia bisa memasak untukku.”

Lang Junxia berkata dengan santai, “Makanan Zheng Yan lebih baik daripada miliknya.”

“Dia… tampan.”

“Pamanmu lebih tampan daripada dia.”

“Dia baik padaku.”

“Semua orang baik kepadamu. Terutama yang satu itu.3Dia mengacu pada Li Jianhong.

Duan Ling bahkan tidak yakin apa yang harus dikatakannya lagi, dan akhirnya berkata, “Aku hanya menyukainya, itu saja. Aku tidak tahu mengapa aku menyukainya.”

“Dia hanya beruntung,” kata Lang Junxia dengan santai. “Hari masih panjang, jadi pada akhirnya kau tidak akan begitu menyukainya lagi. Semua anak menyukai hal baru. Dia hanya kebetulan bergaul denganmu.”

“Itu tidak akan terjadi,” kata Duan Ling sambil mulai mengerutkan kening. “Perasaanku ini bisa bertahan.”

“Tentu,” kata Lang Junxia dengan santai, “kau tidak berperasaan seperti aku.”

“Apa yang kau bicarakan?!” Duan Ling tertawa, mengulurkan tangan untuk menggelitiknya. Lang Junxia kemudian mengambil tangan Duan Ling dan menekannya ke perutnya, menghangatkannya.

“Kau cemburu, bukan?” Duan Ling berkata, “Bukannya aku tidak menginginkanmu lagi hanya karena aku bersama Wu Du.”

“Cemburu? Aku tidak akan pernah berani.”

Tatapan Duan Ling berkedip-kedip ke sana kemari saat ia mencuri pandang ke wajah Lang Junxia, mencoba memastikan ekspresinya. Dia selalu seperti ini, tampak acuh tak acuh, emosinya tidak pernah tergambar di wajahnya. Kadang-kadang dia akan menilai bahwa Lang Junxia marah karena sesuatu yang dia katakan, tetapi kemudian dengan kalimat berikutnya, sepertinya tidak ada yang terjadi. Dia tidak pernah melihatnya meneteskan air mata, dan juga jarang melihatnya tersenyum.

“Kita sudah sampai,” kata Lang Junxia. “Untuk malam ini, kita akan tinggal di pegunungan, dan pergi ke Baihe besok.”

Pegunungan Xianbei adalah daerah kekuasaan Lang Junxia, dan jelas sekali dia sudah berada di sini sebelumnya, karena semuanya sudah siap dan menunggu mereka. Ketika mereka memasuki desa, seseorang datang untuk menyambut mereka dan menuntun kuda mereka pergi ke kandang, dan mereka yang melewati keduanya memberi hormat kepada Lang Junxia, memanggilnya Yang Mulia Pangeran dalam bahasa Xianbei.

Suku Xianbei memiliki hidung mancung dan mata yang dalam; para pria memiliki wajah yang tampan, sementara para wanitanya cantik dan anggun, dengan pakaian yang khas dengan budaya mereka. Hanya Lang Junxia yang berjalan-jalan dengan mantel Han, meskipun itu tidak menyembunyikan kebangsawanannya.

Dia membawa Duan Ling ke penginapan mereka di mana mereka akan menginap untuk malam itu. Bagian dalam rumah telah dibersihkan secara menyeluruh, dan ada pakaian baru yang disiapkan untuk mereka berdua. Setelah berhari-hari di jalan, Duan Ling sudah kelelahan, dan dia mencoba untuk merebahkan diri di tempat tidur begitu dia melihatnya. Menyadari apa yang akan dia lakukan, Lang Junxia dengan cepat memegang pinggangnya.

“Minumlah air terlebih dulu,” kata Lang Junxia. “Aku tahu kau lelah.”

Duan Ling mengambil beberapa tegukan mata air jernih yang dingin dari cangkir di tangan Lang Junxia. Lang Junxia kemudian membuka jubahnya. Duan Ling sudah berhari-hari tidak mandi, dan dia merasa gatal di sekujur tubuhnya. Begitu dia melepaskan pakaiannya dan berdiri telanjang di depan cermin, dia merasa sedikit malu.

Lang Junxia menyadari rasa malu dan ketidaknyamanannya, lalu dia memakaikan jubah rami padanya sebelum membawanya berkeliling di sekitar layar. Ada sebuah bak mandi di belakang layar, berisi air panas. Dia menyuruh Duan Ling untuk mandi terlebih dahulu.

“Ada sumber air panas di pegunungan,” kata Lang Junxia sambil duduk di luar layar. “Setelah perang ini selesai, aku akan membawamu ke sana untuk berendam.”

“Eh.”

Lang Junxia bertanya, “Apa kau ingin aku menggosok punggungmu?”

Ada sedikit warna merah muda di pipi Duan Ling, dan dia meringkuk di dalam air. Lang Junxia melanjutkan sebelum dia mendapat jawaban, “Jika aku tahu ini akan terjadi, aku tidak akan menyuruh Wu Du pergi. Dia bisa saja menunggumu.”

Mengingat bahwa ketika dia masih kecil, Lang Junxia selalu menjadi orang yang memandikannya, Duan Ling berkata, “Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya berpikir kau juga harus beristirahat.”

Lang Junxia datang dengan membawa handuk, dan dia membantu Duan Ling mencuci rambut dan menggosok punggungnya. Tak lama kemudian, seseorang membawakan mereka buah – raspberry yang baru dipetik dari pegunungan, manis dan asam, terasa dingin di lidah; Duan Ling akhirnya makan cukup banyak. Hanya setelah Duan Ling mandi dan beristirahat sepenuhnya, Lang Junxia menyuruhnya duduk di tempat tidur, sementara dia sendiri masuk ke dalam air mandi yang baru saja digunakan Duan Ling.

“Suruh mereka membawa bak mandi yang lain,” kata Duan Ling segera.

“Itu terlalu merepotkan.” Tubuh Lang Junxia yang telanjang dan atletis terpampang di layar, membentuk siluet yang proporsional, seindah dan segagah kuda. Dia mengusap dadanya sendiri.

Maka Duan Ling duduk di sana sambil memegang penghangat tangan dan membiarkan pikirannya mengembara sejenak, mendengarkan suara air yang datang dari balik layar. Tidak lama kemudian, Lang Junxia berkata tanpa basa-basi, “Kau adalah putra mahkota, Duan Ling.”

“Aku tahu-” Duan Ling berkata, menyeret suku kata terakhir. “Maafkan aku.”

“Kau selalu bermain-main dengan keselamatanmu, membuat orang-orangmu ketakutan – apa yang akan dipikirkan oleh bawahanmu? Saat pertempuran dimulai, kau langsung menyerang dengan mengandalkan fakta bahwa ada yang melindungimu. Segera setelah kau terpisah, semua orang takut bahwa kau akan jatuh ke tangan Mongolia. Kau tidak tahu bahwa beberapa orang lebih suka mati daripada melihatmu kehilangan sehelai rambut pun di kepalamu.”

Duan Ling merasa sedikit murung dengan ceramahnya. “Aku tidak akan melakukannya lagi. Dan aku juga tidak melakukannya dengan sengaja. Terlebih lagi, kami disergap, pada awalnya.”

Lang Junxia tahu kapan harus berhenti, jadi dia tidak melanjutkannya.

Setelah Duan Ling mengatakan itu, dia merasa semakin tertekan. Dia jatuh ke tempat tidur ke belakang, merentangkan tangannya, dan bergumam pada dirinya sendiri, “Sejarawan masa depan pasti akan mengatakan bahwa aku adalah penguasa yang tidak kompeten. Jika kalian semua meninggalkanku suatu hari nanti, setidaknya aku akan membuat contoh buruk bagi keturunanku.”

Gerakan Lang Junxia berhenti sejenak seolah-olah dia ingin menambahkan sesuatu, tetapi akhirnya menahan lidahnya.

Setelah hening sejenak, Lang Junxia berkata, “Aku berbicara terlalu banyak.”

“Kau, tidak,” jawab Duan Ling dengan lelah. Saat itulah Lang Junxia muncul di layar, selesai mandi dan mengenakan jubah brokat bersulam serigala putih. Wajahnya secantik batu giok, menyilaukan mata. Melihatnya membuat suasana hati Duan Ling menjadi baik.

Lang Junxia memberi tahu para pelayan bahwa mereka dapat mulai menyajikan makan malam, yaitu daging panggang yang dibungkus dengan daun Shiso yang biasa dimakan oleh keluarga Xianbei. Lang Junxia mencuci tangannya lagi, dengan hati-hati membungkus makanan Duan Ling dengan shiso, dan menuangkan segelas susu rusa manis, menunggunya sambil makan.

Melihat gerakan anggun Lang Junxia, Duan Ling berpikir bahwa seperti inilah seharusnya seorang pangeran bersikap. Tidak seperti dirinya, yang manja busuk dan berlarian sepanjang waktu seperti orang barbar.

“Kita harus bertukar tempat,” kata Duan Ling sambil tersenyum. “Menurutku, kau lebih seperti putra mahkota suku Han, sedangkan aku seperti raja barbar kecil dari suku Lolo.”

“Selama kau sadar.” Mata Lang Junxia tersenyum. “Ini semua adalah makanan yang kau suka.”

“Kau tahu selama ini bahwa Wu Du dan aku berada di ngarai itu, bukan?” Duan Ling berkata dengan curiga. Bagaimana lagi Lang Junxia bisa menyiapkan semuanya dengan begitu cepat? Lang Junxia pasti menemukannya tadi malam dan mengendarai Benxiao kembali ke sini terlebih dahulu untuk memastikan semuanya siap untuknya sebelum naik untuk menjemputnya.

Lang Junxia mengangkat alis tetapi tidak menjawab. Mungkin dia bisa merasakan apa yang dirasakan Duan Ling, dan dengan demikian bertindak sedikit lebih akrab terhadapnya, menyuruhnya makan lagi.

“Kau tidak akan bangkrut karena makanan ini, kan?” Duan Ling menyadari bahwa perjamuan itu penuh dengan makanan lezat yang bahkan tidak dapat dia temukan di istana kekaisaran di dataran tengah – entah itu urat rusa atau lidah rusa, yang membuatnya bertanya-tanya berapa banyak juru masak yang ada di dapur hanya untuk melayaninya. Kesannya terhadap suku Wuluohou di Pegunungan Xianbei adalah bahwa mereka cukup miskin; dia tidak ingin Lang Junxia kehilangan seluruh kekayaannya hanya karena satu kali makan untuk putra mahkota. Dia tidak mungkin melakukan itu padanya.

“Ini semua karenamu,” kata Lang Junxia tanpa basa-basi. “Kau telah memberikan Pegunungan Xianbei kepada suku Wuluohou, membebaskan kami dari pajak cukai, dan juga memberikan hadiah, jadi tempat ini berhutang budi kepadamu.”

“Pegunungan itu adalah milik bangsamu sejak awal.” Duan Ling sangat kenyang sampai hampir tidak bisa bergerak, tetapi dia masih menatap nampan puding bunga plum di atas meja, memperkirakan berapa banyak yang bisa dia muat di perutnya jika dia menghabiskan semuanya.

Ketika dia akhirnya berhasil menghabiskan semuanya, Lang Junxia menyeduh secangkir teh ginseng untuknya.

Duan Ling meminum tehnya dan berkata, “Di masa lalu, suku Han lah yang berhutang budi padamu.”

“Itu adalah hutang suku Han kepada kami, tapi bukan hutangmu kepada kami.”

Duan Ling tersenyum. “Aku juga orang Han. Aku seorang Han di antara orang Han.”

Lang Junxia berkata dengan dingin, “Kau adalah Xianbei.”

Duan Ling menatapnya, terperangah.

Mereka saling menatap satu sama lain selama beberapa saat. Duan Ling hampir memuntahkan tehnya.

Lang Junxia berkata dengan santai, “Sejak hari pertama aku bertemu denganmu, aku memperlakukanmu sebagai Xianbei. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai Han.”

Jika ini tersebar, itu akan menjadi lebih dari dua puluh pukulan dengan pentungan untukmu, pikir Duan Ling, tetapi dia sebenarnya cukup senang mendengarnya dari Lang Junxia – seolah-olah Lang Junxia telah mengakui adanya hubungan di antara mereka.

“Bangun dan berjalan-jalanlah. Itu akan membantumu mencerna makananmu,” kata Lang Junxia.

“Aku ingin berbaring.” Setelah makan sampai kenyang, Duan Ling tidak mau bergerak sama sekali.

“Bangun dan berjalan-jalanlah.”

“Aku ingin berbaring,” kata Duan Ling dengan keras kepala.

Para pelayan membereskan meja. Lang Junxia tidak bisa membuat Duan Ling melakukan apa pun, jadi dia hanya bisa membiarkannya berbaring di sana. Di luar sangat dingin; Duan Ling tidak akan pergi meskipun kau mengancamnya dengan kematian.

“Aku akan mengajakmu melihat bintang,” Lang Junxia mencoba lagi.

“Aku tidak ingin melihat mereka.” Duan Ling bergeming, tidak peduli apa yang dikatakan orang lain.

Lang Junxia hanya bisa duduk di samping tempat tidur dan memakan sisa makanan Duan Ling. Dia sedikit lelah setelah makan malam. Duan Ling melirik ke arahnya; dia tahu Lang Junxia ingin berbaring bersamanya.

Sudah lama sekali mereka tidak memiliki waktu berdua bersama. Setelah dia dan Wu Du menjadi pasangan, Duan Ling berpikir bahwa dia benar-benar telah meninggalkan Lang Junxia dalam kedinginan.

Duan Ling bergeser lebih dekat ke dinding, memberi ruang. Lang Junxia mengambil kesempatan ini untuk setengah berbaring, menjaga satu kaki dari tempat tidur.

“Aku akan turun sebentar lagi,” kata Lang Junxia.

“Ini adalah rumahmu,” kata Duan Ling. “Kau adalah penguasa Wulouhou.”

“Aku adalah penguasa Wuluohou, tapi kau adalah penguasaku,” kata Lang Junxia dengan tenang sebelum menoleh ke arah Duan Ling.

“Kadang-kadang aku berpikir mungkin aku harus membiarkanmu kembali ke sini untuk memimpin Xianbei …”

“Aku tidak pernah mengatakan aku ingin kembali. Jangan memutuskan sesuatu sendiri.”

Duan Ling tidak bisa menahan tawa. Dia berbalik dan menatap profil Lang Junxia.

“Apa kau suka di sini?” Lang Junxia bertanya.

“Ya,” jawab Duan Ling.

Tempat itu sunyi. Tidak ada suara yang terdengar kecuali gumaman salju yang turun di pegunungan.

“Jika kau suka di sini, kau bisa datang sesering mungkin.”

“Setiap kali aku datang, seluruh desa harus menungguku. Semua orang akan berputar seperti gasing selama aku di sini. Jika aku datang lagi, aku hanya akan membuatmu lebih repot.”

“Aku tidak memiliki sesuatu yang bisa kuberikan kepadamu,” kata Lang Junxia. “Tidak masalah, kami bisa menghiburmu untuk sementara waktu.”

“Ya.” Duan Ling mulai mengantuk, jadi Lang Junxia menarik selimut di atasnya. Duan Ling menguap dengan mata terpejam.

Dan Lang Junxia diam-diam mengawasinya tidur, tidak berkedip.

Duan Ling tidak tahu berapa lama dia tidur sampai dia mendengar teriakan pertempuran yang teredam. Lang Junxia langsung mendongak, ada kerutan yang dalam di antara kedua alisnya.

Di luar, seseorang meneriakkan sesuatu dalam bahasa Xianbei, dan Lang Junxia turun dari tempat tidur secepat hembusan angin. Duan Ling mulai bangun juga.

Pada saat dia bangun, Lang Junxia baru saja selesai berganti pakaian menjadi jubah bela diri hitam. Belati dikenakan di pinggangnya, dan sabuk kulit untuk tali kekang disampirkan di dadanya, tersembunyi di balik jubahnya.

“Siapa di sana?” Duan Ling menoleh untuk mendengarkan. Ada keuntungan menjadi putra mahkota yang memiliki kecenderungan untuk berlari ke mana-mana, sebenarnya. Paling tidak, setiap kali ada tanda-tanda bahaya, dia bisa bereaksi lebih cepat daripada pejabat sipil mana pun. Dengan cepat dia turun dari tempat tidur, menarik jubah untuk menutupi dirinya. Dia mengambil busur berburu, memeriksa beratnya, menemukan tempat anak panah dan mulai menghitung anak panah di dalamnya.

“Tidak tahu,” jawab Lang Junxia. “Ayo kita pergi lewat pintu belakang.”

“Apa maksudmu pergi? Ayo kita bertarung!”

“Kau…” Lang Junxia berkata, mengerutkan kening, “kau semakin sulit diatur dari hari ke hari!”

Duan Ling mengambil makanan dari orang Xianbei, jadi bagaimana dia bisa pergi begitu saja? Jika Han tidak berperang dengan Goryeon, api perang tidak akan terpancing ke Pegunungan Xianbei lagi. Kali ini, dia sama sekali tidak boleh melarikan diri.

“Tidak mungkin ada pasukan berskala besar,” kata Duan Ling. “Medan di sini rumit, jadi tidak ada gunanya mencoba menempatkan pasukan di wilayah ini. Itu hanya akan menyebabkan serangan Han. Ini pasti adalah sekelompok pengintai, dan jumlahnya juga tidak akan terlalu banyak. Aku yakin mereka kurang dari seratus orang – kita bisa mengalahkan mereka.”

Di tengah malam, para pemburu Xianbei telah berubah menjadi kekuatan penuh. Pada saat Duan Ling dan Lang Junxia keluar, pertempuran yang kacau telah terjadi. Sangat gelap sehingga mereka tidak bisa mengetahui berapa banyak prajurit musuh yang ada.

“Bentuk perimeter pertahanan!” Duan Ling berteriak. “Pedang ke garis depan, pemanah di atap. Lindungi kami!”

Musuh tampaknya adalah pengintai yang terlatih, tetapi dia tidak bisa mengatakan dari bangsa mana mereka berasal saat mereka mulai menyerbu desa. Jumlah mereka kurang dari seratus orang seperti yang diperhitungkan Duan Ling, tetapi meskipun begitu, penduduk desa merasa sulit untuk menangkis mereka.

Lang Junxia berkata, “Aku akan menyerang ke depan, kau mundur.”

Duan Ling mundur dengan patuh. Dengan pedang di kedua tangannya, Lang Junxia menghilang ke dalam malam seperti bayangan, dan kepergiannya diikuti oleh serangkaian teriakan. Duan Ling menghitungnya dengan gugup; satu putaran serangan dari Lang Junxia telah menewaskan tujuh belas orang, dan musuh mulai panik, mundur.

Kemudian ada lebih banyak keributan – di sekeliling mereka, terompet perang ditiup, dan gemuruh derap kaki mengirimkan getaran ke seluruh bumi.

Ini buruk, pikir Duan Ling. Apakah orang-orang Mongolia ada di sini? Apa yang sedang terjadi?

“Awas!” Suara Lang Junxia berteriak dengan marah.

Sebuah anak panah melesat di udara ke arah Duan Ling, berkilauan dalam kegelapan. Duan Ling menoleh dengan tiba-tiba saat anak panah lain terbang ke arahnya, menghancurkan anak panah pertama menjadi serpihan kayu.

Duan Ling berteriak ketika dua prajurit musuh berhasil melewati pagar ke arahnya. Sebuah pedang berat berputar di udara dan menabrak kedua prajurit itu dengan keras, menghantam mereka dengan keras hingga darah muncrat dari mulut mereka saat mereka jatuh ke tanah.

Seseorang bersiul.

Di belakang kandang kuda, Benxiao tiba-tiba mendongak, meronta dari tali kekang, dan menyerbu ke arah Duan Ling.

Tidak ada yang lain selain kebingungan di mata Duan Ling, tetapi sebelum dia bisa berteriak, Benxiao sudah berjalan ke arahnya. Ia melompati pagar dan menginjak-injak semuanya.

Kemudian seorang pria berbaju zirah lengkap dan memegang tombak menyapu senjata di depannya, membersihkan jalannya. Setiap kali sepatu bot perangnya menginjak seorang prajurit musuh, terdengar bunyi gedebuk yang tumpul, dan setiap kali dia dengan santai menunjuk ke dalam kegelapan dengan tombaknya, seorang prajurit musuh akan jatuh ke tanah seolah-olah terbuat dari kertas.

Sebelum Duan Ling sempat berteriak, pria itu sudah menerjang ke arahnya, dan mengangkatnya seperti karung beras, lalu melemparkannya ke punggung Benxiao. Kemudian dia mencopot helmnya sendiri dan menaruhnya di atas kepala Duan Ling sebelum naik ke atas kudanya sendiri.

Sekarang Duan Ling mendorong helmnya, dan berteriak, “Ayah -!”

Li Jianhong terlihat sangat mengerikan, sosoknya yang agung menutupi Duan Ling seperti gunung yang menjulang tinggi, menghalangi semua anak panah yang terbang dengan kacau ke segala arah.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

Leave a Reply