English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Rusma
Proofreader: Keiyuki17


1. Cahaya Bintang Bersinar di Sembilan Belas Provinsi


Ada salju di utara Tembok Besar, dan salju di selatan Tembok Besar, tetapi warnanya tidak sama.

Salju di dataran tengah berwarna seperti es dan giok. Salju ini jatuh seperti bundel lembut yang membungkus kapas dan biji willow, melayang melintasi langit, berkelok-kelok di setiap malam yang dingin, memantulkan dan membiaskan cahaya lentera yang beraneka ragam yang bersinar dari segala penjuru.

Sedangkan salju di utara berwarna terang. Ia jatuh seperti bintang yang berjatuhan ke dunia fana, tajam, menyilaukan, menutupi segala sesuatu sejauh mata memandang. Masing-masing bintang terhubung satu sama lain untuk membentuk satu jalinan, seolah-olah bendungan yang menahan Sungai Perak telah luluh lantak sehingga tumpah ke padang pasir yang tak berbatas, tumpah ke pegunungan yang suram, tumpah ke sungai-sungai yang luas dan beku.

Bagian utara tidak tersentuh oleh peradaban, hanya hutan belantara serta hutan yang membentang hingga ke cakrawala, dan setiap pohon terbebani oleh salju tebal di utara. Sesekali, sebatang pohon akan bengkok dan retak, dan reaksi berantai akan terjadi dari pohon ke pohon. Suara dahan patah terus terdengar.

Kuda perang itu merengek saat ia memasuki hutan bersalju. Kemudian, sebuah suara yang dalam dan pelan berbicara.

“Diamlah,” kata Wu Du dengan suara yang terkesan magnetis. Kuda itu duduk.

Duan Ling melingkarkan tangannya di pinggang Wu Du dan menempelkan pipinya erat-erat ke punggung Wu Du. “Di mana penyergapannya?”

“Kita telah kehilangan semuanya.”

Wu Du mengamati sekeliling mereka. Mereka telah mengambil jalan pintas, namun dalam prosesnya, mereka telah dipisahkan dari unit mereka dan bertemu dengan penyergapan Goryeo sepanjang perjalanan ke sini. Wu Du tidak memiliki pilihan selain membawa Duan Ling melewati hutan lebat menuju bagian terdalam ngarai.

Dia menoleh untuk melihat Duan Ling di belakangnya, dan mereka saling berhadapan tanpa sepatah kata pun.

“Kita tersesat.” Wu Du mengendalikan kendali, memutar kudanya, dan berhenti di sana. “Apakah kau kedinginan?”

Duan Ling menghirup udara panas yang mengkristal di depan matanya. Wu Du membawanya turun dari kuda. “Mari kita bergerak sebentar.”

“Kita telah bergerak hingga fajar pada malam sebelumnya, dan menyerbu turun dari dataran tinggi,” kata Duan Ling. “Kita telah berlari tanpa henti sehari semalam, jadi jika kita pergi ke selatan, kita seharusnya tidak sampai sejauh ini. Aku khawatir kita mungkin telah mengambil jalan yang salah di suatu tempat.”

Di tengah salju, Duan Ling menggoreskan peta kasar tempat-tempat yang mereka lewati dengan tongkat dan mempelajarinya dengan Wu Du. Wu Du berkata, “Kau benar. Kita seharusnya meninggalkan pegunungan segera setelah kita melihat pintu keluar pertama ke ngarai, tapi aku tidak terlalu memperhatikan saat itu, dan ada pembunuh Goryeo yang sedang menyergap di sana juga, jadi jika kita kembali ke sana sekarang, itu mungkin tertutup bagi kita.”

Perang dengan Goryeo telah berlangsung selama setengah tahun. Yuan, Liao, dan Xiliang semuanya terseret ke dalam perang. Prajurit Chen Selatan mengumpulkan pasukan dan melintasi perbatasan timur laut pada pertengahan musim panas melalui Shanhaiguan, namun tertunda selama hampir satu tahun — sampai salju pertama tahun ini datang bersamaan dengan dinginnya suhu di kutub utara.

Inilah yang paling dibenci Duan Ling: pertempuran di musim dingin, pertempuran di utara, pertempuran di dua garis depan, dan pertempuran di tengah badai salju. Perang perlawanan terhadap invasi Goryeo ini pada dasarnya memenuhi semua persyaratan. Chen Agung mengirim semua prajurit terbaiknya dan berencana untuk memberikan pukulan yang menentukan kepada prajurit Goryeo, tetapi setelah mereka berhasil memastikan lokasi Raja Goryeo, prajurit Chen disergap oleh bangsa Mongol saat melakukan pawai paksa, membuat mereka kebingungan.

“Jika kita pergi lebih jauh ke utara, kita akan mencapai Pegunungan Xianbei.” Wu Du mendongak untuk mengamati langit, tapi semuanya gelap. Dia menebang pohon dengan Lieguangjian untuk mempelajari lingkaran pertumbuhannya sebelum menunjuk ke selatan.

“Mari kita istirahat sebentar.” Duan Ling benar-benar kelelahan. Dia berjalan di samping Wu Du menuju pegunungan yang berselimut salju, menemukan gua gunung, dan merunduk di dalamnya.

Wu Du segera kembali sambil membawa dua kelinci dan seikat kayu bakar. Dia menyalakan api, menyangga sepatu bot mereka di samping api agar bisa kering. Mereka bersandar satu sama lain untuk memanggang kelinci untuk makan malam.

“Hei,” kata Duan Ling.

“Ya?” Wu Du menatap api unggun di depannya dengan bingung. Api keemasan melonjak, cahaya bintang berkelap-kelip di matanya yang cerah.

“Saat kita kembali, kau akan dimarahi lagi,” Duan Ling mengoloknya.

“Aku dilahirkan untuk dimarahi,” kata Wu Du sambil tersenyum, “kali ini, setidaknya aku akan dipukul dengan pentungan sepuluh kali sebelum semuanya berakhir.”

Beberapa bekas merah terlihat di lengan kuat Wu Du di tepi lengan bajunya yang digulung. Itu berasal dari cambukan yang dia dapatkan sebelum prajurit berangkat. Dia selalu dihukum karena perbuatan Duan Ling, dan dari empat pembunuh agung, dialah yang paling sering dihukum. Dia sudah terbiasa. Setiap kali Wu Du dihukum, Duan Ling akan berdiri di suatu tempat di dekatnya, memperhatikan, merasa tidak enak karenanya, dan berteriak, “berhenti memukulnya, berhenti memukulnya! Dia bukannya melakukannya dengan sengaja.”

Namun dengan semua pemukulan yang dia alami, Wu Du menjadi lebih baik dalam perawatan medis, dan dia juga memiliki banyak salep, jadi luka ringan apa pun yang dideritanya akan sembuh dalam beberapa hari. Wu Du tidak terlalu peduli, tetapi Duan Ling sangat peduli padanya.

“Hei,” kata Duan Ling lagi.

Kali ini, Wu Du tidak menjawab. Dia memeluk Duan Ling, dan pikiran mereka berdua melayang. Sedetik kemudian, tangan Duan Ling bergerak menyusuri bekas luka di lengannya hingga ke dada berototnya, sementara tangan besar Wu Du di punggung kecil Duan Ling menariknya mendekat, dan membelainya.

“Apa yang kau pikirkan?” Duan Ling berbisik.

“Apa lagi yang bisa aku pikirkan.” Wu Du mencium alis Duan Ling dengan bibirnya yang hangat, dan membaringkannya, mengendusnya di sepanjang sisi wajahnya seperti serigala. Sambil menjaga berat badannya dari Duan Ling dengan sikunya, dia menekan tubuhnya dengan lembut ke arah Duan Ling.

“Ayahmu pasti ingin menghajarku sampai babak belur,” kata Wu Du pelan di samping telinga Duan Ling.

Duan Ling tidak bisa menahan tawa. Dia melingkarkan tangannya di leher Wu Du dan berkata, “Kalau begitu, sebaiknya kau bersikap baik.”

“Bahkan jika aku harus mati besok,” lanjut Wu Du, “tidak mungkin aku bisa bersikap baik.”

Kemudian, Wu Du membuka sabuk pakaian dalamnya dan mencondongkan tubuh ke arahnya, dan Duan Ling tidak bisa menahan diri untuk tidak terkesiap; mereka berdua selalu gelisah di barak, dan begitu terpisah dari prajurit mereka sibuk menghindari pengejarnya. Di malam yang tenang dan bersalju ini, mereka akhirnya menjadi akrab.

Lalu, Duan Ling tertidur miring, pipinya bersinar karena panasnya api, sementara Wu Du bersandar di dinding gua dekat pintu masuk, terjaga untuk berjaga-jaga dengan jubah melingkari pinggangnya, ototnya yang kencang dan ramping berlumuran keringat.

Ada bekas luka dangkal di hidungnya yang didapatnya dari duel dengan seorang Khitan. Pada pameran kuda antara Liao, Yuan, dan Xiliang, Wu Du bertarung sendirian melawan tiga orang lainnya, dan pada akhirnya berhasil menjinakkan raja kuda. Namun, setelah kuda itu dibawa kembali ke Jiangzhou, ia bahkan tidak hidup dua tahun sebelum iklim yang tidak sesuai menyebabkan kematiannya. Duan Ling cukup sedih atas hal ini selama beberapa waktu.

Dia memiliki bekas luka bakar merah di lengannya, yang dia dapatkan dari membakar ransum dan makanan ternak orang Mongolia ketika dia menyerang perkemahan mereka dengan Duan Ling. Sebuah pilar telah jatuh, dan dia segera mengangkatnya dengan lengannya, dan itu meninggalkan bekas luka ini.

Beberapa tanda melintang di punggungnya. Saat mereka dikejar oleh musuh, mereka menembaki zirah besinya dengan baut, membengkokkan logamnya hingga tidak berbentuk lagi. Setelah berhari-hari melakukan perjalanan yang berat dengan menunggang kuda, lecet yang mereka buat telah sembuh dan melepuh lagi… bilas dan ulangi, meninggalkan bekas luka.

Salah satu tulang rusuknya patah sebelumnya, dan Duan Ling adalah orang yang telah mengembalikannya ke tempatnya. Sebelum sembuh dengan baik, dia telah maju ke medan perang lagi, jadi tulang rusuknya tumbuh kembali sedikit bengkok. Setiap kali mereka berpelukan, Duan Ling akan menyentuhnya dari tulang selangkanya sampai ke bawah, ke pinggangnya, lalu ke pantatnya.

Dia memiliki tanda merah cerah di sisi lehernya. Duan Ling berhasil melakukannya dengan mulutnya tadi.

Dan sekarang Wu Du menatap salju di luar, kegelapan. Keheningan dipecahkan sesekali oleh kicauan burung hantu. Jika ada elang pengintai, dia harus mematikan api unggun agar musuh tidak menemukannya.

Duan Ling berbalik dan menguap. Wu Du menarik jubah itu ke atas bahunya seperti selimut.

“Panas.” Duan Ling merasa sedikit haus saat tidur. Wu Du mengangkat botol air di sebelah mulutnya dan memberinya minum.

“Biar aku yang berjaga,” kata Duan Ling. “Kau tidurlah sebentar.”

“Aku baik-baik saja.”

Segera setelah Duan Ling bangun, berkumur, dan menenggak air, dia mencoba bersembunyi di pelukan Wu Du lagi. Wu Du merasa seluruh tubuhnya terbakar, dan begitu Duan Ling bergesekan dengannya beberapa saat, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya.

“Sebenarnya, ini adalah saat di mana aku tidak ingin pergi ke sini dan bertempur di medan perang,” kata Duan Ling. “Tapi begitu kau pergi, kita tidak akan bisa bertemu satu sama lain hampir sepanjang tahun.”

“Aku tahu.” Wu Du tersenyum. Jika menyangkut Duan Ling, dia selalu bersedia melakukan apa pun. Dia tahu Duan Ling juga sangat keras kepala, memutar otak untuk mencari cara agar bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Wu Du tidak mempermasalahkan hal lain selama jantung mereka berdetak kencang.

Sambil memeluk Duan Ling, dia menepuk bahunya beberapa kali. Duan Ling menambahkan, “Saat aku kembali aku akan memikirkan sesuatu. Kita tidak bisa selalu hidup seperti ini.”

Apa yang bisa dia lakukan? Dia adalah putra mahkota, dan Wu Du adalah seorang pembunuh. Kebersamaan mereka sejauh ini sudah merupakan sebuah anugerah istimewa yang dianugerahkan oleh keluarga kekaisaran — apakah dia pikir dia benar-benar bisa memonopoli satu-satunya keturunan Chen Selatan, calon Putra Langit?

Ini adalah masalah tanpa solusi. Dia tidak bisa memikirkan solusinya, jadi tentu saja dia juga tidak bisa memaksakan tanggung jawab ini kepada Duan Ling. Hal ini membuatnya selalu frustrasi — lagipula, tidak semua orang di dunia menghadapi masalah sulit yang sama seperti yang dia hadapi. Jalan yang dilalui orang lain juga tidak bisa memberinya banyak petunjuk.

“Seseorang harus puas dengan nasibnya,” kata Wu Du sambil tersenyum.

“Baiklah kalau begitu, aku tidak puas dengan nasibku,” kata Duan Ling tak berdaya.

“Aku sedang membicarakan diriku sendiri,” bisik Wu Du, mencium Duan Ling, dan memeluknya, mendorongnya ke tanah. Setelah lama bermesraan, mereka tertidur bersama, dan langit berangsur-angsur cerah. Di luar, salju sudah berhenti turun. Duan Ling masih menempel di dada Wu Du, napasnya teratur, tenggelam dalam mimpinya.

Saat fajar, kicauan burung terdengar. Wudu membuka mata.

Di luar, gemerisik langkah kaki mendekat, datang dari jauh ke dekat, dengan cepat semakin dekat ke gua, seperti rubah. Suaranya mencapai bagian dalam gua diiringi angin sepoi-sepoi fajar.

“Ada caltrop di bawah pohon di luar,” kata Wu Du. “Mereka diracuni.”

Langkah kaki terhenti. Duan Ling mendengar getaran di dada Wu Du dan berbalik, setengah tertidur, berusaha menjauhkan wajahnya dari sinar matahari.

“Ada sutra beracun yang digantung di pintu masuk,” Wu Du menambahkan.

Sebuah bayangan membungkuk tepat di luar gua, menggerakkan beberapa helai sutra yang digantung di mulut gua seperti sarang laba-laba ke samping dengan dahan. Mereka berkilau dengan warna biru racun, dan sedikit goresan pada kulit dapat membunuh seseorang dalam sekejap.

“Hati-hati di atasmu,” akhirnya, kata Wu Du.

Pria itu berbalik dan membungkuk untuk menghindari belati tajam yang tergantung di atas gua.

“Seluruh pasukan telah mencari kalian berdua selama tiga hari berturut-turut,” kata pria itu, cahaya pagi yang kabur menyinari wajahnya. “Jika ini memakan waktu lebih lama, kami mungkin akan dimusnahkan sepenuhnya – dia akan memenggal kepala kami semua.”

Mendengar suara ini, Duan Ling menggosok matanya dan berusaha untuk duduk, setengah tertidur. Bibirnya bergerak.

“Lang Junxia…”

Pria yang masuk adalah Lang Junxia. Separuh tubuhnya berlumuran lumpur dan kotoran, dan salju menutupi seluruh rambutnya. Ada cakar baja untuk mendaki gunung yang tertekuk di tangan kirinya dan pedang di tangan kanannya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Duan Ling mengangkat tangannya untuk melindungi wajahnya dari cahaya.

“Bagaimana menurutmu?” Lang Junxia terlihat agak muram dan dia menatap Duan Ling dengan jengkel. Dia berbalik untuk meninggalkan gua agar Duan Ling dan Wu Du bisa berpakaian.

Seperempat jam kemudian, Wu Du keluar dari gua dengan lesu. Lang Junxia memberikan Duan Ling sekantong anggur, matanya yang memerah menunjukkan dengan jelas bagaimana dia mencarinya selama dua hari tiga malam tanpa tidur atau istirahat.

“Bagaimana kau bisa menemukan kami?” Duan Ling tersenyum.

“Ini adalah pegunungan milik orang Xianbei,” kata Lang Junxia dingin. “Gunung-gunung ini pada dasarnya adalah bagian dari mimpi kami, jadi tentu saja aku bisa menemukanmu.”

“Di mana pasukannya?” Wu Du bertanya.

“Mereka telah memutar di sekitar kaki bukit bagian selatan dan menuju ke kota Baihe.” Lang Junxia memberinya tabung bambu. “Pengiriman untukmu.”

Wu Du membuka tabung itu dan membaca surat yang ada di dalamnya. Lang Junxia menambahkan, “Utusan Goryeo meninggalkan perbatasan mereka melalui jalan barat, dan mereka menuju barat laut. Mungkin berangkat untuk mengadakan pembicaraan damai dengan Mongolia.”

Duan Ling berkata, “Mengapa kita bertiga tidak pergi bersama?”

“Mustahil.” Wu Du bahkan tidak berhenti sejenak untuk mempertimbangkan saran Duan Ling sebelum memvetonya.

“Tidak mungkin,” kata Lang Junxia sambil mengerutkan kening. “Lebih banyak orang hanya mencari target yang lebih besar, dan bukan lelucon jika kau tertangkap. Apa menurutmu hanya kami yang mencarimu? Borjigin Batu mengirimkan seratus pembunuh Mongolia untuk mencari keberadaanmu ke mana-mana.”

Duan Ling hanya bisa pasrah. Wu Du selesai mengikat ikat pinggangnya dan berkata, “Aku pergi. Aku akan melihat apakah aku bisa mendapatkan informasi yang berguna.”

Duan Ling awalnya tidak ingin Wu Du pergi sendiri, tetapi setelah dipikir-pikir, dia benar. Jika Wu Du tidak kembali bersamanya sekarang dan menjalankan misi lain, kecil kemungkinannya dia akan dihukum saat kembali ke perkemahan.

Keduanya enggan berpisah. Mereka berbicara cukup lama sebelum Duan Ling mengambil kendali dan menyuruhnya naik ke atas kuda.

“Berhati-hatilah,” kata Duan Ling.

“Jangan khawatir.” Wu Du membungkuk dari pelana dan mencium bibir Duan Ling dengan keras sebelum dia melaju dengan kecepatan tinggi.

Berdiri di bawah pohon dengan tangan bersilang, Lang Junxia tampak bosan, setelah menunggu lama sebelum Duan Ling berjalan ke arahnya, berulang kali berbalik untuk melihat ke belakang.

Mata mereka bertemu sejenak, lalu Lang Junxia mengangkat tangan seolah hendak memukulnya. Duan Ling langsung tertawa, menghindar ke sana kemari di luar jangkauannya. Lang Junxia mengejarnya, jadi Duan Ling mengambil bola salju dan melemparkannya ke wajahnya, lalu bola itu meledak menjadi kekacauan. Lang Junxia tertutup salju, tetapi dia tersenyum.

“Kita harus bergegas!” Lang Junxia menyarungkan pedangnya. Duan Ling berjalan menghampirinya, namun sayangnya Lang Junxia hanya memikatnya. Tiba-tiba, dia mengangkat pinggang Duan Ling. Duan Ling berteriak keras saat dia didorong ke dalam salju, di mana dia berjuang untuk melarikan diri.

“Tolong – aku menyerah!” Duan Ling berkata dengan suara teredam.

Lang Junxia kemudian mengangkatnya ke samping, menepuk-nepuk salju dari tubuhnya, dan menempatkannya di atas kuda. Dan sambil menggoyangkan kendali, dia membawa Duan Ling menjauh dari ngarai.


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply