English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Rusma
Proofreader: Keiyuki17


Ketujuh dari Ketujuh – Jarak Antara Dua Pantai


Angin musim gugur yang bertiup kencang melewati aula istana yang kosong. Duan Ling bergegas melewati serambi, ujung jubah hitamnya berkibar tertiup angin. Rambut panjangnya dikuncir kuda rendah dengan seutas tali hitam, dan bibir lembutnya sedikit mengerucut.

Dia berjalan melewati siluet pepohonan yang bergoyang dan bersenandung bersama jangkrik akhir musim panas, melewati taman yang dipenuhi dedaunan musim gugur yang menguning, melewati senja yang dihiasi bayangan gelap yang tajam yang diterpa cahaya lentera menuju malam yang segar dengan semburat ungu-merah dari matahari yang hampir terbenam. Hidup ini seperti sebuah panggung, dan tirai-tirai telah tersingkap untuk memperlihatkan selembar sutra safir yang bertabur bintang-bintang megah.

Berpakaian serba hitam, dia tampak hampir menyatu dengan malam. Perlahan-lahan, dia berhenti dan berdiri di depan patung Harimau Putih. Cahaya bintang bersinar turun dari atap berkubah paviliun setelah memantul dari sudut-sudutnya. Zhenshanhe ditempatkan secara horizontal di atas dudukan pedang, diabadikan di bawah cakar dewa yang menguasai musim gugur.

Tempat ini seperti kuil yang paling dekat dengan rasi bintang, dan setiap kali Duan Ling berdiri di bawah tatapan harimau putih, dia akan merasa seolah-olah dia hanya selangkah lagi dari sungai bintang di atas. Tetapi ia dengan tenang menghalangi jalan Duan Ling seolah-olah ada alam surgawi yang ramai di belakangnya, di mana manusia tidak boleh menginjakkan kaki.

“Ayah.” Duan Ling berjalan ke depan, dengan lembut mengelus taring tajam harimau putih itu, dan menempelkan wajahnya ke hidungnya yang sedingin es. Dia berkata, terdengar terpesona, “Satu tahun lagi telah berlalu.”

Dia menyalakan tiga batang dupa, dan membungkuk kepada patung harimau putih sebanyak tiga kali. Angin musim gugur membuat tirai muslin berkibar. Aroma kayu cendana tercium di udara. Duan Ling memanjat ke dasar patung itu, merangkak ke dalam kaki harimau putih yang terulur dan mengintai, lalu bersandar ke lengannya. Dia menghadapi cakrawala bertabur bintang seolah-olah dia sedang dipegang oleh harimau putih, dan dalam keadaan linglung, dia membiarkan pikirannya mengembara.

Mata Harimau Putih memantulkan cahaya bintang, dan tubuh gioknya yang sejuk berangsur-angsur menghangat. Bersandar pada otot-otot dadanya yang tegas dan kuat, Duan Ling tiba-tiba merasakan sesuatu.

“Siapa disana?” Samar-samar Duan Ling bisa melihat siluet di balik tirai kain muslin.

Hembusan angin kembali membuka tirai, dan seorang pria jangkung masuk ke dalam kuil.

Duan Ling menatapnya dengan kaget.

Pria itu memiliki mata yang dalam seperti bintang, dengan alis gelap dan bibir yang lembut, dan dia mengenakan jubah pejuang berwarna biru pucat bersulam. Namun, pakaiannya setengah asing dan setengah Han, dengan lengan kiri diikat seperti seorang pejuang, sementara lengan kanan dibiarkan menggantung lebar seperti seorang sastrawan. Lintasan rasi bintang Harimau Putih telah disulam pada pakaian terbukanya, dengan bintang utama yang dibuat dengan benang perak, berkilauan dengan cahaya bintang yang sama dengan yang menerangi langit.

Dia mengenakan sepatu bot tempur yang dihiasi pola awan, dan pauldron perak di bahu kirinya. Sebuah permata berbentuk tetesan air menghiasi pergelangan tangan kanannya.

“Ayah?” Duan Ling hampir tidak bisa mempercayai matanya sendiri. Ini adalah ayahnya, tetapi bukan ayah yang dia kenal dengan baik; yang ini bahkan lebih muda dibandingkan saat Duan Ling bertemu ayahnya untuk pertama kalinya, seolah usianya baru dua puluh lebih. Dia tampan dan terlihat jujur, dan tidak ada tanda-tanda gejolak dan ketegasan yang biasanya menghiasi matanya; sebagai gantinya, ada keanggunan yang indah.

Li Jianhong tersenyum, melompat ke pangkal patung harimau putih, dan bersandar pada tubuh harimau. Harimau putih tiba-tiba mulai bergerak, mengeluarkan geraman pelan, mengagetkan Duan Ling.

“Bagaimana kabarmu…” Menatap seluruh penampilan ini, Duan Ling merasakan kejutan yang menyenangkan.

“Menjadi sangat muda?” kata Li Jianhong. “Sepertinya anakku sudah dewasa.”

Duan Ling menganggap semuanya luar biasa; dia dan Li Jianhong tampak seperti dua pemuda yang usianya hampir sama, dan di samping satu sama lain, Li Jianhong hampir tidak terlihat jauh lebih tua darinya sama sekali.

“Meskipun kau sudah dewasa, dan ayah semakin muda, kau tetap tidak bisa memanggilku gege.” Li Jianhong bercanda, “Kau tidak pernah membayangkan seperti apa rupaku ketika aku masih muda, Putraku?”

Tidak ada yang lain selain keheranan di mata Duan Ling, dan sudut mulutnya terus terangkat untuk senyuman yang tidak bisa dia sembunyikan. Dia meraih tangan Li Jianhong dan menatap batu giok di pergelangan tangannya. “Apa ini?”

“Batu giok bintang,” jawab Li Jianhong sambil tersenyum. “Aku membutuhkannya untuk berpatroli di langit. Ini semua milikmu,” katanya sambil melepasnya untuk Duan Ling.

“Aku tidak menginginkannya,” Duan Ling menatapnya dengan lembut, setelah mengetahui arti di balik senyuman sembrono ayahnya. “Apa gunanya? Itu bahkan tidak secantik lengkungan giokku.”

“Itu adalah sebuah bintang,” kata Li Jianhong. “Salah satu dari sekian banyak bintang di langit. Ia mengendalikan nasib semua orang di dunia fana. Orang-orang selalu berkata, ‘jika kau menginginkan bintang dari langit, aku akan mencabutnya untukmu’, inilah maksudnya.”

“Ayah, apakah kau sudah menjadi seorang Daois Abadi?” Duan Ling terdengar takjub.

Jubah Li Jianhong berkibar tertiup angin. Dia memberikan jawaban yang penuh teka-teki kepada Duan Ling dan menjelaskan, “Malam ini kebetulan tanggal Ketujuh dari Ketujuh, jadi aku turun ketika Penggembala Sapi dan Pembantu Penenun sedang sibuk bertemu satu sama lain. Aku harus segera kembali agar mereka tidak mengetahui keberadaanku.”

“Akankah kita bertemu lagi?” Duan Ling tidak bisa menahan diri; suaranya menjadi kental karena air mata.

Li Jianhong dengan tenang melihat air mata di mata Duan Ling, tetapi dia tidak menjawab. Dari bacaannya terhadap buku-buku tebal kuno, Duan Ling menyimpulkan bahwa para dewa tidak dapat memasuki dunia fana tanpa sebab, dan mereka tidak boleh mengungkapkan hal yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tetapi bisa bertemu dengannya sekali lagi dalam satu kehidupan ini sudah membuat Duan Ling tidak menyesal.

“Aku bertemu denganmu setiap hari,” bisik Li Jianhong. “Aku selalu disini.”

Dia menarik Duan Ling ke arahnya, meletakkan kepala Duan Ling di bahunya. Dia berkata sambil tersenyum, “Apakah kau tidak memiliki hal lain untuk dikatakan? Lihat berapa umurmu, dan masih cengeng.”

Ekspresi Duan Ling yang menangis berubah menjadi senyuman. Dia mengamati mata dan hidung Li Jianhong, dan dia berpikir bahwa dia tetaplah dia; Selama bertahun-tahun, Duan Ling tidak pernah lupa setiap kali dia memimpikannya.

“Aku bermimpi bulan lalu.” Duan Ling memikirkan ini dan itu, tetapi tidak tahu harus berkata apa, dan akhirnya berkata, “Aku memimpikanmu.”

“Ya?” Li Jianhong melepas jubah luarnya dan menariknya menutupi mereka seperti selimut ketika mereka menatap bintang bersama. “Tentang apa mimpimu?”

Duan Ling berhenti sejenak untuk berpikir, namun ketika dia akan mengatakan lebih banyak, Li Jianhong melanjutkan, “Kau seperti nenek moyang kita yang agung, dan seperti Zhuangzi juga – selalu tidur dan bermimpi saat tidak ada hal lain yang bisa dilakukan. Satu saat kau berubah menjadi kupu-kupu, di saat yang lain kau berubah menjadi ikan besar… hati-hati, jangan sampai kau terjebak dalam mimpi dan tidak bisa bangun lagi.”

Duan Ling tersenyum lagi. “Sebenarnya, jika aku bisa melihatmu dalam mimpiku sepanjang waktu, aku mungkin tidak ingin bangun.”

Mereka berdua bersandar satu sama lain seperti layaknya dua orang pemuda. Setiap kali Li Yanqiu mengenang masa mudanya dan Li Jianhong dari waktu ke waktu, Duan Ling akan merasa iri. Bukankah lebih baik jika waktu dapat mengalir mundur sehingga dia bisa berada di masa muda ayahnya, untuk menaklukkan dunia di sisinya, atau hanya untuk mengelola kerajaan untuknya?

Namun dia tidak pernah membayangkan bahwa dia akan bertemu kembali dengan ayahnya lagi dalam keadaan seperti ini. Di dunia fana, orang-orang menghabiskan sebagian besar waktu mereka secara terpisah, dan reuni sangat jarang terjadi; selalu demikian. Jika dia bermalas-malasan lebih lama lagi, ayahnya mungkin harus pergi lagi sebelum mereka bisa memulai percakapan.

“Dalam mimpi, kau mengajakku melakukan operasi militer ke utara untuk melawan kerajaan Goryeo dan bangsa Mongolia.“ Duan Ling mengingat beberapa detail dari mimpinya, dan semuanya tampak begitu jelas hingga hampir seperti baru terjadi kemarin. Dia mendongak lagi dan berkata, “Lang Junxia masih hidup, dan dia membawaku ke desanya sebagai tamu. Chang Liujun ada di sekitarku juga, juga Zheng Yan dan Wu Du. Mereka semua ada di sisiku. Oh, dan kau memberiku ceramah yang luar biasa ini.”

Ekspresi Li Jianhong menjadi gelap. “Tentu saja aku harus menceramahimu. Kau mengikuti Wu Du sepanjang hari dan bahkan tidak menginginkan ayahmu lagi. Berlari sepanjang waktu sambil melakukan apa yang Dewa tahu — bagaimana jika kau tersesat?”

Duan Ling menatapnya dengan kaget.

“Kau tahu?!” Duan Ling tertegun seketika. “Bagaimana kau tahu itu?!”

“Aku tidak tahu.” Sudut mulut Li Jianhong bergerak-gerak saat dia segera mencuci tangannya dari semuanya. “Aku benar-benar tidak tahu.”

“Kau tahu!” Duan Ling meraih lengan baju Li Jianhong dan menolak untuk melepaskannya, sambil berargumentasi, “Bagaimana lagi kau bisa tahu kalau aku kabur bersama Wu Du?”

Li Jianhong tidak bisa menahan tawa. “Di mana Wu Du? Panggil dia. Sudah lama sekali kita tidak minum bersama.”

“Kalian berdua minum bersama?” Duan Ling terdengar terperangah. “Aku tidak pernah mendengar dia mengatakan itu.”

Semakin banyak Li Jianhong berkata, semakin buruk jadinya; itu salahnya kalau putranya sendiri terlalu pintar, dan dia hampir tertipu untuk mengungkap banyak misteri yang tak terlukiskan. Dia tidak memiliki pilihan selain berhenti bicara, hanya menatap Duan Ling dan tersenyum.

“Apa yang membuatmu tersenyum?” Duan Ling mengerutkan kening.

“Ada banyak hal yang tidak bisa kukatakan, jadi aku hanya bisa tersenyum. Apa lagi yang bisa aku lakukan?”

Melihat senyum tampan ayah ini, Duan Ling tiba-tiba tidak yakin lagi harus berkata apa. Setelah berpikir sejenak, dia berkata, “Jadi yang ada di mimpiku sebenarnya adalah kau.”

Li Jianhong mengangkat alisnya. Dia tidak membantah Duan Ling, tetapi dia juga tidak mengakuinya. Dia membuka tangannya, dan di telapak tangannya ada batu giok bintang itu, kilaunya sangat lembut, dengan lingkaran cahaya lembut berkilau di dalamnya.

“Ini untukmu, bintang dari langit,” kata Li Jianhong.

Duan Ling menyentuhnya dengan lembut dengan jarinya, dan batu giok bintang itu mekar dengan cahaya yang terang namun lembut, seolah dia ditempatkan di tengah Sungai Perak. Cahaya putihnya memenuhi ruang antara langit dan bumi saat Sungai Perak turun, dan seketika itu juga, Duan Ling merasa seolah-olah berada di tengah lautan cahaya.

“Ayah.” Duan Ling merasa Li Jianhong akan menghilang di tengah lautan itu.

Tetapi Li Jianhong tersenyum padanya. “Masuklah ke dalam mimpiku, anakku.”

Duan Ling berteriak, “Ayah!”

Namun Li Jianhong telah menjadi cahaya bintang, menghilang dari sisi Duan Ling. Di tengah sinar cemerlang ini, Duan Ling merasa seolah-olah dia menjadi jauh lebih kecil, seperti saat dia bertemu kembali dengan ayahnya untuk pertama kalinya. Li Jianhong menatap Duan Ling, matanya yang tersenyum dipenuhi kelembutan. Dia mengulurkan tangan dan membelai kepala Duan Ling sebelum berubah menjadi angin sepoi-sepoi, dan pada liburan ini di mana para gadis berdoa kepada bintang-bintang agar mendapatkan tangan yang gesit seperti tangan Pembantu Penenun, dia menyebar ke cakrawala.

Ketujuh dari Ketujuh; Sungai Perak terlihat jernih dan dangkal; seberapa jauhkah jarak antara dua pantai?

Duan Ling melihat sekelilingnya. Dalam lanskap mimpi yang lembut ini, bintang-bintang adalah pecahan cahaya yang bergelombang di atas sungai; di kedua tepian sungai yang jernih, mereka saling memandang dengan penuh kasih sayang tanpa sepatah kata pun. 1Dua baris dari 迢迢牽牛星 / Bintang Penggembala yang Jauh, oleh seorang penyair anonim pada masa dinasti Han, adalah salah satu dari Sembilan Belas Puisi Lama. 


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply