English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Editor: _yunda


Buku 2, Chapter 20 Part 1

Pada hari ketujuh bulan ketujuh tiga belas tahun setelah penandatanganan Perjanjian Shangzi, sekali lagi perang pecah antara Chen dan Xiliang.

Pertempuran pada malam Ketujuh dari Ketujuh seperti kilatan petir yang melintasi langit malam — itu berlangsung kurang dari satu hari.

Sebelum berita pertempuran mencapai Istana Liao, Yuan, dan Chen, prajurit Xiliang telah dipanggil kembali, melarikan diri dengan ekor di antara kedua kakinya.1

Pada hari ketujuh bulan ketujuh, pada Pertempuran Tongguan, menghitung mereka yang di Qinling dan mereka yang memasuki kota, ada total tujuh belas ribu prajurit Xiliang tewas, dan tiga belas ribu yang ditangkap.

Hari berikutnya, Helian Da dari Xiliang mengirim surat yang mendesak untuk memanggil kembali pasukan reguler dan kavaleri mereka yang menyamar sebagai bandit berkuda, dan mengumpulkan pasukannya yang tercerai-berai dan terluka, mundur sejauh tiga puluh mil.

Pada malam itu, Bian Lingbai meninggal karena sakit parah.

Di waktu singkat keesokan paginya, seorang Utusan Kekaisaran yang baru diangkat tiba di Tongguan untuk mengatur kembali prajurit dan mengambil alih kepemimpinan militer Bian Lingbai.


“Bahkan sebelum aku memulai perjalananku, Kanselir Mu sudah memberi tahuku bahwa kau memiliki pikiran yang jernih dan bekerja dengan cara yang sangat teratur — bahwa kau dapat mempertimbangkan tindakanmu dari semua aspek. Sekarang setelah aku bertemu denganmu, sepertinya itu memang benar. Sulit untuk tidak mengatakan bagaimana generasi muda adalah sesuatu yang harus diperhitungkan.”

Zheng Li sudah berusia lebih dari enam puluh tahun, dan dia memelihara janggut putih. Ketika kakek Duan Ling masih hidup, lelaki tua ini biasa memimpin pasukan Chen Selatan melalui satu demi satu pertempuran di luar perbatasan mereka. Membuatnya keluar dari masa pensiunnya untuk mengawasi Tongguan adalah pilihan terbaik yang bisa mereka buat.

Merasa agak malu dengan pujian itu, Duan Ling berkata, “Anda terlalu menyanjungku. Itu sebuah keberuntungan bahwa Master Fei dan Wu Du ada di sini.”

Berdiri di depan Zheng Li, Duan Ling benar-benar tidak memiliki pilihan selain menjadi rendah hati. Meskipun dia adalah orang yang mempermudah situasi saat ini di Tongguan, dia membuat banyak kesalahan saat menjalankan misinya, dan dua kali dia hampir mati. Jika dia tidak memiliki Wu Du, dia tidak bisa menyelesaikan apa pun.

Zheng Li secara singkat mengatur ulang struktur militer Tongguan, mempertahankan Wakil Jenderal Wang dan Xie di tempat mereka. Duan Ling dapat memberi tahu Zheng Li untuk segera memanfaatkan Xie Hao, dan tahu bahwa dia tidak perlu mengingatkannya yang mana dari orang-orang itu yang siap untuk tugas itu.

Meskipun perannya di Tongguan telah berakhir, Duan Ling masih memiliki kekacauan besar yang harus dia bersihkan. Dia mengucapkan selamat tinggal pada Zheng Li dan segera memulai perjalanannya kembali ke Xichuan.


“Aku pernah melihatmu sebelumnya. Tujuh tahun lalu, di kedai obat di Shangjing.”

Wu Du akhirnya ingat.

Pada malam itu, malam Ketujuh dari Ketujuh2, Duan Ling akhirnya memberitahunya, “Ya, itu adalah aku. Kau bahkan membuatku takut dengan Gagak Emas.”

“Tapi kau…” Wu Du benar-benar tidak tahu. Kejadian di masa lalu bergegas masuk ke kepalanya sekaligus dalam aliran yang saling tumpang tindih.

Setelah badai hujan di musim gugur, langit Tongguan kembali berwarna biru cerah. Kereta mereka berangkat sekali lagi, kali ini dalam perjalanannya menuju ke selatan, dikendarai lagi oleh kusir bisu dan tuli mereka. Wu Du dan Duan Ling duduk di kereta.

Ketika mereka memasuki Gunung Ba dan meninggalkan Pegunungan Qinling, Duan Ling memberi tahu kusir untuk menghentikan kereta di sisi jalan, dengan pohon maple di kiri dan kanannya. Duan Ling membantu Wu Du turun dari kereta untuk beristirahat sebentar di hutan maple, dan dia mengambil seember air sehingga dia bisa mengoleskan salep baru ke Wu Du.

Latar belakang mereka adalah hutan maple merah yang menyala. Telapak tangan Wu Du terluka dalam pertempuran, dan pergelangan kakinya juga terkilir. Dia turun dari kereta, duduk di atas batu besar, dan meletakkan kaki kanannya yang telanjang di atas bangku lipat pendek.

Duan Ling mencampur salep dan membantunya membalut perban yang baru, meredakan pembengkakan kaki terlebih dulu, lalu melepaskan perban tangan kiri Wu Du untuk mengoleskan salep untuk menghentikan pendarahan dan membantu kulit tumbuh kembali.

“Luka di tanganmu akan sembuh dalam waktu sekitar satu bulan.” Duan Ling berkata pada Wu Du, “asalkan itu tidak terinfeksi. Di sisi lain, pergelangan kaki akan membutuhkan lebih banyak waktu. Tendon dan tulang membutuhkan waktu seratus hari untuk sembuh. Berhati-hatilah selama beberapa hari ke depan.”

Wu Du menatap Duan Ling tanpa berkedip. “Itu bukan masalah.”

“Seni ringanmu sangat bagus. Kita harus memastikan bahwa kau tidak berakhir dengan cedera permanen.”

“Apa yang akan kau katakan padaku sebelumnya? Kau terus tidak ingin mengatakannya, tapi sekarang tidak ada orang di sekitar, jadi akhirnya kau bisa memberi tahuku, kan?”

Duan Ling memberinya senyuman. “Ketika kita berada di gua hari itu, kau juga mengatakan padaku bahwa kau memiliki sesuatu untuk dikatakan padaku. Apa itu?”

Pada malam pertempuran, sebelum mereka berhasil berbicara lebih banyak, mereka diinterupsi oleh penarikan pasukan Tangut, dan kemudian muncul satu demi satu hal lainnya. Wu Du telah memeras otaknya selama dua hari terakhir tentang mengapa Duan Ling muncul di kedai obat di Shangjing tujuh tahun lalu pada malam bersalju itu tapi tidak berhasil.

Tapi Duan Ling juga pernah memberitahunya bahwa ayahnya adalah seorang pedagang obat – jadi mungkin dia adalah penjaga di kedai obat?

“Biarkan aku bertanya padamu terlebih dulu. Mengapa aku pernah melihatmu di sana pada saat itu?” Wu Du bertanya dengan cemberut. “Bukankah kau dari Xunbei?”

“Itu adalah takdir, kau tahu?” Duan Ling menjawab, “Seluk beluk dari pertemuan kita akhirnya telah dimulai bahkan pada saat itu.”

Duan Ling dengan hati-hati mengoleskan salep ke tangan Wu Du.

Wu Du dengan canggung melirik ke arah lautan pohon maple yang menutupi perbukitan; daun merah melayang ke bumi di sekitar mereka.

“Takdir? Aku… aku telah membuat sumpah dengan sekteku. Aku tidak akan pernah bisa menikah, dan aku tidak akan pernah bisa memiliki keluarga. Aku bahkan tidak seharusnya memiliki pekerjaan.”

“Bagaimana bisa?”

“Semua pembunuh seperti itu. Jika kau memiliki keluarga atau kekasih maka kau akan memiliki kelemahan. Kau membunuh musuh, dan jika keturunan mereka ingin membalas dendam, mereka akan membunuh istri dan anak-anakmu dan membakar rumahmu. Seseorang yang membunuh untuk mencari pendapatan… pekerjaan apa yang bisa mereka miliki?”

“Tapi bagaimana dengan mastermu dan istrinya? Bukankah mereka sudah menikah?”

“Mereka tidak menikah secara resmi. Dia tidak memiliki status yang sebenarnya, tapi bagiku, dia adalah istri masterku. Ketika Shangzi jatuh dan masterku tewas dalam pertempuran, dia bunuh diri agar dia bisa pergi bersamanya. Saat itulah Zirah Bercahaya yang sekarang kau pakai menghilang. Bahkan Panduan Pedang Alam jatuh ke tangan Zhao Kui ketika dia tiba sebagai bala bantuan.”

“Jadi kau bekerja untuk Zhao Kui hanya karena kau ingin menemukannya, bukankah begitu?”

Wu Du mengangguk. “Zhao Kui tahu aku akan pergi jika aku sudah menemukannya, dan itulah sebabnya dia menyembunyikannya.”

“Dan apa yang akan kau lakukan setelah kau menemukannya? Apa kau akan memulihkan sekte seni bela dirimu?”

“Sekte telah terlantar selama berabad-abad, cita-cita awal yang diturunkan telah lama bertentangan dengan siapa kita sebenarnya, dan Zhenshanhe juga hilang. Tapi Aula Harimau Putih masih memiliki satu kewajiban terakhir – untuk melindungi penguasa di masa-masa sulit.”

“Tapi… penguasa tidak membutuhkan perlindungan dariku. Putra mahkota bermaksud untuk merekrutku, tapi aku tahu apa yang dia inginkan adalah seorang pembunuh yang patuh, dan bukan murid dari Harimau Putih. Ketika semuanya dikatakan dan dilakukan, dia masih tidak membutuhkanku.”

Tapi aku membutuhkanmu, pikir Duan Ling. Aku membutuhkanmu.

Wu Du berkata, “Apakah itu Zhao Kui, Kanselir Mu, atau bahkan putra mahkota… selain mendiang kaisar, semua orang hanya menginginkan sebuah pisau daging. Bukannya ada yang harus disalahkan, sungguh; semua orang berkeliling untuk membunuh satu sama lain ketika dunia tidak damai.”

Duan Ling berulang kali ragu untuk berbicara, dan Wu Du salah paham bahwa Duan Ling berusaha menemukan kata-kata untuk menghiburnya. Dia menepuk bahu Duan Ling sebagai gantinya. “Bagaimana denganmu, Shan’er? Apa rencanamu? Aku tahu kau ingin membuat nama untuk dirimu sendiri. Kau akan berusia enam belas tahun ini. Jika kau tinggal bersamaku sepanjang waktu, itu hanya akan menahanmu.”

“A-apa?” Duan Ling tiba-tiba merasa lucu ketika mendengarnya, tapi dia juga merasa hatinya menghangat.

“Ini seperti yang kau katakan. Aku pergi ke Shangjing tujuh tahun yang lalu dengan niat untuk menjalankan misi, dan bertemu denganmu saat itu adalah takdir. Langit membawamu ke sisiku jadi mungkin takdir yang sama ini masih menggerakkan tali takdir.”

Ketika Duan Ling mendengarnya mengatakan ini, dia juga tidak bisa menahan emosi yang muncul di hatinya; Apakah itu adalah takdir? Mungkin sejak dia lahir, semuanya telah ditakdirkan — dia dimaksudkan untuk menjadi putra mahkota Chen Selatan, putra Li Jianhong, dan suatu hari dia akan dibawa ke Shangjing, dan dia ditakdirkan untuk bertemu Wu Du pada hari itu.

“Aku tidak akan menikah, tapi kau berbeda. Kau tidak mungkin hanya tinggal bersamaku selama sisa hidupmu. Ketika kita sampai di rumah, luangkan waktu untuk memikirkannya. Kau baru berusia enam belas tahun, kau akan memiliki pekerjaan yang bagus di masa depan…”

“Tentu saja aku akan tinggal bersamamu selama sisa hidupku.” Duan Ling selesai membungkus perban di sekitar tangan Wu Du dan mengikatnya dengan rapi. “Aku juga tidak ingin menikah, tapi pekerjaanku seharusnya baik-baik saja.”

“Jika kau…” seolah-olah dia mengantisipasi jawaban seperti itu dari Duan Ling, dia menambahkan, “tinggal bersamaku tanpa status resmi atau apa pun, kau akan menjadi apa? Apa kau akan menjadi pelayanku selama sisa hidupmu? Bagaimana dengan peringkatmu dalam ujian? Bukankah kau ingin maju?”

“Maksudku seperti mastermu dan istrinya.”

Seluruh wajah Wu Du tiba-tiba memerah; Duan Ling juga baru menyadari bahwa apa yang dia katakan sepertinya agak salah.

Daun maple jatuh ke bawah dan mendarat dengan tenang di atas tumpukan daun, menghasilkan suara gemerisik ringan.

Wu Du menatap Duan Ling. “Lalu… kenapa tidak kau… saja…”

“Apa?” Duan Ling berkata dengan kosong.

Wu Du melambaikan tangannya setelah berpikir. “Tidak apa-apa, tidak apa-apa — aku hanya mengatakannya tiba-tiba.”

Duan Ling benar-benar bingung.

Wu Du menambahkan, “Kau beruntung tidak berakhir dengan Zheng Yan. Kalau begitu… mari kita berhenti di situ untuk saat ini.”

“Zheng Yan? Apa hubungannya Zheng Yan dengan itu?”

“Tidak ada.” Wu Du melambaikan tangannya lagi dengan acuh. “Ayo kembali.”

“Tunggu. Ada hal lain yang ingin kukatakan padamu.”

Wu Du menatapnya dengan penuh tanya.

Mengenggam tangan Wu Du, Duan Ling duduk dengan tenang dan tenggelam dalam pikirannya untuk sementara waktu, dan dia tiba-tiba mengerti apa yang dikatakan Wu Du sebelumnya. Mereka belum pernah membicarakan masalah ini sebelumnya — meskipun bagi Mu Kuangda dan semua orang, pemuda yang muncul entah dari mana ini adalah putra dari teman Wu Du, mereka berdua cukup sadar akan siapa mereka sebenarnya. Wu Du tahu bahwa Duan Ling hanya berlindung di bawah perlindungannya untuk sementara, dan mungkin dia akan pergi; itu sebabnya mereka melakukan percakapan itu.

Mendengar Duan Ling mengatakannya telah membuat Wu Du sangat bahagia; kebaikannya telah dibalas dengan kebaikan.

“Kepergian ayahku adalah hal paling menyedihkan yang pernah terjadi padaku,” kata Duan Ling, dan dia duduk di batu yang sama, menggenggam tangan Wu Du.

Sementara itu Wu Du menggeser cengkeraman mereka untuk menyatukan jari-jari mereka, tidak menunjukkan tanda-tanda melepaskan. Terlihat agak malu dia berkata pada Duan Ling, “Aku akan memperlakukanmu dengan baik.”

“Apa kau ingat hari pertama kita bertemu?” kata Duan Ling.

Wu Du tersenyum. “Apakah ayahmu penjaga kedai di Aula Kemasyhuran? Aku ingat bahwa kau memegang akar ginseng. Itu untuk menjaga wanita hamil terhindar dari kematian.”

“Itu untuk Wuluohou Mu. Dia terbentur oleh pedangmu dan hampir mati.”

Wu Du menjadi sangat tenang; dalam sekejap, senyumnya memudar, dan dia menatap Duan Ling dengan tidak percaya.

“‘Zhu’ adalah orang pertama yang pernah aku bunuh. Di bawah perintah ayahku, Wuluohou Mu menjemputku dari Shangzi, dan begitu dia menemukanku, dia menyembunyikanku di Shangjing. Kau memimpin Penjaga Bayangan Chen dengan kekuatan jarak jauh, berbaris menyerbu utara untuk mencari keberadaanku. Sehari setelah Zhu mati, kau bahkan datang ke sekolah untuk mencariku, tapi kau salah orang dan berakhir menangkap Cai Yan.”

“Dan kemudian… aku dibesarkan di Shangjing. Dua tahun lalu, di musim semi, ayah kembali ke sisiku. Dia mengajariku semua hal yang kau pikir tidak bisa aku ketahui, seperti bagaimana memimpin pasukan, bagaimana merencanakan pertempuran, seni ringan, melompat ke tempat tinggi… dia melatihku dalam memanah, dan dia bahkan mengajariku Pedang Alam.”

Duan Ling melepaskan tangan Wu Du dan berdiri. “Lihat.”

Duan Ling memfokuskan pikirannya dan mengingat Panduan Telapak Tangan Alam. Dengan langkah cepat ke depan, dia membuat daun maple di langit terbang. Wu Du masih terjebak dalam keadaan keterkejutannya yang ekstrem saat Duan Ling melintasi lautan maple merah darah, melangkah melalui setiap gerakan dengan mudah sebelum dia menarik telapak tangannya ke dirinya sendiri, lalu berbalik ke samping untuk mendorongnya ke bawah. Dia telah melalui seluruh rangkaian dari awal hingga akhir.

“Beberapa bagian mungkin salah,” kata Duan Ling, sedikit gugup, “tapi secara keseluruhan sebagian besar benar.”

Untuk sementara waktu, Wu Du hanya menatap di depannya, tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Duan Ling duduk kembali di sampingnya dan menggoyangkannya. “Hei, Wu Du, apa kau mendengarkanku?”

“Dan… dan kemudian apa?” Suara Wu Du bergetar. Pikirannya benar-benar kosong.

Duan Ling mengangkat tangan Wu Du, dan menyatukan jari-jari mereka seperti sebelumnya. “Dan kemudian Shangjing jatuh, ayahku tidak pernah datang, dan aku melarikan diri dari kota bersama Cai Yan.”

Wu Du baru sekarang menatap Duan Ling, bingung dan benar-benar terpana. Pikirannya tampak mengembara, Duan Ling berkata, “Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu, tapi bagaimanapun juga, pada saat aku kembali ke Xichuan, keadaannya seperti sekarang. Aku tidak tahu siapa yang meniruku, tapi aku sudah kehilangan segalanya. Lang Junxia… Wuluohou Mu meracuniku dan melemparkanku ke sungai. Mungkin aku hanyut karena arus dan di situlah kau menyelamatkanku.”

“Aku minta maaf Wu Du. Aku berbohong padamu tentang banyak hal. Aku tidak berani mengatakan apa-apa… aku khawatir kau setia pada Kanselir Mu…”

Wu Du turun dari batu dan melangkah ke tanah. Duan Ling tampak bingung.

“Kau… aku tahu itu… aku pikir ada sesuatu yang tidak beres…” Suara Wu Du bergetar ketika dia berkata, “Bukan dia, tapi kau, putra mahkota yang sebenarnya… kau… kau…”

Masih terluka, Wu Du berlutut di depan Duan Ling.

“Bangun!” Duan Ling segera berkata.

“Yang Mulia Pangeran,” kata Wu Du sambil terengah-engah, “Ini semua karena ketidakmampuanku sehingga aku gagal melindungi mendiang kaisar tetap aman…”

Duan Ling juga berlutut di depan Wu Du. “Cukup, bangunlah!”

“Kau bangun…” Wu Du mencoba membuat Duan Ling bangun.

“Kau bangunlah!” Duan Ling terdengar panik.

Mereka saling menatap kosong satu sama lain untuk sesaat sebelum Wu Du tiba-tiba melingkarkan lengannya erat-erat di sekitar Duan Ling, begitu diliputi oleh emosi sehingga dia tidak dapat menemukan kata-kata tentang apa yang dia rasakan; segala sesuatu yang dia tidak tahu sebelumnya sekarang dapat dijelaskan.

“Aku tidak menyalahkanmu. Aku benar-benar tidak menyalahkanmu. Kau tidak pernah bersalah sejak awal, dan jika kau yakin bahwa kau bersalah maka aku akan memaafkan kesalahanmu atas nama mendiang ayahku. Mulai saat ini, kau tidak perlu menahannya lagi.”

Wu Du melingkarkan lengannya di sekitar Duan Ling dengan begitu erat, dan dengan begitu banyak kekuatan, sehingga Duan Ling hampir merasa kesakitan.

“Bangun, Wu Du.” Duan Ling membuat Wu Du berdiri, dan mereka menatap mata satu sama lain untuk waktu yang lama, begitu banyak emosi muncul ke permukaan, tapi tidak tahu harus mengawalinya dari mana.


KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. Ketakutan.
  2. Mengingatkan kembali, ketujuh dari ketujuh itu adalah hari ketujuh bulan ketujuh pada kalender lunisolar China. Waktu di mana Festival Qixi dilakukan.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments