Penerjemah: Keiyuki
Proofreader: Rusma


Setelah bank akhirnya selesai dengan kesibukan selama seminggu, ini pertama kalinya bagi Xia Yiyang begitu menantikan akhir pekan.

Karena tahu Shen Luo akan pulang hari ini, di Sabtu pagi, Xia Yiyang tidak berani bermalas-malasan di tempat tidur. Dia bangun lebih awal, mencuci setumpuk pakaian yang sudah menumpuk seminggu, lalu memanfaatkan cuaca cerah untuk menjemur selimut dan bantal di balkon. Di lantai, robot penyedot debu mondar-mandir bekerja, sementara Xia Yiyang membersihkan meja sebelum memutuskan untuk pergi berbelanja bahan makanan.

Di ponselnya, dia membuka aplikasi resep masakan “Love Kitchen” sambil memikirkan menu yang ingin dimasak. Namun setelah berkeliling pasar, dia malah ingin membeli semuanya, sampai-sampai membayangkan memasak 17 atau 18 hidangan, seolah ingin membuat jamuan lengkap ala kekaisaran.

Saat melewati supermarket, Xia Yiyang berpikir sejenak dan memutuskan masuk. Dia mengambil beberapa kotak yogurt di bagian pendingin, lalu memilih beberapa roti di bagian bakery, sebelum akhirnya berjalan perlahan ke rak kondom di dekat kasir.

Dia membungkuk, memperhatikan berbagai merek kondom dengan saksama. Seorang anak muda di sampingnya mengambil satu kotak sambil melirik Xia Yiyang sekilas.

Xia Yiyang merasa sedikit canggung, pura-pura tenang sambil menggaruk wajahnya, lalu dengan ekspresi serius memilih kondom dan pelumas.

Saat perjalanan pulang, hujan turun. Begitu keluar dari lift, Xia Yiyang mengibaskan air hujan dari tubuhnya. Saat mengangkat kepala, dia tertegun.

Zhang Ning berdiri di tangga, menatapnya dengan ekspresi terkejut.

Xia Yiyang sempat kesulitan mengingat wajah Zhang Ning, tapi garis wajahnya terasa cukup familiar, jadi tidak sulit untuk menebak siapa dia.

Keduanya berdiri canggung di depan pintu untuk beberapa saat sebelum Xia Yiyang akhirnya tersadar dan buru-buru membuka pintu.

“Apakah kamu sudah menunggu lama?” tanya Xia Yiyang sambil mencoba menjelaskan, “Aku baru saja pulang berbelanja.”

Zhang Ning tampak bingung harus berekspresi seperti apa. Dia terlihat gugup, tapi tetap saja mengamati Xia Yiyang dengan saksama, lalu dengan canggung menjawab, “Tidak terlalu lama…”

Xia Yiyang pun membuka pintu lebih lebar dan mempersilakannya masuk.

Zhang Ning awalnya hanya berniat mampir sebentar untuk melihat anaknya dan mengantar beberapa barang, tanpa menyangka akan bertemu Xia Yiyang. Dia jadi ragu tentang hubungan keduanya, tapi dari penampilan Xia Yiyang, jelas dia sudah tinggal di sana cukup lama.

Begitu masuk, Xia Yiyang langsung teringat tentang dinding penuh foto di ruang tamu. Tanpa sempat mempersilakan Zhang Ning duduk, dia buru-buru berlari ke sana dan melepas semua foto yang menempel di dinding.

Meski gerakannya cepat, beberapa foto masih sempat terlihat oleh Zhang Ning.

Kini suasana jadi semakin canggung.

Zhang Ning berdiri ragu—ingin pergi tapi merasa tidak puas jika pulang begitu saja.

“Silakan duduk terlebih dulu,” kata Xia Yiyang dengan canggung. Ia buru-buru melemparkan tumpukan foto ke dalam kamar, lalu keluar lagi untuk membuatkan teh bagi Zhang Ning. “Shen Luo sedang melakukan perjalanan bisnis di luar kota dan baru akan pulang malam ini. Apa kamu mau menunggu?”

Zhang Ning terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Tidak usah, aku tidak akan menunggu.”

Xia Yiyang tertegun. “Ti-tidak menunggu?”

“Tidak perlu,” Zhang Ning menggeleng pelan. Ia menatap Xia Yiyang sebentar sebelum berkata dengan suara rendah, “Aku hanya mampir untuk mengantarkan beberapa barang.”

Xia Yiyang tidak tahu harus menjawab apa selain, “Baik,” lalu kembali terdiam.

Suasana menjadi kaku dan hening cukup lama, sampai akhirnya Zhang Ning yang memecah keheningan, “Kamu dan Shen Luo… apakah kalian berdua bersama?”

Xia Yiyang tampak terkejut sejenak, lalu setelah ragu beberapa saat, akhirnya mengangguk dan mengaku, “Iya.”

Zhang Ning tidak mengatakan apa-apa. Setelah beberapa saat, ia tersenyum tipis, entah karena bahagia atau sedih. “Baguslah,” katanya pelan. Tatapannya tampak kosong, seolah tertutup kabut tipis. “Setelah sekian tahun, akhirnya dia… mendapatkan apa yang diinginkannya.”

Xia Yiyang tidak sepenuhnya mengerti maksud ucapan itu, tapi setelah berpikir sejenak, ia seakan tiba-tiba menyadari sesuatu. Dadanya terasa seperti tertusuk angin dingin yang menembus hingga ke tulang.

“Sebelum dia ke luar negeri,” Xia Yiyang menjilat bibir keringnya, berusaha menjaga agar suaranya tidak bergetar, “Apakah dia sudah memberitahu kalian?”

Zhang Ning tersenyum pahit. “Kalau tidak, menurutmu kenapa ayahnya bersikeras mengirimnya ke luar negeri?” Ia terdiam sejenak, lalu mengangkat tangan dan menutupi wajahnya. “Saat itu… kami benar-benar tidak mengerti.”

Xia Yiyang hanya diam, melihat Zhang Ning mengeluarkan setumpuk foto dan sebuah kotak perhiasan dari tasnya.

Di dalam foto-foto itu, terlihat Xia Yiyang saat masih muda di masa kuliah, penuh semangat dan tersenyum cerah.

“Aku ke sini hari ini untuk memberikan ini padanya,” kata Zhang Ning, tanpa memperhatikan ekspresi Xia Yiyang. “Dan juga ini.”

Ia membuka kotak perhiasan, memperlihatkan sebuah liontin Buddha emas yang tergeletak diam di dalamnya.

Zhang Ning mulai menangis.

Sambil terisak, ia berkata, “Aku menyimpannya selama ini… untuk mengingatkan diriku sendiri atas kebodohan yang pernah kulakukan…”

“Apa yang sudah kamu lakukan?” Xia Yiyang tiba-tiba bertanya.

Wajah Zhang Ning masih basah oleh air mata saat ia mengangkat kepalanya dengan gemetar.

Ekspresi Xia Yiyang tampak dingin dan keras, tapi matanya memerah. Ia menatap Zhang Ning tanpa mempedulikan sopan santun lagi. Dengan gigi terkatup dan rasa pahit memenuhi mulutnya, ia bertanya kata demi kata, “Waktu itu… kalian sebenarnya… melakukan apa padanya?”

Saat Zhang Ning pergi, Xia Yiyang tidak mengantarnya. Ia duduk diam di kursi, menunduk menatap liontin Buddha emas di atas meja. Tiba-tiba, ia meraih kotaknya dan mengangkat tangannya, hendak melemparkannya sekuat tenaga, tapi tangannya berhenti di tengah jalan.

Beberapa saat kemudian, ia perlahan menurunkan tangannya dan dengan hati-hati mengusap sisa air di liontin itu menggunakan ujung jarinya.

Di masa kuliah, Shen Luo pernah memotretnya banyak kali. Xia Yiyang menyimpan liontin emas itu, tapi ia bingung harus bagaimana dengan tumpukan foto tersebut. Akhirnya, meski matanya masih bengkak, ia menyelipkan foto-foto itu di tempat yang sama dengan liontin. Namun, ia merasa tempat itu kurang aman karena ini rumah Shen Luo, dan bisa saja ditemukan sewaktu-waktu.

Ia sudah kehilangan selera untuk memasak, jadi akhirnya memesan makanan lewat aplikasi. Shen Luo mengirim pesan, memberitahunya bahwa ia akan pulang lebih malam dan menyuruh Xia Yiyang untuk makan terlebih dahulu.

Sambil makan, Xia Yiyang memakai masker pendingin di matanya. Setelah selesai, ia kembali mengambil liontin Buddha itu, menatapnya lama, lalu meletakkannya di meja — di tempat yang pasti akan langsung terlihat saat Shen Luo masuk ke rumah.

Namun, baru setengah jam setelah meletakkan liontin itu di meja, Xia Yiyang sudah tidak tahan lagi. Ia mengambil kembali kotak perhiasan itu dan mulai berjalan mondar-mandir di ruangan, memainkan kotaknya di tangan. Akhirnya, ia memutuskan untuk menyembunyikannya lagi.

Begitulah, ia terus saja memindahkan liontin itu — kadang diletakkan di meja, kadang disembunyikan — hingga larut malam. Saat akhirnya melepas masker dingin dari matanya, ia merasa benar-benar putus asa.

Setelah berjam-jam memakai masker itu, matanya tetap merah dan bengkak.

Xia Yiyang berbaring di sofa, menatap liontin Buddha di tangannya. Ia kemudian meletakkannya di dadanya, merasakan dinginnya logam menyentuh kulitnya. Anehnya, rasa dingin itu justru memberinya sedikit ketenangan.

Tanpa sadar, sudut matanya memanas lagi. Ia terisak pelan, mengusap wajahnya, tapi air mata justru mengalir makin deras. Ia bahkan tidak mengira dirinya bisa menangis sebanyak ini. Dalam tangisannya, Xia Yiyang malah tertawa kecil, seperti mengejek dirinya sendiri.

Ia lalu mengangkat lengan untuk menutupi matanya dan menghela napas panjang dari dalam dada.

Xia Yiyang merasa seolah-olah sedang bermimpi.

Dalam mimpinya, bukan Zhang Ning yang muncul, melainkan dirinya sendiri, berdiri di balik jeruji besi asrama, memanggil nama Shen Luo.

Butuh waktu lama sebelum Shen Luo akhirnya bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya kurus kering, terlihat seperti kerangka hidup.

Xia Yiyang merasa seolah seluruh tubuhnya diliputi rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang.

Namun, saat Shen Luo akhirnya menoleh, ada cahaya yang terpancar di matanya.

Dia melihat Xia Yiyang.

Xia Yiyang mengulurkan tangannya.

Sambil tersenyum, dia berkata, “Aku datang menjemputmu.”


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply