Penerjemah: Keiyuki
Proofreader: Rusma


Meskipun Xia Yiyang punya niat besar untuk menempuh jarak jauh demi menemaninya tidur, begitu Shen Luo benar-benar pergi melakukan perjalanan bisnis, dia baru sadar bahwa mencintai itu mudah, tapi mewujudkannya lewat tindakan itu sungguh sulit.

Terlebih menjelang akhir tahun, kesibukan di bank benar-benar gila.

Akhirnya, malah Shen Luo yang setiap hari rutin memberi kabar. Saat menelepon, Xia Yiyang masih bekerja lembur di bank.

“Sudah jam delapan,” tanya Shen Luo di telepon, “Kamu belum pulang?”

Xia Yiyang menjawab, “Besok pagi aku ada rapat cabang, jadi hari ini harus menyelesaikan semua kontrak pinjaman bulan ini. Apakah kamu sudah sampai hotel?”

“Sudah dari tadi,” kata Shen Luo.

Xia Yiyang bertanya lagi, “Apakah kamu sudah minum-minum?”

Shen Luo tertawa kecil, “Aku adalah pimpinannya, jadi tidak perlu ikut minum.”

Xia Yiyang tertawa, “Menyenangkan sekali hidupmu.”

Shen Luo balik bertanya, “Berapa lama lagi waktu yang kamu perlukan untuk pulang?”

Xia Yiyang melirik tumpukan kontrak di mejanya, “Paling tidak sekitar satu-dua jam lagi.”

Shen Luo mengangguk dan bergumam, lalu setelah beberapa detik hening, dia tiba-tiba berkata, “Aku sudah pesan katering kepiting untuk kalian.”

Xia Yiyang kaget, “Benarkah? Berapa banyak yang kamu pesan?”

Shen Luo menjawab santai, “Lebih dari cukup. Kamu dan rekan kerjamu bisa makan perlahan.”

Xia Yiyang terdiam.

Saat pesanan sampai, Xia Yiyang masih sibuk membubuhkan tanda tangan di tumpukan kontrak. Cai Cai masuk membawa beberapa dokumen sambil menggigit sepotong kaki kepiting di mulutnya, aroma kepiting langsung tercium oleh Xia Yiyang.

“Berapa banyak orang yang makan di luar?” tanya Xia Yiyang sambil terus menandatangani dokumen.

Cai Cai berpikir sejenak, “Sekitar belasan orang.”

Xia Yiyang menghela napas, “Masih berapa yang tersisa?”

Cai Cai mengangkat bahu, “Tidak tahu… apakah kamu yang memesannya?”

Xia Yiyang melirik dingin ke arahnya, “Apakah enak?”

“Tentu saja enak!” jawab Cai Cai semangat.

Xia Yiyang tersenyum penuh kepalsuan, “Direktur Shen dari Komisi Regulasi Perbankan yang memesannya.”

Cai Cai langsung terdiam.

Mungkin karena nama “Direktur Shen” terdengar cukup menakutkan, Cai Cai langsung menghabiskan kaki kepiting itu sampai benar-benar bersih. Saat Xia Yiyang selesai menandatangani kontrak dan keluar dari ruangannya, dia melihat rekan-rekannya ternyata cukup berperasaan, mereka menyisakan satu kepiting betina lengkap dengan telur utuh untuknya.

Xia Yiyang pun duduk di bilik kerja dan mulai mengupas kepiting itu. Cai Cai mendekat dan menyerahkan tisu kepadanya.

“Apakah hubunganmu dengan Direktur Shen begitu dekat?” tanya Cai Cai sambil bergosip. “Sudah malam begini, tapi dia masih mengirimkan makanan.”

Xia Yiyang mengisap jari yang belepotan saus kepiting, “Dia tidak hanya mengirimkannya padaku. Kalian juga mendapatkannya, ‘kan?”

Cai Cai mendesah pelan, “Benar juga, tapi mendapatkan yang seperti ini, rasanya terlalu mewah… aku jadi takut.”

Xia Yiyang berkata, “Waktu makan tadi, kamu sama sekali tidak terlihat ketakutan.”

Cai Cai hanya mencibir.

Saat Xia Yiyang sedang setengah jalan menikmati kepitingnya, Shen Luo mengiriminya pesan, [Apakah kamu sudah makan?]

Xia Yiyang mengetik dengan malas, menekan huruf satu per satu, [Baru saja mulai makan.]

Shen Luo membalas lagi, [Ambil gambar dan tunjukkan padaku.]

Xia Yiyang memotret sisa setengah kepiting di hadapannya dan mengirimkannya.

Tapi Shen Luo langsung membalas, [Bukan kepitingnya, maksudku kamu. Foto dirimu dan kepitingnya bersama.]

Xia Yiyang mengeluh dalam hati, Kenapa merepotkan sekali. Tapi dia tetap menyerahkan ponselnya ke Cai Cai. “Tolong fotokan aku.”

Cai Cai kebingungan, “Huh?”

Xia Yiyang menunjuk kepiting di depannya, “Ambil fotoku saat sedang memakan kepiting.”

“Apa bagusnya difoto…” Cai Cai mengangkat ponsel dan mengarahkannya ke Xia Yiyang. “Tersenyumlah.”

Xia Yiyang pun berpose.

“…” Cai Cai mengernyit, “Senyummu seperti orang yang pertama kali makan kepiting dalam seumur hidupnya.”

Xia Yiyang: “…”

Setelah lembur, waktu sudah hampir menunjukkan pukul 11 malam. Xia Yiyang benar-benar kelelahan sampai tak sanggup mengemudi. Ia akhirnya duduk di mobil, memejamkan mata selama lima belas menit, baru kemudian pelan-pelan pulang ke rumah.

Setelah mandi, Shen Luo menelepon lagi. Mereka mengobrol sebentar tentang persetujuan kredit hari ini dan hasil pemeriksaan. Tiba-tiba Xia Yiyang teringat sesuatu.

“Awal tahun depan akan ada properti baru yang dibuka di dekat Dongshan. Harganya lumayan bagus.” Xia Yiyang mengaktifkan speaker, sambil mengeringkan rambut dan naik ke tempat tidur. “Apakah kamu tertarik?”

Shen Luo bertanya, “Villa?”

Xia Yiyang menjawab, “Bukan, apartemen luas yang langsung menghadap ke danau. Bank kami bisa mendapatkan harga internal.”

Shen Luo mengangguk pelan, “Mari kita pergi dan melihat pada akhir tahun. Apakah Show unit-nya sudah ada?”

Xia Yiyang mengangkat ponsel, “Sepertinya sudah. Hari ini manajer penjualan secara khusus mengantarkan denah rumahnya. Nanti saat kamu sudah pulang, ayo kita melihatnya bersama.”

“Aku mungkin baru bisa pulang Sabtu malam,” kata Shen Luo. “Lima hari di sini masih belum cukup untuk menyelesaikan pemeriksaannya.”

Xia Yiyang bertanya, “Kenapa? Apakah ada masalah?”

Shen Luo menjawab datar, “Bank pertanian komersial di sini menjadi fokus pemeriksaan utama akhir tahun. Aku tidak tahu siapa yang telah menyinggung atasan. Apa pun yang terjadi, kami harus mencari tahu masalahnya.”

Xia Yiyang mengernyitkan dahi, ingin mengatakan sesuatu tapi akhirnya menahan diri. Ia hanya menambahkan, “Baiklah, ketika pulang berhati-hatilah saat menyetir di malam hari.”

Setelah menutup telepon, Xia Yiyang malah sulit tidur. Ia mematikan lampu, lalu berbaring sambil bermain ponsel di bawah selimut. Seperti biasa, dia membuka Instagram diam-diam untuk mengintip akun Shen Luo.

Tak disangka, Shen Luo mengunggah foto dirinya saat makan kepiting.

Tapi wajahnya tertutup mozaik besar.

Xia Yiyang: “…”

Shen Luo memang cukup terkenal di Instagram. Dia termasuk pengguna awal dan fotonya juga selalu bagus. Terkadang, akun-akun Weibo dalam negeri pun ikut mengunggah foto-fotonya. Mengenai foto-fotonya yang dicuri, jumlahnya sudah tak terhitung lagi.

Selama bertahun-tahun, ciri khas akun Shen Luo adalah tidak pernah memposting foto orang. Tapi sejak pulang ke Tiongkok dan mulai sering mengunggah foto orang (meskipun hanya sebagian tubuh), kolom komentarnya hampir selalu meledak setiap harinya.

Dia jelas adalah seorang pria yang hampir berusia 40 tahun, tapi masih seperti anak kecil yang mendapatkan permen, senang sekali pamer.

Tapi di saat yang sama, dia juga takut seperti akan direbut orang, bahkan sangat berhati-hati bahkan ketika menunjukkannya kepada orang lain.


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply