“Ini adalah pekerjaanku! Bagaimana bisa dianggap mengganggu?!”

Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: Keiyuki17


Feng Qianjun memeriksa mayat dengan tubuh berantakan yang kini telah terbelah menjadi dua di tanah; sekitar dua puluh atau lebih tubuh mayat-mayat itu telah dipotong oleh Xiang Shu dalam sekejap hanya dengan satu ayunan pedangnya, dan potongannya bersih dan rapi. Namun, kelompok mayat hidup ini masih hidup. Setelah kepala mereka dipotong dari tubuh mereka, lengan mereka yang patah masih berkedut dan mengejang, yang membuat kulit kepala Feng Qianjun kesemutan.

Ai!” Feng Qianjun melihat Chen Xing yang berlari ke dalam hutan untuk mengejar dan segera berteriak, “Jangan pergi!”

Chen Xing melihat ke belakang, “Aku harus memeriksa bajingan itu! Aku seorang pengusir setan, aku akan baik-baik saja! Tunggu aku di sini!”

Feng Qianjun dengan cepat menarik pedang sabrenya dan hendak mengejar Chen Xing ketika dia mendengar suara langkah kaki menghantam tanah di kejauhan. Dia segera bersembunyi di dalam semak-semak, berniat meluncurkan serangan diam-diam jika ada yang salah.

Namun, orang-orang yang datang itu adalah sekelompok prajurit Jin. Pemimpin mereka memegang obor, dengan cepat turun dari kudanya ketika dia tiba di tengah medan perang kecil ini.

“Ada beberapa di sini ……” Suara dari pemimpin prajurit itu terdengar bergetar, “Siapa yang membunuh mereka?”

“Apa yang terjadi di sini?” Suara Feng Qianjun terdengar dari belakang, dan dia menekankan pedang sabrenya ke leher pemimpin itu. Para prajurit tidak menyangka bahwa akan ada orang lain di sini! Mereka semua berteriak dengan marah, “Siapa kau?!”

“Bicaralah,” Feng Qianjun berkata dengan dingin, “Apakah pemerintah sudah lama tahu tentang keanehan tempat ini?”

“Monster-monster ini …… semuanya dibunuh olehmu?” Pemimpin itu tersentak, “Berapa banyak lagi yang kamu lihat?”

Dengan gerakan halus di pergelangan tangannya, Feng Qianjun melukai leher pemimpin itu dengan sabrenya. Darah muncrat ke mana-mana, dan pemimpin itu merasa begitu ketakutan sampai seluruh tubuhnya gemetar, “Aku akan bicara! Aku akan bicara! Jangan bunuh aku!”

Feng Qianjun bertanya, “Kapan semua keanehan ini dimulai? Bicaralah sambil berjalan!” Lalu dia berkata kepada anjing Chen Xing, “Xiang Shu, tunggu di sini.”

“Lebih …… lebih dari sebulan yang lalu,” Pemimpin itu menggigil, “Dua penduduk desa …… melarikan diri dari desa Longzhong. Mereka pergi ke Kota Mai untuk melaporkan suatu kasus kepada pihak berwenang, tetapi tidak ada pejabat yang mempercayai mereka dan berpikir bahwa itu hanya rencana pasukan Qin untuk membuat pengalihan dan memancing para prajurit untuk pergi ……”

Chen Xing berlari ke arah Xiang Shu,  pergi dengan begitu cepat. Setelah memasuki wilayah hutan itu, jalan yang dilaluinya pada setengah sisi naik menuju pegunungan. Dia berbelok di wilayah lereng pegunungan disana dan menuju sebuah desa di bawahnya.

Chen Xing, “???”

Bahkan ada desa di sini?

Dia tidak melihat pancaran cahaya sedikit pun. Sudah waktunya ayam jantan berkokok, namun kesunyian yang mematikan menyelimuti desa itu. Chen Xing menyalakan Cahaya Hati di tangan kirinya dan membuka pintu sebuah rumah dengan tangan kanannya. Tidak ada siapa-siapa, dan tidak ada mayat — seakan-akan seluruh desa ini telah dievakuasi dalam semalam.

Dimana semua orang? Kemana mereka semua pergi? Chen Xing menutup matanya dan menghadap keempat arah secara bergantian. Tiba-tiba, dia merasakan kilatan cahaya.

Dia sekarang hampir benar-benar yakin bahwa Cahaya Hati menuntunnya ke tempat Xiang Shu berada. Xiang Shu juga adalah Dewa Bela Diri Pelindung yang dipilih oleh Cahaya Hati, tidak ada kesalahan tentang itu! Semakin banyak keraguan menumpuk di dalam hati Chen Xing, hanya Xiang Shu yang bisa menjawab keraguannya ini.

Kilatan cahaya itu muncul di utara. Ada jalan berliku lain di sana yang menuju ke tempat yang lebih tinggi di sisi utara desa.

Chen Xing bergegas, dan tempat pemakaman muncul di depannya. Pusat dari pemakaman itu telah digali dan diekspos di tempat terbuka, dengan lusinan peti mati batu tergeletak di luar. Sebuah pelataran batu berdiri di tengah, dan seorang pria bertopeng dan berjubah hitam berdiri di depannya, siluetnya berpadu mulus dengan malam yang gelap gulita.

Di atas pelataran batu itu, ada seorang prajurit tinggi hampir sembilan chi yang dibalut baju besi hitam dari kepala sampai kaki dan pelindung kepala besi yang menutupi kepalanya. Dia dikelilingi oleh sosok hantu pengembara, yang sebenarnya berdiri, itu adalah mayat hidup!

Di sekeliling mereka adalah sekelompok mayat hidup yang mengenakan pakaian sipil, sedangkan lingkaran dalam terdiri dari selusin atau lebih prajurit Jin. Setelah mengamati hal ini, sebuah ide muncul di benak Chen Xin: pria bertopeng itu memainkan semacam tipuan misterius di tempat ini dan benar-benar berhasil mengubah semua orang di desa menjadi “iblis kekeringan”, sementara pasukan prajurit Jin yang telah datang untuk menyelidiki insiden ini juga ikut berubah menjadi iblis kekeringan!

Setelah menghubungkannya dengan iblis kekeringan yang dia temui di malam hari sebelumnya, Chen Xing mulai berspekulasi bahwa mungkin iblis kekeringan yang dia lihat adalah prajurit patroli mereka …… tetapi keheningan sudah jatuh pada semua sihir, dan Qi spiritual dari langit dan bumi kini sudah habis. Dari mana asal muasal pria bertopeng ini? Dan sihir macam apa yang dia gunakan?

Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benak Chen Xing. Dia berbalik menghadap sisi lain dari pemakaman dan melihat bahwa di balik lempengan batu, Xiang Shu saat ini sedang berlutut dan mengamati situasinya. Dia memberi isyarat kepada Chen Xing berulang kali untuk membuatnya berjongkok sehingga dia tidak akan ditemukan.

Chen Xing segera membungkuk, lalu berlari menuju Xiang Shu di bawah tembok luar pemakaman, yang tingginya kira-kira setengah orang dewasa.

Chen Xing, “Siapa dia?”

Xiang Shu tidak menanggapi dan hanya mengerutkan kening saat dia mengamati pria bertopeng itu merapal mantra di pelataran batu di bagian tengah. Pria itu sama sekali tidak bergerak, dan hanya berdiri di sana. Mayat hidup berkerumun dalam keheningan, dan situasinya sangat aneh.

“Apa yang ingin dia lakukan?” Chen Xing merendahkan suaranya dan bertanya lagi.

“Aku tidak tahu!” Xiang Shu menjawab dengan kesal, “Diamlah!”

Keraguan Chen Xing kini telah mencapai puncaknya; dia tidak memiliki satu ons pun kesadaran diri yang seharusnya dimiliki oleh seorang pengusir setan, apalagi menganggap bahwa dialah yang menjawab pertanyaan dan menghilangkan keraguan saat ini, itu tidak mungkin.

“Lalu berapa lama lagi kita harus tinggal di sini untuk menonton?” Chen Xing bertanya lagi.

Xiang Shu, “……”

Chen Xing menyadari bahwa jika dia terus mengajukan pertanyaan, dia kemungkinan besar akan dipukul, jadi dia harus tetap diam. Namun, dia kemudian memperhatikan sederet karakter cinnabar yang tertulis di lempengan batu tempat mereka bersembunyi di belakang. Dia mengulurkan tangan untuk menyentuh karakter yang tenggelam itu dan mengenali lima kata yang terukir di atasnya – “Jin Xiangyang Pangeran Wei yang Agung”.

Sima Wei? Yang dimakamkan di pemakaman ini adalah Pangeran Chu dari klan Sima yang tewas dalam Perang Delapan Pangeran?!

Chen Xing segera mengalihkan pandangannya ke tengah pelataran batu untuk melihat mayat berpakaian baju besi yang berbaring telentang. Dengan baju besi hitam yang mewah, yang memakainya pasti bukan rakyat biasa — itu pasti tubuh Sima Wei!

Tapi dia sudah mati selama hampir seratus tahun! Mayatnya belum membusuk?

Dia melihat tangan penyihir itu naik sedikit, dan tubuh berat Sima Wei terangkat untuk berdiri di udara. Pada saat itu, embusan angin kencang yang tak terlihat dan begitu kuat segera menyerang mereka, menyebabkan Chen Xing menggigil – itu adalah “embusan angin Yin” seperti yang disebutkan dalam pepatah lama. Hanya pengusir setan seperti dia yang tahu bahwa itu adalah efek dari kebencian yang mengalir di dalam dunia ini. Orang-orang biasa yang mengalami angin dingin dan berbahaya ini tidak menyadari asal-usulnya dan hanya akan menggambarkannya sebagai “angin Yin”.

Angin Yin menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi setiap detiknya – itu adalah kebencian yang bertahan di dunia manusia dari prajurit yang telah mati dalam pertempuran dan semua orang biasa yang kehilangan nyawa mereka dalam perang dalam radius seratus mil!

Chen Xing segera memiliki persepsi yang samar-samar tentang niat sebenarnya dari kastor: bukan Qi
spiritual dari langit dan bumi yang dia manipulasi, tetapi kebencian yang melimpah dari orang mati setelah perang besar di Kota Xiangyang. Dia ingin mengilhami tubuh Sima Wei dengan itu untuk menghidupkan kembali mayatnya.

Meskipun dia tidak yakin mengenai motif sebenarnya dari pria bertopeng ini, Chen Xing tahu bahwa dia harus segera bertindak, karena mantra yang diucapkan pria itu kini telah mencapai titik paling kritis……

“Pelindung,” Chen Xing berbisik, “Kita harus keluar sekarang untuk menghentikannya!”

Saat dia mengucapkan ini, leher Chen Xing dicengkeram oleh Xiang Shu seolah-olah dia adalah anak ayam kecil yang ditahan di leher.

“Jika kau ingin pergi, pergilah sendiri.” Xiang Shu berbisik, “Jangan biarkan dia tahu aku ada di sini, dan aku juga bukan Pelindung.”

Chen Xing mengertakkan gigi. Dia tidak bisa berbicara, tetapi tatapannya pahit dan marah. Chen Xing dengan keras memberi isyarat untuk menekankan kepada Xiang Shu bahwa situasi di depan mereka sudah cukup parah. Dia berpikir, jika kau ada di sini bukan untuk menghentikan penyihir sejati ini membawa bencana ke dunia manusia, untuk apa kau lari jauh-jauh ke sini?!

Pada saat itu, sekelompok besar pasukan Jin tiba dengan Feng Qianjun mengikuti di belakang, yang kini tengah memegang pisau di kedua tangannya. Feng Qianjun berlari ke tepi pemakaman, sementara prajurit Jin lain mengangkat obor mereka satu per satu. Hampir ada lima puluh orang yang bergegas ke pinggiran pemakaman dengan momentum besar.

Xiang Shu segera melepaskan cengkeramannya pada Chen Xing. Keduanya memberi isyarat serempak kepada orang-orang yang telah tiba, tapi sudah terlambat. Pemimpin pasukan Jin gemetar ketakutan saat dia berteriak, dan langsung menarik perhatian pria bertopeng itu.

“Penyihir, dari mana asalmu!” Tampak jelas bahwa pemimpin ini tidak bisa berbicara dengan percaya diri, dan dia berteriak dengan gentar, “Cepat menyerahlah, kami akan menangkapmu!”

Pemimpin prajurit Jin itu tidak melihat peringatan Xiang Shu dan Chen Xing, tetapi Feng Qianjun melihatnya. Dia segera berbalik dan bersembunyi di balik tembok luar pemakaman, dan memberi isyarat, apa yang akan kita lakukan sekarang?

Xiang Shu segera melambaikan tangannya dan meraih Chen Xing, yang hendak berlari keluar, kehilangan kesabarannya. Yang mereka dengar hanyalah cibiran dari “penyihir” yang berdiri di depan pelataran batu di tengah pemakaman. Dia kemudian berbicara dengan suara tenang. Chen Xing bahkan tidak mendengarnya dengan jelas ketika hampir seratus mayat hidup dari penduduk desa yang kini telah berubah menjadi iblis kekeringan menerjang pasukan Jin!

“Serang!” Pemimpin itu berteriak dan memimpin anak buahnya untuk menyerang dengan berjalan kaki. Mereka mengayunkan pedang mereka dan dengan cepat memotong kepala para mayat hidup itu, darah busuk tumpah kemana-mana. Chen Xing melirik Feng Qianjun, yang posisinya tidak jauh. Feng Qianjun bersembunyi di balik dinding dan menunjuk pada dirinya sendiri, lalu mengangguk pada Chen Xing dengan maksud, ‘ya, aku yang mengajari mereka’.

Chen Xing mengingat mayat hidup yang otaknya hancur berkeping-keping di kaki tebing, jadi dia berhenti bergerak. Dia buru-buru memberi tahu Xiang Shu, “Potong kepala mereka.”

Setelah dia berbicara, Chen Xing muncul dari balik lempengan batu dan berteriak, “Monster! Matilah!” Hanya setelah berjalan beberapa langkah, dia menyadari bahwa dia tidak bersenjata. Dia dengan cepat berbalik dan berlari menuju pemimpinnya. Dia berteriak, “Pinjamkan aku pedang!”

Feng Qianjun mengejarnya sambil memegang sabre miliknya dan berteriak, “Cepat dan kembali! Jangan menimbulkan masalah! ”

Chen Xing tiba-tiba melihat sekop yang digunakan untuk menggali kuburan dan berpikir, hebat! Dia mengikuti di belakang para prajurit, mengayunkan sekop besi itu, dan menamparnya ke kepala mayat hidup di depannya.

Pandangan Xiang Shu pada pria bertopeng itu tidak tergoyahkan; seolah-olah dia benar-benar tidak peduli dengan pasukan mayat hidup di sekitarnya. Saat berikutnya, ketika pria yang berdiri di depan pelataran batu mengangkat tangannya, Xiang Shu langsung bergegas mendekat; dia melangkah ke peti batu pertama, berputar, mendarat di samping Chen Xing, menendang Feng Qianjun yang berada di sisi yang lain, lalu mengangkat tutup peti batu yang beratnya hampir dua ratus jin dengan satu tangan, dan menekannya sementara peti batu itu berada di depannya dan Chen Xing.

Feng Qianjun baru saja berbalik ketika dia ditendang ke satu sisi, sementara wajah Chen Xing dipenuhi keraguan. Dia mendongak untuk melihat pria bertopeng berjubah hitam yang kini mengangkat tangannya untuk menekan udara. Seperti riak yang diaduk di atas air, api hitam berkedip di tangannya, dan ratusan meteor hitam ditembakkan, tersebar tanpa pandang bulu dan menyerang para prajurit Jin dan mayat hidup yang terlibat dalam pertempuran. Begitu api hitam mengenai tubuh mereka, para prajurit akan melolong kesakitan dan berguling-guling di tanah dengan penuh kepanikan.

Tutup peti batu itu dipukul dan dihancurkan menjadi berkeping-keping; Xiang Shu menahan getaran yang luar biasa itu, membungkuk sedikit, mencabut pedangnya, dan berubah menjadi bayangan saat dia melesat langsung menuju altar di tengah platform batu dengan wusss!

Terlalu cepat! Dia sangat cepat! Chen Xing masih mencengkeram sekopnya dan dalam sekejap mata, hanya dia, Xiang Shu, dan Feng Qianjun yang masih berdiri di area pemakaman itu. Semua orang kini sudah jatuh ke tanah satu demi satu.

“Saudara Feng!” Chen Xing berteriak, “Dari mana mereka datang?!”

Feng Qianjun, “Jangan sentuh mereka!”

Saat api hitam menyentuh seseorang, mereka akan mulai terbakar. Chen Xing tidak berani untuk menyentuhnya. Feng Qianjun berdiri dan berteriak, “Di belakangmu!”

Semua prajurit Jin telah jatuh, tapi masih ada beberapa mayat hidup yang tersisa. Pada saat ini, mereka mulai mengepung Chen Xing satu per satu.

“Munculkan cahaya!” Feng Qianjun mengayunkan sabrenya dan memotong kepala dari dua tubuh mayat hidup. Dia berteriak, “Mereka takut dengan cahaya!”

Pada saat ini, Xiang Shu sudah bergegas ke pelataran batu dengan langkah besarnya, pedangnya membentuk lengkungan cahaya saat dia mengayunkannya dengan bunyi “buzz“. Pria bertopeng itu segera menaikkan tangannya untuk melepaskan belati dari lengan kanan bajunya. Belati itu bertabrakan dengan serangan Xiang Shu disertai bunyi dentangan — belatinya berkilauan seperti warna kulit keong yang dicelupkan ke dalam racun. Xiang Shu tidak memberinya kesempatan sama sekali dan menusuk tepat ke leher musuh dengan pedangnya!

“Kau sangat terampil.” Pria bertopeng itu selalu mengarahkan satu tangannya ke tubuh Sima Wei yang ada di pelataran batu, sementara tangan yang lainnya berjuang menangkis pedang Xiang Shu. Dalam sekejap, mereka telah membongkar tiga gerakan. Pria bertopeng itu melihat bahwa dia tidak akan bisa terus menahan serangan Xiang Shu, jadi dia tiba-tiba terbang, menegakkan tubuhnya, dan benar-benar mulai terbang! Xiang Shu segera mundur dan melihat ke atas ke ketinggian satu zhang jauhnya. Dia memperhatikan bahwa pria bertopeng tidak berani untuk terbang jauh; tangan kirinya masih diarahkan ke tubuh Sima Wei, mengarahkan aliran kebencian tak terlihat dan tak berujung ke dalam tubuh orang mati itu. Xiang Shu mengamati setiap gerakan si pria bertopeng, hanya untuk melihat belatinya menghilang dengan kibasan di lengan baju kanannya, dan sebuah panah besi kecil menggantikannya. Panah tajam muncul di busurnya; cahaya dingin melintas saat pria itu melihat dari bawah ke atas — dia ingin memberikan pukulan fatal untuk Xiang Shu.

Pada saat yang sama, Feng Qianjun keluar dari pengepungannya dan berlari ke arah Chen Xing, yang di kelilingi oleh mayat hidup.

Chen Xing, “Kenapa kau membawa begitu banyak prajurit?”

Feng Qianjun, “Mereka adalah orang orang yang tahu jalan kesini, apa lagi yang bisa kulakukan? Kenapa kau sangat mengganggu?”

Chen Xing menaikkan tangannya dan berteriak, “Ini adalah pekerjaanku! Bagaimana bisa dianggap mengganggu?!”

Tiba-tiba, Cahaya Hati terpancar dari tangan Chen Xing; dengan kilatan cahaya putih yang menyala-nyala, seketika para mayat hidup meratap dan runtuh.

Pria bertopeng itu melihat kilatan cahaya putih dan mayat hidup miliknya semakin ditekan untuk mundur, jadi dia tidak lagi mengkhawatirkan dirinya dengan Xiang Shu dan berbalik untuk melihat.

“Singkirkan mereka!” Feng Qianjun berteriak, “Cepat!”

Chen Xing sudah tidak dalam bahaya lagi, tadi dia memegang sekop di tangan kanannya dan mengangkat Cahaya Hati di tangan kirinya. Dia akan menggunakan sekop itu untuk menyerang kepala dari kumpulan mayat hidup, tapi pada saat itu mereka diterangi oleh cahaya putih, para mayat hidup secara naluriah melarikan diri ke semua arah. Chen Xing mengayunkan sekopnya untuk memukul mereka, tapi dia selalu berakhir dengan mengayunkannya ke udara. Pada akhirnya, situasi berubah menjadi pemandangan dimana mayat hidup melarikan diri dengan tergesa-gesa kemanapun dia pergi. Wilayah pemakaman itu tiba-tiba menjadi kacau dalam hitungan detik, seperti serigala yang bercampur dengan kawanan domba, dan tampak seperti ayam-ayam terbang dan anjing-anjing menggonggong dimana-mana.

“Aku tidak bisa mengenai mereka!” Kata Chen Xing kesal. Dia hendak memadamkan Cahaya Hati saat Feng Qianjun berlari ke depan dinding dan berteriak, “Cepat ke sini!”

Dengan demikian, pemandangannya menjadi sangat aneh. Seorang pemuda memegang sekop besi tinggi-tinggi sedangkan tangan kirinya bersinar terang saat dia menggiring sekelompok besar mayat hidup ke bagian barat pemakaman. Kerumunan mayat hidup itu saling berdesakan saat melewati jalan sempit di antara dua dinding dan melewatinya dengan berisik. Feng Qianjun berteriak, “Dengarkan perintahku! Serang!”

Chen Xing berlari. Ketika sekelompok mayat hidup dikejar oleh Cahaya Hati seperti itu, mereka mempercepat larinya. Saat dimana mereka masih berdesak-desakan di jalan sempit itu, Feng Qianjun mengambil napas dalam-dalam, menutup matanya, dan meraung dengan gila. Dia mengayunkan pedang sabrenya secara horizontal di depannya dan terjun ke bawah, bertemu dengan pasukan mayat hidup secara langsung dengan kekuatan tornado saat dia berlari ke depan!

Sabrenya berkilau saat memantulkan cahaya, dan dengan “whoosh“, sabre itu telah memotong hampir 60 kepala mayat hidup berturut-turut. Ketika dia tiba di depan Chen Xing, tampak ekspresi tercengang di wajah Chen Xing, tapi Feng Qianjun dengan halus membalikkan tangannya. Sabrenya sedikit menyimpang dari sudut lintasannya; pedang itu berjarak kurang dari tiga inci dari wajah Chen Xing dan melewati hidungnya, membawa embusan angin dingin bersamanya.

Chen Xing, “……”

Feng Qian Jun menekuk pergelangan tangannya, mengibaskan semua sisa darah busuk dari sabre Guangzhou-nya dengan satu gerakan; cahaya yang jernih dan dingin masih terlihat di ujung pedangnya.

“Keterampilan sabre yang bagus.” Ketika Chen Xing melihat pedang itu datang ke arah lehernya, dia berfikir bahwa kepalanya akan dipenggal juga, dan berkata dengan gentar, “Keren.”

“Kau memujiku, hanya karena aku memiliki senjata suci.” Sebelumnya, Feng Qianjun sama sekali tidak siap dan tidak bisa menangani serangan dari para mayat hidup. Tapi sekarang dia tahu apa yang sedang dia hadapi, dia tidak akan dikalahkan lagi. Dia segera berbalik dan melesat ke arah Xiang Shu.

Xiang Shu memperhatikan pria bertopeng itu dengan baik-baik, dan sekarang pria bertopeng itu terlihat ketakutan. Dia hanya ingin menyelesaikan ini secepat mungkin; dengan satu tarikan, enam anak panah yang tersembunyi melesat. Ini adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh Xiang Shu. Dia mengacungkan pedang panjang di tangannya dan dengan enam “ding ding ding” berturut-turut, dia benar-benar telah memblokir setiap panah setipis sehelai rambut sapi yang tersembunyi!

“Kau….” si pria bertopeng itu langsung tertegun. Xiang Shu melompat ke pelataran batu dan berputar saat dia menikam tangan kiri pria bertopeng itu dengan pedang. Feng Qianjun segera tiba setelah itu, dia mengambil dua langkah untuk melompat ke pilar batu di dekat pelataran, memutar pedangnya secara horizontal untuk menebas ke bawah saat dia mengarahkannya ke leher pria bertopeng itu!

Namun, hanya jubah hitam dari pria bertopeng itu yang robek disertai bunyi desir — di dalamnya kosong. Pakaian itu berterbangan dan bergulung-gulung di udara, kembali ke tampilan aslinya. Pria itu menarik diri dan mundur; topengnya jatuh ke tanah, memperlihatkan wajah aslinya.

Pedang Xiang Shu hanya merobek lengan bajunya, sementara sabre Feng Qianjun telah mengenai topengnya. Topeng itu jatuh dan mendarat dengan suara dentingan. Kedua pria itu mendarat; Chen Xing berlari ke depan pelataran batu dan melihat ke atas.

Wajah pria yang tegas dan anggun itu terungkap saat dia melihat ke bawah untuk mempelajari ke tiga orang itu dari atas. Dia mengejek.

“Monster macam apa itu?” Feng Qianjun mengerutkan keningnya.

Chen Xing bingung. “Aku tidak tahu? Semua orang di sini tidak ada yang mengenalnya, untuk apa dia memakai topeng.”

Suara pria itu tajam, dan wajahnya pucat saat dia bertanya dengan dingin, “Siapa kau?”

Chen Xing berkata, “Siapa kau!”

Pria itu tampak bingung, “Siapa kau?”

Chen Xing, “Katakan dulu siapa kau! Apa yang ingin kau lakukan?”

“Dia mengulur-ulur waktu!” Xiang Shu melihat bahwa percakapan yang tidak masuk akal dan tak berujung ini berputar-putar di kata-kata ‘Siapa kau’, dan ketika ‘dan siapa kau’ akan segera dikatakan kembali, dia segera angkat bicara untuk menghentikannya. Dia berteriak, “Jangan buang-buang waktu untuk bicara dengannya!”

Chen Xing akhirnya sadar setelah mendengar itu. Dengan cahaya putih yang menyelimuti tangan kirinya, dia menghadap ke langit dan berteriak, “Matilah!”

Chen Xing mengerahkan seluruh kemampuannya, dan kilauan Cahaya Hati meledak dalam sekejap, berubah menjadi partikel cahaya yang tak terhitung jumlahnya yang menyebar seperti bintang-bintang di galaksi, namun tawa pria itu meledak dan terdengar tajam.

“Bodoh, aku tidak seperti iblis kekeringan.” Pria itu sama sekali tidak terluka. Dia mengangkat tangan kanannya, dan tangannya mengeluarkan api hitam, menghancurkan tiga orang di bawah dan meledak dengan suara ledakan yang keras.

Chen Xing tidak menyangka bahwa penyihir itu tidak takut sama sekali dengan Cahaya Hatinya. Feng Qianjun dan Xiang Shu berbalik di waktu yang bersamaan dan menerjang ke arah Chen Xing. Xiang Shu menendang Feng Qianjun terlebih dulu sebelum melingkarkan satu lengannya ke pinggang Chen Xing dan berguling-guling di tanah bersamanya. Mereka bertiga menghindari api hitam itu. Xiang Shu mendorong Chen Xing ke belakang pilar batu sebelum dia berbalik dan bergegas keluar.

Pada saat itu, sekelompok burung gagak melintas dari kejauhan. Pria berjubah hitam itu tertawa gila dan berkata dengan gila, “Berhasil–“

Setelah itu, di pelataran batu bagian tengah, api hitam meledak dari tubuh Sima Wei diikuti dengan ledakan keras dan keluar dari celah baju besinya. Mereka menyala di tempat dan naik ke langit dengan baju besinya, kemudian hancur menjadi partikel cahaya hitam sebelum terbang ke barat laut.

Warna putih marmer di langit fajar muncul dari Timur; Pria berjubah hitam itu mengeluarkan tangannya yang lain, mengayunkan kedua tangannya, dan dengan panah di tangan kiri dan belati di tangan kanan, dia perlahan turun. Dia menghadapi Xiang Shu dan sama sekali tidak menganggap Chen Xing dan Feng Qianjun sebagai ancaman, hanya berfokus untuk menghadapi Xiang Shu.

“Dia tidak punya kaki,” kata Feng Qianjun dari belakang pilar, “Apa dia hantu? Bagaimana kita bisa menghadapinya?”

Chen Xing, “Aku tidak tahu…”

Feng Qianjun, “Bukankah kau seorang pengusir setan?”

Chen Xing, “Tapi yang lebih penting, aku bahkan tidak tahu siapa dia!”

Chen Xing tidak bisa berhenti berpikir; dia belum pernah melihat monster seperti itu dalam teks kuno, namun Xiang Shu mengulurkan pedang panjangnya dan berkata dengan tenang, “Sebenarnya siapa kau?”

“Aku juga tidak tahu.” Si pria bertopeng dengan wajahnya yang pucat berkata, “Itu bukan masalah, terima ini….”

Pria berjubah itu bergegas ke arah Xiang Shu dalam sekejap, tapi serangan dari belatinya segera diblokir oleh Xiang Shu.

Bajingan ini sebenarnya bisa terbang bebas di langit dan berpindah kemana-mana seperti hantu. Belatinya terbang kemana-mana, menciptakan ilusi yang tak terhitung jumlahnya dan bekerja sama dengan panah kuat di tangan kirinya. Tidak peduli bagaimana Xiang Shu mencoba memenggalnya, yang bisa dia lakukan hanyalah merobek jubah hitam monster ini tanpa melukainya sedikitpun.

Feng Qianjun melihat bahwa lawannya sangat sulit untuk ditangani, jadi dia hanya bisa mengayunkan sabre panjangnya di satu tangannya dan bergegas maju lagi.

Pasti ada suatu cara…. Chen Xing terus-menerus mengaktifkan Cahaya Hatinya dan berpikir, apakah itu akan berhasil jika dia hanya menekan sihirnya langsung di wajahnya untuk membakarnya? Cahaya Hati di tangannya terkadang kuat dan lemah di waktu lain — cahaya itu berfluktuasi (naik-turun) terus menerus. Tiba-tiba, dia menyadari sesuatu–

–pedang besi di tangan Xiang Shu benar-benar mulai berkedip dengan kilauan cahaya seiring dengan gerakan Chen Xing saat mengaktifkan Cahaya Hati!

Xiang Shu menyadari hal yang sama dengan Chen Xing dan melirik ke Chen Xing saat dia sedang sibuk.

“Pedang!” Xiang Shu berteriak.

Pada saat itu, Feng Qianjun sudah bergegas maju untuk menyerang bagian bawah tubuh pria berjubah hitam. Api hitam seketika meledak dari bawah jubahnya dan menyapu area tengah pemakaman.

Chen Xing segera mengangkat tangan kirinya, berjongkok, dan menekannya ke arah Xiang Shu dari kejauhan.

Pada saat berikutnya, pedang besi di tangan Xiang Shu bercahaya dengan cahaya putih menyilaukan yang bertubrukan dengan api hitam. Seperti terik matahari yang melelehkan darah, cahaya itu menghembuskan api hitam sampai hampir lenyap seluruhnya!

Pria berjubah hitam itu tertegun, dan baru saja dia akan berdiri untuk menghindar, Feng Qianjun melompat dari pilar batu di belakangnya dan mengayunkan pedangnya ke bawah ke kepala pria itu, memaksa pria berjubah hitam itu jatuh ke tanah. Xiang Shu memegang pedangnya dengan kedua tangan, menarik busur bercahayanya saat dia mengayunkan pedangnya, lalu berbalik dan mengambil langkah cepat, dan menusuk pria itu dengan tangannya.

Pedang panjang itu, ditambah dengan sihir dari Cahaya Hati, menusuk dan menembus dada pria berjubah hitam. Dia berteriak sambil mengeluarkan darah kental dan mulai bergetar tak terkendali.

“Kenapa, cahaya ini…..” Api hitam di bawah pria berjubah hitam itu berubah menjadi suar putih dalam sekejap dan meledak ke segala arah, hangus menjadi abu.

“Tidak tahu,” mereka bertiga menjawab bersamaan.

Chen Xing menambahkan, “Bahkan jika aku tahu, aku tidak akan mengatakannya padamu, kau harus menyalahkan dirimu sendiri atas kesialanmu ba.”

Terdengar suara ledakan keras, dan si pria berjubah hitam terbakar menjadi partikel cahaya yang tak terhitung jumlahnya dan menghilang dalam sekejap. Jubah hitamnya mendarat di tanah, lalu secara spontan tersulut, terbakar dengan nyala api. Akhirnya, abu tetap menjadi abu dan debu tetap menjadi debu1, tak ada yang tersisa.

Matahari merah tua terbit dari tepi Gunung Longzhong, menerangi pemakaman yang berada di tengah-tengah gunung. Tangisan sedih prajurit Jin yang ada di mana-mana secara bertahap berkurang.

Keraguan di hati Chen Xing tumbuh. Dia menatap Xiang Shu, yang membungkuk untuk mengambil topeng yang jatuh dari wajah pria berjubah hitam sebelumnya.


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Sebuah pepatah yang berarti bahwa kau nantinya akan selalu menjadi dirimu sendiri.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments