“Di mana kau bersembunyi beberapa tahun terakhir ini?”

Penerjemah: Jeffery Liu
Editor: Keiyuki17


Perhatian Tuoba Yan hanya teralihkan sebentar pada Xiang Shu sebelum pandangannya kembali ke wajah Chen Xing, seolah-olah ekspresinya tampak berseri-seri dan gembira. Ada sedikit rona merah di wajahnya karena malu dan dia sepertinya sedang berpikir.

“Um …… Kakak Tuoba juga ……” Chen Xing memandang Tuoba Yan dan berpikir, oh tidak, jangan bilang kalau dia benar-benar bisu? Dan mengira aku memarahinya?

“Tidak tidak!” Yuwen Xin dengan cepat berkata, “Tidak! Dia biasanya tidak seperti ini …… Kakak Tuoba?”

Tuoba Yan terbatuk dan menarik napas dalam-dalam. Dia tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, jadi semua orang menunggunya untuk berbicara, namun Tuoba Yan tiba-tiba terdiam lagi.

Chen Xing, “………………”

Sial! Ini sangat memalukan! Ada apa dengan orang ini?

“Aku……” Tuoba Yan akhirnya berbicara, “akan pergi jalan-jalan.”

Kemudian Tuoba Yan tiba-tiba berdiri dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Chen Xing, “?????”

Yuwen Xin berpikir jika hal itu juga sangat aneh. Setelah dia melihat Tuoba Yan pergi, dia merenung sejenak sebelum berkata, “Kenapa kau datang ke Chang’an?”

Chen Xing berkata, “Yah, itu benar-benar cocok dengan pepatah, ‘hidup ini terlalu singkat, ini cerita yang panjang’ …… sejak kita berpisah……”

Saat dia sedang berbicara, Tuoba Yan tiba-tiba kembali dan duduk.

Chen Xing, “?”

Jadi Chen Xing harus berhenti untuk sementara waktu. Bagaimanapun, dengan keberadaan orang luar di sekitarnya, dia tidak ingin berbicara terlalu banyak tentang hal-hal mengenai pengusir setan. Dia tidak tahu mengapa, tapi seolah-olah kejadian tak terduga di Gunung Longzhong membuatnya merasa jika ada kekuatan aneh seperti itu, maka akan lebih aman baginya untuk tidak mempublikasikan identitasnya untuk saat ini. Pengusir setan dan suku yao selalu berselisih.

“Tidak apa-apa,” Chen Xing tersenyum, “akan selalu ada kesempatan untuk membahas detailnya lain kali. Terlalu banyak yang ingin kukatakan padamu.”

“Un.” Yuwen Xin mengangguk setuju, “Itu benar. Di mana kau tinggal di kota ini?”

Ketika Chen Xing mendengar itu, dia langsung merasa sedikit kecewa. Dia berpikir bahwa Yuwen Xin akan berkata, “Kau bisa tinggal di sini dulu”, dan setelah menemani tamunya, dia akan mencari Chen Xing untuk mengobrol sampai larut malam. Namun, tanpa diduga, dia hanya berkata, “Aku baru saja tiba di Chang’an pagi ini dan datang menemuimu begitu aku memasuki kota.”

“Kau baru saja datang?!” Tuoba Yan tiba-tiba mengatakan ini.

“Ya ya.” Chen Xing dengan cepat tertawa, “hahaha”.

Tuoba Yan menatap Yuwen Xin dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan. Yuwen Xin agak bingung. Dia merenung sejenak, lalu berkata, “Kalau begitu kau …… kediaman Songbai di barat kota tidak buruk. Aku tidak akan memaksamu untuk makan malam disini kalau begitu, kau harus istirahat dulu ba.”

Chen Xing, “……”

Tuoba Yan ingin mengatakan sesuatu tapi dia menahannya. Dia tiba-tiba teringat bahwa masih ada Xiang Shu di aula, jadi dia meliriknya dengan ragu.

“Oh.” Chen Xing menjawab, “Oke, aku tidak akan mengganggumu lagi.”

Dan dengan demikian, Yuwen Xin memerintahkan pengurus rumahnya untuk mengantar para tamu pergi. Dia bahkan tidak menawarkan teh kepada Chen Xing. Chen Xing akhirnya mengerti — rupanya, dialah yang tidak tahu apa-apa.

“Xin Ge.” Chen Xing baru saja meninggalkan aula ketika dia tiba-tiba berbalik. Tuoba Yan sedang memperhatikan kepergian Chen Xing, sementara Yuwen Xin sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Ketika dia mendengar ini, senyuman muncul di wajahnya lagi saat dia dengan sopan bertanya, “Ada apa?”

“Tidak ada.” Chen Xing tersenyum lega, “Aku berharap bisa bertemu denganmu lagi.”

Yuwen Xin mengangkat tangannya sedikit dan bahkan tidak berdiri, yang bisa dianggap sebagai salam perpisahan.

Setelah mereka meninggalkan kediaman Yuwen, Chen Xing keluar dari sebuah gang dan berjalan pelan. Kegelapan telah tiba dan langit malam itu dipenuhi dengan bintang-bintang.

Xiang Shu masih berjalan di belakang Chen Xing, mengikutinya. Chen Xing tiba-tiba berkata, “Aku membiarkanmu melihat kebodohanku sendiri.”

Xiang Shu menatap kediaman Yuwen di kejauhan tanpa menjawab.

“Apa kau punya uang?” Chen Xing berkata, “Aku sudah menghabiskan semua uang milikku.”

“Tidak.” Batangan emas yang dilemparkan Xiang Shu ke kediaman Yuwen adalah yang terakhir.

Jadi Chen Xing hanya bisa berdiri di pinggir jalan dan menghela napas, sedikit sedih. Shifu-nya mengajarkannya sedikit tentang cara dunia berjalan. Sebagian besar waktu, dia memerintahkan Chen Xing untuk membaca buku karena dia mengatakan bahwa buku memiliki segalanya di dalamnya. Tetapi tidak peduli berapa banyak buku yang telah dia baca, Chen Xing masih tidak mengerti mengapa Yuwen Xin berubah menjadi seperti sekarang setelah sembilan tahun.

Dia sangat tidak tertarik mempelajari bagaimana mengamati orang dan bagaimana menjadi bijaksana. Sekarang setelah dia mengingat penampilan Yuwen Xin, dia menyadari bahwa dia sangat berbeda dari dirinya sembilan tahun yang lalu, seolah-olah dia sekarang jauh lebih bijaksana.

Xiang Shu berkata, “Mau kemana? Tinggal di penginapan?”

Chen Xing, “Bagaimana kita bisa tinggal di penginapan tanpa uang? Tunggu di sini ba.”

Atau haruskah mereka pergi mencari Feng Qianjun? Tapi Feng Qianjun mungkin juga tidak punya banyak uang.

Xiang Shu, “Tunggu?”

Chen Xing, “Tunggu sampai surga memberiku uang. Tunggulah dengan sabar, sebentar lagi akan datang.”

Xiang Shu, “……”

Chen Xing berkata, “Aku sudah memberitahumu sebelumnya bahwa Iuppiter adalah bagian dari takdirku. Aku sangat beruntung dan tidak pernah kekurangan uang, lihat saja ba.”

Sebelum waktu yang dibutuhkan untuk minum secangkir teh berlalu, sebuah gerbong kereta melaju dari jalan panjang dengan lentera di depannya. Pengemudinya adalah seorang pemuda tampan, mengenakan baju besi baja berwarna cerah dengan satu warna solid yang tengah menunggangi kuda bertubuh tinggi dan besar. Kereta itu tiba-tiba berhenti di depan jalan.

Chen Xing berkata dengan riang, “Nah, benar kan!”

Xiang Shu, “……………………”

Beberapa penjaga turun dari kereta satu demi satu, membuka tirai, dan dengan cepat berkata, “Tuan Muda Chen, Tuanku ingin mengundang Anda untuk naik ke dalam kereta untuk berbicara dengan Anda.”

“Siapa tuanmu?” Chen Xing berpikir, orang ini tampaknya kaya … tunggu, tidak, kenapa dia memanggilku Tuan Muda Chen? Dia hendak naik ke dalam kereta itu ketika Xiang Shu menekan bahu Chen Xing. Dia menjawab.

“Turunlah kalau kamu ingin bicara.” Ketika orang di dalam gerbong mendengar suara Xiang Shu, orang itu turun hanya dalam beberapa langkah — itu adalah Tuoba Yan!

“Chen Xing?” Tuoba Yan tersenyum,

“Kenapa kamu ada di sini?”

Chen Xing tidak menyangka akan melihatnya lagi. Dia baru saja pergi belum lama ini, jadi bagaimana dia bisa bertemu dengan Tuoba Yan di sini? Dia tersenyum, “Kamu tidak tinggal di kediaman Yuwen untuk makan malam?”

“Tidak.” Tuoba Yan mengatakan, “Un, tidak ada, pergilah!” Saat dia berbicara, dia dengan santai menyingkirkan para penjaga yang sudah bergeser dengan membawa obor untuk memberikan penerangan bagi Tuoba Yan. Para penjaga itu kemudian membubarkan diri dengan tergesa-gesa dan dengan cepat berjalan ke dinding di belakang kereta untuk berdiri di sana.

Chen XIng, “???”

“Kamu baru saja tiba di Chang’an dan tidak mengenal tempat dan orang-orang di sini.” Tuoba Yan berkata, “Kenapa kamu…… tidak datang ke kediamanku untuk tinggal beberapa hari dulu? Meskipun tempat tinggalku sederhana dan sedikit kasar, tempatku sudah cukup dibersihkan dan bisa digunakan untuk menyambut tamu. Aku baru saja mengirim kabar untuk meminta mereka membuat persiapan sebelumnya.”

Chen Xing sangat senang mendengarnya dan dengan senang hati hendak berkata, “Oke!” ketika Xiang Shu lebih dulu berkata, “Tidak pergi.”

Chen Xing, “……”

Chen Xing berpikir, apa hubungannya ini denganmu! Apa ini ada hubungannya denganmu?!

Chen Xing kembali menatap Xiang Shu, tapi tangan Xiang Shu yang menekannya tidak pernah lepas dari bahunya. Chen Xing tidak bisa bergerak sedikit pun karena Xiang Shu terus menahannya. Tuoba Yan melirik Xiang Shu dan sedikit mengernyit. Chen Xing tiba-tiba merasa suasananya berubah agak aneh.

“Pergilah.” Xiang Shu berkata dengan tenang.

“Tunggu!” Tuoba Yan dan Chen Xing dengan cepat berbicara berbarengan. Tuoba Yan tiba-iba teringat sesuatu, bukankah pria ini bisu? Tapi dia tidak mempertanyakannya.

Jika bukan karena Xiang Shu, Chen Xing pasti akan mengikuti Tuoba Yan sekarang. Namun, tidak baik bagi Chen Xing untuk menolaknya pada akhirnya. Xiang Shu tidak punya uang sekarang; jika dia tinggal bersama Tuoba Yan, akan menjadi masalah kecil bagi Xiang Shu untuk tidur di bawah jembatan, tetapi akan menjadi masalah besar jika dia memutuskan untuk merampok bank! Tempat ini adalah Kota Chang’an, kota yang tepat di bawah hidung Putra Surgal1!

“Jika sa……” Tuoba Yan tidak bisa mengingat nama Xiang Shu untuk sesaat dan berkata, “saudara bisu ini bersedia, aku ingin mengundangmu untuk tinggal di kediamanku juga, dan memberiku, adikmu, kesempatan untuk menghibur kalian berdua.”

Melihat bagaimana Yuwen Xin memperlakukannya, orang ini seharusnya tidak berpangkat rendah, namun sikapnya sangat sopan, yang benar-benar mengejutkan Chen Xing. Saat dia hendak meminta persetujuan Xiang Shu, Xiang Shu berkata, “Tidak pergi, berapa kali aku harus mengulanginya?”

Pada saat berikutnya, Chen Xing merasakan peningkatan niat membunuh di sekitarnya, dan Tuoba Yan sepertinya juga merasakannya dalam sepersekian detik. Namun, niat membunuh itu dengan cepat berlalu dan menghilang sekali lagi tanpa jejak setelah beberapa saat.

“Kami …… akan mencari penginapan pada awalnya.” Chen Xing takut jika anjing gila Xiang Shu ini akan menusuk Tuoba Yan karena perselisihan kecil ini dan dengan cepat berkata, “Jadi kami akan pergi.”

Tuoba Yan tahu bahwa orang ini sulit untuk dihadapi, jadi dia mengangguk pada Chen Xing, “Kalau begitu, mari kita bicara lagi saat kau punya waktu luang!” Setelah dia berbicara, dia melepas cincin dari tangannya dan memasukkannya ke tangan Chen Xing tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara. “Setelah kamu menemukan tempat tinggal, kirimlah seseorang untuk mengirim surat kepadaku. Sisi barat kota kekaisaran, tempat terbesar, tempat tinggal vermillion di tengah dengan atap yang bertatahkan emas. Yang memiliki pintu dengan batu giok adalah tempat tinggalku yang sederhana.”

“Ini pertama kalinya kita bertemu, bagaimana mungkin aku bisa menerima ini?” Chen Xing ingin berkata, “Kamu bisa meminjamkan sedikit perak, mengapa kamu melepas cincinmu sendiri untuk diberikan kepadaku?”. Namun Tuoba Yan berbalik untuk kembali ke dalam keretanya, dan pengawalnya kembali ke posisi mereka dengan terburu-buru dan kembali menjalankan kereta itu. Chen Xing tidak bisa berbicara sejenak. Dia memegang cincin Tuoba Yan di tangannya. Ketika dia mendongak, dia bahkan melihat Tuoba Yan menarik tirai keretanya dan membuat gerakan “dua” dengan jarinya. Dia tersenyum, “Ini kedua kalinya!”

Chen Xing, “……”

Jadi mereka berdua berdiri di pinggir jalan lagi. Chen Xing melihat cincin di tangannya — cincin itu dibentuk melalui pemolesan batu kuno, terlihat sederhana dan tanpa hiasan, namun secara spontan memancarkan cahaya redup di malam yang gelap. Cincin batu itu diukir dengan dewa naga yang kepala dan ekornya terhubung; Pola yang dibuat tampak rumit, dan desainnya benar benar indah — praktis merupakan karya seni yang dapat menyaingi alam semesta. Terlebih lagi, itu adalah cincin batu bercahaya!

Chen Xing sudah melihat banyak barang berharga sejak dia masih kecil. Bahkan jika harta karun tingkat ini dibandingkan dengan koleksi di rumah dan rumah tuannya, itu tidak akan kalah sama sekali. Tuoba Yan baru saja melepas cincin yang nilainya setidaknya 3.000 tael emas dan memberikannya padanya, pria itu benar-benar terlalu boros.

“Ini seharusnya bukan semacam senjata ajaib ba?” Chen Xing mulai ragu. Setelah keheningan semua sihir, semua harta sihir selain dari Cahaya Hati telah berubah menjadi senjata biasa. Bagaimana jika itu adalah senjata ajaib?

“Apa ini bisa digadaikan?” Chen Xing berpikir bahwa ini juga tidak bisa ditukar dengan uang. Apa identitas sebenarnya dari Tuoba Yan? Komandan pasukan Fu Jian. Jika dia membawa cincin ini ke pegadaian, semua orang mungkin bisa mengenalinya dan segera melaporkannya ke pihak berwenang.

“Sekarang apa?” Xiang Shu akhirnya bertanya.

“Tunggu sedikit lebih lama lagi ba,” Chen Xing merasa sedikit putus asa, “Tunggulah uang berikutnya.”

Tapi tidak ada orang lain yang datang. Chen Xing pikir itu agak aneh — seharusnya tidak begini ah, biasanya setelah menunggu selama ini, semacam pertemuan kebetulan seharusnya sudah terjadi sekarang.

Setelah seperempat jam kemudian, Chen Xing berkata, “Apa Iuppiter sudah menutup layanannya untuk hari itu? Kenapa kita tidak mencari Feng Dage saja?”

Namun Xiang Shu berbalik dan pergi begitu saja. Chen Xing berkata, “Mau ke mana?”

Xiang Shu tidak menjawab. Dia berjalan di depan sementara Chen Xing mengikuti di belakangnya. Mereka menyeberang melalui jalan yang panjang. Chen Xing tidak mengenal tempat itu dan hanya melihat bahwa semakin jauh mereka berjalan, tempat yang mereka lalui menjadi semakin sunyi. Apa mereka menemukan tempat untuk bermalam? Seharusnya tidak, ada begitu banyak orang berpatroli di jalan ini.

Setelah itu, Xiang Shu mencapai dasar dari tembok tinggi. Ada gerbang besar yang dicat dengan pernis merah tidak jauh di depan, dan Xiang Shu berjalan menuju gerbang itu.

Chen Xing, “Apa yang akan kamu lakukan?”

“Menemukan tempat untuk menghabiskan malam.” Xiang Shu menjawab.

Ada dua penjaga di gerbang pernis merah itu. Ketika mereka melihat Xiang Shu datang, mereka berkata, “Area terlarang! Tidak ada yang diizinkan …… ”

Xiang Shu memegang pedang baja di tangan dan membuat dua gerakan dengan pedangnya yang masih berada di sarungnya; para penjaga tiba-tiba berhenti berbicara dan langsung jatuh ke tanah. Chen Xing terkejut dan dengan cepat berkata, “Jangan menyerang para prajurit! Ini tidak seperti mereka memprovokasimu!”

Xiang Shu baru saja menendang setengah dari pintu kayu besar itu dengan sangat keras sehingga engsel di bagian bawah pintu terlepas, dan pintu itu terayun ke dalam. Dengan pedang di tangan, dia berjalan melewati pintu. Chen Xing mengejar dari belakang dan dengan cepat berteriak, “Aaaahhh! Apa kau tahu apa yang kau lakukan?”

Xiang Shu jelas terlalu malas untuk menjelaskan. Dia berjalan masuk, dan prajurit di sekitarnya langsung waspada. Mereka berteriak, “Siapa ini! Seorang pembunuh!”

Seseorang sedang memainkan sitar di kejauhan, tampak seperti penguasa tempat ini. Musik sitar terdengar sangat alami, seperti mutiara besar dan kecil yang jatuh ke piring batu giok dengan cincin yang berdenting .

Sekelompok besar prajurit bergegas maju, masing-masing dengan senjata di tangan. Jari-jari Xiang Shu yang masih memegang pedangnya mengikuti suara sitar dan mengetuknya tiga kali mengikuti ritme.

Mulai.

Yang dilihat Chen Xing hanyalah bayangan kilat di depannya; Xiang Shu melewatinya dengan wusss, dan semua prajurit langsung jatuh seperti boneka kertas dalam pementasan bayangan saat mereka semua jatuh dan tergeletak di tanah. Segera setelah itu, Xiang Shu maju dan perlahan melewati sekelompok penjaga. Para penjaga tersebar di seluruh tanah dalam kekacauan dan terus mengerang; semuanya telah dirobohkan dengan pedang bersarung, namun tidak ada yang mati. Chen Xing sangat panik. Dia ingin menarik Xiang Shu pergi, tetapi suara sitar berhenti. Xiang Shu melangkah ke koridor di belakang taman dan tampak akrab dengan tempat itu saat dia berjalan menuju kediaman besar di depan.

Saat mereka semakin dekat dengan suara sitar, penjaga di segala arah mulai keluar tanpa henti. Begitu seorang penjaga muncul, dia akan dirobohkan oleh Xiang Shu. Tusuk, tikam, sapu, gores, Xiang Shu tidak pernah berhenti berjalan, dan kemanapun dia berjalan, penjaga akan jatuh. Suara sitar semakin mendesak. Pedang Xiang Shu belum keluar dari sarungnya, namun seolah-olah telah membelah tirai hingga memudarkan cahaya lampu. Tak satupun dari mereka bisa menyaingi dia.

Sitar berhenti.

“Tetap berjalan.” Xiang Shu berkata.

“Tunggu……”

Chen Xing berlari cepat saat dia mengikuti di belakang Xiang Shu. Dia mengulurkan tangan untuk menariknya, tetapi Xiang Shu berbelok di sudut menuju sebuah kediaman yang begitu megah. Interiornya dihiasi dengan perhiasan cemerlang dan hampir membutakan mata Chen Xing. Dua wanita cantik di dalam sedang memainkan sitar, dan begitu mereka melihat Xiang Shu, mereka menjerit dan suara sitar terhenti tiba-tiba. Namun Xiang Shu membuka pintu samping dan berjalan melewatinya.

“Dimana ini?” Chen Xing berkata, “Maafkan kami, kami memasuki tempat yang salah karena kesalahan dan secara tidak sengaja memasuki tanah harta karun …… kami akan pergi sekarang!”

Xiang Shu melewati lima sampai enam ruangan berturut-turut, dan di setiap ruangan, orang-orang berteriak panik; beberapa melarikan diri dalam hiruk-pikuk sementara yang lain memohon belas kasihan, dan Chen Xing akhirnya menyadari jika mereka menimbulkan masalah lain:

Ini adalah istana ……

Jiwa Chen Xing tersebar sekaligus. Dia berteriak, “Xiang Shu! Berhenti berjalan! Ini istana! Ayo lari!!!”

Chen Xing mengejar Xiang Shu dan tiba di depan lapangan latihan yang sangat besar. Benar saja, tempat ini adalah Istana Weiyang, dan mereka berdua baru saja menerobos masuk ke sini dari taman kekaisaran. Mereka melewati semua kamar selir kekaisaran dan tiba di depan Istana Dengming. Istana telah berubah menjadi hiruk-pikuk. Penjaga istana muncul di semua sisi dan bergegas menuju lapangan latihan di luar Istana Dengming, mengelilingi Xiang Shu dan Chen Xing di dalamnya.

Tuoba Yan baru saja pulang ke rumah dan bahkan tidak punya waktu untuk mengganti pakaiannya sebelum mendengar bahwa seorang pembunuh telah muncul di istana. Dia segera menunggang kuda ke istana, menyeret kapak belati panjang bersamanya saat dia bergegas ke lapangan bor, hanya untuk melihat cahaya terang dari obor yang mengubah malam menjadi siang. 20.000 busur panah diarahkan ke dua pembunuh di tengah lapangan latihan itu.

“Dari mana asalmu para pembunuh!” Tuoba Yan berkata, “Tunggu? Kenapa kalian berdua?! Berhenti, jangan tembak! Jangan bunuh mereka!”

Tuoba Yan meneriakkan perintahnya dan tampak menonjol di antara kerumunan.

Chen Xing melihat sekelilingnya; di sisi lapangan latihan, di atap, dan di tangga, penjaga memenuhi area di depan istana kekaisaran. Hanya dengan satu perintah dari Tuoba Yan, mereka berdua bisa saja ditembak hingga berubah menjadi pasta daging.

“Kakak Tuoba!” Chen Xing buru-buru berkata, “Ini tidak ada hubungannya denganku, aku hanya disandera olehnya ……”

Xiang Shu menyela Chen Xing dan menghadap Istana Dengming saat dia berteriak, “Jian Tou! Keluarlah! Aku punya masalah untuk didiskusikan denganmu!”

Dua puluh ribu orang tiba-tiba menjadi gempar, hanya karena ucapan seperti itu tidak pernah terdengar di Chang’an selama bertahun-tahun.

Namun suara tawa nyaring bergema dari dalam Istana Dengming, “Shulü Kong?! Di mana kau bersembunyi selama beberapa tahun terakhir ini?”

Di ujung lain, pasukan Qin berkerumun di sekitar seorang pria kekar yang mengenakan jubah kain, dan pria kekar berjanggut ini berjalan menuruni tangga. Pria kuat itu dengan santai menekan panah besi dari penjaga kekaisaran, dan suara busur panah yang ditarik terdengar di sekitarnya. Segera setelah itu, beberapa pejabat militer berlari keluar dengan ekspresi heran di wajah mereka. Mereka memandang pria kekar itu, lalu Xiang Shu.

Tuoba Yan, “Yang Mulia!”

“Fu Jian?” Chen Xing tercengang.

Xiang Shu melepas topengnya dan membuangnya.

Semua pejabat sipil dan militer langsung berteriak ketakutan.

“Chanyu yang Agung2?!”

Gelar itu seperti guntur yang meledak di sebelah telinga Chen Xing.

“Agung … yang Agung apa?” Chen Xing bingung. “Xiang Shu, mereka memanggilmu yang Agung apa?”


Bab Sebelumnya Ι Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Kaisar.
  2. Chanyu, kependekan dari Chengli Gutu Chanyu adalah gelar yang digunakan oleh penguasa tertinggi nomaden di Asia Dalam selama delapan abad dan digantikan dengan gelar “Khagan” pada tahun 402 M. Fu Jian adalah kaisar dari wilayah di dalam Tembok Besar, sedangkan XS adalah raja / penguasa Hu di luar Tembok Besar.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments