“Apa yang baru saja kau katakan? Katakan lagi?”

Penerjemah: Keiyuki17


Malam hari, di Sungai Huai.

Di kedua sisi pantai, kediaman Jiankang diterangi oleh cahaya menyilaukan dari berbagai warna. Keluarga Feng membuka pelayaran pribadi dan mengadakan pesta untuk menyambut Xiang Shu dan Chen Xing, yang baru saja kembali ke Jiangnan. Suara qin bergema, disertai angin semilir awal musim panas yang nyaman. Chen Xing dan Xie An sedang duduk di satu sisi layar saat mereka melihat peta tanah luas selatan Sungai Yangtze.

“Aku tidak keberatan,” kata Chen Xing, “jika kita ingin membangun kembali Departemen Pengusiran Setan. Tapi mulai sekarang, para pengusir setan harus memikirkan dengan seksama di mana mereka akan berdiri; seharusnya juga tidak ada perbedaan dalam menerima orang Hu.”

“Benar,” Xie An setuju. “Sejak awal, masalah yang satu ini adalah alasanku tidak berani membuka departemen secara sepenuhnya dan memilih untuk menunggumu datang. Lagi pula, kamu tahu status Shixiong; ada banyak kata yang tidak menyenangjan untuk kukatakan di depan Yang Mulia.”

Ketika dia mendengar ini, Chen Xing akhirnya mengerti alasan mengapa Xie An menunggunya kembali untuk memimpin para pengusir setan. Itu karena, dengan posisinya saat ini, Xie An juga harus mempertimbangkan tujuan Kaisar Sima Yao, terlepas dari apa yang dia lakukan.

Tetapi Chen Xing berbeda. Dia pasti dapat menolak Departemen Pengusiran Setan yang baru dihidupkan kembali untuk melayani rumah tangga kekaisaran, yang akan membuatnya menjadi salah satu departemen resmi Jin yang Agung. Dengan kata lain, selama Chen Xing tidak mengakuinya, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Sima Yao.

Chen Xing juga paling menekankan poin ini. Jika tidak, menilai dari urusan dunia saat ini dengan perjuangan tanpa akhir antara Hu dan Han, seandainya mereka mengizinkan pengusir setan yang dilengkapi dengan sihir untuk memasuki medan perang dan melemparkan mantra serta melemparkan bom ke mana pun, bagaimana mungkin hukum surga mentolerir hal seperti itu??

Belum lagi bahwa keluar sebagai pemenang dalam pertempuran tidak berarti itu adalah akhir dari semuanya. Para pengusir setan selama era Dinasti Han yang makmur selama tiga ratus tahun yang lalu sangat mampu melakukan apa saja. Mereka dulu mahakuasa, tetapi ketika kekuatan mereka tumbuh, mereka semakin terlibat dengan keluarga kerajaan; itu akhirnya menyebabkan kekacauan sihir yang telah merugikan Han yang Agung.

“Ini adalah ketentuan pertama,” kata Xie An. “Tapi karena kamu sudah membuat kesepakatan dengan raja yao, agresi antara manusia dan yao juga bisa sedikit berkurang.”

Chen Xing mengangguk dan menyandungkan persetujuan. “Meskipun kupikir ada batasan dari yurisdiksi Chong Ming, jadi masalah menahan yao harus dilakukan pada akhirnya. Tetapi, selama tidak ada yang melanggar aturan, baik itu yao atau manusia, semua orang harus hidup di dalamnya. Tanah Suci ini dalam kerukunan dan tidak boleh saling memusnahkan satu sama lain.”

Xie An merenung sebentar sebelum menjawab, “Baiklah, Shixiong akan merevisi Hukum Pengusir Setan sesuai dengan apa yang telah kita diskusikan dan mengirimkannya padamu untuk ditinjau di lain hari.”

Chen Xing tahu bahwa dia tidak dapat mengecilkan tanggung jawab dan menolak posisi itu. Sebagai pengusir setan agung yang pertama kali diangkat setelah Kebangkitan Semua Sihir, itu juga seharusnya menjadi tugasnya untuk membangun kembali tatanan dunia. Namun, menurut temperamennya sendiri, dia hanya akan mengurus Departemen Pengusiran Setan untuk jangka waktu tertentu dan kemudian akan menyerahkan posisi itu kepada orang yang cocok setelah itu selesai.

Pesta dimulai setelah mereka selesai mendiskusikan detailnya, dan semua orang datang satu demi satu untuk minum anggur. Chen Xing, seperti sebelumnya, duduk di sebelah Xiang Shu. Orang-orang saling bersulang saat mereka berbicara tentang apa pun selain masalah yang akan datang dan hal-hal yang terkait dengan Wang Ziye.

“Kalian berdua…” Feng Qianjun menatap Chen Xing dan kemudian ke Xiang Shu. Dia telah menemukan bahwa cara keduanya berinteraksi hari ini sedikit berbeda dari sebelumnya.

Xiang Shu tiba-tiba sedikit menahan diri di depan Chen Xing, tatapannya selalu mengikuti gerakannya.

“Kau tidak salah,” Xiang Shu, yang tampaknya tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Feng Qianjun, dia menjawabnya dan merangkul bahu Chen Xing. “Ayo, kita akhirnya bisa minum sepuasnya.”

Feng Qianjun berkata, “Baiklah, aku mengusulkan bersulang untuk kalian berdua!”

Gu Qing menuangkan anggur untuk mereka. Xiang Shu secara alami menyadari arti di balik bersulangnya Feng Qianjun; dia mengangkat cangkirnya dan bersulang sebagai tanggapan. Semua orang berbicara satu sama lain tentang hal-hal sepele selama perjamuan, tetapi masih ada banyak hal yang membebani pikiran Chen Xing, yang membuatnya agak terganggu.

Xie An memberi tahu Chen Xing, “Xiao Shidi, kupikir aku mungkin juga perlu untuk mencari pelindung.”

“Jika kamu tahu apa yang dilakukan pelindung, maka tentu saja, lakukanlah.” Chen Xing tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis.

Xie An bertanya, “Seorang pelindung … itu untuk melindungi pengusir setan, kan? Aku meminta Qianjun untuk menjadi pelindungku, tetapi dia tidak mau melakukannya. Adapun Tuoba-shaoxia, meskipun seni bela dirinya sedikit lebih rendah.”

“Tidak!” Ekspresi Feng Qianjun segera berubah. Dia sama sekali tidak ingin berada dalam hubungan “itu” dengan Xie An.

Xie An: “???”

Namun Tuoba Yan tersenyum dan berkata, “Aku tidak keberatan. Apa yang perlu dilakukan pelindung?”

“Err…” Chen Xing berkata, “Ini seperti aku dan Xiang Shu.. dan juga Zheng Lun dan Bi Hun. Bisakah kau melakukannya? Juga, bagaimanapun, Xie-shixiong memiliki keluarga kecilnya sendiri.”

Senyum Tuoba Yan membeku.

Xie An: “Ini juga tidak bisa seperti kalian berdua.”

“Kamu sebaiknya memikirkan ini terus menerus, Shixiong,” Chen Xing memberinya nasihat dengan suara rendah. “Mengesampingkan alasan lain, tubuhmu tidak akan bisa menahannya ba

Ekspresi Xie An juga menjadi canggung. Chen Xing melanjutkan, “Mengapa kamu tidak melihat jilid yang dikirim sekte kita sebelum kamu membuat keputusan?”

“Apakah itu benar-benar masalahnya?” Saat itu, Xie An hanya melihat-lihat jilid kuno, dan setelah melihat bahwa sebagian besar dari mereka adalah kisah, dia tidak tertarik lagi untuk membacanya. Waktunya dihabiskan untuk mempelajari mantra, tetapi sekarang setelah Chen Xing berkata demikian, dia segera mengubah nada suaranya, “Bahkan jika aku tidak memiliki pelindung, tidak apa-apa, aku akan bergantung pada diriku sendiri!”

“Minum, minum” Feng Qianjun telah menunggu Xie An untuk menyingkirkan idenya, dan dia segera mulai menawarkan minuman kepada orang lain. Setelah semua orang selesai tertawa dengan canggung, tidak ada yang mengungkit masalah ini lagi.

Semua orang terdiam.

Xie An menghela nafas. “Setelah ini, pertempuran besar mungkin akan menghadang kita, tetapi karena semuanya telah dimulai lagi dan kita memiliki kesempatan untuk memulai lagi dari awal, aku berpikir…”

Mengatakan ini, dia menunjuk Chen Xing.

Chen Xing mengangguk dan menambahkan, “Kita pasti akan menang!”

Semua orang mengangkat cangkir mereka, dan meskipun Xiao Shan tidak hadir kali ini, mereka menganggap ini sebagai reuni pertama, setelah mereka bertemu lagi, dari kelompok kecil pengusir setan yang sudah ada selama Keheningan Semua Sihir. Saling bersulang anggur itu juga berisi harapan yang mereka genggam terhadap masa depan.

Chen Xing melirik Xiang Shu, yang berpikir dalam-dalam sebelum mengangguk. “Kita pasti akan menang melawannya dalam pertempuran.”

“Apa kamu sudah menemukan keberadaan Lonceng Luohun?” Chen Xing bertanya pada Xie An.

Xie An menggelengkan kepalanya dan berkata, “Wen Che akan muncul cepat atau lambat, dan tidak mungkin Wang Ziye tidak akan mengambil tindakan.”

Saat minuman keras mengendap di perut mereka, Chen Xing melirik Xiang Shu, hanya untuk melihat bahwa dia menenggak cangkir demi cangkir. Sudah ada tanda-tanda mabuk yang terlihat di wajahnya, tetapi dia hanya berbicara sedikit malam ini, alih-alih memilih untuk tidak pernah berhenti minum.

“Berhentilah minum,” kata Chen Xing. “Kau sudah minum begitu banyak anggur hari ini.”

Xiang Shu bangkit atas kemauannya sendiri dan menjawab, “Aku akan mencari udara segar di bagian depan kapal.”

Xiang Shu pergi, menuju ke haluan kapal untuk menyadarkan dirinya. Chen Xing duduk sejenak lagi, sebelum bangkit dan datang ke depan tongkang juga.

Xiang Shu berdiri di depan pagar, lentera di kedua tepi sungai terpantul di matanya,

“Pelindung, apa kau benar-benar tidak ingin mendengar ide licikku?” Chen Xing bertanya.

Jawaban Xiang Shu sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu, saat dia berkata dengan sungguh-sungguh, “Tidakkah menurutmu ini semua terasa seperti mimpi?”

Ketika Chen Xing kembali ke Jiankang untuk kedua kalinya, dia tiba-tiba memiliki banyak kata untuk diucapkan. Dia ingin berjalan-jalan melalui Festival Penutupan Musim Gugur bersama Xiang Shu, dan dia juga ingin mereka pergi ke Kuaiji bersama-sama serta sekali lagi melihat-lihat tempat yang dulu pernah ditinggali oleh ibu Xiang Shu sebelumnya.

Xiang Shu melanjutkan pada dirinya sendiri, “Kadang-kadang, aku merasa semua ini benar-benar mimpi. Setelah Mutiara Dinghai hancur, itu menunjukkan padaku mimpi yang panjang, dan karena aku tidak bisa mendapatkan apa yang kuinginkan, surga memenuhi keinginanku dalam mimpi ini. Xing’er, aku tahu apa yang ingin kau katakan.”

Chen Xing memasang ekspresi tak berdaya saat dia berkata, “Kau tahu? Baiklah kalau begitu, katakan padaku.”

Xiang Shu bergumam, “Kau ingin aku menemanimu, karena tiga tahun kita bersama ini adalah hadiah yang telah diberikan surga kepada kita. Hidup ini fana, dan kita lahir di pagi hari tetapi mati di malam hari 1. Bagi kita untuk menghabiskan tiga tahun hidup bahagia ini sudah tidak mudah. ​​Pada akhirnya, kau akan mengambil pedang lagi, dan berjalan menuju altar penempaan pedang di Zoige…”

“Kau benar-benar merasa bahwa aku pasti akan berpikir seperti itu?!” Chen Xing benar-benar tidak punya cara untuk menghadapinya.

Xiang Shu berbalik, dengan saksama mempelajari mata Chen Xing.

Chen Xing menjawab, bingung harus berkata apa lagi, “Tapi, baiklah… itu benar-benar terdengar seperti kata-kata yang akan kukatakan. Aku hanya… en, aku hanya berharap… Xiang Shu.”

Sejak hari di mana dia dan Xiang Shu bertemu kembali, bahkan setelah mereka memasuki alam mimpi kun yang agung, Chen Xing tidak pernah tahu bahwa dalam pertempuran terakhir melawan Chiyou, untuk menang, dia harus mengorbankan nyawanya sendiri sebagai harga yang harus dibayarkan. Tetapi untuk beberapa alasan, setelah melakukan semuanya lagi, dia tidak lagi berpikir bahwa dia tidak punya pilihan selain mati, seperti yang dia pikirkan sebelumnya. Mungkin itu karena dia sudah mati sekali, yang menyebabkan dia lebih menghargai hidupnya sendiri.

Mungkin itu karena dia dan Xiang Shu akhirnya menegaskan kasih sayang masing-masing, tetapi dia berharap tidak lebih dari untuk tetap hidup dengan baik. Tetapi di sini adalah Xiang Shu, yang menjadi ketakutan berkat campur tangannya, karena dia terus berpikir bahwa Chen Xing akan mengambil pedang itu dan dengan heroik berjalan menuju kematian.

Chen Xing tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang salah. “Tunggu, apa yang ada di sungai?”

Xiang Shu juga merasakannya, dan tangan kirinya segera meraih pergelangan tangan Chen Xing. Mereka berdua mengambil setengah langkah mundur dari haluan. Malam ini, dia telah minum cukup banyak anggur, dan dia masih sedikit mabuk, yang menyebabkan dia kurang waspada terhadap sekelilingnya.

Sebuah bayangan hitam besar melintas di bawah bagian bawah perahu.

“Tidak mungkin,” Chen Xing bergumam. “Para pengusir setan semuanya berada di kapal, apakah Wen Che akan datang untuk terlibat dalam pertempuran sekarang?”

Suara Xiang Shu menjadi suram. “Xie An! Feng Qianjun! Berhenti minum! Cepat keluar!”

Xie An meletakkan cangkir anggurnya, tetapi pada saat yang sama ketika dia bangkit, air di Sungai Huai tiba-tiba meledak. Seekor jiao biru bergegas keluar dari air, segera membalikkan tongkang!

“Kalian berdua akhirnya datang -” suara Wen Che terdengar dingin.

Di malam yang diterangi oleh cahaya bulan, jiao biru mengeluarkan teriakan panjang. Ia memuntahkan kabut hitam tebal. Sebelum terbang langsung ke udara!

“Kau sedang mencari kematianmu!” Tanpa ragu-ragu sejenak, Xiang Shu berbalik untuk mendorong Chen Xing di belakangnya. Xie An dan Feng Qianjun melangkah ke haluan, bergegas keluar dengan langkah cepat!

Chen Xing menaikkan suaranya. “Wen Che! Kau juga pernah menjadi pengusir setan, sadari kesalahanmu dan kembalilah ba!”

Wen Che tertawa dingin. Dia berdiri di atas kepala jiao biru dan menjawab dengan suram, “Bagaimanapun, tidak ada yang dapat melarikan diri dari pertempuran ini. Pengusir Setan yang Agung, dengan Kebangkitan Semua Sihir hari ini, mari kita lihat apakah kau akan dapat melarikan diri dari rahang kematian!”

Chen Xing menyalakan Cahaya Hati, dan cahaya meledak dari tubuh Xiang Shu. Jubah bela dirinya berkibar saat dia terbang ke udara, perisai emas muncul di tangannya. Dia mengayunkan serangan pada jiao biru!

Dengan bunyi dang, kepala jiao berputar, dan mereka sedikit terpisah. Setelah itu Xie An melemparkan Talisman Angin Puyuh, mengirimkan Feng Qianjun tinggi ke udara. Tuoba Yan bergegas keluar dengan langkah cepat, dan Cincin Segel Liuyun di tangannya menyala. Sebuah panah panjang muncul, dan dia menarik busurnya, melepaskan panah ke sana, dan mengirimkannya diikuti dengan desiran!

Wen Che segera membalikkan naga jiao untuk menghindari panah itu, tetapi panah itu benar-benar berputar di udara, mengejar mereka dengan mantap.

Jeda yang singkat adalah semua yang diperlukan bagi Xiang Shu untuk tiba di depan Wen Che, dan Chen Xing mengeluarkan teriakan marah. “Hancurkan!”

Pada saat berikutnya, Lonceng Luohun kecil muncul di tangan Wen Che, dan dia menggoyangkannya dengan lembut.

Dengan bunyi dang, hantu muncul dari tubuh Xiang Shu dalam sekejap, mengambil bentuk manusia – jiwanya benar-benar telah dicabut paksa dari dalam!

Chen Xing: “!!!”

Xiang Shu mengeluarkan raungan keras, hanya untuk pada akhirnya seberkas cahaya keemasan keluar dari tubuhnya. Kekuatan naga Zhuyin mulai terbentuk, mulai bertarung dengan Lonceng Luohun untuk melawan hunpo Xiang Shu!

Segera, Wen Che berbalik dan mengarahkan naga itu ke langit, masih memegang Lonceng Luohun di tangannya, yang menarik tiga hun dan tujuh po Xiang Shu. Naga terus berputar ke atas, meningkatkan elevasinya!

“Xiang Shu!” Chen Xing berteriak.

Lonceng Luohun di tangan Wen Che berayun lagi, dan suara lonceng bergema sepanjang malam, di seluruh kota. Cahaya dari tubuh Xiang Shu memudar, tetapi semua orang di kota Jiankang terbangun! Tongkang tempat Chen Xing berdiri telah terbalik dan tenggelam saat dia berdiri, dan orang-orang di kapal mulai melarikan diri untuk menyelamatkan hidup mereka.

Feng Qianjun terbang ke depan, menebas dengan pedangnya. Wen Che segera menarik artefaknya kembali, menyerah pada Xiang Shu, sebelum beralih ke Feng Qianjun, dan membunyikan lonceng lagi.

Dengan bunyi dang, Feng Qianjun dan Xiang Shu, keduanya jatuh seperti disambar petir!

Xie An segera merasakan bahayanya, dan dia berteriak, “Kita akan bertarung di lain hari!”

Tetapi Wen Che jelas tidak mau membiarkan mereka pergi begitu saja. Dia menekan kepala jiao ke bawah, dan mereka menyerbu ke arah Xie An. Xie An segera berteriak keras; dia mengirimkan semua mantranya sekaligus, bahkan saat dia bersembunyi di belakang Chen Xing.

Kebencian bergolak di tangan Wen Che saat dia terbang menuju Chen Xing dan Xie An. Sinar dari Cahaya Hati meledak dari tangan Chen Xing, berubah menjadi gelombang cahaya saat mendorong Wen Che dan naga jiao itu.

Xie An memanggil air sungai, yang menyapu seluruh tongkang. Air naik seperti tangan raksasa, memegang seluruh tongkang, mengirimnya terbang ke arah Wen Che dan jiao biru itu. Chen Xing mengusir kebencian di sekitar Wen Che, tetapi Wen Che menolak untuk mundur. Dengan dua bunyi dang, dang lagi, dia menyerap Jiwa Tuoba Yan dan juga Xie An.

“Aku. Akan. Membiarkanmu. Pergi!” Wen Che tertawa nyaring. “Tunggu kematianmu datang ba! Pengusir Setan!”

Air sungai tiba-tiba bergemuruh, menyapu Chen Xing ke sungai.

“Saudara Feng -!” Gu Qing melompat ke Sungai Huai dan menarik Feng Qianjun, menyeretnya ke tepi sungai.

Chen Xing berlutut di tepi sungai, dengan cepat memeriksa Xiang Shu, yang telah tersapu ke pantai oleh air.

“Xiang Shu! Xiang Shu!” Chen Xing dengan cemas menepuk wajah Xiang Shu.

Keesokan paginya, matahari telah terbit setinggi tiga batang bambu. Di dalam
Departemen Pengusiran Setan:

Xie An, Tuoba Yan, Feng Qianjun, dan Xiang
Shu berbaring berdampingan. Chen Xing masih meneteskan air, dan rambutnya berantakan; pakaiannya yang tipis, semua menempel ke tubuhnya. Sima Yao berdiri di satu sisi, ekspresinya kaget, dan dia membuka mulutnya sedikit saat dia menundukkan kepalanya untuk melihat pemandangan di depannya.

Sima Wei menyilangkan tangannya saat dia menundukkan kepalanya untuk mempelajari kelompok itu.

Pu Yang bergumam, “Apa yang bisa kita lakukan?”

Sima Yao berkata, “Master Chen, lihat, kalian semua baik-baik saja, duduk di tongkang dan minum anggur, hanya untuk pada akhirnya pemilik Bank Dongzhe muncul mengendarai naga..”

“Biarkan aku membenarkannya, itu adalah jiao,” kata Chen Xing dengan lelah, “Ya, lalu dia menggunakan Lonceng Luohun untuk mengambil jiwa Xie An, Tuoba Yan, Feng Qianjun, dan juga pelindungku.”

Pu Yang bertanya dengan rasa ingin tahu, “Mengapa kamu baik-baik saja?”

Chen Xing mengerutkan kening dalam-dalam saat dia menjawab, “Cahaya Hati.”

Terakhir kali, Chen Xing tahu dengan jelas bahwa dia dan Xiang Shu sama-sama mendengar suara Lonceng Luohun, tetapi pada saat itu, Xiang Shu adalah Mutiara Dinghai, dan dia sendiri memiliki perlindungan Cahaya Hati. Itulah mengapa jiwa mereka tidak diserap oleh Wang Ziye, dan justru karena itulah Wang Ziye mulai mencurigai identitas Xiang Shu.

Tapi kali ini, tubuh Xiang Shu telah dibangun kembali, dan dia bukan lagi wujud manusia yang diberikan oleh Mutiara Dinghai. Bahkan jika dia memiliki kekuatan naga yang melindunginya, Wen Che masih mengambil sebagian dari hunpo-nya, jadi apakah dia bisa bangun atau tidak, itu sama sekali tidak diketahui. Kekuatan Lonceng Luohun benar-benar terlalu kuat, karena Xie An, Feng Qianjun, dan Tuoba Yan dari kelompoknya sendiri telah tersingkir. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

Chen Xing berkata, “Aku harus pergi mencari Wen Che dan mengambil kembali Lonceng Luohun untuk selamanya. Master Pu Yang, tolong, dalam beberapa hari mendatang, jaga Departemen Pengusiran Setan, dan rawat mereka dengan baik.”

Pu Yang bertanya, “Kamu tahu di mana Wen Che bersembunyi?”

Chen Xing merenung sejenak. Terakhir kali, Wen Che bersembunyi di lautan bunga Lihun di bawah bumi, tetapi kali ini, dia mungkin tidak kembali ke lokasi aslinya.

“Tidak tahu,” kata Chen Xing. “Aku harus bergantung pada keberuntunganku.”

Sima Wei melirik Chen Xing, sebelum berkata, “Aku akan pergi bersamamu.”

Pu Yang menambahkan, “Jika kamu mengizinkanku untuk berbicara dengan bebas, Master Chen, situasinya sekarang sangat genting. Shi Hai mungkin sudah dalam perjalanan ke sini. Apakah kamu dapat menangani situasinya? Lebih cepat, lebih baik.”

Pengingat Pu Yang tidaklah perlu, karena Chen Xing juga bisa merasakan beratnya situasi ini. Pihak mereka sendiri benar-benar kekurangan daya tembak, dan mungkin langkah selanjutnya dalam rencana Wang Ziye adalah untuk datang dan menggemparkan markas mereka. Itu juga sangat mungkin bahwa Wang Ziye sudah menunggu di suatu tempat di dekat Jiankang, untuk saat ini yang akan datang.

Dan sebelumnya, ketika Wen Che lolos dari penyergapan Xie An, dia hanya berpura-pura lemah. Motifnya yang sebenarnya adalah menunggu sampai Xiang Shu dan Chen Xing kembali ke Jiangnan sebelum menyerang, sehingga Wen Che bisa menangkap mereka semua dalam satu gerakan.

Sisanya bubar, dan Chen Xing mengerutkan kening. Dia berlutut di sisi Xiang Shu, kecemasan dan kejengkelan menggerogoti dirinya.

“Maaf” Chen Xing berkata, “Aku tidak sengaja untuk membuatmu marah… Xiang Shu.”

Rambut dan alis Xiang Shu basah oleh air, dan pakaiannya menempel di tubuhnya. Chen Xing mendengarkan detak jantungnya terlebih dahulu, sebelum dia kemudian membelai wajahnya, suaranya bergetar saat dia berkata, “Aku mencintaimu, Xiang Shu. Selama kau baik-baik saja, aku akan mendengarkan semua yang kau katakan, apa pun yang kau katakan aku… ”

“Aku dengar,” Xiang Shu tiba-tiba menjawab. Dia membuka matanya, menatap Chen Xing dengan tatapan penuh keraguan.

Chen Xing: “…”

Xiang Shu duduk, menatap Xie An dan yang lainnya di sekitarnya.

Chen Xing: “Kau tidak pingsan?”

Xiang Shu: “Tidak. Apa yang baru saja kau katakan? Katakan lagi?”

Chen Xing: “………..”

“Kau jelas bisa bangun terlebih dulu!”
Chen Xing berkata dengan liar.

Xiang Shu menaiki kudanya, pakaiannya masih setengah basah. “Apakah kau masih tidak pergi? Kita akan menyelamatkan mereka.”

Chen Xing menjawab, “Mengapa kau tidak memberitahuku?”

Xiang Shu mengulurkan tangannya ke Chen Xing, menariknya ke atas kuda, membiarkan Chen Xing duduk di depannya. Mereka keluar dari salah satu gerbang samping Jiankang, berlari menuju
Kuaiji.

“Aku tidak yakin apakah Wang Ziye telah menempatkan salah satu anak buahnya di dalam Departemen Pengusiran Setan,” kata Xiang Shu. “Menjadi sedikit lebih berhati-hati selalu baik.”

Chen Xing: “Bagaimana… kau merencanakan itu?”

“Itu adalah rencana Xie An,” kata Xiang Shu. “Setelah mengetahui bahwa Departemen Pengusiran Setan akan dibangun kembali, Wang Ziye pasti akan menemukan cara untuk menghambatnya, atau bahkan menghancurkannya. Wen Che memiliki Lonceng Luohun di tangannya, jadi kita harus menemukan cara untuk memancingnya keluar. Kita harus segera ke Kuaiji dan mencuri kembali Lonceng Luohun, lalu melawan Wang Ziye, semuanya sekaligus.”

Chen Xing berpikir, kalian semua benar-benar terlalu pintar. Xie An telah meramalkan sejak awal bahwa Wen Che pasti akan datang untuk mewaspadai mereka, jadi tipuan mereka sebelumnya hanyalah sebuah pengalihan. Dan begitu Wen Che menggunakan Lonceng Luohun dan mengumpulkan jiwa mereka, dia pasti akan lengah terhadap musuhnya. Itu juga merupakan kesempatan bagus bagi Xiang Shu untuk berpura-pura bahwa dia telah kehilangan semua kemampuannya untuk bertempur, sehingga mereka bisa menyeret Wang Ziye dan mengharuskannya memulai serangan habis-habisan melawannya di Jiankang.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Footnotes

  1. Secara metaforis; ini adalah pepatah lain untuk menggambarkan betapa singkatnya hidup ini.
Subscribe
Notify of
guest

2 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Hualian 86
Hualian 86
7 months ago

Syukurlah semuanya cuman pura pura
Aku sempet syok Xiang Shu knpa 2

han
han
7 months ago

“aku dengar” aaa gua yang malu 🙂