Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki, Rusma


Yu Shan mengira Qiu Ci telah naik pesawat pulang. Namun saat dia pergi ke restoran untuk makan siang, dia justru melihat pria itu duduk tidak jauh darinya, menundukkan kepala sambil memotong steak.

Di seberangnya, duduk seorang pria dengan punggung yang terasa amat familiar.

“Itu Mu Yu dan Qiu Ci?” Mu Feng juga melihat kedua pria yang duduk saling berhadapan.

Apa maksud dari semua ini? Sudah saling membuka hati dan akhirnya bersama secara resmi?

Meski Yu Shan sangat berharap keduanya bisa bersama pada akhirnya, dia tidak menyangka semuanya akan terjadi secepat ini.

Dia memahami betul sifat Qiu Ci. Dulu, meskipun pria itu menyukai Mu Yu, dia tetap bersikeras untuk tidak mengakui perasaannya sendiri.

Jika Qiu Ci benar-benar semudah itu ditaklukkan oleh Mu Yu, maka mereka tidak akan saling mengulur waktu selama bertahun-tahun tanpa hasil.

Yu Shan tidak bisa menahan rasa penasarannya. Dia menyuruh Mu Feng untuk lebih dulu mencari tempat dan memesan makanan, sementara dia sendiri berjalan ke arah Qiu Ci.

Dengan senyum penuh arti, dia mendekati meja mereka dan berkata dengan nada menggoda, “Tuan Muda Qiu, apa yang sedang terjadi di sini?”

“Apa maksudmu dengan ‘sedang terjadi’.” Qiu Ci meliriknya dengan malas, tampak tidak senang dia ikut campur.

Sejak tadi, dari balik kaca restoran, dia sudah melihat Yu Shan menggandeng Mu Feng ke arah ini. Dia tahu perempuan itu akan datang dan bertanya macam-macam.

Yu Shan lalu mengalihkan pandangannya pada Mu Yu yang sedang tenang menyantap makanannya, seakan tidak menyadari kehadirannya. Masih sama seperti dulu. Kecuali pada Qiu Ci, Mu Yu tidak pernah peduli pada siapa pun.

Mata Yu Shan yang hitam jernih berputar lincah, lalu dia menyindir, “Tuan Muda Qiu, apa kamu baru menyadari keinginan hatimu setelah bicara denganku tempo hari?”

Seperti dugaan, pria yang selalu tampak acuh itu menunjukkan perubahan kecil di raut wajahnya—alisnya sedikit berkedut. Dia mulai menunjukkan reaksi.

“Omong kosong.” Qiu Ci bertemu dengan tatapan mata Yu Shan yang licik dan tahu bahwa dia akan melakukan sesuatu yang buruk.

Dia memperingatkannya dengan tatapan matanya bahwa jika dia berani mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal, dia akan membuatnya menderita.

Yu Shan hanya berniat menggoda Qiu Ci, bukan menyebarkan apa pun. Dia justru berharap Qiu Ci benar-benar telah memahami isi hatinya sendiri.

Dia berdecak, “Aku sungguh berharap para penggemarmu bisa melihat wajah menyebalkanmu sekarang. Jauh sekali dari citra pria elegan dan rendah hati yang mereka idolakan.”

Qiu Ci menyeringai kecil. “Kalau begitu, Qi Meng pasti akan mencarimu untuk bicara soal hidup dan masa depan.”

Yu Shan berdecak lagi, “Lupakan. Aku tidak berani mencari masalah dengan wanita seberbahaya dia.”

Sambil perlahan memotong steak, Qiu Ci berkata santai, “Ngomong-ngomong, aku lupa memberitahumu bahwa aku akan menikah.”

Setelah berkata demikian, dia tidak menjelaskan lebih lanjut dan melahap makanannya perlahan , seolah-olah dia hanya menceritakan sesuatu yang sangat biasa.

Kedua orang yang hadir bersamanya terdiam. Mu Yu tidak menyangka Qiu Ci akan mengatakan hal itu kepada Yu Shan. Yu Shan sendiri berpikir telinganya sedang bermasalah.

Setelah sadar kembali, dia refleks menatap Mu Yu yang menunduk, kemudian menoleh pada Qiu Ci yang tampak tidak terganggu, lalu bertanya, “Dengan siapa kamu akan menikah?”

Qiu Ci menelan makanannya, menatapnya dengan senyum mengembang. “Tebak.”

Yu Shan mengerutkan bibir. “Sudah cukup, jangan main-main.”

Dia melirik ke arah lelaki yang sedari tadi terdiam dan mengingatkannya secara tersirat: “Kamu bukan anak-anak lagi. Jangan suka bercanda soal hal seperti ini.”

Namun pria di hadapannya tampaknya tidak menangkap isyarat itu. Ia malah menyeringai santai. “Siapa bilang aku bercanda? Kalau tidak percaya, tunggu saja. Setelah aku pulang dan urusan administrasi selesai, akan kukirimkan fotonya padamu.”

Percakapan dua orang itu seolah-olah tidak memerdulikan pihak lain, dan itu segera menarik kembali ingatan Mu Yu ke masa lalu.

Melihat sorot mata Qiu Ci yang masih menyimpan jejak kenakalan masa mudanya, Mu Yu seolah kembali melihat remaja yang bebas dan liar, dengan sepasang mata bersinar yang hanya tertuju pada gadis bernama Yu Shan.

Hatinya tiba-tiba terasa getir.

Yu Shan tidak bisa membaca isi hati Qiu Ci. Dia mencoba menebak, “Apa Paman dan Bibi sudah tahu?”

“Ayahku tahu,” jawab Qiu Ci, tenang. Meski kemungkinan besar ayahnya tidak menganggapnya serius.

Karena merasa Qiu Ci tidak sedang berbohong, Yu Shan mulai merasa tidak tenang. “Dengan siapa?”

Qiu Ci meletakkan alat makannya, menatap seseorang yang jelas sedang melamun, lalu menoleh pada Yu Shan yang dari tadi memperhatikannya. Dia tersenyum penuh makna. “Tebak.”

Yu Shan bukan orang bodoh. Dia langsung mengerti, dan matanya membesar, menatap bergantian pada kedua pria itu. Setelah terkejut, dia mulai merenung. Dia berusaha memahami alasan di balik tindakan Qiu Ci.

Dia sangat mengenal pria itu. Ini jelas bukan keputusan yang datang dari kesadaran atau pemahaman hati.

Merasakan ada sesuatu yang tidak beres, Yu Shan mengernyit dan berkata dengan nada serius, “Ikut aku sebentar.”

Di sudut sepi yang jauh dari keramaian, Yu Shan menarik napas panjang lalu bertanya dengan serius, “Kenapa tiba-tiba kamu ingin menikah dengannya?”

Qiu Ci mengangkat alis, nada suaranya menggoda, “Apa kamu cemburu? Menyesal menikah dengan Mu Feng? Sayang sekali, aku sudah tidak menyukaimu. Kesempatanmu sudah lewat.”

Yu Shan melotot. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu tahu maksudku.”

Keduanya saling bertatapan selama beberapa detik. Ekspresi Qiu Ci mulai mengendur, lalu dia menjelaskan dengan nada datar tentang alasan di balik keputusannya.

Mendengar isi dari ‘kesepakatan’ itu, Yu Shan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.

Dia bertanya pelan, “Qiu Ci, apa kamu tahu arti sebuah pernikahan?”

Qiu Ci samar-samar tampaknya bisa menebak arah pembicaraan ini. Dia menjawab ringan, “Bagi tiap orang, arti pernikahan itu berbeda, tergantung pada kebutuhannya.”

Sikap pria itu yang seakan tidak peduli membuat Yu Shan tercekat. Dia tidak bisa menahan nadanya yang meninggi, “Aku bertanya, apa kamu sudah memikirkan perasaan Mu Yu? Kamu tahu betul bagaimana dia menyukaimu. Jadi apa ini semua hanya—”

Sadar suaranya terlalu keras hingga membuat beberapa orang menoleh, Yu Shan menahan diri. Dia menatap pria yang dia kira sudah matang dan dewasa itu.

Setelah mengembuskan napas panjang, dia merendahkan suara, “Ah Ci, bukankah ini terlalu kejam? Hati manusia itu tidak terbuat dari baja. Mu Yu pun bisa terluka. Kamu bisa memilih siapa saja, tapi kenapa justru dia?”

Kalau hasilnya baik, mungkin mereka akan benar-benar membuka hati dan bersama. Tapi kalau tidak, bukankah ini akan mengulang luka lama?

Mendengar pertanyaan Yu Shan, Qiu Ci hanya mengernyit. “Dia tahu alasannya. Aku tidak memaksanya.”

Semua sudah jelas dan keduanya mendapat apa yang mereka inginkan. Apa salahnya?

Yu Shan mendengus kesal, “Jadi kamu pikir, selama dia setuju, kamu bisa merasa tenang dan memanfaatkan perasaannya?”

Mu Yu bersedia karena dia mencintai Qiu Ci sedalam itu. Apa pun yang ingin dilakukan Qiu Ci, dia akan menemaninya meski harus gila bersama.

Yu Shan masih ingat, dulu Mu Yu pernah berkata padanya dengan senyum ringan, “Selama Ah Ci menyukainya, aku akan melakukan apapun yang dia mau.”

Saat itu, remaja itu menatapnya dengan tenang, seakan berkata, “Ah Ci menyukaimu, jadi aku akan membantunya. Itu saja sudah cukup.”

Terus terang, Yu Shan tidak bisa memahami perasaan seperti itu.

Jika dia adalah Mu Yu, dia pasti akan mengejar orang yang disukainya dengan berani, dan selalu ingin menunjukkan bahwa—

Aku menyukaimu. Aku sedang berusaha mendekatimu.

Sayangnya, Mu Yu bukan dirinya. Dan dia pun tidak akan pernah menjadi Mu Yu.

“Sudah cukup, hanya itu yang ingin kusampaikan. Sisanya, pikirkan baik-baik.”

Yu Shan hanya mengatakan itu. Jika Qiu Ci tidak mau menyadari kesalahan dalam dirinya, maka sebanyak apa pun dia berbicara, semuanya akan sia-sia.

Setelah Qiu Ci pergi, Mu Yu tidak sanggup melanjutkan makannya. Baru saat Qiu Ci kembali duduk dengan ekspresi datar, dia kembali menyentuh makanannya.

Dia pun tidak bertanya apa yang telah dibicarakan kedua orang itu saat meninggalkan meja.

Kalau Ah Ci mau menceritakannya, tentu saja dia akan menceritakannya. Jika tidak mau, sebaiknya dia tidak bertanya. Karena selalu terasa seperti sesuatu yang buruk.

Keduanya terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun, hanya menghabiskan makanan masing-masing. Saat hendak pergi, Qiu Ci melewati meja Yu Shan, langkahnya sempat terhenti sejenak, lalu menyelipkan sebutir permen ke atas mejanya.

“Jangan marah kalau tidak ada masalah. Aku tidak akan membantumu kalau kamu sakit karena marah.”

Dasar gadis bandel, masih berani marah padanya—semua itu akibat dimanja terlalu lama.

Begitu kata-kata itu diucapkan, selain Yu Shan, dua orang lainnya tampak kebingungan.

Yu Shan melirik permen itu sekilas, lalu berkata dengan nada sinis, “Ini salahku karena mencari masalah. Aku tidak berani membiarkan Tuan Qiu mengurusnya.”

“Tidak buruk, kamu punya cukup kesadaran diri. Kalau begitu, lanjutkan saja marahmu.” Qiu Ci tidak ingin memperdebatkannya, hanya tersenyum mencibir dan berbalik pergi.

Begitu keluar dari restoran, Qiu Ci melirik ke arah Mu Yu yang sejak tadi diam, matanya menyipit, “Kamu tidak penasaran, apa yang tadi aku bicarakan dengannya?”

Dia bukannya tidak mengenal Mu Yu—si bodoh ini kelihatannya tenang luar biasa, tapi pasti dalam hatinya penuh pertanyaan.

“Kira-kira aku bisa menebak.” Mu Yu mengetahui kepribadian Yu Shan sampai batas tertentu.

“Coba katakan.”

“Kalian mungkin membahas alasan kita menikah. Dia mungkin mengira kamu sedang bermain-main, dan merasa tidak adil untukku.” Mu Yu menjelaskan singkat apa yang berhasil dia tebak.

Tepat ke sasaran. Qiu Ci mendecak dalam hati, lalu bertanya, “Bagaimana menurutmu?”

Sekalian saja bicara terus terang. Agar dia juga bisa merenungkannya.

Sekarang dia sedang dalam suasana hati yang cocok untuk merenung. Masalah bisa atau tidaknya mendapat jawaban, itu urusan belakangan.

Mendengar itu, Mu Yu tetap tampak tenang, berjalan mengikuti langkah Qiu Ci.

“Itu keputusan pribadiku. Ah Ci, sejak awal aku sudah memutuskan untuk ikut memainkan sandiwara ini bersamamu, semua akibatnya pun sudah kupikirkan. Aku akan menanggungnya sendiri. Kamu tidak perlu merasa terbebani.”

Sama seperti saat dulu ketika dia tahu Ah Ci masih menyimpan perasaan pada Yu Shan, tapi tetap menggoda dia ketika setengah mabuk.

Meski dia tahu Ah Ci tidak mungkin menyukainya, tapi dia tetap bersikeras mempertahankan kedekatan mereka.

Sekarang pun masih sama. Dia tahu bahwa tidak ada yang berubah dan masih bersedia bermain sandiwara dengannya.

Sebuah sandiwara yang telah terlalu dalam dia hayati, sementara Qiu Ci tetap berada di luar naskah.

Beberapa saat kemudian, Qiu Ci berkata dengan suara datar, “Jika kamu berkata seperti itu, justru membuatku makin merasa terbebani.”

Mungkin, dia memang perlu mempertimbangkan kata-kata Yu Shan tadi. Tidak seharusnya dia menyeret Mu Yu ke dalam kekacauan hanya karena keinginan sesaat.

Tatapannya berubah rumit, membuat hati Mu Yu terasa menegang.

Apa maksudnya itu? Kenapa Ah Ci menatapnya seperti itu? Apa dia ingin mengakhiri kesepakatan ini?

Qiu Ci menyadari sudut bibir Mu Yu yang sedikit tertarik ke bawah, lalu segera memalingkan wajah dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Mu Yu hanya diam mengikuti di belakang, tidak berani bertanya lebih jauh.

Saat Qiu Ci selesai menggesek kartu kamar dan hendak masuk, tangan kanannya tiba-tiba ditarik oleh orang di sampingnya.

Ah Ci.”

Mu Yu menatapnya, lalu tersenyum. Senyuman itu seolah sanggup mencairkan musim dingin paling kejam sekalipun.

“Sudah kubilang, asal kamu menyukainya, itu sudah cukup bagiku.”

Dalam sekejap, Qiu Ci merasa seolah waktu berputar ke masa lalu.

Dalam ingatannya, Mu Yu masih seorang anak muda dengan alis yang sedikit belum dewasa dan suara yang lembut. Dia sedang mengobati lukanya akibat perkelahian.

Saat itu, dia tersenyum padanya dan berkata, “Selama kamu menyukainya, aku akan membantumu kapan pun.”

Waktu itu, mereka sudah berpacaran lebih dari dua minggu, dan hal-hal intim pun sudah sering mereka lakukan.

Apa reaksi Qiu Ci waktu itu?

Cahaya senja yang samar menyinari wajah Mu Yu, membuat garis wajahnya yang biasanya dingin tampak begitu lembut.

Qiu Ci memalingkan wajahnya dan berkata, “Tidak… kamu tidak perlu ikut campur, aku sudah tidak tertarik pada gadis menyebalkan seperti Yu Shan.”

Mu Yu yang masih muda kala itu tidak mempermasalahkan, hanya tersenyum.

Tidak ada yang tahu, di dalam hati Qiu Ci waktu itu, sebuah suara kecil berkata: Sekarang aku mulai tertarik padamu, tapi hanya sedikit saja.

Perasaan itu hanya sesaat, lalu terkubur, seolah tidak pernah ada.

Namun kini, kenangan samar itu perlahan menjadi jelas, seakan baru terjadi kemarin, bahkan rasa yang menyertainya pun kembali muncul.

Keduanya saling menatap cukup lama di lorong, hingga terdengar suara samar seseorang di kejauhan, barulah Qiu Ci tersadar.

Dia menundukkan pandangannya, lalu mencengkeram pergelangan tangan Mu Yu dengan punggung tangannya, kemudian mendorong pintu terbuka dengan tangan satunya, dan pada detik berikutnya pintu terbanting menutup.

Tirai gelap menutupi jendela, membuat ruangan tampak redup.

Mu Yu diseret masuk ke dalam ruangan, punggungnya menempel di dinding yang dingin. Dia melingkarkan tangannya di lengan laki-laki itu dan mencengkeram erat pakaiannya di bagian belakang.

Napas mereka yang bertaut membuatnya sulit berpikir jernih. Dia pun tidak ingin berpikir lagi, hanya ingin tenggelam dalam ciuman yang penuh gairah itu.

Dia tidak merasa puas dengan hal itu dan menginginkan lebih dan lebih lagi.

Di bawah dorongan naluri, Mu Yu mencoba mengambil alih kendali, namun Qiu Ci justru menghentikan gerakannya.

Dalam gelap, hanya suara napas dan detak jantung mereka yang terdengar, hanya cahaya di mata satu sama lain yang bisa terlihat.

Qiu Ci perlahan-lahan menjadi tenang dan tak dapat menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan dan menutupi mata orang di depannya. Mata ini selalu membuatnya merasa bingung dan melakukan beberapa hal yang tidak rasional.

“Mu Yu.”

“Hmm?”

“Kamu ini bodoh, ya?”

Di telapak tangannya, dia bisa merasakan bulu mata Mu Yu yang bergetar, geli seperti menggaruk ujung hatinya.

Masih menutup mata itu, Qiu Ci kembali mencium dengan lebih ganas dari sebelumnya.

Dia bodoh dan dungu, tapi juga berperilaku sangat baik, yang selalu membuatnya ingin menggertaknya dengan kasar.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

San
Rusma

Meowzai

Leave a Reply