Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki, Rusma


Qiu Ci membatalkan semua jadwalnya beberapa hari terakhir dan pergi ke luar negeri.

Karena, sahabat masa kecilnya akan melangkah ke jenjang pernikahan.

Dia akan menggandengnya melewati karpet merah yang panjang, lalu menyerahkannya kepada orang lain.

Dengan ekspresi datar, dia menatap pengantin pria yang berdiri gagah di hadapannya dengan setelan jas rapi. “Kalau kamu berani memperlakukannya dengan buruk, aku jamin kamu tidak akan punya tempat untuk menangis nanti.”

Semua orang yang mengenal Qiu Ci tahu bahwa dia selalu menepati ucapannya.

Namun, menghadapi ancaman itu, sang pengantin pria tidak gentar. Dia justru tersenyum tipis. “Tuan Qiu, tenang saja. Mulai sekarang, Shan Shan adalah bagian dari hidupku. Jika bukan aku yang mencintainya, lalu siapa lagi?”

Yu Shan tertawa kecil dari balik tudung pengantin. “Cukup, Ah Ci1panggilan Qiu Ci.. Kamu masih ingin aku menikah atau tidak?”

Mengancam suaminya di depan matanya seperti ini, apa dia tidak takut kalau pria itu langsung membatalkan pernikahannya?

Qiu Ci mendengus pelan, lalu berkata setelah beberapa saat, “Jika kamu sampai disakiti, kembalilah. Keluarga Qiu—aku—akan selalu menjadi tempatmu bersandar.”

Sejak kecil, dialah yang melindunginya. Sudah lebih dari dua puluh tahun. Kini, seorang pria bernama Mu Feng hadir dalam hidupnya. Mungkin, ia tidak membutuhkannya lagi.

Karena sudah menggelar pernikahan di dalam negeri sebelumnya, kali ini upacaranya dibuat lebih sederhana. Mereka hanya mengundang teman-teman terdekat. Sebagai perwakilan keluarga terpenting bagi Yu Shan, Qiu Ci duduk di bangku utama.

Beberapa orang lain yang duduk di sana adalah teman-teman pengantin pria.

Sejak Qiu Ci masuk, mereka sudah memperhatikannya. Ada yang berbisik-bisik, mencoba menebak siapa dia. Sebab, wajahnya terlalu mirip dengan aktor terkenal, Zuo Xun—hampir tak bisa dibedakan.

Namun, tak satu pun yang berani memastikan. Karena di layar kaca, Zuo Xun dikenal sebagai pria yang hangat dan sopan. Sedangkan pria di hadapan mereka ini berpenampilan dingin, rambut disisir ke belakang, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi, sorot matanya tajam dan menekan.

Beberapa menit kemudian, pengantin pria dan pengantin wanita datang untuk bersulang.

“Maaf, aku datang terlambat.”

Sebuah suara yang dalam dan berat mengalun saat mereka tengah mengangkat gelas.

“Presiden Mu, aku pikir kamu tidak akan datang.”

Mu Feng terlihat terkejut dan senang saat melihat pria itu.

Dia adalah teman yang dikenalnya saat kuliah di luar negeri. Beberapa waktu terakhir, pria itu sibuk mengurus bisnisnya, bahkan sulit sekali untuk sekadar bertemu.

“Pernikahanmu tentu saja harus kudatangi,” jawab pria itu dengan nada rendah.

“Shan Shan, ini teman yang kukenal saat kuliah di luar negeri. Namanya—”

“Mu Yu. Aku mengenalnya.” Yu Shan memotong.

Mu Feng terkejut. “Kalian saling kenal?”

Dia tidak pernah menyebutkan nama Mu Yu di hadapan Yu Shan.

“Ya,” jawab Yu Shan singkat, lalu sekilas melirik Qiu Ci yang tetap tidak menunjukkan perubahan ekspresi.

“Kalau begitu, bukankah Qiu Ci juga mengenalnya?”

Mu Yu yang datang terlambat menatap pria di seberangnya dengan dalam. Jemarinya yang menggenggam gelas bergetar.

Saat melihat pria itu secara langsung, hatinya yang telah lama mati terasa kembali berdetak dengan kuat.

Pria tampan dalam balutan jas rapi itu akhirnya membuka suara, nada suaranya malas, “Aku lupa. Ingatanku buruk. Mungkin kita pernah bertemu.”

Mu Yu merasakan kepedihan di hatinya. Pahit sekaligus getir. Memang, sejak hari pertama dia melihatnya, hati dan mata pria itu sudah dipenuhi oleh Yu Shan. Mana mungkin dia mengingatnya—seorang kutu buku yang selalu diabaikan olehnya?

Mu Feng mungkin menyadari atmosfer aneh yang muncul, sehingga dia tidak melanjutkan topik tersebut.

Di tengah suasana hangat perayaan, Qiu Ci justru merasa sesak.

Dia melangkah ke tempat yang sedikit tersembunyi oleh tanaman hijau. Mengeluarkan rokok, lalu teringat bahwa dia sudah berhenti merokok satu-dua bulan ini. Akhirnya, dia hanya mengeluarkan permen karet.

Sepasang sepatu kulit hitam yang mengilap masuk ke dalam pandangannya.

Qiu Ci mendongak. Pemilik sepatu itu berdiri di hadapannya, menatapnya dengan tenang.

Tahun-tahun yang berlalu membuat pria itu terlihat jauh lebih dingin dan tegas. Sekilas saja, sudah bisa ditebak bahwa dia adalah sosok yang telah lama berjalan di jalur kesuksesan. Tidak seperti dulu, ketika wajahnya selalu memerah setiap kali bertemu dengannya.

“Qiu Ci.”

Dia memanggil namanya. Suaranya sudah berbeda—lebih dalam, lebih berat, lebih berwibawa.

Qiu Ci langsung merasa kualitas udara di sekitarnya menurun drastis. Dia ingin pindah ke tempat lain untuk mencari udara segar.

Ah Ci.”

Langkah Qiu Ci sempat terhenti beberapa detik, sebelum akhirnya dia tetap berjalan pergi.

“Tuan Ci.”

Suara itu terdengar sedikit bergetar, bukan nada hormat yang biasa ia dengar, melainkan seseorang memanggilnya dengan suara lembut dan sengau di telinganya, memanggilnya berulang kali dengan manja.

—Tuan Ci yang baik, cepat habisi saja aku.

Senyum tipis muncul di sudut bibir Qiu Ci, tapi bukan senyum bahagia, melainkan ejekan yang sinis.

Sial, apa orang ini punya masalah dengan otaknya?

Bertahun-tahun tidak bertemu, tapi sekali bertemu, langsung memainkan trik godaan seperti ini. Mau menggoda sampai mati atau bagaimana?

Sayangnya, dia sudah dewasa sekarang, trik semacam ini tidak mempan lagi.

Mu Yu tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung pria itu yang berjalan pergi tanpa menoleh.

Ia menundukkan kepala, jemarinya mengepal perlahan.

Setiap kali melihat pria itu berbalik, ingatannya selalu kembali ke masa lalu yang tak menyenangkan.

Qiu Ci kembali ke tempat tinggalnya.

Tempat itu berada di tepi laut, dengan kolam renang di halaman belakang, memungkinkan seseorang berendam di air sambil menikmati pemandangan laut.

Qiu Ci berenang beberapa putaran sebelum beristirahat di kursi berjemur, mengenakan kacamata hitam, dan memejamkan matanya.

Saat itu, terdengar suara samar dari belakangnya. Tidak lama kemudian, seseorang muncul dan langsung terdiam ketika melihat Qiu Ci yang sedang bersantai di kursi berjemur.

Sial! Kebetulan macam apa ini?

Begitu mengenali sosok itu, suasana hati Qiu Ci langsung memburuk.

Padahal dia ingat betul bahwa tetangganya adalah sebuah keluarga kecil. Kenapa saat ia kembali, yang muncul justru si bodoh Mu Yu?

Jika dibilang tidak ada yang mengatur ini, dia sama sekali tidak percaya.

Mengingat tatapan yang Yu Shan berikan padanya sebelumnya, Qiu Ci langsung tahu bahwa pasti ini ulah gadis itu.

Bocah menyebalkan! Aku sudah begitu baik padanya, dan dia malah menjebakku begini.

Meski kesal, Qiu Ci tetap tak bergerak, tetap memakai kacamata hitamnya dan mengabaikan pria itu seolah dia tak kasat mata.

Mu Yu juga tidak menyangka bahwa kamar yang disiapkan untuknya ternyata bersebelahan dengan Qiu Ci.

Begitu sadar, dia dengan santai menatap pria di kursi berjemur yang hanya mengenakan celana pendek, menikmati sinar matahari.

Setelah beberapa saat, dia merasa tenggorokannya kering, tapi tak sanggup mengalihkan pandangan.

Ah Ci-nya, semakin lama dipandang, semakin membuat hatinya berdebar.

Sama seperti dulu, saat pertama kali melihatnya di rumah keluarga Qiu, sosok pemuda bernama Qiu Ci itu langsung terpatri di hatinya.

Qiu Ci masih menutup mata, tapi tahu betul seseorang sedang menatapnya dengan tatapan yang begitu terang-terangan.

Tatapan itu panas, tak sedikit pun berusaha disembunyikan, membuatnya sulit diabaikan. Akhirnya, dia kehilangan kesabaran, melepas kacamata hitamnya dan menatap balik dengan dingin, seolah ingin berkata, “Kamu belum juga pergi, huh?”

Tatapan mereka bertemu, jaraknya tidak jauh, cukup bagi Qiu Ci untuk melihat gairah yang membara di mata pria itu, seolah siap meledak kapan saja.

Mu Yu juga hanya mengenakan celana pendek, sepertinya memang berniat berenang. Qiu Ci bahkan sempat melihat perubahan di tubuh pria itu.

Jika ini dulu, Qiu Ci pasti sudah mencengkeram dagunya dengan sikap santai dan licik, tertawa rendah menggoda, “Dasar bodoh, kamu sebegitu hausnya hanya karena melihatku, huh?”

Lalu, tanpa ampun, memberinya pelajaran yang tak terlupakan.

Namun sekarang, Qiu Ci hanya meliriknya dingin, lalu bangkit dan kembali ke dalam rumah.

Sebelum pergi, suara tawa mengejeknya jatuh begitu ringan ke telinga Mu Yu. Pria itu menunduk, melihat kondisi dirinya, dan ujung telinganya langsung memerah.

Dalam hati, dia membenarkan dirinya sendiri—ini bukan salahnya.

Mu Yu menatap pintu kaca di sebelahnya yang tertutup rapat, tirai tebal menghalangi pandangannya. Pikirannya melayang, mengingat masa lalu, dan tiba-tiba merasa sedikit sedih.

Dia sangat merindukan pria itu, merindukannya dalam segala hal.

Tapi di dalam hati Qiu Ci, tidak pernah ada dirinya. Qiu Ci hanya melihat Yu Shan, sementara Mu Yu hanya menginginkan Qiu Ci.

Hal pertama yang dilakukan Qiu Ci setelah masuk ke dalam adalah menelepon si bocah tak tahu diri.

“Kamu sengaja mengatur kamar ini, bukan?”

“Apa?” Suara di seberang terdengar berpura-pura bodoh.

“Kamu pikir menjebakku seperti ini menyenangkan?” Qiu Ci membuka bungkus permen karet dan memasukkannya ke dalam mulut.

Keinginannya untuk merokok kambuh, tapi dia sudah berhenti. Rasanya benar-benar membuat kesal.

“Mana mungkin? Aku mana berani menjebak Tuan Qiu kita. Kalau tidak, kamu pasti akan menghajarku habis-habisan, bukan?”

Yu Shan tertawa sambil berbicara di telepon. Dia melambaikan tangan ke suaminya yang tidak mengerti, menyuruhnya pergi dulu.

Siapa tahu nanti dia dan Qiu Ci akan bertengkar, dan kalau dia tak sengaja mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan, lalu Qiu Ci tahu ada orang lain yang mendengar, pasti ia akan marah lagi.

Qiu Ci memang punya temperamen buruk sejak kecil, semua orang tahu itu, jadi mereka selalu menuruti keinginannya.

“Yang kamu lakukan ini tidak ada gunanya.” Qiu Ci duduk di sofa, kakinya bertumpu santai di atas meja.

Kemeja hitam di tubuhnya hanya dikenakan begitu saja, tidak ada satu pun kancing yang terpasang, sementara butiran air menetes mengikuti lekuk tubuhnya.

“Berguna atau tidak, itu tergantung padamu.” Suara Yu Shan terdengar penuh arti. “Setelah melihatnya, kamu benar-benar tidak merasakan apa pun?”

Qiu Ci menyipitkan mata, jemarinya mengetuk sofa, mengingat tatapan bodoh pria itu barusan. Senyumnya muncul, samar.

“Benar-benar tidak.”

“Kamu ini, masih sama seperti dulu, hanya saja…”

Yu Shan belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tapi Qiu Ci langsung memotong, “Aku mau ganti kamar. Sekarang juga. Kalau tidak, aku akan memesan tiket pesawat untuk pulang.”

“Kamu sangat keterlaluan.”

“Coba saja, dan kamu akan tahu apakah itu keterlaluan atau tidak.”

“Baik, baik, aku akan membantumu mengurusnya.”

Kecepatan kerja Yu Shan memang tidak perlu diragukan. Begitu menerima konfirmasi pergantian kamar, Qiu Ci bangkit dan mengancingkan kemejanya.

Terpikir olehnya bahwa kacamata hitam barunya masih tertinggal di luar, jadi dia membuka pintu, mengambilnya dari kursi santai, lalu bersiap kembali ke dalam. Namun, saat matanya sekilas melirik ke arah kamar sebelah, dia baru menyadari bahwa, entah bagaimana, ia sudah berdiri tepat di depan pintu itu. Seakan takdir sengaja mempermainkannya, pintu itu tiba-tiba terbuka.

Orang yang membukanya tampak terkejut saat melihatnya. Setelah beberapa detik terdiam, wajahnya langsung memerah seperti tomat matang.

Dengan suara terbata-bata, ia memanggil, “A-Ah Ci.”

Qiu Ci menangkap aroma samar yang sangat mencurigakan, ditambah dengan sikap seseorang yang tampaknya ingin mengubur kepalanya ke dalam tanah. Qiu Ci langsung mengerti apa yang baru saja terjadi di dalam kamar itu.

Refleksi dirinya di kaca memperlihatkan senyum main-main di sudut bibirnya. Menyadari hal itu, ekspresinya segera kembali dingin.

Saat Qiu Ci hendak pergi, Mu Yu refleks menarik tangannya. Begitu bertemu dengan tatapan dinginnya, Mu Yu langsung melepaskannya dengan canggung.

Namun, setelah mengumpulkan keberanian, ia kembali mencoba meraih tangan Qiu Ci.

“Pikiranku hanya penuh dengan dirimu, aku selalu—”

Qiu Ci tanpa ekspresi menepis tangannya. “Itu bukan urusanku.”

Sial! Persetan denganmu.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

San
Rusma

Meowzai

Leave a Reply