Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki, Rusma
Di kota kecil, ada tiga jenis kabar yang paling mudah menyebar tanpa perlu kaki untuk berjalan1Menyebar dengan cepat..
Gosip tetangga, takhayul yang dipercaya, dan kasus misterius yang mengejutkan.
Siapa yang ketahuan berselingkuh, keluarga mana yang memanggil rubah peri2Istilah “rubah peri” bisa merujuk pada entitas seperti kitsune dalam mitologi Jepang, atau huli jing dalam budaya China, yang dianggap memiliki kekuatan untuk berubah bentuk dan memiliki kecerdasan serta pengetahuan luar biasa. Beberapa kepercayaan menyebutkan bahwa orang-orang bisa “memanggil” rubah peri untuk membantu dalam meramal atau mencari bimbingan, dengan melakukan ritual atau upacara tertentu. untuk meramal dan semuanya jadi kenyataan, serta rumor tentang orang gila atau pembunuh berantai yang mencungkil mata anak-anak. Hari ini Nenek Zhang dari Jalan Timur menyebutnya, besok Paman Zhao yang bertani di pinggiran kota sudah bisa mendengarnya.
Entah sejak kapan, beredar kabar di kalangan masyarakat, setiap orang bercerita dengan terperinci seolah-olah mereka benar-benar tahu.
— Di Hongcheng, ada orang gila yang datang.
Ada yang bilang bahwa seorang pasien rumah sakit jiwa kabur, atau mungkin seorang buronan dari provinsi lain melarikan diri ke sini. Ceritanya beragam.
Setiap orang menyebarkan versi yang berbeda, tapi semua sepakat saling mengingatkan untuk menjaga anak-anak mereka, sepertinya belum lama ini ada seorang anak yang hilang di pasar sayur Jalan Selatan, dan sampai sekarang belum ditemukan.
Meskipun Sekolah Dasar Hongshan belum menerima pemberitahuan resmi dari polisi, mereka tidak berani lengah. Guru dan petugas keamanan diperintahkan untuk memperhatikan orang tua yang menjemput anak-anak, dan anak-anak tidak lagi diizinkan pulang sendiri setelah sekolah.
Jiang Wang hanya mendengarkan sekilas dan kemudian memperingatkan Xingwang beberapa kali agar tidak berkeliaran setelah sekolah.
Sebenarnya, hampir semua pemilik toko di jalanan sudah mengenal Xingwang. Setelah sekolah, jika dia tidak bisa menunggu Guru Ji pulang, dia akan pergi ke toko buku untuk mengerjakan PR, jadi seharusnya tidak ada masalah.
Sejak toko buku didirikan tahun lalu hingga sebelum Tahun Baru, buku-buku pendamping ujian untuk tingkat SMP dan SMA telah diurutkan, dan Toko Buku memiliki sistem pemeringkatan internal sendiri.
Metode ini dipelajari Jiang Wang dari pengalamannya bermain game sebelumnya.
Kelompok TO berisi buku-buku terbaik, semuanya esensial, buku-buku yang wajib dipelajari di sekolah mana pun di seluruh negeri.
Kelompok T1 termasuk buku-buku yang secara keseluruhan bagus, meskipun ada sedikit kekurangan, bisa diberi catatan kecil dalam file EXCEL.
T2 dan T3 diurutkan di bawahnya, sedangkan kelompok paling bawah adalah buku yang penjualannya buruk dan isinya juga tidak baik, sehingga tidak perlu menambah stoknya.
Awalnya, ketika tugas ini ditugaskan, para pekerja merasa bahwa bos terlalu perfeksionis. Mereka berpikir cukup melihat penjualan untuk memilih buku.
Namun, seiring berjalannya waktu, mereka mulai memahami pentingnya sistem ini.
— Dengan sistem penyaringan ini, ketika buku-buku lama diperbarui atau dicetak ulang, mereka bisa segera dikelompokkan dengan benar.
Saat penerbit datang mempromosikan buku baru, mereka bisa membandingkan dengan kelompok yang berbeda untuk memutuskan apakah akan memasukkannya ke dalam stok atau tidak.
Ternyata bos memang yang paling cerdas.
Setelah sistem ini berjalan dengan baik, Jiang Wang menugaskan staf khusus untuk mengerjakan soal dan menyusun koleksi, yang digunakan untuk dua hal: Golden Twelve Volumes dan materi untuk kelas bimbingan belajar.
Sementara itu, dia membawa Ji Linqiu dan beberapa karyawan lainnya untuk mewawancarai guru-guru. Generasi muda bisa dihubungi melalui telepon, tapi banyak guru tua harus dikunjungi langsung di rumah mereka.
Dia sangat membutuhkan guru-guru berkualitas tinggi.
Meski banyak kelas bimbingan belajar yang terlihat menjamur di berbagai tempat, banyak di antaranya hanya mempekerjakan mahasiswa pendidikan sementara, atau bahkan orang-orang yang bukan dari jurusan pendidikan yang hanya mengawasi anak-anak mengerjakan soal dan menghafal kosakata, kemudian mengajar secara monoton lalu mengumpulkan uang.
Guru-guru yang benar-benar hebat sering bersembunyi di rumah mereka, tanpa memasang papan nama, hanya bergantung pada reputasi dan rekomendasi dari mulut ke mulut para orang tua, mengajar dalam kelas kecil setiap tahunnya.
Jiang Wang sering bermain mahjong dengan orang-orang untuk membangun hubungan, dan saat menghadiri pertemuan orang tua-guru, dia juga bertemu dengan banyak guru, secara bertahap menyusun jaringan guru di seluruh kota.
Lalu, dia tak kenal lelah mengunjungi mereka satu per satu, membicarakan pembagian keuntungan dan tunjangan, menjelaskan skala pengajaran, mengajak mereka yang bisa mengajar di ibu kota provinsi, dan menandatangani kontrak dengan mereka yang bisa mengajar kelas privat 1-on-13Kelas privat 1-on-1 adalah sesi pembelajaran di mana seorang murid belajar langsung dengan satu pengajar tanpa ada murid lain dalam kelas..
Di zaman apa pun, dalam berbisnis, kejujuran selalu menjadi yang utama, dan tidak ada yang bisa sukses hanya dengan duduk di kantor.
Jiang Wang, yang dulu mengendarai mobil sendiri ke mana-mana tanpa merasa lelah, sekarang sudah memiliki tim yang mengikutinya ke mana pun. Dia juga memberi instruksi kepada departemen SDM untuk secara rutin mengadakan kegiatan tim, menyediakan uang untuk biaya pendingin di musim panas dan subsidi pemanas di musim dingin, serta sesekali mengajak karyawan andal makan di tempat yang bagus.
Setelah Ji Linqiu mengundurkan diri lebih awal, dia hanya perlu mengajar dua kelas di sekolah, tidak perlu terlibat dalam banyak hal lagi, sehingga jadwalnya lebih fleksibel.
Dia menemani Jiang Wang mengunjungi guru-guru dari rumah ke rumah, dan lambat laun mengerti mengapa orang ini bisa sukses.
Saat datang, dia hanya seorang diri, tapi bisa membangun jaringan pengiriman di kota asing, membuka empat toko buku, dan bisnisnya semakin besar.
Orang-orang bilang Jiang Wang punya keberuntungan luar biasa, bisa melihat feng shui, tahu di mana ada harta karun.
Setelah beberapa hari menemani Jiang Wang, Ji Linqiu merasa sangat lelah, begitu menyentuh bantal langsung tertidur, dan rasa hormatnya terhadap Jiang Wang semakin besar.
Jiang Wang terlalu keras pada dirinya sendiri. Apa pun yang dia lakukan, dia selalu memberikan yang terbaik, tanpa pernah meninggalkan ruang untuk kelalaian atau kemalasan.
Meski banyak orang menunduk hormat dan memanggilnya “Bos Jiang”, ketika berhadapan dengan guru-guru tua yang keras kepala, dia bisa menanggalkan harga dirinya. Jika satu kali negosiasi gagal, dia akan datang lagi minggu depan, terus bernegosiasi sampai berhasil.
Siang hari sudah dihabiskan dengan berlarian ke sana-sini, dan jika ada masalah di perusahaan yang membutuhkan bantuannya di malam hari, dia akan langsung pergi tanpa ragu.
Saat acara makan bersama tim, Ji Linqiu tiba-tiba berdiri di tengah suasana bercanda, menuang segelas penuh untuk dirinya sendiri.
Matanya tersenyum lembut.
“Saudara Wang, aku angkat gelas untukmu.”
Rekan-rekan di sekitarnya langsung ikut bercanda, “Konsultan Ji, kamu pilih kasih, ya! Biasanya tidak minum, namun hari ini sampai menuang banyak demi minum bersama saudara Jiang!”
“Aku tidak salah lihat, ‘kan, Konsultan Ji benar-benar minum! Wah, saudara Jiang, kamu dapat kehormatan besar!”
Jiang Wang merasa ada yang berbeda, mendengar itu dia pun ikut berdiri dan menuang anggur, tapi suaranya lembut, “Linqiu, kenapa tiba-tiba ingin memberi hormat padaku?”
Orang lain mengira Jiang Wang hanya bersikap sopan, tapi Ji Linqiu bisa mendengar nada kasih sayang di dalamnya.
Panggilannya membuat telinga Ji Linqiu memerah, tapi dia tetap tersenyum dan menatap mata Jiang Wang, “Setelah bekerja sama denganmu, aku menyadari banyak hal yang sebelumnya tidak kuketahui.”
“Saudara Wang, ke depannya, kita masih punya banyak tantangan untuk dihadapi bersama.”
Jalan di depan penuh kesulitan, tapi juga cerah dan menjanjikan.
Bisa bekerja keras bersama seperti ini, sangatlah berharga.
Jiang Wang bisa merasakan ketulusan dalam perkatannya, seketika dia merasa tergetar hingga tak bisa berkata-kata, dan menghabiskan minumannya dalam sekali teguk.
“Baik!”
“Bos kita memang hebat!!”
“Wah!! Satu gelas lagi!! Aku tuang, aku tuang!!”
Jiang Wang meminum habis anggur di gelasnya, dan saat memandang Ji Linqiu, matanya memancarkan kehangatan.
“Itu keberuntunganku.”
Ji Linqiu sebelumnya belum pernah minum seperti ini, dan saat mendengar kata-kata tersebut, hatinya terasa hangat, hingga wajahnya juga memerah saat meneguk habis minumannya.
Minuman keras yang pedas mengalir ke seluruh tubuhnya, seakan membakar darah, memberikan sensasi yang memuaskan.
Keduanya saling tersenyum dan bersulang lagi sebelum duduk.
Makan malam ini benar-benar menyenangkan, dengan lebih dari sepuluh hidangan yang disajikan.
Di tengah-tengah makan, Jiang Wang pergi ke kamar mandi dan sekalian membayar tagihan. Saat kembali, dia melihat sosok yang familiar di salah satu bangku luar.
Secara refleks dia hampir berteriak “Ayah,” tapi berhasil menahannya dan tersenyum sambil batuk pelan, “Kamu juga makan di sini?”
Mungkin karena sudah terlalu banyak minum, Jiang Wang sadar bahwa Peng Jiahui masih berusia tiga puluhan saat itu, dan walaupun dia ingin menyapanya, dia tak berani.
Peng Jiahui mendongak, buru-buru berdiri sambil tertawa, “Lama tidak bertemu, Bos Jiang!”
Jiang Wang menerima sebatang rokok darinya, lalu baru menyadari ada wanita cantik berambut panjang duduk di seberang, tipe yang disukai ayahnya.
Wanita itu terlihat berusia dua puluhan, dengan kepribadian yang cukup berani.
“Oh, ini pacarku,” Peng Jiahui memperkenalkan dengan sedikit canggung, “Namanya Guan Hong. Hong Hong, ini… eh, kerabatku juga teman baikku, Bos Jiang.”
Dia dengan bijak tidak menyebutkan tentang mantan istrinya di depan pacar barunya.
Jiang Wang kembali sadar dan menepuk pundak Peng Jiahui, “Aku melihat kamu bepergian untuk urusan bisnis setiap hari, aku tidak menyangka hal itu.”
Peng Jiahui tertawa pelan, “Dia akuntan di perusahaan kami, sangat baik padaku, perhatian dan murah hati, dia pandai dalam segala hal, benarkan, Hong Hong?”
Wanita itu tertawa sambil menutup mulutnya, “Apa yang kamu banggakan?”
Percakapan mereka belum selesai ketika Ji Linqiu keluar dari ruang makan dan langsung melihat mereka.
“Ah, kebetulan. Lama tak jumpa.” Ji Linqiu dengan bijak tidak memanggil “Ayah Jiahui,” dan hanya berkata sopan, “Aku tadi penasaran mengapa saudara Wang cukup lama belum kembali, ternyata dia sedang bertemu kenalan.”
Peng Jiahui, yang baru saja pacaran dua bulan, belum berani bilang ke pacarnya bahwa dia punya anak dari mantan istrinya, jadi dia terlihat agak gugup bertemu Ji Linqiu.
Jiang Wang menyampirkan lengannya di bahu Ji Linqiu dan tertawa santai, “Kami tidak mau mengganggu kalian, kami sedang ada acara kumpul perusahaan, mari kita berbicara lagi nanti.”
Guan Hong menatap mereka berdua dengan seksama, matanya menelusuri kedua pria itu.
“Baiklah, mari kita berbicara lagi nanti.” Peng Jiahui teringat sesuatu dan berkata, “Film baru ‘Night at the Museum’ lumayan bagus, kami baru saja selesai nonton.”
“Oke, nanti kami juga beli tiket nonton.”
“Kami?” Guan Hong tiba-tiba bertanya.
Peng Jiahui, takut mereka menyebut Peng Xingwang, batuk sekali dan menjawab, “Mungkin bersama teman-teman.”
“Begitu, ya.” Mata Guan Hong masih terpaku pada mereka berdua.
Ji Linqiu merasa sedikit tidak nyaman, lalu berpamitan dengan beberapa kata sederhana dan membawa Jiang Wang pergi.
Saat mereka berjalan pulang, Jiang Wang masih teringat pada minuman tadi.
“Tak kusangka.” Mereka berjalan perlahan sambil membiarkan gerimis membasahi sepatu mereka, “Hari ini kamu yang menawarkan minuman terlebih dulu.”
Ji Linqiu terdiam sejenak, di tepi jalan yang sepi, dia berkata pelan, “Karena aku sangat menyukaimu.”
Langkah Jiang Wang terhenti, dia menatap Ji Linqiu beberapa detik, lalu memalingkan wajahnya sambil tersenyum malu-malu.
Ji Linqiu juga berhenti, berkata dengan lembut, “Bukan karena aku tidak mau bilang, hanya sebelumnya tidak ada kesempatan.”
“Kalau begitu, cium aku sekali.” Jiang Wang tiba-tiba teringat sesuatu, sedikit kesal, “Kamu tidak bisa menciumku begitu sampai di rumah, anak itu bisa muncul kapan saja.”
Ji Linqiu melihat ke jalan yang ramai, ragu-ragu, “Sepertinya… tidak bagus.”
Jiang Wang mencari tas kerja, dan sadar dia tidak membawa payung, tidak ada tempat berlindung.
Hujan mulai deras, dia memunggungi jalan dengan manja berkata, “Tolong bantu aku memakai tudungku.”
Ji Linqiu, setelah minum, sangat penurut. Dia sedikit berjinjit untuk menarik tudung jaketnya.
Belum sempat memakaikannya dengan benar, Jiang Wang sudah mencuri ciuman dengan senyum di bibirnya.
Gerimis terasa dingin, tapi ciuman itu membuat hati terasa hangat. Bibir mereka hanya bersentuhan sebentar, tapi itu tidak cukup.
Mata Ji Linqiu sedikit basah, dan dia mengeluarkan suara kecil tanda belum puas.
“Jangan menggodaku,” suara Jiang Wang serak, “Aku tidak punya banyak pengendalian diri. Bisa saja suatu hari aku menyerangmu di malam hari.”
Ji Linqiu berbalik cepat, seolah tidak mendengar.
“Hei, tunggu aku.”
Jiang Wang memasukkan tangannya ke saku, “Kalau kamu tidak menungguku, aku benar-benar akan menyerangmu malam ini.”
Ji Linqiu berhenti, berbalik, dan cepat-cepat mencium bibir Jiang Wang lagi.
Saat dia hendak mundur, Jiang Wang memeluknya dan memberikan ciuman dalam yang penuh hasrat.
“Aku sangat menyukaimu.” Jiang Wang berbisik sambil mencium rambut Ji Linqiu yang agak basah, suaranya serak, setengah bercanda setengah serius.
“Kenapa aku tidak bertindak lebih awal, ya?”
