Penerjemah: San
Proofreader: Keiyuki, Rusma
Langkah langsung ke pernikahan ini membuat kepala terasa panas, bahkan wajah ikut memerah.
Serta ada sedikit—meskipun tidak pada waktunya—debaran hati khas anak muda.
Aneh juga, ada beberapa topik yang saat pertama kali didengar terasa tabu dan menyimpang, seolah-olah tidak pantas diungkapkan. Namun, jika diletakkan di bawah cahaya terang dan diucapkan dengan tenang, setenang berbicara tentang makan dan minum, maka semuanya terasa wajar, tanpa ada yang salah.
Awalnya, bagi Ji Guoshen, membayangkan dua pria berciuman saja sudah membuatnya merinding. Tapi ketika putranya sendiri mengatakannya dengan begitu wajar, tiba-tiba hal itu terdengar seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan—semuanya memang sudah seharusnya begitu.
—Bagaimana bisa langsung melompat ke urusan pernikahan?!
Chen Danhong awalnya mengira dirinya akan langsung pingsan setelah mendengar kata-kata itu. Namun, setelah Ji Linqiu mengatakannya dengan jelas dalam satu tarikan napas, yang justru muncul dalam hatinya adalah perasaan lega yang aneh, seakan dirinya sendiri memang telah lama menunggu ucapan tersebut.
Dia merasa malu dengan kelegaannya yang bertentangan dengan logika, lalu akhirnya berkata setelah menahan diri cukup lama, “Tapi… tapi kalian berdua adalah laki-laki. Kalian juga tidak mungkin bisa mengurus akta nikah, bukan?”
Ji Guoshen secara refleks menimpali, “Zaman dulu, juga banyak orang yang menikah tanpa akta nikah, tetap saja mereka bisa hidup bersama.”
Chen Danhong masih mencoba mencari-cari alasan, “Tapi… mereka juga tidak bisa punya anak. Bagaimana nantinya dengan hari tua kalian?” Namun, setelah mengajukan pertanyaan itu, dia sendiri merasa betapa absurdnya pikirannya.
Jika putranya tetap tinggal di Yuhan, jangan bicara soal mencari nafkah—di Beijing dan Shanghai saja dia sudah bisa membeli beberapa apartemen. Ditambah dengan kecakapan Jiang Wang, bagaimana mungkin masa tua mereka tidak bahagia?
—Sekalipun tidak bahagia, tetap lebih baik daripada mereka berdua hidup di desa tua ini.
Setelah mengungkapkan semua yang ingin dikatakan, alkohol mulai memberikan efeknya pada Ji Linqiu. Ia tertawa pelan, lalu berdiri. “Kalian pikirkan baik-baik, kalau ada perlu, datanglah ke Yuhan untuk mencariku.”
Ia tidak lagi meminta persetujuan siapa pun dan langsung berbalik badan menuju pintu. “Ayo pulang, Jiang Wang.”
Peng Xingwang, yang sedari tadi bersembunyi di lantai atas untuk menguping, langsung turun sambil mengunyah dengan mulut penuhnya. “Kakak! Bawa aku juga! Aku besok masih harus sekolah!”
Jiang Wang melirik kedua orang tua di ruang tamu dan merasa pusing sendiri. Dari tadi dia nyaris tidak banyak bicara, tapi sekarang, karena Linqiu sudah berjalan keluar, dia juga merasa tidak pantas untuk tetap tinggal.
Ji Guoshen menghela napas dan bangkit berdiri. “Aku akan membungkuskan makanan untuk kalian makan di perjalanan.”
Saat Ji Linqiu sudah berjalan setengah jalan, dia menoleh ke belakang, menatap mereka seolah-olah mendesak Jiang Wang untuk segera minum air dan bersiap pergi.
Chen Danhong diam-diam masuk ke dapur untuk membungkus makanan, sementara Ji Guoshen duduk sendirian di tengah ruang tamu, menekan dadanya sambil mengeluh lemah, “Hal lain bisa kupikirkan nanti, untuk sekarang aku perlu menenangkan diri terlebih dulu…”
Ji Linqiu, yang berdiri menyandar ke dinding seperti anak muda pemberontak, berkata tanpa basa-basi, “Baiklah, kalau begitu kalian tenangkan diri terlebih dulu. Kalau aku tidak segera kembali bekerja, perusahaanku bisa bangkrut.”
Jiang Wang berbisik, “Sebenarnya tidak juga, Duan Zhao bahkan hampir ikut ujian bahasa Inggris tingkat lanjut demi menggantikanmu. Siapa tahu dia bisa lulus?”
Mereka bertiga kembali ke dalam mobil. Malam yang gelap diterangi oleh sorot lampu kendaraan. Kedua orang tua berdiri di depan rumah untuk melepas mereka.
Jalanan pegunungan berkelok-kelok, tapi setidaknya sekarang sebagian besar sudah diperbaiki, jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali mereka datang.
Anak yang sudah kenyang langsung tertidur, mendengkur seperti anak babi kecil.
Di kursi penumpang depan, Ji Linqiu menatap jalan yang menanjak ke puncak gunung sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Jiang Wang yang melihatnya tidak bisa menahan tawa.
“Biasanya aku yang melindungimu dari minuman keras, siapa sangka kamu justru menenggaknya dalam sekali teguk hari ini.”
Anggur kaoliang biasanya dibuat dengan sangat murni. Bahkan saat dia menghadiri jamuan bisnis, dia akan minum sedikit demi sedikit menggunakan gelas kecil. Tidak pernah seperti tadi, memakai mangkuk besar dan menenggaknya sekaligus dengan keberanian luar biasa.
Tampaknya seperti seorang sarjana yang berwibawa, tapi ternyata terhadap dirinya sendiri cukup kejam. Namun, tetap saja, kekejamannya ini terlihat cukup menggemaskan.
Awalnya Ji Linqiu merasa baik-baik saja, tapi sekarang efek alkohol mulai naik. Dia tidak merasa mual atau ingin muntah, hanya saja seluruh tubuhnya terasa panas membara. Dengan kedua tangan, dia menempelkan telapak tangannya ke pipi dan berkata pelan, “Wajahku panas sekali…”
“Tenangkan dirimu juga. Di mobil ada air, minumlah terlebih dulu. Kalau nanti masih tidak enak, kita berhenti di rest area dan aku akan membantu mengeluarkan alkoholnya,” kata Jiang Wang.
Ji Linqiu menggeleng dengan keras, entah menolak apa.
“Kamu tidak tahu,” katanya dengan suara sedikit mabuk, bergumam, “aku berani menunda hal lain, tapi aku takut jika aku jauh darimu, kamu akan berubah menjadi putri duyung dan menghilang.”
Jiang Wang meliriknya, yakin bahwa dia benar-benar mabuk.
“Begitu aku memikirkan itu, aku menjadi cemas. Kalau kamu benar-benar berubah menjadi buih di dalam bak mandi, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku mengumpulkanmu dengan ember atau membekukanmu di dalam kulkas?”
Melihat Jiang Wang masih tertawa, Ji Linqiu mengetuk kepalanya. “Kamu tahu tidak kalau aku sangat khawatir tentangmu?”
“Aku tidak akan menjadi putri duyung,” Jiang Wang tertawa sambil menenangkan, “Aku di sini, aku di sini. Kalau perlu, aku tidak akan berendam di bak mandi selama beberapa tahun ke depan, bahkan aku akan menjauh dari danau.”
Dia melirik ke belakang, melihat Peng Xingwang yang tertidur pulas dan mendengkur, lalu menurunkan suaranya. “Tapi aku juga pernah khawatir, bagaimana kalau orang tuamu membawamu pergi ke Taiwan atau Hong Kong? Kita berdua mungkin harus menunggu sampai jadi kakek-kakek baru bisa bertemu lagi. Saat itu, mungkin kita sudah terlalu tua untuk…”
Wajah Ji Linqiu yang memang sudah memerah karena alkohol semakin memerah. Dia menutupi wajahnya dan berkata, “Dasar mesum!”
Saat itu, dia terlihat begitu polos, seperti anak baik yang diam-diam minum alkohol dan menyesalinya. Meskipun dia tidak bersandar pada Jiang Wang, tetap saja kehangatan dan kelembutan menyelimuti mereka.
Awalnya mereka masih bercanda, tapi belum sempat melanjutkan, tiba-tiba air mata pun jatuh.
Jiang Wang, yang masih fokus mengemudi, menoleh sekilas dan terkejut melihat Ji Linqiu meneteskan air mata. Dia sedikit panik.
“Aku tidak akan mesum lagi, oke? Jangan menangis, jangan menangis, aku bahkan tidak bisa mengusap air matamu sekarang.”
Namun, Ji Linqiu, yang sudah terpengaruh alkohol, tetap menangis diam-diam dengan mata memerah dan ekspresi sedih.
Di hadapan orang tuanya tadi, dia tampak begitu tegar, seakan siap bertarung habis-habisan. Tapi begitu kembali ke dalam mobil, semua pertahanannya runtuh, dan ketakutannya muncul.
“Bagaimana kalau kita benar-benar tidak bisa menikah?”
Jiang Wang mengemudi dengan satu tangan sambil menggenggam tangan pasangannya. “Membeli lilin merah dan bersumpah, tidak ada yang mustahil?”
Ji Linqiu menggigit bibir, memeluk tangannya erat, lalu kembali merasa cemas. “Aku merasa seperti mulai menua.”
“Aku… begitu tidak melihatmu, rasanya seperti mulai menua.”
“Kamu sama sekali tidak menua,” jawab Jiang Wang, meliriknya saat lampu merah menyala, lalu mengambil tisu untuk menghapus jejak air mata di wajahnya. “Guru Linqiu di rumahku, tahun ini berumur delapan belas, tahun depan tujuh belas, cantik sekali.”
Ji Linqiu melotot, tidak terima.
“Ini memalukan sekali,” keluhnya. “Aku pasti sedang mabuk berat.”
“Tidak, malah sangat menggemaskan.”
“Kalau begitu… apakah kamu mau menikah denganku?”
Jiang Wang terdiam beberapa detik sebelum menjawab dengan sungguh-sungguh, “Aku tidak berani membayangkannya… Kalau bukan kamu yang bilang, mungkin aku benar-benar tidak pernah berani membayangkannya.”
Tapi sekarang, ia berani.
Aku mendengar kamu berkata, bahkan jika kita tak bertemu selama empat puluh tahun, semuanya akan tetap sama, tidak berubah sedikit pun. Aku mendengar kamu berkata, bahkan jika harus turun ke alam baka, kita akan mati bersama. Dengan keberanianmu yang teguh ini, kamu sudah mengucapkan sepuluh ribu kali bahwa kamu mencintaiku.
Mereka kembali ke Yuhan, perlahan-lahan membereskan kekacauan yang ditinggalkan selama lima puluh hari akibat insiden itu.
Sejujurnya, meskipun agak merepotkan, selama beberapa hari menghilangnya Ji Linqiu, perusahaan sebenarnya tidak mengalami banyak perubahan. Dalam dunia pendidikan, guru yang tiba-tiba sakit, hamil, atau dipindah tugaskan adalah hal biasa. Cukup mengganti dengan guru pengganti untuk sementara. Hanya saja, proses penyuntingan dan peninjauan buku agak terhambat, tapi untungnya beberapa guru senior membantu menanganinya.
Setelah kembali ke Yuhan, Ji Linqiu akhirnya memindahkan semua barang pribadinya dari rumah orang tuanya ke tempat tinggal barunya—meskipun sebenarnya tidak banyak. Kini, ia resmi tinggal bersama tunangannya.
Meski urusan pernikahan masih jauh dari kata selesai, tapi Tuan Jiang sudah mulai merasa cemas.
Apakah mereka akan menggelar pernikahan ala Tionghoa atau Barat? Di dalam negeri atau pergi ke luar negeri?
Apakah di pantai atau di hutan? Haruskah mereka mengadakan upacara dengan balon udara atau di ladang bunga dengan lonceng angin berdenting?
Hari-hari mereka berlalu dengan tawa dan perdebatan kecil selama enam bulan, sambil tetap rutin melakukan panggilan video dengan keluarga masing-masing.
Ji Guoshen, demi menemani istrinya, meskipun sempat berniat datang untuk mengajar, akhirnya tetap tinggal di desa bersama Chen Danhong, menemani dan mengobrol dengannya sesekali.
Ia merasa telah banyak berutang kepada mereka di masa lalu, dan kini hanya bisa membalasnya dengan keheningan.
Ketika Ji Linqiu berbicara dengan keluarganya, sesekali Jiang Wang juga muncul untuk menyapa, sekadar menunjukkan rasa hormat.
Mereka berbincang tentang kampus baru yang dibuka, tentang situs web yang sedang dikerjakan Jiang Wang, tentang harga rumah di Beijing, tentang Xingwang yang semakin tinggi badannya, lalu sebelum panggilan video berakhir, mereka saling mengucapkan selamat malam.
Enam bulan berlalu begitu cepat, sampai akhirnya Chen Danhong menelepon Jiang Wang.
Saat menelepon, wanita tua itu tampak ragu-ragu, tapi Bos Jiang dengan sabar mendengarkannya.
“Jangan buru-buru, bicara saja pelan-pelan.”
Chen Danhong terdiam sejenak, lalu akhirnya berkata, “Berapa tanggal lahirmu dan delapan aksara keberuntunganmu? Aku mau membawanya ke orang tua untuk dicocokkan.”
Jiang Wang pura-pura enggan memberikannya. “Kalau nanti mereka bilang aku tidak cocok dengan Linqiu, bagaimana? Ini tidak bisa diberikan begitu saja.”
Chen Danhong menghela napas pasrah. “Setidaknya kita harus memilih tanggal baik, bukan? Pesta pernikahannya tidak perlu besar, tapi tetap harus diadakan.”
Setelah menutup telepon, Ji Linqiu kebetulan masuk dengan membawa beberapa dokumen. Begitu masuk, ia langsung melihat Jiang Wang tersenyum senang.
“Kesepakatan rumah di Shanghai sudah berhasil?”
“Bukan itu,” Jiang Wang tersenyum penuh arti. “Tuan Ji, selamat.”
Ji Linqiu mengangkat alis. “Hm?”
“Selamat, lamaranmu diterima.”
Pria itu membuka kedua tangannya, mengayunkannya dengan sedikit manja. “Mana cincinnya?”
