Penerjemah: Keiyuki17


“Hongjun benar. Yao bukanlah tamu, melainkan pemilik Tanah Suci ini.”


Li Jinglong: “Kembali ke Enam Artefak.”

Mereka melihatnya sejenak, sebelum A-Tai berkata, “Yang keempat jatuh ke tanganku. Aku akan menanyakannya secara detail!”

Li Jinglong bertanya pada Hongjun, “Di mana kau dilahirkan?”

Hongjun menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku bermimpi di Hangzhou, ayahku dan Xie Yu sedang berdiri di bawah atap rumah, berbicara saat hujan turun di luar!”

Lu Xu berkata, “Itu bukan saat kau dilahirkan.”

“Bagaimana kalau menggunakan mimpi?” Tanya Hongjun.

Lu Xu menggelengkan kepalanya. “Saat itu kau masih terlalu kecil untuk mengingat masa lalu, terutama saat kau dilahirkan. Tidak ada cara untuk mengatur kapan saat itu terjadi.”

“Mungkin dewa kun dan Qing Xiong akan tahu,” kata Hongjun. “Haruskah kita bertanya pada mereka berdua saat kita bertemu mereka lagi?”

“Kalau begitu, yang tersisa hanyalah dua orang ini,” kata Li Jinglong. “Menurut hipotesis kita, mereka mungkin ada di sini.” Dan mengatakan itu, Li Jinglong mengarahkan simbol “sungai” ke arah Qinghai.

“Apa kau lahir di Qinghai?” Tanya Lu Xu.

Hongjun menggelengkan kepalanya. “Ayahku sepertinya belum pernah pergi ke Qinghai sebelumnya.”

Tiba-tiba, Qiu Yongsi bertanya, “Kalau begitu, saudara yang akan berubah menjadi naga ini, apakah kau sebelumnya adalah ikan mas di Sungai Kuning, atau ikan mas di Sungai Huai? Atau ikan mas Changjiang? Atau ikan mas Danau Dongting?”

Semua orang: “…”

Mulut Hongjun bergerak-gerak. Sesaat kemudian, dia diliputi oleh gagasan yang mengerikan – jika ikan mas yao lahir di kelokan pertama dari sembilan kelokan Sungai Kuning, di Dataran Tinggi Qinghai, maka itu mungkin sebenarnya…

Kelompok tersebut menghabiskan waktu lama untuk berdiskusi, sebelum akhirnya memutuskan bahwa selama mereka menemukan artefak keempat yang berhubungan dengan “sungai” mereka mungkin bisa menemukan artefak kelima juga. Adapun yang keenam, ada hubungannya dengan A-Tai, dan keberadaannya saat ini tidak diketahui. Itu mungkin yang akan paling sulit untuk dicari, jadi mereka akan membiarkannya sampai akhir.

Sedangkan yang keempat berada di Cekungan Zoige, tempat wilayah utara Shu bersinggungan dengan Liangzhou dan rezim Tubo. Kebetulan setelah mereka menyelesaikan urusan di Chengdu, mereka bisa langsung menuju utara ke arah itu. Setelah memutuskan, Li Jinglong merasa jauh lebih santai, dan dia meninggalkan artefak terakhir yang perlu dikhawatirkan oleh A-Tai.

Saat malam tiba, air memercik ke sekitar mereka. Hongjun meletakkan lenteranya di satu sisi, mengamati ikan mas yao secara detail.

“Kau benar-benar sudah bertambah panjang.” Hongjun mengukurnya – ikan mas yao sudah tumbuh sepanjang dua chi dan enam cun, empat cun lebih panjang dari sebelumnya!

“Tepat seperti yang kubilang!” seru ikan mas yao. “Jangan ganggu aku saat aku sedang menjernihkan pikiran, selanjutnya aku akan menumbuhkan tandukku!”

Ikan mas yao merasa sangat gembira. Hongjun mulai terkekeh, dan dia mengusap kepala ikannya sambil berkata, “Kau akhirnya juga berhasil melewatinya.”

“Berapa panjang naga?” Tanya ikan mas yao. “Aku telah menumbuhkan empat cun hanya dalam kurun waktu sepuluh hari.”

Hongjun berkata, “Jiao panjangnya tujuh atau delapan zhang, jadi naga mungkin panjangnya kira-kira dua belas atau tiga belas zhang.”

Empat cun dalam sepuluh hari, yang berarti satu chi dalam empat puluh hari, satu zhang dalam empat ratus hari, dan sepuluh zhang dalam empat ribu hari… Hanya dengan memikirkannya saja, ikan mas yao sangat gembira. Ia berteriak, “Dalam lima belas tahun lagi, aku akan menjadi sepanjang naga… Tunggu! Lima belas tahun penuh?”

Hongjun: “Kuncinya adalah jika kau terus tumbuh, saat kau mencapai panjang tiga chi, kau akan menjadi terlalu besar… Tidak mungkin aku bisa membawa ikan mas sepanjang tiga chi di punggungku dan berjalan di sepanjang jalan.”

Ikan mas yao tiba-tiba menyadari sebuah masalah – jika ia terus tumbuh semakin, hingga bahkan lebih panjang dari Li Jinglong, lalu apa yang harus dilakukannya? Ditambah lagi, meskipun ada perubahan fisik, kepalanya tampaknya tidak bertambah besar. Yang terjadi hanyalah tubuhnya yang semakin memanjang. Mungkin ia akan terlihat seperti belut sawah, dan karena tidak ada cara untuk berdiri, ia tidak memiliki pilihan selain meletakkan tangannya di tanah dan merangkak. Itu mungkin akan membuat orang takut sampai mati, bukan?

“Itu benar, lalu apa yang harus aku lakukan?!” Ikan mas yao merasa seolah-olah langit sudah runtuh. Suku air selalu memiliki aturan tidak tertulis – kun memandang rendah paus, dan paus memandang rendah hiu; ikan yang ada di lautan memandang rendah ikan yang ada di sungai, dan ikan gabus serta ikan mas hitam adalah yang paling aristokrat di antara ikan yang ada di sungai. Mereka yang makan rumput memandang rendah mereka yang makan lumpur, sama seperti ikan mas rumput memandang rendah ikan mas, ikan mas memandang rendah ikan mas crucian, ikan mas crucian memandang rendah belut sawah, belut sawah memandang rendah ikan lumpur, dan sebagainya. Hirarki mereka sangat ketat, dan membentuk rantai ketidakpuasan dari lapisan-lapisan yang sangat jelas dan terpisah. Jika ikan mas yao akhirnya tampak seperti belut sawah, yang paling diremehkan, penghinaan macam apa yang akan terjadi?

Tapi jika ia ingin berubah menjadi naga, diperlukan penghinaan dalam waktu singkat. Agar surga memberikan tanggung jawab besar pada ikan ini, ia harus terlebih dulu berjuang dengan hati dan pikirannya sendiri. Hongjun berkata, “Pikirkanlah! Jika kau menjadi seekor naga, tidak ada orang lain yang bisa meremehkanmu! Bukankah tidak ada artinya penghinaan sementara jika menghadapi hal itu?”

Saat ikan mas yao memikirkannya, ia melihat logika di sana – bahkan Li Jinglong dan karakter-karakter semacam itu, yang memiliki peran besar yang membantunya berkali-kali, juga pernah mengalami saat-saat di mana dia dibuang ke jalan. Ia langsung memutuskan bahwa ia akan menggunakan Li Jinglong sebagai contoh untuk berkultivasi dengan benar.

Selama beberapa hari, Changjiang di musim panas basah kuyup karena badai yang sangat deras. Kelompok ini mendapat kesempatan langka untuk mengalami kehidupan tanpa tekanan selama beberapa hari. Tubuh Qiu Yongsi berangsur-angsur pulih, sementara Hongjun dan Li Jinglong selalu bersama seharian, memperdalam ikatan mereka satu sama lain, dan menempel satu sama lain tanpa terpisahkan. Selama salah satu dari mereka ada, dijamin bahwa yang lain akan berada di dekatnya – mereka akan bergandengan tangan, atau yang satu akan duduk di atas yang lain. Apa pun yang terjadi, mereka memiliki banyak hal untuk diceritakan satu sama lain, dan semua orang yang melihatnya merasakan gigi mereka sakit saat melihatnya.

“Sangat mesra sepanjang hari,” Mo Rigen terbagi antara tertawa dan menangis.

Setelah badai reda, Ashina Qiong dan Mo Rigen berdiri di pagar kapal. Li Jinglong dan Hongjun duduk, bahu mereka bersentuhan, di bagian belakang geladak, memandangi pegunungan hijau di kedua tepi sungai yang memudar di kejauhan.

Ashina Qiong menghela nafas. “Ay, kenapa aku tidak bisa menjalani kehidupan seperti ini juga? Aku benar-benar mendapat banyak kesulitan dalam hidup.”

Mo Rigen melirik Hongjun dan Li Jinglong, berkata, “Li Jinglong-lah yang memberikan hunponya pada Hongjun, jadi tidak ada gunanya bermimpi. Kapan kau akan melakukannya juga?”

Ashina Qiong menjawab, “Aku ingin melakukannya, tapi aku harus mendapat kesempatan untuk melakukannya terlebih dulu.”

Saat Mo Rigen menoleh, dia melihat Lu Xu naik ke dek untuk mencari udara segar, jadi dia berbalik dan pergi, meninggalkan Ashina Qiong sendirian tanpa berpikir dua kali.

Ashina Qiong: “…”

Li Jinglong dan Hongjun bersandar satu sama lain, dan Li Jinglong berkata, “Ada banyak hal untuk dimainkan dan dimakan.
Chengdu, dan aku memiliki banyak teman lama di sana. Kau pasti akan menyukainya.”

Di tengah kekacauan perang, sejumlah besar sastrawan dan penyair meninggalkan Chang’an, mengungsi ke wilayah Shu. Namun Hongjun masih mengkhawatirkan teman lama mereka, Li Guinian serta Li Bai, dan setelah bertanya tentang mereka, barulah dia mengetahui bahwa mereka sebenarnya sudah meninggalkan ibu kota bersama putra mahkota dan kaisar. Namun saat dia dan Qiu Yongsi menuju ke kaki Lereng Mawei1Lokasi fisik di mana Yang Yuhuan, si manusia, menemui ajalnya., dia tidak melihat mereka berdua. Tapi dengan keahlian Li Bai dan sihir Li Guinian, mereka mungkin tidak berada dalam bahaya.

“Orang seperti apa putra mahkota itu?” Tanya Hongjun tiba-tiba.

“Dia orang yang masuk akal,” kata Li Jinglong. “Tapi karena dia masuk akal, jadi tidak perlu khawatir. Aku akan bertanggung jawab untuk bernegosiasi dengannya. Wilayah Tanah Suci mana yang kau sukai?”

Selama beberapa hari terakhir, Li Jinglong dan Hongjun sudah sepenuhnya mengungkapkan emosi yang mereka rasakan setelah lama berpisah satu sama lain. Mereka bolak-balik membicarakan banyak hal, dan untuk beberapa alasan, Li Jinglong tampaknya sangat tertarik dengan ke mana suku yao akan pindah. Sepanjang jalan, setiap kali mereka mendapati diri mereka tidak melakukan apa pun, dia akan bertanya lebih banyak pada Hongjun tentang sejarah panjang suku yao.

Saat Hongjun masih kecil dan tinggal di Istana Yaojin, dia sering mengganggu Chong Ming untuk bercerita, dan setiap kali Qing Xiong naik gunung, dia akan menanyakan seratus pertanyaan. Seiring berjalannya waktu, dan dengan pengetahuan yang diperolehnya dari para raja yao, secara alami dia mengetahui lebih banyak detail daripada cerita yang beredar di kalangan masyarakat umum.

Saat Qiu Yongsi bisa berdiri dan berjalan keluar, dia secara kebetulan mendengar bahwa Hongjun dan Li Jinglong sedang berbicara, jadi dia mengikuti mereka untuk mendengarkan sebentar. Perlahan-lahan, saat para exorcist mendapati diri mereka berbaring tanpa melakukan apa pun, mereka akan berkumpul untuk mendengarkan Hongjun menceritakan kisahnya. Ada beberapa bagian sejarah tentang suku yao yang pernah dibicarakan oleh ikan mas yao sebelumnya, tapi bagaimanapun juga, ikan mas yao hanyalah yao kecil, jadi apa yang diketahuinya sama sekali tidak sebanding dengan apa yang Chong Ming, Qing Xiong, dan yaoguai super hebat lainnya tahu.

“… Jadi sebenarnya, raja yao hanya bisa muncul dari salah satu dari dua tempat,” kata Hongjun. “Salah satunya adalah suku burung di Istana Yaojin, dan yang lainnya adalah suku air di Aula Benming2Diterjemahkan menjadi ‘suara air mengalir deras.’.”

“Masih ada lagi?” Tanya Ashina Qiong. “Tidak mungkin, kan?”

“Mereka sudah lama menghilang,” kata Hongjun. “Bertahun-tahun yang lalu, karena sesuatu yang terjadi di masa lalu, para naga Aula Benming mengkhianati seluruh suku mereka, jadi terjadilah pertempuran besar. Kemudian, Aula Benming dihancurkan, dan para naga pun tersebar… “

“Legenda ini adalah legenda yang aku tahu,” kata Qiu Yongsi. “Ini terjadi dahulu kala, saat manusia masih berusaha menyebarkan keturunan mereka ke seluruh Tanah Suci. Pemberontakan Aula Benming disebut ‘Duka Para Naga’. Suku naga pada awalnya sombong dan keras kepala, dan saat Aula Benming dihancurkan, masing-masing naga menamai diri mereka sendiri sebagai raja. Kemudian, terjadilah Pertempuran Besar Pegunungan dan Lautan3Sebagaimana dirinci dalam Shanhajing, Klasik Pegunungan dan Lautan.…”

“Bisakah kau bercerita lebih detail?” Li Jinglong sangat tertarik dengan periode sejarah ini.

“Tidak ada detail lebih lanjut,” kata Hongjun. “Itu sudah terlalu lama. Saat itu, bahkan belum ada kata-kata tertulis, dan bahkan dewa kun belum mengembangkan kesadarannya!”

Jika pertanyaannya adalah makhluk cerdas mana yang pertama kali muncul di dunia ini, naga dan burung phoenix akan menjadi yang pertama. Sebelum ada manusia, penduduk Tanah Suci kuno ini berpindah-pindah melintasi Dataran Tengah, Wilayah Barat, dan bahkan lebih jauh lagi ke daratan di seberang lautan. Dan menurut apa yang dikatakan Chong Ming, di timur jauh, di luar Negeri Awan, di seberang lautan luas, terdapat daratan yang lebih luas lagi.

Dan menurut catatan sejarah, setelah meninggalkan Wilayah Barat dan melintasi hamparan pasir kuning tak berujung dan kabut yang membingungkan, pengelana akan menemui daratan luas lainnya. Di negeri ini hiduplah sejumlah besar orang Semu, yang bahasanya berbeda dengan bahasa masyarakat Dataran Tengah.

Semakin banyak Hongjun berbicara, semakin jauh dia memahami topik tersebut, tapi Chen Feng memegang burung phoenix kecil dan mendengarkan dengan ekspresi penuh perhatian.

Jika itu adalah orang normal, mereka mungkin akan menganggap itu luar biasa. Chen Feng, bagaimanapun, masih muda, dan dia bahkan menyaksikan Li Jinglong mengusir Mara dengan matanya sendiri, jadi tidak peduli apa yang dikatakan Hongjun, dia menganggapnya sebagai fakta.

Qiu Yongsi menambahkan, “Setelah Pertempuran Besar di Pegunungan dan Lautan, suku naga mematuhi ketentuan yang ditetapkan dan dikurung di Menara Penakluk Naga…”

“Tidak semua naga,” kata Hongjun. “Tapi suku air menjadi lemah karena hal itu, dan saat suku yao perlahan-lahan menjadi lebih kuat, para naga, burung phoenix, serta suku-suku sejenisnya memutuskan bahwa mereka akan menjadikan satu makhluk spiritual sebagai raja mereka semua, dan raja itu akan memerintah seluruh yao. Mengenai siapa bawahan mereka, itu adalah sesuatu yang aku tidak begitu ketahui dengan jelas.”

Li Jinglong sudah bisa memahami gambaran umum tentang bagaimana hal itu terjadi – setelah para naga dan jiao mulai tidak begitu peduli terhadap suku-suku air, dewa kun-lah yang menyatukan sebagian besar makhluk hidup di dalam air, sehingga mengambil alih tempat itu dari naga. Sementara itu, “burung phoenix” bertempat tinggal di Istana Yaojin tanpa keraguan sedikit pun dan menjadi raja yao. Persis seperti yang dijelaskan Hongjun, seiring berjalannya waktu, Istana Yaojin menjadi tempat raja yao berada dan atas nama “Tiga Orang Bijak”, mereka memerintah suku yao. Meski begitu, karena letaknya di puncak Pegunungan Taihang, suku-suku tersebut berada di luar jangkauan kendali mereka.

Sama seperti dinasti yang berubah di dunia manusia, yaoguai juga akan memberontak. Chong Ming juga seorang raja yang tidak peduli dengan masalah apa pun yang dihadapi rakyatnya, jadi setelah siklus selama satu milenium, suku yao tidak lagi terlalu memedulikan Istana Yaojin. Dua ratus tahun yang lalu, saat dua dinasti independen Utara dan Selatan berakhir dan Kaisar Yang menyatukan mereka, Xie Yu melarikan diri dari Menara Penakluk Naga, dan dalam kekacauan di dunia manusia, mengumpulkan yaoguai untuk menyatakan perang melawan Istana Yaojin.

Saat itulah Chong Ming dikalahkan oleh Xie Yu dan mundur kembali ke Istana Yaojin. Sejak saat itu, dia benar-benar kehilangan posisinya sebagai raja yao…

“Artinya, jika kau ingin memimpin suku yao,” kata Li Jinglong, “kau tidak boleh tinggal jauh di atas mereka di Pegunungan Taihang dan mengabaikan apa yang terjadi di dunia manusia.”

“Hah,” kata Qiu Yongsi. “Kenapa aku merasa… selama bertahun-tahun ini, Dewa Kun adalah pemenang terbesar?”

Li Jinglong melirik Qiu Yongsi, menunjukkan bahwa dia tidak boleh berbicara seperti itu di depan Hongjun. Namun Hongjun merenung sejenak sebelum berkata, “Sepertinya memang begitu. Ayahku tidak pernah terlalu menyukai dewa kun sebelumnya, dan dia bahkan tidak mengizinkannya datang ke Istana Yaojin.”

Li Jinglong menjawab, “Dia terlalu pintar, dan dia juga bisa meramal masa depan, jadi dia akan selalu membuat orang merasa tidak nyaman!”

Hongjun berkata kepada kelompok itu, “Tapi Qing Xiong dan dewa kun selalu berhubungan baik.”

Li Jinglong berkata, “Menurutku, karena ini sudah dimulai, sebaiknya kita juga membiarkan suku yao menetap. Hongjun benar. Yao bukanlah tamu, melainkan pemilik Tanah Suci ini. Setelah memilih sebuah lokasi, kita harus membantu suku yao dalam membangun kota baru mereka. Memastikan kedua ras kita bisa hidup berdampingan secara damai adalah cara untuk menjaga kedamaian dunia manusia.”

Dibandingkan saat pertama kali Li Jinglong bertemu Wu Qiyu, Fei Ao, dan para yao itu, sikapnya terhadap mereka sudah berubah. Hongjun adalah yao, begitu pula Zhao Yun. Apa yang perlu mereka lawan adalah “iblis” yang menggerogoti hati manusia dan suku yao.

Saat itulah kapal melewati Pegunungan Wu. Di tengah derasnya arus, para pekerja di kapal mengemudikan kapal sekuat tenaga dan mengirimkan sinyal. Semua orang menghentikan diskusi mereka, dan mereka semua berdiri, memandang ke dua tepian sungai. Kabut terbelah saat itu juga, dan pegunungan hijau di kedua tepian menjulang tinggi saling berhadapan. Pemandangannya sangat indah untuk disaksikan, dan Puncak Dewi Pegunungan Wu menghadap ke langit luas di atas. Kera berteriak berulang kali di tengah pegunungan, dan seluruh pemandangan membangkitkan rasa keagungan dalam diri mereka.

Ini adalah pertama kalinya para exorcist memasuki wilayah Shu, dan ini juga pertama kalinya mereka melihat pemandangan yang begitu indah. Mereka semua berseru kagum. Puncak Pegunungan Wu menjulang tinggi ke udara, seolah-olah sejak zaman kuno, tidak pernah berubah.

Hongjun berdiri di sisi perahu, memandang ke arah Puncak Dewi4Salah satu dari dua belas puncak Pegunungan Wu.. Dia segera merasakan keagungannya, dan dia berpikir bahwa dunia ini benar-benar begitu luas, sementara dia hanyalah seekor lalat capung di lautan luas.

“Aku merasa tempat ini cukup bagus,” kata Li Jinglong sambil tersenyum. “Pilih gerbang tenggara ke Bashu, dan hiduplah seolah-olah kalian sudah meninggalkan dunia. Qi spiritual juga berlimpah di sini. Ingat tempat kita mencari vena naga di peta? Pegunungan Wu adalah salah satu tempat tersebut.”

“Itu benar.” Tapi entah mengapa, Hongjun terus merasa bahwa pemandangan Puncak Dewi yang menghadap ke timur entah terasa familiar. “Qi spiritual di sini begitu kuat.”

Sungai mengalir deras, sebelum tiba-tiba terdengar teriakan yang tak terhitung jumlahnya. Seekor huashe besar melebarkan sayapnya, memimpin ratusan huashe saat ia menuju kapal.

“Itu Zhao Yun!” Hongjun berteriak. “Zhao Yun kembali!”

Semua pekerja di kapal berteriak ngeri. Li Jinglong, bagaimanapun, mengatakan bahwa mereka tidak perlu khawatir. Saat itulah kawanan huashe muncul dari air, melindungi kapal saat melewati Puncak Dewi. Baru pada malam hari Zhao Yun naik ke perahu untuk melaporkan situasinya pada Hongjun. Para exorcist sudah memasuki wilayah Shu saat ini, dan tanah Bashu sudah lama tidak dilanda perang; tampak seperti dunia dongeng, sementara Dataran Tengah masih dipenuhi api perang.

Meskipun An Lushan sudah dieksekusi, pemberontakannya masih terus berlanjut. Shi Siming tertinggal untuk memimpin pasukan, dan dia masih menuju jalan menuju Celah Harngu. Geshu Han sudah meninggal, jadi Guo Ziyi dan Shi Siming bertarung. Saat itulah Guo Ziyi mengetahui bahwa Chang’an sudah berada dalam bahaya, dan dia menarik pasukannya kembali untuk membantu, tapi istana saat ini sedang memindahkan ibu kota ke Lingwu, dengan putra mahkota mengawasi negara. Li Longji melarikan diri menuju wilayah Shu, dan untuk sementara waktu, Pasukan Tang dan pemberontak menemui jalan buntu, tidak ada pihak yang mampu maju. Shi Siming kemudian pergi mencari An Lushan.

Adapun sisa-sisa pasukan An Lushan, mereka berkumpul di sekelilingnya dan melarikan diri dari Jalur Hangu. Berdasarkan lintasan mereka, mereka mungkin…

“Tunggu,” Li Jinglong langsung menyadari sebuah masalah. “An Lushan belum mati?”

“Belum,” jawab Zhao Yun.

“Apa yang sedang terjadi?!” Semua orang tercengang.

“Dewa Kun berkata,” Zhao Yun menyampaikan, “bahwa itu bukan lagi An Lushan, melainkan Xie Yu.”

Xie Yu sudah mengambil alih tubuh fisik An Lushan. Ia benar-benar membuang tubuh fisik Yang Guozhong dalam Pertempuran Chang’an, jadi Xie Yu tidak memiliki pilihan selain menempatkan hun jiaonya di tubuh An Lushan dan melarikan diri menuju Luoyang. Setelah memasuki Luoyang, dia pergi ke arah yang tidak diketahui. Saat itulah Qing Xiong mengirimkan anggota suku burung, yang saat ini berjaga di kota yang sudah hancur.

“Ia ada di Luoyang,” kata Zhao Yun pada kelompok itu. “Burung-burung di udara tidak bisa mengetahui keberadaannya dari atas tanah, jadi mungkin ia bersembunyi di bawah tanah. Tuan Qing Xiong memutuskan untuk mempertahankan pasukannya di tempat mereka berada saat ini. Setelah kalian semua mengumpulkan Enam Artefak, dia kemudian akan mengepung dan menghancurkannya.”

“Apa Xie Yu menyerap qi iblis?” Tanya Li Jinglong.

Zhao Yun menggelengkan kepalanya, ada sedikit kebingungan di tatapannya. “Tidak ada tanda-tanda yang terlihat. Dewa Kun mengatakan bahwa ini karena benih iblis sudah terluka parah oleh Cahaya Hati, dan untuk waktu yang singkat, ia tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengumpulkan qi iblis. Tapi benih iblis akan sembuh secara perlahan, jadi dia meminta semua orang di sini untuk bertindak secepat mungkin.”

Itu sama dengan perintah Acalanatha, jadi Li Jinglong mengangguk. Sebelum mereka benar-benar bisa menyingkirkan Xie Yu, mereka tidak bisa mengambil risiko dengan bertindak gegabah. Jika mereka secara tidak sengaja mengagetkannya dan Xie Yu melarikan diri dari Tanah Suci, atau jika ia melarikan diri jauh ke laut, akan ada badai darah lagi setelah benih iblis itu sembuh, dan benih itu kembali.

Yuan Kun memerintahkan Qing Xiong memimpin bawahannya untuk mengawasi pergerakan Xie Yu, menyebarkan mereka ke berbagai wilayah di Tanah Suci. Raja Hantu memimpin bawahannya mencari sisa-sisa pasukan An Lushan, dan jika ada yang tersisa, mereka harus segera ditangani. Yuan Kun kemudian melewati dan mencari masing-masing yaoguai yang pernah dikendalikan oleh qi iblis An Lushan dan menaklukkan mereka. Setelah Hongjun memilih tanah air baru untuk yaoguai, dia kemudian akan membiarkan mereka datang.

“Tuan Qing Xiong berkata,” Zhao Yun menjelaskan, “jika kita tidak bisa menemukan suatu tempat, maka tidak masalah jika kita menjadikan Luoyang sebagai ibu kota kita!”

“Tidak bisa!” Semua orang memprotes, wajah mereka paling pucat.

“Luoyang, ibu kota yaoguai, dan Chang’an, ibu kota manusia,” kata Zhao Yun, ekspresinya bingung. “Dengan Pegunungan Taihang di tengahnya, masing-masing dari kita bisa mengambil alih setengah Tanah Suci. Ini sangat logis, dan semua orang menyukainya. Kenapa kita tidak bisa melakukan itu?”

Li Jinglong: “…”

“Mustahil.” Hongjun menolak usulan ini. “Karena aku tidak menyukai Luoyang.”

“Oh-” Zhao Yun segera mengangguk. “Lalu dimana yang kau suka?”

“Tempat dimana pegunungannya hijau dan airnya jernih,” jelas Hongjun sambil mengerutkan kening. “Tempat di mana Qi spiritual dari langit dan bumi berlimpah. Debu merah dari dunia fana ini begitu berisik hingga hatiku kesal.”

“Itu benar,” Zhao Yun buru-buru menjawab. “Sebenarnya, aku juga sangat menyukai tempat-tempat itu.”

Punggung para exorcist dipenuhi keringat dingin, dan mereka berpikir bahwa untungnya hal itu berjalan baik. Satu kalimat “Aku tidak suka” dari Hongjun sudah menghilangkan masa depan di mana suku yao mengambil alih Tanah Suci, dan itu lebih efektif daripada mengemukakan banyak alasan. Jika mereka menyerahkan Luoyang begitu saja pada yaoguai, tidak mungkin Li Heng setuju, dan itu akan mengakibatkan senjata ditarik pada akhirnya.

Hongjun tidak menyangka raja yao akan begitu bersemangat. Awalnya, dia mengertakkan gigi dan setuju, tapi sekarang dia juga harus melakukannya dengan cepat. Jika tidak, setelah baru saja berurusan dengan Xie Yu, Qing Xiong mungkin akan bertahan di sekitar Luoyang dan menolak untuk pergi. Zhao Yun kemudian melaporkan bahwa putra mahkota sekali lagi mengumpulkan pejabat militer dan sipil di istana, dan dia secara pribadi bergegas menuju Chengdu. Mereka berencana melakukan upacara pengorbanan di Chengdu untuk menangani masalah penurunan takhta.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

This Post Has One Comment

  1. Ariyati Hua

    G sabar nunggu kelanjutannya…makin seru…

Leave a Reply