Penerjemah: Rusma
Proofreader: Keiyuki


“Ibu.” Dia berteriak lagi.

“Pergilah!” Wanita itu gelisah dengan kata itu dan berteriak tiba-tiba sambil melepaskan tangan bocah itu.

Li Sui kecil terkejut, dia mengulurkan tangannya lagi dengan tergesa-gesa untuk memegang pinggiran rok wanita itu, “Bu, jangan tinggalkan aku.”

“Sudah berapa kali aku bilang padamu? Jangan panggil aku ibu. Panggil aku Bibi Li!” Wanita itu melotot dengan marah.

Li Sui kecil sangat ketakutan, dia tidak mengerti mengapa. Dia adalah ibunya, jadi ia memanggilnya “ibu”. Semua orang punya ibu, jadi mengapa ia tidak bisa memanggil ibunya “ibu”? Tapi meskipun dia enggan, ia mengubah kata-katanya dengan malu-malu, “Bibi Li.”

Wanita itu tampak tenang setelah itu dan berbalik untuk kembali ke rumah. Li Sui kecil berlari di belakangnya.

Tempat ini adalah sebuah kompleks bergaya tradisional yang besar dengan bangunan-bangunan kayu yang saling berhubungan, tempat yang sangat luas. Sebuah kolam berada di depan kompleks dan sebuah taman di belakangnya, di tengah-tengahnya terdapat sebuah pohon dengan batang yang memiliki lingkar tiga kali lipat dari lengan manusia. Bagian terluar dari kompleks itu dikelilingi oleh tembok yang tinggi, jaringan duri besi yang padat dan dingin di atas tembok, membuat rumah itu benar-benar terisolasi dari dunia luar.

Li Sui telah tinggal di kompleks tersebut sejak awal ingatannya, dia jarang keluar rumah. Sesekali, dia pergi ke luar, tapi dia berada di dalam mobil dan selalu bersama dengan “Tuan Xu”.

Tuan Xu adalah seorang pria jangkung berusia lima puluhan, dia sedikit gemuk, tapi selalu mengenakan setelan jas yang tidak pas, tampak seperti pria dalam kantong kedap udara.

Ketika Li Sui kecil masih sangat muda, Tuan Xu sering datang menemuinya. Pria itu mengajari Li Sui membaca dan menulis, membelikannya permen, memberinya mainan, dan bahkan mengajaknya melihat lampion. Itu adalah kenangan masa kecil Li Sui yang paling membahagiakan. Setiap kali matahari terbenam, Li Sui kecil akan duduk di depan pintu dan menunggu Tuan Xu datang menjemputnya.

Di matanya, meskipun Tuan Xu tidak semuda dan setampan ayah orang lain, dia lebih santai, dia tidak pernah memaksa Li Sui untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya, atau memarahinya, dia bahkan mengajaknya naik mobil. Suatu ketika, ketika Tuan Xu datang menjemputnya, Li Sui kecil bertanya kepadanya dengan suara kecil, “Apakah kamu adalah ayahku?”

“Aku adalah ayahmu.”

“Kalau begitu, bolehkah aku memanggilmu ayahku?”

Tuan Xu tersenyum dan berkata, “Ya”.

Li Sui kecil melepaskan diri darinya dan berlari dengan cepat ke depan, dia berkata, “Aku punya ayah!”

Ketika dia pulang ke rumah hari itu, Li Sui kecil tidak sabar untuk memberi tahu ibunya tentang hal itu. Tak disangka, ketika mendengarnya, ibunya sangat marah. Ibunya membuang semua permen dan mainannya ke dalam kolam teratai, bahkan mainan Raja Kera kesayangannya.

“Jika aku mendengar itu darimu lagi, aku akan melemparkanmu ke sana juga. Apa kamu dengar?”

Li Sui kecil tidak menangis, tapi air matanya bergulir di rongga matanya.

Sejak hari itu, dia jarang bertemu dengan Tuan Xu. Dia bahkan tidak datang untuk Tahun Baru. Kemudian, ketika dia semakin dewasa dan menjadi lebih bijaksana. Li Sui mendengar potongan-potongan cerita dari para juru masak yang bekerja di kompleks tersebut, dia secara bertahap menyatukan semuanya untuk mendapatkan keseluruhan cerita.

Ibunya adalah seorang wanita cantik di sebuah kota terpencil, dan ayahnya, Tuan Xu adalah seorang pejabat tinggi. Ketika Tuan Xu menemani seorang pejabat lain dalam sebuah kunjungan ke kota itu, dia jatuh cinta pada ibunya. Tuan Xu sudah memiliki keluarga pada saat itu, namun dia merasa kesepian dan ingin mencari kesibukan. Dia berulang kali mengisyaratkan pada wanita itu tapi tidak ada hasilnya. Jadi, pada akhirnya, dia menculik ibunya dan mengurungnya di dalam kompleks ini, dan hal itu berlangsung selama delapan tahun.

Meskipun ibunya tidak berasal dari kota besar, dia memiliki penampilan yang terhormat dan bermartabat. Keluarganya tidak berkuasa atau berpengaruh, jadi dia hanya bisa menelan amarahnya, dia tidak berani menyuarakannya. Pada awalnya, dia mencoba bunuh diri, tapi dia selalu diselamatkan. Hanya untuk mendapatkan lebih banyak penghinaan yang lebih parah. Kemudian, dia berangsur-angsur menjadi lelah, dia hanya duduk di rumah dalam keheningan setiap hari.

Setelah sekitar dua tahun, Li Sui lahir. Dia terlahir tampan, dengan mata seperti mata ibunya. Dia memiliki wajah yang menggemaskan, tapi entah mengapa tidak pernah dicintai oleh siapa pun yang bekerja di kompleks tersebut. Di kompleks bertembok ini, selain Tuan Xu yang sesekali memberinya sedikit kehangatan, tidak ada yang mau dekat dengannya, bahkan ibunya sendiri menganggap Li Sui sebagai bukti penghinaannya.

Li Sui kecil tumbuh hingga berusia enam tahun, tumbuh di lingkungan yang begitu rumit. Suatu hari, gerbang besi didobrak. Sekelompok besar pria berseragam bergegas masuk, menendang setiap pintu yang ada di dalam rumah. Pada saat itu, Li Sui kecil dan ibunya sedang berada di taman belakang rumah. Di tengah kekacauan, mereka mendengar beberapa orang di luar berteriak bahwa pejabat Xu telah jatuh, mereka datang untuk melikuidasi asetnya dan menyita uang kotornya.

Tiba-tiba, puluhan orang berada di taman belakang rumah, semua orang dengan tergesa-gesa mengambil dan memindahkan barang-barang. Li Sui kecil belum pernah melihat begitu banyak orang asing yang berlarian sebelumnya, jadi dia ketakutan. Dia bahkan tidak ingat ketika ibunya mulai menyeretnya keluar dari kompleks bersama dengan keributan itu. Ketika Li Sui kecil akhirnya sadar, mereka sudah berada di sebuah hutan di pedesaan.

Hari sudah mulai gelap, dan Li Sui kecil sudah berlari begitu lama, dia kelelahan. Li Sui kecil tersandung akar pohon di tanah dan terjatuh, merasakan kekosongan yang tiba-tiba di tangannya, ibunya berhenti dan menatapnya.

Saat itu sekitar waktu ketika orang-orang mengadakan pertunjukan lentera, cahaya bulan yang dingin menyelinap melalui celah-celah di dedaunan, menyinari kedua mata mereka. Li Sui kecil mengangkat kepalanya dari tanah dengan susah payah. Ketika mata mereka bertemu, Li Sui kecil dapat melihat niat di mata ibunya, dia tidak menginginkannya lagi.

Detik berikutnya, suara langkah kaki yang cepat menggema di hutan. Melihat orang yang melarikan diri sendirian di depan matanya, rasa takut yang tak terkatakan muncul di dalam hatinya. Hampir secara naluriah, Li Sui kecil memanjat dari tanah dan mengejarnya, dia menangis dan berlari. Li Sui kecil masih sangat kecil, tidak mungkin dia bisa mengejar orang dewasa dengan mudah, dia jatuh ke tanah lagi.

Li Sui kecil menangis hingga kehabisan napas, dia berteriak dengan suara serak, “… Ibu!” Dia tidak memiliki saudara, dia hanya memiliki ibunya yang tersisa, bahkan jika ibunya tidak memperlakukannya dengan baik, dia tetaplah ibunya.

Suaranya bergema di hutan, ketika wanita di kejauhan mendengar suaranya, dia berhenti tiba-tiba dan memelototi Li Sui dengan tajam.

Li Sui kecil ketakutan dan tak berdaya, dia tidak bisa berhenti gemetar. Dia menunduk untuk menyeka air matanya, dan saat itulah kepalanya dipukul. Dia terkejut, mengangkat kepalanya ke atas, dia melihat ibunya berdiri di depannya dengan marah. Giginya bergemeretak begitu keras sehingga Li Sui kecil bisa mendengarnya.

Kepalanya dipukul dengan keras lagi, “Kamu panggil aku apa? Aku katakan kamu harus memanggilku apa?”

Li Sui kecil tertegun sejenak, dia tergagap dan berkata, “Li … Bibi Li …”

“Hei, apa yang terjadi di sana? Apakah kamu menculik anak-anak?!” Dua petugas patroli muncul di sisi hutan, mereka mungkin tertarik dengan tangisan itu, dan mengayunkan senter ke arah mereka.

Keduanya terkejut, mengira ada orang yang akan menangkap mereka. Mereka melarikan diri dengan kebingungan dan tidak berani tinggal di sana lebih lama lagi, jadi mereka pergi dengan tergesa-gesa.

Mereka pergi tanpa membawa apa-apa, tidak punya uang, ponsel, dan kartu identitas. Setelah dikurung selama bertahun-tahun, ibu Li Sui telah lama tidak berhubungan dengan dunia. Dia tidak tahu bagaimana keadaan dunia sekarang dan apakah dia bisa meminta bantuan polisi.

Ketika gerbang didobrak, reaksi pertamanya adalah melarikan diri, tapi setelah melarikan diri, dia menyadari bahwa dipenjara selama delapan tahun tidak hanya berlaku secara fisik, sebuah tembok juga secara bertahap dibangun di sekitar hatinya.

Agar aman, dia memutuskan untuk tidak melapor ke polisi dan membawa pulang Li Sui ke rumah.

Tanpa uang, dia harus mengemis dari pintu ke pintu untuk membiayai perjalanannya, karena takut ketahuan oleh keluarga Xu, dia tidak berani pergi ke tempat-tempat ramai. Dia hanya pergi ke desa-desa dan kota-kota terdekat untuk mencari makanan dan biaya perjalanan. Orang-orang yang tinggal di sana sebagian besar tidak berpendidikan, mereka masih tradisional dan konservatif. Beberapa pria melihat kecantikannya dan memiliki ide jahat, mereka ingin menangkapnya untuk dijual demi mendapatkan uang. Untungnya, beberapa penduduk desa yang lewat menyelamatkannya.

Ibu Li Sui sangat ketakutan, dia melarikan diri dengan Li Sui kecil dalam semalam, bahkan tidak berani mengemis lagi. Mereka berjalan di sepanjang rute dalam ingatannya. Ketika mereka melewati desa lain, semua uang mereka habis dan mereka tidak punya makanan lagi. Ibu Li Sui sakit parah, dia batuk-batuk sepanjang waktu dan tidak bisa lagi berjalan.

Li Sui kecil merasa takut dan cemas, dia berkeliling desa untuk meminta bantuan. Dokter di desa itu adalah orang yang baik, dia bersimpati pada Li Sui kecil dan ibunya. Dokter tersebut melakukan pemeriksaan sederhana terhadap ibu Li Sui kecil, setelah diperiksa, dokter tersebut terkejut.

“Ini bukan flu biasa, aku pikir dia mungkin memiliki sesuatu yang salah di paru-parunya. Aku sarankan kamu pergi melakukan rontgen di kota besar,” kata dokter.

Setelah mendengar itu, ibu Li Sui hanya menggelengkan kepalanya, sementara Li Sui kecil berkata dengan suara kekanak-kanakan, “Tapi kami tidak punya uang.”

Dokter tampaknya juga merasa kesulitan, dia menunjuk ke suatu arah dan berkata, “Ada beberapa orang di desa yang membeli darah, mereka membeli darah dengan harga yang cukup tinggi. Mungkin kamu bisa bertanya kepada mereka tentang hal itu?”

Setelah sedikit ragu-ragu, ibu Li Sui membawa Li Sui ke stan penjualan darah. Ada cukup banyak antrean di stan penjualan, sebagian besar adalah penduduk desa dari tempat terdekat. Tempat ini jelas tidak berizin, mereka bahkan tidak memiliki tindakan pencegahan higienis yang paling dasar, jarumnya sering digunakan kembali.

Meskipun dia terisolasi dari dunia luar selama bertahun-tahun, dia masih memiliki pengetahuan dasar tentang kesehatan masyarakat. Dia takut tertular, tapi setelah bertanya-tanya, semua orang mengatakan tidak ada wabah penyakit menular di dekatnya. Dia baru berani menjual darahnya setelah mendapatkan informasi tersebut.

Secara teknis, pasien seperti dirinya tidak boleh menjual darah di sini, tapi dia tidak peduli dengan hal itu sekarang. Jika dia menunggu lebih lama lagi, mereka mungkin akan mati di sini sebelum sampai di rumah.

Dia mendapat 400 yuan dengan menjual 600 mL darah, uang sebanyak itu hampir tidak cukup untuk ongkos pulang. Tatapannya tertuju pada Li Sui kecil, dia sepertinya merasakan sesuatu dan mengangkat tangannya dengan sukarela.

Dokter palsu yang melakukan pemgambilan darah itu memandang Li Sui kecil dengan kaget dan berkata, “Bukankah anak ini masih terlalu kecil, apakah kamu yakin ingin aku mengambil darahnya?”

Dia mengeraskan hatinya dan berkata, “Ya.”

Orang lain yang bertanggung jawab untuk mengambil darah melihat ke arah mereka dan berkata, “Kamu sangat membutuhkan uang? Kami akan melakukan pemeriksaan terhadapnya terlebih dahulu, jika terjadi sesuatu, kami tidak bertanggung jawab.”

Setelah itu Li Sui kecil dibawa ke sebuah ruangan gelap, ada beberapa orang di dalamnya, baik pria maupun wanita. Sepanjang proses itu, Li Sui kecil dalam keadaan kebingungan, dia hanya tahu bahwa orang-orang itu menghubungkannya ke semacam mesin, dia juga mendengar suara tetesan aneh selama berada di dalam ruangan itu.

Setelah pemeriksaan, dokter palsu tersebut mengambil 100 mL darah dari Li Sui kecil. Dia mulai merasa pusing setelah itu, ibunya mengambil uang dan menggendong Li Sui kecil, membawanya untuk makan.

Setelah beristirahat semalam, mereka berencana untuk menyewa sepeda motor di dekat pintu masuk desa. Tepat ketika mereka sampai di pintu masuk desa, mereka dihentikan oleh sepasang suami istri bermasker, mereka jelas bukan orang baik.

“Apakah kamu akan menjual anakmu?” Pria itu bertanya langsung.

Ibunya secara naluriah menarik Li Sui kecil lebih dekat ke dirinya sendiri dan bertanya, “Siapa kalian?”

“Kamu tidak perlu peduli siapa kami, kami di sini hanya untuk bertanya apakah kamu akan menjual anakmu kepada kami. Kami akan memberikan satu juta yuan.”

Ibu Li Sui terkejut, tangannya mengendur.

Li Sui kecil segera meraih kembali tangan ibunya, takut ibunya akan menjualnya. Dia membuka matanya yang polos lebar-lebar dan berkata dengan suara lemah lembut, “Ibu.”

Ibu Li Sui melirik anak laki-laki itu, meskipun dia tidak terlalu mencintai anak itu, dan bahkan menganggapnya sebagai penghalang dalam hidupnya, namun ketika sampai pada hal ini, dia masih ragu-ragu.

“Tidak menjual.” Dia mendorong kedua orang itu menjauh, menggendong Li Sui kecil dan berlari.

Bersembunyi dan melarikan diri sepanjang perjalanan, mereka akhirnya tiba di rumah mereka. Namun, ketika mereka membuka pintu rumah, mereka menemukan bahwa orang-orang di dalamnya telah pergi, mereka telah pindah. Dia baru tahu setelah bertanya kepada seorang wanita tua di rumah itu, desa itu kebanjiran tiga tahun yang lalu, rumah dan lahan pertanian semuanya terendam. Untuk bertahan hidup, keluarganya pindah ke kota untuk bekerja, di mana mereka sekarang, bahkan wanita tua itu pun tidak tahu.

Dia putus asa, dia memiliki harapan di sepanjang perjalanannya. Satu-satunya harapan yang dia miliki adalah berkumpul kembali dengan keluarganya, sekarang satu-satunya harapannya telah hancur, dia tidak bisa bertahan, dia jatuh ke tanah.

“Bibi Li,” kata Li Sui sambil bergegas untuk mendukungnya.

Dia menatap Li Sui dengan tatapan kosong, lalu keputusasaan di matanya berubah menjadi kemarahan, tangannya gemetar. Li Sui secara naluriah takut, dia mundur beberapa langkah. Penyakitnya tidak pernah sembuh, setelah terkena bom emosional ini, dia justru semakin parah. Dia memuntahkan darah dan pingsan.

Li Sui kecil sangat ketakutan, dia tidak tahu harus berbuat apa. Untungnya, seorang pria tua yang membawa kayu di punggungnya lewat, Li Sui kecil dan pria itu membawanya ke pusat kesehatan di dekatnya. Dokter yang bertugas di sana adalah seorang dokter sukarelawan dari kota, dia berpengalaman. Setelah memeriksa kondisinya, dia berkata dengan ekspresi muram, “Ini adalah kanker paru-paru.”

Setelah mendengar itu, semua orang dewasa terkesiap, Li Sui kecil masih kecil, dia tidak tahu apa itu, tapi dia tahu bagaimana mengamati ekspresi orang. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, dia bertanya dengan tergesa-gesa kepada dokter, “Apakah ibuku akan meninggal?”

Dokter tidak menjawab pertanyaannya secara langsung, dia berkata, “Siapkan uang dan pergi ke kota besar untuk berobat, mungkin dia bisa hidup beberapa tahun lagi.”

Orang-orang dewasa di sana saling berpandangan, mereka dengan senang hati membantu memindahkan wanita itu ke sini, membantu orang lain dengan sedikit kerja keras tidak masalah. Namun, jika menyangkut uang, mereka semua tidak bersedia. Tidak ada yang bisa menyalahkan mereka untuk menjadi seperti itu, penyakit ini pada dasarnya adalah lubang yang sangat dalam, itu juga merupakan jenis perjalanan satu arah. Desa itu banjir dalam beberapa tahun terakhir, orang-orang kaya sudah pindah, yang tersisa semuanya hanyalah orang miskin, tidak ada yang punya uang ekstra untuk membantu mereka.

Ibu Li Sui tinggal di pusat kesehatan selama dua hari, dia benar-benar tidak mampu membayar biaya tinggalnya, jadi dia pindah setelah itu. Untungnya, wanita tua di rumah lamanya baik hati, dia merapikan dua kamar untuk mereka tinggali.

Sejak hari itu, Li Sui kecil belajar memasak dan merawat ibunya. Sebelum matahari terbit, Li Sui kecil sudah berada di atas gunung untuk mengambil kayu bakar. Kemudian pada malam hari, Li Sui kecil akan pergi ke ladang untuk membantu para petani memungut padi yang jatuh untuk mendapatkan beras. Hari-hari itu hanya berlangsung sebentar, ibunya tidak dapat bertahan lagi, tanpa bantuan obat-obatan, penyakit itu menampakkan taringnya. Hanya dalam waktu dua bulan, berat badannya turun 30 kg, bahkan wajahnya pun mengkerut.

Li Sui kecil melihat ibunya semakin kurus dan kecil, dia tahu bahwa ini tidak bisa terus berlanjut. Saat dia memikirkan hal itu, seseorang mendatanginya.

Li Sui menatap pria yang wajahnya penuh dengan bekas luka, dia ingat bahwa orang ini adalah orang yang menghentikan ibunya dan dia di pintu masuk desa sebelumnya. Li Sui kecil secara naluriah menjadi waspada, dia berkata, “Kamu orang jahat.”

“Nak, kamu benar,” kata pria itu dengan aksen yang aneh, dia melanjutkan setelah jeda sejenak, “Aku orang jahat, tapi aku punya uang. Apakah kamu mau ikut denganku, jika kamu mau, ibumu bisa berobat.”

Li Sui kecil tergoda, dia ragu-ragu sebentar, lalu bertanya, “Orang lain juga punya anak, mengapa kamu menginginkanku?”

Pria dengan bekas luka dan memegang sebatang rokok itu tertawa, berpikir betapa cerdasnya anak ini di dalam hatinya, lalu dia berkata, “Aku tidak tertarik untuk mengikutimu sampai ke sini, jadi aku akan mengatakan yang sebenarnya. Ada orang kaya yang menginginkan jantungmu, jika kamu mengikutiku, kamu akan mati, tapi aku bisa berjanji bahwa ibumu akan mendapatkan perawatan di rumah sakit terbaik di kota ini.”

Li Sui kecil curiga padanya, dia tidak bodoh. Siapa yang tahu apakah orang ini akan mengobati penyakit ibunya setelah dia pergi.

Pria itu sepertinya menyadari kekhawatirannya, dia berkata, “Jangan khawatir, aku akan melakukan apa yang aku janjikan, lagipula itu bukan uangku. Semuanya dibayar oleh bos, dia mengatakan bahwa itu adalah pilihanmu. Kamu harus bersedia melakukannya sendiri, dia tidak melakukan apa pun untuk menyakiti orang lain.”

Li Sui kecil ragu-ragu, dia tidak langsung menjawab. Pria itu juga tidak terburu-buru, dia hanya duduk di samping dengan rokoknya dan menunggunya. Saat langit mulai gelap, Li Sui kecil akhirnya mengambil keputusan, “Aku akan pergi denganmu.”

Malam itu, Li Sui kecil naik ke mobil pria itu, dia melihat orang-orang memindahkan ibunya ke rumah sakit dengan kedua matanya sendiri saat tangannya mengepal.

“Apakah kita sudah bisa pergi?”

“…… Hmn.”

Mobil itu melaju, berguncang ke samping saat bergerak di jalan, mengeluarkan suara knalpot yang tajam. Li Sui kecil cemas dan enggan, dia menoleh ke belakang lagi dan lagi, tapi mobil itu tidak berhenti. Dia melihat tanah kelahirannya perlahan-lahan menghilang dari pandangannya.

Setelah berhari-hari melakukan perjalanan, pria itu mengantarnya sampai ke rumah sakit kota. Setelah keluar dari mobil, seorang dokter melakukan pemeriksaan tubuh secara mendetail terhadapnya, dia mengatur agar Li Sui tinggal di rumah sakit selama beberapa hari.

Suatu hari, Li Sui kecil terbangun dari tidur siangnya, dia mendengar orang-orang berbicara di luar. Li Sui kecil mendengarkan percakapan mereka dengan seksama, samar-samar dia bisa mendengar sesuatu seperti “dia adalah pasangan yang cocok” dan “dia masih terlalu muda, jadi kami sarankan untuk membesarkannya di fasilitas yang baik terlebih dahulu”.

Li Sui kecil merasa mereka membicarakannya, seperti yang dia duga, keesokan harinya, sekelompok orang datang ke rumah sakit. Mereka menyelesaikan surat-surat untuk pemulangannya dan mengirimnya ke panti asuhan.

Ada banyak anak-anak di panti asuhan, kebanyakan dari mereka tuli atau bisu. Pada awalnya, Li Sui kecil mencoba berbicara dengan mereka, tapi perlahan-lahan, dia menyadari bahwa mereka tidak tahu apa yang dia bicarakan, seolah-olah dia terisolasi.

Dari keanehan di awal hingga benar-benar terbiasa. Mungkin karena dia kurang mendapatkan kasih sayang saat kecil, sekarang setelah dia bersama dengan anak-anak tuna rungu dan tuna wicara ini, dia merasa hidup menjadi lebih sederhana. Kecuali tidak bisa keluar rumah dengan bebas, kehidupan sehari-harinya cukup baik, pada dasarnya dia bisa mendapatkan apa pun yang dia minta, makanan dan pakaiannya semua disiapkan.

Setengah tahun telah berlalu, Li Sui kecil belajar banyak hal di panti asuhan, dia juga jauh lebih sehat dari sebelumnya. Meski begitu, Li Sui kecil masih belum pernah melihat “bos” yang dibicarakan oleh pria dengan bekas luka itu, tidak ada seorang pun yang datang untuk mengambil jantungnya. Dia ditinggalkan begitu saja di panti asuhan, seolah-olah dia telah dilupakan sepenuhnya.

Namun, hari-hari yang damai itu akhirnya berakhir pada suatu malam hujan dengan petir yang menyelimuti langit.

Malam itu, Li Sui kecil hendak tidur. Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka dan muncullah sebuah bayangan hitam. Bayangan itu meraihnya dan menutup mulutnya, lalu menariknya keluar dari kamar dan berlari bersamanya.

Li Sui kecil ketakutan, dia hendak meronta, lalu hidungnya mulai mencium bau yang tidak asing lagi dari orang itu, dia membeku, “Ibu?”

“Ibu? Apakah itu kamu, ibu?” Dia bertanya sambil berlari bersama orang itu.

Orang yang menarik Li Sui tidak menjawab, orang itu terus menariknya keluar menuju hujan. Li Sui kecil secara naluriah mempercayai orang itu, dia mengikuti di belakang bayangan itu. Mereka berlari menuju pintu keluar di bawah gemuruh guntur dan kilat yang terang. Ruang keamanan yang biasanya penuh sesak kini kosong, mereka berjalan keluar pintu dengan lancar tanpa hambatan. Ketika mereka sampai di sisi sungai, orang di depan berbalik untuk menampar wajah Li Sui kecil, dia berteriak, “Kamu lari ke suatu tempat selama setengah tahun dan kamu masih berani memanggilku ibu?”

Li Sui kecil ditampar dengan keras dan tertegun, air hujan membasahi rambutnya, dia merasakan sensasi terbakar di wajahnya. Dia bahkan lupa untuk menangis, ketika dia menatap ibunya, dia hanya merasa bersalah.

Di atas kepala mereka, ada kilat dan guntur. Ibu Li Sui terengah-engah, ia terengah-engah, lalu menangis. Ia memeluk Li Sui dengan erat dan berkata, “Aku mencarimu selama setengah tahun ….”

Isak tangis terdengar di telinga Li Sui, dia terkejut, dia mengira ibunya tidak akan pernah mencarinya. Bagaimanapun, selama bertahun-tahun mereka hidup bersama, dia selalu menunjukkan kebencian padanya.

Setelah mereka berdua merapikan emosi mereka, seorang pria berwajah bulat muncul di samping sungai bersama mereka, dia memegang sesuatu. Sesuatu itu dibungkus dengan selembar kain, dari bentuknya, terlihat seperti senjata.

Ibu Li Sui menyadari ada sesuatu yang tidak beres, “Apa yang kamu lakukan? Bukankah kamu bilang kamu akan membantuku menemukan anakku?”

Pria itu tertawa menyeramkan, dia berkata, “Ya, aku membantumu menemukan putramu, tanpa kamu, bagaimana mungkin dia bisa keluar dari panti asuhan, bagaimana mungkin dia bisa lolos dari perlindungan keluarga Lu, dan bagaimana mungkin dia bisa jatuh ke tanganku.”

“Apa yang akan kamu lakukan, kamu–“

Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, pria itu membuka bungkus benda di tangannya. Sebuah petir menyambar, menyinari benda di tangannya, itu adalah sebuah pistol.

“Wanita bodoh, aku bilang aku akan membantumu dan kamu benar-benar mempercayaiku.” Pria berwajah bulat itu menarik pengamannya, lalu mengarahkan pistolnya ke Li Sui, “Nak, maaf. Bukannya aku ingin membunuhmu, tapi jantungmu adalah ancaman bagi kami. Aku kira kami harus melampiaskan kebencian kami terhadap keluarga Lu kepadamu.”

Setelah selesai, pria itu akan menarik pelatuknya. Mata ibu Li Sui membelalak, tiba-tiba dia dipenuhi dengan kekuatan dan dia menghampiri pria itu, mendorongnya menjauh dan berkelahi dengannya. Dia berkata sambil mendorong pria itu, “Cepat, lari. Ada perahu kayu, lari!”

Otak Li Sui kecil kacau, kepala kecilnya tidak bisa memproses begitu banyak informasi sekaligus. Dia hanya bisa mengikuti instruksi ibunya, dia berlari ke arah sungai seolah-olah nyawanya bergantung padanya.

Li Sui baru saja sampai di sungai dan melepaskan tali yang mengikat perahu kayu ke pantai, saat itulah dia mendengar suara tembakan yang tajam. Li Sui kecil menoleh perlahan-lahan untuk melihat ibunya jatuh ke tanah, dia bergeming lagi, darah menetes dari tubuhnya, lalu tersapu oleh air hujan.

Melihat itu, Li Sui kecil bahkan tidak tahu bagaimana cara menutup kelopak matanya lagi. Dia sepertinya sudah lupa bagaimana caranya merasa sedih, anggota tubuhnya kaku saat dia naik ke atas perahu kayu, dia mendorong dirinya sendiri ke sungai dengan kakinya. Hujan turun dengan lebatnya, sehingga permukaan air sungai menjadi tinggi. Setelah tali terlepas, perahu itu segera mengalir keluar.

Pria berwajah bulat itu berlari ke sungai dengan ekspresi menakutkan, dia berdiri di tepi sungai, mengarahkan pistolnya ke kepala Li Sui dan hendak menembak. Saat itu, sebuah mobil melaju ke dekat sungai dengan kecepatan tinggi, seorang pria bersenjata keluar dari mobil. Dia menembak kaki pria berwajah bulat itu hampir bersamaan ketika dia melepaskan tembakan ke Li Sui.

Pria berwajah bulat itu bergetar, dia kehilangan bidikannya dan peluru nyasar mengenai Li Sui. Li Sui tertembak di bagian pinggangnya, seluruh tubuhnya bergetar, kemudian dia jatuh tertelungkup ke atas perahu.

Hujan masih turun, tanpa ampun menghantam kepala Li Sui. Perahu melayang melintasi sungai, Li Sui bisa mendengar keributan di tepi sungai. Li Sui kecil membuka mulutnya, dia menggunakan semua kekuatan yang tersisa untuk menolehkan wajahnya. Sebelum kesadarannya memudar, Li Sui melihat ke tepi sungai untuk terakhir kalinya, di dalam mobil terdepan, dia melihat sebuah wajah, wajah yang muda dan sangat familiar – wajah itu tidak diragukan lagi adalah milik Lu Shang, yang masih berusia belasan tahun.

Tersentak oleh pemandangan itu, Li Sui terkejut, dia tiba-tiba terbangun dari mimpinya dan matanya terbelalak.

Suara di telinganya menjadi lebih jelas, Li Sui terengah-engah dan dia berkeringat. Dia mendengar Dokter Leung menanyakan sesuatu kepadanya, dia juga menepuk-nepuk dahinya.

Li Sui mengangkat tangannya ke wajahnya sendiri, hanya untuk menemukan wajahnya berlumuran air mata. Dia tidak punya waktu luang untuk berurusan dengan itu, dia meraih jas lab putih Leung ZiRui dan bertanya dengan suara gemetar, “Dia tahu, bukan? Lu Shang, dia… tahu selama ini siapa aku, bukan?”


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

Leave a Reply