Penerjemah: Keiyuki
Proofreader: Rusma


Musuh


Di antara semua kios kain di Kota Tonggu, yang paling terkenal adalah He Ji.

Pendapat ini tidak hanya diyakini oleh masyarakat setempat, tetapi juga oleh pemilik kios, Nyonya Fang.

Usianya belum sampai tiga puluh tahun, tetapi ia sudah menjadi janda lebih dari sepuluh tahun. Dahulu, setelah menikah dengan suaminya kurang dari dua tahun, sang suami meninggal mendadak karena sakit. Saat itu, Nyonya Fang sedang mengandung anak. Karena merasa bersalah, kedua mertuanya memberikan modal agar ia bisa membuka kios kain ini.

Seiring berjalannya waktu, kedua mertuanya meninggal satu per satu, dan warisan keluarga jatuh ke tangan adik iparnya. Sayangnya, sang adik ipar tidak memiliki kemampuan mengelola bisnis. Dalam beberapa tahun, ia menghabiskan seluruh harta keluarga. Sebaliknya, kios kain Nyonya Fang berkembang pesat, hingga cabangnya menyebar ke Kota Liangquan di Provinsi Feng.

Namun, Nyonya Fang tetap mencintai kampung halamannya. Meski memiliki properti di Liangquan, ia memilih tinggal di Tonggu.

Pagi itu, setelah bangun lebih awal, Nyonya Fang mengunjungi salah satu kiosnya untuk memeriksanya. Mendengar pemilik kios datang, pengelola kios segera menyambutnya dengan hormat.

Saat itu, seseorang datang dari luar.

“Maaf, Tuan. Pemilik kios sedang memeriksa pembukuan, jadi untuk sementara…” pelayan kios berjalan menghampiri sambil tersenyum ramah.

Namun, ucapannya terhenti di tengah jalan. Ia terdiam, terpesona oleh aura dan penampilan orang yang baru datang itu, hingga tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Yan Wushi mengangkat alisnya. “Kios ini tidak menerima pelanggan lagi?”

Nyonya Fang segera menyingkirkan pelayannya dan melangkah maju dengan senyum manis. “Kios ini selalu terbuka untuk pelanggan. Pelayanku tadi memang kurang sopan, izinkan aku meminta maaf. Jika boleh tahu, Tuan ingin membeli kain jenis apa? Kami juga menyediakan pakaian jadi dengan berbagai model. Namun, jika Tuan memilih kain untuk dijahit, setidaknya butuh waktu dua hari.”

Sebagai pedagang berpengalaman selama lebih dari sepuluh tahun, Nyonya Fang yakin dirinya jauh lebih berwawasan dibandingkan wanita biasa. Namun, begitu melihat pria di hadapannya, ia menyadari bahwa selama ini dirinya ibarat katak dalam tempurung.

Penampilan dan aura pria ini sangat luar biasa, bahkan pejabat setempat maupun kepala wilayah di tingkat provinsi sekalipun tidak akan bisa menandingi pesonanya.

Sebagai pedagang, menolak pelanggan yang datang adalah hal yang mustahil, terlebih pelanggan setampan ini. Siapa wanita yang tidak akan dibuat berdebar oleh pria seperti itu?

Senyum Nyonya Fang pun menjadi semakin tulus.

Awalnya, Yan Wushi hanya berniat membeli beberapa pakaian baru. Namun, mendengar penjelasan itu, ia tiba-tiba mendapat ide lain. “Jadi, kalian juga menjual pakaian wanita di sini?”

“Tentu saja, Tuan!” jawab Nyonya Fang dengan senyum yang tak berubah, meski di dalam hatinya sedikit kecewa.

Seorang pria tampan seperti ini, dengan aura angkuh dan liar, jelas bukan seseorang yang dapat ditaklukkan oleh wanita lemah lembut. Siapa sangka dia akan membeli pakaian untuk seorang wanita?

Setengah bulan yang lalu, mereka meninggalkan gua di pegunungan dan menuruni lereng, lalu terus bergerak ke selatan. Hingga kemarin, mereka akhirnya tiba di Kota Tonggu, Provinsi Feng, yang tidak jauh dari Hanzhong, dan memutuskan untuk bermalam di sana.

Shen Qiao memiliki kepribadian yang tenang dan pendiam. Baginya, menghabiskan waktu di penginapan untuk berlatih adalah hal biasa yang tidak membosankan. Sebaliknya, Yan Wushi lebih suka keluar sendirian.

Demi keamanan, seharusnya mereka menjaga jarak dari orang banyak dan tetap bersembunyi hingga tiba di Chang’an. Tetapi hal itu jelas bukan gaya Yan Wushi. Bahkan untuk makan atau mencari tempat tinggal, mereka harus masuk ke penginapan, dan ketakutan akan bahaya yang mungkin terjadi bukanlah cara Yan Wushi menjalani hidupnya.

Awalnya, Yan Wushi hanya ingin membeli dua pakaian untuk mengganti pakaiannya. Namun, setelah mendengar pertanyaan Nyonya Fang, ia berubah pikiran.

Fang Niang lalu bertanya, “Bolehkah aku tahu, Tuan membeli pakaian ini untuk kekasih hati, saudara perempuan di rumah, atau orang tua?”

Yan Wushi menjawab datar, “Apa bedanya?”

Nyonya Fang terkekeh. “Tuan jelas belum pernah membeli pakaian untuk wanita sebelumnya. Soal ini, tentu ada ilmunya. Jika untuk orang tua, warna pakaian sebaiknya tidak terlalu mencolok, pilih yang lebih tenang. Pola bordirnya pun harus sederhana, tidak mengikuti gaya masa kini. Tapi jika untuk adik perempuan, bisa memilih warna seperti merah muda pucat atau hijau muda, dengan pola bunga mawar atau kupu-kupu. Namun, jika untuk yang lebih tua, pola seperti itu akan terkesan kurang sopan.”

Yan Wushi bertanya, “Lalu, bagaimana jika untuk kekasihku?”

Nyonya Fang menekan rasa kecewanya dan menjawab, “Kalau untuk kekasih, tentu harus memilih warna dan pola yang disukai oleh yang bersangkutan. Boleh tahu, apa warna favorit kekasih Tuan?”

Yan Wushi berpikir sejenak. “Mungkin biru langit.”

Nyonya Fang berkata, “Biru langit sulit terlihat bagus saat dipakai, kecuali kulit pemakainya sangat cerah.”

Yan Wushi tersenyum tipis. “Kulitnya memang cukup putih.”

Fang Niang mengangguk. “Tuan ingin membeli pakaian jadi atau kain untuk dijahit? Jika pakaian jadi, kami punya berbagai ukuran. Boleh tahu, setinggi apa kekasih Tuan?”

Yan Wushi murni hanya ingin membalas dendam pada Shen Qiao, membuatnya merasakan bagaimana rasanya mengenakan pakaian wanita. Namun, mendengar penjelasan Nyonya Fang, ia justru jadi lebih tertarik.

“Tingginya sedikit lebih rendah dariku, sekitar setengah kepala, dan tubuhnya lebih ramping.”

Fang Niang terkejut. “Hanya lebih rendah setengah kepala darimu? Itu berarti termasuk sangat tinggi untuk seorang wanita. Izinkan aku meminta seseorang memeriksa apakah kami memiliki ukuran yang cocok. Tidakkah kamu ingin memilih pola khusus pada pakaian itu?”

Yan Wushi mengangkat alisnya, memandangnya dari atas ke bawah. “Tentang polanya, menurutku pakaian yang kamu kenakan sekarang cukup bagus.”

Nyonya Fang yang dipandangi seperti itu merasa jantungnya berdegup kencang. Tatapannya berkilau penuh godaan, dan ia menggigit bibir sambil tersenyum. “Benarkah Tuan menyukai pakaian ini?”

Keduanya berdiri sangat dekat, hampir bersentuhan.

Pengelola kios dan para pegawai yang sudah terbiasa dengan sikap genit sang pemilik wanita segera menutup pintu kios dan menghindar ke sudut ruangan.

Yan Wushi tersenyum tipis, mengangkat dagu Nyonya Fang dengan jari, menunduk untuk menatapnya lebih dekat, seolah-olah hendak menciumnya.

Nyonya Fang merasa sesuatu akan terjadi. Pipinya memerah, tubuhnya melemas, dan bahkan napasnya terasa semakin panas.

Yan Wushi berkata, “Sayangnya pakaianmu bagus, tapi wajahnya kurang menarik, jadi sia-sia saja.”

Nyonya Fang tertegun, seolah belum sepenuhnya memproses ucapan itu. Baru setelah Yan Wushi mundur beberapa langkah, ia seperti tersadar dari mimpi. Wajahnya berganti warna, sebentar hijau, sebentar putih, gigi bergemeletuk karena menahan amarah. “Kios kami tutup untuk hari ini. Tuan, silakan pergi!”

Apa yang lebih menyakitkan bagi seorang wanita selain disebut tidak cantik? Sebenarnya ia ingin mengusirnya dengan kata “pergi”, tetapi sebagai pedagang, ia tahu pentingnya menjaga sikap ramah. Namun, dada yang berdebar di balik pakaian bordir menunjukkan betapa marahnya ia.

Yan Wushi tersenyum kecil. “Kamu tidak berhasil menggoda seseorang, tapi kamu malah marah sendiri karena malu?”

Dia mengeluarkan kantong uang yang berat dan meletakkannya di meja. “Membuka kios tapi mudah tersinggung seperti ini, itu tidak baik. Jika kamu sering mengerutkan dahi, bukankah akan lebih cepat menua, apakah kamu tidak rugi?”

Nyonya Fang yang semakin marah, membalas, “Lidahmu sungguh tajam! Aku kasihan pada kekasihmu, pasti sangat sial sampai harus disukai oleh orang seperti dirimu!”

Selesai berkata, ia meraih kantong uang di meja, bermaksud melemparkannya ke arah Yan Wushi. Namun, saat mengangkat kantong itu, wajahnya tiba-tiba berubah.

Namun, dia melihat meja kayu merah di bawah kantong uang itu ternyata sedikit cekung, membentuk jejak sesuai dengan bentuk kantong tersebut.

Meja itu terbuat dari kayu, bukan lumpur. Bahkan jika batu besar diletakkan di atasnya, belum tentu akan membuat meja tertekan seperti itu. Barulah Nyonya Fang sadar bahwa dia sedang berhadapan dengan seorang ahli. Ekspresi wajahnya berubah, akhirnya ia memaksakan sebuah senyum. “Tuan, harap berbesar hati dan jangan mempermasalahkan hal sepele dengan wanita seperti saya. Anda ingin pakaian berwarna biru langit, bukan? Saya akan segera menyuruh seseorang mencarikannya!”

Meski berkata demikian, hatinya dipenuhi dengan kebencian. Ia terus mengutuk agar kekasih pria ini segera berpaling dan meninggalkannya.

Yan Wushi tidak peduli apa yang ada di pikiran Nyonya Fang. Bahkan jika dia tahu, itu tak akan mengusiknya. Setelah menyelesaikan pembelian, ia memerintahkan agar pakaian itu dikirim ke penginapan. Sementara itu, ia pergi meninggalkan kios dengan tangan kosong, meninggalkan Nyonya Fang yang hanya bisa menggertakkan gigi karena kesal.

Jalanan di kota kecil itu tidak seramai ibu kota provinsi, tetapi masih cukup ramai dengan orang yang lalu-lalang. Setelah berjalan puluhan langkah, Yan Wushi tiba-tiba berhenti.

Ia tersenyum ringan. “Siapa yang memelihara tikus yang begitu penakut sehingga tidak berani menunjukkan wajahnya?”

Suara itu terdengar pelan dan lembut, namun seolah meledak di telinga semua orang yang lewat di sekitarnya.

Orang-orang biasa yang tidak mengerti apa pun segera menjauh dengan rasa terkejut, takut tertimpa masalah jika tetap berada di dekat situ.

Yan Wushi berdiri dengan tangan di belakang punggung, menatap burung yang terbang melintasi langit dengan santai, tanpa sedikit pun bergerak.

“Belakangan ini terdengar kabar bahwa Master Sekte Yan tewas di tangan lima ahli besar. Guru kami bahkan sempat merasa kasian selama beberapa waktu. Tak disangka, Master Sekte Yan memang bukan orang biasa. Dapat selamat dari situasi seperti itu sungguh menggagumkan!”

Suara tawa lembut terdengar merdu, seolah datang dari kejauhan, namun sulit menentukan dari mana asalnya. Namun, pada saat kata “menggagumkan” selesai diucapkan, seorang perempuan berbusana merah menyala tiba-tiba muncul di atas atap di sisi kanan Yan Wushi.

Yan Wushi tetap tidak memandangnya, hanya berkata dengan nada datar, “Kamu sudah sampai di sini, kenapa masih bersembunyi? Apakah kemampuan orang-orang Sekte Harmoni hanya sebatas ini? Tidak mengherankan kalian dulu berpihak pada Qi. Sekarang Qi sudah hancur, kalian jadi seperti anjing kehilangan rumah. Kali ini kalian ingin menjadi budak siapa lagi?”

Perempuan itu tersenyum dingin. “Ucapan Master Sekte Yan benar-benar lucu. Orang yang tidak tahu mungkin mengira Sekte Bulan Jernih itu begitu mulia. Pada akhirnya, kalian juga hanya menjadi budak Yuwen Yong, ‘kan? Sayang sekali, Yuwen Yong tidak akan hidup lama. Begitu dia tiada, murid-murid dan bawahanmu yang kehilangan perlindungan pasti akan lebih menyedihkan daripada anjing liar!”

Bersamaan dengan suara tawa dingin, seseorang lagi muncul di depan Yan Wushi.

Jika Shen Qiao ada di sini, dia pasti akan langsung mengenali orang itu.

“Jika mereka memang tidak punya kemampuan sedikit pun dan harus selalu mengandalkan perlindungan dariku, bukankah lebih baik meraka mati saja, itu jauh lebih menghemat tenaga!” Yan Wushi memandang Xiao Se dengan ekspresi meremehkan sambil menggeleng pelan. “Sebaliknya, kamu… Aku benar-benar kasihan pada Yuan Xiuxiu. Dia malah menerima pengkhianat sepertimu sebagai murid, dan akhirnya kamu malah berkeliaran dengan orang-orang Sang Jingxing. Tapi sayangnya, selera Sang Jingxing pun tidak terlalu bagus. Mantan muridnya, Huo Xijing, meski tindakannya ceroboh, setidaknya masih bisa diandalkan dalam urusan seni bela diri. Sedangkan kamu? Otakmu tidak berguna, dan bahkan kemampuanmu seperti lumpur yang tidak bisa dipoles. Tampaknya Sekte Harmoni memang semakin merosot dari generasi ke generasi.”

Xiao Se tertawa dingin karena marah. “Master Sekte Yan memang pandai berbicara, tapi nanti jangan sampai malah memohon meminta belas kasihan!”

Keahlian Xiao Se dan Bai Rong termasuk kelas satu di dunia seni bela diri. Jika mereka bekerja sama, mengalahkan Yan Wushi yang sedang dalam kondisi lemah saat ini mungkin akan cukup sulit.

Namun, perhatian Yan Wushi sama sekali tidak tertuju pada mereka berdua. Sebaliknya, dia mengarahkan pandangannya pada seseorang yang perlahan berjalan mendekat dari belakangnya.

“Berapa lama kalian menunggu di sini, hanya demi menunggu diriku?”

Bai Rong berkata dengan suara lembut: “Aku mendengar bahwa Master Zen Xueting pernah bertemu dengan Master Sekte Yan di Kota Provinsi Wei, dan sejak saat itu tidak ada jejak Master Sekte Yan. Penatua Yan mengatakan bahwa Master Sekte Yan pasti akan pergi ke Chang’an, namun untuk menghindari musuh, dia pasti tidak akan mengambil jalan tercepat. Karena itu, kami sengaja memutar jalan dan menunggu di Provinsi Feng, ternyata memang seperti yang Penatua Yan prediksi.”

“Tapi Master Sekte Yan tidak perlu menyesal, karena meskipun kamu berputar ke tempat lain, itu tidak akan berguna. Di Hanzhong ada orang-orang dari Asosiasi Enam Harmoni, di Provinsi Yang ada orang-orang Tujue. Jaring-jaring yang terjalin begitu rapat, tidak ada tempat untuk melarikan diri. Semua ini karena kamu telah membuat banyak musuh. Langit ingin menghancurkanmu, bahkan jika dewa datang sekalipun, itu tidak akan ada gunanya.”

Orang yang berbicara adalah Yan Shou, yang melangkah dengan lambat dan mantap, namun pandangannya tidak pernah terlepas dari Yan Wushi, seperti predator yang siap menyerang kapan saja dengan cakarnya yang tajam.

Yan Wushi tertawa terbahak-bahak: “Dewa? Aku tidak pernah percaya pada dewa!”

Begitu suaranya bergema, tubuhnya bergerak!


Penulis ingin mengatakan sesuatu:

Hari ini adalah hari spesial untuk Lao Yan, dia benar-benar luar biasa!

Xiao Se: “Aku akan mengalahkanmu atas nama sekte iblis!”

Shen Qiao (di penginapan): “Aku tiba-tiba merasa ada firasat buruk, apakah pria bernama Yan Wushi itu kembali membawa masalah?”


KONTRIBUTOR

Rusma

Meowzai

Keiyuki17

tunamayoo

Leave a Reply