English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Editor: _yunda


Buku 2, Chapter 16 Part 1

Penghubung Xiliang yang datang untuk menjemput pengantin wanita telah tiba lebih awal dari yang diperkirakan oleh Bian Lingbai. Hari ini panas, sangat lembab sehingga semua orang berkeringat, dan tujuh orang yang datang telah masuk ke dalam ruangan, lima orang berdiri, dan dua orang lainnya duduk; apa yang mereka tanyakan tidak lebih dari di mana Nona Muda Yao tinggal, dan kapan pengantin pria dapat melihatnya.

Bian Lingbai berkata, “Menurut adat Han kami, pasangan pengantin tidak dapat bertemu satu sama lain sampai pengantin wanita dibawa kembali ke rumah pengantin pria.”

Pria jangkung yang mengepalai kelompok itu adalah pemuda biasa, putra dari Petugas Penunggang Kuda Xiliang. Dia berkata pada Bian Lingbai, “Saya tidak akan pergi menemuinya, tetapi tidak dapatkah Anda membiarkan salah satu bawahanku untuk bertemu dengannya sekali saja? Yang ini di sini adalah pelayan pribadiku. Kami sudah berteman sejak kami masih kecil.”

Saat dia berbicara, dia memperkenalkan pemuda lain yang duduk bersamanya pada Bian Lingbai. Pemuda ini mengenakan pakaian militer, pakaiannya cukup polos dan tanpa hiasan, dia berpakaian seperti pengawal biasa, tapi ada sikap yang rendah hati dan terkendali didalamnya.

Bian Lingbai melihat pemuda itu dari atas ke bawah. Dia tahu bahwa orang-orang Xia Barat1 tidak memiliki kebiasaan yang sama dengan Han, jadi tidak masalah membiarkan mereka mengintip Yao Jing dari kejauhan. Oleh karena itu setelah ragu sejenak, pada akhirnya dia mengangguk untuk menyetujui permintaan mereka.

Shang Leguan berbicara secara singkat pada pemuda itu, dan yang dilakukan pria muda itu hanyalah mengangguk dan mengumamkan sesuatu yang mengiyakan untuk menunjukkan bahwa dia mendengarnya. Penjaga lain di ruangan itu juga melirik pemuda itu dari waktu ke waktu seolah-olah dia yang bertanggung jawab.

Bian Lingbai juga merasa ini agak aneh, tapi dia tidak menyuarakan kecurigaannya dengan keras. “Yah, kalian semua telah melakukan perjalanan jauh untuk sampai ke sini dan sudah cukup larut untuk itu hari ini. Mengapa tidak beristirahat di kamarmu di kediaman ini untuk sementara waktu dan aku akan menyiapkan semuanya untukmu besok, Tuan Shang?”

Shang Leguan melirik pemuda itu lagi, dan dia memberinya anggukan kecil. Kali ini, Bian Lingbai dapat mengatakan bahwa dia tampaknya memiliki status yang lebih tinggi daripada Shang Leguan.

“Saya… saya ingin bertanya pada Anda, tentang… sesuatu.” Pemuda itu mulai berbicara.

Bian Lingbai tidak pernah membayangkan bahwa pemuda ini gagap, dan karena itu dia mencoba yang terbaik untuk terlihat seperti dia tidak menganggap ini aneh sama sekali, dia berkata, “Silakan, Tuan.”

“Namanya He Mo.” Shang Leguan berkata pada Bian Lingbai. “Kata-katanya memiliki bobot yang sama dengan kata-kataku. Itu seperti ini: karavan pedagang dari seluruh penjuru datang melalui Tongguan, jadi ini pasti tempat pengumpulan informasi yang cukup, dan Anda harus memiliki anggota intelijenmu sendiri, Jenderal Bian. Di dataran tengah, atau bahkan sampai ke Xichuan, jaring yang Anda buat harus lebih lebar dari jaring kami.”

Bian Lingbai mengangguk, menyadari bahwa pemuda itu tampak sedikit gelisah; bibirnya bergetar. Yang lain terdiam kemudian, menunggu dia untuk berbicara terlebih dulu, tidak satu pun dari mereka yang berani memotongnya, yang membuatnya berpikir bahwa pemuda itu pasti seseorang yang cukup penting di Xiliang.

“Saya ingin Anda membantu saya… mengumpulkan informasi, dan di dalam… perbatasan Anda, temukan… seseorang.” Pria muda bernama He Mo mengangkat jari untuk menekankan “temukan seseorang”, dan memberi isyarat dengan telapak tangannya untuk mencakup semua orang di ruangan itu, lalu dia berkata pada Bian Lingbai, “Beri tahu mereka semua untuk mundur.”

Shang Leguan tetap berada di ruangan. Dan tanpa mengetahui alasannya, Bian Lingbai mengirim semua pelayan dan penjaga ke luar, dan Shang Leguan menutup pintu aula utama. Bian Lingbai memiliki perasaan yang samar bahwa masalah ini jauh lebih dari apa yang terlihat.

“Tidak ada salahnya mengutarakan pikiranmu,” kata Bian Lingbai segera.

“Anda harus merahasiakan… merahasiakannya.” Pemuda itu menasihatinya sekali lagi.

“Tentu saja.”

“Dia adalah Han… sepertimu… dipanggil ‘Duan Ling’, pernahkah Anda… mendengar tentang dirinya?” Pemuda itu menatap mata Bian Lingbai dengan serius.

“Duan Ling?” Bian Lingbai memeras otaknya sebentar dan menjawab, “Tidak, aku belum pernah mendengarnya. Mengapa kamu mencari orang ini, Tuan He?”

“Sekali… Anda menemukannya… akan ada tiga ratus yi emas sebagai ucapan terima kasih. Saya… akan memberikan seratus yi emas.”

Bian Lingbai terdiam.

“Dan orang lain, juga… akan diberikan seratus yi emas.”

Bian Lingbai tetap diam.

He Mo melirik Shang Leguan. Shang Leguan mengangguk padanya dan He Mo melanjutkan, “Dan orang lain, akan diberikan… seratus… seratus yi emas. Total tiga ratus yi emas.”

Konsep macam apa itu seratus yi emas? Satu yi sama dengan dua puluh empat tael, seratus yi sama dengan dua ribu empat ratus tael emas, tiga ratus yi sama dengan tujuh ribu dua ratus – itu adalah empat ratus lima puluh kati emas kuning yang mengkilap.

Sejak jatuhnya Shangzi, upeti yang dikirim Chen ke Liao setiap tahun bernilai sekitar delapan ribu tael emas. Artinya, dalam satu lemparan, He Mo akan membuang satu tahun penuh upeti dari Chen yang Agung. Seketika Bian Lingbai merasa seolah-olah dia dipukul cukup parah di kepalanya dan dia berdarah sekaligus. bingung.

“Tiga ratus yi emas untuk membeli kepala orang ini.” Bian Lingbai mengerti.

“Membeli kepala siapa?!” He Mo menggeram mendengar kata-katanya dan mendobrak meja. Cangkir dan piring bergidik dan teh memercik ke mana-mana. Shang Leguan segera meminta He Mo untuk tenang.

Bian Lingbai segera berkata, “Tentu saja! Kamu ingin dia hidup! Aku salah paham!”

Kemarahan pemuda itu padam pada saat itu. Semburan kemarahan sebelumnya entah bagaimana menunjukkan kekuatan seekor singa muda. Bian Lingbai tiba-tiba memiliki gagasan yang kabur tentang siapa pemuda ini sekarang.

“Apakah kamu memiliki potret dirinya?”

“Saya… akan menggambarkan untuk Anda… satu.”

Untuk tiga ratus yi emas, bahkan jika Bian Lingbai harus menggali tiga kaki di bawah tanah dan membalik setiap inci tanah di Chen yang Agung, dia harus menemukan orang ini! Maka dengan kedua belah pihak mencapai pemahaman, He Mo setuju untuk menyiapkan potret, dan untuk saat ini mereka beristirahat.


Duan Ling dan Wu Du pergi membeli bahan obat, dan mereka kembali tepat pada waktunya untuk melihat sekelompok Tangut membawa peti barang di dalamnya. Mereka berhenti untuk melihatnya sebentar.

“Sangat sulit untuk mendapatkan seorang istri akhir-akhir ini.” Wu Du tampaknya terinspirasi. “Kau perlu mengirim peti dan kotak hadiah. Orang miskin sepertiku tentu saja tidak akan pernah mampu untuk menikah.”

“Orang Tangut itu kaya. Mereka bisa hidup seumur hidup hanya dengan menjual kuda. Ketika saatnya tiba bagimu untuk menikah, aku bisa menjadi orang yang menyimpan harga pengantin untukmu.” Saat dia mengatakan ini, Duan Ling terus menatap Wu Du, dia merasa kurang lebih cemburu. Dia mengucapkan kata-kata ini, tentu saja, tapi dia merasa agak enggan untuk berpisah dengannya; rasanya seolah-olah orang lain akan mempertaruhkan kepemilikan atas sesuatu yang menjadi miliknya.

Wu Du mencemooh hal itu, dan mereka saling bercanda lagi sebelum dia pergi untuk menyiapkan bahan obat dengan Duan Ling untuk Fei Hongde. Duan Ling duduk di luar pintu dengan lesung dan alu, mendengarkan percakapan antara Wu Du dan Fei Hongde yang terjadi di dalam.

“Kita hampir tidak mengenal satu sama lain. Aku benar-benar tidak bisa cukup berterima kasih pada kalian berdua karena telah menjagaku.”

“Orang-orang melayang dan mengembara seperti rumput bebek, layu dan jatuh semudah daun di musim gugur. Masterku selalu mengatakan bahwa kita tidak perlu saling mengenal dengan baik atau memiliki alasan untuk saling menjaga satu sama lain.”

Keduanya terdiam beberapa saat sebelum Wu Du tiba-tiba berbicara lagi. “Apa kamu mengetahui identitas si pembunuh, Master Fei?”

Fei Hongde tidak menjawab. Ketika Duan Ling mendengar ini, dia tidak bisa tidak melirik Fei Hongde, dan Fei Hongde secara kebetulan juga menatapnya.

Setelah mereka kembali dari serangan itu, Bian Lingbai memang mengirim beberapa orang untuk mencoba mencari tahu asal usul si pembunuh serta keberadaannya, tapi Fei Hongde tidak mengungkit insiden itu sama sekali. Duan Ling telah bertanya-tanya tentang hal itu untuk sementara waktu, tapi kata-kata Wu Du akhirnya membuat pikirannya bekerja. Untuk seseorang seperti Fei Hongde yang tidak berani menebak sama sekali – mungkinkah itu adalah dendam pribadi?

“Apakah si pembunuh adalah Tangut?” Duan Ling bertanya.

Duan Ling, bersama dengan Wu Du, telah melihat panah yang mengenai Fei Hongde begitu mereka kembali ke kediaman – itu adalah jenis panah kecil dari besi babi yang dipasang oleh bandit melalui Xiyu ke Xiliang, dengan tujuan untuk mengeluarkan darah, jadi mungkin itu adalah pembunuh yang dikirim dari Xiliang. Mungkin Xiliang telah mengirim seseorang untuk membunuh penasihat dekat Bian Lingbai, atau mungkin mereka mencoba memberinya peringatan; apa pun itu segalanya cukup memungkinkan.

Tapi jika itu benar-benar seorang pembunuh dengan rencana yang cermat yang berharap untuk berhasil pada percobaan pertama, tentu saja dia tidak akan sebodoh itu untuk menggunakan anak panahnya sendiri. Jika itu masalahnya maka siapa pun memungkinkan. Bahkan bisa jadi itu adalah Helan Jie…

“Dugaanku adalah bahwa dia adalah seorang pembunuh yang dikirim dari Xiliang,” kata Fei Hongde.

“Mungkinkah dia adalah rombongan yang datang untuk menjemput pengantin wanita?” Duan Ling bertanya.

Fei Hongde menggelengkan kepalanya. “Apakah kamu ingat bagaimana kamu disergap oleh bandit berkuda dalam perjalanan ke sini?”

Secara sekaligus, Duan Ling tampaknya dapat samar-samar menghubungkan peristiwa-peristiwa ini bersama.

“Jenderal Bian tidak lebih dari sebuah pion dalam masalah ini.” Fei Hongde menceritakan perlahan. “Adapun tujuan Nona Yao menikah jauh dari rumah… itu adalah transaksi yang telah lama diputuskan antara Xiliang dan keluarga Yao di Huaiyin.”

“Transaksi apa?” Duan Ling membawa bahan-bahan yang sudah dihaluskan, menutup pintu, dan menyerahkannya pada Wu Du. Wu Du mulai merebus rebusan.

“Berdagang. Urusan militer. Yang pertama, Yao Fu akan membutuhkan kuda perang, kedua, dia perlu menjaga Xichuan, dan ketiga — yang paling penting — Yao Fu ingin bersekutu dengan Xiliang untuk menentang klan Han Weiyong dari Administrasi Selatan Liao. Setelah pertempuran Shangjing tahun lalu, rute perdagangan Xiyu yang melewati Shazhou2 dan Jincheng di Xiliang telah disegel. Itu perlu dibuka kembali sebelum perdagangan sutra mereka dengan wilayah Jiangnan dapat dilanjutkan.”

“Apakah Kanselir Mu tidak mengetahui hal itu?” Duan Ling bertanya.

“Dia tahu.” Fei Hongde menatap Duan Ling dengan mengesankan, dan mengangguk. “Tapi Yao Fu tidak ingin melewati pengadilan kekaisaran, karena jika dia melakukannya maka akan ada banyak pembatasan tambahan setelah masalah itu diperiksa dan dibahas di pengadilan.”

“Benar. Begitu kita membentuk aliansi resmi dengan Xiliang, pemerintah pusat akan menemukan cara untuk mengambil alih jalur perdagangan ini.”

“Itulah kenapa,” kata Fei Hongde dengan lesu, “Yao Jing yang menikah jauh dari rumah hanyalah mata rantai pertama dalam rantai keluarga Yao ke Xiliang. Jika semuanya berjalan sesuai rencana, dia mungkin akan menikah dengan keluarga Shang yang memiliki hubungan dekat dengan ratu. Xiliang saat ini terbagi menjadi dua faksi, dengan ratu dari Tuyuhun dan kerabatnya dalam satu faksi. Setelah kematian Raja Xiliang,3 Selir Helian dan putranya menjadi bergantung pada ratu. Petugas Penunggang Kuda biasa dari keluarga Shang serta pendukung Biro Urusan Militer, yang memegang kekuasaan atas para prajurit, keduanya merupakan tulang punggung dari faksi ini; untuk faksi lainnya, itu adalah kakak dari mendiang Raja Xiliang, Helian Da dan para pejabat yang dipimpinnya. Faksi ini memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Administrasi Selatan Liao.”

Duan Ling mengangguk. “Lalu, apakah faksi-faksi ini mengetahui tentang aliansi pernikahan ini?”

“Bagaimana menurutmu? Aku menduga bahwa kelompok bandit ini menyerangnya dengan sengaja, dan tujuan mereka adalah untuk menggagalkan aliansi pernikahan antara Yao dan Shang. Atau yang lebih memungkinkan… Yao Jing sama sekali tidak dimaksudkan untuk menikah dengan keluarga Shang, tapi dengan keluarga kerajaan.”

Situasi akhirnya, berangsur-angsur jelas bagi Duan Ling. Jika itu masalahnya, maka ada kemungkinan bahwa faksi Liao Xiliang ingin memutuskan pertunangan ini. Namun ini sepertinya tidak ada hubungannya dengan serangan terhadap Fei Hongde.

“Bagaimana menurutmu?” Duan Ling bertanya pada Wu Du.

“Aku tidak mengerti,” tanpa berhenti untuk berpikir, Wu Du menjawabnya.

Fei Hongde tertawa. Wu Du menyeka tangannya dan melemparkan handuk ke samping. “Aku tidak mengerti semua hal yang terjadi di kepala literati sepertimu. Ambil ini dan oleskan pada luka Master Fei.”

“Master Wu adalah orang bebas, seperti burung camar yang sendirian di antara langit dan bumi,” kata Fei Hongde sambil tersenyum.

Satu tembaga akan membingungkan bahkan untuk seorang pahlawan, seperti yang mereka katakan. Aku tidak seperti dulu,” kata Wu Du dengan santai.

Duan Ling berpikir, Berapa umurmu? Kau membuatnya terdengar seperti kau telah hidup melalui berbagai dinasti atau semacamnya.

Duan Ling mengoleskan tuam untuk Fei Hongde, dan Fei Hongde melanjutkan, “Aku dulu cukup mengenal ibu dari Yao Jing, dan aku akan mengobrol dengannya, tapi hal ini harus terjadi tepat ketika aku kembali ke Tongguan. Jika kamu tidak sibuk, bisakah kamu mengunjunginya atas namaku?”

Duan Ling sedikit terkejut pada awalnya, kemudian setelah berpikir sejenak dia mengerti bahwa Fei Hongde menyiratkan lebih dari sekadar kunjungan sederhana. Yao Jing akan menikah dengan keluarga Shang; yang artinya, dia pasti membawa semacam permintaan dari Yao Fu. Mengenalnya dengan lebih baik akan menguntungkannya. Dia bahkan mungkin bisa mendapatkan beberapa informasi darinya.

Duan Ling melirik Wu Du. Wu Du berkata, “Jika kau ingin pergi, maka kita akan pergi.”

“Apa yang harus aku katakan? Master Fei, apakah kamu memiliki sesuatu yang ingin kamu katakan kepadanya?”

“Katakan padanya…” Fei Hongde merenung sejenak, lalu dia akhirnya berkata, “Oh sudahlah, masing-masing takdir kita dimandatkan oleh langit, jadi tidak ada gunanya memaksakan sesuatu. Tapi jika aku benar, maka sangat mungkin bahwa orang yang harus dinikahi Yao Jing bukanlah Shang Leguan tetapi orang lain. Untuk saat ini kamu dapat bertanya padanya apakah dia mengetahuinya, dan kita akan mencari tahu apa yang harus dilakukan setelah kamu mendapatkan jawabannya.”

Duan Ling menyadari bahwa selama Fei Hongde tinggal di Tongguan, dia tidak pernah menganggap serius Bian Lingbai. Baginya, Bian Lingbai tidak lebih dari seorang pria yang kasar dan ceroboh. Mungkin sebenarnya tujuan utamanya ada hubungannya dengan aliansi pernikahan antara Yao dan Xiliang.

Duan Ling dan Wu Du pergi, dan sekarang mereka berada di luar halaman rumah Yao Jing, melihat sekeliling.

“Apakah dia ada di dalam?” kata Duan Ling.

“Panggil saja dia.” Wu Du berkata, “Mengapa kau berjalan dengan lambat?”

“Ini memalukan.”

Dalam konsep gender bagi Duan Ling, anak perempuan seperti suku yang umumnya terpisah; ayahnya telah berhasil mengajarinya hampir segalanya, tapi dia tidak pernah mengajarinya cara berkomunikasi dengan anak perempuan. Mungkin dalam pengalaman Li Jianhong tentang pertemuan mereka, dia juga tidak tahu bagaimana dia bisa memenangkan hati Duan Xiaowan.

Wu Du melompat ke dinding dan melihat ke dalam. “Dia ada di dalam, sedang melukis. Kau pergilah ke depan dan aku akan tinggal di sini. Tidak pantas bagiku untuk melihatnya.”

Duan Ling masih merasa sedikit malu, tapi pelayan paruh baya milik Yao Jing sedang menyapu halaman, dan ketika dia mendengar suara itu dia keluar untuk melihatnya. Dia segera berkata pada Duan Ling, “Tuan Bian! Silakan masuk!”

Duan Ling tidak menyadari bahwa “Tuan Bian” merujuk padanya pada awalnya, tapi kemudian seseorang mengatakan eh dari balik dinding, jadi Duan Ling hanya bisa menguatkan dirinya dan masuk ke dalam. Yao Jing bangkit untuk segera menyambutnya, pindah ke kursi samping sehingga dia bisa menyerahkan kursi kehormatan pada Duan Ling. Kemudian dia memerintahkan pria paruh baya itu untuk menghidangkan teh.

“Karena kamu adalah keluarga Jenderal Bian,” Yao Jing berkata sambil tersenyum, “maka aku akan memanggilmu seperti aku akan memanggil sepupu dari pihak ayah.”

“Nona Yao, tidak perlu terlalu sopan. Bersikaplah seolah-olah ini adalah rumahmu sendiri.”

Berbicara tentang ikatan darah, bibi Duan Ling memang menikahi paman dari Yao Jing, jadi mereka benar-benar adalah sepupu jauh dari pihak ibu. Namun, sebelum seorang wanita menikah, dia dapat bertemu dengan sepupu laki-lakinya dari pihak ayah, tapi tidak dengan sepupu dari pihak ibu. Yao Jing saat ini tinggal di bawah atap Bian Lingbai, jadi dengan memanggil Duan Ling sebagai sepupu dari pihak ayah, dia sama-sama menunjukkan bahwa hubungan antara Bian Lingbai dan Yao Fu bukanlah hubungan yang dangkal, dan itu akan menghindari rumor tentang pertemuannya dengan seorang pria. Dia ternyata cukup pintar.

Yao Jing pasti memiliki masa kecil yang sulit, pikir Duan Ling, dan dia tidak bisa tidak merasa bersimpati.

“Rombongan pengantin pria yang datang menjemputmu telah tiba dari Xiliang hari ini,” Duan Ling meminum seteguk teh sambil berkata pada Yao Jing.

“Aku tahu.” Yao Jing memberinya sedikit senyum. “Bian-xiong, apakah kamu sudah melihat Tuan Shang?”

“Suamimu di masa depan, kan?” Duan Ling mengajukan pertanyaan padanya. “Yah, sebenarnya belum. Ketika aku memiliki waktu, aku harus pergi untuk menyambutnya.”

“Apakah Tuan Shang datang secara pribadi?”

Duan Ling bergumam untuk mengiyakan, lalu dia mengulangi pertanyaannya, “Apakah benar bahwa kamu menikah dengan keluarga Shang?”

Yao Jing terlihat agak bingung, lalu dia mengangguk padanya. Duan Ling dapat mengatakan bahwa dia pasti tidak tahu apa-apa. Apakah dia menikah dengan keluarga Shang atau keluarga kerajaan Xiliang, apa yang menantinya tidak akan pernah menjadi kehidupan yang sederhana dan harmonis antara suami dan istri.

Tiba-tiba Duan Ling tidak tahu apa yang bisa dia katakan untuk menghiburnya. Tapi Yao Jing justru memberinya senyum penuh perhatian. “Aku mendengar bahwa semua orang di Xiliang suka minum anggur dan berlomba dengan kuda mereka di sepanjang dataran. Jika Putri Ruiping ada di sini, dia pasti akan menyukainya.”

“Yah, keluarga bangsawan tidak seperti itu. Aku yakin mereka tidak akan tidak berbudaya.”

Saat mereka sedang berbicara, pelayan paruh baya itu masuk dan berkata, “Nona, ada sekelompok… sekelompok Tangut di luar, datang ke sini. Saya tidak tahu apakah Anda…”

Kata-katanya masih menggantung di udara ketika keriuhan kerumunan semakin keras. Yao Jing sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi Duan Ling dapat memahami Tangut, jadi dia tahu bahwa para pemuda dari rombongan mempelai pria itu pasti ada di sini untuk membuat keributan. Di sebelah barat Tembok Besar, suku Tangut, Mongolia, Rouran, dan Xiongnu tidak seperti suku Han, dan kebiasaan “rayuan musik” dalam sebuah lamaran tersebar luas. Artinya, setelah pertunangan dan sebelum pengantin wanita diantar ke keluarga baru dari suaminya, calon pengantin pria akan mengumpulkan sekelompok teman baiknya dan mengunjungi calon pengantinnya, memanjat tembok halaman, dan membuat rayuan musik untuk gadis itu dari atas tembok sementara gadis itu merespon dengan tenang dengan suara nyanyiannya sendiri dari kamarnya, dan dengan murah hati memungkinkan penonton untuk melihat.

Namun Han tidak memiliki kebiasaan yang sama, dan tidak mungkin bagi keluarga Shang untuk tidak mengetahuinya. Mereka tidak memiliki alasan lain untuk berada di sini membuat keributan selain untuk bermain-main, sifat anak-anak muda yang suka bermain-main.

“Kamu bisa mengabaikannya,” kata Duan Ling. “Yang harus kamu lakukan adalah duduk di sini. Sebentar lagi, aku akan mengirim mereka pergi untukmu.”

“Jadi ini adalah rayuan musik untuk lamaran?” Yao Jing berkata. Jelas dia bertanya tentang hal itu sebelum dia datang.

“Benar sekali. Akan ada tiga putaran untuk bernyanyi bersama-sama. Aku akan menyanyikan beberapa baris untukmu sebentar lagi, dan mereka akan pergi.”

Putaran pertama dinyanyikan di luar tembok halaman. Wu Du melirik, dan mengetahui bahwa itu adalah kebiasaan orang asing, jadi dia mengabaikannya. Sambil menggigit alang-alang di mulutnya, dia duduk di atap, melihat pemandangan yang ada di bawahnya.

Terjemahan umum dari lirik pada putaran pertama kira-kira seperti ini: gadis cantik, mengapa kamu mengabaikanku begitu? Segera kita akan menikah, dan kita akan bertemu siang dan malam…

Tepat setelah itu, putaran kedua dimulai, dan dengan lompatan semua pemuda melompat ke atas tembok.

Duan Ling sedang meminum tehnya, dan dengan suara pertama dari sebuah instrumen dia tidak bisa menahan untuk tidak memuntahkan tehnya kembali karena terkejut, mereka bahkan membawa kecapi mereka. Duan Ling menemukan bahwa semua ini tampak menarik; dia melihat ke luar untuk menemukan deretan pemuda berpakaian mewah duduk di tembok, memetik kecapi mereka, bernyanyi sambil bermain.

Putaran kedua secara kasar diterjemahkan menjadi seperti ini: jika kamu masih tetap merasa malu, kapan aku bisa melihat wajah cantikmu… Menurut tata cara Xiliang, wanita yang dilamar harus berjalan ke halaman dengan kerudung menutupi wajahnya sekarang, dan berdiri di sana dengan tenang. Kemudian para pemuda akan mengejeknya dan dia akan menyanyikan bagian solonya.

“Kedengarannya indah.” Dari nyanyian mereka, Yao Jing dapat merasakan daya hidup yang penuh semangat dari para pemuda dan gagasan tentang cinta yang indah.

“Ini ditulis oleh seorang penyair Persia,” kata Duan Ling, :Artinya: mulai sekarang aku hanya akan menanam bunga yang kamu sukai di kebunku, dan aku akan bernyanyi untukmu, membiarkanmu terbang bebas di langit di atas.”

Sangat ringan, dan sangat pelan, Yao Jing menghela napas. Dia akan bangkit, tapi Duan Ling memberitahunya, “Jangan pergi keluar.”


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Xia Barat adalah nama dinasti orang Tangut. Teks tersebut telah merujuk ke wilayah itu sebagai Xiliang, tetapi secara historis itu adalah “Xixia”, atau Xia Barat (Kekaisaran Tangut). Agaknya Xiliang di sini adalah satu-satunya setelah invasi Khitan dan Mongolia, dan wilayahnya sangat berkurang menjadi pita sempit antara Chen dan Yuan secara fiksi, di utara Tongguan, diapit di antara Chen, Liao, dan Yuan di universe ini.
  2. Secara harfiah berarti “provinsi pasir” dan dulunya berada di tepi barat Xixia (Xiliang). Itu jauh dari peta di ch pengenalan. Jincheng dekat Lanzhou sekarang. Lanzhou adalah ibu kota dan kota terbesar di Gansu, Provinsi di Barat Laut China.
  3. Sementara Yuan dan Liao secara historis adalah kekaisaran, Xia Barat adalah sebuah kerajaan.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments