English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Editor: _yunda


Buku 2, Chapter 16 Part 2

Gema irama dari putaran kedua nyanyian berakhir, dan keheningan menyelimuti di atas tembok.

Lagu ini diikuti dengan suara tambura, senarnya berayun seolah-olah instrumen sedang disetel sebelum suara rendah dan lembut mulai bernyanyi.

Duan Ling bangkit dari tempat duduknya, menepuk-nepuk lipatan jubahnya, dan keluar untuk menyambut mereka. Ini juga salah satu ritual dalam lamaran saat rayuan musik; jika seorang gadis terlalu malu untuk keluar dari kamarnya, seorang kerabat laki-laki yang lebih tua akan menanggapinya sebagai gantinya. Biasanya, semua pemuda dalam satu suku sudah saling mengenal, dan yang melamar seringkali adalah teman dari keluarga si gadis.

Pada saat ini, saudara laki-laki gadis itu dapat menjawab untuknya dan berkata, aku bersedia membiarkan saudariku menikahimu, jadi datanglah dengan hadiah di lain hari.

Jadi, Duan Ling yang membalasnya menurut ritual adalah sesuatu yang sesuai dengan persyaratan ini.

Dia masih teringat lagu-lagu Tangut yang dia pelajari sebelumnya. Meskipun dia hanya tahu beberapa baris, itu sudah cukup untuk menangani hal ini.

Sekarang, hari sudah sore. Pemuda itu sedang duduk di tembok dengan satu kaki di atas dan satu kaki menggantung di tepi, sebuah tambura berada di lengannya, menyanyikan melodi itu berulang-ulang. Matahari sore kebetulan berada di punggungnya, menuangkan profil tampannya ke halaman, membuat siluet yang kabur.

Dia mengenakan satu set pakaian berkuda Tangut berwarna biru tua dengan totem angsa besar dari sukunya yang disulam di kerahnya; empat cincin lapis lazuli yang berharga di jari-jarinya berkilau di bawah sinar matahari saat jari-jari itu memetik senar tambura. Ketika dia selesai bernyanyi, Duan Ling segera mengikuti melodi dengan baris syair berikutnya.

Suara Duan Ling terdengar lembut dan kaya, seperti Sungai Kherlen yang mengalir di atas stepa.

Wu Du melirik ke halaman dan langsung terpesona olehnya.

Sinar matahari menyinari Duan Ling, ada senyum malas yang menyentuh figur halusnya menunjukkan betapa rupawannya dia, gigi putihnya seputih gading; dia penuh semangat seperti pohon rimbun dan lebat dengan kelopak bunganya yang berkibar bebas ditiup angin musim semi.

Wu Du memutuskan untuk berbaring di genteng, mengistirahatkan satu pergelangan kaki di atas lututnya untuk mandi di bawah sinar matahari. Dia menutup matanya untuk mendengarkan nyanyian Duan Ling.

Tidak lama kemudian, sadar bahwa nyanyian Duan Ling begitu mempesona, pemuda itu mulai memetik senar tamburanya, mengiringi suara lembut nan indah Duan Ling.

Saat dia memainkannya, pemuda itu juga menoleh, dan dia juga membeku di tempat, tampak terpana.

Duan Ling belum melihat wajah pemuda itu dengan baik, dan dia menemukan bahwa ini semua cukup menyenangkan dan dengan demikian dia terus bernyanyi. Kemudian pemuda itu melompat dari tembok tepat ke halaman.

Duan Ling belum selesai bernyanyi. Apa yang sedang terjadi? Kau tidak bisa masuk!

Pemuda itu berlari ke arah Duan Ling dengan kecepatan tinggi.

Apa yang sedang terjadi? Duan Ling tercengang, dan dalam keadaan masih menyanyi dia berlari ke dalam untuk bersembunyi, namun pemuda itu terus mengejarnya sampai ke dalam rumah.

Di luar, semua pemuda lainnya berbondong-bondong masuk ke dalam.

Ada keributan di dalam halaman rumah dan Duan Ling telah melarikan diri. Wu Du agak bingung mendengar semua langkah kaki yang menuju ke aula bagian dalam, dan saat dia membuka matanya untuk melihat ke halaman lagi — tidak ada seorang pun di sana.

Sambil mengerutkan keningnya, Wu Du melompat dari atap.

“Tunggu tunggu tunggu!” Dari aula utama, Duan Ling berjalan melalui halaman ke sayap belakang.

Tetapi pemuda itu terus mengejarnya sampai ke sana, berteriak, “Tunggu! Berhenti!”

Ketika dia mendengar suara itu, Duan Ling merasa seolah-olah sambaran petir menyambarnya! Dia berbalik untuk menemukan bahwa pemuda itu sebenarnya adalah Helian Bo!

Untuk sesaat dia hanya menatapnya; Helian Bo merasa seperti dia masih bermimpi, terlihat sangat tercengang. Duan Ling berteriak dan melemparkan dirinya ke arah Helian Bo, yang menangkapnya ke dalam pelukan eratnya. Kemudian menyadari betapa berbahayanya ini, Duan Ling segera mundur. Untungnya, tidak ada orang di sekitar mereka.

“Duan… Ling!” Bibir Helian Bo terus bergetar, ingin melangkah maju agar dia bisa memegang Duan Ling lagi.

Mata Duan Ling penuh dengan air mata; dia tidak pernah mengira dia akan bertemu dengan Helian Bo di sini dan saat ini, tetapi hanya butuh sepersekian detik untuk mengatakan, “Jangan tanya! Aku akan menjelaskannya nanti!”

Terkejut, Helian Bo meraih tangan Duan Ling dan menolak untuk melepaskannya. Tapi Duan Ling memberitahunya, “Cepat, pergi sekarang! Aku akan datang menemuimu!”

Di luar sayap belakang, para pemuda itu sudah mengepung Yao Jing, menggodanya untuk bernyanyi. Duan Ling melepaskan tangan Helian Bo darinya. “Helian! Lakukan seperti yang aku katakan!”

Tapi Helian Bo menarik lengan baju Duan Ling. “Pergi… pergi… ke sana … berbicara …”

“Tidak tidak, kita tidak bisa melakukannya sekarang. Aku akan datang menemuimu di malam hari!”

Duan Ling memberi isyarat, dan Helian Bo mendekat. Bahkan ketika mereka menghadiri kelas di Aula Kemasyhuran, Helian Bo sudah cukup tinggi, dan sekarang dia bahkan semakin menjulang tinggi saat dia menundukkan kepalanya, menghadap Duan Ling. Duan Ling berkata pelan di dekat telinganya, “Namaku adalah Zhao Rong. Untuk saat ini kau tidak bisa memanggilku Duan—”

Wu Du mengejar sampai ke dalam ruangan, dan dari sudut pandangnya, Helian Bo tampak melingkarkan lengannya di sekitar Duan Ling dan akan bersandar untuk menciumnya. Wu Du tampak terkejut pada awalnya, lalu amarahnya berkobar dan dia mengaum, “Apa yang kau lakukan?! Lepaskan dia!”

Helian Bo melepaskan Duan Ling dan berbalik menghadap Wu Du. Dia membentak, “Enyahlah!”

Sebelum dia menyadarinya, Wu Du telah mengambil satu langkah ke depan, dan menarik kerah Helian Bo ke depan, Wu Du meninju wajahnya.

Satu-satunya pikiran di kepala Duan Ling adalah: tolong bunuh saja aku sekarang. 

Helian Bo berteriak kesakitan, dan semua orang yang berada di luar terdiam. Segera, semua pengawal bergegas menuju ke halaman belakang hanya untuk menemukan Wu Du memukuli Helian Bo, mereka menarik senjata mereka dan melemparkan diri ke dalam keributan.

“Berhenti bertarung—!” Duan Ling berteriak.

Duan Ling langsung berada tepat di depan Wu Du, membuatnya mundur. Helian Bo menampakkan sosok yang tampak sangat menyedihkan saat dia dipukuli, tapi untungnya dia memiliki dasar seni bela diri dan Wu Du hanya bermaksud memberinya sedikit pelajaran sehingga dia tidak terluka parah; ada ruang untuk menghentikan pertarungan ini.

Duan Ling menekan tangannya ke dada Wu Du untuk menahannya ke samping.

Wu Du menunjuk dengan angkuh pada Helian Bo. “Apa yang kau coba lakukan? Untuk apa kau meletakkan tanganmu padanya? Sentuh dia lagi dan aku akan menghancurkanmu berkeping-keping!”

“Dia adalah putra mahkota Xiliang!” Duan Ling berbisik.

“Bahkan jika kaisar yang ada di sini, aku akan tetap menghajarnya,” Wu Du menyeringai saat mengatakan ini.

Duan Ling tidak bisa berkata-kata.

Helian Bo terhuyung-huyung saat dia berdiri. Duan Ling tampak memohon padanya; Helian Bo tampaknya mengerti, dan anehnya dia tidak marah pada Duan Ling. Dia hanya menatap Wu Du sebelum dia bangkit dan pergi.

Semua penjaga melemparkan tatapan agresif pada Wu Du, tapi Wu Du berbalik untuk memeriksa Duan Ling. “Apa yang dia lakukan padamu barusan?”

“Kami berdua laki-laki!” Duan Ling bahkan tidak tahu harus berkata apa. “Apa yang bisa dia lakukan padaku?”

Wu Du meletakkan tangannya di dagu Duan Ling dan memalingkan wajahnya dari satu sisi ke sisi lain dan tidak menemukan sesuatu yang aneh yang terlihat seperti Helian Bo memaksakan sesuatu padanya, jadi tatapannya sekali lagi berhenti di bibir Duan Ling. Dia baru saja melihat Helian Bo, jadi Duan Ling belum tenang, dan ujung matanya tampak sedikit memerah.

Ketika mata mereka bertemu, rona merah cerah muncul di pipi Duan Ling dan mereka berdua saling menjauh dengan canggung.

“Jika dia mencoba menggerayangimu lagi,” kata Wu Du, “Oh, aku akan tunjukkan padanya.”

Wu Du muncul begitu cepat sehingga Duan Ling baru menyadari bahwa dengan semua tarikan Helian Bo, sepotong lengan pakaiannya telah robek, dan tidak bisa ditemukan di mana pun. Ketika Helian Bo secara tidak sengaja merobeknya di awal, dia pasti membawanya. Duan Ling bahkan tidak tahu apakah dia harus tertawa atau menangis.

“Orang-orang dari Xiliang itu semuanya barbar.” Wu Du melemparkan handuk pada Duan Ling untuk menyeka wajahnya. “Mereka bahkan akan bercinta dengan kuda.1 Apa kau berharap mereka memiliki rasa kehormatan?”

Sementara Duan Ling secara lisan mengangguk, pikirannya sama sekali tidak fokus pada apa yang dikatakan Wu Du padanya. Apakah dari kemunculan Helian Bo menandakan bahwa seseorang dapat memeriksa identitasnya?! Tapi apakah ada orang yang akan menerima kata-kata orang asing begitu saja? Dia hanya memikirkan bagaimana dia tidak bisa membiarkan Bian Lingbai mengetahuinya pada awalnya untuk menghindari dirinya terbunuh, tapi situasinya telah menjadi sedemikian kacau sehingga benar-benar melampaui imajinasi terliarnya. Jika Bian Lingbai menemukan identitas aslinya… yah itu pemikiran yang mengerikan.

Reaksi macam apa yang akan dimiliki Helian Bo ketika dia kembali? Pria itu selalu blak-blakan dan bahkan tidak pernah menghitung tulang di tubuhnya. Segalanya akan menjadi sangat buruk jika Helian Bo bertanya tentang dirinya. Duan Ling tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya sendiri — dia hanya khawatir Helian Bo akan terseret ke dalam masalahnya.

“Berapa banyak orang yang dia bawa bersamanya?” Duan Ling bertanya.

“Bahkan tidak ada sepuluh orang. Aku akan pergi memberi mereka pelajaran malam ini.”

“Jangan!” Duan Ling segera berkata, “Ini tidak seperti yang kau pikirkan.”

“Lalu ada apa sebenarnya? Jelaskan?”

Duan Ling menatapnya tanpa kata. Bagaimana aku harus menjelaskannya?! Duan Ling menggeram marah di dalam kepalanya.

Sementara itu, Helian Bo mondar-mandir di kamarnya, sangat gembira, potret setengah jadi ada di mejanya. Shang Leguan mengetuk pintu dan masuk, jadi Helian Bo pergi bersamanya untuk menemui Bian Lingbai.

Pikiran Duan Ling dalam keadaan cemas; dia ingin pergi menemui Helian Bo sehingga dia bisa menjelaskan semuanya secara pribadi, tapi dia tidak bisa lepas dari Wu Du. Saat dia merasa khawatir tentang apa yang bisa dia lakukan, dia tiba-tiba memikirkan seseorang yang bisa menyelamatkannya.

“Aku akan pergi menemui Master Fei Hongde,” kata Duan Ling.

Wu Du telah duduk dengan kemarahan selama ini, dan ketika dia mendengar ini, dia bangkit, mengganti pakaiannya, dan dengan pedang di tangan dia pergi bersama Duan Ling.

“Tidak perlu untuk itu, kan?” Duan Ling terdengar pasrah.

“Berhenti menggerutu. Ayo.”

Duan Ling hanya bisa pergi menemui Fei Hongde, menjelaskan bahwa Yao Jing hanya tahu bahwa dia akan menikahi Shang Leguan. Ketika Duan Ling selesai, Fei Hongde memberinya anggukan dan menjelaskan, “Kamu harus menghabiskan lebih banyak waktu dengannya, dan mencoba mencari tahu apakah ada sesuatu tentang apa yang terjadi dengan bandit berkuda itu. Jenderal Bian telah mendapatkan kembali jarahan para bandit itu, jadi beri tahu mereka untuk mengirim seseorang untuk melihat apakah mereka dapat mengenali benda apa pun. Jika mereka menemukan bukti apa pun, mereka dapat meneruskannya ke Shang Leguan sehingga dia dapat menangani berbagai hal saat kembali ke Xiliang.”

Duan Ling memikirkan ini dan mengangguk; dia tidak bisa tidak menyerahkannya pada Fei Hongde karena kemampuannya untuk berpikir begitu memiliki banyak langkah ke depannya. Karena mereka yang menentang Helian Bo berusaha menghalangi pertunangan ini, maka menyerahkan bukti akan menjadi tindakan terbaik yang harus diambil.

Dan kebetulan pada saat itu, Bian Lingbai tiba.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” Bian Lingbai bertanya.

Duan Ling terlihat sedikit tidak nyaman, tidak yakin apakah Bian Lingbai mendapat kabar bahwa Wu Du dan Helian Bo berkelahi satu sama lain.

Bian Lingbai mengalihkan pandangannya ke Duan Ling, lalu mengalihkan perhatiannya ke Wu Du. Dia jelas telah diberitahu.

“Wu Du, aku menunjukkan kesopanan karena kau adalah tamu, dan karena kau selalu melindungi Zhao Rong. Jangan membuat masalah di rumahku.” Ancam Bian Lingbai.

Wu Du tertawa. “Aku tidak hanya akan menyebabkan masalah di rumahmu, aku akan membunuh seluruh keluargamu — apa yang akan kau lakukan? Akan meminta pembunuhmu yang bahkan tidak memiliki tangan untuk memberiku tendangan terbang?”

Duan Ling tidak bisa berkata-kata.

“Wu Du!” Bian Lingbai melolong dengan marah, “Ada batas seberapa jauh kau bisa mendorongku!”

“Cukup!” kata Duan Ling.

“Apa itu semua yang telah terjadi hari ini?!” Desak Bian Lingbai.

“Aku sedang berada di halaman belakang… bernyanyi.” Duan Ling berpikir dalam hati, sungguh malapetaka yang tidak pantas, dan dia menjelaskan, “Dia tiba-tiba datang padaku, dan kemudian dia… “

“Lalu dia apa?” Mata Bian Lingbai melebar.

Duan Ling terdiam.

“Bian Lingbai,” kata Wu Du.

Duan Ling segera memberi isyarat pada Wu Du bahwa dia tidak boleh bertindak impulsif, dan dia berkata pada Bian Lingbai, “Orang-orang Xiliang sangat bersemangat dan tegas, um… eh, dia hanya ingin berteman.”

Bian Lingbai menambahkan, “Dia datang lebih awal untuk meminta kehadiranmu, berkata dia ingin kamu menemaninya. Aku tidak tahu apa yang terjadi jadi aku datang untuk melihat apa yang kamu pikirkan.”

Wu Du menjadi sangat tenang; cara dia memandang Bian Lingbai membuatnya tampak seperti dia baru saja akan membunuhnya secara langsung.

Bian Lingbai segera mengubah nadanya. “Yah, aku di sini untuk menanyakan apa yang kalian berdua inginkan?”

“Dia tidak akan pergi,” jawab Wu Du dengan dingin.

“Aku akan pergi,” kata Duan Ling, “itu akan memberiku kesempatan menanyakan beberapa hal untuk Master Fei… tidak masalah, kan?”

Wu Du segera bangkit pergi. Duan Ling mengejarnya, berpikir, mengapa aku tidak mengatakan yang sebenarnya padanya?


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Salah satu penghinaan yang jarang. 
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments