English Translator: foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta: meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia: Keiyuki17
Proofreader: Rusma


Buku 5, Bab 44 Bagian 1


Warna malam semakin gelap; dering lonceng bergema melalui Gunung Yuheng.

Seluruh kota Jiangzhou berduka, sementara lentera memenuhi sungai di luar tembok kota. Di permukaan Yangtze yang tenang, lentera air mengapung ke hilir menuju malam yang semakin dalam, menjelang akhir langit malam.

Di sebuah paviliun yang tinggi di atas kota, Cai Yan menatap garis merah anggur terakhir di ujung Sungai Yangtze. Tidak dalam sejuta tahun dia berharap bahwa Wu Du dan Duan Ling dapat menghindari hal ini. Mereka telah melewati semua jebakan Feng Duo yang sangat teliti, sampai, di dekat Jiangzhou, Cai Yan memberi mereka satu serangan yang menghancurkan.

Tetapi dia tidak pernah membayangkan bahwa keterampilan seni bela diri Wu Du telah mencapai titik yang tak terbendung. Satu orang dengan satu pedang telah membunuh seratus dua belas pembunuh yang telah disiapkan Cai Yan untuk membunuh mereka, dan melakukannya di depan mausoleum kaisar di Gunung Yuheng pada saat itu! Ketika Cai Yan diberi tahu bahwa Wu Du dan Duan Ling telah turun dari gunung, penglihatannya menjadi gelap saat dia menyadari bahwa pertempuran terakhir akan segera tiba.

Segera, kaisar asli Chen Agung akan datang ke aula istana kekaisaran dan berdiri di hadapannya.

Warna di wajahnya tidak lagi berbeda dengan orang mati. Dia juga tidak tahu berapa lama lagi dia bisa hidup.

“Yang Mulia Pangeran,” kata Feng Duo di belakang Cai Yan, “Saya sudah mengirim perintah untuk meminta Xie You agar menempatkan seluruh kota di bawah jam malam.”

“Sudah terlambat,” kata Cai Yan. “Mereka sudah memasuki kota.”

Feng Duo tidak akan dapat hidup melalui hal ini karena mereka berada di kapal yang sama. Tetapi Feng Duo memulai segalanya sebagai tahanan hukuman mati, jadi dia hanya akan mati sekali lagi.

“Yang Mulia Pangeran, Pengawal yang berjaga hanya terdiri dari dua puluh delapan orang, jadi saya mengirim kelompok lain untuk menyingkirkan tubuh mereka, dan juga mengirimkan perintah rahasia atas nama Yang Mulia Pangeran untuk mengerahkan Penjaga Bayangan dalam misi di luar Jiangzhou.”

“Apakah menurutmu itu akan berguna?” Cai Yan berkata pelan dengan mata tertutup.

“Setidaknya Xie You tidak akan tahu tentang Penjaga Bayangan, begitu pula para pejabat tinggi istana.”

“Jadi? Pengawal yang berjaga dimusnahkan dalam semalam. Dan itu tidak seolah-olah semua orang tuli. Siapa yang bisa kita bodohi?”

“Kirim seseorang untuk memeriksa makam. Zirah kekaisaran besi hitam yang ada di makam mendiang kaisar telah hilang.”

Cai Yan tidak mengatakan apa-apa.

Feng Duo membungkuk. “Saya mengirim orang untuk membuat kesan palsu bahwa seseorang telah memasuki makam kaisar dan mencuri zirah Yang Mulia, dan saya juga telah mengirim perintah rahasia ke Zirah Hitam. Ini adalah masa-masa sulit, dan karena takut penjahat akan mengambil kesempatan ini untuk menebar pemberontakan, kita meminta Zirah Hitam untuk memperketat keamanan dan mengawasi orang-orang yang mencurigakan. Jika kita dapat menangkap Wu Du dan Wang Shan, lalu menemukan zirah kekaisaran di antara barang-barang mereka, maka itu adalah bukti kuat untuk kejahatan ‘menyimpan motif jahat’.”

“Sudah terlambat. Ini sudah terlambat.”

“Masih ada kesempatan,” kata Feng Duo dengan sabar, “Yang Mulia Pangeran, kita belum kalah.”

Cai Yan berbalik dan menatap Feng Duo. “Tahukah kau? Ketika Wuluohou Mu meninggalkan istana hari ini, dia mendengar desas-desus. Semua orang di jalan mengatakan bahwa aku bukan anak kandung mendiang kaisar.”

“Saya adalah orang yang menugaskan orang untuk menyebarkan rumor itu,” jawab Feng Duo dengan hormat.

Cai Yan menatapnya dalam diam.

“Rumor ini mulai menyebar begitu tiba-tiba, dan pemakaman Yang Mulia belum diadakan, jadi jika pejabat utama istana mengetahui hal ini, mereka pasti akan percaya bahwa itu disebarkan dengan sengaja.”

“Lalu apa?” Cai Yan mengerutkan kening, merasakan sedikit harapan.

“Saya sudah mengatur Badan Pengawas Tingkat Tinggi untuk memberikan peringatan pada sidang pengadilan besok pagi. Yang harus dilakukan Yang Mulia Pangeran hanyalah berpura-pura putus asa dan tidak menghukum siapa pun atas rumor ini. Kemudian, Tuan Chen dan Tuan Jian dari Kementerian Perang dan Kementerian Adat, serta Sekretaris Zheng akan melangkah maju untuk menuntut agar rumor ini diselidiki.”

“Tidak ada keraguan bahwa Jenderal Xie akan memihak Yang Mulia Pangeran. Minta dia untuk mencari di kota dengan anak buahnya. Selama mereka menemukan Wang Shan dan Wu Du dan mencari tahu di mana zirah kekaisaran berada, maka mereka tidak akan dapat mrlarikan diri, tetapi mereka juga tidak bisa datang.”

“Jika mereka melarikan diri, maka itu akan membuktikan bahwa mereka ada hubungannya dengan rumor tersebut; jika mereka datang, maka itu bagus. Kita tidak perlu bertanya mengapa mereka memilikinya, kita hanya perlu menangkap mereka. Selama Wu Du tidak bersama Wang Shan, maka yang harus kita lakukan hanyalah mengirim Wuluohou Mu untuk membunuhnya. Lalu kita akan mendorong tindakan pada ke Kanselir Mu — kita bisa menuduhnya membunuh Wang Shan agar dia tidak berbicara.”

Skema Feng Duo seperti mata rantai, dan setelah mendengarkan dia menjelaskannya dengan begitu cepat, tiba-tiba Cai Yan mendapati dirinya tidak dapat mengikuti logika. Dia merenung sejenak dengan kerutan di antara alisnya sebelum berkata, “Kedengarannya bisa dilakukan, tapi… bagaimana jika Xie You percaya padanya?”

“Xie You tidak akan percaya padanya. Kenapa?”

“Xie You terlalu tidak percaya. Aku hanya khawatir kita tidak bisa membodohinya. Pikirkan tentang itu – mengapa Wang Shan masuk ke genangan lumpur ini tanpa alasan yang jelas? Dia tidak memiliki motif. Jika aku adalah Xie You aku akan benar-benar percaya padanya, jika hanya karena semuanya terlalu aneh.”

Feng Duo menghabiskan waktu sejenak untuk memikirkan hal ini dalam diam. Kemudian dia berkata, “Hanya menyisakan satu hal terakhir yang bisa kita lakukan. Tapi skema ini tidak berbeda dengan mencoba memisahkan harimau dari persembunyiannya. Kita dapat dengan mudah mengatakan Xie You ada di kamp mereka, dan mereka sedang melakukan kudeta… “

“Sekarang Jiangzhou sepenuhnya di bawah kendalinya… “

“Izinkan Han Bin memasuki kota. Jenderal Han memiliki pasukan, lima puluh ribu orang, dan dia sedang dalam perjalanan ke sini. Dia bisa berada di Jiangzhou paling lambat besok malam.”

Cai Yan tidak berbicara. Setelah keheningan yang lama, dia berbalik dan turun.

Punggung Feng Duo dipenuhi keringat. Angin mengirimkan hawa yang cukup dingin melalui tubuhnya. Kemudian, Cai Yan menatap Feng Duo dan menghela nafas panjang.

“Lakukan seperti yang kau rencanakan,” jawab Cai Yan pada akhirnya.

Dari seluruh kekaisaran, dalam sepuluh ribu mil wilayahnya dari ujung ke ujung, dia hanya memiliki dua orang di sisinya; pertama adalah Feng Duo, dan yang lainnya adalah Lang Junxia. Feng Duo sekali lagi mengerahkan lebih banyak prajurit dalam pelatihan ke Jiangzhou atas nama melindungi putra mahkota, dan sekarang mereka kekurangan tenaga. Baik Penjaga Bayangan dan cadangannya hampir seluruhnya dimusnahkan. Jika Zirah Hitam mengetahui siapa Cai Yan sebenarnya, maka dia tamat!


Di bawah langit malam, lentera warna-warni berkilauan di sungai, tetapi dalam kegelapan, ada dua orang yang menunggu di luar gerbang kota. Mereka naik kereta dan diam-diam memasuki kota.

Wu Du benar-benar kelelahan, darah masih merembes melalui perbannya dari banyak luka yang dideritanya. Begitu mereka naik kereta, Duan Ling melepaskan ikatan jubah Wu Du dan baju hitam ketatnya untuk memperlihatkan bahu dan punggungnya sehingga dia bisa membalut lukanya.

Zheng Yan duduk di kursi kusir, mengemudikan kereta tanpa sepatah kata pun. Ketika mereka tiba di halaman belakang sebuah rumah hunian, dia masuk ke gerbong untuk memeriksa Wu Du.

“Bagaimana keadaannya?” Zheng Yan berkata, “Kau terluka parah?”

Wajah Wu Du pucat. Dia melirik Zheng Yan, tetapi dia tidak berbicara dengannya.

“Apakah Yang Mulia ada di sini?” tanya Wu Du.

Zheng Yan mengangguk. Duan Ling akhirnya merasa nyaman.

“Pergi temui pamanmu,” kata Wu Du pada Duan Ling.

“Ayo pergi bersama.” Duan Ling bersikeras membantu Wu Du turun dari kereta. Setengah dari berat Wu Du bersandar di bahu Duan Ling. Dia telah menghadapi seratus orang di makam kekaisaran; jika kata itu pernah keluar, itu sudah cukup untuk membuat namanya terkenal.

“Hati-hati,” bisik Zheng Yan.

Duan Ling bertanya, “Di mana kita?”

“Rumah seorang kenalan lama. Aman untuk saat ini.”

Ruangan itu remang-remang, dan ada pasangan tua di dalamnya. Pria itu duduk di tepi dipan, memotong ekor siput sungai, sementara wanita itu merobek daun bawang menjadi untaian panjang. Mereka bangun untuk menyambut pengunjung mereka ketika mereka mendengar suara dari pintu. Duan Ling mengangguk sebagai salam. Zheng Yan berkata, “Mereka adalah orang tua temanku.”

“Hubungan apa yang kau miliki?” Wu Du bertanya dengan lemah.

Zheng Yan menjawab, “Pemilik kedai Mie Terbaik Di Dunia.”

Zheng Yan membantu Wu Du melewati halaman belakang dan masuk ke gudang kayu. Dia menarik papan kayu, dan mereka melangkah ke tangga bawah tanah yang mengarah ke sebuah lorong. Segera, mereka muncul dari pintu keluar lain yang mengejutkan dan menemukan halaman gelap lain yang dikelilingi oleh tembok di keempat sisinya. Li Yanqiu sedang duduk di sana, membaca buku dan minum teh.

Duan Ling hampir kehilangan semua kekuatan di tubuhnya. Dia bergegas maju dan memeluk Li Yanqiu.

“Aku tahu kau akan kembali.” Li Yanqiu memeluk Duan Ling dan membuatnya duduk, lalu dia menoleh ke Wu Du. “Mengapa kau terluka begitu parah?”

“Aku merasa terhormat telah memenuhi misiku.” Wu Du bertahan dengan sekuat tenaga, menunduk untuk melakukan kowtow, tetapi Li Yanqiu membantunya berdiri dan meminta Zheng Yan untuk membawanya masuk dan memeriksa luka-lukanya.

Duan Ling meraih tangan Li Yanqiu dan memeriksa denyut nadinya sebelum dia melakukan hal lain. Untungnya, denyut nadinya stabil dan sepertinya tidak ada yang salah.

“Bagaimana bisa kau merahasiakan ini dariku?” Duan Ling berkata dengan tidak sabar.

Li Yanqiu tersenyum. “Aku tahu kau akan marah.”

Alis Duan Ling terkunci dalam kerutan yang dalam. Dia tentu saja tidak bisa benar-benar memukul Li Yanqiu, jadi dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.

“Ketika itu menyangkut akan beberapa hal, jika harga yang dibayar harus sangat tinggi, aku lebih suka tidak memilikinya,” kata Duan Ling. “Aku sering merasa menyesal selama bertahun-tahun ini — jika aku mengatakannya segera, maka mungkin… “

“Shh,” Li Yanqiu berkata, “Di bawah langit ini, tidak ada yang namanya ‘layak’ atau ‘tidak layak’, hanya ‘harusnya’ dan ‘tidak seharusnya’. Ada beberapa hal, bahkan jika kita harus memanjat gunung pisau dan berenang melalui lautan api untuk mereka, bahkan jika kita tahu itu mengarah pada kematian, kita tetap harus melakukannya. Benar kan?”

Ketika Li Yanqiu memberitahunya hal ini, Duan Ling merasa sangat rumit. Dia menghela nafas panjang lagi.

“Kupikir kau akan bersama Xie You,” kata Duan Ling. “Tidak ada pasukan Zirah Hitam di sekitar sini. Ini benar-benar terlalu berbahaya. Mengapa kau tidak memberitahunya?”

“Aku akan memberitahumu besok. Tidurlah sekarang, putraku. Ini sudah larut, dan kau pasti lelah.”

Duan Ling bersikeras mencari tahu apa yang terjadi, tetapi Li Yanqiu memasang wajah serius. “Kau harus melakukan apa yang aku katakan, putraku.”

Duan Ling tidak memiliki pilihan selain melepaskannya. Dia menuju ke dalam untuk membasuh luka Wu Du dan menutupinya dengan tapal baru. Karena luka-lukanya, Wu Du masih mengalami demam rendah.

Zheng Yan masuk. “Aku harus pergi. Aku tidak dapat meninggalkan istana terlalu lama atau orang-orang akan curiga.”

Duan Ling menulis resep dan berkata, “Tulis resep ini untukku… Tidak, tunggu. Jika kau pergi, apa yang akan dilakukan paman?”

“Dia bilang akan baik-baik saja. Tidak ada yang tahu dia sebenarnya masih hidup dan berada di sini sekarang.”

“Tapi Cai Yan terus mengawasi kita,” kata Duan Ling. “Aku hanya khawatir orang-orangnya mengikuti kita sampai ke sini.”

“Aku mengalahkan mereka semua.” Zheng Yan menarik tudungnya untuk menutupi wajahnya. Dia mengambil resep dari Duan Ling dan berkata, “Dia tidak memiliki banyak orang yang tersisa — para pejuang dari Xichuan belum dikirim ke sini.”

“Bagaimana jika seseorang mencoba membunuhnya lagi?”

“Siapa yang tersisa untuk membunuhnya? Keempat pembunuh besar sudah berada di bawah panjimu. Di mana Chang Liujun? Kapan dia datang?”

Mungkin memang begitu, tetapi Duan Ling masih tidak merasa aman. Sayangnya, Li Yanqiu hanyalah tipe orang yang cenderung mengambil risiko. Karena dia sudah pergi sejauh ini, jika Zheng Yan menghilang terlalu lama dia akan menimbulkan kecurigaan dan seluruh rencana mereka bisa berakhir di ambang kesuksesan.

“Jangan khawatir,” kata Zheng Yan. “Pemilik kedai Mie Terbaik di Dunia adalah pembunuh besar kelima.”

Duan Ling memberinya tatapan tak bisa berkata-kata.

Zheng Yan tertawa. Dia meletakkan satu tangan di depan dadanya dan berlutut, lalu begitu lututnya menyentuh tanah, dia bangkit kembali dengan rapi. “Yang Mulia Pangeran, selamat datang kembali ke Pengadilan Kekaisaran.”

Demikian dikatakan, Zheng Yan berbalik dan meninggalkan ruangan, ekor jubahnya berkibar di belakangnya saat dia melompat ke dinding, mendarat ke atap.

Pada gong kedua jaga malam, terdengar ketukan di pintu. Duan Ling sedang mengurus Wu Du, jadi dia mendorong pintu terbuka dan melangkah keluar, hanya untuk menemukan seorang pemuda yang cantik dengan kotak makanan di tangan kirinya dan sebungkus tanaman obat di tangan kanannya. “Tuan… Tuan Zheng menyuruhku untuk… mengambil-mengambilkan ini untukmu… “

“Dan kau,” kata Duan Ling, terkejut.

“A-Aku… Duan…Duan Zifeng.” Pemuda itu tingginya hampir sama dengan Duan Ling.

“Panggil aku kapan pun kau butuh sesuatu. Orang tuaku ada di luar.”

“Kau adalah pemilik kedai Mie Terbaik di Dunia?” Duan Ling bertanya, terdengar terperangah.

Duan Zifeng tersenyum, sedikit tidak nyaman. Dia menyerahkan kotak makanan itu kepada Duan Ling dan sepertinya sulit untuk menemukan lebih banyak kata. Setelah jeda, dia hanya membungkuk pada Duan Ling sebelum dia pergi, gelisah.

Duan Ling mulai tersenyum — dia tidak menyangka dia adalah Duan. Dia sepertinya mengingat pria jangkung lain di Kedai Mie Terbaik di Dunia sebelumnya, dan dia mengira itu adalah pemiliknya. Dia tidak pernah membayangkan bahwa pemiliknya adalah seorang pemuda!

Duan Ling membangunkan Wu Du terlebih dahulu, memberinya semangkuk bubur, lalu menidurkannya kembali sebelum meninggalkan ruangan untuk merebus ramuan. Obat oral, tapal yang dioleskan secara eksternal; Duan Ling menyiapkan semuanya dan membangunkan Wu Du lagi untuk memberinya obat, mengganti tapalnya, membersihkan lukanya… seluruh urusan memakan waktu hampir sepanjang malam.

“Tidurlah… ” Wu Du berkata dengan lemah, “Ini tidak akan membunuhku.”

Duan Ling memastikan Wu Du dirawat dengan baik sebelum dia berbaring di sampingnya, masih dalam pakaian sehari-harinya. Dia tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal dan tidak ingin memikirkan apapun lagi. Bahkan jika dunia berakhir besok, memiliki pria ini untuk menemaninya di tempat tidur ini membuatnya tidak menyesali apa pun.


KONTRIBUTOR

Keiyuki17

tunamayoo

Rusma

Meowzai

Leave a Reply