English Translator : foxghost @foxghost tumblr/ko-fi (https://ko-fi.com/foxghost)
Beta : meet-me-in-oblivion @meet-me-in-oblivion tumblr
Original by 非天夜翔 Fei Tian Ye Xiang


Penerjemah Indonesia : Keiyuki17
Editor : _yunda


Buku 1, Chapter 1 Part 1

Gulma musim semi tumbuh subur di tanah yang sekarang sudah musnah; reruntuhan istana musim panas terkubur di bawah gundukan tanah.1

Sejak Kaisar Liao2 menerobos ke Shangzhi selama ekspedisi ke wilayah Selatan, orang-orang Han telah mundur melewati Yubiguan. Wilayah yang luasnya sampai tiga ratus mil selatan Yubiguan, termasuk pula Prefektur Hebei yang sekarang menjadi bagian dari Kekaisaran Liao. Ada sebuah kota yang bernama Runan di Hebei; kota itu telah menjadi pusat distribusi antara dataran tengah dan mereka yang tinggal di utara tembok besar sejak zaman kuno, tetapi sekarang kota itu sudah menjadi bagian dari Kekaisaran Liao, orang-orang Han yang dapat melarikan diri ke barat telah melarikan diri ke barat, mereka yang dapat bergerak ke selatan telah pindah ke selatan. Kota yang dulunya paling makmur di Hebei sekarang dalam keadaan hancur — hanya tersisa kurang dari tiga puluh ribu keluarga.

Keluarga Duan tinggal di Kota Runan.

Keluarga Duan adalah keluarga berukuran sedang — tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Keluarga Duan melakukan beberapa bisnis dagang dengan pedagang keliling, dan mereka juga memiliki pegadaian dan mesin pengepres minyak. Kepala Keluarga Duan mengidap TBC bahkan dia meninggal sebelum berusia tiga puluh lima tahun. Seluruh keluarga sekarang bergantung pada pengelolaan Nyonya Duan untuk menjaga semuanya tetap berjalan.

Pada saat itu, hari kedelapan di bulan ke dua belas3, dan sisa dari cahaya matahari yang terbenam berkilauan di jalan, memenuhi gang-gang di Kota Runan dengan ombak batu seolah-olah tepi batuannya terbuat dari emas cair. Terdengar jeritan yang menyayat hati dari halaman Keluarga Duan.

“Ini yang kau dapatkan karena mencuri barang dari Nyonya Duan!”

“Katakan sesuatu, kau bajingan! Dasar anak nakal!”

Sebuah pentungan dipukulkan seperti tetesan air hujan ke kepala dan tubuh seorang bocah laki-laki, membuat suara debak-debuk. Bocah laki-laki itu berpakaian compang-camping, wajahnya berlumuran lumpur, kepala dan wajahnya hitam dan biru karena memar. Salah satu matanya bengkak, dan goresan ungu kehitaman terlihat di lengannya karena seseorang mencakarnya dengan kuku. Dia terus mencoba untuk kabur ke belakang rumah untuk melarikan diri, tetapi dia tidak sengaja bertemu dengan seorang pelayan dan menjatuhkan nampan kayu yang ada di tangannya, dan itu membuat pengurus rumah menjerit lagi.

Setelah itu, dia berlari ke depan tanpa mempedulikan nyawanya dan melemparkan dirinya ke wanita itu, hingga mereka berdua terjatuh. Dia membidik tepat ke wajah wanita dan mulai memukulnya.

Bocah laki-laki itu membuka mulutnya dan menggigitnya. Pengurus rumah memekik, “Pembunuh!”

Jeritan itu menarik perhatian pemuda yang tampaknya agresif dan berotot, dan kemudian dia bergegas datang dengan membawa garpu rumput. Bocah laki-laki itu menerima pukulan keras di bagian belakang kepalanya. Tiba-tiba penglihatannya menjadi gelap dan dia pingsan, kemudian dia dipukuli dengan keras sampai dia sadar dari rasa sakit, sampai bahunya berlumuran darah, kemudian kerahnya diangkat dan dia dilempar ke dalam gudang kayu. Mereka menutup pintunya, dan menguncinya.

“Dapatkan wontonmu di sini–“

Dia mendengar suara seorang lelaki tua dari gang, melewati dinding. Setiap sore saat senja, Laoqian melewati jalan dan gang dengan membawa galah di pundaknya.

“Duan Ling!” Suara dari anak-anak terdengar dari luar halaman.

“Duan Ling!”

Panggilan mereka membangunkan bocah itu. Ada luka di bahu Duan Ling yang disebabkan oleh garpu rumput, dan paku keling yang membuat lubang di telapak tangannya. Dia mencoba untuk bangun, sambil tertatih-tatih.

“Apa kau baik-baik saja?” Seorang bocah berteriak di luar.

Duan Ling mengambil napas dalam-dalam, semua bagian tubuh Duan Ling mengkerut. Dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk berdiri lagi. Dia menjawab, “Ya….” dan menjatuhkan diri ke posisi duduk. Setelah mendengar jawabannya, anak-anak itu segera pergi.

Perlahan, dia tergelincir ke tanah; Dia meringkuk seperti janin di tempat lembab, di gudang kayu yang gelap. Dia menatap langit kelabu, melalui kaca atap. Serbuk salju terbang ke arahnya. Kabut yang menutupi langit dan salju, melayang di udara, dia berpikir mungkin dia sekilas melihat cahaya bintang di atasnya, di tengah langit.

Perlahan menjadi lebih gelap dan lebih tenang, sampai semuanya menjadi sunyi. Di seluruh Runan, para keluarga menyalakan lampu kuning yang hangat. Atap mereka tertutupi oleh selimut salju yang lembut. Kecuali Duan Ling, yang masih menggigil di gudang kayu, kelaparan membuatnya mengigau. Adegan demi adegan bermunculan dengan berantakan di depan matanya.

Terkadang itu adalah tangan mendiang ibunya, terkadang gaun bersulam Nyonya Duan, terkadang wajah pengurus rumah yang berkerut.

“Ayo ambil — ini wontonmu —“

Aku tidak mencuri apapun, pikir Duan Ling dibenaknya. Dia dengan erat menggenggam dua tembaga di telapak tangannya, penglihatannya hanya dipenuhi oleh kegelapan.

Apa aku akan mati? Kesadaran Duan Ling kabur. Baginya, kematian selalu tampak seperti gagasan yang sangat jauh.

Tiga hari yang lalu, dia melihat seorang pengemis mati, membeku di bawah jembatan hijau, dan dia dikelilingi oleh kerumunan orang. Mereka akhirnya menempatkannya di gerobak, membawanya ke luar kota, dan menguburkannya di kuburan massal.

Hari itu dia bergabung dengan kerumunan dan mengikuti mereka keluar kota, diikuti beberapa anak lainnya. Dia menyaksikan saat mereka membungkus tubuh pengemis itu dengan tikar rumput dan menguburnya di dalam lubang. Di sebelah lubang itu ada lubang lain yang lebih kecil. Sekarang dia memikirkannya, mungkin setelah dia meninggal dia akan dimakamkan di samping seorang pengemis yang bahkan belum pernah dia temui…

Malam semakin larut; Duan Ling hampir membeku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Napas terakhir yang dia hembuskan menjadi kabut putih yang muncul di depannya; kepingan salju terbang kesana kemari menembus kabut. Pikirannya mengembara dan dia bertanya-tanya kapan salju akan berhenti. Matahari muncul di depan matanya, seperti pagi di musim panas yang tak terhitung jumlahnya di puncak fajar saat langit mulai cerah.

Matahari berubah menjadi cahaya lentera, dan saat pintu gudang kayu didorong dengan deritan yang panjang, cahaya lentera jatuh ke wajahnya.

“Keluar!” Seorang pemuda berkata dengan kasar.

“Apa dia Duan Ling?” Suara seorang pria terdengar dari sampingnya.

Duan Ling berbaring miring di tanah, berkedut hampir tanpa terasa baginya, dia menghadap ke arah pintu. Anggota badan dan tubuhnya kaku membeku. Dengan susah payah, dia mencoba untuk duduk. Pria itu masuk, berlutut di depannya, dan dengan hati-hati memeriksa wajahnya.

“Apa kau sakit?” Tanya si pria.

Kepala Duan Ling terasa kacau balau, tidak ada apapun kecuali hantu atau halusinasi di depan matanya.

Pria itu memegang pil di antara jari-jarinya. Dia memasukkan pil itu ke dalam mulut Duan Ling, dan mengangkat Duan Ling ke dalam pelukannya.

Dia setengah tersadar, samar-samar dia bisa mencium bau pria itu, dan dengan setiap sentakan lembut dari setiap langkahnya, jalan setapak itu tampaknya memanas secara perlahan.

Ada lubang di mantel tua Duan Ling. Buluh catkin4 menempel di seluruh lapisan pakaian yang melekat pada pria itu.

Ini adalah malam yang gelap dan sunyi; cahaya lentera berkedip-kedip.

Dengan Duan Ling yang berada dalam pelukannya, dia melewati lorong yang setengahnya dipenuhi bayang-bayang dan setengahnya lagi dengan cahaya lentera, ada jejak bunga buluh beterbangan di belakangnya.

Di kedua sisi lorong, suara tawa gadis-gadis yang tak terkendali melewati mereka melalui dinding ruangan yang hangat, bercampur dengan hujan salju yang lembut dan suara tinggi dari seseorang yang bernyanyi di sebuah opera. Dunia mulai semakin hangat, dan tampak ada cahaya terang.

Mereka berjalan dari musim dingin ke musim semi, dari malam ke siang.

Dunia hanyalah sebuah penginapan untuk mereka semua yang hidup, waktu adalah penjelajah sejak muncul keberadaannya.5

Duan Ling perlahan tersadar kembali, napasnya menjadi kasar dan berat.

Mereka berada di aula yang terang benderang. Nyonya Duan telah menyelimuti dirinya sendiri di depan dipan, dan dia menatap pada sehelai kain satin di tangannya yang bersulam pemandangan, sepertinya dia sedang melamun.

“Nyonya Duan,” kata pria itu.

Kata-kata Nyonya Duan memiliki sedikit senyuman di dalamnya. “Anda kenal anak ini?”

“Aku tidak mengenalnya,” pria itu masih memeluk Duan Ling.

Duan Ling dapat merasakan obat yang sebelumnya diberikan padanya meleleh di tenggorokannya, kehangatan mulai kembali ke dalam perutnya, dan kekuatannya tampaknya telah kembali. Dia bersandar di dada pria itu sambil menghadap ke arah Nyonya Duan tetapi dia terlalu takut untuk menatapnya. Yang bisa dia lihat hanyalah sudut kecil dari tempat tidur yang megah, yang dilapisi dengan brokat.

“Surat kelahirannya ada di sini,” Nyonya Duan berbicara lagi.

Duan Ling bertubuh pendek, kurang makan, sakit-sakitan, dan menderita penyakit kuning. Dari tempat dimana dia bersandar di dada pria itu, dia berjuang sedikit untuk melawan ketakutannya, sehingga pria itu perlahan menurunkannya ke lantai. Duan Ling bersandar padanya, menemukan pijakannya, dan menatap ke arah pria itu. Dia mengenakan gaun hitam; sepetak sepatu bot tempurnya menjadi lembab, dan ornamen giok tergantung di ikat pinggangnya.

Pria itu berkata, “Tolong sebutkan harganya.”

“Yah, sejak awal kita memang tidak pernah menerima anak ini.” Nyonya Duan berkata sambil tersenyum, “Ketika ibunya pulang dalam keadaan sedang mengandungnya, cuaca sangat dingin, dan dia tidak tahu harus pergi kemana. Yah, mereka mengatakan tentang menghargai sebuah kehidupan dan semua tentang hal itu. Tetapi begitu dia mulai tinggal disini kesialan tampak seperti tiada akhirnya.”

Pria itu tidak mengatakan sepatah kata apapun. Dia menatap ke arah mata Nyonya Duan, menunggunya untuk melanjutkan perkataannya.

“Kalau begitu begini saja,” kata Nyonya Duan sambil menghela napas panjang, “Paling tidak, dulu ibunya yang mempercayakannya kepadaku. Aku masih memiliki surat itu. Di sini, Tuan. Mungkin Anda ingin melihatnya?”

Pengurus rumah memberinya selembar kertas yang lain. Pria itu bahkan tidak repot-repot untuk melihatnya. Dia langsung menyimpannya.

“Tapi lihatlah sekarang, aku bahkan tidak tahu siapa namamu. Jika aku menyerahkannya tanpa mengetahui hal itu, apa yang harus aku katakan kepada Duan Xiaowan ketika aku mati nanti? Bukankah begitu?”

Pria itu tetap diam.

Nyonya Duan mengulurkan tangannya, merentangkan lengan bajunya, dan dengan anggun dia berkata kepadanya, “Sejak awal, semua hal yang berkaitan dengan Duan Xiaowan agak kacau. Yah, aku pikir sejak dia pergi, masa lalu akan dihapuskan begitu saja. Sekarang katakanlah begini, Anda menjemput anak laki-laki itu hari ini — bagaimana jika suatu hari, seseorang datang dan berkata bahwa ayahnya-lah yang mengirim mereka, apa yang harus aku katakan kepada mereka? Bukankah begitu?”

Pria itu masih tidak mengatakan sepatah kata apapun.

Nyonya Duan tersenyum kepadanya, lalu dia mengalihkan perhatiannya ke wajah Duan Ling dan melambaikan tangan padanya. Duan Ling tanpa sadar mengambil langkah mundur, bersembunyi di belakang pria itu, mencengkeram ujung gaunnya dengan jari-jarinya erat-erat.

“Hei,” kata Nyonya Duan, “Tuan, setidaknya Anda harus memberiku sebuah penjelasan.”

“Aku tidak memiliki penjelasan apapun.” Akhirnya pria itu membuka mulutnya. “Hanya masalah uang. Sebutkan berapa harganya.”

Nyonya Duan tidak tahu apa yang harus dia katakan.

Sekali lagi, pria itu terdiam. Mengamati dari apa yang dilihatnya, Nyonya Duan menyadari bahwa pria ini jelas-jelas hanya memiliki rencana untuk memberinya sejumlah uang dan melunasi hutang karena telah membesarkan anak ini. Dia tidak akan memberitahunya siapa sebenarnya dia, dan dia tidak peduli apa yang terjadi setelahnya, meninggalkan konsekuensi yang harus ditanggung oleh Keluarga Duan.

Beberapa waktu berlalu. Nyonya Duan mencoba untuk mengetahui isi pikiran pria itu, tetapi dia sudah merogoh kantong mantelnya, dan mengeluarkan sejumlah uang kertas bank6 warna-warni.

“Empat ratus tael.” Nyonya Duan akhirnya menyebutkan harganya.

Pria itu menggenggam selembar uang kertas bank diantara jari-jarinya dan memberikannya kepada Nyonya Duan.

Duan Ling tampaknya tidak dapat bernapas. Dia tidak tahu apa yang pria ini inginkan, tetapi dia pernah mendengar dari pelayannya bahwa seseorang akan turun dari pegunungan di malam musim dingin untuk membeli anak-anak. Mereka membawa anak-anak itu kembali ke gunung untuk ditawarkan kepada para monster sebagai makanan mereka. Secara naluriah, rasa takut mencengkeram dirinya.

“Aku tidak mau pergi!” Duan Ling berkata, “Tidak mau! Tidak mau!”

Duan Ling berbalik dan mulai berlari. Dia hanya berhasil berlari satu langkah saja sebelum pelayan menarik telinganya, dan menyeretnya ke belakang dengan rasa sakit yang membakar.

“Lepaskan dia.” Pria itu berkata dengan suara yang berat, kemudian dia menekankan tangannya ke bahu Duan Ling.

Berat tangan itu beratnya terasa lebih dari tiga ribu kati7. Dan pada saat itu Duan Ling merasa bahwa dia tidak dapat bergerak sedikitpun.

Penjaga rumah itu mengambil uang kertas bank itu dan memberikannya pada Nyonya Duan. Ada sedikit kerutan di antara kedua alisnya. Pria itu berkata, “Ambil saja kembaliannya. Ayo pergi.”

Duan Ling meronta, “Aku tidak mau pergi! Aku tidak mau pergi!”

Nyonya Duan tersenyum, “Di luar sudah gelap gulita. Kemana Anda akan pergi? Mengapa Anda tidak tinggal disini untuk malam ini?”

Duan Ling berteriak serak, tapi pria itu hanya menatapnya.

“Apa ada yang salah?” Pria itu mengerutkan keningnya.

“Aku tidak mau jadi makanan untuk monster! Jangan jual aku! Jangan—” Duan Ling mencoba bersembunyi di bawah meja, tetapi pria itu lebih cepat. Dia meraih Duan Ling, dengan jari-jari di telapaknya yang panjang, dia menjentikkan jarinya di titik di pinggang Duan Ling, dan Duan Ling jatuh di atasnya.

Dia membawa Duan Ling keluar dari pintu disertai dengan tatapan curiga dari Nyonya Duan.

“Jangan takut.” Pria itu menggendong Duan Ling dengan satu lengannya dan dengan suaranya yang berat dia menjawab, “Aku tidak akan membuatmu menjadi makanan monster.”

Pada saat mereka meninggalkan kediaman itu, semburan dingin menerpa wajahnya seperti pisau, dan menyapu hamparan salju. Duan Ling seolah-olah merasa qi8 mengalir mundur di dalam tenggorokannya, memblokirnya. Dia membuka mulutnya tetapi tidak ada suara yang keluar.

“Namaku adalah Lang Junxia.” Pria itu berkata, “Ingat itu sekarang: Lang Junxia.”

“Dapatkan wontonmu disini — hey.” Kata pria tua itu terus menerus dan perlahan.

Perut Duan Ling berbunyi. Dia menatap ke kedai wonton. Pria bernama Lang Junxia itu berhenti, diam-diam berpikir sejenak, dan menurunkan Duan Ling. Dia mengeluarkan beberapa koin tembaga dan melemparkannya ke dalam tabung bambu di depan kedai wonton. Koin-koin itu mengeluarkan suara dentingan logam saat mengenai bagian bawahnya.

Duan Ling agak tenang. Dia bertanya-bertanya, Siapa pria ini? Kenapa dia membawaku keluar dari tempat itu?

Sebuah lentera kuning di depan kedai wonton memancarkan cahayanya, menembus salju yang turun. Lang Junxia menekan beberapa titik di punggung Duan Ling, membuka segel di titik akupunturnya. Duan Ling akan mencoba meminta tolong lagi saat Lang Junxia mengatakan “shhh,” dan si pria tua membawakan Duan Ling semangkuk wonton panas.

“Kau makanlah,” Lang Junxia berkata.

Duan Ling tidak mengkhawatirkan hal lain lagi. Dia mengambil mangkuk itu dan mulai memakannya, tidak peduli sama sekali bahwa wonton itu bisa membakar tenggorokannya. Itu adalah wonton babi cincang, terlihat gemuk dan penuh dengan isian, dengan taburan wijen dan kacang tumbuk. Sedikit lemak babi dilelehkan ke dalam supnya; dan aromanya menusuk ke hidung. Ada juga sawi rebus yang diletakkan di dasar mangkuk.

Duan Ling mulai melahap makanannya. Rasa lapar mengatasi rasa takutnya, dan saat dia memakan supnya, mangkuknya menutupi wajahnya. Mantel bulu rubah disampirkan di punggungnya, kemudian dibalutkan ke seluruh tubuhnya.

Dia menuangkan sisa sup ke dalam mulutnya, meletakkan sumpit, dan menghembuskan napas. Baru setelah itu dia berbalik untuk melihat Lang Junxia.

Dia seperti seseorang yang keluar dari sebuah lukisan, dia memiliki kulit yang cerah, hidung yang mancung, dan mata yang dalam. Pupilnya memantulkan cahaya lentera dari gang dan salju yang selalu turun.

Pakaiannya menonjolkan tubuhnya yang tinggi; ada sulaman monster yang berwajah garang di pakaian luarnya, jari-jarinya sangat panjang dan indah. Bahkan ada sebilah pedang menggantung di pinggangnya, sebuah benda berkilau yang hanya pernah dilihat Duan Ling di panggung.

Kadang-kadang ketika orang-orang yang kaya raya pulang dari ibukota, mereka akan melewati jalan-jalan dengan kuda-kuda besar, dan Duan Ling menyusup ke kerumunan untuk melihat mereka. Dia melihat para pemuda ini meraih sukses dari bisnis atau pengadilan, sambil mengenakan baju satin atau brokat.

Tapi tak satupun dari mereka yang semenarik dirinya. Dan mengenai apa yang begitu menarik dari dirinya, Duan Ling benar-benar tidak dapat memberi tahu kalian.

Dia sangat takut; dia takut pria bernama Lang Junxia ini sebenarnya adalah monster dalam bentuk manusia, dan pada detik berikutnya dia akan menunjukkan taringnya dan menelan Duan Ling untuk mengisi perutnya. Tapi Lang Junxia hanya menatapnya tanpa membuang muka.

“Apa kau sudah kenyang?” Lang Junxia bertanya, “Apa masih ada yang ingin kau makan?”

Duan Ling tidak berani untuk menjawabnya. Dia sedang merencanakan cara untuk menjauh darinya.

“Kalau kau sudah kenyang, ayo pergi.” Kata Lang Junxia, dan mengulurkan tangannya untuk digenggam oleh Duan Ling. Duan Ling mundur menjauh darinya, melemparkan pandangan ke Laoqian seperti sedang menangis meminta tolong, tapi Lang Junxia langsung mengulurkan tangan dan meraih tangan Duan Ling. Duan Ling tidak berani melawan, jadi dia dengan patuh mengikuti Lang Junxia.

“Nyonya,” seorang pelayan kembali untuk melapor. “Pria bersama bajingan kecil itu ada di gang dan makan wonton.”

Nyonya Duan mengambil mantelnya dan mengenakannya, berkedip dengan gelisah. Dia memanggil pengurus rumah. “Mintalah seseorang untuk mengikutinya. Cari tahu kemana orang itu pergi membawa bajingan itu.”

Cahaya bersinar dari semua jendela rumah di Runan. Wajah Duan Ling memerah karena kedinginan. Lang Junxia membawa Duan Ling melewati jalan-jalan yang basah dan bersalju dengan kaki telanjang. Ketika mereka sampai di sebuah Restoran kota bernama Tetesan Giok, akhirnya dia memperhatikan bahwa Duan Ling tidak memakai sepatu, dan menggendongnya kembali. Dia berbalik ke arah sebuah gedung, bersiul, dan segera setelah itu seekor kuda berlari ke arah mereka.

“Tunggulah di sini. Masih ada sesuatu yang harus kulakukan.” Lang Junxia membungkus Duan Ling dengan mantel bulu dan membantunya naik ke punggung kuda.

Duan Ling menundukkan kepala untuk menatapnya. Lang Junxia memiliki fitur yang tampan, mata dan alisnya tajam dan jelas seperti diukir dari batu giok; ada bunga buluh yang menempel di rambutnya. Lang Junxia menyuruhnya menunggu sebelum dia berbalik dan menghilang di malam hari seperti elang jantan yang melebarkan sayapnya.

Imajinasi Duan Ling menjadi liar. Siapa orang ini? Haruskah dia lari sekarang? Tetapi punggung kuda itu terlalu jauh dari tanah, dan dia tidak berani melompat karena takut kakinya akan patah, dan terlebih lagi, dia takut kuda itu akan menendangnya. Dia merenungkan hal ini dan merenungkan hal itu; haruskah dia menyerahkan takdirnya kepada orang asing ini atau haruskah dia menyerahkannya pada dirinya sendiri? Pertanyaan kuncinya adalah, kemana dia bisa lari? Dan saat dia akhirnya memutuskan untuk menyerahkan masalah hidup dan mati ke surga, siluet sekali lagi muncul di mulut gang. Lang Junxia meletakkan kakinya di sanggurdi dan menaiki kudanya.

“Hup!”

Kuda yang besar itu melangkah di jalanan batu, membuat serangkaian suara tapak kaki kuda. Kuda itu berlari kencang keluar dari gang, dan di malam hari dimana tak seorang pun terlihat, mereka meninggalkan Kota Runan.

Duan Ling duduk di depan Lan Junxia. Dia mengendus-endus dan bau pakaiannya yang basah tercium sampai ke hidungnya. Hal yang tidak terduga adalah betapa keringnya pakaian Lang Junxia, ​​seolah-olah baru saja dikeringkan di depan api. Baunya enak, seperti shaobing9 yang baru saja dimasak. Tangannya memegang kendali dan ada bekas luka bakar di lengan bajunya.

Duan Ling mengingat bahwa sebelumnya itu belum terbakar. Apa yang dia lakukan tadi?

Duan Ling teringat akan sebuah cerita — mereka mengatakan di Lembah Heishan10 yang berada di luar kota, ada orang-orang dari kelompok masyarakat bawah tanah terbunuh selama konflik di dinasti sebelumnya. Mereka telah dikubur di pegunungan, membusuk selama lebih dari satu abad, menunggu anak-anak untuk datang sehingga mereka dapat mencuri tubuhnya. Mulanya, mereka akan berubah wujud menjadi manusia yang tampan tak tertandingi dengan keterampilan bela diri yang luar biasa, dan begitu mereka menemukan seorang anak mereka akan membawanya ke kuburan, menunjukkan wajah mereka yang membusuk, dan mengambil esensi qi anak itu.

Anak-anak yang tubuhnya dicuri akan berbaring di kuburan ini selamanya, tetapi hantu-hantu ini akan memiliki kulit mereka, dan dapat melangkah ke dunia fana dan menjalani kehidupan yang baik.

Duan Ling tidak dapat berhenti gemetaran. Dia berpikir untuk melompat dari kuda dan berlari, tetapi kuda ini sangat tinggi. Dia mungkin akan mematahkan kakinya jika dia melompat.

Apa Lang Junxia adalah hantu? Imajinasi Duan Ling menjadi liar. Bagaimana jika hantu ini ingin memakan qi-nya? Haruskah dia membawa hantu itu ke orang lain? Tidak, tidak … dia tidak boleh menyakiti siapa pun.

Seseorang sedang menunggu di bawah gerbang kota dan membukakan gerbang untuk Lang Junxia. Kuda itu terus berjalan ke selatan, berlari kencang melewati badai salju di sepanjang jalan. Mereka tidak pergi ke kuburan masal itu, dan mereka juga tidak pergi ke Lembah Haishan. Dual Ling mulai merasa lebih nyaman, dan dia menjadi lebih mengantuk dan lebih mengantuk saat mereka terantuk-antuk jalan. Dia perlahan tertidur dikelilingi oleh aroma kering yang bersih dari Lang Junxia.

Di dalam mimpinya, dua garis pegunungan dan lembah yang tak berujung meluncur seperti gambar di atas kanvas di dalam permainan bayang.

Salju mengapung seperti bulu angsa yang berkumpul menjadi sebuah selimut; puncak berwarna hijau pucat dari sebuah puncak gunung tampak seperti di gambar dengan tinta, satu guratan pada gulungan putih. Di tengah lukisan dari kuas tinta inilah kuda mereka melaju dengan kencang.


Bab Sebelumnya | Bab Selanjutnya

KONTRIBUTOR

yunda_7

memenia guard_

Footnotes

  1. Puisi oleh Li Bai.
  2. Cerita ini menggunakan nama dan tempat sejarah, tapi tidak terlalu akurat secara historis. Ada Kerajaan Liao, juga dikenal sebagai Kerajaan Khitan. Yuan adalah orang Mongolia, dan Chen Selatan (fiksi, pengganti Song Selatan) di sini adalah Han.
  3. Semua tanggal adalah tanggal kalender lunar (bulan), jadi, bukannya nama matahari (seperti januari dst) untuk bulan, tanggal tersebut hanya diberi nomor. Ingat bahwa Tahun Baru Imlek biasanya jatuh antara 21 Jan dan 20 Feb. Bulan kedua belas biasanya merupakan bulan terdingin, juga dikenal sebagai bulan ‘pemeliharaan’.
  4. Catkin. Buluh catkin* menempel di seluruh lapisan pakaian yang melekat pada pria itu
  5. Puisi oleh Li Bai.
  6. Banknotes: uang kertas asing yang merupakan alat pembayaran yang sah di Negara Penerbit, namun merupakan “barang dagangan” di negara lain.
  7. Kati adalah satuan berat, bervariasi dari satu dinasti ke dinasti lainnya.
  8. Qi adalah sebuah konsep dasar budaya Tionghoa. Qi dipercayai adalah bagian dari semua makhluk hidup sebagai semacam “kekuatan hidup” atau “kekuatan spiritual”.
  9. Shaobing. Tangannya memegang kendali dan ada bekas luka bakar di lengan bajunya
  10. 黑山谷 – Lembah Heishan, secara harfiah berarti “lembah gunung hitam”.
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments